Beranda > Edukasi > Opini

Cetak Biru Manajemen Pendidikan di Balik Kisah Qurban

Edubanua.com

Kamis, 28 Mei 2026 09:30 WITA

Cetak Biru Manajemen Pendidikan di Balik Kisah Qurban

Iwan Perdana

Opini kali ini menampilkan ulang tulisan Dr. Iwan Perdana di website https://www.lantingliterasiindonesia.or.id/ yang berjudul Cetak Biru Manajemen Pendidikan di Balik Kisah Qurban pada tanggal 28 Mei 2025.

Dituliskan oleh Beliau bahwa dalam perspektif pendidikan, percakapan antara Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail menggambarkan keberhasilan manajemen pendidikan karena mampu mengubah instruksi/perintah (kurikulum) menjadi sebuah kesadaran sukarela warga sekolah untuk melaksanakannya.

Diawali dengan kalimat yang menceritakan memorinya saat masih berstatus mahasiswa semester 3. Pada saat itu, salah satu grup Nasyid asal Malaysia yang terkenal, Raihan, meluncurkan lagu berjudul “Iman Mutiara". Lirik pada bagian reff (chorus) lagu tersebut berbunyi: “Iman tak dapat diwarisi dari seorang ayah yang bertakwa. Beliau kemudian menyebutkan Kan’an, yang menolak ajakan Nabi Nuh untuk bertauhid kepada Allah SWT (QS. Hud Ayat 42–43).

Beliau juga menyebutkan kisah yang diabadikan dalam Al Qur’an tentang Ayah dan anak yang bertaqwa— kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS, yang kemudian menjadi asal mula pelaksanaan ibadah yaitu. Ditampilkan percakapan antara keduanya sangat menyentuh hati. Memotivasi siapapun yang membaca kisahnya untuk memperbanyak doa agar memiliki keturunan yang saleh/ah, sekaligus introspeksi seberapa baik dalam mendidik anak.

“Maka ketika anak itu sampai pada (umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, ‘Wahai anakku!' Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!' Dia (Ismail) menjawab, 'Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku, termasuk orang yang sabar.'”(QS. Ash-Shaffat ayat 102).

Dipaparkannya bahwa ayat tersebut mengandung banyak hikmah, antara lain ujian ketaatan, pentingnya komunikasi antara orang tua dan anak, dan kesabaran. Perintah Allah SWT  yang sangat berat untuk menguji ketundukan mutlak kepada Allah SWT.

Disebutkan bahwa sebelum melaksanakan perintah, Nabi Ibrahim menyampaikannya terlebih dahulu kepada Nabi Ismail untuk meminta pendapatnya. Pendekatan ini menunjukkan pentingnya komunikasi dua arah antara orang tua dan anak. Persetujuan Nabi Ismail adalah bentuk bakti yang luar biasa kepada ayahnya sekaligus ketaatan kepada Allah SWT. Keikhlasan Nabi Ismail adalah bukti keberhasilan penanaman tauhid dari seorang ayah kepada anaknya sejak dini.

Selanjutnya Beliau mengaitkannya dengan manajemen pendidikan, bahwa peristiwa yang menjadi asal mula ibadah Qurban tersebut memberikan banyak Pelajaran termasuk dapat menjadi cetak biru (blueprint) manajemen pendidikan karakter dan kepemimpinan yang sangat modern, antara lain:

1.   Pendidikan Berbasis Karakter

2.   Participative Leadership

3.   Manajemen Komunikasi

 

Pendidikan Berbasis Karakter

Iwan Perdana, Ph.D menyebutkan keikhlasan Nabi Ismail melaksanakan perintah Allah SWT adalah buah dari penanaman tauhid Nabi Ibrahim sejak dini. Menurutnya, dalam Manajemen pendidikan, karakter unggul tidak terbentuk dari sekadar pemahaman teori di kelas, tetapi juga dari praktik di lapangan melalui latihan dan proses yang panjang. Kolaborasi sekolah dan keluarga memainkan peran yang sangat penting dalam pembentukan karakter mulia pada diri anak.

Participative Leadership, dan Komunikasi dua arah

Nabi Ibrahim tidak memerintahkan anaknya agar melaksanakan perintah Allah SWT secara otoriter. Bapak para Nabi tersebut mengajarkan urgensi menghargai martabat anak sebagai fondasi utama dalam pendidikan karakter. Komunikasi resiprokal—transparan tentang tujuan, terbuka pada dialog, dan penuh penghormatan—terlihat dari percakapan keduanya.

Iwan Perdana menyatakan dalam manajemen pendidikan, Gaya kepemimpinan yang melibatkan bawahan dalam pengambilan keputusan terkadang sangat diperlukan (Participative Leadership). Selain itu, seorang pemimpin harus mampu mengomunikasikan visi besarnya kepada orang-orang yang dipimpinnya, serta mempraktikkan komunikasi dua arah dalam rangka membangun kesadaran kolektif.

Pemimpin lembaga pendidikan harus meneladani gaya komunikasi Nabi Ibrahim (Role Model), yakni menjelaskan visi besar, meminta pendapat, dan melibatkan warga sekolah dalam proses pendidikan.

Semoga Idul Adha 1447 semakin menebalkan rasa keimanan kita kepada Allah SWT, dan menjadi pedoman kita dalam beraktivitas di dunia pendidikan.

WhatsApp

  Rekomendasi

  Komentar

Untuk memberikan komentar Anda harus Login

  Informasi

Selamat Hari Guru Nasional
Arah Pendidikan Nasional & Transformasi Pendidikan Lokal di Daerah
Kupas Tuntas: Kurikulum, Inklusi, dan Seni di Sekolah Dasar
Momentum Kebangkitan Nasional Melalui Peningkatan Kualitas Pendidikan