Pemahaman Sejarah Masjid Raya Sabilal Muhtadin Banjarmasin sebagai Sumber Kearifan Lokal bagi Siswa SDN Basirih 1 Banjarmasin
Muhammad Supian Sauri
1 Desember 2025
Pengabdian kepada masyarakat pada dasarnya adalah cara kita berbagi ilmu dan pengalaman kepada orang lain. Tidak harus selalu dalam bentuk kegiatan besar; hal sederhana yang bermanfaat pun sudah termasuk pengabdian. Nah, salah satu bentuk pengabdian yang menurut saya sangat menarik adalah mengenalkan sejarah Masjid Raya Sabilal Muhtadin kepada siswa SDN Basirih 1 Banjarmasin. Kegiatan ini terlihat sederhana, tapi sebenarnya punya dampak besar bagi pengetahuan, karakter, dan kecintaan siswa terhadap daerahnya sendiri.Masjid Raya Sabilal Muhtadin tentu bukan sesuatu yang asing bagi masyarakat Banjarmasin. Masjid megah yang berdiri tidak jauh dari Sungai Martapura ini sudah lama menjadi ikon kota. Hampir semua orang tahu bentuknya, tapi tidak semua tahu sejarah dan nilai yang terkandung di balik pembangunannya. Di sinilah pengabdian masyarakat punya peran penting: membantu anak-anak memahami bahwa bangunan besar itu bukan hanya tempat salat, tapi juga menyimpan cerita tentang masa lalu, perjuangan, dan budaya masyarakat Banjar.Dalam kegiatan pengabdian ini, siswa diajak mengenal sejarah masjid dengan cara yang lebih menyenangkan. Mereka tidak hanya mendengar penjelasan, tetapi juga melihat langsung bangunannya, memahami makna arsitekturnya, serta mendengarkan kisah-kisah menarik tentang proses pembangunannya. Cara belajar seperti ini jauh lebih efektif dibandingkan hanya membaca buku atau mendengarkan ceramah panjang di kelas. Anak-anak SD biasanya lebih mudah memahami sesuatu ketika mereka bisa melihat, bertanya, dan berinteraksi secara langsung.Menurut saya, kegiatan seperti ini bukan hanya memberi pengetahuan tambahan, tetapi juga menumbuhkan rasa bangga terhadap daerah sendiri. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan budaya luar yang mudah masuk, anak-anak perlu diperkenalkan dengan kearifan lokal sejak dini. Ketika mereka mengenal sejarah Masjid Sabilal Muhtadin, secara tidak langsung mereka belajar tentang nilai-nilai seperti kerja sama, religiusitas, kegigihan, dan rasa persatuan yang menjadi bagian dari masyarakat Banjar.Hal yang juga sangat positif dari kegiatan ini adalah memberikan pengalaman nyata tentang bagaimana belajar tidak harus selalu di ruang kelas. Sekolah sering kali dianggap sebagai tempat belajar utama, padahal lingkungan sekitar juga bisa menjadi sumber belajar yang sangat kaya. Masjid Sabilal Muhtadin, misalnya, bisa dijadikan media belajar sejarah, budaya, agama, bahkan seni arsitektur. Siswa jadi menyadari bahwa ilmu pengetahuan bisa ditemukan di mana saja, bukan hanya di buku teks.Selain untuk siswa, kegiatan ini sebenarnya juga bermanfaat untuk guru. Guru bisa melihat contoh bagaimana membuat pembelajaran yang lebih kreatif dan kontekstual. Selama ini, banyak guru ingin membuat pembelajaran yang lebih hidup tetapi bingung harus mulai dari mana. Melalui kegiatan pengabdian ini, mereka bisa dapat inspirasi: bahwa memanfaatkan lingkungan sekitar merupakan cara mudah namun efektif untuk memperkaya pembelajaran.Dari sisi masyarakat, kegiatan ini juga memberikan dampak positif. Masjid Sabilal Muhtadin adalah kebanggaan warga Banjarmasin. Ketika generasi muda dikenalkan sejak kecil kepada sejarah dan nilai yang terkandung di dalamnya, masyarakat akan merasa lebih tenang bahwa warisan ini tidak akan hilang. Pelestarian budaya tidak hanya tentang merawat bangunan, tetapi juga menanamkan rasa cinta dan peduli kepada anak-anak sebagai penerus di masa depan.Menurut pandangan saya, kegiatan pengabdian ini menciptakan hubungan yang baik antara sekolah, masyarakat, dan perguruan tinggi. Mahasiswa atau dosen yang terlibat dalam pengabdian tidak hanya mengajar, tetapi juga belajar dari realitas di lapangan. Mereka melihat bagaimana tingkat pemahaman anak-anak, kebutuhan guru, dan potensi lingkungan bisa diolah menjadi media pembelajaran yang bermanfaat. Ini menjadi bentuk kolaborasi yang sangat bagus dan jarang diperhatikan.Hal lain yang membuat kegiatan ini penting adalah kesederhanaannya. Pengabdian masyarakat sering dianggap sebagai kegiatan yang rumit dan membutuhkan biaya besar. Padahal, kegiatan seperti mengenalkan sejarah masjid kepada siswa adalah contoh pengabdian yang sederhana tetapi dampaknya besar. Anak-anak mendapatkan pengalaman baru, guru mendapat inspirasi pembelajaran, masyarakat bangga, dan perguruan tinggi menjalankan perannya secara nyata. Semua pihak merasa diuntungkan.Saya pribadi menilai kegiatan ini sebagai langkah yang sangat tepat untuk menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap kearifan lokal. Apalagi siswa SD adalah usia yang sangat mudah dibentuk. Ketika sejak kecil mereka sudah diperkenalkan dengan budaya dan sejarah daerah mereka sendiri, hal itu akan melekat dalam ingatan sampai mereka dewasa. Mereka akan tumbuh dengan identitas yang kuat, menghargai budaya Banjar, dan memiliki rasa tanggung jawab untuk menjaga warisan leluhur.Secara keseluruhan, pengabdian masyarakat yang berfokus pada pemahaman sejarah Masjid Raya Sabilal Muhtadin untuk siswa SDN Basirih 1 ini adalah kegiatan yang sederhana, menyenangkan, dan sangat bermanfaat. Harapan saya, kegiatan seperti ini tidak berhenti hanya sekali. Semoga bisa dilakukan secara berkelanjutan, bahkan mungkin diperluas ke sekolah-sekolah lain. Dengan begitu, semakin banyak anak yang mengenal sejarah daerahnya dan bangga menjadi bagian dari masyarakat Banjarmasin.
# EDUKASI
# Pengabdian