Postingan Terbaru

Cetak Biru Manajemen Pendidikan di Balik Kisah Qurban

Edubanua.com
28 Mei 2026
Opini kali ini menampilkan ulang tulisan Dr. Iwan Perdana di website https://www.lantingliterasiindonesia.or.id/ yang berjudul Cetak Biru Manajemen Pendidikan di Balik Kisah Qurban pada tanggal 28 Mei 2025.Dituliskan oleh Beliau bahwa dalam perspektif pendidikan, percakapan antara Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail menggambarkan keberhasilan manajemen pendidikan karena mampu mengubah instruksi/perintah (kurikulum) menjadi sebuah kesadaran sukarela warga sekolah untuk melaksanakannya.Diawali dengan kalimat yang menceritakan memorinya saat masih berstatus mahasiswa semester 3. Pada saat itu, salah satu grup Nasyid asal Malaysia yang terkenal, Raihan, meluncurkan lagu berjudul “Iman Mutiara". Lirik pada bagian reff (chorus) lagu tersebut berbunyi: “Iman tak dapat diwarisi dari seorang ayah yang bertakwa. Beliau kemudian menyebutkan Kan’an, yang menolak ajakan Nabi Nuh untuk bertauhid kepada Allah SWT (QS. Hud Ayat 42–43). Beliau juga menyebutkan kisah yang diabadikan dalam Al Qur’an tentang Ayah dan anak yang bertaqwa— kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS, yang kemudian menjadi asal mula pelaksanaan ibadah yaitu. Ditampilkan percakapan antara keduanya sangat menyentuh hati. Memotivasi siapapun yang membaca kisahnya untuk memperbanyak doa agar memiliki keturunan yang saleh/ah, sekaligus introspeksi seberapa baik dalam mendidik anak. “Maka ketika anak itu sampai pada (umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, ‘Wahai anakku!' Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!' Dia (Ismail) menjawab, 'Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku, termasuk orang yang sabar.'”(QS. Ash-Shaffat ayat 102). Dipaparkannya bahwa ayat tersebut mengandung banyak hikmah, antara lain ujian ketaatan, pentingnya komunikasi antara orang tua dan anak, dan kesabaran. Perintah Allah SWT  yang sangat berat untuk menguji ketundukan mutlak kepada Allah SWT.Disebutkan bahwa sebelum melaksanakan perintah, Nabi Ibrahim menyampaikannya terlebih dahulu kepada Nabi Ismail untuk meminta pendapatnya. Pendekatan ini menunjukkan pentingnya komunikasi dua arah antara orang tua dan anak. Persetujuan Nabi Ismail adalah bentuk bakti yang luar biasa kepada ayahnya sekaligus ketaatan kepada Allah SWT. Keikhlasan Nabi Ismail adalah bukti keberhasilan penanaman tauhid dari seorang ayah kepada anaknya sejak dini.Selanjutnya Beliau mengaitkannya dengan manajemen pendidikan, bahwa peristiwa yang menjadi asal mula ibadah Qurban tersebut memberikan banyak Pelajaran termasuk dapat menjadi cetak biru (blueprint) manajemen pendidikan karakter dan kepemimpinan yang sangat modern, antara lain: 1.   Pendidikan Berbasis Karakter2.   Participative Leadership3.   Manajemen Komunikasi  Pendidikan Berbasis KarakterIwan Perdana, Ph.D menyebutkan keikhlasan Nabi Ismail melaksanakan perintah Allah SWT adalah buah dari penanaman tauhid Nabi Ibrahim sejak dini. Menurutnya, dalam Manajemen pendidikan, karakter unggul tidak terbentuk dari sekadar pemahaman teori di kelas, tetapi juga dari praktik di lapangan melalui latihan dan proses yang panjang. Kolaborasi sekolah dan keluarga memainkan peran yang sangat penting dalam pembentukan karakter mulia pada diri anak. Participative Leadership, dan Komunikasi dua arahNabi Ibrahim tidak memerintahkan anaknya agar melaksanakan perintah Allah SWT secara otoriter. Bapak para Nabi tersebut mengajarkan urgensi menghargai martabat anak sebagai fondasi utama dalam pendidikan karakter. Komunikasi resiprokal—transparan tentang tujuan, terbuka pada dialog, dan penuh penghormatan—terlihat dari percakapan keduanya.Iwan Perdana menyatakan dalam manajemen pendidikan, Gaya kepemimpinan yang melibatkan bawahan dalam pengambilan keputusan terkadang sangat diperlukan (Participative Leadership). Selain itu, seorang pemimpin harus mampu mengomunikasikan visi besarnya kepada orang-orang yang dipimpinnya, serta mempraktikkan komunikasi dua arah dalam rangka membangun kesadaran kolektif. Pemimpin lembaga pendidikan harus meneladani gaya komunikasi Nabi Ibrahim (Role Model), yakni menjelaskan visi besar, meminta pendapat, dan melibatkan warga sekolah dalam proses pendidikan. Semoga Idul Adha 1447 semakin menebalkan rasa keimanan kita kepada Allah SWT, dan menjadi pedoman kita dalam beraktivitas di dunia pendidikan.
# EDUKASI
# Opini

Kontekstualisasikan Harkitnas dan Hardiknas, STKIP Islam Sabilal Muhtadin Hadirkan MK Sejarah Pendidikan Indonesia dan Banua

Edubanua.com
22 Mei 2026
Setiap 20 Mei, Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas). Momen ini merujuk pada lahirnya organisasi Boedi Oetomo pada tahun 1908 silam. Lahirnya organisasi ini memantik semangat anak bangsa mewujudkan kemerdekaan dengan mengubah arah perjuangan, tidak hanya melalui fisik tetapi juga gerakan terorganisir.Harkitnas tentu tidak lahir begitu saja. Kebangkitan ini berakar dari kesadaran intelektual hasil dari perjalanan panjang para pelopor pendidikan, salah satunya Ki Hajar Dewantara, yang gigih mencerdaskan kaum pribumi pada zaman penjajahan Belanda. Hari kelahiran Raden Mas Soewardi Soeryaningrat, nama asli Ki Hajar Dewantara, itulah yang kini diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Iwan Perdana Ph.D, salah seorang pendiri STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, mendesain Mata kuliah Sejarah Pendidikan Indonesia dan Banua sebagai  ruang akademik utama yang mengontekstualisasikan semangat Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) dan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). “Mata kuliah ini  dirancang untuk menjembatani sejarah perjuangan bangsa di tingkat nasional dengan kearifan lokal di tanah Banjar,” ujarnya, Jumat (22/5/2026).Mata kuliah ini menjadi sangat penting karena membuka wawasan tentang sejarah Pendidikan Indonesia: asal mula dan para tokohnya baik secara nasional, maupun di tanah Kalimantan Selatan. Terlebih lagi sejarah pendidikan di Banua tidak bisa dilepaskan dari kultur Masyarakat Banjar yang mengedepankan nilai-nilai Islam.Penggabungan  perspektif nasional dan lokal (Banua) pada mata kuliah ini akan membentuk identitas mahasiswa STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin yang tidak melupakan akar budayanya. Melalui tugas riset mini atau kajian pustaka, mahasiswa menelusuri kiprah nyata para pelopor pendidikan nasional dan di Kalimantan Selatan. Kajian komparatif antara kurikulum sekolah nasional seperti Taman Siswa dan model kelembagaan Islam tradisional di Banua akan membuka cakrawala baru. Mahasiswa tidak sekadar menghafal nama pahlawan pendidikan, tetapi juga memahami strategi kultural yang digunakan khususnya masyarakat Banjar. Menghubungkan hardiknas dan Harkitnas dengan mata kuliah Sejarah Pendidikan Indonesia dan Banua di STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin merupakan usaha merawat ingatan kolektif, dan membangunkan kesadaran mahasiswa bahwa mereka adalah ahli waris dari dua api perjuangan: semangat nasionalisme Indonesia dan nilai-nilai luhur Banua yang bernapaskan Islam. Arti kebangkitan nasional bagi  mahasiswa STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin — Program Studi PBI, PGSD, dan PAUD—  adalah kesiapan untuk terus berinovasi, mendidik generasi muda, dan menjaga agar obor literasi serta karakter bangsa tetap menyala di Kalimantan Selatan, dan Indonesia.  
# BERITA
# Pendidikan

STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin: Memadukan Kurikulum Adaptif dengan Napas Budaya Banjar

Edubanua.com
15 Mei 2026
Kurikulum Kampus Visioner disusun dengan sangat cermat oleh Bapak Iwan Perdana, Ph.D., salah seorang pendiri kampus, mengacu pada visi institusi serta mempertimbangkan aspek budaya lokal di Kalimantan Selatan, fleksibilitas, dan kebutuhan dunia pendidikan masa depan," ungkap Vebrianti Umar, M.Pd., Wakil Ketua Bidang Akademik STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, diwawancarai melalui pesan WhatsApp mengenai arah  institusinya pada Jumat, 15 Mei 2026.Di tengah riuh rendah transformasi digital, STKIP ISM Banjarmasin mencoba berdiri tegak dengan satu kaki di masa depan dan kaki lainnya tertanam kuat dalam tradisi. Iwan Perdana merancang kerangka akademik yang tidak akan dimakan usang oleh zaman. Kurikulumnya lentur. Tetap relevan walau badai kebijakan pendidikan datang silih berganti.Bukti nyatanya terlihat dari kehadiran mata kuliah unik seperti 'Islam dan Budaya Banjar' dan 'Sejarah Pendidikan Indonesia dan Banua'. Ini bukan sekadar formalitas di atas kertas. Mata kuliah tersebut merupakan jangkar identitas. Kampus ingin setiap lulusannya tidak hanya mahir secara intelektual, tetapi juga mengenal detak jantung tanah kelahirannya sendiri. Inilah yang membedakan mereka dari institusi lain di Kalimantan Selatan.Semangat ini merambat hingga ke Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI). Armin Fani, M.Pd., sang Kaprodi, menekankan bahwa mahasiswanya tidak hanya dilatih untuk fasih berbahasa asing di depan kelas. Mereka dibekali jiwa 'edupreneur'. Tujuannya jelas: agar lulusan memiliki pilihan karier yang luas, baik sebagai pengajar profesional maupun pengusaha di bidang pendidikan. Sarana modern dan kurikulum interaktif menjadi kawah candradimuka bagi mereka untuk melahirkan inovasi yang bermakna bagi masyarakat.Senada dengan itu, Novi Nurdian, M.Pd., Kaprodi PGSD, menegaskan pentingnya menjaga eksistensi budaya daerah. Di Program Studi PGSD, calon guru sekolah dasar dididik dengan pendekatan yang berakar pada nilai-nilai sosial masyarakat Banjar. Karakter Islami menjadi napas utama, memastikan bahwa guru masa depan bukan hanya sekadar pentransfer ilmu, melainkan teladan moral bagi anak-anak di banua.Tak berhenti di ruang kelas, STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin juga melebarkan sayap melalui kolaborasi strategis. Yuliana Nurhayati, M.Pd., selaku Wakil Ketua Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama, menceritakan keaktifan mahasiswa dalam program PLP dan 'Sobat Mengajar' di berbagai jenjang sekolah. Bahkan, ada sentuhan kemanusiaan yang kental melalui kerja sama dengan Yayasan Lanting Literasi Indonesia untuk memberikan pelatihan bahasa Inggris bagi warga kurang mampu. Di sisi lain, Program Studi S1 PAUD yang dipimpin oleh Maulida, M.Pd., terus mematangkan kualitas pendidikannya. Dengan tenaga pengajar yang memiliki rekam jejak panjang di bidang pendidikan anak usia dini, mereka memastikan lulusannya memiliki keterampilan yang mumpuni saat terjun ke dunia kerja. Pada akhirnya, semua ikhtiar STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin: Kampus Visioner yang diketuai oleh Dr. H. Abd Khair Amrullah S.Sos.I.,M.Pd.I ini bermuara pada satu tujuan besar: melahirkan generasi pendidik yang inspiratif, berkarakter, dan kompeten untuk memajukan pendidikan di Kalimantan Selatan.
# BERITA
# Pendidikan

Mengapa Waka Kesiswaan Harus Seperti Gelandang Bertahan?

Edubanua.com
1 Maret 2026
Mendominasi pertandingan tidak menjamin kemenangan. Saya pernah menyaksikan ini pada piala dunia tahun 1990. Kala itu, Brazil yang menguasai jalannya laga akhirnya takluk dari Argentina di babak 16 besar. Umpan Diego Maradona yang dikonversi dengan baik oleh Claudio Caniggia menjadi gol pada menit ke-80 memaksa Dunga dan kawan-kawan angkat koper lebih awal.Meski kekalahan Brasil pada saat itu bukan disebabkan kelengahan pemain bertahan, tetapi karena kejeniusan pemain berjuluk Hand of God, namun ingatan tentang duel antara Argentina dan Brasil di babak 16 besar Piala Dunia 1990, yang digelar di Stadion Delle Alpi, Turin, Italia itu menginspirasi saya membahas tentang posisi pemain bertahan.Di tim sepak bola, semua posisi memainkan peran penting. Tidak hanya striker dan playmaker, posisi gelandang bertahan juga sangat menentukan. Di Berkah FC, lini pertahanan dikawal ketat  3 pilar handal: Ody, Yuspi dan Dahri. Kiri ke ke kanan: Yuspi, Ody & Dahri.Ody dan Yuspi tipikal pemain gelandang bertahan sejati. kemampuan mereka membaca permainan (antisipasi), akurasi operan tinggi, dan ketenangan di bawah tekanan layak diacungi jempol. Sementara Dahri adalah tipe gelandang bertahan modern Istimewa. Berbekal stamina prima: bernafas kuda, ia rajin membantu serangan. Kecepatan dan keberaniannya berduel sangat merepotkan pemain lawan. Kolaborasi Ody, Yuspi, dan Dahri menjauhkan kiper: Haris atau Rusdi dari  ancaman striker lawan.Ody & IyusIwan Perdana, Ph.D.,alumnus Program doktoral Manajemen Pendidikan UPSI Malaysia, menganalogikan pemain gelandang bertahan dengan jabatan struktural pada lembaga pendidikan. Menurutnya, dalam perspektif manajemen pendidikan, jabatan dalam tata Kelola sekolah yang memiliki karakter serupa dengan gelandang bertahan adalah wakil kepala sekolah bidang kesiswaan.Capt Rudi & OdyTujuan utama pendidikan adalah mengembangkan seluruh potensi peserta didik secara utuh—mencakup intelektual, karakter, emosional, dan spiritual—untuk menjadi manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, cerdas, mandiri, dan bertanggung jawab.Wakil kepala sekolah bidang kesiswaan membantu kepala sekolah mewujudkan tujuan tersebut. Ia bertugas merencanakan, membina, dan mengawasi seluruh kegiatan siswa (non-akademik), menegakkan tata tertib, mengatur OSIS/ekstrakurikuler, serta mengelola 7K (Keamanan, Kebersihan, Ketertiban, Keindahan, Kekeluargaan, Kerindangan, Kesehatan) untuk menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif.Oleh karena itu, wakasek kesiswaan menjadi filter pertama yang melindungi proses pendidikan dari bahaya:  masalah disiplin siswa, konflik antar teman, pelanggaran tata tertib. Ia bertugas menjaga iklim sekolah tetap kondusif agar "gawang"- tujuan pendidikan- tidak kebobolan.Berkah FCTidak dapat dibayangkan sebuah sekolah tanpa Waka Kesiswaan yang tegas. Konsekuensinya sangat menakutkan. Para guru—yang berperan sebagai gelandang serang kreatif dipaksa turun menjadi gelandang bertahan dadakan—turun tangan mengurusi masalah-masalah: Siswa bolos, tawuran, dan suasana belajar tidak nyaman.  Ini menyebabkan mereka akan kehilangan fokus, kreativitas mengajar mati, dan prestasi siswa (gol) akhirnya tidak akan tercipta.   
# EDUKASI
# Opini

Transformasional Leadership di Lapangan Hijau: Praktik Kepemimpinan Rudiansyah, Kapten Berkah FC

Iwan Perdana
21 Mei 2026
Saya mengenal Rudiansyah, salah satu legenda Berkah FC, sekitar November 2023. Kami pernah berbincang di pinggir lapangan tentang sepak bola. Disampaikannya dalam obrolan santai itu, bahwa tujuan utama bermain sepak bola di usia 40 ke atas sekadar menjaga silaturrahmi dan menjaga kesehatan. sedangkan meraih prestasi juara  di kompetisi lokal hanyalah bonusnya.  Rudi, Kapten Berkah FCPak Rudiansyah, yang lebih dikenal dengan panggilan Rudi merupakan sosok pemain dengan mobilitas tinggi dan pekerja keras. Sebagai gelandang tengah, Rudi beroperasi di area pusat lapangan sebagai penghubung lini pertahanan dan penyerang. Tugasnya mengatur tempo permainan, mendistribusikan bola, dan mematahkan serangan lawan. Aksi kapten Berkah FC ini di lapangan menuai banyak pujian dari rekan setimnya. Beberapa pemain senior Berkah FC yang saya ajak ngobrol melalui pesan WhatsApp pada Senin, 18 Mei 2026, menegaskan kelebihannya.“Pak Rudi orangnya ramah, mainnya juga bagus. Gerakannya lincah dan pandai mengatur irama permainan,” puji Rusdi, kiper utama Berkah FC. Bahrudin — wasit yang lebih familiar dengan panggilan Katank — juga menceritakan bahwa ia mengenal Rudi sejak masih berusia belia. Menurutnya gaya permainan gaya permainan Rudi mirip gelandang AC Milan: Gennaro Gattuso, dan Fahmi Amiruddin, legenda Barito Putra ”. Dua pemain yang tidak kenal takut. “Sewaktu masih kanakan, ulun rancak melihat sidin main sepak bola di lapangan Pasar Banjar Raya. Orangnya baik ke semua orang. Pergerakan beliau sangat lincah, cepat berpindah dari satu tempat ke tempat lain,” ujarnya. Berkah FCRudi memiliki karakter kepemimpinan baik di dalam maupun di luar lapangan. Itu tampak dari sikap dan pemikirannya yang selalu mengedepankan soliditas tim. Kepiawaian Rudi mengelola klub diakui sangat baik oleh rekan-rekannya. Respon Kawan-kawan menyiratkan ia seorang yang tegas, terukur dan penuh perhatian. Di jadwal latihan rutin: Setiap hari senin dan kamis di lapangan kayu tangi ujung, di pertandingan persahabatan, atau pada saat tim mengikuti kompetisi, Ia selalu berpesan kepada rekan-rekan layaknya seorang ayah kepada anak; seperti seorang kakak berpesan kepada adiknya, agar selalu berhati-hati.  “Capt Rudi selalu memberikan suport kepada pemain Berkah FC, dan mengingatkan tim untuk selalu menjaga kekompakkan. Salutnya lagi, Pak Rudi ini tidak bosan mengingatkan seluruh pemain agar berhati-hati, jangan sampai cidera,” ungkap Joko Supriyanto, striker Berkah FC.Menurut Kadir — gelandang bertahan — cara Rudi mengatur dan mengurus Berkah FC pun sangat baik. “Kemampuan manajerial atau kepemimpinan Pak Rudi sangat baik”, tegas guru Sejarah SMAN 1 tersebut. Ia memaparkan kelebihan sang kapten yang dipercaya memimpin dan mengelola tim. “Selain berkarakter gemar men-support rekan untuk maju, Beliau cerdas  merangkul puluhan pemain pemain junior berusia di atas 45 tahun,” katanya.Rudiansyah, Kapten Berkah FCPernyataan guru muda itu diamini oleh Bang Iyus. “ Pak Iwan, Kapten Rudi adalah berkah luar biasa bagi Tim Berkah FC. Di bawah kepemimpinan Beliau, klub berjalan baik dan lancar. Semoga silaturrahami kita terus terjaga,” ungkapnya.  Pujian serupa dinyatakan Muhammad Rahim alias Yuli Berkah. “Tidak mudah menjadi ketua, tapi Pak Rudi melakukan yang terbaik. Saya sangat salut dengan Beliau. Semoga Pak selalu sehat, aamiin,” ujarnya.Saya mencoba menganalogikan Rudi, Kapten Berkah FC, dengan teori kepemimpinan transformasional menurut Bass (1985) yang menyebutkan 4 ciri, yaitu: (1) Idealized Influence, (2) Inspirational Motivation, (3) Intellectual Stimulation, dan (4) Individualized Consideration. Teori kepemimpinan transformasional Bernard Bass (1985) yang ingin diimplementasikan di lembaga pendidikan terasa hidup di lapangan sepak bola, dipraktikkan oleh Rudi Berkah FC. Ia menginspirasi dan merangkul tanpa membeda-bedakan anggota grup. Beranikah kita meniru?
# EDUKASI
# Opini

Fun, Bukan Target: Belajar dari Filosofi Coach Mady

Iwan Perdana
18 Mei 2026
Seperti kebanyakan anak laki-laki, saya juga menggandrungi sepak bola. Saya lupa bagaimana proses awal jatuh cinta pada olah raga ini, mungkin karena sepak boleh cukup bermodalkan bola plastik dan tanah lapang. Di tambah lagi, pada saat saya masih berusia 10 tahun-an, saban sore bersama Abah (alm) nonton Piala dunia 1986 di rumah tetangga.Di masa kecil dulu, saya belum mengetahui SSB: Sekolah Sepak Bola. Mungkin saja pada waktu itu sudah ada. Andai saat itu saya tahu, kemungkinan besar saya tertarik ikut berlatih 😊. Kini SSB / akademi sepak bola sudah  menjamur di Banjarmasin. Anak-anak yang memiliki hobi bermain sepak bola, dan didukung orang tuanya bergabung dengan beragam tujuan. Baik untuk tujuan meraih prestasi, ataupun sekadar olahraga. Ada juga orang tua yang mengikutsertakan anaknya latihan sekadar meminimalisir buah hatinya habiskan waktu di depan gadget.Seperti tulisan sebelumnya, saya mencoba menganalogikan sepak bola dengan manajemen pendidikan. Fokus tulisan pendek saya kali ini adalah Achmady, pemain bertahan Berkah FC, yang lebih familiar dengan nama panggilan Coach Mady.Dalam tim, Coach Mady memainkan posisi gelandang bertahan. “Om Mady punya fisik yang kuat, Selain apik bermain bola, Beliau jago menyemangati tim”, kata Bahrudin mengungkapkan keunggulan Coach Mady. Kelebihan lainnya ujar Wasit  Humoris ini adalah lemparan bola ke dalam Coach Madi yang sangat jauh menjadi senjata tambahan yang merepotkan lawan.Achmady_ Gelandang Bertahan Berkah FCSelain menjadi salah satu pilar tim yang dipimpin Kapten Rudi dengan Pembina H. Juman, Coach Mady juga seorang pelatih sepak bola. Rekan satu tim di Berkah FC, Alwad — gelandang menyerang — memberikan apresiasi terhadap kemampuan taktiknya. "Kalau aku menilai Coach Mady memang ahli strategi, pintar ngatur," ujarnya.Demikian pula Ody — gelandang bertahan andalan Berkah FC—memberikan testimoni komprehensif tentang Coach Madi sebagai pelatih. "Beliau konsisten dalam melatih. Tegas dan penuh kelembutan terhadap anak didik. Jenius secara taktik, disiplin namun fleksibel. Ahli dalam memotivasi pemain," ujar Ody.Coach Mady & Coach IkhsanBaru-baru ini, Coach Mady berkolaborasi dengan Coach Ikhsan, speedster muda berbakat  Berkah FC, sukses membina Akademi Sepak Bola Utama Raya meraih juara 2 Piala Presiden. Prestasi tersebut menghantarkan tim yang mereka latih mewakili Banjarmasin ke tingkat kota, melawan Barabai, Balangan, dan lainnya.Kiri ke kanan: Ikhsan, Taufik, Iwan, Kaslian, Rusdi, Mat EloyApa rahasia di balik keberhasilan tim U-12 Akademi Utama Raya meraih Juara 2 Piala Presiden? Bukan tekanan. Bukan teriakan. Bukan target mati. Bersama Coach Ikhsan mengantarkan Utama Raya juara, Coach Madi justru berpegang pada tiga fondasi sederhana namun revolusioner untuk anak usia dini.Melalui wawancara via WhatsApp dengan Coach Mady, berikut tiga inti fondasi kepelatihannya. Pertama, tidak ada tantangan, bawa fun saja. "Tantangan tidak ada. Dibawa fun aja. Biarkan anak menikmati permainan bergembira tanpa tekanan," ujarnya. Kedua, anak bukan mesin pencipta piala. "Mereka bukan mesin pencipta piala. Tujuan utama: mencintai permainan, bukan sekadar mengejar trofi," tegas Coach Mady. Ketiga, kapten adalah tanggung jawab, bukan sekadar ban lengan. "Kapten bukan segaris kain di lengan, tapi tanggung jawab yang harus diemban. Saya memberikan tanggung jawab kepada kapten sepenuh hati dengan pertimbangan kompetensi pemain dan chemistry-nya dengan tim," pungkasnya.Selama ini saya membayangkan bahwa pelatih sepak bola yang hebat adalah yang keras, yang berteriak di pinggir lapangan, dan yang hanya puas jika timnya membawa pulang piala. Coach Mady membalik logika itu. Ia justru menekankan kegembiraan, mengingatkan bahwa anak-anak bukan mesin prestasi, dan mengajarkan bahwa ban kapten adalah simbol tanggung jawab, bukan gaya. Saya berpendapat tiga fondasi Coach Mady memiliki kesamaan dengan manajemen dan kepemimpinan pendidikan sebagai berikut:Pertama   :    "Bawa fun saja" memiliki kesamaan dengan konsep merdeka belajar. Kepala sekolah dan guru fokus menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan, bukanpada target nilai, agar anak tidak kehilangan kecintaan pada proses belajar itu sendiri.Kedua      :    "Anak bukan mesin pencipta piala". Pendidikan bukan sekadar perlombaan nilai dan akreditasi. Tujuan utama pendidikan adalah membentuk manusia yang berkarakter dan berpengetahuan, bukan sekadar mengejar sertifikat atau piala lomba.Ketiga      :    "Kapten adalah tanggung jawab, bukan ban lengan" Seorang kepala sekolah, ketua kelas, atau pengurus OSIS tidak boleh menjadikan jabatan sebagai simbol status semata. Amanat kepemimpinan harus diemban dengan penuh tanggung jawab, berdasarkan kompetensi dan kemampuan berkolaborasi dengan seluruh warga sekolah.Proses pelatihan di lapangan hijau serupa dengan pembelajaran di sekolah. Coach Mady mengajarkan hal sederhana namun sering dilupakan: pendidikan, seperti sepak bola, hanya akan bermakna jika anak-anak tetap tersenyum, merasa bertanggung jawab, dan mencintai prosesnya. Bukan karena tekanan. Bukan karena target mati. 
# EDUKASI
# Opini

Sihir Kaki Kiri 'Korrakot Sasalak' Asal Belitung: Pelajaran tentang Fleksibilitas, dan Ekosistem yang Memberdayakan

Iwan Perdana
1 Mei 2026
Semburat jingga mulai menyentuh rumput Lapangan Kayu Tangi sore itu, Kamis (30/4/ 2026). Duduk dibangku pemain pengganti, saya menyaksikan ritme permainan kedua tim yang bertanding mengalir begitu dinamis. Di antara keriuhan teriakan pemain pengganti dan penonton seperti saya, sosok Dahri mencuri perhatian. Menempati pos bek kiri, ia tak sekadar menjadi tembok pertahanan. Dahri adalah anomali; seorang pemain bertahan yang memiliki insting menyerang. Taher, striker andalan Berkah FC, menjuluki rekannya itu dengan sebutan 'Korrakot Sasalak'—merujuk pada gaya main bek sayap modern asal Thailand. "Bang Dahri sering melakukan operasi membantu penyerangan untuk melakukan counterattack. Ciri khasnya kaki kidal, umpan crossing-nya akurat ke area pertahanan lawan. Namun, ia juga bisa menusuk langsung untuk melakukan shooting keras yang berbuah gol," ujarnya.  Kelebihan utama Dahri  terletak pada kaki kirinya. Kapten Berkah FC, Rudi, mengamini hal tersebut. "Dahri adalah pemain bek kiri dengan andalan kaki kirinya yang sangat keras dalam melakukan shooting," ungkap Rudi. Transformasi Dahri di lapangan diakui oleh rekan setim lainnya. Taufik, gelandang serang, melihat kurva peningkatan yang signifikan dalam performa sang bek kiri. Seolah-olah, semakin bertambah usia, Dahri justru semakin menemukan sentuhan emasnya di lapangan. "Alhamdulillah, mulai meningkat permainan beliau selama main di Berkah FC," kata Taufik. Di klub ini, Dahri seakan menemukan ekosistem yang tepat untuk terus bertumbuh. Berkah FC sendiri memang dikenal sebagai wadah bagi para pemain bertalenta yang menjunjung tinggi kebersamaan. Menganalogikan Dahri dalam perspektif manajemen pendidikan sangat menarik dan menjadi tantangan tersendiri. Berikut adalah poin-poin yang dapat saya temukan:1.       Manajemen Sumber Daya Manusia (SDM) Berbasis Potensi, Bukan UsiaDahri membuktikan “usia hanyalah angka” dan justru meningkat seiring waktu. Manajemen SDM yang baik memetakan kompetensi, kematangan emosional, dan konsistensi kinerja. Bukan sekadar melihat usia. Guru senior justru bisa menjadi aset strategis jika diberikan kepercayaan dan ruang ekspresi yang tepat.2.       Struktur Peran yang Fleksibel (Role Flexibility)Dahri adalah bek kiri, tetapi memiliki insting menyerang (anomali positif). Manajemen pendidikan yang adaptif tidak mengkotakkan personel secara kaku, tetapi justru memanfaatkan keunikan individu untuk mencapai tujuan bersama secara lebih kreatif dan efektif.3.       Kepemimpinan Apresiatif dan Pemberian Julukan PositifTaher menjuluki Dahri sebagai ‘Korrakot Sasalak’ (bek sayap eksplosif). Kepala sekolah dapat menggunakan metafora, julukan positif, atau narasi inspiratif untuk membangun identitas profesional. Pengakuan sosial seperti ini meningkatkan motivasi intrinsik dan menciptakan budaya kerja yang menghargai keunikan individu.4.       Pengembangan Profesional Berbasis Lingkungan yang Mendukung Dahri meningkat performanya setelah bermain di Berkah FC yang menjunjung kebersamaan. Sekolah perlu dirancang sebagai learning ecosystem yang aman, kolaboratif, dan suportif. Tanpa ekosistem yang tepat, potensi individu tidak akan berkembang.5.       Pengakuan atas Kompetensi Spesifik (Spesialisasi)Kaki kiri Dahri adalah kekuatan utama: shooting keras, crossing akurat. Manajemen berbasis bakat (talent management) perlu mengidentifikasi dan memberdayakan kekuatan spesifik setiap tenaga pendidik. Di Berkah FC, kaki tidak hanya menendang —ia bercerita: menyerang, dan bertahan. Di bawah arahan H. Juman dan dipimpin Kapten Rudi, tim ini bukan sekadar klub. Ia adalah sekolah yang mengajarkan kebersamaan, kedisiplinan, dan pengelolaan yang memanusiakan. Yang muda berkembang, yang tua tak hanya sehat —tapi tetap berprestasi. Terbukti, Berkah FC sering meraih juara di banyak kompetisi. 
# EDUKASI
# Opini

Kampus Visioner Tekankan Pentingnya Karakter Visioner dan Patriot bagi Pendidik

Iwan Perdana
31 Maret 2026
Kemajuan bangsa memerlukan dosen yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki pandangan visioner dan jiwa patriot dalam menjalankan mandat Tridarma Perguruan Tinggi. Dunia akademik sering kali terjebak dalam menara gading intelektualitas yang dingin. Namun, di Kampus Visioner, Selasa (31/3/2026), sebuah diskursus hangat mengemuka: apakah kecerdasan saja cukup untuk memajukan Indonesia? Jawabannya tegas, tidak.Vebrianti Umar, MP.d, Wakil Ketua Bidang Akademik STKIP ISM Banjarmasin, membedah realitas ini dengan lugas. Baginya, mengarahkan orang cerdas itu perkara mudah. Tantangan sesungguhnya adalah menemukan mereka yang benar-benar mau 'berdarah-darah' demi kemajuan negara melalui pengabdian yang tulus. "Negara tidak hanya membutuhkan orang cerdas, tetapi yang benar-benar mau berkontribusi dengan kemampuan berpikir jauh ke depan dan jiwa yang mencintai Indonesia," ungkapnya.Salah satu bukti nyata yang ia soroti adalah langkah Iwan Perdana Ph.D, salah seorang pendiri kampus STKIP ISM Banjarmasin, yang melibatkan para dosen Bahasa Inggris kampus Visioner terjun langsung ke masyarakat, bekerja sama dengan Yayasan Lanting Literasi Indonesia. Di sana, mereka bukan sekadar mengajar tata bahasa, melainkan sedang menanam benih kualitas pada generasi masa depan. Inilah bentuk patriotisme yang membumi.Senada dengan itu, Armin Fani, M.Pd selaku Kaprodi PBI menekankan bahwa menjadi visioner adalah syarat mutlak agar dosen tidak tergilas zaman. Pendidik harus mampu menjawab tantangan perubahan dengan metode inovatif yang tetap berpijak pada kearifan lokal. Kejujuran akademik tetap menjadi kompas utama di tengah arus disrupsi.Sementara itu, Supian Sauri, M.Pd dari prodi PGSD melihat peran dosen sebagai arsitek peradaban. Dosen tidak boleh hanya menjadi 'mesin' pengajar di kelas. Menurutnya, melalui integrasi pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat, dosen adalah kunci untuk mencerdaskan sekaligus membentuk karakter mahasiswa.Hal ini diperkuat oleh Rizki Nugerahani Ilise, M.Pd, Dosen PAUD yang melihat profesi dosen sebagai sebuah bentuk pengabdian, bukan sekadar pekerjaan administratif. Dengan visi yang tajam, seorang akademisi mampu melihat peluang di masa depan untuk membawa bangsanya melompat lebih jauh. Sebagai penutup, Yuliana Nurhayati, M.Pd ,Wakil Ketua Bidang Kemahasiswaan dan kerja sama menegaskan bahwa STKIP ISM Banjarmasin terus mendorong pembinaan karakter melalui kegiatan konkret seperti 'Sobat Mengajar' dan pelestarian seni menari. Tujuannya melahirkan lembaga yang tidak hanya unggul secara global, tetapi memiliki akar nasionalisme yang kuat demi kemajuan Indonesia.
# BERITA
# Pendidikan

Refleksi Spiritual dan Kebersamaan Sivitas Akademika Kampus Visioner di Penghujung Ramadan 2026

Iwan Perdana
19 Maret 2026
Ramadan kali ini terasa berbeda, setidaknya bagi Novi Suma Setyawati, Ketua LPPM STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, harus menerima kenyataan pahit tentang sebuah 'kursi kosong'. Sosok Ayah yang biasanya menjadi pilar di meja makan saat berbuka, kini hanya tinggal kenangan. "Ramadan tahun ini menghadirkan duka mendalam atas ketidakhadiran Ayah," tuturnya lirih. Namun, di balik awan mendung itu, Novi menemukan pelangi kecil berupa pelajaran tentang keikhlasan yang lebih luas—sebuah makna kesabaran yang ia bawa hingga ke meja kerja.Senada dengan Novi, Rizki Nugerahani, Ketua LPM, juga merasakan ruang hampa yang sama. Kerinduannya pada masakan dan perhatian Ibu adalah luka yang masih basah. Baginya, Ramadan bukan lagi soal kemeriahan pasar wadai, melainkan sebuah perjalanan ruhaniah untuk kembali 'pulang' kepada Allah di sisa sepuluh malam terakhir. Ia ingin menjadikan setiap sujudnya sebagai jembatan rindu kepada sang Ibu yang telah mendahului.Duka Novi dan Rizki  dirasakan pula oleh Nurul, " Ramadan tahun ini adalah ramadan tahun ke-4 tanpa kedua orang tua. Suasana buka puasa bersama terasa begitu berbeda", ucapnya sedih.  Di sudut lain kampus, Yuliana Nurhayati, Wakil Ketua Bidang Kemahasiswaan dan kerja sama, memotret Ramadan 2026 sebagai momentum 'pemangkas jarak'. Agenda buka puasa bersama di kampus bukan sekadar seremoni. "Semoga momentum kebersamaan dosen, tendik, dan mahasiswa ini menjadi momentum mempererat silaturahmi," harap Yuliana. Ia bahkan bermimpi, tahun depan pintu kampus akan terbuka lebih lebar untuk masyarakat sekitar dan kaum dhuafa, mengubah kesalehan individu menjadi kesalehan sosial. Vebrianti Umar, Wakil Ketua Bidang Akademik memahami puasa bukan sekadar urusan menahan lapar dan dahaga. Ia melihatnya sebagai laboratorium karakter. “Di Ramadan ini, saya belajar untuk menjadi pribadi yang lebih sabar, tenang, ikhlas dalam menghadapi berbagai situasi, dan berlatih mewujudkan nilai kemanusiaan dalam bentuk tindakan nyata, bukan sekadar teori saja demi kebaikan Bersama”, tambahnya.Waktu memang pencuri yang lihai. Ramadan terasa cepat sekali berlalu. Armin Fan, Halima Chairia, Zulfaris, Maulidha, Supian Sauri, Norhayati dan Tiara merasakannya. Kenyataan ini menumbuhkan rasa haru yang mengganjal di hati mereka saat menyadari banyak target ibadah yang belum tuntas. Muncul ketakutan yang menimbulkan sebuah pertanyaan, “akankah berjumpa Ramadan tahun berikutnya?“. "Semoga hasil Ramadan ini menjadikan saya konsisten dan khusyuk dalam beribadah, membaca al qur'an, dan bersedekah di luar Ramadan,” ucap Norhayati menguatkan hati.  "Ulun sangat bersyukur ramadan tahun menjadikan saya pribadi yang lebih baik dari sebelumnya", ucap Junaidi. Tapi juga sedih karena suasana ibadah, ketenangan hati dan kebersamaan yang indah akan segera berlalu, tegasnya.Muhammad Agus Safrian mengatakan Ramadan mengajarkannya menjalani hidup tanpa tergesa, belajar menerima, dan bersyukur.  Sementara Novi Nurdian, Kaprodi PGSD, mengakui bahwa menjaga ritme antara produktivitas kerja dan kekhusyukan ibadah bukanlah perkara mudah. Ia merasa tertantang untuk tetap optimal di kantor tanpa kehilangan esensi spiritual meski Ramadan telah berlalu. Serupa dengan Muhammad Juanda yang pandangannya tentang hidup dan ibadah berubah. “Ramadan menjadi bekal berharga untuk melanjutkan pengabdian di dunia pendidikan setelah bulan suci berlalu,” ujarnya. "InsyaAllah, akan semakin menjadi pribadi yang baik, dan ssmakin profesional menjalankan tugas", jawab Tati Akhbariyah melalui  pesan WhatsApp.Pada akhirnya, Ramadan 2026 di Kampus Visioner adalah sebuah mosaik; ada air mata kerinduan, ada tawa di meja berbuka, dan ada niat untuk menjadi manusia yang lebih peka terhadap sesama, juga meningkatkan  profesionalitas kerja.  
# BERITA
# Pendidikan

Guru Bimbingan Konseling : Di Tangan Mereka, Gawang Sekolah Bertumpu

Iwan Perdana
13 Maret 2026
Yuliana Nurhayati, M.Pd — Wakil Ketua Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama STKIP Islam Sabilal MUhtadin Banjarmasin — menegaskan layanan Bimbingan dan konseling di sekolah sangat diperlukan. “Bimbingan dan konseling (BK) di sekolah sangat penting untuk mengoptimalkan perkembangan pribadi, sosial, belajar, dan karir siswa. Selain membantu menangani pelanggaran aturan dan masalah etika siswa, layanan BK juga meringankan tugas guru lain serta menjadi tempat konsultasi yang aman bagi siswa karena dijamin kerahasiaannya oleh kode etik profesi”, jelasnya (Jumat, 13/3/2026).Mengaminkan pernyataan tersebut, Tati Akhbariyyah, S.S., Gr., S.Pd., M.Pd. (Kandidat Doktor), Dosen pengampu mata kuliah Pengantar Bimbingan Konseling SD STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin  menyatakan bahwa peran guru BK tidak hanya membantu menyelesaikan masalah, tetapi juga sebagai pengembang potensi, bakat, dan perencana karir siswa.Pendapat 2 dosen kampus Visioner tersebut menginspirasi saya membuat tulisan singkat tentang besarnya peran Guru BK di sekolah dengan menganalogikannya dengan Peran Kiper dalam sebuah tim sepak bola. Saya teringat Bang Amat, Kiper Berkah FC dan Bersaudara FC. Suaranya lantang mengingatkan pergerakan rekan setim, sekaligus memperingatkan Kawan agar tak lengah mengawasi pemain lawan. Meski usia terus bertambah, di lapangan bola, Bang Amat tetap sosok yang saya kenal 40 tahun silam: energik, penuh semangat.Sepanjang ingatan saya, dulu Mat Eloy—panggilan akrab Bang Amat—kerap mengisi posisi gelandang bertahan, kadang turun sebagai bek, namun paling sering berdiri kokoh di bawah mistar sebagai kiper. Kini, di usianya yang tak lagi muda, ia masih setia memainkan peran serupa: menjaga, mengatur, dan menjadi denyut yang menghidupkan permainan.Melihat Kawan masa kecil ini, saya  teringat Jorge Campos, kiper ikonik Meksiko. Pemain bertinggi badan 168 cm yang gemar mengenakan jersey warna warni. Refleksnya cepat dan memiliki kemampuan bermain sebagai striker. Tugas kiper tidaklah mudah. Sebagai pemain terakhir yang berada di barisan belakang, dengan keistimewaan diizinkan menggunakan tangan dan kaki tugasnya memastikan tidak terjadi gol dengan cara menangkap atau menepis yang ditendang pemain lawan. Kiper juga berperan mengatur pertahanan, mendistribusikan bola, dan membangun serangan dari belakang.  Meskipun kemenangan tim merupakan buah kerja sama seluruh pemain, posisi kiper kerap menjelma sebagai pahlawan tak terlihat (unsung hero) yang perannya krusial bagi keberhasilan di lapangan. Di sekolah, saya melihat salah satu guru bidang studi yang memainkan peran ini adalah guru bimbingan konseling. Saya menganalogikan Kiper dalam sebuah tim sepak bola untuk fungsi Guru Bimbingan dan Konseling (BK) di sekolah dengan mencari persamaan strategis dan manajerial mereka sebagai berikut:1.        Pertahanan terakhirKiper adalah harapan terakhir tim mencegah bola masuk ke gawang ketika seluruh pemain belakang berhasil dilewati oleh "serangan" lawan. Guru BK menjadi benteng terakhir untuk "menyelamatkan" siswa yang tidak bisa diatasi guru mata Pelajaran/ wali kelas karena dianggap gagal secara akademik, emosional, atau sosial karena masalah pribadi yang dalam, konflik berat, atau krisis.2.        Analisis MasalahTidak hanya menangkap bola, seorang kiper juga mampu membaca permainan. Ia tahu kemana bola akan diarahkan, memahami pola serangan lawan, dan memberi instruksi ke para pemain bertahan untuk menutup celah. Guru BK dituntut jeli membaca situasi dan gejala masalah: mengamati perubahan perilaku siswa, memahami dinamika kelas, dan menganalisis akar masalah (apakah itu masalah keluarga, pertemanan, atau belajar). Dari "bacaan" tersebut, Guru BK memberikan saran strategis kepada guru dan orang tua tentang cara terbaik mendampingi siswa/i.3.        Transisi dan Tindak Lanjut Memulai SeranganSetelah menangkap bola, kiper tidak diam. Ia adalah inisiator pertama serangan melalui lemparan atau tendangan yang akurat memberikan bola agar bisa langsung menciptakan peluang bagi timnya untuk mencetak gol. Setelah "menangkap" masalah siswa, Guru BK memulai "serangan balik" positif: memberikan arahan, motivasi, dan rencana tindak lanjut. Mereka menghubungkan siswa dengan sumber daya yang dibutuhkan: bimbingan belajar, konseling lebih lanjut, atau kegiatan positif; agar siswa bisa kembali "menyerang" meraih prestasi dan masa depannya.4.        Memiliki Perspektif yang Lebih Luas Berada di belakang memberikan keuntungan bagi kiper melihat lapangan dari berbagai sudut pandang: kekompakan barisan belakang, lubang di lini tengah, dan posisi pemain lawan yang mengancam. Guru BK melihat gambaran besar dari perkembangan siswa: Interaksi siswa di semua mata Pelajaran, dengan semua guru, dan dengan teman-temannya. Perspektif holistik ini memungkinkan Guru BK memberikan bimbingan yang tidak parsial, tetapi menyeluruh untuk kepentingan jangka panjang siswa.5.        Ketenangan di Bawah Tekanan (Manajemen Krisis)Kiper dituntut untuk tetap tenang, fokus, dan tidak panik, terlebih lagi pada saat injury time dan tim lawan terus menekan. Guru BK sering berhadapan dengan situasi krisis: siswa bermasalah, konflik antar siswa, atau orang tua yang marah. Di sinilah fungsi mereka sebagai "kiper" diuji. Guru BK harus menjadi pribadi yang paling tenang, bisa meredam emosi, dan berpikir jernih untuk mencari solusi terbaik. 6.        Peralatan Khusus dan Area Kerja yang Berbeda (Profesionalisme)Kiper adalah satu-satunya pemain yang boleh menggunakan tangan dan memiliki seragam yang berbeda. Area kerjanya adalah kotak penalti. Ini menunjukkan spesialisasi. Guru BK memiliki keahlian khusus yang tidak dimiliki guru biasa: konseling, psikologi pendidikan. Mereka juga memiliki kode etik profesional yang membedakannya dari profesi guru lainnya, seperti halnya kiper yang punya aturan main berbeda di dalam kotak penalti. Ruang BK adalah area kerja Guru BK yang aman dan nyaman, berbeda dari ruang kelas pada umumnya. Dalam manajemen sekolah, Guru BK bukan sebagai "polisi sekolah" atau "tukang catat poin pelanggaran", melainkan sebagai kiper andalan. Mereka adalah spesialis pertahanan mental dan emosional siswa, yang membaca arah masalah, menjadi benteng terakhir, sekaligus memulai transisi siswa menuju kesuksesan. Tanpa kiper yang tangguh, tim sepak bola sekelas apapun bisa kebobolan. Tanpa Guru BK yang profesional, sekolah semaju apapun bisa kehilangan siswanya karena masalah yang tidak tertangani.
# EDUKASI
# Opini

Delegasi FKIP UNISKA MAB Laksanakan Program Pertukaran Dosen Internasional di Filipina

Iwan Perdana
2 Maret 2026
"Walau tidak lama, Program pertukaran dosen internasional sangat berkesan dan akan menjadi insight untuk meningkatkan kualitas perkuliahan dan kemampuan teaching para dosen, selain bidang lain yang sudah direncanakan." Begitu penuturan lugas Dr. Hengki, S.S., M.Pd, Dekan FKIP Universitas Islam Kalimantan (UNISKA) Muhammad Arsyad Al Banjari Banjarmasin, Selasa (2/3/2026), tentang semangat timnya yang baru saja menuntaskan misi edukasi di University of Mindanao Tagum College (UMTC), Filipina. Sebuah langkah berani, penuh asa, yang mengukuhkan komitmen UNISKA MAB untuk tidak sekadar berkutat di dalam negeri, namun turut merajut benang-benang persahabatan intelektual di kancah global.Sebuah tim solid beranggotakan Ratna, S.Pd., M.Pd., Fitra Ramadani, S.Pd., M.Pd., Fitria Rizkiana, S.Pd., M.Pd., Dr. Hj. Ani Wardah, S.Pd., M.Pd., dan Ari Tri Fitrianto, S.Pd., M.Pd., menemani langkah Dr. Hengki. Mereka bukan sekadar delegasi. Mereka adalah duta ilmu, pembawa misi Tridarma Perguruan Tinggi ke negeri tetangga.Program pertukaran dosen internasional ini berlangsung dari 8 hingga 24 Februari 2026. Agendanya padat, mulai dari sesi lecturing yang memperkaya wawasan dosen, penelitian kolaboratif lintas negara, pengabdian kepada masyarakat yang menyentuh langsung, hingga benchmarking kelembagaan yang krusial. Harapannya, posisi UNISKA MAB dalam jejaring pendidikan global makin kokoh, serta menjadi langkah strategis mendongkrak kualitas akademik, riset, dan pengabdian masyarakat berbasis internasional.Pemilihan UMTC, sebuah universitas swasta tertua di Filipina Selatan yang berdiri sejak 1946, bukanlah tanpa alasan. Ini sejatinya kunjungan balasan. Sebelumnya, beberapa akademisi dari kampus tersebut lebih dulu 'merasakan' atmosfer akademik di UNISKA MAB Banjarmasin.Prof. Dr. H. Mohammad Zainul, S.E., M.M, Rektor UNISKA MAB, dalam acara pelepasan tim pada Jumat (6/2/2026), telah menitipkan pesan krusial: "Bawa pulang pengalaman berharga, rajut jejaring, dan pastikan ada luaran konkret." Pesan itu menjadi cambuk penyemangat bagi para dosen FKIP UNISKA untuk mengukir capaian signifikan, baik untuk akreditasi kampus maupun penguatan tridarma perguruan tinggi.Kolaborasi lintas negara ini menghasilkan sejumlah program pengabdian masyarakat yang menyentuh langsung denyut nadi masyarakat. Di Barangay La Filipina, Tagum City, misalnya, tim yang dipimpin Dr. Hengki bersama kolega dari UMTC, Dr. Armand James Vallejo, Kenneth Garcia Telin, dan Dr. Imelda Viloria Isaal, menyelami “Parental Perceptions and Family Awareness of the Role of Higher Education in Shaping Childrens" Future Success'. Mereka berdiskusi, berbagi pandangan, membuka cakrawala baru bagi para orang tua di sana. Sebuah upaya edukasi yang fundamental.Dr. Ani Wardah, S.Pd., M.Pd., bersama Inlyn Jiezl Cerbo-Javier, MPsy, RPsy, LPT, CHRA, CFP, serta Sri Ayatina, S.Pd., M.Pd., dan Rudi Haryadi, S.Pd., M.Pd., menggelar sesi 'Group Counseling: Reducing Academic Procrastination' di Kampus UMTC. Sebuah solusi nyata untuk isu yang kerap menghantui dunia akademik.Di Magugpo South, Tagum City, sebuah inovasi juga lahir. Tim Fitria Rizkiana, S.Pd., M.Pd., bersama Jemer Alimbon, MST, Ariel V. Ando MEng-CpE, NSTP, Emilda Prasiska, S.Pd., M.Pd., Herlina Apriani, S.Pd., M.Pd., Okviyoandra Akhyar, Ph.D., Antoni Pardede, Ph.D., dan RR Ariessanty Alicia Kusuma Wardhani, M.Si., menginisiasi "Utilization of Watermelon Rind as Food Product". Mereka mengubah limbah kulit semangka menjadi produk pangan bernilai, mengajarkan masyarakat tentang ekonomi kreatif berbasis lokal. Ini bukti nyata pengabdian masyarakat internasional yang berkesan.Di Jose Tuason Jr. Memorial National High School, Madaum, Tagum City, Davao del Norte, Filipina, sebuah diskusi hangat mewarnai hari. Tim yang terdiri dari Ari Tri Fitrianto, S.Pd., M.Pd., Dr. Saramie Belleza, Muhammad Habibie, S.Pd., M.Pd., dan Andi Kasanrawali, S.Pd., M.Pd., mengenalkan "Galing in Motion: a Collaborative Approach to Sport Success." Mereka tak hanya berbicara tentang teori, tapi juga berbagi metode, merajut semangat kolaborasi, dan membuka wawasan baru tentang bagaimana meraih prestasi olahraga bersama. Sebuah inisiatif yang benar-benar menggugah semangat sportivitas di sana.     
# EDUKASI
# Pengabdian

Urgensi Pendidikan Seni di Lembaga PAUD

Iwan Perdana
24 Februari 2026
Dengan ilmu hidup jadi mudah, dengan seni hidup jadi indah, dengan agama hidup jadi terarah," begitulah wejangan bijak Prof. Mukti Ali, mantan Menteri Agama RI, yang. Sebuah adagium yang kian relevan, terutama saat kita bicara tentang pendidikan seni di lembaga PAUD, sebuah simfoni yang acap kali luput dari sorotan utama kurikulum, namun sejatinya menjadi fondasi kokoh pembentukan karakter dan pengembangan kreativitas anak bangsa.Seni, bukan sekadar tempelan. Ia adalah bagian integral dari kehidupan manusia, sebuah medium ekspresi dan jembatan komunikasi universal. Namun, mengapa urgensinya kerap terlewat dalam ranah pendidikan anak usia dini?. Muhammad Agus Syafrian Nur, M.Pd, dosen PAUD STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, menyorot fakta menarik."Meski seni di lembaga PAUD tidak masuk secara khusus di kurikulum, manfaatnya tak bisa diabaikan," ujarnya. Seni mampu mengasah kreativitas, melatih motorik halus — lihat saja bagaimana jemari mungil mereka asyik mewarnai atau menggunting. Ini juga sarana positif mengekspresikan emosi, membangun rasa percaya diri sejak dini. Sebuah arena bermain yang mendidik, bukan?Rizki Nugerahani Ilise, M.Pd, Asesor BAN PAUD, mengamini. Ia bahkan merinci lebih jauh bagaimana manfaat seni anak usia dini merentang luas. "Anak PAUD perlu diajarkan seni karena seni membantu anak berkembang lewat kegiatan yang menyenangkan. Misalnya bernyanyi, atau bergerak mengikuti musik, anak akan dilatih perkembangan motorik halus dan kasarnya," jelas Rizki. Lebih dari itu, seni juga melatih kefokusan, pendengaran, konsentrasi, koordinasi gerak, hingga kemampuan bahasa. Bayangkan saja, menghafal kata dan melafalkannya lewat lirik lagu. Luar biasa!Nur Faradilla Adriana, M.Pd, Kepala TK Islam Baitul Makmur Banjarmasin, memberikan perspektif yang lebih mendalam tentang sisi emosional dan sosial. "Seni membantu anak menyalurkan imajinasi dan ide-ide mereka secara bebas, sehingga kreativitas mereka berkembang," ungkapnya. Senada dengan jawaban Maulidha, M.Pd, Kaprodi PAUD STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, Nur Faradilla melihat anak-anak belajar menghargai hasil karya, baik milik sendiri maupun teman. Ini akan memperkuat aspek sosial dan empati mereka, serta membangun optimisme dan kepercayaan diri di kemudian hari. Namun, di balik segudang manfaat itu, ada tantangan yang mengemuka. Novi Suma, M.Pd, Dosen PAUD Kampus Visioner, jujur mengakui. "Tantangan bagi guru PAUD adalah meluangkan waktu menambah pengetahuan dan meningkatkan keterampilan tentang seni agar dapat menjadi fasilitator pembelajaran seni yang efektif di sekolah." Guru-guru adalah ujung tombak. Mereka butuh amunisi, butuh bekal agar bisa memfasilitasi ledakan kreativitas para tunas bangsa ini. Seni, pada akhirnya, bukan sekadar goresan warna atau lantunan nada. Ia adalah alat pembentuk karakter, pemicu imajinasi, dan penumbuh optimisme. Sebuah investasi jangka panjang bagi masa depan, yang tak boleh diabaikan, terutama dalam ranah pendidikan di Lembaga PAUD.
# BERITA
# Pendidikan

  Youtube

Surah Ar-Rahman | Aniq Muhai

  Informasi

Selamat Hari Guru Nasional
Arah Pendidikan Nasional & Transformasi Pendidikan Lokal di Daerah
Kupas Tuntas: Kurikulum, Inklusi, dan Seni di Sekolah Dasar
Momentum Kebangkitan Nasional Melalui Peningkatan Kualitas Pendidikan