Fun, Bukan Target: Belajar dari Filosofi Coach Mady
Iwan Perdana
Senin, 18 Mei 2026 08:50 WITA
Coach Mady_Berkah FC
Seperti kebanyakan anak laki-laki, saya juga menggandrungi sepak bola. Saya lupa bagaimana proses awal jatuh cinta pada olah raga ini, mungkin karena sepak boleh cukup bermodalkan bola plastik dan tanah lapang. Di tambah lagi, pada saat saya masih berusia 10 tahun-an, saban sore bersama Abah (alm) nonton Piala dunia 1986 di rumah tetangga.
Di masa kecil dulu, saya belum mengetahui SSB: Sekolah Sepak Bola. Mungkin saja pada waktu itu sudah ada. Andai saat itu saya tahu, kemungkinan besar saya tertarik ikut berlatih 😊. Kini SSB / akademi sepak bola sudah menjamur di Banjarmasin. Anak-anak yang memiliki hobi bermain sepak bola, dan didukung orang tuanya bergabung dengan beragam tujuan. Baik untuk tujuan meraih prestasi, ataupun sekadar olahraga. Ada juga orang tua yang mengikutsertakan anaknya latihan sekadar meminimalisir buah hatinya habiskan waktu di depan gadget.
Seperti tulisan sebelumnya, saya mencoba menganalogikan sepak bola dengan manajemen pendidikan. Fokus tulisan pendek saya kali ini adalah Achmady, pemain bertahan Berkah FC, yang lebih familiar dengan nama panggilan Coach Mady.
Dalam tim, Coach Mady memainkan posisi gelandang bertahan. “Om Mady punya fisik yang kuat, Selain apik bermain bola, Beliau jago menyemangati tim”, kata Bahrudin mengungkapkan keunggulan Coach Mady. Kelebihan lainnya ujar Wasit Humoris ini adalah lemparan bola ke dalam Coach Madi yang sangat jauh menjadi senjata tambahan yang merepotkan lawan.
Achmady_ Gelandang Bertahan Berkah FC
Selain menjadi salah satu pilar tim yang dipimpin Kapten Rudi dengan Pembina H. Juman, Coach Mady juga seorang pelatih sepak bola. Rekan satu tim di Berkah FC, Alwad — gelandang menyerang — memberikan apresiasi terhadap kemampuan taktiknya. "Kalau aku menilai Coach Mady memang ahli strategi, pintar ngatur," ujarnya.
Demikian pula Ody — gelandang bertahan andalan Berkah FC—memberikan testimoni komprehensif tentang Coach Madi sebagai pelatih. "Beliau konsisten dalam melatih. Tegas dan penuh kelembutan terhadap anak didik. Jenius secara taktik, disiplin namun fleksibel. Ahli dalam memotivasi pemain," ujar Ody.
Coach Mady & Coach Ikhsan
Baru-baru ini, Coach Mady berkolaborasi dengan Coach Ikhsan, speedster muda berbakat Berkah FC, sukses membina Akademi Sepak Bola Utama Raya meraih juara 2 Piala Presiden. Prestasi tersebut menghantarkan tim yang mereka latih mewakili Banjarmasin ke tingkat kota, melawan Barabai, Balangan, dan lainnya.

Kiri ke kanan: Ikhsan, Taufik, Iwan, Kaslian, Rusdi, Mat Eloy
Apa rahasia di balik keberhasilan tim U-12 Akademi Utama Raya meraih Juara 2 Piala Presiden? Bukan tekanan. Bukan teriakan. Bukan target mati. Bersama Coach Ikhsan mengantarkan Utama Raya juara, Coach Madi justru berpegang pada tiga fondasi sederhana namun revolusioner untuk anak usia dini.
Melalui wawancara via WhatsApp dengan Coach Mady, berikut tiga inti fondasi kepelatihannya. Pertama, tidak ada tantangan, bawa fun saja. "Tantangan tidak ada. Dibawa fun aja. Biarkan anak menikmati permainan bergembira tanpa tekanan," ujarnya. Kedua, anak bukan mesin pencipta piala. "Mereka bukan mesin pencipta piala. Tujuan utama: mencintai permainan, bukan sekadar mengejar trofi," tegas Coach Mady. Ketiga, kapten adalah tanggung jawab, bukan sekadar ban lengan. "Kapten bukan segaris kain di lengan, tapi tanggung jawab yang harus diemban. Saya memberikan tanggung jawab kepada kapten sepenuh hati dengan pertimbangan kompetensi pemain dan chemistry-nya dengan tim," pungkasnya.
Selama ini saya membayangkan bahwa pelatih sepak bola yang hebat adalah yang keras, yang berteriak di pinggir lapangan, dan yang hanya puas jika timnya membawa pulang piala. Coach Mady membalik logika itu. Ia justru menekankan kegembiraan, mengingatkan bahwa anak-anak bukan mesin prestasi, dan mengajarkan bahwa ban kapten adalah simbol tanggung jawab, bukan gaya.
Saya berpendapat tiga fondasi Coach Mady memiliki kesamaan dengan manajemen dan kepemimpinan pendidikan sebagai berikut:
Pertama : "Bawa fun saja" memiliki kesamaan dengan konsep merdeka belajar.
Kepala sekolah dan guru fokus menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan, bukanpada target nilai, agar anak tidak kehilangan kecintaan pada proses belajar itu sendiri.
Kedua : "Anak bukan mesin pencipta piala".
Pendidikan bukan sekadar perlombaan nilai dan akreditasi. Tujuan utama pendidikan adalah membentuk manusia yang berkarakter dan berpengetahuan, bukan sekadar mengejar sertifikat atau piala lomba.
Ketiga : "Kapten adalah tanggung jawab, bukan ban lengan"
Seorang kepala sekolah, ketua kelas, atau pengurus OSIS tidak boleh menjadikan jabatan sebagai simbol status semata. Amanat kepemimpinan harus diemban dengan penuh tanggung jawab, berdasarkan kompetensi dan kemampuan berkolaborasi dengan seluruh warga sekolah.

Proses pelatihan di lapangan hijau serupa dengan pembelajaran di sekolah. Coach Mady mengajarkan hal sederhana namun sering dilupakan: pendidikan, seperti sepak bola, hanya akan bermakna jika anak-anak tetap tersenyum, merasa bertanggung jawab, dan mencintai prosesnya. Bukan karena tekanan. Bukan karena target mati.
Rekomendasi
Komentar
Untuk memberikan komentar Anda harus Login