Kampus Visioner Tekankan Pentingnya Karakter Visioner dan Patriot bagi Pendidik
Iwan Perdana
Selasa, 31 Mar 2026 10:15 WITA
Vebrianti Umar & Yuliana Nurhayati
Kemajuan bangsa memerlukan dosen yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki pandangan visioner dan jiwa patriot dalam menjalankan mandat Tridarma Perguruan Tinggi.
Dunia akademik sering kali terjebak dalam menara gading intelektualitas yang dingin. Namun, di Kampus Visioner, Selasa (31/3/2026), sebuah diskursus hangat mengemuka: apakah kecerdasan saja cukup untuk memajukan Indonesia? Jawabannya tegas, tidak.
Vebrianti Umar, MP.d, Wakil Ketua Bidang Akademik STKIP ISM Banjarmasin, membedah realitas ini dengan lugas. Baginya, mengarahkan orang cerdas itu perkara mudah. Tantangan sesungguhnya adalah menemukan mereka yang benar-benar mau 'berdarah-darah' demi kemajuan negara melalui pengabdian yang tulus. "Negara tidak hanya membutuhkan orang cerdas, tetapi yang benar-benar mau berkontribusi dengan kemampuan berpikir jauh ke depan dan jiwa yang mencintai Indonesia," ungkapnya.
Salah satu bukti nyata yang ia soroti adalah langkah Iwan Perdana Ph.D, salah seorang pendiri kampus STKIP ISM Banjarmasin, yang melibatkan para dosen Bahasa Inggris kampus Visioner terjun langsung ke kampung-kampung, bekerja sama sama dengan Lanting Literasi Indonesia. Di sana, mereka bukan sekadar mengajar tata bahasa, melainkan sedang menanam benih kualitas pada generasi masa depan. Inilah bentuk patriotisme yang membumi.
Senada dengan itu, Armin Fani, M.Pd selaku Kaprodi PBI menekankan bahwa menjadi visioner adalah syarat mutlak agar dosen tidak tergilas zaman. Pendidik harus mampu menjawab tantangan perubahan dengan metode inovatif yang tetap berpijak pada kearifan lokal. Kejujuran akademik tetap menjadi kompas utama di tengah arus disrupsi.
Sementara itu, Supian Sauri, M.Pd dari prodi PGSD melihat peran dosen sebagai arsitek peradaban. Dosen tidak boleh hanya menjadi 'mesin' pengajar di kelas. Menurutnya, melalui integrasi pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat, dosen adalah kunci untuk mencerdaskan sekaligus membentuk karakter mahasiswa.
Hal ini diperkuat oleh Rizki Nugerahani Ilise, M.Pd, Dosen PAUD yang melihat profesi dosen sebagai sebuah bentuk pengabdian, bukan sekadar pekerjaan administratif. Dengan visi yang tajam, seorang akademisi mampu melihat peluang di masa depan untuk membawa bangsanya melompat lebih jauh.
Sebagai penutup, Yuliana Nurhayati, M.Pd ,Wakil Ketua Bidang Kemahasiswaan dan kerja sama menegaskan bahwa STKIP ISM Banjarmasin terus mendorong pembinaan karakter melalui kegiatan konkret seperti 'Sobat Mengajar' dan pelestarian seni menari. Tujuannya melahirkan lembaga yang tidak hanya unggul secara global, tetapi memiliki akar nasionalisme yang kuat demi kemajuan Indonesia.
Rekomendasi
Komentar
Untuk memberikan komentar Anda harus Login