Kontekstualisasikan Harkitnas dan Hardiknas, STKIP Islam Sabilal Muhtadin Hadirkan MK Sejarah Pendidikan Indonesia dan Banua
Edubanua.com
Jumat, 22 Mei 2026 13:23 WITA
Dr. H. Abd Khair Amrullah, S.Sos.I.,M.Pd.I, Pendiri & Ketua STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin
Setiap 20 Mei, Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas). Momen ini merujuk pada lahirnya organisasi Boedi Oetomo pada tahun 1908 silam. Lahirnya organisasi ini memantik semangat anak bangsa mewujudkan kemerdekaan dengan mengubah arah perjuangan, tidak hanya melalui fisik tetapi juga gerakan terorganisir.
Harkitnas tentu tidak lahir begitu saja. Kebangkitan ini berakar dari kesadaran intelektual hasil dari perjalanan panjang para pelopor pendidikan, salah satunya Ki Hajar Dewantara, yang gigih mencerdaskan kaum pribumi pada zaman penjajahan Belanda. Hari kelahiran Raden Mas Soewardi Soeryaningrat, nama asli Ki Hajar Dewantara, itulah yang kini diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas).
Iwan Perdana Ph.D, salah seorang pendiri STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, mendesain Mata kuliah Sejarah Pendidikan Indonesia dan Banua sebagai ruang akademik utama yang mengontekstualisasikan semangat Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) dan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). “Mata kuliah ini dirancang untuk menjembatani sejarah perjuangan bangsa di tingkat nasional dengan kearifan lokal di tanah Banjar,” ujarnya, Jumat (22/5/2026).
Mata kuliah ini menjadi sangat penting karena membuka wawasan tentang sejarah Pendidikan Indonesia: asal mula dan para tokohnya baik secara nasional, maupun di tanah Kalimantan Selatan. Terlebih lagi sejarah pendidikan di Banua tidak bisa dilepaskan dari kultur Masyarakat Banjar yang mengedepankan nilai-nilai Islam.
Penggabungan perspektif nasional dan lokal (Banua) pada mata kuliah ini akan membentuk identitas mahasiswa STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin yang tidak melupakan akar budayanya. Melalui tugas riset mini atau kajian pustaka, mahasiswa menelusuri kiprah nyata para pelopor pendidikan nasional dan di Kalimantan Selatan. Kajian komparatif antara kurikulum sekolah nasional seperti Taman Siswa dan model kelembagaan Islam tradisional di Banua akan membuka cakrawala baru. Mahasiswa tidak sekadar menghafal nama pahlawan pendidikan, tetapi juga memahami strategi kultural yang digunakan khususnya masyarakat Banjar.

Menghubungkan hardiknas dan Harkitnas dengan mata kuliah Sejarah Pendidikan Indonesia dan Banua di STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin merupakan usaha merawat ingatan kolektif, dan membangunkan kesadaran mahasiswa bahwa mereka adalah ahli waris dari dua api perjuangan: semangat nasionalisme Indonesia dan nilai-nilai luhur Banua yang bernapaskan Islam.
Arti kebangkitan nasional bagi mahasiswa STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin — Program Studi PBI, PGSD, dan PAUD— adalah kesiapan untuk terus berinovasi, mendidik generasi muda, dan menjaga agar obor literasi serta karakter bangsa tetap menyala di Kalimantan Selatan, dan Indonesia.
Rekomendasi
Komentar
Untuk memberikan komentar Anda harus Login