Beranda > Berita > Pendidikan

Kampus Visioner Banjarmasin: Memadukan Kurikulum Adaptif dengan Napas Budaya Banjar

Edubanua.com

Jumat, 15 Mei 2026 10:00 WITA

Kampus Visioner Banjarmasin: Memadukan Kurikulum Adaptif dengan Napas Budaya Banjar

Yuliana Nurhayati, M.Pd, & Vebrianti Umar, M.Pd

Kurikulum Kampus Visioner disusun dengan sangat cermat oleh Bapak Iwan Perdana, Ph.D., salah seorang pendiri kampus, mengacu pada visi institusi serta mempertimbangkan aspek budaya lokal di Kalimantan Selatan, fleksibilitas, dan kebutuhan dunia pendidikan masa depan," ungkap Vebrianti Umar, M.Pd., Wakil Ketua Bidang Akademik STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, diwawancarai melalui pesan WhatsApp mengenai arah  institusinya pada Jumat, 15 Mei 2026.

Di tengah riuh rendah transformasi digital, Kampus Visioner mencoba berdiri tegak dengan satu kaki di masa depan dan kaki lainnya tertanam kuat dalam tradisi. Iwan Perdana merancang kerangka akademik yang tidak akan dimakan usang oleh zaman. Kurikulumnya lentur. Tetap relevan walau badai kebijakan pendidikan datang silih berganti.

Bukti nyatanya terlihat dari kehadiran mata kuliah unik seperti 'Islam dan Budaya Banjar' dan 'Sejarah Pendidikan Indonesia dan Banua'. Ini bukan sekadar formalitas di atas kertas. Mata kuliah tersebut merupakan jangkar identitas. Kampus ingin setiap lulusannya tidak hanya mahir secara intelektual, tetapi juga mengenal detak jantung tanah kelahirannya sendiri. Inilah yang membedakan mereka dari institusi lain di Kalimantan Selatan.

Semangat ini merambat hingga ke Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI). Armin Fani, M.Pd., sang Kaprodi, menekankan bahwa mahasiswanya tidak hanya dilatih untuk fasih berbahasa asing di depan kelas. Mereka dibekali jiwa 'edupreneur'. Tujuannya jelas: agar lulusan memiliki pilihan karier yang luas, baik sebagai pengajar profesional maupun pengusaha di bidang pendidikan. Sarana modern dan kurikulum interaktif menjadi kawah candradimuka bagi mereka untuk melahirkan inovasi yang bermakna bagi masyarakat.


Senada dengan itu, Novi Nurdian, M.Pd., Kaprodi PGSD, menegaskan pentingnya menjaga eksistensi budaya daerah. Di PGSD, calon guru sekolah dasar dididik dengan pendekatan yang berakar pada nilai-nilai sosial masyarakat Banjar. Karakter Islami menjadi napas utama, memastikan bahwa guru masa depan bukan hanya sekadar pentransfer ilmu, melainkan teladan moral bagi anak-anak di banua.

Tak berhenti di ruang kelas, STKIP Islam Sabilal Muhtadin juga melebarkan sayap melalui kolaborasi strategis. Yuliana Nurhayati, M.Pd., selaku Wakil Ketua Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama, menceritakan keaktifan mahasiswa dalam program PLP dan 'Sobat Mengajar' di berbagai jenjang sekolah. Bahkan, ada sentuhan kemanusiaan yang kental melalui kerja sama dengan Yayasan Lanting Literasi Indonesia untuk memberikan pelatihan bahasa Inggris bagi warga kurang mampu.


Di sisi lain, S1 PAUD yang dipimpin oleh Maulida, M.Pd., terus mematangkan kualitas pendidikannya. Dengan tenaga pengajar yang memiliki rekam jejak panjang di bidang pendidikan anak usia dini, mereka memastikan lulusannya memiliki keterampilan yang mumpuni saat terjun ke dunia kerja. Pada akhirnya, semua ikhtiar ini bermuara pada satu tujuan besar: melahirkan generasi pendidik yang inspiratif, berkarakter, dan kompeten untuk memajukan pendidikan di Kalimantan Selatan.

WhatsApp

  Rekomendasi

  Komentar

Untuk memberikan komentar Anda harus Login

  Informasi

Selamat Hari Guru Nasional
Arah Pendidikan Nasional & Transformasi Pendidikan Lokal di Daerah
Kupas Tuntas: Kurikulum, Inklusi, dan Seni di Sekolah Dasar
Momentum Kebangkitan Nasional Melalui Peningkatan Kualitas Pendidikan