Menjalani Peran sebagai Perempuan, Ibu, dan Profesional
Halima Chairia
Jumat, 28 Agu 2026 09:33 WITA
Halima Chairia, SE.,MM_Kabag Adm & Keuangan STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin
Menjadi seorang perempuan dengan banyak peran bukanlah sesuatu yang selalu mudah. Dalam satu hari, saya bisa menjadi seorang karyawan di tempat kerja, seorang ibu bagi dua putri yang sudah beranjak dewasa, seorang istri, seorang anggota Bhayangkari, sekaligus tetap menjadi diri saya sendiri. Semua peran tersebut memiliki tanggung jawab dan tantangan masing-masing. Namun, saya belajar bahwa menjalani semuanya bukan tentang menjadi sempurna, melainkan tentang bagaimana mengatur waktu, menentukan prioritas, dan menjalani setiap tanggung jawab dengan ikhlas.
Saya bekerja sebagai Tendik di perguruan tinggi swasta. Latar belakang pendidikan saya adalah S2 Magister Manajemen dengan konsentrasi Manajemen Pendidikan. Pekerjaan ini membuat saya harus berhadapan dengan berbagai macam tugas dan persoalan setiap hari. Seperti administrasi dan keuangan, pelayanan, koordinasi dengan berbagai bagian, pengelolaan kebutuhan umum, hingga menyelesaikan berbagai persoalan yang muncul di lingkungan kerja menjadi bagian dari keseharian saya.
Setiap pagi, sebelum memulai aktivitas di kantor, saya berusaha menyelesaikan terlebih dahulu berbagai urusan di rumah. Meskipun kedua putri saya sudah dewasa dan lebih mandiri, saya tetap merasa bahwa peran sebagai ibu tidak pernah benar-benar selesai. Saya masih memperhatikan kebutuhan mereka, mendengarkan cerita mereka, dan berusaha menjadi tempat untuk berbagi ketika mereka membutuhkan. Bagi saya, kehadiran seorang ibu bukan hanya tentang menyiapkan kebutuhan anak, tetapi juga memberikan perhatian, dukungan, dan rasa nyaman.
Setelah urusan rumah selesai, saya mulai mempersiapkan diri untuk bekerja. Perjalanan menuju kantor menjadi waktu untuk mempersiapkan pikiran dan hati agar siap menghadapi aktivitas sepanjang hari. Sesampainya di tempat kerja, biasanya sudah ada berbagai pekerjaan yang menunggu. Seperti rapat, koordinasi dengan staf, menyelesaikan dokumen, menerima informasi dari bagian lain, dan terkadang harus menyelesaikan persoalan yang muncul secara tiba-tiba. Tidak semua hari berjalan sesuai rencana. Karena itu, saya belajar untuk lebih fleksibel dan tidak mudah panik ketika menghadapi situasi yang tidak terduga.
Bekerja di lingkungan perguruan tinggi memberikan banyak pengalaman bagi saya. Saya bertemu dengan banyak orang dengan karakter dan kebutuhan yang berbeda. Saya berusaha untuk memperlakukan setiap orang dengan baik karena saya percaya bahwa lingkungan kerja yang nyaman akan membantu setiap orang bekerja dengan lebih maksimal.
Di tengah kesibukan pekerjaan, saya juga berusaha menjaga kehidupan pribadi. Saya menyadari bahwa pekerjaan memang penting, tetapi keluarga juga memiliki tempat yang sangat penting dalam kehidupan saya. Ketika berada di rumah, saya berusaha mengurangi membawa urusan kantor ke dalam suasana keluarga. Tidak selalu berhasil, tentu saja. Ada kalanya pekerjaan masih terbawa dalam pikiran. Namun, saya terus belajar untuk memberikan perhatian kepada keluarga ketika waktunya memang untuk keluarga.
Selain sebagai ibu dan pekerja, saya juga menjadi bagian dari Bhayangkari. Kegiatan sebagai anggota Bhayangkari menjadi pengalaman tersendiri bagi saya. Ada kegiatan organisasi, pertemuan, kegiatan sosial, dan berbagai aktivitas lainnya yang membutuhkan waktu dan perhatian. Pada awalnya mungkin terasa berat untuk membagi waktu antara pekerjaan, keluarga, dan kegiatan organisasi. Namun, seiring waktu saya belajar membuat skala prioritas dan mengatur jadwal dengan lebih baik.
Saya menyadari bahwa keseimbangan hidup tidak berarti semua hal mendapatkan waktu yang sama banyak. Ada saatnya pekerjaan membutuhkan perhatian lebih besar. Ada waktu ketika keluarga harus menjadi prioritas. Ada pula saatnya saya perlu memberikan waktu untuk diri sendiri. Bagi saya, keseimbangan adalah kemampuan untuk mengetahui apa yang paling penting pada saat tertentu dan memberikan perhatian sebaik mungkin pada hal tersebut.
Menjadi perempuan yang bekerja sekaligus menjadi ibu rumah tangga juga mengajarkan saya tentang arti tanggung jawab. Saya belajar bahwa banyak hal kecil yang dilakukan setiap hari sebenarnya memiliki makna yang besar. Menyelesaikan pekerjaan dengan baik, memberikan perhatian kepada keluarga, menjaga hubungan dengan orang lain, mengikuti kegiatan organisasi, bahkan meluangkan waktu untuk beristirahat, semuanya merupakan bagian dari perjalanan hidup.
Saya juga belajar untuk tidak terlalu keras kepada diri sendiri. Ada hari-hari ketika pekerjaan terasa sangat melelahkan. Ada pula saat ketika urusan rumah dan kegiatan lainnya datang bersamaan. Pada kondisi seperti itu, saya mencoba untuk berhenti sejenak, menarik napas, dan mengingat kembali alasan saya menjalani semua ini. Saya bekerja bukan hanya untuk mengejar pencapaian, tetapi juga sebagai bentuk pengabdian dan tanggung jawab. Saya menjadi ibu karena keluarga adalah bagian penting dari hidup saya. Saya mengikuti kegiatan Bhayangkari karena di dalamnya ada nilai kebersamaan dan pengabdian kepada masyarakat.
Kini, ketika kedua putri saya sudah semakin dewasa, saya merasa bersyukur dapat melihat mereka tumbuh menjadi pribadi yang mandiri. Perjalanan menjadi seorang ibu telah memberikan banyak pelajaran kepada saya. Saya belajar bahwa anak-anak tidak selalu membutuhkan ibu yang sempurna. Mereka membutuhkan ibu yang hadir, mau mendengarkan, dan selalu memberikan dukungan ketika mereka membutuhkannya.
Pada akhirnya, kehidupan saya sebagai seorang perempuan yang bekerja dan juga ibu rumah tangga adalah sebuah perjalanan yang penuh warna. Ada lelah, ada bahagia, ada tantangan, dan ada banyak hal yang patut disyukuri. Saya tidak selalu mampu menjalankan semuanya dengan sempurna, tetapi saya selalu berusaha memberikan yang terbaik dalam setiap peran yang saya jalani.
Bagi saya, menjadi perempuan dengan berbagai peran bukanlah beban, melainkan sebuah kesempatan untuk terus belajar dan berkembang. Saya belajar mengelola waktu, mengelola emosi, berkomunikasi, mengambil keputusan, dan yang paling penting, belajar untuk tetap bersyukur. Selama kita mampu menentukan prioritas, menjaga komunikasi dengan keluarga, bekerja dengan penuh tanggung jawab, dan tidak lupa memberikan waktu untuk diri sendiri, berbagai peran tersebut dapat dijalani dengan lebih seimbang.
Saya percaya bahwa keseimbangan bukan berarti hidup tanpa masalah atau tanpa kelelahan. Keseimbangan adalah ketika kita mampu menerima bahwa setiap fase kehidupan memiliki tantangannya sendiri, kemudian menjalaninya dengan sabar, ikhlas, dan penuh rasa syukur. Itulah yang terus saya lakukan dalam keseharian saya sebagai seorang wanita, seorang ibu, seorang profesional, dan seorang anggota Bhayangkari.
Rekomendasi
Komentar
Untuk memberikan komentar Anda harus Login