Beranda > Edukasi > Opini

Saiful Alwad: Bek Kiri Berkah FC yang Mengajarkan Kepemimpinan

Iwan Perdana

Kamis, 11 Jun 2026 07:02 WITA

Saiful Alwad: Bek Kiri Berkah FC yang Mengajarkan Kepemimpinan

Saiful Alwad, Bek Kiri Berkah FC

Dua puluh tiga tahun sudah Saiful Alwad bermain di Lapangan Kayu Tangi Ujung. Pria yang lebih dikenal dengan sapaan Awad ini bermain pada posisi bek kiri sejak tahun 2003.  Tubuhnya tidak besar, tidak juga kecil. Gerakannya cepat, dan setiap langkahnya selalu penuh perhitungan.

Awad merupakan salah seorang palang pintu andalan Berkah FC. Budi—Libero — memanggilnya Bruce Lee karena keberaniannya melakukan tekel menyapu seperti adegan film kungfu. Coach Mady menjulukinya Jet Lee—mungkin karena senyum tipisnya yang mirip bintang film Shaolin Temple (1982) tersebut. Tapi menurut Kapten Rudi,  Awad lebih mirip IP Man yang diperankan oleh Donnie Yen. Sikapnya tenang tidak banyak bicara. Tapi kemampuannya melompat tinggi, dan kepiawaiannya memotong umpan silang akan membuat striker lawan ragu membawa bola dari sisi kiri Berkah FC— karena pasti akan gagal melewatinya.

Awad—  yanv memiliki motto "Perjuangan bukanlah tentang hasil akhir, melainkan tentang proses yang tidak pernah sia-sia. InsyaAllah, berhasil!"— sangat mengidolakan Paolo Maldini—bek legendaris Italia dan Pele—Legenda Brazil. “Maldini mengajarkan bahwa bertahan adalah seni. Pele mengajarkan bahwa sepak bola pada akhirnya adalah kegembiraan,” ungkapnya pada Rabu (10/06/2026) melalui pesan WhatsApp.

Mungkin karena kedua ikon sepak bola dunia itu, hingga kini, Awad masih setia di pos bek kiri. Bukan karena Ia merasa yang terbaik di sana. Tapi karena di posisi itulah Ia mengaku belajar bahwa hidup sama seperti bertahan: tidak perlu selalu menyerang. Cukup tahu kapan harus diam, kapan harus bergerak, dan kapan harus menyapu bersih semua masalah dengan satu tekel yang tepat. “Saya sangat senang bermain sepak bola setiap senin dan kamis  di lapangan Kayutangi dibawah arahan Kapten Rudi. Beliau pemimpin yang peduli rekan-rekan. Saya merasa bangga Beliau memilih saya ikut berlaga di kompetisi resmi,” ujarnya.
Berkah FC

Sepak bola benar-benar merasuki jiwa Awad. Kecintaannya pada permainan ini bukan tanpa sebab. Menurutnya, olah raga ini merekatkan persahabatan, memperkuat silaturrahmi, menyehatkan badan, membuat hati senang, dan paling penting tidak menuntut biaya mahal.

Kesan Awad terhadap klub Berkah FC sangat dalam. “Rasa kekeluargaan para pemain dan pengurus klub yang dibina H. Juman ini sangat kuat. Terlebih lagi Pak Rudi— Kapten Berkah FC. Beliau seorang pemimpin yang sangat memerhatikan keadaan kawan-kawan. Apalagi jika laga tandang, bersama Pak Kaslian, Beliau repot mengatur segala persiapan termasuk konsumsi,” jelasnya.

Awad juga mengagumi kebijaksanaan pengurus tim yang memberikan kesempatan kepada siapa saja— tua-muda— yang datang ke lapangan untuk bermain. “Sesuai nama klubnya— Berkah FC, klub ini menjadi berkah bagi setiap orang yang mencintai sepak bola, dan ingin mengembangkan bakat bermain sepak bola,” tegasnya.

Siapapun yang mengenal Saiful Alwad—yang juga seorang pecinta musik panting, pasti akan merindukan aksinya di lapangan. Kekuatan, dan kelincahan kakinya menghalu serangan lawan selalu dinanti para penikmat bola di lapangan Kayu Tangi Ujung.
Kapten & Asisten Manajer & Tim Berkah FC 

Dikaitkan dengan manajemen pendidikan dan kepemimpinan pendidikan, terdapat beberapa poin yang dipraktikkan Awad secara substansi memiliki kesamaan, yaitu:

1.   Functional Leadership

Awad memilih bertahan sebagai bek kiri bukan karena gengsi, tetapi karena menyadari di posisi itulah kompetensinya bisa memberikan kontribusi terbaik bagi tim. Guru/ pemimpin pendidikan harus menempatkan diri berdasarkan analisis kemampuan realitasnya, bukan ego sehingga dapat berkontribusi maksimal pada posisi yang menjadi tanggung jawabnya.

2. Kecerdasan Emosional dan Pengendalian Diri

Awad tenang, tidak banyak bicara, mampu melompat tinggi, dan memotong umpan silang dengan tepat. Pemimpin pendidikan harus mampu bersikap responsif bukan reaktif. Ia tidak terprovokasi tekanan eksternal (striker lawan), tetapi tetap fokus pada tugasnya.

3. Filosofi Manajemen Diri (Self-Management)

Moto Saiful Alwad: "Perjuangan bukan tentang hasil akhir, melainkan proses yang tidak pernah sia-sia" adalah inti dari evaluasi diri dalam pendidikan yang menekankan pada proses pembelajaran lebih penting daripada sekadar nilai akhir. Pemimpin pendidikan yang cermat dan bijak, tidak terobsesi pada pencapaian instan, tetapi pada pertumbuhan berkelanjutan.

4. Role Commitment

Awad bermain pada posisi yang sama selama 23 tahun sebagai bek kiri. Pemimpin pendidikan tidak perlu sering berganti gaya kepemimpinan, yang paling utama adalah pendalaman kompetensi (deep expertise)  dan konsisten  dan terus meningkatkan kualitas diri.

5. Kemampuan Membaca Situasi dan Mengambil Keputusan Tepat

Awad tahu kapan diam, kapan bergerak, kapan menyapu bersih — melakukan tekel yang tepat. Pemimpin pendidikan tidak boleh membuat keputusan tergesa-gesa, namun tidak boleh juga menyepelekan—lambat membuat Keputusan. Setiap keadaan harus diobservasi, kemudian bergerak (melakukan intervensi ringan), atau "tekel bersih" (tindakan tegas).


Lapangan sepak bola tidak hanya mengajarkan cara mencetak gol, tetapi juga cara menjadi pemimpin yang bijak. Awad—bek kiri Berkah FC, mengajarkan kepemimpinan sejati lahir dari kesadaran akan peran, tenang menghadapi  tekanan, dan tetap komitmen pada proses, bukan sekadar meraih kemenangan sebagai hasil akhir.

WhatsApp

  Rekomendasi

  Komentar

Untuk memberikan komentar Anda harus Login

  Informasi

Selamat Hari Guru Nasional
Arah Pendidikan Nasional & Transformasi Pendidikan Lokal di Daerah
Kupas Tuntas: Kurikulum, Inklusi, dan Seni di Sekolah Dasar
Momentum Kebangkitan Nasional Melalui Peningkatan Kualitas Pendidikan