Beranda > Berita > Pendidikan

Urgensi Pendidikan Seni di Lembaga PAUD

Iwan Perdana

Selasa, 24 Feb 2026 10:24 WITA

Urgensi Pendidikan Seni di Lembaga PAUD

Kegiatan Belajar Mengajar

Dengan ilmu hidup jadi mudah, dengan seni hidup jadi indah, dengan agama hidup jadi terarah," begitulah wejangan bijak Prof. Mukti Ali, mantan Menteri Agama RI, yang. Sebuah adagium yang kian relevan, terutama saat kita bicara tentang pendidikan seni di lembaga PAUD, sebuah simfoni yang acap kali luput dari sorotan utama kurikulum, namun sejatinya menjadi fondasi kokoh pembentukan karakter dan pengembangan kreativitas anak bangsa.

Seni, bukan sekadar tempelan. Ia adalah bagian integral dari kehidupan manusia, sebuah medium ekspresi dan jembatan komunikasi universal. Namun, mengapa urgensinya kerap terlewat dalam ranah pendidikan anak usia dini?.


Muhammad Agus Syafrian Nur, M.Pd, dosen PAUD STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, menyorot fakta menarik."Meski seni di lembaga PAUD tidak masuk secara khusus di kurikulum, manfaatnya tak bisa diabaikan," ujarnya.

Seni mampu mengasah kreativitas, melatih motorik halus — lihat saja bagaimana jemari mungil mereka asyik mewarnai atau menggunting. Ini juga sarana positif mengekspresikan emosi, membangun rasa percaya diri sejak dini. Sebuah arena bermain yang mendidik, bukan?

Rizki Nugerahani Ilise, M.Pd, Asesor BAN PAUD, mengamini. Ia bahkan merinci lebih jauh bagaimana manfaat seni anak usia dini merentang luas. "Anak PAUD perlu diajarkan seni karena seni membantu anak berkembang lewat kegiatan yang menyenangkan. Misalnya bernyanyi, atau bergerak mengikuti musik, anak akan dilatih perkembangan motorik halus dan kasarnya," jelas Rizki. Lebih dari itu, seni juga melatih kefokusan, pendengaran, konsentrasi, koordinasi gerak, hingga kemampuan bahasa. Bayangkan saja, menghafal kata dan melafalkannya lewat lirik lagu. Luar biasa!

Nur Faradilla Adriana, M.Pd, Kepala TK Islam Baitul Makmur Banjarmasin, memberikan perspektif yang lebih mendalam tentang sisi emosional dan sosial. "Seni membantu anak menyalurkan imajinasi dan ide-ide mereka secara bebas, sehingga kreativitas mereka berkembang," ungkapnya.

Senada dengan jawaban Maulidha, M.Pd, Kaprodi PAUD STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, Nur Faradilla melihat anak-anak belajar menghargai hasil karya, baik milik sendiri maupun teman. Ini akan memperkuat aspek sosial dan empati mereka, serta membangun optimisme dan kepercayaan diri di kemudian hari.

Namun, di balik segudang manfaat itu, ada tantangan yang mengemuka. Novi Suma, M.Pd, Dosen PAUD Kampus Visioner, jujur mengakui. "Tantangan bagi guru PAUD adalah meluangkan waktu menambah pengetahuan dan meningkatkan keterampilan tentang seni agar dapat menjadi fasilitator pembelajaran seni yang efektif di sekolah." Guru-guru adalah ujung tombak. Mereka butuh amunisi, butuh bekal agar bisa memfasilitasi ledakan kreativitas para tunas bangsa ini.

Seni, pada akhirnya, bukan sekadar goresan warna atau lantunan nada. Ia adalah alat pembentuk karakter, pemicu imajinasi, dan penumbuh optimisme. Sebuah investasi jangka panjang bagi masa depan, yang tak boleh diabaikan, terutama dalam ranah pendidikan di Lembaga PAUD.

WhatsApp

  Rekomendasi

  Komentar

Untuk memberikan komentar Anda harus Login

  Informasi

Selamat Hari Guru Nasional
Arah Pendidikan Nasional & Transformasi Pendidikan Lokal di Daerah
Kupas Tuntas: Kurikulum, Inklusi, dan Seni di Sekolah Dasar
Momentum Kebangkitan Nasional Melalui Peningkatan Kualitas Pendidikan