Beranda > Edukasi > Opini

  Postingan Terbaru

Wisuda: Dari Tradisi Akademik hingga Misi FKIP UNISKA Mencetak Guru Profesional

Iwan Perdana
19 Desember 2025
Wisuda adalah momen yang menandai berakhirnya masa studi di kampus. Acara ini diselenggarakan penuh khidmat untuk mengukuhkan kelulusan mahasiswa. Yuliantin Azizah (2023) dalam situs https://itsm.ac.id/uncategorized/sejarah-singkat-wisuda menyebutkan perayaan kelulusan mirip konsep wisuda sudah ada sejak zaman Plato (abad ke-4 SM), yaitu upacara "Iklan" di Athena. Pesta kelulusan juga ada di Roma kuno yang disebut "promotio" atau “conventus”. Azizah menambahkan, perayaan kelulusan yang kemudian dikenal dengan istilah Wisuda menjadi upacara formal Universitas di Eropa pada abad pertengahan: Universitas Bologna di Italia, dan Universitas Oxford di Inggris. Di Amerika, Universitas Harvard, USA mengadakannya pada tahun 1642. Sedangkan di Indonesia, Universitas Gadjah Mada (UGM) menjadi kampus pertama yang menyelenggarakan wisuda pada 19 November 1963. Wisuda merupakan momen penutupan berakhirnya masa studi di kampus sekaligus wujud komitmen perguruan tinggi menghantarkan mahasiswa mencapai tujuan akademik mereka. Pelaksanaan wisuda menegaskan pengakuan kampus terhadap kerja keras, ikut merayakan pencapaian studi, dan apresiasi atas dedikasi mahasiswa terhadap ilmu pengetahuan. Di ajang yang sangat tepat untuk mengapresiasi orang tua, kerabat, dan para dosen ini pula akan terbangun kebanggaan dan identitas alumni, sekaligus pertanggungjawaban perguruan tinggi kepada masyarakat dengan menyiapkan lulusan yang siap berkontribusi kepada negara, masyarakat, dan dunia kerja. Pada tanggal 16 – 18 Desember 2025, Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin menggelar Wisuda Program Sarjana ke-50, dan Pascasarjana ke-23. Di rangkaian wisuda yang digelar selama tiga hari tersebut, UNISKA mengukuhkan 3.254 lulusan dari berbagai jenjang Pendidikan.Salah seorang Dekan di UNISKA MAB Banjarmasin yang tampak gembira dalam ajang pengukuhan kelulusan ini adalah Dr Hengki S.S.,M.Pd. Tahun ini, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) yang dipimpinnya menghantarkan 183 mahasiswa mengikuti Wisuda. Melalui pesan WhatsApp, Rabu (17/12/2025), Beliau menyatakan keyakinannya bahwa para lulusan FKIP UNISKA MAB Banjarmasin siap menjadi guru profesional. Optimisme ini dilandasi oleh praktik pembelajaran di kampus selama ini menekankan pada proses membimbing dan mengajar mahasiswa agar mereka mampu mengembangkan keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan masyarakat. Sebagai Fakultas yang saban tahun meluluskan calon guru Pendidikan Bahasa Inggris, Bimbingan Konseling, Pendidikan Kimia, dan Pendidikan Olah raga. FKIP UNISKA telah berkontribusi besar membangun bangsa dan memajukan masyarakat khususnya di bidang Pendidikan. Para alumni FKIP UNISKA terbukti tangguh, berkarakter kuat, inovatif, adaptif, dan berdaya saing. Banyak guru berkualitas lulusan FKIP UNISKA mengabdikan diri di dunia pendidikan. Mereka berjuang mencerdaskan generasi khususnya di Banua.  Terlebih lagi, Dr Hengki, Dosen Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UNISKA, memiliki perspektif bahwa guru adalah pengajar yang harus tampil sebagai pembimbing dan teladan dalam membentuk peradaban bangsa yang bermartabat. Ini tentu saja mempengaruhi kebijakannya dalam meningkatkan mutu penyelenggaraan perkuliahan dalam rangka menyiapkan lulusan (guru) berkualitas. 
# EDUKASI
# Opini

Prometheus di Abad Modern

Iwan Perdana
17 Desember 2025
Dalam mitologi Yunani, manusia tidak memiliki pengetahuan sampai akhirnya mendapatkannya dari Prometheus. Harga yang harus dibayar Titan cerdas itu sangat mahal. Atas keberaniannya mencuri api (simbol pengetahuan) di gunung Olimpus, Zeus menghukumnya dengan siksa abadi. Dia dirantai di gunung, tempat bersemayamnya para Dewa. Hatinya dimakan burung elang saban hari. Setelah dilahap elang, malamnya tumbuh lagi, kemudian dimakan lagi. Terus begitu, selamanya.Mengapa Prometheus berani mencuri api pengetahuan, padahal dia menyadari risikonya. Kecintaannya yang sangat besar kepada manusialah yang membuatnya nekat mengambil dan menghadiahkan api pengetahuan kepada manusia. Sang Titan ingin manusia menjalani kehidupan yang lebih baik, dan makmur.Bertolak dari cerita itu, mestinya seluruh umat manusia tercerahkan karena mendapatkan pengetahuan. Namun ternyata, sejak dahulu pengetahuan adalah barang mewah, tidak semua orang berkesempatan memperolehnya. Hanya kalangan tertentu saja: Anak-anak raja, keturunan bangsawan, para pejabat istana, dan anak keturunan orang kaya. Dalam kisah Mahabrata, diceritakan Dronacharya, Sang Mahaguru Hastinapura, membatasi pengajaran pengetahuannya hanya kepada kasta Ksatria: Pandawa & Kurawa. Dia tidak berkenan mengajari Ekalaya dan juga Karna, rakyat biasa.Keterbatasan akses pengetahuan bukan hanya cerita masa lalu. Kini pun, masih banyak anak kurang beruntung yang merasakannya. Mereka terjebak di daerah yang dilanda konflik, kemiskinan ekstrem, dan ketidakstabilan politik, ataupun dogma yang menutup peluang kaum hawa ke sekolah. Maka beruntunglah kita yang merasakan manisnya pendidikan sehingga memiliki pengetahuan.Lalu bagaimana bentuk syukur atas anugerah yang luar biasa ini?. Jawabannya sederhana, belajar dan belajar, kemudian mempraktikkannya demi meningkatkan kesejahteraan umat manusia, seperti yang dilakukan Prometheus. Menurut saya, para ilmuwan yang bersusah payah belajar, mengasah keterampilan sehingga mampu menciptakan sesuatu untuk meningkatkan kesejahteraan umat manusia adalah manusia pilihan Tuhan – mereka rela mencurahkan pikiran, tenaga dan masa mudanya untuk belajar. Mereka (mungkin) seperti Prometheus yang menderita demi umat manusia, karena menghabiskan banyak waktu hidupnya untuk mempelajari sesuatu, dan menggunakannya untuk kebaikan orang banyak.  
# EDUKASI
# Opini

Transformasi Pendidikan Tinggi: Menjawab Tantangan dan Isu Strategis Abad 21

Rizki Nugerahani Ilise, M.Pd
17 Desember 2025
Pendidikan dan pembelajaran abad ke-21 mengalami perubahan yang sangat signifikan, termasuk dalam konteks perguruan tinggi. Perguruan tinggi tidak lagi hanya dipahami sebagai tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi sebagai ruang strategis untuk membentuk sumber daya manusia yang unggul, adaptif, dan siap menghadapi tantangan global. Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan dinamika sosial menuntut perguruan tinggi untuk melakukan transformasi dalam sistem pendidikan dan pembelajarannya agar tetap relevan dengan kebutuhan zaman.Salah satu isu strategis utama dalam pendidikan abad ke-21 di perguruan tinggi adalah tuntutan penguasaan keterampilan abad ke-21. Mahasiswa tidak cukup hanya menguasai teori dan konsep keilmuan, tetapi juga harus memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif. Perguruan tinggi dituntut mampu menyiapkan lulusan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga mampu memecahkan masalah nyata, mengambil keputusan secara tepat, serta beradaptasi dengan perubahan yang cepat di dunia kerja dan masyarakat.Isu strategis berikutnya adalah pesatnya perkembangan teknologi digital yang berdampak langsung pada proses pembelajaran di perguruan tinggi. Pemanfaatan teknologi informasi melalui pembelajaran daring, e-learning, dan berbagai platform digital menjadi kebutuhan yang tidak terpisahkan. Teknologi memberikan peluang besar untuk menciptakan pembelajaran yang fleksibel, interaktif, dan terbuka. Namun, di sisi lain, tantangan yang dihadapi adalah kesiapan dosen dan mahasiswa dalam memanfaatkan teknologi secara efektif serta masih adanya kesenjangan literasi digital. Oleh karena itu, perguruan tinggi perlu memastikan bahwa teknologi digunakan sebagai sarana pendukung pembelajaran yang bermakna, bukan sekadar sebagai pelengkap.Perubahan karakteristik mahasiswa juga menjadi isu strategis dalam pembelajaran abad ke-21 di perguruan tinggi. Mahasiswa saat ini cenderung lebih kritis, terbuka terhadap informasi, dan terbiasa dengan teknologi digital. Kondisi ini menuntut perubahan pendekatan pembelajaran dari yang berpusat pada dosen menjadi pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa. Model pembelajaran aktif, seperti diskusi, proyek, pembelajaran berbasis masalah, dan penelitian sederhana, menjadi sangat relevan untuk mendorong mahasiswa terlibat secara aktif dalam proses belajar. Dosen berperan sebagai fasilitator yang membimbing dan mengarahkan mahasiswa dalam membangun pengetahuannya sendiri.Selain aspek akademik, penguatan karakter dan nilai-nilai etika juga menjadi isu strategis yang penting dalam pendidikan perguruan tinggi abad ke-21. Arus globalisasi dan keterbukaan informasi membawa berbagai pengaruh yang dapat berdampak pada sikap dan perilaku mahasiswa. Oleh karena itu, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk menanamkan nilai kejujuran, tanggung jawab, disiplin, toleransi, dan etika akademik dalam setiap aktivitas pembelajaran. Pendidikan karakter menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses akademik agar lulusan perguruan tinggi tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga berintegritas dan berakhlak.Isu strategis lainnya adalah keterkaitan antara perguruan tinggi dengan dunia kerja dan kebutuhan masyarakat. Perguruan tinggi dituntut untuk menghasilkan lulusan yang relevan dengan perkembangan industri dan mampu bersaing secara global. Kurikulum dan pembelajaran perlu dirancang agar selaras dengan kebutuhan nyata di lapangan, tanpa mengabaikan pengembangan keilmuan dan nilai-nilai kemanusiaan. Kolaborasi antara perguruan tinggi, dunia industri, dan masyarakat menjadi penting untuk memastikan bahwa proses pembelajaran memberikan pengalaman nyata bagi mahasiswa.Terakhir, profesionalisme dosen menjadi kunci dalam menjawab berbagai isu strategis pendidikan dan pembelajaran abad ke-21 di perguruan tinggi. Dosen dituntut untuk terus meningkatkan kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian. Inovasi dalam pembelajaran, pemanfaatan teknologi, serta keterlibatan dalam penelitian dan pengabdian kepada masyarakat menjadi bagian penting dari peran dosen. Dengan dosen yang profesional dan adaptif, perguruan tinggi akan mampu menciptakan pembelajaran yang berkualitas dan menghasilkan lulusan yang siap menghadapi tantangan abad ke-21.Secara keseluruhan, isu-isu strategis pendidikan dan pembelajaran abad ke-21 di perguruan tinggi menuntut perubahan yang menyeluruh dan berkelanjutan. Perguruan tinggi perlu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri dan nilai-nilai dasar pendidikan. Melalui pembelajaran yang inovatif, berpusat pada mahasiswa, berlandaskan nilai karakter, serta didukung oleh dosen yang profesional, perguruan tinggi diharapkan mampu melahirkan generasi yang cerdas, berkarakter, dan berdaya saing tinggi di tingkat nasional maupun global.
# EDUKASI
# Opini

Partisipasi STKIP ISM Banjarmasin dalam Kegiatan AI Learning Lab Education: Upaya Mendukung Transformasi Pendidikan Tinggi di Bidang Digital

Vebrianti Umar M.Pd
17 Desember 2025
Saya, Vebrianti Umar M.Pd Wakil Ketua Bidang Akademik, dan Yuliana Nurhayati, M.Pd Wakil Ketua Bidang Kerja Sama dan Kemahasiswaan STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, mengikuti kegiatan AI Learning Lab Education yang diselenggarakan pada 20 November 2025 di Hotel Rattan Inn Banjarmasin. Kegiatan ini menjadi forum strategis untuk memperluas wawasan perguruan tinggi terkait pemanfaatan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) dalam mendukung transformasi pendidikan tinggi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi digital.Kegiatan diawali dengan pemaparan dari Tim AI Learning Lab, yang dibuka oleh Tiffany Santosa. Dalam sesi pembuka ini disampaikan gambaran umum mengenai peran AI dalam dunia pendidikan, khususnya bagaimana teknologi AI dapat dimanfaatkan secara etis, aman, dan inklusif untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran, kolaborasi akademik, serta pengelolaan institusi pendidikan.Selanjutnya, pemaparan Kepala LLDIKTI Wilayah XI Kalimantan, Dr. Drs. Muhammad Akbar, M.Si. Dalam keynote speech-nya, beliau menekankan bahwa transformasi digital di perguruan tinggi merupakan sebuah strategi holistik yang mencakup perubahan cara institusi beroperasi, mengajar, dan melayani mahasiswa melalui pemanfaatan teknologi digital seperti AI, cloud, dan data analytics. Transformasi ini dinilai mampu meningkatkan efisiensi manajemen akademik, memperluas akses pendidikan, serta memperkuat relevansi lulusan dengan kebutuhan industri global. Pemaparan tersebut juga menegaskan pentingnya kepemimpinan digital dan pendekatan sistemik agar implementasi transformasi digital dapat berjalan secara berkelanjutan dan berdampak nyata bagi institusi pendidikan tinggi Sesi pemaparan ditutup oleh Hari Siswantoro, S.T., M.T., Ph.D. dari Fakultas Teknik Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED). Beliau membagikan praktik baik pengembangan ekosistem kampus cerdas melalui pemanfaatan Google Workspace for Education yang terintegrasi dengan teknologi AI. Dalam paparannya, Beliau menjelaskan bagaimana UNSOED secara bertahap membangun infrastruktur pembelajaran digital, mulai dari migrasi sistem informasi, pemanfaatan Google Workspace, hingga penggunaan AI untuk mendukung penyusunan RPS, bahan ajar, evaluasi pembelajaran, administrasi akademik, serta aktivitas penelitian. Beliau juga menekankan bahwa transformasi digital tidak harus menunggu kesiapan infrastruktur yang sempurna, melainkan dapat dimulai dari kolaborasi sederhana yang berkelanjutan Melalui keikutsertaan dalam kegiatan AI Learning Lab Education ini,  kami memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai pentingnya pemanfaatan AI secara strategis dalam pendidikan tinggi, baik pada aspek pembelajaran, pengelolaan institusi, maupun pengembangan kompetensi mahasiswa. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi inspirasi dan pijakan awal bagi penguatan kebijakan serta implementasi teknologi AI di lingkungan perguruan tinggi, khususnya dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan dan daya saing institusi di era digital.  
# EDUKASI
# Opini

Mewujudkan Kampus Aman Tanpa Kekerasan Seksual

Rizki Nugerahani Ilise, M.Pd
9 Desember 2025
Kekerasan seksual di lingkungan perguruan tinggi telah menjadi masalah serius yang memerlukan penanganan khusus. Berbagai kasus kekerasan seksual yang terjadi di kampus, baik terhadap mahasiswa maupun sivitas akademika lainnya, menunjukkan urgensi dibentuknya mekanisme pencegahan dan penanganan yang efektif. Merespons situasi ini, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menginisiasi pembentukan Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Perguruan Tinggi. Langkah ini sejalan dengan upaya implementasi Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Perguruan Tinggi.Satgas ini dibentuk dengan tujuan utama menciptakan lingkungan kampus yang aman, nyaman, dan bebas dari segala bentuk kekerasan seksual. Fungsinya mencakup upaya pencegahan melalui edukasi dan sosialisasi, serta penanganan kasus-kasus kekerasan seksual yang terjadi di perguruan tinggi.Salah satu upaya signifikan yang dilakukan adalah pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Perguruan Tinggi. Inisiatif ini muncul dari kesadaran bahwa lingkungan akademik seharusnya menjadi ruang yang aman dan kondusif bagi seluruh sivitas akademika untuk mengembangkan potensi mereka tanpa rasa takut atau ancaman. Pembentukan Satgas ini juga merupakan langkah kongkret dalam mengimplementasikan berbagai kebijakan nasional yang telah ditetapkan untuk mengatasi masalah kekerasan seksual secara lebih komprehensif. Selain itu, Pembentukan Satgas ini juga merupakan kewajiban yang dikelola oleh perguruan tinggi berdasarkan Indikator Kinerja Utama 2.6 untuk mengatasi kekerasan seksual di lingkungan akademik. Diharapkan dengan adanya Satgas ini, kasus-kasus kekerasan seksual di perguruan tinggi dapat ditangani secara lebih sistematis, komprehensif, dan berpihak pada korban.Upaya ini tidak hanya melibatkan pihak internal perguruan tinggi, tetapi juga membutuhkan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, penegak hukum, organisasi masyarakat sipil, dan komunitas sekitar. Dengan adanya Satgas ini, diharapkan kasus kekerasan seksual di perguruan tinggi dapat ditangani dengan lebih efektif. Lebih dari itu, keberadaan Satgas juga diharapkan dapat mendorong perubahan budaya yang lebih luas, di mana kekerasan seksual tidak lagi ditoleransi dan seluruh sivitas akademika berkomitmen untuk menciptakan lingkungan yang aman dan saling menghormati dan bebas dari kekerasan seksual.Implementasi Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di perguruan tinggi merupakan langkah penting, namun masih banyak tantangan yang harus dihadapi. Salah satunya adalah membangun kesadaran dan pemahaman yang menyeluruh di kalangan sivitas akademika tentang pentingnya isu ini. Diperlukan program edukasi berkelanjutan yang tidak hanya berfokus pada pencegahan, tetapi juga pada pembentukan budaya yang menghargai consent dan kesetaraan gender. Selain itu, penguatan sistem pelaporan yang aman dan terpercaya juga menjadi kunci. Banyak korban kekerasan seksual enggan melaporkan kasusnya karena takut akan stigma atau pembalasan. Oleh karena itu, perguruan tinggi perlu memastikan adanya mekanisme pelaporan yang menjamin kerahasiaan dan keamanan pelapor. Evaluasi berkala terhadap efektivitas Satgas juga penting untuk memastikan bahwa upaya yang dilakukan tetap relevan dan responsif terhadap kebutuhan komunitas kampus. Kolaborasi dengan ahli di bidang kekerasan berbasis gender dan trauma dapat memperkuat kapasitas Satgas dalam menangani kasus-kasus kompleks.
# EDUKASI
# Opini

From Zoom to WhatsApp : Refleksi Pengalaman Mengajar Classroom Instructional Practice

Vebrianti Umar M.Pd
7 Desember 2025
Kamis, 4 Desember 2025 tepatnya pukul 13.30 WITA, saya memulai perkuliahan Classroom Instructional Practice secara daring dengan penuh semangat. Materi sudah siap, koneksi internet stabil, dan mahasiswa mulai memasuki ruang Zoom satu per satu. Saya selalu menikmati mata kuliah ini karena interaksinya yang dinamis meskipun hanya melalui layar  : mahasiswa aktif bertanya dan berbagi pendapat. Pada sesi opening, semua berjalan dengan lancar. Mahasiswa tampak antusias, mereka bahkan sudah menyalakan kamera lebih cepat dari biasanya. Setelah sesi pembuka, saya mulai menjelaskan materi. Namun, di tengah penjelasan, tiba-tiba ruang zoom tertutup dan Layar depannya menampilkan peringatan: “Gagal mendeteksi mikrofon dan speaker Anda. Pastikan perangkat Anda terhubung dengan benar”. Bersamaan dengan itu,  mahasiswa juga mengirim pesan lewat whatsapp , “Bu, kami terlempar dari zoom dan tidak bisa masuk lagi”. Saya mencoba tetap tenang dan memeriksa kembali perangkat, berharap gangguan itu hanya sementara. Namun laptop saya mengalami freeze dalam beberapa detik. Saat itu kesal, panik, dan khawatir kelas tidak terselesaikan. Mahasiswa pasti menunggu instruksi, dan saya tidak ingin mereka menganggap perkuliahan berakhir begitu saja hanya karena kendala teknis.Akhirnya, saya mengambil keputusan cepat: membuka WhatsApp dan mengirimkan pesan di grup “Jangan bubar dulu ya, kita lanjut lewat video call,”.  Dalam hitungan menit, kami terhubung melalui video call WhatsApp. Memang, Jauh lebih sederhana : tanpa share screen, tanpa slide, tetapi setidaknya komunikasi kembali berjalan. Saya bisa mendengar suara mahasiswa satu per satu, meski kadang suara terdengar tidak bersamaan.Dalam konteks ini, saya menyadari satu hal, teknologi memang memudahkan, tetapi tidak selalu bisa diandalkan. Meski begitu, kehadiran alternatif sederhana seperti WhatsApp justru menyelamatkan perkuliahan siang itu. Dengan media seadanya, saya menyampaikan ringkasan materi, instruksi lanjutan, dan memastikan mahasiswa tetap mengikuti alur pembelajaran.Setelah kelas berakhir, saya menutup telepon dan menarik napas panjang, lega rasanya.  Pengalaman ini membuat saya tersenyum kecil, bukan karena menyenangkan, tetapi ini sebuah sinyal bagi saya bahwa menjadi dosen di era digital berarti harus siap menghadapi apa saja, termasuk koneksi yang tiba-tiba memilih untuk “istirahat sejenak”. Kejadian itu mengajarkan saya bahwa fleksibilitas dan kreativitas sering kali lebih penting daripada platform apa pun yang kita gunakan. Yang terpenting adalah bagaimana tetap menjaga keberlangsungan pembelajaran, walaupun prosesnya tidak selalu mulus.
# EDUKASI
# Opini

Guru Sejahtera, Pendidikan Berkualitas: Momentum Hari Guru untuk Membenahi Arah Bangsa

Arrazi
25 November 2025
Setiap tahun, tanggal 25 November menjadi pengingat bahwa guru bukan hanya profesi, tetapi fondasi bangsa. Namun, penghormatan tidak cukup berhenti pada ucapan terima kasih dan seremonial. Ada pertanyaan besar yang seharusnya kita renungkan bersama: Mengapa kualitas pendidikan Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara-negara lain, bahkan negara tetangga yang dahulu belajar kepada kita?Jawabannya tidak rumit. Berbagai penelitian internasional selama puluhan tahun menunjukkan bahwa kualitas pendidikan suatu negara sangat ditentukan oleh kesejahteraan gurunya. Guru yang sejahtera memiliki kapasitas, fokus, dan energi penuh untuk mengajar; guru yang tertekan oleh kebutuhan hidup tidak mungkin memberikan kualitas pembelajaran terbaik.Dulu Malaysia Belajar ke Indonesia, Hari Ini Kita Belajar ke SanaSejarah mencatat bahwa pada masa pascakemerdekaan, Malaysia mendatangkan guru-guru Indonesia untuk membangun sistem pendidikan mereka. Bahkan, pelajar Malaysia dikirim kuliah ke kampus-kampus Indonesia untuk menimba ilmu. Namun hari ini, kondisinya berbalik: banyak pendidik Indonesia justru belajar tentang tata kelola pendidikan ke Malaysia.Apa yang membuat mereka mampu melesat begitu jauh?Jawabannya kembali pada satu titik: kesejahteraan tenaga pendidik.Di Malaysia, gaji guru relatif tinggi, tunjangan memadai, serta jenjang karier dihargai. Kita dapat melihat bahwa hampir tidak ada guru di Malaysia yang berangkat mengajar menggunakan sepeda motor; mayoritas mampu membeli mobil karena penghasilan mereka mencukupi. Kondisi tersebut menciptakan martabat profesi dan menarik minat anak muda terbaik untuk menjadi pendidik.Penelitian dari UNESCO, OECD, dan World Bank menunjukkan pola yang sama:negara dengan penghasilan guru tinggi → kualitas pendidikan tinggi.Ini terjadi di Finlandia, Jepang, Korea Selatan, dan Swedia. Guru dihargai sebagai profesi strategis, bukan sekadar pelengkap sistem.Mengapa Anak Indonesia Lebih Memilih Jadi Dokter atau Insinyur?Sering para pengamat mempertanyakan mengapa anak-anak Indonesia cenderung memilih cita-cita menjadi dokter, insinyur, atau profesi lain yang dianggap “bergengsi”. Namun jarang yang menyentuh akar masalahnya.Anak-anak cenderung memilih profesi berdasarkan apa yang mereka lihat:profesi dengan pendapatan tinggi dianggap sukses.Ketika gaji guru jauh di bawah profesi lain, sangat wajar bila profesi ini jarang menjadi pilihan.Bayangkan jika kesejahteraan guru setara dengan dokter, maka persepsi publik akan berubah. Anak-anak pun akan dengan bangga dan yakin mengatakan, “Saya ingin menjadi guru.” Karena profesi tersebut bukan hanya mulia, tetapi juga layak secara ekonomi.Guru Tidak Seharusnya Sibuk Mencari Pekerjaan SampinganDalam banyak kasus di Indonesia, guru harus mencari pekerjaan tambahan—les privat, berdagang, ojek online, bahkan pekerjaan fisik lain—demi memenuhi kebutuhan keluarga. Kondisi ini jelas menguras energi, menurunkan kualitas mengajar, dan merusak konsentrasi pada tugas utama: mendidik generasi bangsa.Penelitian menunjukkan bahwa beban ekonomi yang berat berdampak langsung pada rendahnya efektivitas pedagogis guru. Guru yang tidak sejahtera cenderung mengalami stres, burnout, dan penurunan kualitas pengajaran.Artinya, meningkatkan pendapatan guru bukan sekadar kesejahteraan sosial, tetapi strategi pendidikan nasional.Ini investasi langsung kepada masa depan bangsa.Negara Harus Menempatkan Guru Sebagai Prioritas UtamaJika Indonesia ingin maju seperti negara-negara yang kita kagumi, maka langkah pertama bukan sekadar mengganti kurikulum atau menambah fasilitas sekolah. Langkah pertama adalah mensejahterakan guru.Kebijakan yang bisa dilakukan pemerintah:1. Menetapkan Standar Gaji Minimum Guru Nasional yang LayakSesuai rekomendasi UNESCO, gaji guru seharusnya setara dengan profesi profesional lainnya, bukan hanya penyambung hidup.2. Tunjangan Kinerja yang Berbasis Kualitas MengajarBukan sekadar administratif, tetapi berbasis pembelajaran nyata di kelas.3. Jaminan Sosial yang KuatBPJS, pensiun yang layak, serta perlindungan hukum bagi guru.4. Menjadikan Profesi Guru KompetitifSeleksi masuk pendidikan guru harus ketat, tetapi imbalannya tinggi, seperti di Finlandia dan Korea Selatan.5. Beban Administrasi DikurangiAgar guru dapat kembali menjadi pengajar, bukan penulis laporan.Hari Guru adalah Momentum: Guru Sejahtera, Indonesia MajuPada Hari Guru 25 November 2025 ini, mari kita hentikan narasi “guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa” jika “tanda jasa” itu berarti mereka harus hidup dalam keterbatasan. Di negara modern, pahlawan diberi penghargaan dan kesejahteraan, bukan pengorbanan tanpa batas.Sebelum kita berharap pendidikan kita menyaingi dunia, kita harus menjawab satu pertanyaan sederhana:Apakah kita sudah memuliakan guru sebagaimana seharusnya?Jika negara benar-benar ingin memajukan pendidikan, maka jawabannya hanya satu:Sejahterakan guru terlebih dahulu.Karena kualitas bangsa ditentukan oleh kualitas pendidiknya.Dan kesejahteraan adalah fondasi dari kualitas itu.
# EDUKASI
# Opini

Empat Pilar Kepemimpinan Pendidikan untuk Lembaga Inspiratif

Iwan Perdana
25 November 2025
Setiap pemimpin lembaga pendidikan dituntut mampu memberdayakan tenaga pendidik dan tenaga kependidikan yang dikelolanya dengan baik. Dia bertanggung jawab memastikan komponen sumber daya manusia dalam sistem pendidikan yang dipimpinnya berfungsi optimal demi tercapainya tujuan pendidikan.Agar lembaga pendidikan yang dikelolanya menjadi inspirasi bagi lembaga pendidikan lain dalam memberikan layanan terbaik bagi peserta didik, sedikitnya, ada empat pilar yang harus dipraktikkan para pemimpin pembaga pendidikan, yaitu:1.   Visi dan Misi lembaga Pendidikan yang kuatSelain sebagai kompas yang menuntun lembaga pendidikan agar tidak kehilangan arah, dan tetap fokus pada tujuan, Visi dan misi lembaga merupakan landasan utama dalam pengambilan keputusan dan pelaksanaan kegiatan di sekolah. Oleh karena itu, kemampuan menyelaraskan visi dan misi lembaga menjadi sesuatu yang krusial bagi pemimpin lembaga pendidikan.Pemimpin lembaga pendidikan harus memastikan penyusunan Misi sebagai komitmen lembaga mewujudkan visi sesuai dengan keunggulan yang dimilikinya sehingga tekad memberikan layanan pendidikan berkualitas kepada masyarakat pengguna tidak sebatas slogan kosong belaka.2.   Inovasi PembelajaranKemajuan teknologi menghadirkan pendekatan baru dalam pembelajaran: pembelajaran daring, dan penggunaan media interaktif seperti situs web, aplikasi, permainan edukasi. Pemanfaatan teknologi sebagai inovasi pembelajaran secara signifikan mengurangi kendala batasan jarak dan kendala geografis pelaksanaan pembelajaran di daerah-daerah yang sulit dijangkau.Komitmen pemimpin lembaga pendidikan mendukung para guru meningkatkan kualitas diri melalui workshop/ pelatihan seperti keterampilan mengajar, termasuk menguasai teknologi untuk menunjang pembelajaran akan memberikan mereka wawasan bagaimana menciptakan KBM yang lebih interaktif dan menyenangkan.3.   Bersinergi dengan para guruMelahirkan generasi berkualitas tidak semudah membalik telapak tangan. Prosesnya membutuhkan waktu yang tidak singkat. Apalagi jika profil lulusan yang diinginkan adalah lulusan berjiwa leadership, berintegritas, dan peduli terhadap kemanusiaan.Untuk mewujudkan hal tersebut, pemimpin lembaga pendidikan hendaknya bersinergi dengan para guru yang dipimpinnya untuk memprioritaskan terciptanya lingkungan sekolah yang mencetak siswa mampu berempati, kreatif, jujur, disiplin, bertanggung jawab, dan religius.4.   Berkolaborasi dengan dunia usaha dan komunitas Pemimpin lembaga pendidikan yang menargetkan lulusannya berdaya, berjiwa leadership, berintegritas, dan profesional harus menjalin kerja sama/ berkolaborasi dengan berbagai pihak, antara lain:(1)   Dunia Usaha dan IndustriPemimpin lembaga Pendidikan harus aktif menjalin kerja sama dengan dunia usaha/ industri. Ini penting sekali agar program magang bagi peserta didik terealisasi. Juga tidak kalah pentingnya menghadirkan praktisi sebagai narasumber untuk membuka cakrawala berpikir sebaiknya dilaksanakan secara terjadwal. (2)   Komunitas Tidak hanya dunia usaha/industry, pemimpin lembaga pendidikan harus mengambil inisiatif menjalin kerja sama dengan komunitas-komunitas yang ada di masyarakat. Kolaborasi ini akan menambah pengetahuan, pengalaman dan memperluas wawasan peserta didik sekaligus meningkatkan kemampuan mereka bersosialisasi. Dengan fondasi visi yang kuat, inovasi pembelajaran yang berkelanjutan, bersinergi dengan para guru, dan jejaring kolaborasi yang luas, pemimpin lembaga pendidikan akan mengantarkan lembaga yang dikelolanya tidak sekadar mengikuti arus, tetapi menjadi pembentuk arus peradaban masa depan.
# EDUKASI
# Opini

Literasi dan Numerasi pada Anak Usia Dini di Masa Sekarang

Rizki Nugerahani Ilise, M.Pd
19 November 2025
Pada masa ini, literasi dan numerasi adalah kemampuan dasar yang sangat penting untuk anak usia dini. Literasi merujuk pada kemampuan membaca dan menulis,sementara numerasi adalah kemampuan dalam memahami dan mengoperasikan angka serta konsep matematika dasar. Literasi dan numerasi tidak hanya merupakan kemampuan akademik, tetapi juga keterampilan hidup yang mendukung perkembangan kognitif dan sosial anak di masa depan.Pentingnya literasi dan numerasi pada usia dini menjadi semakin jelas dalam era digital ini,di mana keterampilan dasar ini menjadi fondasi untuk menghadapi berbagai tantangan di masa depan. Pentingnya Literasi pada Anak Usia Dini, yang berada dalam fase keemasannya, di mana mereka menyerap informasi dengan cepat. Literasi pada usia dini tidak hanya mencakup kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga keterampilan komunikasi seperti memahami keterampilan menyimak dan kemampuan berbicara. Keterampilan literasi ini sangat penting karena memungkinkan anak untuk memahami lingkungan sekitarnya dan membangun kemampuan berpikir kritis sejak dini. Dengan literasi, anak-anak dapat memahami cerita, instruksi, serta ekspresi emosi dan ide yang penting dalam berkomunikasi.Di masa sekarang, literasi pada anak usia dini juga berkaitan dengan literasi digital. Anak-anak diperkenalkan pada perangkat teknologi seperti tablet dan komputer yang bisa membantu mereka belajar melalui aplikasi edukatif. Meski demikian, penggunaan teknologi harus diawasi agar tidak mengganggu perkembangan sosial dan emosional anak.Selain literasi, numerasi juga sangat penting. Numerasi melibatkan kemampuan anak dalam mengenal angka, menghitung, dan memahami konsep dasar matematika seperti ukuran, bentuk, dan pola. Kemampuan numerasi dapat membantu anak dalam kegiatan sehari-hari seperti membagikan makanan, mengenali bentuk, dan menghitung benda.Pendidikan numerasi pada usia dini dapat dilakukan melalui kegiatan bermain. Misalnya, anak dapat diajak untuk menghitung mainan, menyusun balok, atau mengenali bentuk dan warna. Melalui cara ini, anak-anak belajar tanpa merasa terbebani dan lebih mudah memahami konsep-konsep matematika dasar yang akan menjadi landasan untuk belajar lebih lanjut di kemudian hari.Tantangan Literasi dan Numerasi pada Masa SekarangMeski penting, ada beberapa tantangan dalam pengembangan literasi dan numerasi pada anak usia dini. Salah satu tantangannya adalah kesenjangan akses pendidikan. Tidak semua anak memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses pendidikan yang memadai, terutama di daerah terpencil. Selain itu, dengan perkembangan teknologi yang pesat, banyak anak yang lebih fokus pada hiburan digital daripada kegiatan literasi dan numerasi yang konvensional.Orang tua dan guru memegang peran penting dalam mengembangkan literasi dan numerasi anak. Mereka dapat memperkenalkan literasi dan numerasi melalui kegiatan sederhana di rumah atau melalui pembelajaran kreatif di sekolah. Orang tua juga diharapkan untuk memberikan contoh dalam membaca dan menghitung, serta menggunakan teknologi dengan bijak.Literasi dan numerasi adalah kemampuan dasar yang harus dikembangkan sejak dini. Keterampilan ini tidak hanya penting untuk prestasi akademik, tetapi juga membantu anak dalam kehidupan sehari-hari dan perkembangan pribadi. Tantangan dalam pengembangan literasi dan numerasi pada masa sekarang, seperti akses pendidikan yang tidak merata dan penggunaan teknologi yang berlebihan, memerlukan peran aktif dari orang tua, guru, dan pemerintah. Dengan pendekatan yang tepat, literasi dan numerasi pada anak usia dini dapat diperkuat dan menjadi bekal untuk masa depan mereka.
# EDUKASI
# Opini

  Youtube

Surah Ar-Rahman | Aniq Muhai

  Informasi

Selamat Hari Guru Nasional
Arah Pendidikan Nasional & Transformasi Pendidikan Lokal di Daerah
Kupas Tuntas: Kurikulum, Inklusi, dan Seni di Sekolah Dasar
Momentum Kebangkitan Nasional Melalui Peningkatan Kualitas Pendidikan