Beranda > Edukasi > Opini

  Postingan Terbaru

Kegiatan Edukasi Perlindungan Perempuan dari Kekerasan terhadap Perempuan (Ktp) di Perguruan Tinggi

Nor Hayati, M.Pd
3 Juni 2026
Dinas Pemberdayaan  Perempuan dan Perlindungan anak (DPPPA) Kota Banjarmasin menyelenggarakan kegiatan "Edukasi Perlindungan Perempuan dari Kekerasan terhadap Perempuan (Ktp) di Perguruan Tinggi bertempat di Banjarmasin Command Center (BCC), Selasa 12 Mei 2026.Kegiatan dibuka secara resmi oleh Kepala DPPPA Kota Banjarmasin, Bapak  Dr. H. M. Ramadhan, S.E., M.E., Ak,. dan di ikuti oleh perwakilan mahasiswa serta civitas akademika dari berbagai perguruan tinggi dikota Banjarmasin. Kekerasan terhadap perempuan masih menjadi salah satu permasalahan sosial yang memerlukan perhatian serius, termasuk di lingkungan perguruan tinggi. Kampus sebagai pusat pendidikan, penelitian, dan pengembangan karakter seharusnya menjadi ruang yang aman, nyaman, dan bebas dari segala bentuk kekerasan. Namun, berbagai kasus kekerasan berbasis gender, pelecehan seksual, diskriminasi, dan bentuk kekerasan lainnya masih ditemukan di lingkungan pendidikan tinggi. Oleh karena itu, diperlukan upaya edukatif yang berkelanjutan untuk meningkatkan kesadaran sivitas akademika mengenai pentingnya perlindungan perempuan dan pencegahan kekerasan.Sebagai bentuk komitmen dalam menciptakan lingkungan kampus yang aman dan inklusif, perguruan tinggi di Banjarmasin menyelenggarakan kegiatan Edukasi Perlindungan Perempuan dari Kekerasan terhadap Perempuan (KtP). Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan mengenai bentuk-bentuk kekerasan terhadap perempuan, dampaknya, serta langkah-langkah preventif yang dapat dilakukan di lingkungan kampus.Melalui pertemuan ini diharapkan terjalin sinergi yang kuat antara Pemerintah Kota dan institusi pendidikan dalam menciptakan kampus yang aman, nyaman dan terlindungi bagi perempuan. Kegiatan Edukasi Perlindungan Perempuan dari Kekerasan terhadap Perempuan (KtP) di perguruan tinggi di Banjarmasin merupakan langkah penting dalam membangun lingkungan akademik melalui peningkatan kesadaran, pemahaman, dan partisipasi aktif seluruh sivitas akademika, upaya pencegahan kekerasan dapat dilakukan secara lebih efektif. Diharapkan kegiatan ini menjadi bagian dari gerakan berkelanjutan untuk mewujudkan kampus yang menghargai martabat manusia, menjunjung kesetaraan, dan memberikan perlindungan bagi seluruh warga kampus tanpa terkecuali.
# EDUKASI
# Opini

Tiga Nilai Dasar yang Wajib Dimiliki Sivitas Akademika STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin: Terima Kasih, Tenggang Rasa, dan Rasa Malu

Barendz Umar
2 Juni 2026
Salah satu rutinitas yang tidak boleh dilewatkan dosen dan tenaga kependidikan STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin adalah berkumpul di Laboratorium Microteaching sebelum pulang. Kegiatan sederhana ini bukan hanya menjadi ruang pertemuan informal, tetapi juga menjadi momentum untuk melakukan refleksi, memperkuat kebersamaan, serta mengevaluasi tanggung jawab setiap sivitas akademika dalam memajukan institusi.Dalam kesempatan tersebut, Bapak Iwan Perdana, Ph.D. senantiasa memberikan nasihat dan membimbing sivitas akademika STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin. Menurut beliau, menjadi dosen bukan hanya persoalan kepintaran akademik, kemampuan mengajar, atau penguasaan materi perkuliahan. Lebih dari itu, seorang dosen dan tenaga kependidikan harus memiliki kepedulian, kesadaran moral, serta kemauan untuk memberikan kontribusi terbaik bagi kampus. Tiga sikap yang harus dimiliki adalah rasa terima kasih, tenggang rasa, dan rasa malu.1. Terima KasihKemampuan berterima kasih mencerminkan kedewasaan dan kerendahan hati. Seorang akademisi yang mampu berterima kasih tidak akan menganggap kesempatan, kepercayaan, dan dukungan yang diperolehnya sebagai sesuatu yang biasa saja. Ia menyadari bahwa setiap pencapaian tidak pernah lahir dari usaha pribadi semata, tetapi juga melibatkan peran orang lain.Di lingkungan STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, rasa terima kasih dapat diwujudkan dengan menghargai pimpinan atas berbagai kesempatan dan kebijakan yang memperhatikan aspek kemanusiaan. Rasa terima kasih juga perlu ditunjukkan kepada rekan kerja yang telah membantu menyelesaikan pekerjaan, kepada mahasiswa yang memberikan kepercayaan kepada dosen untuk membimbing proses pembelajarannya, serta kepada seluruh pihak yang berkontribusi terhadap kemajuan kampus.Namun, rasa terima kasih tidak cukup hanya disampaikan melalui ucapan. Bentuk terima kasih yang paling nyata adalah bekerja dengan sungguh-sungguh, menjaga amanah, meningkatkan kualitas pelayanan, serta berupaya memberikan hasil terbaik sesuai dengan tugas dan tanggung jawab masing-masing.2. Tenggang RasaTenggang rasa merupakan kemampuan untuk memahami keadaan, kebutuhan, dan perasaan orang lain. Dalam lingkungan kerja, setiap individu memiliki tanggung jawab, tantangan, dan keterbatasan yang berbeda. Oleh karena itu, dosen dan tenaga kependidikan harus mampu membangun hubungan kerja yang saling menghargai.Implementasi tenggang rasa dapat dimulai dari hal-hal sederhana, seperti menjaga cara berkomunikasi, menghargai waktu orang lain dan membantu rekan kerja yang mengalami kesulitan. Tenggang rasa juga berarti mampu menyampaikan kritik dengan cara yang tepat dan menerima perbedaan pendapat secara dewasa.Kampus yang maju bukan hanya dibangun oleh individu-individu yang cerdas, tetapi juga oleh orang-orang yang mampu bekerja sama secara harmonis. Kepintaran tanpa tenggang rasa berpotensi melahirkan konflik. Sebaliknya, tenggang rasa yang disertai tanggung jawab akan menciptakan lingkungan kerja yang sehat, produktif, dan saling menguatkan.3. Rasa MaluRasa malu bukanlah sikap minder atau takut menyampaikan pendapat. Rasa malu yang dimaksud adalah kesadaran moral yang menjaga seseorang agar tidak mengabaikan tanggung jawabnya. Rasa malu menjadi pengingat internal agar setiap dosen dan tenaga kependidikan bekerja dengan benar, jujur, dan profesional, meskipun tidak selalu diawasi.Malulah apabila tidak bekerja dengan sungguh-sungguh. Malulah apabila mengabaikan tanggung jawab. Malulah apabila datang terlambat tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Malulah apabila tidak memberikan pelayanan yang baik. Malulah apabila tidak menjadi teladan bagi mahasiswa. Malulah apabila tidak berusaha meningkatkan kompetensi. Malulah apabila hanya menuntut hak, tetapi melupakan kewajiban.Seorang dosen memiliki tanggung jawab yang besar karena perilakunya tidak hanya memengaruhi lingkungan kerja, tetapi juga menjadi contoh bagi mahasiswa. Kontribusi terbaik yang diberikan kepada kampus secara tidak langsung akan berdampak pada peningkatan kualitas pendidikan, kemajuan masyarakat, dan kemajuan bangsa. Pada akhirnya, keberhasilan institusi juga akan membawa kebermanfaatan bagi setiap individu di dalamnya.Untuk menjadi bagian dari STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, dosen dan tenaga kependidikan tidak cukup hanya memiliki kemampuan akademik dan administratif. Setiap individu juga perlu menjadikan rasa terima kasih, tenggang rasa, dan rasa malu sebagai standar sikap dalam bekerja. Ketiga nilai tersebut harus terus dipahami, dijaga, dan diimplementasikan secara konsisten dalam aktivitas sehari-hari. Budaya kerja yang baik tidak terbentuk hanya melalui aturan tertulis, tetapi lahir dari kebiasaan yang dilakukan secara sadar dan berulang-ulang.Terima kasih setinggi-tingginya kepada Bapak Iwan Perdana, Ph.D. yang tidak pernah lelah membimbing sivitas akademika STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin untuk membangun cara berpikir yang benar, sikap kerja yang bertanggung jawab, serta kepedulian terhadap kemajuan institusi. Jayalah STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin.
# EDUKASI
# Opini

Belajar Manajemen Pendidikan dari Striker Veteran Berkah FC

Iwan Perdana
2 Juni 2026
Melihat Kasliannor yang akrab dipanggil Pak Midun, Pemain veteran Berkah FC, saya langsung teringat Roger Milla—kampiun Tim Kamerun yang sukses merebut bola dari Kiper ikonik Kolombia, Rene Higuita. Keberhasilan The Old Lion memanfaatkan Blunder El Loco mengantarkan Tim Kamerun lolos ke babak perempat final (8 besar) Piala Dunia 1990, dan menyebabkan Tim berjuluk Los Cafeteros pulang lebih cepat dari piala dunia 1990 di Italia.Kasliannor & Rudi, Kapten Berkah FCBermain di posisi striker, aksi Kaslian di lapangan masih membuat kerepotan barisan pertahanan lawan. “Bomber berpengalaman ini sudah mencetak 106 gol selama karirnya membela Berkah FC,’ jelas Rudi, Kapten Berkah FC. Kasliannor, Striker Berkah FCKasliannor masih menjadi andalan Berkah FC di lini depan. Meski tak lagi muda, akurasi umpannya terjaga (Maintained Passing Accuracy). Kontrol Bolanya pun masih Ciamik (Ball Control). Walau kehilangan kecepatan menggiring bola (Losing a Yard of Pace), tapi tidak mudah merebut bola di kakinya. Ini saya lihat kemarin, senin (1/6/2026), pada sesi latihan Berkah FC di Lapangan Kayutangi Ujung. Usaha keras Alwad—pemain bertahan, menghalangi Beliau melepaskan tembakan langsung ke gawang. Meski bola masih bisa ditangkap Haris, kiper andalan Berkah FC, ini adalah bukti naluri mencetak golnya belum hilang.Kapten Rudi & Tim Berkah FCTak hanya diandalkan di dalam lapangan, di luar lapangan pun karisma Pak Midun belum memudar. Mendampingi Kapten Rudi sebagai asisten manajer, Ia seringkali menjadi partner diskusi sang komandan klub menyusun pemain yang akan diturunkan untuk mengikuti kompetisi resmi tim. Kesediaannya menyiapkan fasilitas “Alphard” untuk transportasi tim adalah bukti kecintaan dan dedikasi yang luar biasa besarnya kepada tim yang bermarkas di Café Midun ini. Kasliannor & Tim Berkah FCSatu lagi hal yang membuat saya mengagumi Beliau adalah kepeduliannya bersama Kapten Rudi dalam memberi kesempatan pemain muda untuk berlatih / bermain sepak bola di Berkah FC. “Capt, bagi pemain muda jadi dua kelompok agar mereka bisa berlatih,’ ucapnya. Ide kaderisasi dan mendukung kemajuan pemain yunior (Youth Development) luar biasa. Jika banyak  pemain senior yang berpikiran seperti mereka, saya yakin akan maju sepak bola banua. Dan saya melihat, sejauh ini, Berkah FC berhasil memadukan pemain senior dan Yunior di dalam timnya. Maju terus Berkah FC.Kasliannor (Pak Midun) mencerminkan prinsip manajemen pendidikan/ kepemimpinan pendidikan yang efektif. Sebagai asisten manajer sekaligus pemain veteran, Ia menjalankan fungsi perencanaan (menyusun pemain bersama kapten), pengorganisasian (membagi kelompok latihan), dan pendampingan (menyiapkan fasilitas tim). Ini paralel dengan kepala sekolah atau pimpinan lembaga pendidikan yang merancang program, mengatur rombongan belajar, serta memfasilitasi sarana prasarana.Dan yang paling penting adalah kaderisasi kepemimpinan melalui pemberian kesempatan kepada pemain muda. Dalam manajemen pendidikan, keberhasilan sebuah lembaga diukur tidak hanya raihan prestasi dari guru dan siswanya, tetapi juga kemampuan mencetak kader pemimpin baru. Kolaborasi senior–junior di Berkah FC mencerminkan iklim demokratis dan partisipatif, setiap pemain merasa dihargai dan diberi ruang untuk berkembang—persis seperti komunitas lembaga pendidikan yang sehat.  
# EDUKASI
# Opini

Etos Kerja, Senjata Andalan, dan Keseimbangan dalam Kepemimpinan Pendidikan

Iwan Perdana
1 Juni 2026
10 hari yang lalu, saya berbincang dengan Mat Sunda. Pemain berposisi Wing Bek kanan yang hangat dan cepat akrab dengan siapa saja. Menurut pengakuannya, Ia menggemari sepak bola sejak kecil. Hobi itu berlanjut hingga usianya yang kini “matang” bermain sepak bola.  Untuk pemain seusianya, Mat Sunda tergolong pemain luar biasa karena posisi yang dimainkannya menuntut tugas yang sangat berat. Wing bek kanan “memaksa” pemain memiliki stamina prima: Ia harus rajin membantu serangan (overlap) serta cepat kembali bertahan saat kehilangan bola. Ditanya tentang siapa pemain idolanya di kancah sepak bola internasional, tanpa ragu Mat Sunda menyebut Cristiano Ronaldo. Alasannya, pemain Portugal yang baru saja merayakan juara liga Arab Bersama Al Nassr tersebut memiliki etos kerja yang tinggi.“Semua gol yang diciptakan CR7 sangat indah. Di usianya yang sudah memasuki 41 tahun, Ia tetap menjadi penyerang hebat, andalan negaranya dan klub yang dibelanya”, Ungkapnya pada Jumat (22/5/2026). Sedangkan pemain dalam negeri yang dikaguminya adalah Bambang Pamungkas. “Saya suka tandukan Bepe,” ujarnya. Di Berkah FC, Mat Sunda merasakan silaturahmi yang kuat. “Teman-teman tidak gampang tersinggung diajak bercanda, tetapi serius saat Latihan. Berkah FC itu top Pak Iwan.” Ungkapnya. Ia pun merasakan keseimbangan,karena selain canda tawa, dan membahas sepak bola di grup WhatsApp, Setiap pagi H. Juman dan Al Ayubi, memposting nasihat dan kutipan hadits. Berkah FCDikaitkan dengan Manajemen Pendidikan, saya membuat beberapa analogi, yaitu: 1. Etos kerja Di usia 41 tahun, etos kerja Cristiano Ronaldo masih sangat tinggi. Ikon sepak bola ini mengajarkan bahwa dalam kepemimpinan pendidikan, usia tidak menjadi alasan yang menghalangi produktivitas yang berkualitas. "Gol-gol indah" CR7 melambangkan hasil kerja yang estetis dan bermakna yakni pemimpin pendidikan harus menetapkan kebijakan yang berdampak positif bagi peserta didik dan guru.2. Senjata Andalan Meskipun postur tubuhnya tidak terlalu tinggi, Bambang Pamungkas terkenal dengan gol sundulannya. Bisa disebut, gol melalui kepala adalah senjata andalan Bepe. Seorang pemimpin lembaga pendidikan idealnya memiliki "senjata andalan" khas, baik berupa keahlian khusus maupun pendekatan unik yang membedakannya dari pemimpin lain.3. Keseimbangan      Keakraban yang terjalin terasa sangat seimbang. Relasi  tidak hanya diisi dengan bercanda dan membahas bola, tetapi juga diwarnai dengan nasihat serta kutipan hadis setiap pagi yang dibagikan oleh H. Juman dan Al Ayubi." Manajemen pendidikan yang sehat menggabungkan keakraban (relasi sosial), profesionalisme, dan nilai spiritual (karakter). Tanpa keseimbangan, lembaga pendidikan akan kehilangan arah. Ungkapan Mat Sunda tentang Ronaldo, Bepe, dan Berkah FC mengajarkan bahwa pemimpin pendidikan yang hebat adalah sosok yang tetap bekerja keras di usia matang, memiliki keahlian khas, serta mampu menciptakan keseimbangan antara canda, kesungguhan, dan nilai-nilai spiritual.
# EDUKASI
# Opini

Belajar Manajemen Pendidikan dari Berkah FC dan Kafe Midun

Edubanua.com
31 Mei 2026
Warung Pak Kaslian menjadi sekolah nonformal kepemimpinan, sportivitas, dan solidaritas," ujar Iwan Perdana, Ph.D pada Sabtu (30/5/2026). Menurut akademisi manajemen pendidikan pendiri Lanting Literasi Indonesia.or.id tersebut, karakter Tim Berkah FC ternyata tidak hanya dibentuk melalui latihan rutin di Lapangan Kayutangi Ujung, tetapi juga melalui dialog-dialog jujur di atas meja-kursi kayu warung Pak Mak Midun.Lebih familiar dengan sebutan Kafe Midun, warung yang didirikan Pak Kaslian— akrab dipanggil Pak Midun, atau Bapa Madona, berlokasi di Belitung Darat. Warung makan ini terbuka untuk umum. Para pemain Berkah FC yang dulunya bernama Pelangi FC sering berkumpul di sini. Bahkan hampir tiap hari.Kiri ke Kanan: Taher, Rudi, Ody, Rusdi, Anonim, Tagan, H. Juman, Kadir, KaslianMelalui pesan WhatsApp, edubanua.com mewawancarai beberapa pemain yang sering nongkrong di kafe Bapak Madona. "Asyik aja kalau lagi ngumpul bahas bola," ujar Kadir— gelandang bertahan. “Saya senang berkumpul di warung Pak Midun, silaturahmi biar tambah tambah akrab," ungkap Yuspi—bek bertahan yang merasakan hangatnya kekeluargaan di sana. Senada dengan itu, Bahrudin merasa kenyamanan adalah kunci utama. "Rame aja berkumpul di Kafe Pak Midun sambil bakisahan bola," jawabnya. Suasana ini diamini oleh Taufik—gelandang serang Berkah FC. "Di sana suasananya enak seperti di rumah sendiri dan banyak teman-teman mengerti tentang permasalahan bola," ujarnya.Iwan Perdana, Ph.D, akademisi alumnus UPSI Malaysia melihat irisan sosiologi dan olahraga yang kuat di Berkah FC. Menurutnya, Kafe Pak Midun bukan sekadar tempat nongkrong. Warung ini menjadi laboratorium sosial tempat karakter tim dibentuk, juga dapat dijadikan analogi menarik untuk manajemen pendidikan. Beliau juga melihat peran tiga tokoh kunci klub yang sering melakukan laga away ini —Rudiansyah (kapten Tim sekaligus manajer tim), H. Juman (pembina), dan Kaslian (senior sekaligus asisten manajer)—menjadi penentu. Ketiganya membangun ekosistem kepemimpinan yang menjamin kelancaran operasional tim.Kiri ke kanan: Dahri, Iyus, Kadir, Kaslian, IssayRudi, sebagai kapten dan manajer tim, adalah komandan operasional. Sebagai Ketua klub, Ia merupakan magnet berkumpulnya para pemain Berkah FC.  Iwan Perdana menceritakan pengalamannya ikut nimbrung di Kafe. “Kapten Rudi aktif berinisiatif mencairkan suasana dengan bertanya kabar? Kemudian mengulas permainan yang rutin dilakukan setiap Senin dan Kamis, melibatkan rekan dalam memutuskan lawan sparring, atau ngobrol santai topik terkini seputar bola” ungkapnya. Dalam konsep kepemimpinan, menurut Iwan Perdana, Kapten Rudi adalah contoh nyata dari praktik Transformational Leadership dan Peer Leader yang mempraktikkan perhatian individual (individualized consideration), komunikasi terbuka, dan tanggung jawab kolektif.“H. Juman adalah penjaga moral tim,” ujar Iwan Perdana. Hal ini berdasarkan pengamatannya meski tidak selalu ikut latihan, tetapi sang pembina memberikan efek psikologis yang kuat. Di setiap pertemuan selalu “dituakan” untuk memimpin doa dan menyampaikan pesan-pesan positif. Dalam manajemen pendidikan, Beliau berfungsi sebagai supervisor dan moral compass yang memastikan warung tetap menjadi ruang belajar positif.Kaslian menjadikan kafenya tempat netral tanpa sekat. Pemain inti dan cadangan dilayani sama. Meja-kursi warungnya mencatat beragam aspirasi dan kritik. Sesekali Beliau memberikan minum gratis kepada pemain yang membantu membereskan warung. Iwan Perdana menyebutkan dalam manajemen pendidikan, Peran Kaslian adalah enabler dan learning resources manager yang menata lingkungan agar pembelajaran karakter berlangsung alami.Berkah FC_Laga AwayKapten Rudi menggerakkan tim, H. Juman mengawal nilai, dan Kaslian memfasilitasi. Ketiganya sukses mengubah “Kafe Midun” menjadi sekolah nonformal kepemimpinan, sportivitas, dan solidaritas para pemain Berkah FC. Dianalogikan di bidang pendidikan, Sekolah idealnya menjadi wadah berkumpul yang dikelola secara sadar, dengan peran yang jelas, sehingga melahirkan tim tangguh yang meningkatkan mutu pembelajaran.
# EDUKASI
# Opini

Asep Gonzales dan Filosofi "Saling Percaya" di Atas Rumput

Iwan Perdana
30 Mei 2026
Saya mengenal Asep Gonzales di lapangan Kayutangi Ujung. Pemain berpostur kokoh ini memiliki etos kerja tinggi. Saya pernah menyaksikan Ia berusaha mati-matian mengejar Ikhsan, pemain muda berbakat, yang sedang melakukan speed dribbling. Sang speedster itu melesat cepat, namun meskipun tertinggal jauh, Asep tidak menyerah.Penasaran tentang sepak terjangnya di lapangan hijau, saya menanyakan gaya permainan Asep Gonzales ke rekan-rekannya melalui pesan WhatsApp pada Selasa (12/5/2026).Asep Gonzales"Asep seperti Hulk. Dengan postur besar dan berotot, Ia membuat striker lawan ciut," ujar Kun Ivay. "Ia pemain yang tak kenal lelah," tegas Ahmad Sajali. "Meski Asep pemain serba bisa di posisi apa pun, namun Ia lebih sering menjadi bek bertahan yang sulit dilewati berkat postur tinggi dan besarnya," ungkap Rusdi.Saya memiliki pengalaman bermain bersama dengannya sebagai pemain bertahan. Saya di posisi bek kiri, dan Bang Asep di tengah (center-back). Ia sering “memberi” saya bola. "Bawa bolanya, Pak. Bawa dengan tenang," ujarnya. Di lain kesempatan, Ia meneriaki Kiper agar mengoper bola ke saya karena posisi saya paling dekat dengan sang penjaga gawang.Saya pernah menanyakan mengapa Ia mengoper bola kepada saya. "Gak takut direbut, Bang? Saya gak bisa mengolah bola?".  Asep menjawab ringan, "Kita harus saling percaya, Pak. Itulah sepak bola. Semua sama saja, tidak ada yang lebih hebat," jelasnya.Dikaitkan dengan manajemen pendidikan, Saya melihat ada tiga hal yang bisa dipetik dari gaya bermain Asep Gonzales di lapangan hijau.1.     Kepemimpinan melayani (Servant Leadership) Asep Gonzales memberi kepercayaan. Kalimat yang diucapkannya "kita harus saling percaya" adalah inti dari membangun budaya belajar yang aman di lembaga pendidikan.2.     Etos kerja Kengototannya mengejar Ikhsan walau tertinggal jauh adalah analogi sempurna dari growth mindset dan resilience dalam dunia akademik.3.     Fleksibilitas peran Untuk survive, setiap orang idealnya serba bisa di posisi apa pun, namun untuk berkembang harus fokus pada satu posisi. Guru atau dosen harus menguasai banyak ilmu pengetahuan, tetapi juga harus memiliki  kompetensi khusus. Kepercayaan, kegigihan, dan fleksibilitas peran adalah hal yang dapat dikaitkan dengan manajemen pendidikan. Kepercayaan , didukung etos kerja, dan spesialisasi keahlian adalah kunci utama untuk mewujudkan keberhasilan proses belajar mengajar di sekolah.
# EDUKASI
# Opini

Cetak Biru Manajemen Pendidikan di Balik Kisah Qurban

Edubanua.com
28 Mei 2026
Opini kali ini menampilkan ulang tulisan Dr. Iwan Perdana di website https://www.lantingliterasiindonesia.or.id/ yang berjudul Cetak Biru Manajemen Pendidikan di Balik Kisah Qurban pada tanggal 28 Mei 2025.Dituliskan oleh Beliau bahwa dalam perspektif pendidikan, percakapan antara Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail menggambarkan keberhasilan manajemen pendidikan karena mampu mengubah instruksi/perintah (kurikulum) menjadi sebuah kesadaran sukarela warga sekolah untuk melaksanakannya.Diawali dengan kalimat yang menceritakan memorinya saat masih berstatus mahasiswa semester 3. Pada saat itu, salah satu grup Nasyid asal Malaysia yang terkenal, Raihan, meluncurkan lagu berjudul “Iman Mutiara". Lirik pada bagian reff (chorus) lagu tersebut berbunyi: “Iman tak dapat diwarisi dari seorang ayah yang bertakwa. Beliau kemudian menyebutkan Kan’an, yang menolak ajakan Nabi Nuh untuk bertauhid kepada Allah SWT (QS. Hud Ayat 42–43). Beliau juga menyebutkan kisah yang diabadikan dalam Al Qur’an tentang Ayah dan anak yang bertaqwa— kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS, yang kemudian menjadi asal mula pelaksanaan ibadah yaitu. Ditampilkan percakapan antara keduanya sangat menyentuh hati. Memotivasi siapapun yang membaca kisahnya untuk memperbanyak doa agar memiliki keturunan yang saleh/ah, sekaligus introspeksi seberapa baik dalam mendidik anak. “Maka ketika anak itu sampai pada (umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, ‘Wahai anakku!' Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!' Dia (Ismail) menjawab, 'Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku, termasuk orang yang sabar.'”(QS. Ash-Shaffat ayat 102). Dipaparkannya bahwa ayat tersebut mengandung banyak hikmah, antara lain ujian ketaatan, pentingnya komunikasi antara orang tua dan anak, dan kesabaran. Perintah Allah SWT  yang sangat berat untuk menguji ketundukan mutlak kepada Allah SWT.Disebutkan bahwa sebelum melaksanakan perintah, Nabi Ibrahim menyampaikannya terlebih dahulu kepada Nabi Ismail untuk meminta pendapatnya. Pendekatan ini menunjukkan pentingnya komunikasi dua arah antara orang tua dan anak. Persetujuan Nabi Ismail adalah bentuk bakti yang luar biasa kepada ayahnya sekaligus ketaatan kepada Allah SWT. Keikhlasan Nabi Ismail adalah bukti keberhasilan penanaman tauhid dari seorang ayah kepada anaknya sejak dini.Selanjutnya Beliau mengaitkannya dengan manajemen pendidikan, bahwa peristiwa yang menjadi asal mula ibadah Qurban tersebut memberikan banyak Pelajaran termasuk dapat menjadi cetak biru (blueprint) manajemen pendidikan karakter dan kepemimpinan yang sangat modern, antara lain: 1.   Pendidikan Berbasis Karakter2.   Participative Leadership3.   Manajemen Komunikasi  Pendidikan Berbasis KarakterIwan Perdana, Ph.D menyebutkan keikhlasan Nabi Ismail melaksanakan perintah Allah SWT adalah buah dari penanaman tauhid Nabi Ibrahim sejak dini. Menurutnya, dalam Manajemen pendidikan, karakter unggul tidak terbentuk dari sekadar pemahaman teori di kelas, tetapi juga dari praktik di lapangan melalui latihan dan proses yang panjang. Kolaborasi sekolah dan keluarga memainkan peran yang sangat penting dalam pembentukan karakter mulia pada diri anak. Participative Leadership, dan Komunikasi dua arahNabi Ibrahim tidak memerintahkan anaknya agar melaksanakan perintah Allah SWT secara otoriter. Bapak para Nabi tersebut mengajarkan urgensi menghargai martabat anak sebagai fondasi utama dalam pendidikan karakter. Komunikasi resiprokal—transparan tentang tujuan, terbuka pada dialog, dan penuh penghormatan—terlihat dari percakapan keduanya.Iwan Perdana menyatakan dalam manajemen pendidikan, Gaya kepemimpinan yang melibatkan bawahan dalam pengambilan keputusan terkadang sangat diperlukan (Participative Leadership). Selain itu, seorang pemimpin harus mampu mengomunikasikan visi besarnya kepada orang-orang yang dipimpinnya, serta mempraktikkan komunikasi dua arah dalam rangka membangun kesadaran kolektif. Pemimpin lembaga pendidikan harus meneladani gaya komunikasi Nabi Ibrahim (Role Model), yakni menjelaskan visi besar, meminta pendapat, dan melibatkan warga sekolah dalam proses pendidikan. Semoga Idul Adha 1447 semakin menebalkan rasa keimanan kita kepada Allah SWT, dan menjadi pedoman kita dalam beraktivitas di dunia pendidikan.
# EDUKASI
# Opini

Transformasional Leadership di Lapangan Hijau: Praktik Kepemimpinan Rudiansyah, Kapten Berkah FC

Iwan Perdana
21 Mei 2026
Saya mengenal Rudiansyah, salah satu legenda Berkah FC, sekitar November 2023. Kami pernah berbincang di pinggir lapangan tentang sepak bola. Disampaikannya dalam obrolan santai itu, bahwa tujuan utama bermain sepak bola di usia 40 ke atas sekadar menjaga silaturrahmi dan menjaga kesehatan. sedangkan meraih prestasi juara  di kompetisi lokal hanyalah bonusnya.  Rudi, Kapten Berkah FCPak Rudiansyah, yang lebih dikenal dengan panggilan Rudi merupakan sosok pemain dengan mobilitas tinggi dan pekerja keras. Sebagai gelandang tengah, Rudi beroperasi di area pusat lapangan sebagai penghubung lini pertahanan dan penyerang. Tugasnya mengatur tempo permainan, mendistribusikan bola, dan mematahkan serangan lawan. Aksi kapten Berkah FC ini di lapangan menuai banyak pujian dari rekan setimnya. Beberapa pemain senior Berkah FC yang saya ajak ngobrol melalui pesan WhatsApp pada Senin, 18 Mei 2026, menegaskan kelebihannya.“Pak Rudi orangnya ramah, mainnya juga bagus. Gerakannya lincah dan pandai mengatur irama permainan,” puji Rusdi, kiper utama Berkah FC. Bahrudin — wasit yang lebih familiar dengan panggilan Katank — juga menceritakan bahwa ia mengenal Rudi sejak masih berusia belia. Menurutnya gaya permainan gaya permainan Rudi mirip gelandang AC Milan: Gennaro Gattuso, dan Fahmi Amiruddin, legenda Barito Putra ”. Dua pemain yang tidak kenal takut. “Sewaktu masih kanakan, ulun rancak melihat sidin main sepak bola di lapangan Pasar Banjar Raya. Orangnya baik ke semua orang. Pergerakan beliau sangat lincah, cepat berpindah dari satu tempat ke tempat lain,” ujarnya. Berkah FCRudi memiliki karakter kepemimpinan baik di dalam maupun di luar lapangan. Itu tampak dari sikap dan pemikirannya yang selalu mengedepankan soliditas tim. Kepiawaian Rudi mengelola klub diakui sangat baik oleh rekan-rekannya. Respon Kawan-kawan menyiratkan ia seorang yang tegas, terukur dan penuh perhatian. Di jadwal latihan rutin: Setiap hari senin dan kamis di lapangan kayu tangi ujung, di pertandingan persahabatan, atau pada saat tim mengikuti kompetisi, Ia selalu berpesan kepada rekan-rekan layaknya seorang ayah kepada anak; seperti seorang kakak berpesan kepada adiknya, agar selalu berhati-hati.  “Capt Rudi selalu memberikan suport kepada pemain Berkah FC, dan mengingatkan tim untuk selalu menjaga kekompakkan. Salutnya lagi, Pak Rudi ini tidak bosan mengingatkan seluruh pemain agar berhati-hati, jangan sampai cidera,” ungkap Joko Supriyanto, striker Berkah FC.Menurut Kadir — gelandang bertahan — cara Rudi mengatur dan mengurus Berkah FC pun sangat baik. “Kemampuan manajerial atau kepemimpinan Pak Rudi sangat baik”, tegas guru Sejarah SMAN 1 tersebut. Ia memaparkan kelebihan sang kapten yang dipercaya memimpin dan mengelola tim. “Selain berkarakter gemar men-support rekan untuk maju, Beliau cerdas  merangkul puluhan pemain pemain junior berusia di atas 45 tahun,” katanya.Rudiansyah, Kapten Berkah FCPernyataan guru muda itu diamini oleh Bang Iyus. “ Pak Iwan, Kapten Rudi adalah berkah luar biasa bagi Tim Berkah FC. Di bawah kepemimpinan Beliau, klub berjalan baik dan lancar. Semoga silaturrahami kita terus terjaga,” ungkapnya.  Pujian serupa dinyatakan Muhammad Rahim alias Yuli Berkah. “Tidak mudah menjadi ketua, tapi Pak Rudi melakukan yang terbaik. Saya sangat salut dengan Beliau. Semoga Pak selalu sehat, aamiin,” ujarnya.Saya mencoba menganalogikan Rudi, Kapten Berkah FC, dengan teori kepemimpinan transformasional menurut Bass (1985) yang menyebutkan 4 ciri, yaitu: (1) Idealized Influence, (2) Inspirational Motivation, (3) Intellectual Stimulation, dan (4) Individualized Consideration. Teori kepemimpinan transformasional Bernard Bass (1985) yang ingin diimplementasikan di lembaga pendidikan terasa hidup di lapangan sepak bola, dipraktikkan oleh Rudi Berkah FC. Ia menginspirasi dan merangkul tanpa membeda-bedakan anggota grup. Beranikah kita meniru?
# EDUKASI
# Opini

Yang Penting Fun, Juara Bukan Target: Belajar dari Filosofi Coach Mady

Iwan Perdana
18 Mei 2026
Seperti kebanyakan anak laki-laki, saya juga menggandrungi sepak bola. Saya lupa bagaimana proses awal jatuh cinta pada olah raga ini, mungkin karena sepak boleh cukup bermodalkan bola plastik dan tanah lapang. Di tambah lagi, pada saat saya masih berusia 10 tahun-an, saban sore bersama Abah (alm) nonton Piala dunia 1986 di rumah tetangga.Di masa kecil dulu, saya belum mengetahui SSB: Sekolah Sepak Bola. Mungkin saja pada waktu itu sudah ada. Andai saat itu saya tahu, kemungkinan besar saya tertarik ikut berlatih 😊. Kini SSB / akademi sepak bola sudah  menjamur di Banjarmasin. Anak-anak yang memiliki hobi bermain sepak bola, dan didukung orang tuanya bergabung dengan beragam tujuan. Baik untuk tujuan meraih prestasi, ataupun sekadar olahraga. Ada juga orang tua yang mengikutsertakan anaknya latihan sekadar meminimalisir buah hatinya habiskan waktu di depan gadget.Seperti tulisan sebelumnya, saya mencoba menganalogikan sepak bola dengan manajemen pendidikan. Fokus tulisan pendek saya kali ini adalah Achmady, pemain bertahan Berkah FC, yang lebih familiar dengan nama panggilan Coach Mady.Dalam tim, Coach Mady memainkan posisi gelandang bertahan. “Om Mady punya fisik yang kuat, Selain apik bermain bola, Beliau jago menyemangati tim”, kata Bahrudin mengungkapkan keunggulan Coach Mady. Kelebihan lainnya ujar Wasit  Humoris ini adalah lemparan bola ke dalam Coach Madi yang sangat jauh menjadi senjata tambahan yang merepotkan lawan.Achmady_ Gelandang Bertahan Berkah FCSelain menjadi salah satu pilar tim yang dipimpin Kapten Rudi dengan Pembina H. Juman, Coach Mady juga seorang pelatih sepak bola. Rekan satu tim di Berkah FC, Alwad — gelandang menyerang — memberikan apresiasi terhadap kemampuan taktiknya. "Kalau aku menilai Coach Mady memang ahli strategi, pintar ngatur," ujarnya.Demikian pula Ody — gelandang bertahan andalan Berkah FC—memberikan testimoni komprehensif tentang Coach Madi sebagai pelatih. "Beliau konsisten dalam melatih. Tegas dan penuh kelembutan terhadap anak didik. Jenius secara taktik, disiplin namun fleksibel. Ahli dalam memotivasi pemain," ujar Ody.Coach Mady & Coach IkhsanBaru-baru ini, Coach Mady berkolaborasi dengan Coach Ikhsan, speedster muda berbakat  Berkah FC, sukses membina Akademi Sepak Bola Utama Raya meraih juara 2 Piala Presiden. Prestasi tersebut menghantarkan tim yang mereka latih mewakili Banjarmasin ke tingkat kota, melawan Barabai, Balangan, dan lainnya.Kiri ke kanan: Ikhsan, Taufik, Iwan, Kaslian, Rusdi, Mat EloyApa rahasia di balik keberhasilan tim U-12 Akademi Utama Raya meraih Juara 2 Piala Presiden? Bukan tekanan. Bukan teriakan. Bukan target mati. Bersama Coach Ikhsan mengantarkan Utama Raya juara, Coach Madi justru berpegang pada tiga fondasi sederhana namun revolusioner untuk anak usia dini.Melalui wawancara via WhatsApp dengan Coach Mady, berikut tiga inti fondasi kepelatihannya. Pertama, tidak ada tantangan, bawa fun saja. "Tantangan tidak ada. Dibawa fun aja. Biarkan anak menikmati permainan bergembira tanpa tekanan," ujarnya. Kedua, anak bukan mesin pencipta piala. "Mereka bukan mesin pencipta piala. Tujuan utama: mencintai permainan, bukan sekadar mengejar trofi," tegas Coach Mady. Ketiga, kapten adalah tanggung jawab, bukan sekadar ban lengan. "Kapten bukan segaris kain di lengan, tapi tanggung jawab yang harus diemban. Saya memberikan tanggung jawab kepada kapten sepenuh hati dengan pertimbangan kompetensi pemain dan chemistry-nya dengan tim," pungkasnya.Selama ini saya membayangkan bahwa pelatih sepak bola yang hebat adalah yang keras, yang berteriak di pinggir lapangan, dan yang hanya puas jika timnya membawa pulang piala. Coach Mady membalik logika itu. Ia justru menekankan kegembiraan, mengingatkan bahwa anak-anak bukan mesin prestasi, dan mengajarkan bahwa ban kapten adalah simbol tanggung jawab, bukan gaya. Saya berpendapat tiga fondasi Coach Mady memiliki kesamaan dengan manajemen dan kepemimpinan pendidikan sebagai berikut:Pertama   :    "Bawa fun saja" memiliki kesamaan dengan konsep merdeka belajar. Kepala sekolah dan guru fokus menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan, bukan  menargetkan nilai agar anak tidak kehilangan kecintaan pada proses belajar itu sendiri.Kedua      :    "Anak bukan mesin pencipta piala". Pendidikan bukan sekadar perlombaan nilai dan akreditasi. Tujuan utama pendidikan adalah membentuk manusia yang berkarakter dan berpengetahuan, bukan sekadar mengejar sertifikat atau piala lomba.Ketiga      :    "Kapten adalah tanggung jawab, bukan ban lengan" Seorang kepala sekolah, ketua kelas, atau pengurus OSIS tidak boleh menjadikan jabatan sebagai simbol status semata. Amanat kepemimpinan harus diemban dengan penuh tanggung jawab, berdasarkan kompetensi dan kemampuan berkolaborasi dengan seluruh warga sekolah.Proses pelatihan di lapangan hijau serupa dengan pembelajaran di sekolah. Coach Mady mengajarkan hal sederhana namun sering dilupakan: pendidikan, seperti sepak bola, hanya akan bermakna jika anak-anak tetap tersenyum, merasa bertanggung jawab, dan mencintai prosesnya. Bukan karena tekanan. Bukan karena target mati. 
# EDUKASI
# Opini

Sihir Kaki Kiri 'Korrakot Sasalak' Asal Belitung: Pelajaran tentang Fleksibilitas, dan Ekosistem yang Memberdayakan

Iwan Perdana
1 Mei 2026
Semburat jingga mulai menyentuh rumput Lapangan Kayu Tangi sore itu, Kamis (30/4/ 2026). Duduk dibangku pemain pengganti, saya menyaksikan ritme permainan kedua tim yang bertanding mengalir begitu dinamis. Di antara keriuhan teriakan pemain pengganti dan penonton seperti saya, sosok Dahri mencuri perhatian. Menempati pos bek kiri, ia tak sekadar menjadi tembok pertahanan. Dahri adalah anomali; seorang pemain bertahan yang memiliki insting menyerang. Taher, striker andalan Berkah FC, menjuluki rekannya itu dengan sebutan 'Korrakot Sasalak'—merujuk pada gaya main bek sayap modern asal Thailand. "Bang Dahri sering melakukan operasi membantu penyerangan untuk melakukan counterattack. Ciri khasnya kaki kidal, umpan crossing-nya akurat ke area pertahanan lawan. Namun, ia juga bisa menusuk langsung untuk melakukan shooting keras yang berbuah gol," ujarnya.  Kelebihan utama Dahri  terletak pada kaki kirinya. Kapten Berkah FC, Rudi, mengamini hal tersebut. "Dahri adalah pemain bek kiri dengan andalan kaki kirinya yang sangat keras dalam melakukan shooting," ungkap Rudi. Transformasi Dahri di lapangan diakui oleh rekan setim lainnya. Taufik, gelandang serang, melihat kurva peningkatan yang signifikan dalam performa sang bek kiri. Seolah-olah, semakin bertambah usia, Dahri justru semakin menemukan sentuhan emasnya di lapangan. "Alhamdulillah, mulai meningkat permainan beliau selama main di Berkah FC," kata Taufik. Di klub ini, Dahri seakan menemukan ekosistem yang tepat untuk terus bertumbuh. Berkah FC sendiri memang dikenal sebagai wadah bagi para pemain bertalenta yang menjunjung tinggi kebersamaan. Menganalogikan Dahri dalam perspektif manajemen pendidikan sangat menarik dan menjadi tantangan tersendiri. Berikut adalah poin-poin yang dapat saya temukan:1.       Manajemen Sumber Daya Manusia (SDM) Berbasis Potensi, Bukan UsiaDahri membuktikan “usia hanyalah angka” dan justru meningkat seiring waktu. Manajemen SDM yang baik memetakan kompetensi, kematangan emosional, dan konsistensi kinerja. Bukan sekadar melihat usia. Guru senior justru bisa menjadi aset strategis jika diberikan kepercayaan dan ruang ekspresi yang tepat.2.       Struktur Peran yang Fleksibel (Role Flexibility)Dahri adalah bek kiri, tetapi memiliki insting menyerang (anomali positif). Manajemen pendidikan yang adaptif tidak mengkotakkan personel secara kaku, tetapi justru memanfaatkan keunikan individu untuk mencapai tujuan bersama secara lebih kreatif dan efektif.3.       Kepemimpinan Apresiatif dan Pemberian Julukan PositifTaher menjuluki Dahri sebagai ‘Korrakot Sasalak’ (bek sayap eksplosif). Kepala sekolah dapat menggunakan metafora, julukan positif, atau narasi inspiratif untuk membangun identitas profesional. Pengakuan sosial seperti ini meningkatkan motivasi intrinsik dan menciptakan budaya kerja yang menghargai keunikan individu.4.       Pengembangan Profesional Berbasis Lingkungan yang Mendukung Dahri meningkat performanya setelah bermain di Berkah FC yang menjunjung kebersamaan. Sekolah perlu dirancang sebagai learning ecosystem yang aman, kolaboratif, dan suportif. Tanpa ekosistem yang tepat, potensi individu tidak akan berkembang.5.       Pengakuan atas Kompetensi Spesifik (Spesialisasi)Kaki kiri Dahri adalah kekuatan utama: shooting keras, crossing akurat. Manajemen berbasis bakat (talent management) perlu mengidentifikasi dan memberdayakan kekuatan spesifik setiap tenaga pendidik. Di Berkah FC, kaki tidak hanya menendang —ia bercerita: menyerang, dan bertahan. Di bawah arahan H. Juman dan dipimpin Kapten Rudi, tim ini bukan sekadar klub. Ia adalah sekolah yang mengajarkan kebersamaan, kedisiplinan, dan pengelolaan yang memanusiakan. Yang muda berkembang, yang tua tak hanya sehat —tapi tetap berprestasi. Terbukti, Berkah FC sering meraih juara di banyak kompetisi. 
# EDUKASI
# Opini

Guru Bimbingan Konseling : Di Tangan Mereka, Gawang Sekolah Bertumpu

Iwan Perdana
13 Maret 2026
Yuliana Nurhayati, M.Pd — Wakil Ketua Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama STKIP Islam Sabilal MUhtadin Banjarmasin — menegaskan layanan Bimbingan dan konseling di sekolah sangat diperlukan. “Bimbingan dan konseling (BK) di sekolah sangat penting untuk mengoptimalkan perkembangan pribadi, sosial, belajar, dan karir siswa. Selain membantu menangani pelanggaran aturan dan masalah etika siswa, layanan BK juga meringankan tugas guru lain serta menjadi tempat konsultasi yang aman bagi siswa karena dijamin kerahasiaannya oleh kode etik profesi”, jelasnya (Jumat, 13/3/2026).Mengaminkan pernyataan tersebut, Tati Akhbariyyah, S.S., Gr., S.Pd., M.Pd. (Kandidat Doktor), Dosen pengampu mata kuliah Pengantar Bimbingan Konseling SD STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin  menyatakan bahwa peran guru BK tidak hanya membantu menyelesaikan masalah, tetapi juga sebagai pengembang potensi, bakat, dan perencana karir siswa.Pendapat 2 dosen kampus Visioner tersebut menginspirasi saya membuat tulisan singkat tentang besarnya peran Guru BK di sekolah dengan menganalogikannya dengan Peran Kiper dalam sebuah tim sepak bola. Saya teringat Bang Amat, Kiper Berkah FC dan Bersaudara FC. Suaranya lantang mengingatkan pergerakan rekan setim, sekaligus memperingatkan Kawan agar tak lengah mengawasi pemain lawan. Meski usia terus bertambah, di lapangan bola, Bang Amat tetap sosok yang saya kenal 40 tahun silam: energik, penuh semangat.Sepanjang ingatan saya, dulu Mat Eloy—panggilan akrab Bang Amat—kerap mengisi posisi gelandang bertahan, kadang turun sebagai bek, namun paling sering berdiri kokoh di bawah mistar sebagai kiper. Kini, di usianya yang tak lagi muda, ia masih setia memainkan peran serupa: menjaga, mengatur, dan menjadi denyut yang menghidupkan permainan.Melihat Kawan masa kecil ini, saya  teringat Jorge Campos, kiper ikonik Meksiko. Pemain bertinggi badan 168 cm yang gemar mengenakan jersey warna warni. Refleksnya cepat dan memiliki kemampuan bermain sebagai striker. Tugas kiper tidaklah mudah. Sebagai pemain terakhir yang berada di barisan belakang, dengan keistimewaan diizinkan menggunakan tangan dan kaki tugasnya memastikan tidak terjadi gol dengan cara menangkap atau menepis yang ditendang pemain lawan. Kiper juga berperan mengatur pertahanan, mendistribusikan bola, dan membangun serangan dari belakang.  Meskipun kemenangan tim merupakan buah kerja sama seluruh pemain, posisi kiper kerap menjelma sebagai pahlawan tak terlihat (unsung hero) yang perannya krusial bagi keberhasilan di lapangan. Di sekolah, saya melihat salah satu guru bidang studi yang memainkan peran ini adalah guru bimbingan konseling. Saya menganalogikan Kiper dalam sebuah tim sepak bola untuk fungsi Guru Bimbingan dan Konseling (BK) di sekolah dengan mencari persamaan strategis dan manajerial mereka sebagai berikut:1.        Pertahanan terakhirKiper adalah harapan terakhir tim mencegah bola masuk ke gawang ketika seluruh pemain belakang berhasil dilewati oleh "serangan" lawan. Guru BK menjadi benteng terakhir untuk "menyelamatkan" siswa yang tidak bisa diatasi guru mata Pelajaran/ wali kelas karena dianggap gagal secara akademik, emosional, atau sosial karena masalah pribadi yang dalam, konflik berat, atau krisis.2.        Analisis MasalahTidak hanya menangkap bola, seorang kiper juga mampu membaca permainan. Ia tahu kemana bola akan diarahkan, memahami pola serangan lawan, dan memberi instruksi ke para pemain bertahan untuk menutup celah. Guru BK dituntut jeli membaca situasi dan gejala masalah: mengamati perubahan perilaku siswa, memahami dinamika kelas, dan menganalisis akar masalah (apakah itu masalah keluarga, pertemanan, atau belajar). Dari "bacaan" tersebut, Guru BK memberikan saran strategis kepada guru dan orang tua tentang cara terbaik mendampingi siswa/i.3.        Transisi dan Tindak Lanjut Memulai SeranganSetelah menangkap bola, kiper tidak diam. Ia adalah inisiator pertama serangan melalui lemparan atau tendangan yang akurat memberikan bola agar bisa langsung menciptakan peluang bagi timnya untuk mencetak gol. Setelah "menangkap" masalah siswa, Guru BK memulai "serangan balik" positif: memberikan arahan, motivasi, dan rencana tindak lanjut. Mereka menghubungkan siswa dengan sumber daya yang dibutuhkan: bimbingan belajar, konseling lebih lanjut, atau kegiatan positif; agar siswa bisa kembali "menyerang" meraih prestasi dan masa depannya.4.        Memiliki Perspektif yang Lebih Luas Berada di belakang memberikan keuntungan bagi kiper melihat lapangan dari berbagai sudut pandang: kekompakan barisan belakang, lubang di lini tengah, dan posisi pemain lawan yang mengancam. Guru BK melihat gambaran besar dari perkembangan siswa: Interaksi siswa di semua mata Pelajaran, dengan semua guru, dan dengan teman-temannya. Perspektif holistik ini memungkinkan Guru BK memberikan bimbingan yang tidak parsial, tetapi menyeluruh untuk kepentingan jangka panjang siswa.5.        Ketenangan di Bawah Tekanan (Manajemen Krisis)Kiper dituntut untuk tetap tenang, fokus, dan tidak panik, terlebih lagi pada saat injury time dan tim lawan terus menekan. Guru BK sering berhadapan dengan situasi krisis: siswa bermasalah, konflik antar siswa, atau orang tua yang marah. Di sinilah fungsi mereka sebagai "kiper" diuji. Guru BK harus menjadi pribadi yang paling tenang, bisa meredam emosi, dan berpikir jernih untuk mencari solusi terbaik. 6.        Peralatan Khusus dan Area Kerja yang Berbeda (Profesionalisme)Kiper adalah satu-satunya pemain yang boleh menggunakan tangan dan memiliki seragam yang berbeda. Area kerjanya adalah kotak penalti. Ini menunjukkan spesialisasi. Guru BK memiliki keahlian khusus yang tidak dimiliki guru biasa: konseling, psikologi pendidikan. Mereka juga memiliki kode etik profesional yang membedakannya dari profesi guru lainnya, seperti halnya kiper yang punya aturan main berbeda di dalam kotak penalti. Ruang BK adalah area kerja Guru BK yang aman dan nyaman, berbeda dari ruang kelas pada umumnya. Dalam manajemen sekolah, Guru BK bukan sebagai "polisi sekolah" atau "tukang catat poin pelanggaran", melainkan sebagai kiper andalan. Mereka adalah spesialis pertahanan mental dan emosional siswa, yang membaca arah masalah, menjadi benteng terakhir, sekaligus memulai transisi siswa menuju kesuksesan. Tanpa kiper yang tangguh, tim sepak bola sekelas apapun bisa kebobolan. Tanpa Guru BK yang profesional, sekolah semaju apapun bisa kehilangan siswanya karena masalah yang tidak tertangani.
# EDUKASI
# Opini

Mengapa Waka Kesiswaan Harus Seperti Gelandang Bertahan?

Edubanua.com
1 Maret 2026
Mendominasi pertandingan tidak menjamin kemenangan. Saya pernah menyaksikan ini pada piala dunia tahun 1990. Kala itu, Brazil yang menguasai jalannya laga akhirnya takluk dari Argentina di babak 16 besar. Umpan Diego Maradona yang dikonversi dengan baik oleh Claudio Caniggia menjadi gol pada menit ke-80 memaksa Dunga dan kawan-kawan angkat koper lebih awal.Meski kekalahan Brasil pada saat itu bukan disebabkan kelengahan pemain bertahan, tetapi karena kejeniusan pemain berjuluk Hand of God, namun ingatan tentang duel antara Argentina dan Brasil di babak 16 besar Piala Dunia 1990, yang digelar di Stadion Delle Alpi, Turin, Italia itu menginspirasi saya membahas tentang posisi pemain bertahan.Di tim sepak bola, semua posisi memainkan peran penting. Tidak hanya striker dan playmaker, posisi gelandang bertahan juga sangat menentukan. Di Berkah FC, lini pertahanan dikawal ketat  3 pilar handal: Ody, Yuspi dan Dahri. Kiri ke ke kanan: Yuspi, Ody & Dahri.Ody dan Yuspi tipikal pemain gelandang bertahan sejati. kemampuan mereka membaca permainan (antisipasi), akurasi operan tinggi, dan ketenangan di bawah tekanan layak diacungi jempol. Sementara Dahri adalah tipe gelandang bertahan modern Istimewa. Berbekal stamina prima: bernafas kuda, ia rajin membantu serangan. Kecepatan dan keberaniannya berduel sangat merepotkan pemain lawan. Kolaborasi Ody, Yuspi, dan Dahri menjauhkan kiper: Haris atau Rusdi dari  ancaman striker lawan.Ody & IyusIwan Perdana, Ph.D.,alumnus Program doktoral Manajemen Pendidikan UPSI Malaysia, menganalogikan pemain gelandang bertahan dengan jabatan struktural pada lembaga pendidikan. Menurutnya, dalam perspektif manajemen pendidikan, jabatan dalam tata Kelola sekolah yang memiliki karakter serupa dengan gelandang bertahan adalah wakil kepala sekolah bidang kesiswaan.Capt Rudi & OdyTujuan utama pendidikan adalah mengembangkan seluruh potensi peserta didik secara utuh—mencakup intelektual, karakter, emosional, dan spiritual—untuk menjadi manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, cerdas, mandiri, dan bertanggung jawab.Wakil kepala sekolah bidang kesiswaan membantu kepala sekolah mewujudkan tujuan tersebut. Ia bertugas merencanakan, membina, dan mengawasi seluruh kegiatan siswa (non-akademik), menegakkan tata tertib, mengatur OSIS/ekstrakurikuler, serta mengelola 7K (Keamanan, Kebersihan, Ketertiban, Keindahan, Kekeluargaan, Kerindangan, Kesehatan) untuk menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif.Oleh karena itu, wakasek kesiswaan menjadi filter pertama yang melindungi proses pendidikan dari bahaya:  masalah disiplin siswa, konflik antar teman, pelanggaran tata tertib. Ia bertugas menjaga iklim sekolah tetap kondusif agar "gawang"- tujuan pendidikan- tidak kebobolan.Berkah FCTidak dapat dibayangkan sebuah sekolah tanpa Waka Kesiswaan yang tegas. Konsekuensinya sangat menakutkan. Para guru—yang berperan sebagai gelandang serang kreatif dipaksa turun menjadi gelandang bertahan dadakan—turun tangan mengurusi masalah-masalah: Siswa bolos, tawuran, dan suasana belajar tidak nyaman.  Ini menyebabkan mereka akan kehilangan fokus, kreativitas mengajar mati, dan prestasi siswa (gol) akhirnya tidak akan tercipta.   
# EDUKASI
# Opini

  Youtube

Surah Ar-Rahman | Aniq Muhai

  Informasi

Selamat Hari Guru Nasional
Arah Pendidikan Nasional & Transformasi Pendidikan Lokal di Daerah
Kupas Tuntas: Kurikulum, Inklusi, dan Seni di Sekolah Dasar
Momentum Kebangkitan Nasional Melalui Peningkatan Kualitas Pendidikan