Beranda > Edukasi > Opini

  Postingan Terbaru

7 Resep Jitu Yuliana Nurhayati, M.Pd Meredam Pasang Surut Motivasi Belajar

Edubanua.com
5 Februari 2026
Krisis semangat belajar sering menghantui, namun Yuliana Nurhayati, M.Pd, Wakil Ketua Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, menawarkan tujuh kiat praktis yang melampaui kurikulum formal demi menjaga api motivasi belajar tetap menyala.Pendidikan, dalam pandangan para ahli, memang laksana sungai yang tak pernah berhenti mengalir. Batasan maknanya terus berubah seiring berkembangnya temuan dan pola pikir baru. Namun, di tengah pusaran teori itu, ada satu masalah abadi yang kerap meredupkan cahaya generasi muda: pasang surut motivasi belajar.Bukan rahasia lagi, semangat menuntut ilmu seringkali naik turun, bahkan cenderung lebih banyak merosot. Kita semua tahu pendidikan penting, krusial untuk membentuk karakter, moral, dan etika, serta menumbuhkan pemikiran kritis. Tapi bagaimana menjaga 'bahan bakar' itu agar tidak habis di tengah jalan?Yuliana Nurhayati, M.Pd memiliki pandangan yang menyegarkan. Ia menolak definisi belajar yang kaku. Pembelajaran, katanya, jauh lebih luas dari dinding kelas dan tumpukan buku. “Pendidikan tidak selalu formal: berkutat dengan buku-buku atau e-book berisi materi pelajaran, berjumpa guru atau dosen,” ujarnya lugas. “Pembelajaran bisa saja diperoleh dari luar lembaga pendidikan formal, seperti bersinergi dengan alam, melihat lingkungan sekitar, dan memperhatikan kehidupan masyarakat. Tidak kalah pentingnya berinteraksi dengan sesama yang akan menjadikan kita menjadi bijak.”Filosofi belajar holistik ini menjadi landasan bagi tujuh resep praktis yang ia tawarkan. Resep pertama adalah fundamental: Ingat tujuan hidup dan tumbuhkan kesadaran manfaat belajar. Mengapa kita harus repot-repot membuka buku? Mengapa harus bersusah payah menguasai keterampilan baru? Jika alasan (the 'why') itu kuat, konsistensi belajar akan datang dengan sendirinya.Ia menekankan pentingnya adab dalam mencari ilmu. Hormati orang berilmu, ikuti jejak mereka. Sebab, ilmu itu sangat luas, takkan cukup waktu untuk mempelajari semua. Ini membawa kita pada kiat keempat: Prioritaskan belajar pada bidang yang hendak dikuasai atau sesuai pekerjaan. Selebihnya? Cukup untuk menambah wawasan.Yang paling menarik, Yuliana mendorong generasi muda untuk berhenti membandingkan diri. Fokuslah pada usaha meningkatkan kualitas diri sendiri. "Jangan minder melihat kehebatan orang lain," pesannya. Ketika kita fokus pada pertumbuhan internal, kita akan terhindar dari penyakit hati yang merusak motivasi.Prinsip ini beriringan dengan kiat keenam: Jangan pernah merendahkan orang lain. Setiap individu memiliki kelebihan dan kekurangan yang unik. Kesombongan dan rasa minder adalah dua sisi mata uang yang sama-sama mematikan semangat juang.Pada akhirnya, motivasi belajar harus bermuara pada aksi yang berdampak. Kiat penutupnya adalah belajar dari orang-orang hebat yang memiliki ketajaman berpikir dan banyak melakukan aksi positif ke masyarakat. Inilah kunci untuk mengubah ilmu menjadi kebijaksanaan, dan karakter menjadi aksi nyata. Pendidikan sejati, sesungguhnya, adalah proses menjadi bijak.  
# EDUKASI
# Opini

Dari Zona 14 ke Zona Kurikulum: Playmaker Tidak Hanya di Lapangan Hijau. Mereka Juga Ada di Sekolah

Iwan Perdana
2 Februari 2026
Kebanyakan laki-laki suka bermain sepak bola, saya salah satunya. Sejak kecil, saya sudah menggandrungi permainan yang sangat populer di seluruh dunia ini. Hampir saban hari saya bersentuhan dengan bola, baik di sekolah, tanah lapang di kampung, dan lapangan sepak bola kayu tangi di bawah arahan Pak Udi (Alm), dan Mas Yanto. Saya tak lagi bermain bola selepas tahun 2000. Memori indah yang tersimpan hingga kini adalah mencetak gol di final liga Fakultas Ekonomi ULM Banjarmasin yang menghantarkan tim Angkatan 95 meraih juara di kompetisi terakhirnya.Berkah FCApi semangat mengejar bola kembali menyala beberapa tahun silam setelah Bang Amat, sohib masa kecil, mengenalkan saya kepada Pak Rudiansyah, pimpinan Berkah FC. Walau sebenarnya fisik tak lagi prima, dengan niat menjalin silaturahmi dan berolah raga, saya ikut bermain di lapangan kayu tangi setiap senin dan kamis jika tidak ada kesibukan di kampus. Di tim yang sangat solid inilah saya berkawan dengan pemain-pemain hebat di lapangan, dan sangat ramah di luar lapangan. Apa yang saya paparkan dalam tulisan singkat ini mungkin tidak begitu tepat, namun semoga tetap menarik untuk ditelaah. Saya mencoba mengaitkan  sepak bola dengan manajemen pendidikan, tepatnya ilmu terapan (applied science) yang berada di bawah naungan ilmu pendidikan. Disiplin ilmu yang saya pelajari. Saya menganalogikan salah satu posisi di tim sepak bola, yaitu Playmaker (Attacking Midfielder) dengan salah satu struktur strategis di manajemen sekolah, yaitu  Koordinator Pengembangan Kurikulum & Inovasi Pembelajaran.Kiri ke kanan: Iyus, Budi, Kaslian, Iwan, RudiansyahDalam sebuah tim sepak bola, Playmaker bertindak sebagai otak serangan yang beroperasi di antara lini tengah dan depan. Seorang playmaker tak selalu mencetak gol, tetapi dialah otak di balik setiap peluang yang tercipta. Di Berkah FC, ada empat pemain berpengalaman yang memainkan posisi ini, yaitu Kapten Rudi, Taufik, Budi Riva, dan Izul. Mereka beroperasi di "Zona 14", area krusial di depan kotak penalti lawan. Dengan visi bermain yang kuat, ditopang  teknik, dan kemampuan dribbling yang sangat baik, keempat pemain andalan tersebut bertugas mengatur tempo, menciptakan peluang gol melalui umpan terobosan jitu, serta mendikte jalannya permainan. Di dunia pendidikan, di "lapangan" yang bernama sekolah, peran serupa playmaker dimainkan oleh seorang Koordinator Pengembangan Kurikulum dan Inovasi Pembelajaran. Umumnya jabatan ini dipercayakan kepada wakil kepala sekolah bidang kurikulum. Mereka adalah playmaker pendidikan, arsitek tak terlihat yang merancang skenario agar setiap "gol" pembelajaran—yaitu pemahaman mendalam dan keterlibatan siswa—tercapai.Taufik, Playmaker Berkah FCJika playmaker sepak bola menguasai “zona 14” (area antara lini tengah dan penyerang), playmaker pendidikan beroperasi di “zona transisi” yang kritis. Mereka harus mampu menjembatani visi strategis kepala sekolah dan realitas harian di kelas. Tugas mereka bukan mengeksekusi, tetapi membuat eksekusi menjadi mungkin terjadi dan efektif. Umpan terukur (assist) seorang playmaker sepak bola, dalam pendidikan, berwujud desain pembelajaran yang brilian: sebuah skenario Project-Based Learning yang kontekstual, rubrik penilaian autentik, atau modul digital interaktif yang mereka siapkan untuk guru-guru. Mereka "mengumpan" para guru (para striker) untuk mencetak gol di depan siswa.Kemampuan membaca permainan (game intelligence) playmaker di lapangan sepak bola, di dunia pendidikan diterjemahkan menjadi analisis kebutuhan pembelajaran. Mereka melihat "celah" antara kurikulum nasional dan konteks lokal, antara minat siswa dan materi pelajaran, lalu merancang strategi untuk memanfaatkan celah tersebut menjadi peluang belajar yang menarik.Berkah FCJika playmaker sepak bola menentukan kapan serangan dipercepat atau diperlambat, playmaker pendidikan memastikan alur pembelajaran sesuai ritme siswa—tidak membebani, juga tidak membosankan. Pada intinya, playmaker pendidikan adalah jembatan penghubung vital yang menerjemahkan kebijakan menjadi praktik, teori menjadi aksi, dan data menjadi strategi. Tanpa mereka, serangan pedagogis sebuah sekolah berisiko menjadi kaku, terfragmentasi, dan kurang kreatif.Seperti Kapten Rudi, Taufik, Budi Riva, dan Izul yang berperan penting menentukan ritme permainan Berkah FC sehingga tim ini berulang kali meraih tropi di kejuaraan sepak bola yang diselenggarakan Dispora Kalimantan Selatan, peran wakil kepala sekolah bidang kurikulum juga menentukan kualitas pendidikan di sebuah sekolah. Apabila pembelajaran di sekolah terasa hidup, dinamis, dan penuh penemuan, maka itu semua karena kepiawaian Koordinator Pengembangan Kurikulum dan Inovasi Pembelajaran, playmaker yang bermain di balik layar,  merancang pertunjukan, menyiapkan senjata bagi para guru, dan memastikan setiap serangan pembelajaran berakhir dengan gol kompetensi yang gemilang. 
# EDUKASI
# Opini

Silaturahmi: Investasi Sosial untuk Harmoni dan Umur Panjang

Edubanua.com
18 Januari 2026
Iwan Perdana, Ph.D, Ketua RT.12 Kelurahan Sungai Miai Kota Banjarmasin, menggelar silaturahmi warga di kediamannya pada Minggu (18/01/2026). Beliau menjadikan pertemuan pertama di tahun Januari 2026  tersebut sebagai ajang mempererat tali persaudaraan, dan membangun sinergi antar warga. Dihadapan masyarakatnya, Iwan Perdana yang juga dosen FKIP UNISKA MAB Banjarmasin menyampaikan beberapa hal, antara lain: (1) Pentingnya menjaga kerukunan dan keharmonisan warga RT.12, (2) Menghimbau warga agar menjaga kebersihan lingkungan, (3) Menawarkan pembelajaran Bahasa Inggris gratis bagi pelajar SMP dan SMA sederajat,(4) Informasi Pengusulan Kartu Prakerja 2026, dan (5) Informasi peluang menjadi Agen Edukasi Kebersihan yang bertugas mensosialisasikan pentingnya kebersihan, pengelolaan sampah, dan pola hidup bersih kepada warga di lingkungan RT.12.Landasan dan Hakikat Silaturahmi: Dari Iman, Ilmu, hingga BudayaAllah SWT menjelaskan dalam QS At-Tin ayat 4, bahwa manusia diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Dilengkapi hati, akal, dan fisik yang proporsional, manusia dijadikan khalifah di muka bumi dengan tugas utama memakmurkan bumi atas dasar ketaatan kepada Allah (QS. Al Baqarah ayat 30).Meskipun sempurna: memiliki hati, akal dan fisik yang proporsional, manusia  tidak dapat hidup seorang diri, karena  manusia  adalah mahluk  sosial (Pranata & Hartati, 2017) yang memerlukan orang lain, membutuhkan bantuan orang lain, hidup bersama orang banyak,  dan tidak dapat melakukan suatu kegiatan tanpa melibatkan orang lain (Hantono & Pramitasari, 2018).Interaksi antar sesama manusia yang dilakukan dengan niat baik dapat dianggap sebagai bagian dari silaturahmi. Mengapa? karena silaturahmi (menyambung kasih sayang) adalah esensi dari hubungan sosial. Menurut Istianah (2016), Silaturahmi harus dilakukan untuk seluruh umat Islam, baik yang ada kaitan hubungan nasab (keturunan) maupun hubungan persaudaraan sesama umat muslim. Bahkan kepada kaum non muslim (berbeda keyakinan) pun dituntut untuk berbuat baik dengan saling menghormati dan menghargai, hanya saja bentuk dan etikanya yang berbeda.Silaturahmi bukan hanya sekadar bertemu, tetapi ada rasa saling mengasihi, menghormati, membantu, dan berbagi kebaikan untuk mempererat persaudaraan guna menciptakan harmoni, dan mendapatkan keberkahan hidup, Rasullah SAW menjelaskan silaturahmi menambah rezeki dan memperpanjang umur (HR. Bukhari dan Muslim). Bagi Masyarakat Indonesia, silaturahmi merupakan kegiatan yang sudah menjadi kebiasaan atau budaya secara turun temurun. Kegiatan ini bertujuan untuk menjalin tali persaudaraan (Ridho et al., 2021). Selain itu, Silaturahmi juga merupakan sebuah muamalah atau hukum yang mengatur urusan manusia yang sederhana namun fundamental dengan keperdulian terhadap keluarga, saudara ataupun orang lain dengan manfaat menambah rezeki, diberikan umur panjang (Made Cahyana et al., 2021). Kegiatan silaturahmi memberikan banyak manfaat, baik di dunia maupun di akhirat. Di dunia, silaturahmi meningkatkan intensitas komunikasi yang menciptakan keharmonisan: kehangatan dan cinta kasih sehingga mampu meningkatkan sharing informasi dan saling percaya. Untuk akhirat, silaturahmi mendatangkan keberkahan: orang-orang yang menjaga silaturahmi akan masuk ke dalam Syurga.Diriwayatkan dari Abu Ayyub Al-Ansari: Seorang lelaki berkata, "Wahai Rasulullah! Beritahu saya tentang suatu amal yang akan membuat saya masuk surga." Rasulullah SAW bersabda, "Engkau harus menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun; mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan menjaga hubungan silaturahmi." (https://www.hadits.id/hadits/bukhari/5983).Membangun Sinergi dan Keberkahan Studi Cohen (2001) menunjukkan bahwa individu dengan jejaring sosial yang lebih luas dan interaksi sosial yang aktif cenderung memiliki usia harapan hidup lebih panjang dan kesehatan yang lebih baik,. Silaturahmi yang digelar Ketua RT.12 Kelurahan Sungai Miai ini bukan sekadar pertemuan rutin belaka. Merujuk pada kutipan-kutipan yang menjadi referensi pada tulisan singkat ini, silaturahmi merupakan perwujudan nyata dari ajaran agama, dan kearifan lokal yang menyatu dalam satu tindakan bermakna. Dari tingkat rukun tetangga inilah fondasi harmoni sosial dibangun, sinergi warga diperkuat, dan keberkahan hidup diraih.ReferensiCohen, S. (2001). Social relationships and health: Berkman & Syme [1979].Hantono, D., & Pramitasari, D. (2018). Aspek Perilaku Manusia sebagai Makhluk Individu dan Sosial pada Ruang Terbvuka Publik. Nature: National Academic Journal of Architecture, 5(2), 85. https://doi.org/10.24252/nature.v5i2a1Istianah. (2016). Shilaturrahim Sebagai Upaya Menyambungkan Tali yang Terputus. Riwayah : Jurnal Studi Hadis, 2(2), 199. https://doi.org/10.21043/riwayah.v2i2.3143Made Cahyana, I., Ismirihah, A., & Rijalul Fahmi, R. M. (2021). Silaturahmi Melalui Media Sosial Pespektif Hadits (Metode Syarah Bil Ra’yi). Al-Hikmah: Jurnal Pendidikan Dan Pendidikan Agama Islam, 3(2), 213–224.Pranata, R. H., & Hartati, U. (2017). Interaksi Sosial Suku Sunda dengan Suku Jawa (Kajian Akulturasi dan Akomodasi di Desa Buko Poso, Kabupaten Mesuji). Swarnadwipa: Jurnal Kajian Sejarah, Sosial, Budaya, Dan Pembelajarannya, 1(3).Ridho, M., Pratama, M. R., Dwicahya, B., Yan Sutardi, P. P., Hutahaean, P., & Ashari, F. (2021). Pergeseran Metode Silaturahmi Di Indonesia Sebagai Dampak Pandemi COVID-19. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan, 8(1), 56–68.  
# EDUKASI
# Opini

Etika Kepemimpinan dalam Penggunaan Ruang Kerja

Iwan Perdana
31 Desember 2025
Kepemimpinan memainkan peran penting dalam organisasi. Berhasil atau tidaknya suatu organisasi ditentukan oleh faktor kepemimpinan. Seorang pemimpin yang menginginkan organisasinya maju berkembang harus memiliki etika kepemimpinan yang baik. Etika kepemimpinan adalah konsep yang mencakup prinsip moral dan nilai yang harus diterapkan oleh seseorang saat memimpin tim atau organisasi. Etika kepemimpinan yang utama mencakup integritas, kejujuran, keadilan, dan sikap empati yang tinggi (https://www.prudential.co.id/id/pulse/article/etika-kepemimpinan). Apabila bawahan percaya pemimpinnya memiliki kemampuan, dapat dipercaya, dan mendukung kemajuan bawahan dan lembaga, maka bawahan cenderung lebih termotivasi untuk bekerja dengan baik, karena mereka merasa aman dan nyaman dalam lingkungan kerja.Fondasi Perilaku Pemimpin yang BeretikaSutanto (2021) menegaskan bahwa pemimpin yang menerapkan prinsip etika secara konsisten mampu menciptakan suasana kerja yang kondusif, meningkatkan kepercayaan, serta mendorong loyalitas bawahan. Dalam jangka panjang, kondisi ini berkontribusi terhadap stabilitas organisasi karena bawahan tidak hanya bekerja berdasarkan kewajiban formal, tetapi juga didorong oleh komitmen moral dan emosional terhadap organisasi.Seorang pemimpin yang ideal memiliki kemampuan dan profesionalisme untuk memimpin dengan manajemen dan sistem yang baik (Waedoloh et al., 2022). Salah satunya, manajemen pengelolaan ruang kerja. Penyediaan fasilitas ruang kerja yang mendukung kinerja, dan ketepatan peruntukan penggunaan ruang kerja harus menjadi atensi atensi seorang pemimpian.Ketika seorang pemimpin menerapkan etika dalam penggunaan ruang kerja, hal tersebut akan menjadi stimulus untuk membangun kepercayaan dan loyalitas bawahan. Tindakan ini akan memicu respons timbal balik positif dari bawahan, menciptakan hubungan yang harmonis dalam organisasi.Keteladanan sebagai Penggerak BudayaPerilaku dan integritas pribadi pemimpin adalah pendorong utama dalam menumbuhkan budaya organisasi yang akuntabel, transparan, dan berkinerja tinggi. Dalam konteks penggunaan ruang kerja, pemimpin yang etis menunjukkan disiplin diri dan menghormati fasilitas organisasi bagi seluruh bawahan untuk tercapainya tujuan organisasi.Dengan demikian, etika pemimpin dalam menggunakan ruang kerja bukan hanya tentang cara memanfaatkan fasilitas, tetapi juga tentang membangun budaya organisasi yang berintegritas, transparansi, dan inklusif melalui keteladanan dan kepemimpinan yang konsisten.Referensi:Waedoloh, H., Purwanta, H., & Ediyono, S. (2022). Gaya Kepemimpinan dan Karekteristik Pemimpin yang Efektif, Waedoloh, Husen Purwanta, Hieronymus Ediyono, Suryo. https://jurnal.uns.ac.id/shes SHEs: Conference Series 5 (1) (2022) 144– 152 Gaya. Social, Humanities, and Educational Studies (SHEs): Conference Series, 5(1), 144.Sutanto, E. M. (2021). Kepemimpinan etis dan implikasinya terhadap kepercayaan serta loyalitas karyawan. Jurnal Manajemen Sumber Daya Manusia, 15(2), 89–102.  
# EDUKASI
# Opini

Mengapa Psikologi Pendidikan dan Pendekatan Pembelajaran dipraktikkan sesuai kebutuhan?

Edubanua.com
26 Desember 2025
Banyak faktor memengaruhi prestasi belajar siswa, baik faktor internal (dari dalam diri) seperti motivasi, kecerdasan/ intelegensi, dan psikologis, maupun faktor eksternal (dari luar diri) seperti guru, keluarga, lingkungan sekolah, dan masyarakat).  Tulisan singkat ini membahas Guru, sebagai salah satu faktor eksternal  yang sangat penting, juga menjawab pertanyaan mengapa psikologi pendidikan dan pendekatan pembelajaran harus dikuasai dan dipraktikkan, sesuai kebutuhan.Iwan Perdana Ph.D, Dosen FKIP Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin, mengatakan perjuangan guru sangat berat. Eksistensinya  menentukan keberhasilan peningkatan SDM bangsa.  Oleh sebab itu, kualitas dan kompetensi guru harus terus ditingkatkan melalui pengembangan profesional berkelanjutan. Menurut Iwan Perdana, yang juga pendiri Yayasan Lanting Literasi Indonesia (https://www.lantingliterasiindonesia.or.id), Untuk memperkuat eksistensinya, penting bagi guru memahami psikologi pendidikan, dan memilih pendekatan pembelajaran yang sesuai kebutuhan dalam KBM. Guru akan semakin mengenali keunikan siswa, memahami cara berinteraksi sesuai usia siswa, sehingga dapat merancang strategi pembelajaran yang sesuai.  Psikologi pendidikan menunjang guru menjadi pribadi humanis: mampu menangani masalah perilaku dan emosi peserta didik. dan profesional menjalankan tanggung jawab, sejalan dengan tuntutan kompetensi pedagogik. Ketepatan guru memilih pendekatan  sesuai kebutuhan kelas akan menciptakan proses belajar mengajar yang kondusif: menyentuh kebutuhan emosional serta kognitif siswa.Psikologi Pendidikan Psikologi pendidikan adalah ilmu yang menggabungkan  ilmu jiwa (psikologi) dan ilmu pendidikan untuk mencapai tujuan yang sama (Nurjanah et al., 2023). Menurut Gunarty dan Tarigan (2023), ilmu ini berperan penting sebagai landasan ilmiah  untuk  memahami  bagaimana  anak  belajar,  berpikir,  mengembangkan  motivasi,  dan  berinteraksi  secara  sehat  dalam  konteks  pembelajaran di  kelas.   Pratiwi dan Maunah (2024) berpendapat psikologi pendidikan merupakan studi mengenai tingkah laku manusia dalam kegiatan belajar dan pembelajaran, serta penerapan konsep dan teori-teori psikologi dalam kegiatan belajar dan pendidikan. ilmu ini berhubungan erat dengan ilmu mengajar karena membahas tingkah laku manusia dalam proses pembelajaran (Alghifary & Wahyudi, 2023).Psikologi pendidikan diperlukan guru untuk menghadapi peserta didik yang unik dilihat dari segi karakteristik perilaku, kepribadian, sikap, minat, motivasi, perhatian, persepsi, daya  pikir,  inteligensi,  fantasi,  dan  berbagai  aspek  psikologis  lainnya karena setiap peserta didik berbeda dari peserta didik lainnya, seperti yang dikemukakan.Pendekatan Pembelajaran Pendekatan pembelajaran adalah cara atau strategi yang dipraktikkan guru dalam mengelola dan melaksanakan proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Ada banyak pendekatan pembelajaran, namun garis besarnya dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu: 1.      Pendekatan pembelajaran berpusat pada guru (Teacher-Centered)Dalam Pendekatan Teacher-centered, guru memikul tanggung jawab utama dalam proses pengajaran pengetahuan kepada siswa (Mascolo, 2009). Mempraktikkan teori behavioristik,: perubahan perilaku disebabkan oleh rangsangan eksternal (Skinner, 1974), Guru aktif di kelas, sedangkan siswa pasif. 2.    Pendekatan Pembelajaran berpusat pada siswa (Student-Centered)Siswa berperan aktif dalam Pendekatan Student-Centered. Mereka mendiskusikan apa yang telah dipelajari (Brophy, 1999), dan bekerja sama menyelesaikan tugas  sehingga terjadi interaksi antar siswa (Condelli & Wrigley, 2009). Pendekatan pembelajaran yang baik bersifat fleksibel: mudah beradaptasi dengan karakteristik siswa dan konteks pembelajaran, serta mendukung pengembangan keterampilan abad 21 seperti kreativitas, kolaborasi, dan berpikir kritis.Pendekatan yang menggabungkan teori pembelajaran dengan praktik kontekstual terbukti meningkatkan keterlibatan siswa, motivasi belajar, dan hasil pembelajaran secara signifikan (Handayani, et.,al,2024). Makatita dan Azwan (2021) melaporkan, motivasi memiliki kontribusi atau pengaruh terhadap prestasi belajar. Rosyidi et.,all, (2024) juga membuktikan hal yang sama, bahwa semakin tinggi  motivasi belajar maka prestasi belajar akan semakin baik. Bagaimana dengan kebahagiaan? Apakah terdapat hubungan antara motivasi belajar siswa dengan kebahagiaannya?. Adakah pengaruh motivasi dan kebahagiaan terhadap prestasi belajar siswa?Kebahagiaan  merupakan  hal  yang  unik  yang  dapat  berpengaruh  terhadap  kehidupan seseorang (Anas et al., 2022: 2). Menurut Jabal (2023), kebahagiaan dalam bidang pendidikan sangat diperlukan, terutama pada proses pembelajaran di dalam kelas. Jika pada saat memulai pembelajaran pendidik memiliki rasa senang dan bahagia maka pembelajaran yang akan disampaikan lebih menarik. Antika, Putra, dan Sari (2025) menyebutkan kebahagiaan  memiliki  kontribusi  sebesar  58%  terhadap  motivasi  belajar  matematika. Fitria (2022) melaporkan kebahagiaan mempunyai kontribusi atau hubungan sebesar 28,17% dengan hasil belajar siswa kelas X IPA 2 di Madrasah Aliyah Darul A’mal Metro Tahun Ajaran 2021/2022.Berdasarkan analisis datanya, Giyati (2019) memvalidasi bahwa ada hubungan positif antara kebahagiaan dengan motivasi belajar siswa SMP Kanisius Temanggung. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Dewantoro (2017) juga menegaskan bahwa kebahagiaan diri mempunyai peranan penting serta memiliki pengaruh yang positif terhadap prestasi belajar yang diraih oleh siswa. Begitu pun motivasi belajar terbukti memiliki pengaruh yang positif terhadap prestasi belajar yang diraih oleh siswa. 
# EDUKASI
# Opini

Skripsi: Self-Development dan Pendidikan Karakter

Iwan Perdana
22 Desember 2025
Salah satu syarat kelulusan bagi mahasiswa menyelesaikan studi adalah menyusun karya tulis ilmiah. Terminologi di Indonesia, karya tulis ilmiah untuk syarat kelulusan S1 (Sarjana) disebut skripsi. Tesis untuk S2 (Magister), dan Disertasi untuk S3 (Doktor). Perbedaan di antara ketiganya terletak pada kedalaman analisis, bobot ilmiah, serta tuntutan kebaruan temuan.Karya tulis ilmiah tidak sekadar untuk memenuhi syarat administratif, tetapi juga bukti mendalami suatu bidang ilmu secara komprehensif. Proses ini mendorong mahasiswa mengaplikasikan teori-teori yang telah dipelajari semasa kuliah, dengan penekanan pada mata kuliah Metodologi Penelitian.Manfaat SkripsiSkripsi adalah syarat kelulusan jenjang S1. Manfaatnya sangat banyak. Tidak sekadar untuk memenuhi syarat kelulusan, tapi juga mengasah kemampuan mahasiswa berpikir kritis, analitis, berkomunikasi, menuangkan pikiran dalam tulisan, dan berlatih menyelesaikan masalah. Proses pengerjaan skripsi menanamkan karakater disiplin, bekerja keras, sopan santun, menghargai orang lain, dan bertanggung jawab. Melalui skripsi sebagai latihan,  mahasiswa diharapkan tidak hanya unguul di bidang akademik, tetapi juga menjelma menjadi pribadi pantang menyerah, dan konsisten dalam usaha mengerjakan sesuatu tepat waktu.  Kaitan Skripsi dengan Self-Development dan Pendidikan KarakterSelain manfaat yang telah dijelaskan, skripsi mengingatkan mahasiswa untuk mengenal dirinya sendiri: kelebihan dan kekurangannya, sehingga dapat bersikap bijak di masa yang akan datang. Di dalam prosesnya, mereka belajar bersikap legowo menerima kritik, terus meningkatkan kualitas diri, dan mengakui kontribusi orang lain (Dosen pembimbing dan penguji). Ini akan menumbuhkan sikap rendah hati (tawadhu') dan kesadaran diri bahwa kesuksesan berasal dari usaha dan bantuan banyak pihak, bukan semata karena kehebatan diri sendiri.  
# EDUKASI
# Opini

Prometheus di Abad Modern

Iwan Perdana
17 Desember 2025
Dalam mitologi Yunani, manusia tidak memiliki pengetahuan sampai akhirnya mendapatkannya dari Prometheus. Harga yang harus dibayar Titan cerdas itu sangat mahal. Atas keberaniannya mencuri api (simbol pengetahuan) di gunung Olimpus, Zeus menghukumnya dengan siksa abadi. Dia dirantai di gunung, tempat bersemayamnya para Dewa. Hatinya dimakan burung elang saban hari. Setelah dilahap elang, malamnya tumbuh lagi, kemudian dimakan lagi. Terus begitu, selamanya.Mengapa Prometheus berani mencuri api pengetahuan, padahal dia menyadari risikonya. Kecintaannya yang sangat besar kepada manusialah yang membuatnya nekat mengambil dan menghadiahkan api pengetahuan kepada manusia. Sang Titan ingin manusia menjalani kehidupan yang lebih baik, dan makmur.Bertolak dari cerita itu, mestinya seluruh umat manusia tercerahkan karena mendapatkan pengetahuan. Namun ternyata, sejak dahulu pengetahuan adalah barang mewah, tidak semua orang berkesempatan memperolehnya. Hanya kalangan tertentu saja: Anak-anak raja, keturunan bangsawan, para pejabat istana, dan anak keturunan orang kaya. Dalam kisah Mahabrata, diceritakan Dronacharya, Sang Mahaguru Hastinapura, membatasi pengajaran pengetahuannya hanya kepada kasta Ksatria: Pandawa & Kurawa. Dia tidak berkenan mengajari Ekalaya dan juga Karna, rakyat biasa.Keterbatasan akses pengetahuan bukan hanya cerita masa lalu. Kini pun, masih banyak anak kurang beruntung yang merasakannya. Mereka terjebak di daerah yang dilanda konflik, kemiskinan ekstrem, dan ketidakstabilan politik, ataupun dogma yang menutup peluang kaum hawa ke sekolah. Maka beruntunglah kita yang merasakan manisnya pendidikan sehingga memiliki pengetahuan.Lalu bagaimana bentuk syukur atas anugerah yang luar biasa ini?. Jawabannya sederhana, belajar dan belajar, kemudian mempraktikkannya demi meningkatkan kesejahteraan umat manusia, seperti yang dilakukan Prometheus. Menurut saya, para ilmuwan yang bersusah payah belajar, mengasah keterampilan sehingga mampu menciptakan sesuatu untuk meningkatkan kesejahteraan umat manusia adalah manusia pilihan Tuhan – mereka rela mencurahkan pikiran, tenaga dan masa mudanya untuk belajar. Mereka (mungkin) seperti Prometheus yang menderita demi umat manusia, karena menghabiskan banyak waktu hidupnya untuk mempelajari sesuatu, dan menggunakannya untuk kebaikan orang banyak.  
# EDUKASI
# Opini

Transformasi Pendidikan Tinggi: Menjawab Tantangan dan Isu Strategis Abad 21

Rizki Nugerahani Ilise, M.Pd
17 Desember 2025
Pendidikan dan pembelajaran abad ke-21 mengalami perubahan yang sangat signifikan, termasuk dalam konteks perguruan tinggi. Perguruan tinggi tidak lagi hanya dipahami sebagai tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi sebagai ruang strategis untuk membentuk sumber daya manusia yang unggul, adaptif, dan siap menghadapi tantangan global. Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan dinamika sosial menuntut perguruan tinggi untuk melakukan transformasi dalam sistem pendidikan dan pembelajarannya agar tetap relevan dengan kebutuhan zaman.Salah satu isu strategis utama dalam pendidikan abad ke-21 di perguruan tinggi adalah tuntutan penguasaan keterampilan abad ke-21. Mahasiswa tidak cukup hanya menguasai teori dan konsep keilmuan, tetapi juga harus memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif. Perguruan tinggi dituntut mampu menyiapkan lulusan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga mampu memecahkan masalah nyata, mengambil keputusan secara tepat, serta beradaptasi dengan perubahan yang cepat di dunia kerja dan masyarakat.Isu strategis berikutnya adalah pesatnya perkembangan teknologi digital yang berdampak langsung pada proses pembelajaran di perguruan tinggi. Pemanfaatan teknologi informasi melalui pembelajaran daring, e-learning, dan berbagai platform digital menjadi kebutuhan yang tidak terpisahkan. Teknologi memberikan peluang besar untuk menciptakan pembelajaran yang fleksibel, interaktif, dan terbuka. Namun, di sisi lain, tantangan yang dihadapi adalah kesiapan dosen dan mahasiswa dalam memanfaatkan teknologi secara efektif serta masih adanya kesenjangan literasi digital. Oleh karena itu, perguruan tinggi perlu memastikan bahwa teknologi digunakan sebagai sarana pendukung pembelajaran yang bermakna, bukan sekadar sebagai pelengkap.Perubahan karakteristik mahasiswa juga menjadi isu strategis dalam pembelajaran abad ke-21 di perguruan tinggi. Mahasiswa saat ini cenderung lebih kritis, terbuka terhadap informasi, dan terbiasa dengan teknologi digital. Kondisi ini menuntut perubahan pendekatan pembelajaran dari yang berpusat pada dosen menjadi pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa. Model pembelajaran aktif, seperti diskusi, proyek, pembelajaran berbasis masalah, dan penelitian sederhana, menjadi sangat relevan untuk mendorong mahasiswa terlibat secara aktif dalam proses belajar. Dosen berperan sebagai fasilitator yang membimbing dan mengarahkan mahasiswa dalam membangun pengetahuannya sendiri.Selain aspek akademik, penguatan karakter dan nilai-nilai etika juga menjadi isu strategis yang penting dalam pendidikan perguruan tinggi abad ke-21. Arus globalisasi dan keterbukaan informasi membawa berbagai pengaruh yang dapat berdampak pada sikap dan perilaku mahasiswa. Oleh karena itu, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk menanamkan nilai kejujuran, tanggung jawab, disiplin, toleransi, dan etika akademik dalam setiap aktivitas pembelajaran. Pendidikan karakter menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses akademik agar lulusan perguruan tinggi tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga berintegritas dan berakhlak.Isu strategis lainnya adalah keterkaitan antara perguruan tinggi dengan dunia kerja dan kebutuhan masyarakat. Perguruan tinggi dituntut untuk menghasilkan lulusan yang relevan dengan perkembangan industri dan mampu bersaing secara global. Kurikulum dan pembelajaran perlu dirancang agar selaras dengan kebutuhan nyata di lapangan, tanpa mengabaikan pengembangan keilmuan dan nilai-nilai kemanusiaan. Kolaborasi antara perguruan tinggi, dunia industri, dan masyarakat menjadi penting untuk memastikan bahwa proses pembelajaran memberikan pengalaman nyata bagi mahasiswa.Terakhir, profesionalisme dosen menjadi kunci dalam menjawab berbagai isu strategis pendidikan dan pembelajaran abad ke-21 di perguruan tinggi. Dosen dituntut untuk terus meningkatkan kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian. Inovasi dalam pembelajaran, pemanfaatan teknologi, serta keterlibatan dalam penelitian dan pengabdian kepada masyarakat menjadi bagian penting dari peran dosen. Dengan dosen yang profesional dan adaptif, perguruan tinggi akan mampu menciptakan pembelajaran yang berkualitas dan menghasilkan lulusan yang siap menghadapi tantangan abad ke-21.Secara keseluruhan, isu-isu strategis pendidikan dan pembelajaran abad ke-21 di perguruan tinggi menuntut perubahan yang menyeluruh dan berkelanjutan. Perguruan tinggi perlu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri dan nilai-nilai dasar pendidikan. Melalui pembelajaran yang inovatif, berpusat pada mahasiswa, berlandaskan nilai karakter, serta didukung oleh dosen yang profesional, perguruan tinggi diharapkan mampu melahirkan generasi yang cerdas, berkarakter, dan berdaya saing tinggi di tingkat nasional maupun global.
# EDUKASI
# Opini

Mewujudkan Kampus Aman Tanpa Kekerasan Seksual

Rizki Nugerahani Ilise, M.Pd
9 Desember 2025
Kekerasan seksual di lingkungan perguruan tinggi telah menjadi masalah serius yang memerlukan penanganan khusus. Berbagai kasus kekerasan seksual yang terjadi di kampus, baik terhadap mahasiswa maupun sivitas akademika lainnya, menunjukkan urgensi dibentuknya mekanisme pencegahan dan penanganan yang efektif. Merespons situasi ini, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menginisiasi pembentukan Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Perguruan Tinggi. Langkah ini sejalan dengan upaya implementasi Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Perguruan Tinggi.Satgas ini dibentuk dengan tujuan utama menciptakan lingkungan kampus yang aman, nyaman, dan bebas dari segala bentuk kekerasan seksual. Fungsinya mencakup upaya pencegahan melalui edukasi dan sosialisasi, serta penanganan kasus-kasus kekerasan seksual yang terjadi di perguruan tinggi.Salah satu upaya signifikan yang dilakukan adalah pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Perguruan Tinggi. Inisiatif ini muncul dari kesadaran bahwa lingkungan akademik seharusnya menjadi ruang yang aman dan kondusif bagi seluruh sivitas akademika untuk mengembangkan potensi mereka tanpa rasa takut atau ancaman. Pembentukan Satgas ini juga merupakan langkah kongkret dalam mengimplementasikan berbagai kebijakan nasional yang telah ditetapkan untuk mengatasi masalah kekerasan seksual secara lebih komprehensif. Selain itu, Pembentukan Satgas ini juga merupakan kewajiban yang dikelola oleh perguruan tinggi berdasarkan Indikator Kinerja Utama 2.6 untuk mengatasi kekerasan seksual di lingkungan akademik. Diharapkan dengan adanya Satgas ini, kasus-kasus kekerasan seksual di perguruan tinggi dapat ditangani secara lebih sistematis, komprehensif, dan berpihak pada korban.Upaya ini tidak hanya melibatkan pihak internal perguruan tinggi, tetapi juga membutuhkan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, penegak hukum, organisasi masyarakat sipil, dan komunitas sekitar. Dengan adanya Satgas ini, diharapkan kasus kekerasan seksual di perguruan tinggi dapat ditangani dengan lebih efektif. Lebih dari itu, keberadaan Satgas juga diharapkan dapat mendorong perubahan budaya yang lebih luas, di mana kekerasan seksual tidak lagi ditoleransi dan seluruh sivitas akademika berkomitmen untuk menciptakan lingkungan yang aman dan saling menghormati dan bebas dari kekerasan seksual.Implementasi Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di perguruan tinggi merupakan langkah penting, namun masih banyak tantangan yang harus dihadapi. Salah satunya adalah membangun kesadaran dan pemahaman yang menyeluruh di kalangan sivitas akademika tentang pentingnya isu ini. Diperlukan program edukasi berkelanjutan yang tidak hanya berfokus pada pencegahan, tetapi juga pada pembentukan budaya yang menghargai consent dan kesetaraan gender. Selain itu, penguatan sistem pelaporan yang aman dan terpercaya juga menjadi kunci. Banyak korban kekerasan seksual enggan melaporkan kasusnya karena takut akan stigma atau pembalasan. Oleh karena itu, perguruan tinggi perlu memastikan adanya mekanisme pelaporan yang menjamin kerahasiaan dan keamanan pelapor. Evaluasi berkala terhadap efektivitas Satgas juga penting untuk memastikan bahwa upaya yang dilakukan tetap relevan dan responsif terhadap kebutuhan komunitas kampus. Kolaborasi dengan ahli di bidang kekerasan berbasis gender dan trauma dapat memperkuat kapasitas Satgas dalam menangani kasus-kasus kompleks.
# EDUKASI
# Opini

From Zoom to WhatsApp : Refleksi Pengalaman Mengajar Classroom Instructional Practice

Vebrianti Umar M.Pd
7 Desember 2025
Kamis, 4 Desember 2025 tepatnya pukul 13.30 WITA, saya memulai perkuliahan Classroom Instructional Practice secara daring dengan penuh semangat. Materi sudah siap, koneksi internet stabil, dan mahasiswa mulai memasuki ruang Zoom satu per satu. Saya selalu menikmati mata kuliah ini karena interaksinya yang dinamis meskipun hanya melalui layar  : mahasiswa aktif bertanya dan berbagi pendapat. Pada sesi opening, semua berjalan dengan lancar. Mahasiswa tampak antusias, mereka bahkan sudah menyalakan kamera lebih cepat dari biasanya. Setelah sesi pembuka, saya mulai menjelaskan materi. Namun, di tengah penjelasan, tiba-tiba ruang zoom tertutup dan Layar depannya menampilkan peringatan: “Gagal mendeteksi mikrofon dan speaker Anda. Pastikan perangkat Anda terhubung dengan benar”. Bersamaan dengan itu,  mahasiswa juga mengirim pesan lewat whatsapp , “Bu, kami terlempar dari zoom dan tidak bisa masuk lagi”. Saya mencoba tetap tenang dan memeriksa kembali perangkat, berharap gangguan itu hanya sementara. Namun laptop saya mengalami freeze dalam beberapa detik. Saat itu kesal, panik, dan khawatir kelas tidak terselesaikan. Mahasiswa pasti menunggu instruksi, dan saya tidak ingin mereka menganggap perkuliahan berakhir begitu saja hanya karena kendala teknis.Akhirnya, saya mengambil keputusan cepat: membuka WhatsApp dan mengirimkan pesan di grup “Jangan bubar dulu ya, kita lanjut lewat video call,”.  Dalam hitungan menit, kami terhubung melalui video call WhatsApp. Memang, Jauh lebih sederhana : tanpa share screen, tanpa slide, tetapi setidaknya komunikasi kembali berjalan. Saya bisa mendengar suara mahasiswa satu per satu, meski kadang suara terdengar tidak bersamaan.Dalam konteks ini, saya menyadari satu hal, teknologi memang memudahkan, tetapi tidak selalu bisa diandalkan. Meski begitu, kehadiran alternatif sederhana seperti WhatsApp justru menyelamatkan perkuliahan siang itu. Dengan media seadanya, saya menyampaikan ringkasan materi, instruksi lanjutan, dan memastikan mahasiswa tetap mengikuti alur pembelajaran.Setelah kelas berakhir, saya menutup telepon dan menarik napas panjang, lega rasanya.  Pengalaman ini membuat saya tersenyum kecil, bukan karena menyenangkan, tetapi ini sebuah sinyal bagi saya bahwa menjadi dosen di era digital berarti harus siap menghadapi apa saja, termasuk koneksi yang tiba-tiba memilih untuk “istirahat sejenak”. Kejadian itu mengajarkan saya bahwa fleksibilitas dan kreativitas sering kali lebih penting daripada platform apa pun yang kita gunakan. Yang terpenting adalah bagaimana tetap menjaga keberlangsungan pembelajaran, walaupun prosesnya tidak selalu mulus.
# EDUKASI
# Opini

Guru Sejahtera, Pendidikan Berkualitas: Momentum Hari Guru untuk Membenahi Arah Bangsa

Arrazi
25 November 2025
Setiap tahun, tanggal 25 November menjadi pengingat bahwa guru bukan hanya profesi, tetapi fondasi bangsa. Namun, penghormatan tidak cukup berhenti pada ucapan terima kasih dan seremonial. Ada pertanyaan besar yang seharusnya kita renungkan bersama: Mengapa kualitas pendidikan Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara-negara lain, bahkan negara tetangga yang dahulu belajar kepada kita?Jawabannya tidak rumit. Berbagai penelitian internasional selama puluhan tahun menunjukkan bahwa kualitas pendidikan suatu negara sangat ditentukan oleh kesejahteraan gurunya. Guru yang sejahtera memiliki kapasitas, fokus, dan energi penuh untuk mengajar; guru yang tertekan oleh kebutuhan hidup tidak mungkin memberikan kualitas pembelajaran terbaik.Dulu Malaysia Belajar ke Indonesia, Hari Ini Kita Belajar ke SanaSejarah mencatat bahwa pada masa pascakemerdekaan, Malaysia mendatangkan guru-guru Indonesia untuk membangun sistem pendidikan mereka. Bahkan, pelajar Malaysia dikirim kuliah ke kampus-kampus Indonesia untuk menimba ilmu. Namun hari ini, kondisinya berbalik: banyak pendidik Indonesia justru belajar tentang tata kelola pendidikan ke Malaysia.Apa yang membuat mereka mampu melesat begitu jauh?Jawabannya kembali pada satu titik: kesejahteraan tenaga pendidik.Di Malaysia, gaji guru relatif tinggi, tunjangan memadai, serta jenjang karier dihargai. Kita dapat melihat bahwa hampir tidak ada guru di Malaysia yang berangkat mengajar menggunakan sepeda motor; mayoritas mampu membeli mobil karena penghasilan mereka mencukupi. Kondisi tersebut menciptakan martabat profesi dan menarik minat anak muda terbaik untuk menjadi pendidik.Penelitian dari UNESCO, OECD, dan World Bank menunjukkan pola yang sama:negara dengan penghasilan guru tinggi → kualitas pendidikan tinggi.Ini terjadi di Finlandia, Jepang, Korea Selatan, dan Swedia. Guru dihargai sebagai profesi strategis, bukan sekadar pelengkap sistem.Mengapa Anak Indonesia Lebih Memilih Jadi Dokter atau Insinyur?Sering para pengamat mempertanyakan mengapa anak-anak Indonesia cenderung memilih cita-cita menjadi dokter, insinyur, atau profesi lain yang dianggap “bergengsi”. Namun jarang yang menyentuh akar masalahnya.Anak-anak cenderung memilih profesi berdasarkan apa yang mereka lihat:profesi dengan pendapatan tinggi dianggap sukses.Ketika gaji guru jauh di bawah profesi lain, sangat wajar bila profesi ini jarang menjadi pilihan.Bayangkan jika kesejahteraan guru setara dengan dokter, maka persepsi publik akan berubah. Anak-anak pun akan dengan bangga dan yakin mengatakan, “Saya ingin menjadi guru.” Karena profesi tersebut bukan hanya mulia, tetapi juga layak secara ekonomi.Guru Tidak Seharusnya Sibuk Mencari Pekerjaan SampinganDalam banyak kasus di Indonesia, guru harus mencari pekerjaan tambahan—les privat, berdagang, ojek online, bahkan pekerjaan fisik lain—demi memenuhi kebutuhan keluarga. Kondisi ini jelas menguras energi, menurunkan kualitas mengajar, dan merusak konsentrasi pada tugas utama: mendidik generasi bangsa.Penelitian menunjukkan bahwa beban ekonomi yang berat berdampak langsung pada rendahnya efektivitas pedagogis guru. Guru yang tidak sejahtera cenderung mengalami stres, burnout, dan penurunan kualitas pengajaran.Artinya, meningkatkan pendapatan guru bukan sekadar kesejahteraan sosial, tetapi strategi pendidikan nasional.Ini investasi langsung kepada masa depan bangsa.Negara Harus Menempatkan Guru Sebagai Prioritas UtamaJika Indonesia ingin maju seperti negara-negara yang kita kagumi, maka langkah pertama bukan sekadar mengganti kurikulum atau menambah fasilitas sekolah. Langkah pertama adalah mensejahterakan guru.Kebijakan yang bisa dilakukan pemerintah:1. Menetapkan Standar Gaji Minimum Guru Nasional yang LayakSesuai rekomendasi UNESCO, gaji guru seharusnya setara dengan profesi profesional lainnya, bukan hanya penyambung hidup.2. Tunjangan Kinerja yang Berbasis Kualitas MengajarBukan sekadar administratif, tetapi berbasis pembelajaran nyata di kelas.3. Jaminan Sosial yang KuatBPJS, pensiun yang layak, serta perlindungan hukum bagi guru.4. Menjadikan Profesi Guru KompetitifSeleksi masuk pendidikan guru harus ketat, tetapi imbalannya tinggi, seperti di Finlandia dan Korea Selatan.5. Beban Administrasi DikurangiAgar guru dapat kembali menjadi pengajar, bukan penulis laporan.Hari Guru adalah Momentum: Guru Sejahtera, Indonesia MajuPada Hari Guru 25 November 2025 ini, mari kita hentikan narasi “guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa” jika “tanda jasa” itu berarti mereka harus hidup dalam keterbatasan. Di negara modern, pahlawan diberi penghargaan dan kesejahteraan, bukan pengorbanan tanpa batas.Sebelum kita berharap pendidikan kita menyaingi dunia, kita harus menjawab satu pertanyaan sederhana:Apakah kita sudah memuliakan guru sebagaimana seharusnya?Jika negara benar-benar ingin memajukan pendidikan, maka jawabannya hanya satu:Sejahterakan guru terlebih dahulu.Karena kualitas bangsa ditentukan oleh kualitas pendidiknya.Dan kesejahteraan adalah fondasi dari kualitas itu.
# EDUKASI
# Opini

Empat Pilar Kepemimpinan Pendidikan untuk Lembaga Inspiratif

Iwan Perdana
25 November 2025
Setiap pemimpin lembaga pendidikan dituntut mampu memberdayakan tenaga pendidik dan tenaga kependidikan yang dikelolanya dengan baik. Dia bertanggung jawab memastikan komponen sumber daya manusia dalam sistem pendidikan yang dipimpinnya berfungsi optimal demi tercapainya tujuan pendidikan.Agar lembaga pendidikan yang dikelolanya menjadi inspirasi bagi lembaga pendidikan lain dalam memberikan layanan terbaik bagi peserta didik, sedikitnya, ada empat pilar yang harus dipraktikkan para pemimpin pembaga pendidikan, yaitu:1.   Visi dan Misi lembaga Pendidikan yang kuatSelain sebagai kompas yang menuntun lembaga pendidikan agar tidak kehilangan arah, dan tetap fokus pada tujuan, Visi dan misi lembaga merupakan landasan utama dalam pengambilan keputusan dan pelaksanaan kegiatan di sekolah. Oleh karena itu, kemampuan menyelaraskan visi dan misi lembaga menjadi sesuatu yang krusial bagi pemimpin lembaga pendidikan.Pemimpin lembaga pendidikan harus memastikan penyusunan Misi sebagai komitmen lembaga mewujudkan visi sesuai dengan keunggulan yang dimilikinya sehingga tekad memberikan layanan pendidikan berkualitas kepada masyarakat pengguna tidak sebatas slogan kosong belaka.2.   Inovasi PembelajaranKemajuan teknologi menghadirkan pendekatan baru dalam pembelajaran: pembelajaran daring, dan penggunaan media interaktif seperti situs web, aplikasi, permainan edukasi. Pemanfaatan teknologi sebagai inovasi pembelajaran secara signifikan mengurangi kendala batasan jarak dan kendala geografis pelaksanaan pembelajaran di daerah-daerah yang sulit dijangkau.Komitmen pemimpin lembaga pendidikan mendukung para guru meningkatkan kualitas diri melalui workshop/ pelatihan seperti keterampilan mengajar, termasuk menguasai teknologi untuk menunjang pembelajaran akan memberikan mereka wawasan bagaimana menciptakan KBM yang lebih interaktif dan menyenangkan.3.   Bersinergi dengan para guruMelahirkan generasi berkualitas tidak semudah membalik telapak tangan. Prosesnya membutuhkan waktu yang tidak singkat. Apalagi jika profil lulusan yang diinginkan adalah lulusan berjiwa leadership, berintegritas, dan peduli terhadap kemanusiaan.Untuk mewujudkan hal tersebut, pemimpin lembaga pendidikan hendaknya bersinergi dengan para guru yang dipimpinnya untuk memprioritaskan terciptanya lingkungan sekolah yang mencetak siswa mampu berempati, kreatif, jujur, disiplin, bertanggung jawab, dan religius.4.   Berkolaborasi dengan dunia usaha dan komunitas Pemimpin lembaga pendidikan yang menargetkan lulusannya berdaya, berjiwa leadership, berintegritas, dan profesional harus menjalin kerja sama/ berkolaborasi dengan berbagai pihak, antara lain:(1)   Dunia Usaha dan IndustriPemimpin lembaga Pendidikan harus aktif menjalin kerja sama dengan dunia usaha/ industri. Ini penting sekali agar program magang bagi peserta didik terealisasi. Juga tidak kalah pentingnya menghadirkan praktisi sebagai narasumber untuk membuka cakrawala berpikir sebaiknya dilaksanakan secara terjadwal. (2)   Komunitas Tidak hanya dunia usaha/industry, pemimpin lembaga pendidikan harus mengambil inisiatif menjalin kerja sama dengan komunitas-komunitas yang ada di masyarakat. Kolaborasi ini akan menambah pengetahuan, pengalaman dan memperluas wawasan peserta didik sekaligus meningkatkan kemampuan mereka bersosialisasi. Dengan fondasi visi yang kuat, inovasi pembelajaran yang berkelanjutan, bersinergi dengan para guru, dan jejaring kolaborasi yang luas, pemimpin lembaga pendidikan akan mengantarkan lembaga yang dikelolanya tidak sekadar mengikuti arus, tetapi menjadi pembentuk arus peradaban masa depan.
# EDUKASI
# Opini

  Youtube

Surah Ar-Rahman | Aniq Muhai

  Informasi

Selamat Hari Guru Nasional
Arah Pendidikan Nasional & Transformasi Pendidikan Lokal di Daerah
Kupas Tuntas: Kurikulum, Inklusi, dan Seni di Sekolah Dasar
Momentum Kebangkitan Nasional Melalui Peningkatan Kualitas Pendidikan