Beranda > Edukasi > Opini

  Postingan Terbaru

Guru Sejahtera, Pendidikan Berkualitas: Momentum Hari Guru untuk Membenahi Arah Bangsa

Arrazi
25 November 2025
Setiap tahun, tanggal 25 November menjadi pengingat bahwa guru bukan hanya profesi, tetapi fondasi bangsa. Namun, penghormatan tidak cukup berhenti pada ucapan terima kasih dan seremonial. Ada pertanyaan besar yang seharusnya kita renungkan bersama: Mengapa kualitas pendidikan Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara-negara lain, bahkan negara tetangga yang dahulu belajar kepada kita?Jawabannya tidak rumit. Berbagai penelitian internasional selama puluhan tahun menunjukkan bahwa kualitas pendidikan suatu negara sangat ditentukan oleh kesejahteraan gurunya. Guru yang sejahtera memiliki kapasitas, fokus, dan energi penuh untuk mengajar; guru yang tertekan oleh kebutuhan hidup tidak mungkin memberikan kualitas pembelajaran terbaik.Dulu Malaysia Belajar ke Indonesia, Hari Ini Kita Belajar ke SanaSejarah mencatat bahwa pada masa pascakemerdekaan, Malaysia mendatangkan guru-guru Indonesia untuk membangun sistem pendidikan mereka. Bahkan, pelajar Malaysia dikirim kuliah ke kampus-kampus Indonesia untuk menimba ilmu. Namun hari ini, kondisinya berbalik: banyak pendidik Indonesia justru belajar tentang tata kelola pendidikan ke Malaysia.Apa yang membuat mereka mampu melesat begitu jauh?Jawabannya kembali pada satu titik: kesejahteraan tenaga pendidik.Di Malaysia, gaji guru relatif tinggi, tunjangan memadai, serta jenjang karier dihargai. Kita dapat melihat bahwa hampir tidak ada guru di Malaysia yang berangkat mengajar menggunakan sepeda motor; mayoritas mampu membeli mobil karena penghasilan mereka mencukupi. Kondisi tersebut menciptakan martabat profesi dan menarik minat anak muda terbaik untuk menjadi pendidik.Penelitian dari UNESCO, OECD, dan World Bank menunjukkan pola yang sama:negara dengan penghasilan guru tinggi → kualitas pendidikan tinggi.Ini terjadi di Finlandia, Jepang, Korea Selatan, dan Swedia. Guru dihargai sebagai profesi strategis, bukan sekadar pelengkap sistem.Mengapa Anak Indonesia Lebih Memilih Jadi Dokter atau Insinyur?Sering para pengamat mempertanyakan mengapa anak-anak Indonesia cenderung memilih cita-cita menjadi dokter, insinyur, atau profesi lain yang dianggap “bergengsi”. Namun jarang yang menyentuh akar masalahnya.Anak-anak cenderung memilih profesi berdasarkan apa yang mereka lihat:profesi dengan pendapatan tinggi dianggap sukses.Ketika gaji guru jauh di bawah profesi lain, sangat wajar bila profesi ini jarang menjadi pilihan.Bayangkan jika kesejahteraan guru setara dengan dokter, maka persepsi publik akan berubah. Anak-anak pun akan dengan bangga dan yakin mengatakan, “Saya ingin menjadi guru.” Karena profesi tersebut bukan hanya mulia, tetapi juga layak secara ekonomi.Guru Tidak Seharusnya Sibuk Mencari Pekerjaan SampinganDalam banyak kasus di Indonesia, guru harus mencari pekerjaan tambahan—les privat, berdagang, ojek online, bahkan pekerjaan fisik lain—demi memenuhi kebutuhan keluarga. Kondisi ini jelas menguras energi, menurunkan kualitas mengajar, dan merusak konsentrasi pada tugas utama: mendidik generasi bangsa.Penelitian menunjukkan bahwa beban ekonomi yang berat berdampak langsung pada rendahnya efektivitas pedagogis guru. Guru yang tidak sejahtera cenderung mengalami stres, burnout, dan penurunan kualitas pengajaran.Artinya, meningkatkan pendapatan guru bukan sekadar kesejahteraan sosial, tetapi strategi pendidikan nasional.Ini investasi langsung kepada masa depan bangsa.Negara Harus Menempatkan Guru Sebagai Prioritas UtamaJika Indonesia ingin maju seperti negara-negara yang kita kagumi, maka langkah pertama bukan sekadar mengganti kurikulum atau menambah fasilitas sekolah. Langkah pertama adalah mensejahterakan guru.Kebijakan yang bisa dilakukan pemerintah:1. Menetapkan Standar Gaji Minimum Guru Nasional yang LayakSesuai rekomendasi UNESCO, gaji guru seharusnya setara dengan profesi profesional lainnya, bukan hanya penyambung hidup.2. Tunjangan Kinerja yang Berbasis Kualitas MengajarBukan sekadar administratif, tetapi berbasis pembelajaran nyata di kelas.3. Jaminan Sosial yang KuatBPJS, pensiun yang layak, serta perlindungan hukum bagi guru.4. Menjadikan Profesi Guru KompetitifSeleksi masuk pendidikan guru harus ketat, tetapi imbalannya tinggi, seperti di Finlandia dan Korea Selatan.5. Beban Administrasi DikurangiAgar guru dapat kembali menjadi pengajar, bukan penulis laporan.Hari Guru adalah Momentum: Guru Sejahtera, Indonesia MajuPada Hari Guru 25 November 2025 ini, mari kita hentikan narasi “guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa” jika “tanda jasa” itu berarti mereka harus hidup dalam keterbatasan. Di negara modern, pahlawan diberi penghargaan dan kesejahteraan, bukan pengorbanan tanpa batas.Sebelum kita berharap pendidikan kita menyaingi dunia, kita harus menjawab satu pertanyaan sederhana:Apakah kita sudah memuliakan guru sebagaimana seharusnya?Jika negara benar-benar ingin memajukan pendidikan, maka jawabannya hanya satu:Sejahterakan guru terlebih dahulu.Karena kualitas bangsa ditentukan oleh kualitas pendidiknya.Dan kesejahteraan adalah fondasi dari kualitas itu.
# EDUKASI
# Opini

Empat Pilar Kepemimpinan Pendidikan untuk Lembaga Inspiratif

Iwan Perdana
25 November 2025
Setiap pemimpin lembaga pendidikan dituntut mampu memberdayakan tenaga pendidik dan tenaga kependidikan yang dikelolanya dengan baik. Dia bertanggung jawab memastikan komponen sumber daya manusia dalam sistem pendidikan yang dipimpinnya berfungsi optimal demi tercapainya tujuan pendidikan.Agar lembaga pendidikan yang dikelolanya menjadi inspirasi bagi lembaga pendidikan lain dalam memberikan layanan terbaik bagi peserta didik, sedikitnya, ada empat pilar yang harus dipraktikkan para pemimpin pembaga pendidikan, yaitu:1.   Visi dan Misi lembaga Pendidikan yang kuatSelain sebagai kompas yang menuntun lembaga pendidikan agar tidak kehilangan arah, dan tetap fokus pada tujuan, Visi dan misi lembaga merupakan landasan utama dalam pengambilan keputusan dan pelaksanaan kegiatan di sekolah. Oleh karena itu, kemampuan menyelaraskan visi dan misi lembaga menjadi sesuatu yang krusial bagi pemimpin lembaga pendidikan.Pemimpin lembaga pendidikan harus memastikan penyusunan Misi sebagai komitmen lembaga mewujudkan visi sesuai dengan keunggulan yang dimilikinya sehingga tekad memberikan layanan pendidikan berkualitas kepada masyarakat pengguna tidak sebatas slogan kosong belaka.2.   Inovasi PembelajaranKemajuan teknologi menghadirkan pendekatan baru dalam pembelajaran: pembelajaran daring, dan penggunaan media interaktif seperti situs web, aplikasi, permainan edukasi. Pemanfaatan teknologi sebagai inovasi pembelajaran secara signifikan mengurangi kendala batasan jarak dan kendala geografis pelaksanaan pembelajaran di daerah-daerah yang sulit dijangkau.Komitmen pemimpin lembaga pendidikan mendukung para guru meningkatkan kualitas diri melalui workshop/ pelatihan seperti keterampilan mengajar, termasuk menguasai teknologi untuk menunjang pembelajaran akan memberikan mereka wawasan bagaimana menciptakan KBM yang lebih interaktif dan menyenangkan.3.   Bersinergi dengan para guruMelahirkan generasi berkualitas tidak semudah membalik telapak tangan. Prosesnya membutuhkan waktu yang tidak singkat. Apalagi jika profil lulusan yang diinginkan adalah lulusan berjiwa leadership, berintegritas, dan peduli terhadap kemanusiaan.Untuk mewujudkan hal tersebut, pemimpin lembaga pendidikan hendaknya bersinergi dengan para guru yang dipimpinnya untuk memprioritaskan terciptanya lingkungan sekolah yang mencetak siswa mampu berempati, kreatif, jujur, disiplin, bertanggung jawab, dan religius.4.   Berkolaborasi dengan dunia usaha dan komunitas Pemimpin lembaga pendidikan yang menargetkan lulusannya berdaya, berjiwa leadership, berintegritas, dan profesional harus menjalin kerja sama/ berkolaborasi dengan berbagai pihak, antara lain:(1)   Dunia Usaha dan IndustriPemimpin lembaga Pendidikan harus aktif menjalin kerja sama dengan dunia usaha/ industri. Ini penting sekali agar program magang bagi peserta didik terealisasi. Juga tidak kalah pentingnya menghadirkan praktisi sebagai narasumber untuk membuka cakrawala berpikir sebaiknya dilaksanakan secara terjadwal. (2)   Komunitas Tidak hanya dunia usaha/industry, pemimpin lembaga pendidikan harus mengambil inisiatif menjalin kerja sama dengan komunitas-komunitas yang ada di masyarakat. Kolaborasi ini akan menambah pengetahuan, pengalaman dan memperluas wawasan peserta didik sekaligus meningkatkan kemampuan mereka bersosialisasi. Dengan fondasi visi yang kuat, inovasi pembelajaran yang berkelanjutan, bersinergi dengan para guru, dan jejaring kolaborasi yang luas, pemimpin lembaga pendidikan akan mengantarkan lembaga yang dikelolanya tidak sekadar mengikuti arus, tetapi menjadi pembentuk arus peradaban masa depan.
# EDUKASI
# Opini

Literasi dan Numerasi pada Anak Usia Dini di Masa Sekarang

Rizki Nugerahani Ilise, M.Pd
19 November 2025
Pada masa ini, literasi dan numerasi adalah kemampuan dasar yang sangat penting untuk anak usia dini. Literasi merujuk pada kemampuan membaca dan menulis,sementara numerasi adalah kemampuan dalam memahami dan mengoperasikan angka serta konsep matematika dasar. Literasi dan numerasi tidak hanya merupakan kemampuan akademik, tetapi juga keterampilan hidup yang mendukung perkembangan kognitif dan sosial anak di masa depan.Pentingnya literasi dan numerasi pada usia dini menjadi semakin jelas dalam era digital ini,di mana keterampilan dasar ini menjadi fondasi untuk menghadapi berbagai tantangan di masa depan. Pentingnya Literasi pada Anak Usia Dini, yang berada dalam fase keemasannya, di mana mereka menyerap informasi dengan cepat. Literasi pada usia dini tidak hanya mencakup kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga keterampilan komunikasi seperti memahami keterampilan menyimak dan kemampuan berbicara. Keterampilan literasi ini sangat penting karena memungkinkan anak untuk memahami lingkungan sekitarnya dan membangun kemampuan berpikir kritis sejak dini. Dengan literasi, anak-anak dapat memahami cerita, instruksi, serta ekspresi emosi dan ide yang penting dalam berkomunikasi.Di masa sekarang, literasi pada anak usia dini juga berkaitan dengan literasi digital. Anak-anak diperkenalkan pada perangkat teknologi seperti tablet dan komputer yang bisa membantu mereka belajar melalui aplikasi edukatif. Meski demikian, penggunaan teknologi harus diawasi agar tidak mengganggu perkembangan sosial dan emosional anak.Selain literasi, numerasi juga sangat penting. Numerasi melibatkan kemampuan anak dalam mengenal angka, menghitung, dan memahami konsep dasar matematika seperti ukuran, bentuk, dan pola. Kemampuan numerasi dapat membantu anak dalam kegiatan sehari-hari seperti membagikan makanan, mengenali bentuk, dan menghitung benda.Pendidikan numerasi pada usia dini dapat dilakukan melalui kegiatan bermain. Misalnya, anak dapat diajak untuk menghitung mainan, menyusun balok, atau mengenali bentuk dan warna. Melalui cara ini, anak-anak belajar tanpa merasa terbebani dan lebih mudah memahami konsep-konsep matematika dasar yang akan menjadi landasan untuk belajar lebih lanjut di kemudian hari.Tantangan Literasi dan Numerasi pada Masa SekarangMeski penting, ada beberapa tantangan dalam pengembangan literasi dan numerasi pada anak usia dini. Salah satu tantangannya adalah kesenjangan akses pendidikan. Tidak semua anak memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses pendidikan yang memadai, terutama di daerah terpencil. Selain itu, dengan perkembangan teknologi yang pesat, banyak anak yang lebih fokus pada hiburan digital daripada kegiatan literasi dan numerasi yang konvensional.Orang tua dan guru memegang peran penting dalam mengembangkan literasi dan numerasi anak. Mereka dapat memperkenalkan literasi dan numerasi melalui kegiatan sederhana di rumah atau melalui pembelajaran kreatif di sekolah. Orang tua juga diharapkan untuk memberikan contoh dalam membaca dan menghitung, serta menggunakan teknologi dengan bijak.Literasi dan numerasi adalah kemampuan dasar yang harus dikembangkan sejak dini. Keterampilan ini tidak hanya penting untuk prestasi akademik, tetapi juga membantu anak dalam kehidupan sehari-hari dan perkembangan pribadi. Tantangan dalam pengembangan literasi dan numerasi pada masa sekarang, seperti akses pendidikan yang tidak merata dan penggunaan teknologi yang berlebihan, memerlukan peran aktif dari orang tua, guru, dan pemerintah. Dengan pendekatan yang tepat, literasi dan numerasi pada anak usia dini dapat diperkuat dan menjadi bekal untuk masa depan mereka.
# EDUKASI
# Opini

  Youtube

Surah Ar-Rahman | Aniq Muhai

  Informasi

Selamat Hari Guru Nasional
Arah Pendidikan Nasional & Transformasi Pendidikan Lokal di Daerah
Kupas Tuntas: Kurikulum, Inklusi, dan Seni di Sekolah Dasar
Momentum Kebangkitan Nasional Melalui Peningkatan Kualitas Pendidikan