Beranda > Edukasi > Pengabdian

  Postingan Terbaru

Strategi Kelas Tangguh Cegah Bullying dan Dampaknya terhadap Kesehatan Mental Anak

Iwan Perdana
4 Desember 2025
Bullying kini menjadi ancaman menakutkan. Di sepanjang tahun 2025 , KPAI melaporkan 25 anak bunuh diri termasuk di lingkungan sekolah. Ini meresahkan para orang tua, khawatir terjadi sesuatu kepada putra-putrinya di sekolah. Bersama Tati Akhbariyyah, SS.,S.Pd.,M.Pd dan Muhammad Arsyad, M.Ps, Saya diminta menjadi salah salah seorang narasumber memerangi praktik bullying di sekolah melalui kegiatan Sosialisasi Dampak Perundungan terhadap Mental Anak yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Barito Kuala (Batola) pada Rabu 26 November 2026. _ https://www.katabanua.com/disdik-batola-gelar-sosialisasi-anti-perundungan-dorong-sekolah-ramah-anak-dan-lingkungan-belajar-aman/. Di kegiatan yang dibuka oleh Plt  Kepala Dinas Pendidikan, Lulut Widiyanto, S.Pd.,M.M tersebut, Saya memaparkan materi mencegah perundungan di sekolah, dan menanggulangi dampak yang ditimbulkannya kepada 26 perwakilan guru SD dari kecamatan yang ada di Batola dari persepktif manajemen pendidikan.Menurut saya, salah satu upaya mencegah bullying adalah dengan membangun fondasi kelas yang tangguh, dengan cara mempraktikkan:1.   Melalui iklim kelas positif Guru melibatkan siswa dalam membuat aturan bersama di kelas. Peraturan berisi perintah dan larangan yang disepakati harus ditaati seluruh siswa, termasuk konsekuensi atas pelanggarannya.2.   Menanamkan karakter baikSelain memberikan keteladanan, menjadi inspirator, fasilitator, dan pembimbing, Guru menanamkan karakter baik kepada siswa melalui cerita yang menambah pengetahuan/ menggugah perasaan yang berdampak pada munculnya kesadaran siswa berperilaku baik.3.   Melalui literasi digital yang proaktifGuru memahamkan siswa untuk berpikir dampak dari dari postingan di medsos. Tidak hanya membagikan materi Pelajaran, Guru sebaiknya juga proaktif memantau komunikasi dalam grup di grup WhatsApp.Apabila  bullying terjadi, guru harus cepat melakukan tindakan penanggulangan dengan melakukan langkah-langkah berikut:1. Protokol STOP(1)    Segera hentikan aksi bullying dengan tegas, (2)    Tunjukan dukungan kepada korban dengan cara memastikan korban merasa aman dan didengarkan(3)    Observasi keadaan untuk mengumpulkan data (4)    Proses data yang terkumpul, dan laporkan tindakan bullying kepada pihak terkait/ pihak yang bertanggung jawab.2. Strategi penanggulangan dampak: Pendekatan Restoratif dan KolaboratifGuru melakukan restoratif berbasis kearifan lokal dengan mempertemukan korban, pelaku dan orang tua kedua belah pihak. Kemudian menguatkan kolaborasi guru, orang tua, dan siswa, serta membantu siswa memulihkan kesehatan mentalnya  korban, dan mendorong reintegrasi pelaku. Tidak kalah pentingnya Adalah Guru segera menciptakan lingkungan sekolah zero bullying agar tidak terjadi lagi tindakan serupa.Saya sangat mengapresiasi kegiatan Sosialisasi Dampak Perundungan terhadap Mental Anak yang diagendakan Disdik Batola bekerja sama dengan Komunitas Ibu Cerdas Indonesia (KICI) Batola yang diketuai  Ria Astuti Amd. Keb. Semoga dengan ikhtiar ini, kesadaran tentang bahaya bullying semakin meningkat, dan menambah wawasan bagi para guru SD di wilayah Kabupaten Batola tentang strategi mencegah bullying dan menanggulangi dampaknya.                
# EDUKASI
# Pengabdian

SMART KIDS PROGRAMME: Literasi AI (Artificial Inteligence) dan Koding Dasar untuk SISWA SD

Vebrianti Umar M.Pd
2 Desember 2025
Pada semester Ganjil Tahun Akademik 2025 – 2026 ini,  Prodi Pendidikan Bahasa Inggris STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin melakukan pengabdian kepada masyarakat di SDN Maluka  Baulin Kurau. Pelaksanaan pengabdian tentang Smart Kids Programme: Literasi AI (Artificial Inteligence) dan Koding Dasar untuk Siswa SD ini lahir dari  sebuah diskusi ilmiah antar dosen di Prodi Ini.Berdasarkan hasil analisis Kami, perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) atau yang dikenal dengan AI dan keterampilan pemrograman telah menjadi kebutuhan dasar abad ke-21. Artificial inteligence kini hadir dalam berbagai perangkat, permainan edukatif, hingga aplikasi pembelajaran anak. Di sisi lain, koding telah diakui dapat mendukung perkembangan  logical thinking, problem solving, kreativitas, serta literasi digital sejak dini.Siswa Sekolah Dasar saat ini merupakan generasi yang tumbuh di era serba digital. Mereka terbiasa menggunakan perangkat teknologi, namun mereka perlu memahami konsep dasar yang mendukung teknologi tersebut. Oleh karena itu, penting bagi mereka mendapatkan pengenalan awal mengenai cara kerja AI secara sederhana dan bagaimana menyusun instruksi logis melalui aktivitas koding dasar.Program ini menghadirkan kesempatan baru agar siswa dapat memperoleh pengalaman belajar yang lebih kontekstual, menyenangkan, dan relevan dengan kebutuhan abad ke-21. Melalui kegiatan ini, siswa diharapkan mampu mengembangkan kreativitas, berpikir komputasional, serta memahami bahwa teknologi bukan hanya untuk digunakan, tetapi juga dapat diciptakan. Selain itu program ini diharapkan menjadi langkah awal dalam membentuk generasi muda yang melek teknologi sekaligus memiliki kesiapan menghadapi tantangan era digital.Dalam prosesnya, Kami menerapkan metode yang terbagi menjadi enam tahap, yaitu : (1) observasi,  (2)  pengenalan konsep yang dirancang relevan dengan level anak SD, demonstrasi,  (4)  latihan terbimbing, (5) evaluasi program, dan (6) keberlanjutan  programKegiatan pengabdian ini sangat bermanfaat bagi anak anak SD Negeri Maluka Baulin, Kurau.  Selain pemerolehan pengetahuan dan keterampilan tentang teknologi : AI dan Koding dasar , mereka juga memiliki pengalaman belajar yang seru dan menyenangkan melalui kegiatan mewarnai dan membentuk sesuatu dari satu titik ke titik yang lain.
# EDUKASI
# Pengabdian

Teknologi Pembelajaran Budaya Lokal dengan Permainan Tradisional

Rizki Nugerahani Ilise, M.Pd
2 Desember 2025
Pada saat kami program studi pendidikan anak usia dini STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat yang berfokus pada “Teknologi Pembelajaran Budaya Lokal dengan Permainan Tradisional”, saya bersama tim berupaya memperkenalkan inovasi pembelajaran yang memadukan kearifan lokal dengan pendekatan digital. Kegiatan ini dilaksanakan di salah satu lembaga PAUD di wilayah bantaran sungai kota Banjarmasin yang mayoritas penduduk setempat berprofesi sebagai pedagang kayu sebagai bahan bangunan.Melalui lokakarya interaktif, kami mengembangkan media pembelajaran berbasis digital yang menampilkan permainan tradisional seperti engklek, balogo, dan bagasing dalam bentuk animasi sederhana. Media tersebut tidak hanya digunakan sebagai alat bantu belajar, tetapi juga sebagai sarana untuk menanamkan nilai budaya, motorik, kerja sama, dan kreativitas anak. Para guru dilatih untuk mengintegrasikan teknologi ini dalam kegiatan belajar sehari-hari, sehingga permainan tradisional tidak hanya dikenang, tetapi dihidupkan kembali dalam konteks pembelajaran modern.Kegiatan ini memberikan dampak positif, terlihat dari meningkatnya antusiasme anak serta pemahaman pendidik akan pentingnya pelestarian budaya melalui teknologi. Pengalaman ini menegaskan bahwa digitalisasi tidak harus menghilangkan budaya lokal, melainkan dapat menjadi jembatan kreatif untuk memperkuat identitas generasi emas selanjutnya.
# EDUKASI
# Pengabdian

Pintu Literasi: Media Gambar sebagai Kunci Membaca Permulaan di Sekolah Dasar

Novi Nurdian, M.Pd
1 Desember 2025
Sebagai seorang dosen dan praktisi pendidikan, saya bersama tim kerap melakukan pengabdian masyarakat untuk menjawab tantangan nyata di dunia pendidikan. Salah satunya adalah fenomena kesulitan membaca permulaan yang masih banyak ditemui pada siswa kelas rendah sekolah dasar. Pengalaman kami di salah satu sekolah dasar di Kota Banjarmasin, menjadi bukti bahwa pendekatan pembelajaran yang tepat dapat membuat perbedaan signifikan.Berdasarkan observasi awal, kami menemukan bahwa banyak siswa kelas 1 yang belum lancar membaca. Masalahnya bukan hanya pada teknis pengenalan huruf, tetapi lebih mendasar: kesulitan mereka menghubungkan rangkaian huruf menjadi kata yang bermakna. Di sinilah kami melihat peluang untuk menggunakan media gambar sebagai jembatan pemahaman.Mengapa gambar? Karena gambar adalah bahasa universal yang langsung dipahami anak. Sebuah gambar apel, misalnya, langsung terhubung dengan konsep buah berwarna merah yang mereka kenal. Ketika huruf "A-P-E-L" diperkenalkan bersamaan dengan gambar tersebut, terjadi asosiasi kuat antara simbol abstrak (huruf) dengan objek konkret (buah). Proses kognitif ini membuat belajar membaca menjadi lebih kontekstual, bermakna, dan menyenangkan.Dalam pelaksanaannya, kami menggunakan metode klasikal yang interaktif, dimulai dari pengenalan huruf, pelafalan, hingga penyusunan suku kata dan kalimat sederhana, semua dengan bantuan gambar. Suasana kelas pun berubah. Tatapan bingung perlahan berganti dengan antusiasme saat mereka berhasil "membaca" gambar dan menghubungkannya dengan tulisan. Kepercayaan diri mereka tumbuh seiring dengan meningkatnya kemampuan mengeja dan merangkai kata.Hasil evaluasi melalui observasi dan wawancara dengan guru kelas menunjukkan peningkatan yang menggembirakan. Siswa tidak hanya lebih mudah mengenali huruf, tetapi juga lebih lancar membaca kata-kata yang telah dipelajari dengan bantuan visual. Guru melaporkan bahwa siswa tampak lebih aktif dan bersemangat mengikuti pelajaran literasi.Pengalaman ini menguatkan keyakinan kami bahwa inovasi pedagogis sederhana seperti media gambar memiliki dampak yang powerful. Ia tidak memerlukan teknologi tinggi atau biaya mahal, tetapi membutuhkan kreativitas dan kesungguhan pendidik untuk merancang pembelajaran yang memanusiakan dan membumi. Literasi dasar adalah fondasi. Jika fondasinya kuat, dibangun dengan metode yang sesuai dengan dunia anak, maka minat baca dan kemampuan memahami teks yang lebih kompleks di jenjang berikutnya akan terbentuk dengan lebih kokoh.Pada akhirnya, membangun budaya baca bukan semata tugas guru di sekolah, tetapi kolaborasi semua pihak. Sebagai akademisi, kami berkomitmen untuk terus turun langsung, menguji berbagai pendekatan, dan membagikan temuan-temuan praktis seperti ini, agar lebih banyak anak Indonesia yang bisa menikmati indahnya dunia yang terbuka lebar melalui kemampuan membaca.
# EDUKASI
# Pengabdian

Pemahaman Sejarah Masjid Raya Sabilal Muhtadin Banjarmasin sebagai Sumber Kearifan Lokal bagi Siswa SDN Basirih 1 Banjarmasin

Muhammad Supian Sauri
1 Desember 2025
Pengabdian kepada masyarakat pada dasarnya adalah cara kita berbagi ilmu dan pengalaman kepada orang lain. Tidak harus selalu dalam bentuk kegiatan besar; hal sederhana yang bermanfaat pun sudah termasuk pengabdian. Nah, salah satu bentuk pengabdian yang menurut saya sangat menarik adalah mengenalkan sejarah Masjid Raya Sabilal Muhtadin kepada siswa SDN Basirih 1 Banjarmasin. Kegiatan ini terlihat sederhana, tapi sebenarnya punya dampak besar bagi pengetahuan, karakter, dan kecintaan siswa terhadap daerahnya sendiri.Masjid Raya Sabilal Muhtadin tentu bukan sesuatu yang asing bagi masyarakat Banjarmasin. Masjid megah yang berdiri tidak jauh dari Sungai Martapura ini sudah lama menjadi ikon kota. Hampir semua orang tahu bentuknya, tapi tidak semua tahu sejarah dan nilai yang terkandung di balik pembangunannya. Di sinilah pengabdian masyarakat punya peran penting: membantu anak-anak memahami bahwa bangunan besar itu bukan hanya tempat salat, tapi juga menyimpan cerita tentang masa lalu, perjuangan, dan budaya masyarakat Banjar.Dalam kegiatan pengabdian ini, siswa diajak mengenal sejarah masjid dengan cara yang lebih menyenangkan. Mereka tidak hanya mendengar penjelasan, tetapi juga melihat langsung bangunannya, memahami makna arsitekturnya, serta mendengarkan kisah-kisah menarik tentang proses pembangunannya. Cara belajar seperti ini jauh lebih efektif dibandingkan hanya membaca buku atau mendengarkan ceramah panjang di kelas. Anak-anak SD biasanya lebih mudah memahami sesuatu ketika mereka bisa melihat, bertanya, dan berinteraksi secara langsung.Menurut saya, kegiatan seperti ini bukan hanya memberi pengetahuan tambahan, tetapi juga menumbuhkan rasa bangga terhadap daerah sendiri. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan budaya luar yang mudah masuk, anak-anak perlu diperkenalkan dengan kearifan lokal sejak dini. Ketika mereka mengenal sejarah Masjid Sabilal Muhtadin, secara tidak langsung mereka belajar tentang nilai-nilai seperti kerja sama, religiusitas, kegigihan, dan rasa persatuan yang menjadi bagian dari masyarakat Banjar.Hal yang juga sangat positif dari kegiatan ini adalah memberikan pengalaman nyata tentang bagaimana belajar tidak harus selalu di ruang kelas. Sekolah sering kali dianggap sebagai tempat belajar utama, padahal lingkungan sekitar juga bisa menjadi sumber belajar yang sangat kaya. Masjid Sabilal Muhtadin, misalnya, bisa dijadikan media belajar sejarah, budaya, agama, bahkan seni arsitektur. Siswa jadi menyadari bahwa ilmu pengetahuan bisa ditemukan di mana saja, bukan hanya di buku teks.Selain untuk siswa, kegiatan ini sebenarnya juga bermanfaat untuk guru. Guru bisa melihat contoh bagaimana membuat pembelajaran yang lebih kreatif dan kontekstual. Selama ini, banyak guru ingin membuat pembelajaran yang lebih hidup tetapi bingung harus mulai dari mana. Melalui kegiatan pengabdian ini, mereka bisa dapat inspirasi: bahwa memanfaatkan lingkungan sekitar merupakan cara mudah namun efektif untuk memperkaya pembelajaran.Dari sisi masyarakat, kegiatan ini juga memberikan dampak positif. Masjid Sabilal Muhtadin adalah kebanggaan warga Banjarmasin. Ketika generasi muda dikenalkan sejak kecil kepada sejarah dan nilai yang terkandung di dalamnya, masyarakat akan merasa lebih tenang bahwa warisan ini tidak akan hilang. Pelestarian budaya tidak hanya tentang merawat bangunan, tetapi juga menanamkan rasa cinta dan peduli kepada anak-anak sebagai penerus di masa depan.Menurut pandangan saya, kegiatan pengabdian ini menciptakan hubungan yang baik antara sekolah, masyarakat, dan perguruan tinggi. Mahasiswa atau dosen yang terlibat dalam pengabdian tidak hanya mengajar, tetapi juga belajar dari realitas di lapangan. Mereka melihat bagaimana tingkat pemahaman anak-anak, kebutuhan guru, dan potensi lingkungan bisa diolah menjadi media pembelajaran yang bermanfaat. Ini menjadi bentuk kolaborasi yang sangat bagus dan jarang diperhatikan.Hal lain yang membuat kegiatan ini penting adalah kesederhanaannya. Pengabdian masyarakat sering dianggap sebagai kegiatan yang rumit dan membutuhkan biaya besar. Padahal, kegiatan seperti mengenalkan sejarah masjid kepada siswa adalah contoh pengabdian yang sederhana tetapi dampaknya besar. Anak-anak mendapatkan pengalaman baru, guru mendapat inspirasi pembelajaran, masyarakat bangga, dan perguruan tinggi menjalankan perannya secara nyata. Semua pihak merasa diuntungkan.Saya pribadi menilai kegiatan ini sebagai langkah yang sangat tepat untuk menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap kearifan lokal. Apalagi siswa SD adalah usia yang sangat mudah dibentuk. Ketika sejak kecil mereka sudah diperkenalkan dengan budaya dan sejarah daerah mereka sendiri, hal itu akan melekat dalam ingatan sampai mereka dewasa. Mereka akan tumbuh dengan identitas yang kuat, menghargai budaya Banjar, dan memiliki rasa tanggung jawab untuk menjaga warisan leluhur.Secara keseluruhan, pengabdian masyarakat yang berfokus pada pemahaman sejarah Masjid Raya Sabilal Muhtadin untuk siswa SDN Basirih 1 ini adalah kegiatan yang sederhana, menyenangkan, dan sangat bermanfaat. Harapan saya, kegiatan seperti ini tidak berhenti hanya sekali. Semoga bisa dilakukan secara berkelanjutan, bahkan mungkin diperluas ke sekolah-sekolah lain. Dengan begitu, semakin banyak anak yang mengenal sejarah daerahnya dan bangga menjadi bagian dari masyarakat Banjarmasin. 
# EDUKASI
# Pengabdian

Pentingnya Literasi Artificial Intelligence (AI) dan Pengenalan Coding Dasar bagi Siswa SD

Nor Hayati, M.Pd
1 Desember 2025
Pengalaman melaksanakan pengabdian kepada masyarakat (PKM) di Kurau, 26 November 2025 meninggalkan kesan yang begitu mendalam. bagi saya,  sebagai salah satu dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris STIKIP Islam Sabilal Muhtadih Banjarmasin. Dengan tema, Smart Kids Programme yang berfokus pada Literasi Artificial Intelligence (AI) dan Pengenalan Coding Dasar bagi Siswa Kelas 5 di SD Negeri Maluka Baulin, kami menegaskan dukungan terhadap transformasi pendidikan yang adaptif dengan perkembangan teknologi global. Pada kegiatan ini, kami mempraktikkan pendekatan pembelajaran yang interaktif. Siswa diperkenalkan konsep AI sederhana: cara kerja  intruksi AI dalam mengenali pola, dan latihan coding dasar menggunakan platform ramah anak. Pendekatan ini terbukti efektif dalam menumbuhkan keberanian siswa untuk bereksperimen serta mengembangkan pola pikir komputasional sejak dini. Kegiatan ini mengukuhkan peran saya sebagai akademisi yang konsisten memadukan keahlian pedagogis dengan inovasi teknologi dalam konteks pemberdayaan masyarakat. Program ini juga membuktikan institusi kami responsif, dan berorientasi pada kebutuhan digital masyarakat modern. Guru-guru di SD Negeri Maluka Baulin menilai bahwa program ini sangat relevan dengan kebutuhan pembelajaran abad ke-21. Mereka mengapresiasi pendekatan pengajaran yang sistematis, interaktif, dan disesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa sekolah dasar. Menurut pandangan mereka, kegiatan ini membantu memperkaya pengalaman belajar siswa, terutama dalam hal pemahaman konsep teknologi yang selama ini belum banyak diperkenalkan di sekolah.Pelaksanaan Smart Kids Programme juga mendapatkan sambutan positif dari siswa kelas 5 SD Negeri Maluka Baulin. Sebagian besar siswa menunjukkan antusiasme tinggi ketika diperkenalkan  konsep AI dan latihan coding dasar. Aktivitas berbasis permainan (game-based coding) membuat mereka merasa belajar menjadi lebih menyenangkan.  
# EDUKASI
# Pengabdian

  Youtube

Surah Ar-Rahman | Aniq Muhai

  Informasi

Selamat Hari Guru Nasional
Arah Pendidikan Nasional & Transformasi Pendidikan Lokal di Daerah
Kupas Tuntas: Kurikulum, Inklusi, dan Seni di Sekolah Dasar
Momentum Kebangkitan Nasional Melalui Peningkatan Kualitas Pendidikan