Harmoni Pembelajaran di STKIP Islam Sabilal Muhtadin: Saat Calon Guru Menguasai Seni sebagai Media Edukasi
Muhammad Agus Safrian Nur
Jumat, 28 Agu 2026 09:30 WITA
Mahasiswa STKIP ISM Banjarmasin: Praktik Pembelajaran Seni
BANJARMASIN — Suasana ruang kelas di STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin terdengar berbeda hari ini. Petikan dawai gitar yang berpadu indah dengan alunan nada dari keyboard memenuhi ruangan, menciptakan atmosfer belajar yang dinamis dan penuh energi kreatif. Bukan sekadar hiburan, riuhnya nada ini adalah bagian dari kegiatan praktik langsung mata kuliah Pengembangan Seni.
Di kampus ini, menjadi seorang pendidik masa depan tidak melulu soal teori di atas kertas atau metode ceramah yang kaku. Para mahasiswa diajak untuk melangkah lebih jauh: memahami dan menguasai seni sebagai media pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan di dalam kelas.
Seni Musik: Mengubah Kelas Menjadi Ruang Belajar yang Hidup
Dalam sesi praktik kali ini, mahasiswi STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin tampak antusias jemarinya menari di atas tuts keyboard dan menekan chord gitar. Mereka tidak sedang dicetak menjadi musisi panggung, melainkan sedang mempersiapkan diri menjadi guru inovatif yang mampu menghidupkan suasana kelas.
Melalui instrumen gitar dan keyboard, para mahasiswi belajar bagaimana menyelaraskan nada, mengaransemen lagu anak, dan memanfaatkan ketukan musik untuk menyampaikan materi pelajaran nantinya. Musik dipercaya mampu meningkatkan fokus siswa, mempermudah penyerapan materi, dan membangun kedekatan emosional antara guru dan murid.
"Di STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, kami dibekali kemampuan untuk mengubah materi pelajaran yang dianggap sulit atau membosankan menjadi konsep yang seru melalui media seni musik."
Dari Mahasiswa Menjadi Calon Guru Kreatif
Salah satu bagian yang paling menarik bagi saya sebagai pengajar adalah melihat perubahan kepercayaan diri mahasiswa.
Pada awal pembelajaran, tidak semua mahasiswa merasa mampu memainkan alat musik. Ada yang mengatakan belum pernah memegang gitar, ada yang merasa sulit mengikuti nada, dan ada pula yang sejak awal merasa bahwa dirinya tidak memiliki kemampuan dalam bidang musik.
Saya memahami keraguan tersebut.
Karena itu, dalam pembelajaran saya tidak menjadikan kemampuan musikal sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan. Saya lebih menekankan keberanian untuk mencoba, kemampuan bekerja sama, kreativitas dalam mengembangkan kegiatan, serta kemampuan menghubungkan seni dengan kebutuhan pembelajaran.
Perlahan-lahan saya melihat perubahan.
Mahasiswa yang awalnya hanya melihat temannya memainkan alat musik mulai berani mencoba. Mahasiswa yang sebelumnya merasa tidak percaya diri mulai mampu memainkan beberapa chord sederhana. Mereka kemudian saling membantu, berdiskusi, dan belajar bersama. Suasana seperti inilah yang bagi saya menunjukkan bahwa pembelajaran telah bergerak lebih jauh daripada sekadar transfer pengetahuan.
Mereka sedang belajar menjadi guru.
Seorang guru memang tidak harus menguasai seluruh alat musik. Namun, guru perlu memiliki keberanian untuk belajar dan mengembangkan dirinya. Guru juga dituntut mampu menggunakan berbagai sumber dan media yang ada di lingkungan sekitarnya untuk menciptakan pembelajaran yang menarik.
Ruang Kelas sebagai Tempat Menemukan Potensi
Sebagai seorang pengajar, salah satu kebahagiaan yang saya rasakan adalah ketika melihat mahasiswa menemukan kemampuan yang sebelumnya tidak mereka sadari.
Ada mahasiswa yang ternyata memiliki kemampuan musikal yang baik. Ada yang kreatif mengubah lirik lagu. Ada yang mampu memimpin kelompok. Ada pula yang mungkin tidak terlalu mahir memainkan alat musik, tetapi memiliki kemampuan menjelaskan dan mengembangkan ide pembelajaran dengan sangat baik.
Setiap mahasiswa memiliki potensinya masing-masing.
Tugas pendidikan bukan membuat semua mahasiswa menjadi sama. Pendidikan seharusnya memberikan ruang bagi setiap individu untuk menemukan, mengembangkan, dan menggunakan potensinya secara optimal.
Karena itu, pembelajaran seni bagi calon guru tidak semata-mata berbicara tentang kemampuan memainkan musik. Lebih jauh, kegiatan ini menjadi ruang untuk melatih kreativitas dan membangun kesiapan mahasiswa menghadapi dunia pendidikan yang terus berkembang.
Dunia pendidikan saat ini membutuhkan guru yang tidak hanya menguasai teori, tetapi juga adaptif, kreatif, komunikatif, dan mampu menghadirkan inovasi dalam pembelajaran. Guru perlu mampu membuat peserta didik merasa bahwa belajar merupakan pengalaman yang menyenangkan dan memiliki makna dalam kehidupan mereka.
Harmoni yang Lebih Besar dari Sekadar Musik
Ketika saya melihat mahasiswa memainkan gitar dan keyboard di dalam kelas, yang saya lihat sebenarnya bukan hanya sebuah praktik seni musik. Saya melihat calon-calon guru yang sedang berproses.
Hari ini mungkin mereka masih belajar menemukan chord yang benar, mengikuti tempo, atau menyesuaikan nada. Namun kelak, kemampuan sederhana tersebut bisa menjadi salah satu cara mereka menciptakan ruang kelas yang hidup.
Mungkin suatu hari salah satu dari mereka akan berdiri di depan peserta didiknya sambil memegang gitar. Mereka menyanyikan sebuah lagu sederhana untuk mengenalkan angka, warna, karakter, atau nilai-nilai kehidupan. Anak-anak mengikuti dengan gembira, bernyanyi sambil bergerak, dan tanpa mereka sadari sedang belajar melalui pengalaman yang menyenangkan.
Bagi saya sebagai pengajar, bayangan tentang masa depan itulah yang membuat proses pembelajaran hari ini menjadi berarti.
Pada akhirnya, pendidikan calon guru bukan hanya tentang berapa banyak teori yang mampu dihafalkan mahasiswa. Pendidikan adalah tentang bagaimana pengetahuan, keterampilan, kreativitas, pengalaman, dan karakter dipadukan menjadi sebuah kompetensi yang dapat digunakan ketika mereka terjun ke masyarakat.
Itulah harmoni pembelajaran yang ingin terus dibangun di STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin: sebuah proses pendidikan yang memberikan ruang bagi mahasiswa untuk belajar, mencoba, berkreasi, melakukan kesalahan, memperbaiki diri, dan bertumbuh menjadi pendidik yang inspiratif, berkarakter, serta berkompeten.
Karena pada akhirnya, seorang guru yang baik bukan hanya guru yang mampu menyampaikan pelajaran, tetapi guru yang mampu membuat peserta didiknya mencintai proses belajar.
Mengapa Kuliah di STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin?
Kegiatan praktik mata kuliah Pengembangan Seni ini menjadi salah satu bukti nyata mengapa STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin selalu unggul dalam mencetak lulusan siap kerja. Berikut adalah nilai lebih yang ditawarkan:
- Kurikulum Adaptif & Kreatif: Mahasiswa tidak hanya mendapatkan bekal teoretis bagaimana menjadi guru yang cerdas secara akademik, tetapi juga diasah keterampilannya (soft skills) agar menjadi guru yang kreatif, adaptif, dan dirindukan oleh siswa di kelas.
- Fasilitas Praktik yang Mendukung: Teori tanpa praktik adalah sia-sia. Kampus menyediakan ruang dan fasilitas instrumen musik seperti gitar dan keyboard agar setiap mahasiswa bisa langsung mencoba, gagal, memperbaiki, hingga mahir.
- Dosen Pengampu Profesional: Proses belajar dibimbing langsung oleh dosen-dosen kompeten yang memahami betul bagaimana mengintegrasikan seni ke dalam dunia pedagogi (pendidikan) modern.
Siap Menjadi Guru Masa Depan yang Menginspirasi?
Dunia pendidikan hari ini membutuhkan guru yang tidak hanya pintar, tetapi juga kreatif dan mampu menciptakan inovasi baru di ruang kelas. Jika Anda ingin menjadi bagian dari generasi pendidik modern yang multitalenta, STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin adalah tempat terbaik untuk memulai langkah Anda.
Mari bergabung bersama kami, asah potensi akademismu, dan temukan kreativitas tanpa batas untuk menginspirasi anak bangsa!
Rekomendasi
Komentar
Untuk memberikan komentar Anda harus Login