Beranda > Edukasi > Penelitian

Menyusuri Jejak Bahasa Anak di Bantaran Sungai Batola: Penelitian DPPM 2026 STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin

Novi Suma Setyawati

Jumat, 28 Agu 2026 09:27 WITA

Menyusuri Jejak Bahasa Anak di Bantaran Sungai Batola: Penelitian DPPM 2026 STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin

Penelitian Dosen STKIP ISM Banjarmasin di Batola

Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan — Penelitian tidak selalu berlangsung di ruang laboratorium dengan peralatan yang kompleks. Bagi kami, tim peneliti dari STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, penelitian justru menemukan maknanya ketika kami hadir langsung di tengah masyarakat, mendengarkan suara anak, berbincang dengan guru, serta melihat bagaimana lingkungan membentuk pengalaman belajar mereka.

Pada tahun 2026, tim penelitian yang terdiri atas Novi Suma Setyawati, M.Pd. (Dosen PAUD) sebagai ketua, bersama Armin Fani, M.Pd. (Dosen Pendidikan Bahasa Inggris/PBI) dan Zulparis, M.Pd. (Dosen PGSD) melaksanakan kegiatan penelitian di dua Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan Kuripan, Kabupaten Barito Kuala (Batola). Kedua sekolah tersebut berada di wilayah bantaran sungai yang memiliki karakter sosial, budaya, dan kebahasaan yang khas.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memahami kesiapan berbahasa Indonesia anak penutur Bakumpai dan Banjar pada masa transisi PAUD–SD, khususnya melalui pengamatan terhadap kompetensi fonologi dan leksikal anak. Wilayah bantaran sungai dipilih bukan tanpa alasan. Kehidupan masyarakat di kawasan ini sangat dekat dengan interaksi sosial, tradisi lokal, dan penggunaan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi tersebut memberikan konteks yang penting untuk memahami bagaimana anak membangun kemampuan berbahasa sebelum dan ketika memasuki lingkungan pendidikan formal.

Dari Ruang Kelas hingga Percakapan dengan Anak

Salah satu bagian penting dari kegiatan penelitian adalah proses pengumpulan data secara langsung. Tim peneliti berinteraksi dengan anak secara individual melalui kegiatan yang dirancang untuk memperoleh gambaran kemampuan bahasa mereka. Suasana pengumpulan data dibuat senyaman mungkin agar anak dapat berkomunikasi secara alami.

Foto kegiatan memperlihatkan proses ketika peneliti melakukan interaksi langsung dengan seorang anak. Posisi duduk yang berhadapan dan suasana percakapan yang santai menjadi bagian dari strategi membangun komunikasi dengan peserta penelitian. Dalam konteks penelitian bahasa anak, pendekatan seperti ini penting karena kemampuan bahasa tidak hanya dapat dilihat dari jawaban tertulis, tetapi juga dari cara anak memahami pertanyaan, memilih kosakata, mengucapkan kata, dan menyampaikan gagasan.


Di ruang kelas lainnya, tim juga mengamati aktivitas pembelajaran serta kondisi lingkungan belajar. Berbagai gambar menunjukkan bahwa sekolah menjadi ruang yang mempertemukan bahasa Indonesia sebagai bahasa pendidikan dengan bahasa daerah yang hidup dalam lingkungan sosial anak. Situasi tersebut memberikan gambaran nyata mengenai kompleksitas pengalaman kebahasaan anak di daerah.

Penelitian yang Hadir di Tengah Masyarakat

Bagi kami, kegiatan ini bukan sekadar proses memenuhi tahapan penelitian dan menghasilkan luaran akademik. Turun langsung ke sekolah memberikan pengalaman penting bahwa penelitian pendidikan harus mampu membaca realitas secara kontekstual.

Anak-anak yang menjadi bagian dari penelitian menunjukkan antusiasme ketika berinteraksi dengan tim. Kebersamaan setelah kegiatan, termasuk dokumentasi bersama siswa dan guru, menjadi bukti bahwa proses penelitian dapat berlangsung dalam suasana yang edukatif, humanis, dan menyenangkan.

Kegiatan ini juga memperlihatkan pentingnya kolaborasi lintas bidang di lingkungan STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin. Perspektif PAUD, Pendidikan Bahasa Inggris, dan PGSD saling melengkapi dalam melihat perkembangan bahasa anak dari berbagai sudut pandang.

Dari Bantaran Sungai untuk Pendidikan yang Lebih Kontekstual


Pengalaman penelitian di Kecamatan Kuripan memberikan pesan penting: setiap anak memiliki perjalanan kebahasaan yang dipengaruhi oleh keluarga, komunitas, budaya, dan lingkungan sekolahnya. Karena itu, upaya meningkatkan kesiapan anak memasuki pendidikan dasar tidak dapat dilepaskan dari konteks bahasa dan budaya tempat anak tumbuh.

Melalui penelitian DPPM 2026 ini, tim berharap data yang diperoleh dapat menjadi dasar pengembangan pemahaman yang lebih kuat mengenai kesiapan berbahasa Indonesia anak di lingkungan multidialek. Lebih jauh, hasil penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi guru dalam merancang pembelajaran yang lebih responsif terhadap latar belakang bahasa anak.

Bagi kami, perjalanan penelitian di bantaran sungai Batola bukan hanya perjalanan akademik. Ia adalah perjalanan untuk mendengar, memahami, dan menghadirkan ilmu pengetahuan lebih dekat dengan kehidupan anak-anak Indonesia.

WhatsApp

  Rekomendasi

  Komentar

Untuk memberikan komentar Anda harus Login

  Informasi

Selamat Hari Guru Nasional
Arah Pendidikan Nasional & Transformasi Pendidikan Lokal di Daerah
Kupas Tuntas: Kurikulum, Inklusi, dan Seni di Sekolah Dasar
Momentum Kebangkitan Nasional Melalui Peningkatan Kualitas Pendidikan