Beranda > Edukasi > Opini

Pelajaran dari H. Juman: Praktik Lintas Sektoral Prinsip-Prinsip Manajemen

Iwan Perdana

Selasa, 9 Jun 2026 09:11 WITA

Pelajaran dari H. Juman: Praktik Lintas Sektoral Prinsip-Prinsip Manajemen

H. Juman

M. Jurmansyah S.Pd, yang akrab disapa H. Juman, adalah sosok sentral di balik berdirinya dan keberlangsungan Klub Berkah FC. Lahir di Palangkaraya, 26 Juni 1970, pria yang berprofesi sebagai Kepala MTSN 1 Kota Banjarmasin ini memiliki prinsip hidup yang unik, yakni “berusaha menyenangkan hati orang lain walau tidak sesuai dengan keadaan kita,” ujarnya pada Minggu (7/6/2026).

Ada cerita menarik di balik nama Berkah FC. Ternyata, klub ini awalnya bernama Juman FC. “Tapi kawan-kawan mengganti nama supaya ada keberkahan,” ungkap H. Juman. Pergantian nama klub ini diiringi doa dan harapan agar seluruh pemain dan pengurus selalu sehat penuh keberkahan, dan kerja sama tim membawa kegembiraan, kebaikan bersama.
Kiri ke kanan: H. Zahrani, Budi, H. Juman, Alamsyah

Sejak kecil H. Juman sudah jatuh hati pada sepak bola. Baginya, bola bukan sekadar mencatatkan nama di papan skor, melainkan sarana untuk berbagi pengalaman, menyambung silaturahmi, dan mengenal daerah lain. “Ini olahraga yang paling banyak disukai orang di muka bumi,” akunya. “Melalui sepak bola, kita bisa menyambung tali silaturrahmi dan asyiknya lagi mengenal daerah lain saat laga tandang persahabatan,” tambahnya lagi.

Namun, cinta yang besar itu berhadapan dengan realitas di lapangan. Menurut H. Juman, kompetisi sepak bola di Kalimantan Selatan masih belum ideal. “Kejuaraan antar SSB dan kelompok umur jarang dilakukan. Harusnya diperbanyak  dan dilaksanakan secara teratur untuk menjaring bibit-bibit muda berbakat,” keluhnya. “Jangan cuma klub sepak bola legenda yang maju—para pemain tua yang tetap berkibar, sementara bibit-bibit muda kekurangan panggung,” tuturnya.

Ditanya klub sepak bola yang disukai di kancah Nasional, H. Juman tanpa ragu mengatakan ngefans klub sepak bola asal Kota Bandung, Persib Bandung, yang sukses meraih gelar juara liga 3 musim berturut-turut (hattrick): 2023/2024, 2024/2025, dan 2025/2026. Adapun di pentas internasional, Ia menyebutkan Manchester United (MU. “Saya suka gaya bermain tim “Maung Bandung” dan “The Red Devils,” ungkapnya.  Gaya menyerap kedua tim idamannya itu ikut mempengaruhi strategi Berkah FC, misalnya dalam mengutamakan serangan cepat dan tekanan sejak awal pertandingan.

Tidak hanya memimpin MTSN 1 Kota Banjarmasin, sekolah di bawah naungan Kemenag dengan visi "Mewujudkan generasi yang beriman, berilmu, berakhlak mulia, terampil dan mampu mengaktualisasikan diri dalam kehidupan bermasyarakat” H. Juman juga aktif mengelola tim sepak bola. Beliau didaulat menjadi Ketua Klub sepak bola All Star Kalsel. Saat menerima amanah, Ia menyampaikan visi membawa tim All Star dikenal  masyarakat sepak bola se-Kalsel, dengan mengikuti even-even penting dan menjadi juara. Visi serupa disematkan pada Berkah FC, tim yang juga Ia bina.

Terkait pengelolaan Berkah FC, Sebagai pembina, Ia mengaku terkadang bingung memilih pemain saat akan bertanding. “Semua pemain memiliki karakteristik dan kemampuan yang baik,”akunya. “Antusiasme pemain yang ingin berpartisipasi mengikuti kompetisi menjadi berkah sekaligus dilema saat menyusun formasi tim,” jelasnya.

Saat ditanya, tim apa yang dipilihnya jika suatu saat All Star Kalsel bertemu Berkah FC di kompetisi resmi? Pertanyaan ini seperti menjebaknya dalam dua cinta. H. Juman tidak memilih. Dengan bijak, Ia menjawab, “Saya berdiri di tengah-tengah sebagai penonton, untuk memonitor dan mengevaluasi ke depannya.”
H, Juman

Prinsip dan pendekatan H. Juman dalam mengelola klub sepak bola ternyata sejalan dengan nilai-nilai manajemen pendidikan yang Ia terapkan sehari-hari sebagai kepala MTSN 1 Kota Banjarmasin. Berikut beberapa poin yang berkaitan:

1. Prinsip "Menyenangkan Hati Orang Lain" vs. Pelayanan Prima dalam Pendidikan

Seorang pemimpin satuan pendidikan dituntut memiliki orientasi pelayanan (service excellence) kepada siswa, guru, orang tua, dan masyarakat. Prinsip H. Juman—"berusaha menyenangkan hati orang lain walau tidak sesuai dengan keadaan kita"—merupakan wujud nyata dari filosofi customer satisfaction dalam konteks pendidikan. Kepala madrasah mungkin tidak selalu bekerja dalam zona nyaman, tetapi Ia harus berusaha memenuhi harapan semua pihak yang berkepentingan, dan demi kemajuan lembaga yang dipimpinnya. Namun prinsip ini tidak dapat diterjemahkan sebagai tindakan menyenangkan semua orang secara membabi buta (people pleasing), melainkan harus bersandar pada skala prioritas dan regulasi.

2. Nama "Berkah" sebagai Branding dan Nilai Spiritual

Branding lembaga yang kuat mencerminkan nilai-nilai luhur. Pengubahan nama dari "Juman FC" menjadi "Berkah FC" menunjukkan kesadaran H. Juman akan pentingnya nilai spiritual dan harapan kolektif. Hal ini serupa dengan visi madrasah yang Ia pimpin: "Mewujudkan generasi yang beriman, berilmu, berakhlak mulia..." Keduanya menempatkan keberkahan dan akhlak sebagai fondasi utama, bukan sekadar prestasi materi semata.

3. Kepemimpinan Partisipatif: Mendengar Masukan Kawan-Kawan

Kesediaan H. Juman mengganti nama klub karena usulan "kawan-kawan" mencerminkan gaya kepemimpinan partisipatif (participative leadership). Kepala madrasah yang ideal tidak bersikap otoriter, tetapi membuka ruang dialog dengan guru, komite sekolah, dan siswa.

4. Manajemen Talenta: Dilema Antusiasme vs. Formasi

Pengakuan H. Juman bahwa Ia "bingung memilih pemain karena semua bermain baik " adalah cerminan dari tantangan manajemen talenta di dunia pendidikan. Kepala madrasah sering dihadapkan pada kondisi kelebihan SDM yang berkualitas. Tugas pemimpin adalah menempatkan orang yang tepat di tempat yang tepat (the right man on the right place)—sama seperti menyusun formasi tim sepak bola. Antusiasme yang tinggi adalah berkah, tetapi jika tidak dikelola dengan sistem yang baik, dapat berubah menjadi dilema.

5. Evaluasi Netral: Berdiri di Tengah sebagai Penonton

Jawaban H. Juman saat ditanya memilih tim mana jika All Star Kalsel bertemu Berkah FC—"Saya berdiri di tengah-tengah sebagai penonton, untuk memonitor dan mengevaluasi"—adalah praktik evaluasi yang objektif. Kepala madrasah tidak diperkenankan menunjukkan keberpihakan emosional kepada para guru yang dipimpinnya atau mengistimewakan program tertentu. Kepala madrasah harus menilai kinerja guru dan program berdasarkan instrumen evaluasi yang valid, transparan, dan terukur.

6. Visi Berkelanjutan: Mengikuti Even Penting dan Menjadi Juara

Visi H. Juman untuk All Star Kalsel dan Berkah FC—mengikuti even penting dan menjadi juara— sejalan dengan manajemen berbasis target (Goal-Oriented Management). Sebuah madrasah eksis tidak hanya sekadar untuk memperoleh akreditasi atau mengikuti kompetisi akademik, tetapi bertekad meraih prestasi tertinggi.


Praktik yang ditunjukkan oleh H. Juman membuktikan bahwa prinsip-prinsip manajemen umum bersifat lintas sektoral. Apa yang dipelajari di dunia sepak bola—seperti kerja sama tim, disiplin, strategi, taktik, dan evaluasi hasil pertandingan—sangat bisa diadopsi untuk memimpin lembaga pendidikan.

WhatsApp

  Rekomendasi

  Komentar

Untuk memberikan komentar Anda harus Login

  Informasi

Selamat Hari Guru Nasional
Arah Pendidikan Nasional & Transformasi Pendidikan Lokal di Daerah
Kupas Tuntas: Kurikulum, Inklusi, dan Seni di Sekolah Dasar
Momentum Kebangkitan Nasional Melalui Peningkatan Kualitas Pendidikan