Pengabdian Tepat Guna: STKIP ISM Banjarmasin dan Yayasan Lanting Literasi untuk Anak-Anak di Banjarmasin.
Armin Fani
Rabu, 3 Jun 2026 11:33 WITA
Pelaksanaan Pengajaran Bahasa Inggris Kolaborasi STKIP ISM Banjarmasin dan Yayasan Lanting Literasi Indonesia
Perguruan tinggi tidak hanya memiliki tanggung jawab dalam bidang pendidikan dan penelitian, tetapi juga pengabdian kepada masyarakat. Melalui kegiatan pengabdian, ilmu pengetahuan yang dikembangkan di lingkungan akademik dapat hadir secara nyata dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Inilah esensi dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang sesungguhnya: menjadikan kampus sebagai bagian dari solusi atas berbagai kebutuhan dan tantangan yang dihadapi masyarakat.
Salah satu bentuk pengabdian yang memiliki dampak nyata dan berkelanjutan adalah program pengajaran Bahasa Inggris bagi anak-anak. Di tengah perkembangan dunia yang semakin terhubung secara global, kemampuan berbahasa Inggris menjadi salah satu keterampilan penting yang perlu diperkenalkan sejak usia dini. Namun demikian, tidak semua anak memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pengalaman belajar Bahasa Inggris yang menarik dan berkualitas. Kondisi inilah yang menjadi latar belakang pelaksanaan program pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin melalui kegiatan pengajaran Bahasa Inggris untuk anak-anak di Kota Banjarmasin.
Program ini dilaksanakan melalui kolaborasi dengan Yayasan Lanting Literasi, sebuah komunitas yang selama ini aktif bergerak dalam bidang pendidikan dan pengembangan literasi masyarakat. Lembaga ini didirikan oleh Bapak Iwan Perdana, Ph.D., seorang akademisi dan pegiat literasi yang memiliki perhatian besar terhadap peningkatan kualitas pendidikan anak-anak di Kalimantan Selatan. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan komunitas pendidikan seperti ini menjadi contoh nyata bagaimana sinergi berbagai pihak dapat menghasilkan program yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan di daerah Sungai Miai, Banjarmasin.
Konsep utama yang diusung dalam kegiatan ini adalah pengabdian tepat guna. Artinya, kegiatan yang dilakukan tidak sekadar memenuhi kewajiban institusional, tetapi benar-benar dirancang berdasarkan kebutuhan riil masyarakat. Dalam konteks ini, pengajaran Bahasa Inggris dipilih karena dianggap mampu memberikan bekal keterampilan yang berguna bagi anak-anak dalam menghadapi perkembangan pendidikan dan dunia kerja di masa depan. Pendekatan yang digunakan dalam program ini berbeda dengan pembelajaran formal yang umumnya ditemukan di ruang kelas. Anak-anak diajak belajar melalui berbagai aktivitas yang menyenangkan, seperti permainan edukatif, lagu-lagu berbahasa Inggris, storytelling, role play, serta berbagai kegiatan interaktif lainnya. Pendekatan ini dipilih karena anak-anak pada dasarnya belajar lebih efektif ketika mereka merasa nyaman, senang, dan terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran.
Suasana belajar yang santai dan komunikatif membuat anak-anak lebih berani mencoba menggunakan kosakata dan ungkapan sederhana dalam Bahasa Inggris. Kesalahan tidak dipandang sebagai kegagalan, melainkan sebagai bagian alami dari proses belajar. Dengan cara ini, rasa percaya diri anak-anak dapat tumbuh secara bertahap seiring meningkatnya kemampuan berbahasa mereka. Lebih dari sekadar mengajarkan kosakata atau tata bahasa, program ini juga berupaya menanamkan rasa ingin tahu, keberanian berkomunikasi, serta semangat belajar sepanjang hayat kepada anak-anak. Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi penting dalam membentuk generasi yang siap menghadapi tantangan masa depan. Ketika anak-anak memperoleh pengalaman belajar yang positif, mereka tidak hanya mendapatkan pengetahuan baru, tetapi juga membangun keyakinan bahwa belajar adalah aktivitas yang menyenangkan.
Bagi STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, program ini juga menjadi sarana pembelajaran yang sangat berharga bagi para dosen. Melalui keterlibatan langsung dalam kegiatan pengabdian, para dosen memperoleh kesempatan untuk menjembatani pemahaman teoris dengan kemampuan praktis di dunia nyata. Mereka belajar memahami karakteristik peserta didik, merancang aktivitas pembelajaran yang menarik, serta mengembangkan keterampilan komunikasi.
Di sisi lain, keberadaan Lanting Literasi sebagai mitra strategis turut memberikan kontribusi yang signifikan terhadap keberhasilan program. Pengalaman Yayasan tersebut dalam mendampingi masyarakat dan membangun budaya literasi menjadi modal penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang ramah anak. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa peningkatan kualitas pendidikan akan jauh lebih efektif melalui kerja sama yang kuat antara perguruan tinggi, komunitas, pemerintah, dan masyarakat untuk menghasilkan dampak yang lebih luas. Pada akhirnya, pengabdian masyarakat yang tepat guna adalah pengabdian yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus memberikan dampak yang berkelanjutan dengan hadir secara nyata di tengah masyarakat melalui kontribusi keilmuan yang dimilikinya.
Melalui kolaborasi antara STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin dan Yayasan Lanting Literasi, semangat pendidikan tidak hanya tumbuh di lingkungan kampus, tetapi juga menjangkau ruang-ruang belajar masyarakat. Berasal dari kelas-kelas sederhana, permainan dan cerita yang dibagikan dengan penuh antusias, lahirlah harapan-harapan baru untuk mengubah masa depan. Dengan demikian, pengabdian yang baik selalu dimulai dari keberanian untuk hadir, mendengar, dan bertumbuh bersama masyarakat.
Rekomendasi
Komentar
Untuk memberikan komentar Anda harus Login