Refleksi Spiritual dan Kebersamaan Sivitas Akademika Kampus Visioner di Penghujung Ramadan 2026
Iwan Perdana
Kamis, 19 Mar 2026 11:56 WITA
Bukber Kampus Visioner, 9 Maret 2026
Ramadan kali ini terasa berbeda, setidaknya bagi Novi Suma Setyawati, Ketua LPPM STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, harus menerima kenyataan pahit tentang sebuah 'kursi kosong'. Sosok Ayah yang biasanya menjadi pilar di meja makan saat berbuka, kini hanya tinggal kenangan. "Ramadan tahun ini menghadirkan duka mendalam atas ketidakhadiran Ayah," tuturnya lirih. Namun, di balik awan mendung itu, Novi menemukan pelangi kecil berupa pelajaran tentang keikhlasan yang lebih luas—sebuah makna kesabaran yang ia bawa hingga ke meja kerja.
Senada dengan Novi, Rizki Nugerahani, Ketua LPM, juga merasakan ruang hampa yang sama. Kerinduannya pada masakan dan perhatian Ibu adalah luka yang masih basah. Baginya, Ramadan bukan lagi soal kemeriahan pasar wadai, melainkan sebuah perjalanan ruhaniah untuk kembali 'pulang' kepada Allah di sisa sepuluh malam terakhir. Ia ingin menjadikan setiap sujudnya sebagai jembatan rindu kepada sang Ibu yang telah mendahului.
Duka Novi dan Rizki dirasakan pula oleh Nurul, " Ramadan tahun ini adalah ramadan tahun ke-4 tanpa kedua orang tua. Suasana buka puasa bersama terasa begitu berbeda", ucapnya sedih.

Di sudut lain kampus, Yuliana Nurhayati, Wakil Ketua Bidang Kemahasiswaan dan kerja sama, memotret Ramadan 2026 sebagai momentum 'pemangkas jarak'. Agenda buka puasa bersama di kampus bukan sekadar seremoni. "Semoga momentum kebersamaan dosen, tendik, dan mahasiswa ini menjadi momentum mempererat silaturahmi," harap Yuliana. Ia bahkan bermimpi, tahun depan pintu kampus akan terbuka lebih lebar untuk masyarakat sekitar dan kaum dhuafa, mengubah kesalehan individu menjadi kesalehan sosial.
Vebrianti Umar, Wakil Ketua Bidang Akademik memahami puasa bukan sekadar urusan menahan lapar dan dahaga. Ia melihatnya sebagai laboratorium karakter. “Di Ramadan ini, saya belajar untuk menjadi pribadi yang lebih sabar, tenang, ikhlas dalam menghadapi berbagai situasi, dan berlatih mewujudkan nilai kemanusiaan dalam bentuk tindakan nyata, bukan sekadar teori saja demi kebaikan Bersama”, tambahnya.

Waktu memang pencuri yang lihai. Ramadan terasa cepat sekali berlalu. Armin Fan, Halima Chairia, Zulfaris, Maulidha, Supian Sauri, Norhayati dan Tiara merasakannya. Kenyataan ini menumbuhkan rasa haru yang mengganjal di hati mereka saat menyadari banyak target ibadah yang belum tuntas. Muncul ketakutan yang menimbulkan sebuah pertanyaan, “akankah berjumpa Ramadan tahun berikutnya?“.
"Semoga hasil Ramadan ini menjadikan saya konsisten dan khusyuk dalam beribadah, membaca al qur'an, dan bersedekah di luar Ramadan,” ucap Norhayati menguatkan hati. "Ulun sangat bersyukur ramadan tahun menjadikan saya pribadi yang lebih baik dari sebelumnya", ucap Junaidi. Tapi juga sedih karena suasana ibadah, ketenangan hati dan kebersamaan yang indah akan segera berlalu, tegasnya.
Muhammad Agus Safrian mengatakan Ramadan mengajarkannya menjalani hidup tanpa tergesa, belajar menerima, dan bersyukur. Sementara Novi Nurdian, Kaprodi PGSD, mengakui bahwa menjaga ritme antara produktivitas kerja dan kekhusyukan ibadah bukanlah perkara mudah. Ia merasa tertantang untuk tetap optimal di kantor tanpa kehilangan esensi spiritual meski Ramadan telah berlalu. Serupa dengan Muhammad Juanda yang pandangannya tentang hidup dan ibadah berubah. “Ramadan menjadi bekal berharga untuk melanjutkan pengabdian di dunia pendidikan setelah bulan suci berlalu,” ujarnya. "InsyaAllah, akan semakin menjadi pribadi yang baik, dan ssmakin profesional menjalankan tugas", jawab Tati Akhbariyah melalui pesan WhatsApp.
Pada akhirnya, Ramadan 2026 di Kampus Visioner adalah sebuah mosaik; ada air mata kerinduan, ada tawa di meja berbuka, dan ada niat untuk menjadi manusia yang lebih peka terhadap sesama, juga meningkatkan profesionalitas kerja.
Rekomendasi
Komentar
Untuk memberikan komentar Anda harus Login