Tiga Nilai Dasar yang Wajib Dimiliki Sivitas Akademika STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin: Terima Kasih, Tenggang Rasa, dan Rasa Malu
Barendz Umar
Selasa, 2 Jun 2026 21:03 WITA
Sivitas Akademika STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin
Salah satu rutinitas yang tidak boleh dilewatkan dosen dan tenaga kependidikan STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin adalah berkumpul di Laboratorium Microteaching sebelum pulang. Kegiatan sederhana ini bukan hanya menjadi ruang pertemuan informal, tetapi juga menjadi momentum untuk melakukan refleksi, memperkuat kebersamaan, serta mengevaluasi tanggung jawab setiap sivitas akademika dalam memajukan institusi.
Dalam kesempatan tersebut, Bapak Iwan Perdana, Ph.D. senantiasa memberikan nasihat dan membimbing sivitas akademika STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin. Menurut beliau, menjadi dosen bukan hanya persoalan kepintaran akademik, kemampuan mengajar, atau penguasaan materi perkuliahan. Lebih dari itu, seorang dosen dan tenaga kependidikan harus memiliki kepedulian, kesadaran moral, serta kemauan untuk memberikan kontribusi terbaik bagi kampus. Tiga sikap yang harus dimiliki adalah rasa terima kasih, tenggang rasa, dan rasa malu.
1. Terima Kasih
Kemampuan berterima kasih mencerminkan kedewasaan dan kerendahan hati. Seorang akademisi yang mampu berterima kasih tidak akan menganggap kesempatan, kepercayaan, dan dukungan yang diperolehnya sebagai sesuatu yang biasa saja. Ia menyadari bahwa setiap pencapaian tidak pernah lahir dari usaha pribadi semata, tetapi juga melibatkan peran orang lain.
Di lingkungan STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, rasa terima kasih dapat diwujudkan dengan menghargai pimpinan atas berbagai kesempatan dan kebijakan yang memperhatikan aspek kemanusiaan. Rasa terima kasih juga perlu ditunjukkan kepada rekan kerja yang telah membantu menyelesaikan pekerjaan, kepada mahasiswa yang memberikan kepercayaan kepada dosen untuk membimbing proses pembelajarannya, serta kepada seluruh pihak yang berkontribusi terhadap kemajuan kampus.
Namun, rasa terima kasih tidak cukup hanya disampaikan melalui ucapan. Bentuk terima kasih yang paling nyata adalah bekerja dengan sungguh-sungguh, menjaga amanah, meningkatkan kualitas pelayanan, serta berupaya memberikan hasil terbaik sesuai dengan tugas dan tanggung jawab masing-masing.
2. Tenggang Rasa
Tenggang rasa merupakan kemampuan untuk memahami keadaan, kebutuhan, dan perasaan orang lain. Dalam lingkungan kerja, setiap individu memiliki tanggung jawab, tantangan, dan keterbatasan yang berbeda. Oleh karena itu, dosen dan tenaga kependidikan harus mampu membangun hubungan kerja yang saling menghargai.
Implementasi tenggang rasa dapat dimulai dari hal-hal sederhana, seperti menjaga cara berkomunikasi, menghargai waktu orang lain dan membantu rekan kerja yang mengalami kesulitan. Tenggang rasa juga berarti mampu menyampaikan kritik dengan cara yang tepat dan menerima perbedaan pendapat secara dewasa.
Kampus yang maju bukan hanya dibangun oleh individu-individu yang cerdas, tetapi juga oleh orang-orang yang mampu bekerja sama secara harmonis. Kepintaran tanpa tenggang rasa berpotensi melahirkan konflik. Sebaliknya, tenggang rasa yang disertai tanggung jawab akan menciptakan lingkungan kerja yang sehat, produktif, dan saling menguatkan.
3. Rasa Malu
Rasa malu bukanlah sikap minder atau takut menyampaikan pendapat. Rasa malu yang dimaksud adalah kesadaran moral yang menjaga seseorang agar tidak mengabaikan tanggung jawabnya. Rasa malu menjadi pengingat internal agar setiap dosen dan tenaga kependidikan bekerja dengan benar, jujur, dan profesional, meskipun tidak selalu diawasi.
Malulah apabila tidak bekerja dengan sungguh-sungguh. Malulah apabila mengabaikan tanggung jawab. Malulah apabila datang terlambat tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Malulah apabila tidak memberikan pelayanan yang baik. Malulah apabila tidak menjadi teladan bagi mahasiswa. Malulah apabila tidak berusaha meningkatkan kompetensi. Malulah apabila hanya menuntut hak, tetapi melupakan kewajiban.
Seorang dosen memiliki tanggung jawab yang besar karena perilakunya tidak hanya memengaruhi lingkungan kerja, tetapi juga menjadi contoh bagi mahasiswa. Kontribusi terbaik yang diberikan kepada kampus secara tidak langsung akan berdampak pada peningkatan kualitas pendidikan, kemajuan masyarakat, dan kemajuan bangsa. Pada akhirnya, keberhasilan institusi juga akan membawa kebermanfaatan bagi setiap individu di dalamnya.
Untuk menjadi bagian dari STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, dosen dan tenaga kependidikan tidak cukup hanya memiliki kemampuan akademik dan administratif. Setiap individu juga perlu menjadikan rasa terima kasih, tenggang rasa, dan rasa malu sebagai standar sikap dalam bekerja. Ketiga nilai tersebut harus terus dipahami, dijaga, dan diimplementasikan secara konsisten dalam aktivitas sehari-hari. Budaya kerja yang baik tidak terbentuk hanya melalui aturan tertulis, tetapi lahir dari kebiasaan yang dilakukan secara sadar dan berulang-ulang.
Terima kasih setinggi-tingginya kepada Bapak Iwan Perdana, Ph.D. yang tidak pernah lelah membimbing sivitas akademika STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin untuk membangun cara berpikir yang benar, sikap kerja yang bertanggung jawab, serta kepedulian terhadap kemajuan institusi.
Jayalah STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin.
Rekomendasi
Komentar
Untuk memberikan komentar Anda harus Login