Beranda > Edukasi

  Postingan Terbaru

Guru Bimbingan Konseling : Di Tangan Mereka, Gawang Sekolah Bertumpu

Iwan Perdana
13 Maret 2026
Yuliana Nurhayati, M.Pd — Wakil Ketua Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama STKIP Islam Sabilal MUhtadin Banjarmasin — menegaskan layanan Bimbingan dan konseling di sekolah sangat diperlukan. “Bimbingan dan konseling (BK) di sekolah sangat penting untuk mengoptimalkan perkembangan pribadi, sosial, belajar, dan karir siswa. Selain membantu menangani pelanggaran aturan dan masalah etika siswa, layanan BK juga meringankan tugas guru lain serta menjadi tempat konsultasi yang aman bagi siswa karena dijamin kerahasiaannya oleh kode etik profesi”, jelasnya (Jumat, 13/3/2026).Mengaminkan pernyataan tersebut, Tati Akhbariyyah, S.S., Gr., S.Pd., M.Pd. (Kandidat Doktor), Dosen pengampu mata kuliah Pengantar Bimbingan Konseling SD STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin  menyatakan bahwa peran guru BK tidak hanya membantu menyelesaikan masalah, tetapi juga sebagai pengembang potensi, bakat, dan perencana karir siswa.Pendapat 2 dosen kampus Visioner tersebut menginspirasi saya membuat tulisan singkat tentang besarnya peran Guru BK di sekolah dengan menganalogikannya dengan Peran Kiper dalam sebuah tim sepak bola. Saya teringat Bang Amat, Kiper Berkah FC dan Bersaudara FC. Suaranya lantang mengingatkan pergerakan rekan setim, sekaligus memperingatkan Kawan agar tak lengah mengawasi pemain lawan. Meski usia terus bertambah, di lapangan bola, Bang Amat tetap sosok yang saya kenal 40 tahun silam: energik, penuh semangat.Sepanjang ingatan saya, dulu Mat Eloy—panggilan akrab Bang Amat—kerap mengisi posisi gelandang bertahan, kadang turun sebagai bek, namun paling sering berdiri kokoh di bawah mistar sebagai kiper. Kini, di usianya yang tak lagi muda, ia masih setia memainkan peran serupa: menjaga, mengatur, dan menjadi denyut yang menghidupkan permainan.Melihat Kawan masa kecil ini, saya  teringat Jorge Campos, kiper ikonik Meksiko. Pemain bertinggi badan 168 cm yang gemar mengenakan jersey warna warni. Refleksnya cepat dan memiliki kemampuan bermain sebagai striker. Tugas kiper tidaklah mudah. Sebagai pemain terakhir yang berada di barisan belakang, dengan keistimewaan diizinkan menggunakan tangan dan kaki tugasnya memastikan tidak terjadi gol dengan cara menangkap atau menepis yang ditendang pemain lawan. Kiper juga berperan mengatur pertahanan, mendistribusikan bola, dan membangun serangan dari belakang.  Meskipun kemenangan tim merupakan buah kerja sama seluruh pemain, posisi kiper kerap menjelma sebagai pahlawan tak terlihat (unsung hero) yang perannya krusial bagi keberhasilan di lapangan. Di sekolah, saya melihat salah satu guru bidang studi yang memainkan peran ini adalah guru bimbingan konseling. Saya menganalogikan Kiper dalam sebuah tim sepak bola untuk fungsi Guru Bimbingan dan Konseling (BK) di sekolah dengan mencari persamaan strategis dan manajerial mereka sebagai berikut:1.        Pertahanan terakhirKiper adalah harapan terakhir tim mencegah bola masuk ke gawang ketika seluruh pemain belakang berhasil dilewati oleh "serangan" lawan. Guru BK menjadi benteng terakhir untuk "menyelamatkan" siswa yang tidak bisa diatasi guru mata Pelajaran/ wali kelas karena dianggap gagal secara akademik, emosional, atau sosial karena masalah pribadi yang dalam, konflik berat, atau krisis.2.        Analisis MasalahTidak hanya menangkap bola, seorang kiper juga mampu membaca permainan. Ia tahu kemana bola akan diarahkan, memahami pola serangan lawan, dan memberi instruksi ke para pemain bertahan untuk menutup celah. Guru BK dituntut jeli membaca situasi dan gejala masalah: mengamati perubahan perilaku siswa, memahami dinamika kelas, dan menganalisis akar masalah (apakah itu masalah keluarga, pertemanan, atau belajar). Dari "bacaan" tersebut, Guru BK memberikan saran strategis kepada guru dan orang tua tentang cara terbaik mendampingi siswa/i.3.        Transisi dan Tindak Lanjut Memulai SeranganSetelah menangkap bola, kiper tidak diam. Ia adalah inisiator pertama serangan melalui lemparan atau tendangan yang akurat memberikan bola agar bisa langsung menciptakan peluang bagi timnya untuk mencetak gol. Setelah "menangkap" masalah siswa, Guru BK memulai "serangan balik" positif: memberikan arahan, motivasi, dan rencana tindak lanjut. Mereka menghubungkan siswa dengan sumber daya yang dibutuhkan: bimbingan belajar, konseling lebih lanjut, atau kegiatan positif; agar siswa bisa kembali "menyerang" meraih prestasi dan masa depannya.4.        Memiliki Perspektif yang Lebih Luas Berada di belakang memberikan keuntungan bagi kiper melihat lapangan dari berbagai sudut pandang: kekompakan barisan belakang, lubang di lini tengah, dan posisi pemain lawan yang mengancam. Guru BK melihat gambaran besar dari perkembangan siswa: Interaksi siswa di semua mata Pelajaran, dengan semua guru, dan dengan teman-temannya. Perspektif holistik ini memungkinkan Guru BK memberikan bimbingan yang tidak parsial, tetapi menyeluruh untuk kepentingan jangka panjang siswa.5.        Ketenangan di Bawah Tekanan (Manajemen Krisis)Kiper dituntut untuk tetap tenang, fokus, dan tidak panik, terlebih lagi pada saat injury time dan tim lawan terus menekan. Guru BK sering berhadapan dengan situasi krisis: siswa bermasalah, konflik antar siswa, atau orang tua yang marah. Di sinilah fungsi mereka sebagai "kiper" diuji. Guru BK harus menjadi pribadi yang paling tenang, bisa meredam emosi, dan berpikir jernih untuk mencari solusi terbaik. 6.        Peralatan Khusus dan Area Kerja yang Berbeda (Profesionalisme)Kiper adalah satu-satunya pemain yang boleh menggunakan tangan dan memiliki seragam yang berbeda. Area kerjanya adalah kotak penalti. Ini menunjukkan spesialisasi. Guru BK memiliki keahlian khusus yang tidak dimiliki guru biasa: konseling, psikologi pendidikan. Mereka juga memiliki kode etik profesional yang membedakannya dari profesi guru lainnya, seperti halnya kiper yang punya aturan main berbeda di dalam kotak penalti. Ruang BK adalah area kerja Guru BK yang aman dan nyaman, berbeda dari ruang kelas pada umumnya. Dalam manajemen sekolah, Guru BK bukan sebagai "polisi sekolah" atau "tukang catat poin pelanggaran", melainkan sebagai kiper andalan. Mereka adalah spesialis pertahanan mental dan emosional siswa, yang membaca arah masalah, menjadi benteng terakhir, sekaligus memulai transisi siswa menuju kesuksesan. Tanpa kiper yang tangguh, tim sepak bola sekelas apapun bisa kebobolan. Tanpa Guru BK yang profesional, sekolah semaju apapun bisa kehilangan siswanya karena masalah yang tidak tertangani.
# EDUKASI
# Opini

Delegasi FKIP UNISKA MAB Laksanakan Program Pertukaran Dosen Internasional di Filipina

Iwan Perdana
2 Maret 2026
"Walau tidak lama, Program pertukaran dosen internasional sangat berkesan dan akan menjadi insight untuk meningkatkan kualitas perkuliahan dan kemampuan teaching para dosen, selain bidang lain yang sudah direncanakan." Begitu penuturan lugas Dr. Hengki, S.S., M.Pd, Dekan FKIP Universitas Islam Kalimantan (UNISKA) Muhammad Arsyad Al Banjari Banjarmasin, Selasa (2/3/2026), tentang semangat timnya yang baru saja menuntaskan misi edukasi di University of Mindanao Tagum College (UMTC), Filipina. Sebuah langkah berani, penuh asa, yang mengukuhkan komitmen UNISKA MAB untuk tidak sekadar berkutat di dalam negeri, namun turut merajut benang-benang persahabatan intelektual di kancah global.Sebuah tim solid beranggotakan Ratna, S.Pd., M.Pd., Fitra Ramadani, S.Pd., M.Pd., Fitria Rizkiana, S.Pd., M.Pd., Dr. Hj. Ani Wardah, S.Pd., M.Pd., dan Ari Tri Fitrianto, S.Pd., M.Pd., menemani langkah Dr. Hengki. Mereka bukan sekadar delegasi. Mereka adalah duta ilmu, pembawa misi Tridarma Perguruan Tinggi ke negeri tetangga.Program pertukaran dosen internasional ini berlangsung dari 8 hingga 24 Februari 2026. Agendanya padat, mulai dari sesi lecturing yang memperkaya wawasan dosen, penelitian kolaboratif lintas negara, pengabdian kepada masyarakat yang menyentuh langsung, hingga benchmarking kelembagaan yang krusial. Harapannya, posisi UNISKA MAB dalam jejaring pendidikan global makin kokoh, serta menjadi langkah strategis mendongkrak kualitas akademik, riset, dan pengabdian masyarakat berbasis internasional.Pemilihan UMTC, sebuah universitas swasta tertua di Filipina Selatan yang berdiri sejak 1946, bukanlah tanpa alasan. Ini sejatinya kunjungan balasan. Sebelumnya, beberapa akademisi dari kampus tersebut lebih dulu 'merasakan' atmosfer akademik di UNISKA MAB Banjarmasin.Prof. Dr. H. Mohammad Zainul, S.E., M.M, Rektor UNISKA MAB, dalam acara pelepasan tim pada Jumat (6/2/2026), telah menitipkan pesan krusial: "Bawa pulang pengalaman berharga, rajut jejaring, dan pastikan ada luaran konkret." Pesan itu menjadi cambuk penyemangat bagi para dosen FKIP UNISKA untuk mengukir capaian signifikan, baik untuk akreditasi kampus maupun penguatan tridarma perguruan tinggi.Kolaborasi lintas negara ini menghasilkan sejumlah program pengabdian masyarakat yang menyentuh langsung denyut nadi masyarakat. Di Barangay La Filipina, Tagum City, misalnya, tim yang dipimpin Dr. Hengki bersama kolega dari UMTC, Dr. Armand James Vallejo, Kenneth Garcia Telin, dan Dr. Imelda Viloria Isaal, menyelami “Parental Perceptions and Family Awareness of the Role of Higher Education in Shaping Childrens" Future Success'. Mereka berdiskusi, berbagi pandangan, membuka cakrawala baru bagi para orang tua di sana. Sebuah upaya edukasi yang fundamental.Dr. Ani Wardah, S.Pd., M.Pd., bersama Inlyn Jiezl Cerbo-Javier, MPsy, RPsy, LPT, CHRA, CFP, serta Sri Ayatina, S.Pd., M.Pd., dan Rudi Haryadi, S.Pd., M.Pd., menggelar sesi 'Group Counseling: Reducing Academic Procrastination' di Kampus UMTC. Sebuah solusi nyata untuk isu yang kerap menghantui dunia akademik.Di Magugpo South, Tagum City, sebuah inovasi juga lahir. Tim Fitria Rizkiana, S.Pd., M.Pd., bersama Jemer Alimbon, MST, Ariel V. Ando MEng-CpE, NSTP, Emilda Prasiska, S.Pd., M.Pd., Herlina Apriani, S.Pd., M.Pd., Okviyoandra Akhyar, Ph.D., Antoni Pardede, Ph.D., dan RR Ariessanty Alicia Kusuma Wardhani, M.Si., menginisiasi "Utilization of Watermelon Rind as Food Product". Mereka mengubah limbah kulit semangka menjadi produk pangan bernilai, mengajarkan masyarakat tentang ekonomi kreatif berbasis lokal. Ini bukti nyata pengabdian masyarakat internasional yang berkesan.Di Jose Tuason Jr. Memorial National High School, Madaum, Tagum City, Davao del Norte, Filipina, sebuah diskusi hangat mewarnai hari. Tim yang terdiri dari Ari Tri Fitrianto, S.Pd., M.Pd., Dr. Saramie Belleza, Muhammad Habibie, S.Pd., M.Pd., dan Andi Kasanrawali, S.Pd., M.Pd., mengenalkan "Galing in Motion: a Collaborative Approach to Sport Success." Mereka tak hanya berbicara tentang teori, tapi juga berbagi metode, merajut semangat kolaborasi, dan membuka wawasan baru tentang bagaimana meraih prestasi olahraga bersama. Sebuah inisiatif yang benar-benar menggugah semangat sportivitas di sana.     
# EDUKASI
# Pengabdian

Merawat Etos Akademik: Wajib Baca 30 Menit di Kampus Visioner

Barendz Umar
19 Februari 2026
Pada hakikatnya, seorang dosen adalah pembelajar sejati, yang artinya proses menuntut ilmu tidak akan pernah selesai. Namun, idealisme ini sering kali diuji oleh rutinitas pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi—pengajaran, penelitian, dan pengabdian—yang diikuti beban administratif dan teknis. Di tengah dinamika itulah, saya merenungkan kembali makna pembelajaran melalui sebuah pengalaman reflektif yang unik sebagai Dosen di STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, kampus visioner.Salah seorang pendiri STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, Bapak Iwan Perdana, Ph.D., menetapkan sebuah aturan yang sederhana namun sarat makna: seluruh dosen harus berkumpul di ruang baca dan membaca selama 30 menit sebelum pulang. Peraturan ini bukan sekadar formalitas atau simbolik, melainkan sebuah upaya sistematis untuk membangun kontinuitas budaya akademik. Beliau selalu menekankan kepada kami bahwa seorang dosen wajib meng-upgrade pengetahuannya setiap hari, dan salah satu sumber utama pembaruan itu adalah membaca.Kebijakan ini mengandung pesan epistemologis bahwa pengetahuan harus fleksibel. Seorang dosen tidak cukup hanya mengandalkan ilmu yang diperoleh saat studi sarjana atau pascasarjana. Ilmu berkembang, teori berubah, pendekatan diperbarui. Tanpa komitmen untuk membaca, dosen berisiko menjadi pengulang materi lama yang kehilangan relevansi dengan perkembangan zaman. Melalui kebiasaan membaca yang terstruktur setiap hari, proses “upgrade” intelektual menjadi bagian dari rutinitas profesional.Yang menarik, buku-buku yang tersedia di ruang baca sangat bervariasi. Ada bacaan ringan yang bersifat populer dan reflektif, ada pula buku-buku akademik yang berat dan teoritis. Seluruh koleksi tersebut disediakan langsung oleh Bapak Iwan Perdana, Ph.D., sebagai bentuk komitmen nyata terhadap pengembangan kualitas dosen. Variasi bacaan ini memungkinkan setiap dosen bisa memilih bahan sesuai kebutuhan dan minat, sekaligus membuka peluang eksplorasi lintas disiplin ilmu. Dalam praktiknya, saya sering menemukan gagasan baru justru dari bacaan yang awalnya berada di luar bidang utama saya.Menurut beliau, membaca merupakan salah satu stimulasi terbaik bagi fungsi otak. Aktivitas ini melibatkan proses memahami, menginterpretasi, mengkritisi, serta menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan sebelumnya. Proses tersebut memperkuat kemampuan analisis dan mempertajam cara berpikir. Kebijakan ini tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga membentuk ekosistem akademik. Ketika seluruh dosen berkumpul di ruang baca pada waktu yang sama, tercipta suasana intelektual hening namun produktif. Kebiasaan kolektif ini secara perlahan membangun identitas institusi sebagai kampus yang menempatkan literasi sebagai fondasi utama.Kualitas seorang dosen tidak hanya diukur dari gelar akademik, tetapi dari komitmen untuk terus mengembangkan diri. Wajib baca 30 menit sebelum pulang mungkin terlihat sederhana dalam hitungan waktu, tetapi besar dalam dampak jangka panjangnya. Kebijakan yang digagas pendiri kampus, Bapak Iwan Perdana, Ph.D, menunjukkan kuatnya komitmen Beliau merawat etos akademik dosen STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin.  
# EDUKASI
# Opini

My Ph.D journey at FPE UPSI

Iwan Perdana
17 Februari 2026
Kabar gembira saya terima pada 30 Juli 2021 dari UPSI: Offer letter for admission to the postgraduate programme for semester 1 session 2021/2022. Alhamdulillah, keinginan studi Ph,D  jurusan educational management di negeri Jiran, Malaysia, terwujud. Sungguh rejeki tak terduga, keterbatasan finansial tak menjadi halangan, ada dermawan, tidak mau disebutkan namanya,  bersedia membiayai Pendidikan S3. Sempat bingung pada awalnya terkait informasi pengurusan visa, Alhamdulillah, saya ditolong oleh Ibu Noraini Abdul Rahman, pelajar Malaysia yang saya kenal sewaktu sesi perkenalan mahasiswa baru UPSI secara online dan kakak beliau: Bapak Ridzuan Rahman. Kebingungan setibanya di KLIA Malaysia hilang karena regulasi UPSI sangat membantu mahasiswa internasional: Kampus menjemput mahasiswa internasional untuk kedatangan pertama kali.Setibanya di Tanjung Malim pada 18 Desember 2021, Allah SWT kembali mempermudah jalan menutut ilmu di UPSI.  Adalah Alfian Bakti, pelajar master asal Lombok yang menyambut kedatangan di Cafe Cik Anis, yang di kemudian hari menjadi warung langganan. Cik Anis, pemilik kafe, berasal dari Riau. Satu-satunya warung yang buka di pagi hari.Selanjutnya, Bang Alfian mengajak saya ke Taman Harmoni. Dikenalkanlah saya kepada Bang Indra, Wajedi, dan Riza. Mahasiswa magister asal NTB. Bang Alfian mengantarkan periksa kesehatan ke dokter di Pekan untuk kelengkapan administrasi mahasiswa program Ph.D . Dan ke kampus UPSI untuk pertama kalinya.Pada tahun pertama, setelah beberapa hari tinggal di Taman Bahtera bersama Syahwil, pelajar master asal Aceh, saya pindah ke  flat di Taman Bahtera. Tinggal bersama Bang Indra, Rizal dan Wajedi hingga menerima visa pelajar. Saya juga beruntung diajak Pak Ar Razzy, pelajar Ph.D. asal Aceh, mengenal Kampus Sultan Abdul Jalil Shah (KSAJS), kampus  UPSI lama.Pada tahun 2022, saya kembali ke Taman Bahtera. Di kamar yang sama, TB. 185, tinggal satu flat dengan kawan-kawan asal Malaysia yang friendly. Paling berkesan berdiskusi dengan Bang Alif yang sangat terampil bermain musik. Ada juga Siong Kiet, yang selalu baca buku.Tahun 2023, pindah ke Blok 1, masih bersama mahasiswa degree asal Malaysia. Seru berdiskusi dengan mereka hampir setiap malam selama 1 jam, sebelum tenggelam dalam kesibukan masing-masing. Baru pada tahun 2024, saya berjumpa dengan mahasiswa Ph.D. asal Indonesia: Pak Dody dari Riau, Bang Gery dari Padang, Bang Malesa dari Medan, dan Mas Tiyo dari Malang.Saya mulai mengerjakan tesis setelah menyelesaikan perkuliahan Methodology Research yang diampu oleh Dr. Fanny Kho Chee Yuet. Alhamdulillah, saya dibimbing  Dr. Rosnah binti Ishak, dan PM Dr. Mahaliza binti Mansor. Keduanya sangat ramah dan komunikatif. Dr. Rosnah sebagai Main Supervisor memberikan arahan yang jelas, respons cepat, pengetahuan tentang riset, dan rekomendasi referensi yang relevan dengan topik penelitian. PM Mahaliza sangat ramah. Diskusi dengan beliau memperkaya wawasan saya tentang pendidikan.Selama di Malaysia, saya pernah ke Bukit Bintang, Batu Caves dan Twin Towers sendirian. Pernah juga bersama kawan-kawan asal Pulau Sumatra: Pak Dody, Mas Tiyo, Bang Gery dan Bang Malesa ke Kuala Lumpur, membeli oleh-oleh di Pasar Seni, dan menikmati musik di Bukit Bintang. Menikmati masakan ala Malaysia, asyiknya naik bus gratis ke kampus, kerjakan penelitian di Perpustakaan Tuanku Bainun dan perpustakaan digital, bincang dengan mahasiswa UPSI asal China di antrean pengurusan VISA di kampus, adalah momen yang tidak akan pernah saya lupakan.Pengalaman studi di UPSI Malaysia yang menyenangkan semakin bertambah dengan kegembiraan menerima Penghargaan/Anugerah Tan Sri Alimuddin pada tahun 2025, sehari sebelum Konvokesyen pada 11 November 2025. Semoga pengetahuan yang saya pelajari bermanfaat bagi kemanusiaan, bangsa dan pengembangan ilmu pengetahuan. Saya juga berharap dapat menjadi salah satu alumni yang membanggakan dan membesarkan UPSI Malaysia, Kampus Anak Kandung Suluh Budiman.Pendek kata, studi doktoral saya di FPE UPSI  Malaysia telah memberikan landasan yang berharga untuk memperdalam pengetahuan dan wawasan saya. Lingkungan akademik yang dinamis, hubungan yang saling memotivasi dan menginspirasi dengan rekan kerja, dan bimbingan dari supervisor saya secara kolektif telah memperkuat visi saya untuk memajukan dunia pendidikan.
# EDUKASI
# Opini

Naluri Striker: Kunci Kepemimpinan Pendidikan

Iwan Perdana
16 Februari 2026
Ada banyak striker handal di Berkah FC, antara lain Taher, Adhi, Alam, Midun, Memed dan H. Zahrani. Mereka jeli menempatkan posisi. Penyerang lainnya yang tak kalah tajam menyarangkan bola ke jala lawan dengan kecepatan berlari luar biasa adalah Kadir, Johan, Sajali, Rudi Tagan, dan Idham, . Barisan depan klub yang dikomandani Pak Rudiansyah, yang lebih akrab dipanggil Capt. Rudi, ini menakutkan tim lawan. Terbukti, Berkah FC selalu meraih trofi juara di kompetisi yang diselenggarakan Dispora Kalimantan Selatan, dan kejuaraan lainnya.Capt RudiDi tim sepak bola, posisi striker menjadi garda terdepan yang bertugas mencetak gol, menekan bek lawan, dan memaksimalkan peluang di kotak penalti. Mereka menjadi ujung tombak serangan, sering kali bertindak sebagai target man dan membuka ruang bagi rekan setim mencetak gol. Di era 1995–2000-an, ada banyak striker top dunia yang terkenal karena kecepatannya berlari dan ketajamannya menyarangkan bola ke gawang lawan. Salah satunya  adalah Thierry Henry, penyerang Arsenal. Pemain asal Perancis yang membela The Gunners tersebut dikenang sebagai salah satu penyerang terhebat yang sukses menghantarkan Arsenal juara Premier League, dan membawa Barcelona meraih juara Liga Champions.Selain kecepatan, teknik menggiring bola yang sangat baik, dan penyelesaian akhir yang mematikan. Henry dikenal sebagai striker yang tahu persis kapan harus “menembakkan” atau mengumpan dalam hitungan detik. Ia berani mengubah gaya permainannya, sering bergerak dari sayap ke tengah, menunjukkan fleksibilitas dalam mengambil keputusan posisi.Berkah FCStriker hebat lainnya di era 2000-an yang saya tahu adalah Didier Drogba. Pemain andalan Chelsea asal Pantai Gading berjuluk The King of Stamford Bridge ini dikenal memiliki kekuatan fisik luar biasa, kecerdasan taktis, dan kontrol bola yang baik. Keistimewaan Drogba lainnya adalah sering mencetak gol di momen krusial, seperti gol penyeimbang dan penentu kemenangan adu penalti di final Liga Champions 2012, serta rekor mencetak gol di empat final Piala FA.Berkah FCSeperti striker yang dituntut berpikir cepat untuk memutuskan mengoper ke kawan atau “menembakkan” bola langsung ke gawang lawan, dan kecerdasan mencari ruang untuk mencetak gol, seorang pemimpin organisasi, termasuk pimpinan lembaga pendidikan yang kredibel, juga dituntut untuk cepat membuat keputusan strategis melalui perhitungan matang dan cerdas dalam melihat peluang memajukan sekolah.Menetapkan Keputusan Strategis Melalui Perhitungan Matang Dalam hitungan detik, seorang striker menganalisis posisinya. Ia menghitung peluang  terciptanya gol kemenangan: dioperkan ke kawan atau menembakkan bola langsung ke gawang lawan. Jika striker egois, memaksakan diri mencetak gol padahal peluangnya kecil, maka kerja keras tim membangun serangan akan menjadi sia-sia. Gol tidak tercipta.Sebagai ujung tombak kebijakan, pemimpin lembaga pendidikan harus cermat membaca situasi eksternal: regulasi pemerintah terbaru, mengetahui kebutuhan orang tua, masyarakat dan dunia kerja, juga tidak kalah pentingnya mempelajari strategi kompetitor: sekolah atau kampus lain. Seperti striker yang dihadapkan pada dilema mengoper atau menembakkan bola, pimpinan harus cerdas memilih program unggulan yang tepat (misalnya: fokus pada riset internasional, pengabdian kepada masyarakat atau penguatan karakter dosen dan mahasiswa) sesuai dengan kondisi dan kebutuhan pasar. Setiap kebijakan harus berujung pada peningkatan mutu output pendidikan: lulusan berkualitas, dan prestasi lembaga.Cerdas Melihat Peluang Memajukan LembagaKing Henry tidak terpaku pada satu posisi. Ia cerdas mengubah gaya permainannya, cermat membaca situasi, dan memaksimalkan kemampuannya dalam mencetak gol. Fleksibilitas taktis ini membuatnya semakin mematikan.Seorang pemimpin lembaga pendidikan juga harus demikian. Ia harus kreatif dan berinovasi untuk memperbesar peluang agar lembaga yang dipimpinnya maju. Dia tidak boleh terpaku pada satu metode atau layanan yang itu-itu saja, tetapi harus cerdas membaca kebutuhan pasar dan perubahan zaman. Berkah FCPemimpin lembaga pendidikan berperan vital dalam memajukan lembaga yang dipimpinnya. Ia bukan sekadar figur seremonial yang duduk di belakang meja, melainkan ujung tombak yang berdiri paling depan, memahami kondisi lapangan, siap menerima tekanan, menanggung ekspektasi, dan mengubah setiap peluang menjadi kemajuan nyata.Idealnya seorang pemimpin lembaga pendidikan memiliki naluri striker:  tahu kapan harus maju, kapan harus menembakan bola, kapan harus mengoper, dan kapan harus menuju ruang ganti demi kemenangan tim. 
# EDUKASI
# Opini

Dari Zona 14 ke Zona Kurikulum: Playmaker Tidak Hanya di Lapangan Hijau. Mereka Juga Ada di Sekolah

Iwan Perdana
2 Februari 2026
Kebanyakan laki-laki suka bermain sepak bola, saya salah satunya. Sejak kecil, saya sudah menggandrungi permainan yang sangat populer di seluruh dunia ini. Hampir saban hari saya bersentuhan dengan bola, baik di sekolah, tanah lapang di kampung, dan lapangan sepak bola kayu tangi di bawah arahan Pak Udi (Alm), dan Mas Yanto. Saya tak lagi bermain bola selepas tahun 2000. Memori indah yang tersimpan hingga kini adalah mencetak gol di final liga Fakultas Ekonomi ULM Banjarmasin yang menghantarkan tim Angkatan 95 meraih juara di kompetisi terakhirnya.Api semangat mengejar bola kembali menyala beberapa tahun silam setelah Bang Amat, sohib masa kecil, mengenalkan saya kepada Pak Rudiansyah, pimpinan Berkah FC. Walau sebenarnya fisik tak lagi prima, dengan niat menjalin silaturahmi dan berolah raga, saya ikut bermain di lapangan kayu tangi setiap senin dan kamis jika tidak ada kesibukan di kampus. Di tim yang sangat solid inilah saya berkawan dengan pemain-pemain hebat di lapangan, dan sangat ramah di luar lapangan. Apa yang saya paparkan dalam tulisan singkat ini mungkin tidak begitu tepat, namun semoga tetap menarik untuk ditelaah. Saya mencoba mengaitkan  sepak bola dengan manajemen pendidikan, tepatnya ilmu terapan (applied science) yang berada di bawah naungan ilmu pendidikan. Disiplin ilmu yang saya pelajari. Saya menganalogikan salah satu posisi di tim sepak bola, yaitu Playmaker (Attacking Midfielder) dengan salah satu struktur strategis di manajemen sekolah, yaitu  Koordinator Pengembangan Kurikulum & Inovasi Pembelajaran.Dalam sebuah tim sepak bola, Playmaker bertindak sebagai otak serangan yang beroperasi di antara lini tengah dan depan. Seorang playmaker tak selalu mencetak gol, tetapi dialah otak di balik setiap peluang yang tercipta. Di Berkah FC, ada empat pemain berpengalaman yang memainkan posisi ini, yaitu Kapten Rudi, Taufik, Budi Riva, dan Izul. Mereka beroperasi di "Zona 14", area krusial di depan kotak penalti lawan. Dengan visi bermain yang kuat, ditopang  teknik, dan kemampuan dribbling yang sangat baik, keempat pemain andalan tersebut bertugas mengatur tempo, menciptakan peluang gol melalui umpan terobosan jitu, serta mendikte jalannya permainan. Di dunia pendidikan, di "lapangan" yang bernama sekolah, peran serupa playmaker dimainkan oleh seorang Koordinator Pengembangan Kurikulum dan Inovasi Pembelajaran. Umumnya jabatan ini dipercayakan kepada wakil kepala sekolah bidang kurikulum. Mereka adalah playmaker pendidikan, arsitek tak terlihat yang merancang skenario agar setiap "gol" pembelajaran—yaitu pemahaman mendalam dan keterlibatan siswa—tercapai.Jika playmaker sepak bola menguasai “zona 14” (area antara lini tengah dan penyerang), playmaker pendidikan beroperasi di “zona transisi” yang kritis. Mereka harus mampu menjembatani visi strategis kepala sekolah dan realitas harian di kelas. Tugas mereka bukan mengeksekusi, tetapi membuat eksekusi menjadi mungkin terjadi dan efektif. Umpan terukur (assist) seorang playmaker sepak bola, dalam pendidikan, berwujud desain pembelajaran yang brilian: sebuah skenario Project-Based Learning yang kontekstual, rubrik penilaian autentik, atau modul digital interaktif yang mereka siapkan untuk guru-guru. Mereka "mengumpan" para guru (para striker) untuk mencetak gol di depan siswa.Kemampuan membaca permainan (game intelligence) playmaker di lapangan sepak bola, di dunia pendidikan diterjemahkan menjadi analisis kebutuhan pembelajaran. Mereka melihat "celah" antara kurikulum nasional dan konteks lokal, antara minat siswa dan materi pelajaran, lalu merancang strategi untuk memanfaatkan celah tersebut menjadi peluang belajar yang menarik.Jika playmaker sepak bola menentukan kapan serangan dipercepat atau diperlambat, playmaker pendidikan memastikan alur pembelajaran sesuai ritme siswa—tidak membebani, juga tidak membosankan. Pada intinya, playmaker pendidikan adalah jembatan penghubung vital yang menerjemahkan kebijakan menjadi praktik, teori menjadi aksi, dan data menjadi strategi. Tanpa mereka, serangan pedagogis sebuah sekolah berisiko menjadi kaku, terfragmentasi, dan kurang kreatif.Seperti Kapten Rudi, Taufik, Budi Riva, dan Izul yang berperan penting menentukan ritme permainan Berkah FC sehingga tim ini berulang kali meraih tropi di kejuaraan sepak bola yang diselenggarakan Dispora Kalimantan Selatan, peran wakil kepala sekolah bidang kurikulum juga menentukan kualitas pendidikan di sebuah sekolah. Apabila pembelajaran di sekolah terasa hidup, dinamis, dan penuh penemuan, maka itu semua karena kepiawaian Koordinator Pengembangan Kurikulum dan Inovasi Pembelajaran, playmaker yang bermain di balik layar,  merancang pertunjukan, menyiapkan senjata bagi para guru, dan memastikan setiap serangan pembelajaran berakhir dengan gol kompetensi yang gemilang. 
# EDUKASI
# Opini

Etika Kepemimpinan dalam Penggunaan Ruang Kerja

Iwan Perdana
31 Desember 2025
Kepemimpinan memainkan peran penting dalam organisasi. Berhasil atau tidaknya suatu organisasi ditentukan oleh faktor kepemimpinan. Seorang pemimpin yang menginginkan organisasinya maju berkembang harus memiliki etika kepemimpinan yang baik. Etika kepemimpinan adalah konsep yang mencakup prinsip moral dan nilai yang harus diterapkan oleh seseorang saat memimpin tim atau organisasi. Etika kepemimpinan yang utama mencakup integritas, kejujuran, keadilan, dan sikap empati yang tinggi (https://www.prudential.co.id/id/pulse/article/etika-kepemimpinan). Apabila bawahan percaya pemimpinnya memiliki kemampuan, dapat dipercaya, dan mendukung kemajuan bawahan dan lembaga, maka bawahan cenderung lebih termotivasi untuk bekerja dengan baik, karena mereka merasa aman dan nyaman dalam lingkungan kerja.Fondasi Perilaku Pemimpin yang BeretikaSutanto (2021) menegaskan bahwa pemimpin yang menerapkan prinsip etika secara konsisten mampu menciptakan suasana kerja yang kondusif, meningkatkan kepercayaan, serta mendorong loyalitas bawahan. Dalam jangka panjang, kondisi ini berkontribusi terhadap stabilitas organisasi karena bawahan tidak hanya bekerja berdasarkan kewajiban formal, tetapi juga didorong oleh komitmen moral dan emosional terhadap organisasi.Seorang pemimpin yang ideal memiliki kemampuan dan profesionalisme untuk memimpin dengan manajemen dan sistem yang baik (Waedoloh et al., 2022). Salah satunya, manajemen pengelolaan ruang kerja. Penyediaan fasilitas ruang kerja yang mendukung kinerja, dan ketepatan peruntukan penggunaan ruang kerja harus menjadi atensi atensi seorang pemimpian.Ketika seorang pemimpin menerapkan etika dalam penggunaan ruang kerja, hal tersebut akan menjadi stimulus untuk membangun kepercayaan dan loyalitas bawahan. Tindakan ini akan memicu respons timbal balik positif dari bawahan, menciptakan hubungan yang harmonis dalam organisasi.Keteladanan sebagai Penggerak BudayaPerilaku dan integritas pribadi pemimpin adalah pendorong utama dalam menumbuhkan budaya organisasi yang akuntabel, transparan, dan berkinerja tinggi. Dalam konteks penggunaan ruang kerja, pemimpin yang etis menunjukkan disiplin diri dan menghormati fasilitas organisasi bagi seluruh bawahan untuk tercapainya tujuan organisasi.Dengan demikian, etika pemimpin dalam menggunakan ruang kerja bukan hanya tentang cara memanfaatkan fasilitas, tetapi juga tentang membangun budaya organisasi yang berintegritas, transparansi, dan inklusif melalui keteladanan dan kepemimpinan yang konsisten.Referensi:Waedoloh, H., Purwanta, H., & Ediyono, S. (2022). Gaya Kepemimpinan dan Karekteristik Pemimpin yang Efektif, Waedoloh, Husen Purwanta, Hieronymus Ediyono, Suryo. https://jurnal.uns.ac.id/shes SHEs: Conference Series 5 (1) (2022) 144– 152 Gaya. Social, Humanities, and Educational Studies (SHEs): Conference Series, 5(1), 144.Sutanto, E. M. (2021). Kepemimpinan etis dan implikasinya terhadap kepercayaan serta loyalitas karyawan. Jurnal Manajemen Sumber Daya Manusia, 15(2), 89–102.  
# EDUKASI
# Opini

Skripsi: Self-Development dan Pendidikan Karakter

Iwan Perdana
22 Desember 2025
Salah satu syarat kelulusan bagi mahasiswa menyelesaikan studi adalah menyusun karya tulis ilmiah. Terminologi di Indonesia, karya tulis ilmiah untuk syarat kelulusan S1 (Sarjana) disebut skripsi. Tesis untuk S2 (Magister), dan Disertasi untuk S3 (Doktor). Perbedaan di antara ketiganya terletak pada kedalaman analisis, bobot ilmiah, serta tuntutan kebaruan temuan.Karya tulis ilmiah tidak sekadar untuk memenuhi syarat administratif, tetapi juga bukti mendalami suatu bidang ilmu secara komprehensif. Proses ini mendorong mahasiswa mengaplikasikan teori-teori yang telah dipelajari semasa kuliah, dengan penekanan pada mata kuliah Metodologi Penelitian.Manfaat SkripsiSkripsi adalah syarat kelulusan jenjang S1. Manfaatnya sangat banyak. Tidak sekadar untuk memenuhi syarat kelulusan, tapi juga mengasah kemampuan mahasiswa berpikir kritis, analitis, berkomunikasi, menuangkan pikiran dalam tulisan, dan berlatih menyelesaikan masalah. Proses pengerjaan skripsi menanamkan karakater disiplin, bekerja keras, sopan santun, menghargai orang lain, dan bertanggung jawab. Melalui skripsi sebagai latihan,  mahasiswa diharapkan tidak hanya unguul di bidang akademik, tetapi juga menjelma menjadi pribadi pantang menyerah, dan konsisten dalam usaha mengerjakan sesuatu tepat waktu.  Kaitan Skripsi dengan Self-Development dan Pendidikan KarakterSelain manfaat yang telah dijelaskan, skripsi mengingatkan mahasiswa untuk mengenal dirinya sendiri: kelebihan dan kekurangannya, sehingga dapat bersikap bijak di masa yang akan datang. Di dalam prosesnya, mereka belajar bersikap legowo menerima kritik, terus meningkatkan kualitas diri, dan mengakui kontribusi orang lain (Dosen pembimbing dan penguji). Ini akan menumbuhkan sikap rendah hati (tawadhu') dan kesadaran diri bahwa kesuksesan berasal dari usaha dan bantuan banyak pihak, bukan semata karena kehebatan diri sendiri.  
# EDUKASI
# Opini

Wisuda: Dari Tradisi Akademik hingga Misi FKIP UNISKA Mencetak Guru Profesional

Iwan Perdana
19 Desember 2025
Wisuda adalah momen yang menandai berakhirnya masa studi di kampus. Acara ini diselenggarakan penuh khidmat untuk mengukuhkan kelulusan mahasiswa. Yuliantin Azizah (2023) dalam situs https://itsm.ac.id/uncategorized/sejarah-singkat-wisuda menyebutkan perayaan kelulusan mirip konsep wisuda sudah ada sejak zaman Plato (abad ke-4 SM), yaitu upacara "Iklan" di Athena. Pesta kelulusan juga ada di Roma kuno yang disebut "promotio" atau “conventus”. Azizah menambahkan, perayaan kelulusan yang kemudian dikenal dengan istilah Wisuda menjadi upacara formal Universitas di Eropa pada abad pertengahan: Universitas Bologna di Italia, dan Universitas Oxford di Inggris. Di Amerika, Universitas Harvard, USA mengadakannya pada tahun 1642. Sedangkan di Indonesia, Universitas Gadjah Mada (UGM) menjadi kampus pertama yang menyelenggarakan wisuda pada 19 November 1963. Wisuda merupakan momen penutupan berakhirnya masa studi di kampus sekaligus wujud komitmen perguruan tinggi menghantarkan mahasiswa mencapai tujuan akademik mereka. Pelaksanaan wisuda menegaskan pengakuan kampus terhadap kerja keras, ikut merayakan pencapaian studi, dan apresiasi atas dedikasi mahasiswa terhadap ilmu pengetahuan. Di ajang yang sangat tepat untuk mengapresiasi orang tua, kerabat, dan para dosen ini pula akan terbangun kebanggaan dan identitas alumni, sekaligus pertanggungjawaban perguruan tinggi kepada masyarakat dengan menyiapkan lulusan yang siap berkontribusi kepada negara, masyarakat, dan dunia kerja. Pada tanggal 16 – 18 Desember 2025, Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin menggelar Wisuda Program Sarjana ke-50, dan Pascasarjana ke-23. Di rangkaian wisuda yang digelar selama tiga hari tersebut, UNISKA mengukuhkan 3.254 lulusan dari berbagai jenjang Pendidikan.Salah seorang Dekan di UNISKA MAB Banjarmasin yang tampak gembira dalam ajang pengukuhan kelulusan ini adalah Dr Hengki S.S.,M.Pd. Tahun ini, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) yang dipimpinnya menghantarkan 183 mahasiswa mengikuti Wisuda. Melalui pesan WhatsApp, Rabu (17/12/2025), Beliau menyatakan keyakinannya bahwa para lulusan FKIP UNISKA MAB Banjarmasin siap menjadi guru profesional. Optimisme ini dilandasi oleh praktik pembelajaran di kampus selama ini menekankan pada proses membimbing dan mengajar mahasiswa agar mereka mampu mengembangkan keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan masyarakat. Sebagai Fakultas yang saban tahun meluluskan calon guru Pendidikan Bahasa Inggris, Bimbingan Konseling, Pendidikan Kimia, dan Pendidikan Olah raga. FKIP UNISKA telah berkontribusi besar membangun bangsa dan memajukan masyarakat khususnya di bidang Pendidikan. Para alumni FKIP UNISKA terbukti tangguh, berkarakter kuat, inovatif, adaptif, dan berdaya saing. Banyak guru berkualitas lulusan FKIP UNISKA mengabdikan diri di dunia pendidikan. Mereka berjuang mencerdaskan generasi khususnya di Banua.  Terlebih lagi, Dr Hengki, Dosen Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UNISKA, memiliki perspektif bahwa guru adalah pengajar yang harus tampil sebagai pembimbing dan teladan dalam membentuk peradaban bangsa yang bermartabat. Ini tentu saja mempengaruhi kebijakannya dalam meningkatkan mutu penyelenggaraan perkuliahan dalam rangka menyiapkan lulusan (guru) berkualitas. 
# EDUKASI
# Opini

Prometheus di Abad Modern

Iwan Perdana
17 Desember 2025
Dalam mitologi Yunani, manusia tidak memiliki pengetahuan sampai akhirnya mendapatkannya dari Prometheus. Harga yang harus dibayar Titan cerdas itu sangat mahal. Atas keberaniannya mencuri api (simbol pengetahuan) di gunung Olimpus, Zeus menghukumnya dengan siksa abadi. Dia dirantai di gunung, tempat bersemayamnya para Dewa. Hatinya dimakan burung elang saban hari. Setelah dilahap elang, malamnya tumbuh lagi, kemudian dimakan lagi. Terus begitu, selamanya.Mengapa Prometheus berani mencuri api pengetahuan, padahal dia menyadari risikonya. Kecintaannya yang sangat besar kepada manusialah yang membuatnya nekat mengambil dan menghadiahkan api pengetahuan kepada manusia. Sang Titan ingin manusia menjalani kehidupan yang lebih baik, dan makmur.Bertolak dari cerita itu, mestinya seluruh umat manusia tercerahkan karena mendapatkan pengetahuan. Namun ternyata, sejak dahulu pengetahuan adalah barang mewah, tidak semua orang berkesempatan memperolehnya. Hanya kalangan tertentu saja: Anak-anak raja, keturunan bangsawan, para pejabat istana, dan anak keturunan orang kaya. Dalam kisah Mahabrata, diceritakan Dronacharya, Sang Mahaguru Hastinapura, membatasi pengajaran pengetahuannya hanya kepada kasta Ksatria: Pandawa & Kurawa. Dia tidak berkenan mengajari Ekalaya dan juga Karna, rakyat biasa.Keterbatasan akses pengetahuan bukan hanya cerita masa lalu. Kini pun, masih banyak anak kurang beruntung yang merasakannya. Mereka terjebak di daerah yang dilanda konflik, kemiskinan ekstrem, dan ketidakstabilan politik, ataupun dogma yang menutup peluang kaum hawa ke sekolah. Maka beruntunglah kita yang merasakan manisnya pendidikan sehingga memiliki pengetahuan.Lalu bagaimana bentuk syukur atas anugerah yang luar biasa ini?. Jawabannya sederhana, belajar dan belajar, kemudian mempraktikkannya demi meningkatkan kesejahteraan umat manusia, seperti yang dilakukan Prometheus. Menurut saya, para ilmuwan yang bersusah payah belajar, mengasah keterampilan sehingga mampu menciptakan sesuatu untuk meningkatkan kesejahteraan umat manusia adalah manusia pilihan Tuhan – mereka rela mencurahkan pikiran, tenaga dan masa mudanya untuk belajar. Mereka (mungkin) seperti Prometheus yang menderita demi umat manusia, karena menghabiskan banyak waktu hidupnya untuk mempelajari sesuatu, dan menggunakannya untuk kebaikan orang banyak.  
# EDUKASI
# Opini

Transformasi Pendidikan Tinggi: Menjawab Tantangan dan Isu Strategis Abad 21

Rizki Nugerahani Ilise, M.Pd
17 Desember 2025
Pendidikan dan pembelajaran abad ke-21 mengalami perubahan yang sangat signifikan, termasuk dalam konteks perguruan tinggi. Perguruan tinggi tidak lagi hanya dipahami sebagai tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi sebagai ruang strategis untuk membentuk sumber daya manusia yang unggul, adaptif, dan siap menghadapi tantangan global. Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan dinamika sosial menuntut perguruan tinggi untuk melakukan transformasi dalam sistem pendidikan dan pembelajarannya agar tetap relevan dengan kebutuhan zaman.Salah satu isu strategis utama dalam pendidikan abad ke-21 di perguruan tinggi adalah tuntutan penguasaan keterampilan abad ke-21. Mahasiswa tidak cukup hanya menguasai teori dan konsep keilmuan, tetapi juga harus memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif. Perguruan tinggi dituntut mampu menyiapkan lulusan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga mampu memecahkan masalah nyata, mengambil keputusan secara tepat, serta beradaptasi dengan perubahan yang cepat di dunia kerja dan masyarakat.Isu strategis berikutnya adalah pesatnya perkembangan teknologi digital yang berdampak langsung pada proses pembelajaran di perguruan tinggi. Pemanfaatan teknologi informasi melalui pembelajaran daring, e-learning, dan berbagai platform digital menjadi kebutuhan yang tidak terpisahkan. Teknologi memberikan peluang besar untuk menciptakan pembelajaran yang fleksibel, interaktif, dan terbuka. Namun, di sisi lain, tantangan yang dihadapi adalah kesiapan dosen dan mahasiswa dalam memanfaatkan teknologi secara efektif serta masih adanya kesenjangan literasi digital. Oleh karena itu, perguruan tinggi perlu memastikan bahwa teknologi digunakan sebagai sarana pendukung pembelajaran yang bermakna, bukan sekadar sebagai pelengkap.Perubahan karakteristik mahasiswa juga menjadi isu strategis dalam pembelajaran abad ke-21 di perguruan tinggi. Mahasiswa saat ini cenderung lebih kritis, terbuka terhadap informasi, dan terbiasa dengan teknologi digital. Kondisi ini menuntut perubahan pendekatan pembelajaran dari yang berpusat pada dosen menjadi pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa. Model pembelajaran aktif, seperti diskusi, proyek, pembelajaran berbasis masalah, dan penelitian sederhana, menjadi sangat relevan untuk mendorong mahasiswa terlibat secara aktif dalam proses belajar. Dosen berperan sebagai fasilitator yang membimbing dan mengarahkan mahasiswa dalam membangun pengetahuannya sendiri.Selain aspek akademik, penguatan karakter dan nilai-nilai etika juga menjadi isu strategis yang penting dalam pendidikan perguruan tinggi abad ke-21. Arus globalisasi dan keterbukaan informasi membawa berbagai pengaruh yang dapat berdampak pada sikap dan perilaku mahasiswa. Oleh karena itu, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk menanamkan nilai kejujuran, tanggung jawab, disiplin, toleransi, dan etika akademik dalam setiap aktivitas pembelajaran. Pendidikan karakter menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses akademik agar lulusan perguruan tinggi tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga berintegritas dan berakhlak.Isu strategis lainnya adalah keterkaitan antara perguruan tinggi dengan dunia kerja dan kebutuhan masyarakat. Perguruan tinggi dituntut untuk menghasilkan lulusan yang relevan dengan perkembangan industri dan mampu bersaing secara global. Kurikulum dan pembelajaran perlu dirancang agar selaras dengan kebutuhan nyata di lapangan, tanpa mengabaikan pengembangan keilmuan dan nilai-nilai kemanusiaan. Kolaborasi antara perguruan tinggi, dunia industri, dan masyarakat menjadi penting untuk memastikan bahwa proses pembelajaran memberikan pengalaman nyata bagi mahasiswa.Terakhir, profesionalisme dosen menjadi kunci dalam menjawab berbagai isu strategis pendidikan dan pembelajaran abad ke-21 di perguruan tinggi. Dosen dituntut untuk terus meningkatkan kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian. Inovasi dalam pembelajaran, pemanfaatan teknologi, serta keterlibatan dalam penelitian dan pengabdian kepada masyarakat menjadi bagian penting dari peran dosen. Dengan dosen yang profesional dan adaptif, perguruan tinggi akan mampu menciptakan pembelajaran yang berkualitas dan menghasilkan lulusan yang siap menghadapi tantangan abad ke-21.Secara keseluruhan, isu-isu strategis pendidikan dan pembelajaran abad ke-21 di perguruan tinggi menuntut perubahan yang menyeluruh dan berkelanjutan. Perguruan tinggi perlu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri dan nilai-nilai dasar pendidikan. Melalui pembelajaran yang inovatif, berpusat pada mahasiswa, berlandaskan nilai karakter, serta didukung oleh dosen yang profesional, perguruan tinggi diharapkan mampu melahirkan generasi yang cerdas, berkarakter, dan berdaya saing tinggi di tingkat nasional maupun global.
# EDUKASI
# Opini

Partisipasi STKIP ISM Banjarmasin dalam Kegiatan AI Learning Lab Education: Upaya Mendukung Transformasi Pendidikan Tinggi di Bidang Digital

Vebrianti Umar M.Pd
17 Desember 2025
Saya, Vebrianti Umar M.Pd Wakil Ketua Bidang Akademik, dan Yuliana Nurhayati, M.Pd Wakil Ketua Bidang Kerja Sama dan Kemahasiswaan STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, mengikuti kegiatan AI Learning Lab Education yang diselenggarakan pada 20 November 2025 di Hotel Rattan Inn Banjarmasin. Kegiatan ini menjadi forum strategis untuk memperluas wawasan perguruan tinggi terkait pemanfaatan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) dalam mendukung transformasi pendidikan tinggi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi digital.Kegiatan diawali dengan pemaparan dari Tim AI Learning Lab, yang dibuka oleh Tiffany Santosa. Dalam sesi pembuka ini disampaikan gambaran umum mengenai peran AI dalam dunia pendidikan, khususnya bagaimana teknologi AI dapat dimanfaatkan secara etis, aman, dan inklusif untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran, kolaborasi akademik, serta pengelolaan institusi pendidikan.Selanjutnya, pemaparan Kepala LLDIKTI Wilayah XI Kalimantan, Dr. Drs. Muhammad Akbar, M.Si. Dalam keynote speech-nya, beliau menekankan bahwa transformasi digital di perguruan tinggi merupakan sebuah strategi holistik yang mencakup perubahan cara institusi beroperasi, mengajar, dan melayani mahasiswa melalui pemanfaatan teknologi digital seperti AI, cloud, dan data analytics. Transformasi ini dinilai mampu meningkatkan efisiensi manajemen akademik, memperluas akses pendidikan, serta memperkuat relevansi lulusan dengan kebutuhan industri global. Pemaparan tersebut juga menegaskan pentingnya kepemimpinan digital dan pendekatan sistemik agar implementasi transformasi digital dapat berjalan secara berkelanjutan dan berdampak nyata bagi institusi pendidikan tinggi Sesi pemaparan ditutup oleh Hari Siswantoro, S.T., M.T., Ph.D. dari Fakultas Teknik Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED). Beliau membagikan praktik baik pengembangan ekosistem kampus cerdas melalui pemanfaatan Google Workspace for Education yang terintegrasi dengan teknologi AI. Dalam paparannya, Beliau menjelaskan bagaimana UNSOED secara bertahap membangun infrastruktur pembelajaran digital, mulai dari migrasi sistem informasi, pemanfaatan Google Workspace, hingga penggunaan AI untuk mendukung penyusunan RPS, bahan ajar, evaluasi pembelajaran, administrasi akademik, serta aktivitas penelitian. Beliau juga menekankan bahwa transformasi digital tidak harus menunggu kesiapan infrastruktur yang sempurna, melainkan dapat dimulai dari kolaborasi sederhana yang berkelanjutan Melalui keikutsertaan dalam kegiatan AI Learning Lab Education ini,  kami memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai pentingnya pemanfaatan AI secara strategis dalam pendidikan tinggi, baik pada aspek pembelajaran, pengelolaan institusi, maupun pengembangan kompetensi mahasiswa. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi inspirasi dan pijakan awal bagi penguatan kebijakan serta implementasi teknologi AI di lingkungan perguruan tinggi, khususnya dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan dan daya saing institusi di era digital.  
# EDUKASI
# Opini

  Youtube

Surah Ar-Rahman | Aniq Muhai

  Informasi

Selamat Hari Guru Nasional
Arah Pendidikan Nasional & Transformasi Pendidikan Lokal di Daerah
Kupas Tuntas: Kurikulum, Inklusi, dan Seni di Sekolah Dasar
Momentum Kebangkitan Nasional Melalui Peningkatan Kualitas Pendidikan