Beranda > Edukasi

  Postingan Terbaru

7 Resep Jitu Yuliana Nurhayati, M.Pd Meredam Pasang Surut Motivasi Belajar

Edubanua.com
5 Februari 2026
Krisis semangat belajar sering menghantui, namun Yuliana Nurhayati, M.Pd, Wakil Ketua Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, menawarkan tujuh kiat praktis yang melampaui kurikulum formal demi menjaga api motivasi belajar tetap menyala.Pendidikan, dalam pandangan para ahli, memang laksana sungai yang tak pernah berhenti mengalir. Batasan maknanya terus berubah seiring berkembangnya temuan dan pola pikir baru. Namun, di tengah pusaran teori itu, ada satu masalah abadi yang kerap meredupkan cahaya generasi muda: pasang surut motivasi belajar.Bukan rahasia lagi, semangat menuntut ilmu seringkali naik turun, bahkan cenderung lebih banyak merosot. Kita semua tahu pendidikan penting, krusial untuk membentuk karakter, moral, dan etika, serta menumbuhkan pemikiran kritis. Tapi bagaimana menjaga 'bahan bakar' itu agar tidak habis di tengah jalan?Yuliana Nurhayati, M.Pd memiliki pandangan yang menyegarkan. Ia menolak definisi belajar yang kaku. Pembelajaran, katanya, jauh lebih luas dari dinding kelas dan tumpukan buku. “Pendidikan tidak selalu formal: berkutat dengan buku-buku atau e-book berisi materi pelajaran, berjumpa guru atau dosen,” ujarnya lugas. “Pembelajaran bisa saja diperoleh dari luar lembaga pendidikan formal, seperti bersinergi dengan alam, melihat lingkungan sekitar, dan memperhatikan kehidupan masyarakat. Tidak kalah pentingnya berinteraksi dengan sesama yang akan menjadikan kita menjadi bijak.”Filosofi belajar holistik ini menjadi landasan bagi tujuh resep praktis yang ia tawarkan. Resep pertama adalah fundamental: Ingat tujuan hidup dan tumbuhkan kesadaran manfaat belajar. Mengapa kita harus repot-repot membuka buku? Mengapa harus bersusah payah menguasai keterampilan baru? Jika alasan (the 'why') itu kuat, konsistensi belajar akan datang dengan sendirinya.Ia menekankan pentingnya adab dalam mencari ilmu. Hormati orang berilmu, ikuti jejak mereka. Sebab, ilmu itu sangat luas, takkan cukup waktu untuk mempelajari semua. Ini membawa kita pada kiat keempat: Prioritaskan belajar pada bidang yang hendak dikuasai atau sesuai pekerjaan. Selebihnya? Cukup untuk menambah wawasan.Yang paling menarik, Yuliana mendorong generasi muda untuk berhenti membandingkan diri. Fokuslah pada usaha meningkatkan kualitas diri sendiri. "Jangan minder melihat kehebatan orang lain," pesannya. Ketika kita fokus pada pertumbuhan internal, kita akan terhindar dari penyakit hati yang merusak motivasi.Prinsip ini beriringan dengan kiat keenam: Jangan pernah merendahkan orang lain. Setiap individu memiliki kelebihan dan kekurangan yang unik. Kesombongan dan rasa minder adalah dua sisi mata uang yang sama-sama mematikan semangat juang.Pada akhirnya, motivasi belajar harus bermuara pada aksi yang berdampak. Kiat penutupnya adalah belajar dari orang-orang hebat yang memiliki ketajaman berpikir dan banyak melakukan aksi positif ke masyarakat. Inilah kunci untuk mengubah ilmu menjadi kebijaksanaan, dan karakter menjadi aksi nyata. Pendidikan sejati, sesungguhnya, adalah proses menjadi bijak.  
# EDUKASI
# Opini

Silaturahmi: Investasi Sosial untuk Harmoni dan Umur Panjang

Edubanua.com
18 Januari 2026
Iwan Perdana, Ph.D, Ketua RT.12 Kelurahan Sungai Miai Kota Banjarmasin, menggelar silaturahmi warga di kediamannya pada Minggu (18/01/2026). Beliau menjadikan pertemuan pertama di tahun Januari 2026  tersebut sebagai ajang mempererat tali persaudaraan, dan membangun sinergi antar warga. Dihadapan masyarakatnya, Iwan Perdana yang juga dosen FKIP UNISKA MAB Banjarmasin menyampaikan beberapa hal, antara lain: (1) Pentingnya menjaga kerukunan dan keharmonisan warga RT.12, (2) Menghimbau warga agar menjaga kebersihan lingkungan, (3) Menawarkan pembelajaran Bahasa Inggris gratis bagi pelajar SMP dan SMA sederajat,(4) Informasi Pengusulan Kartu Prakerja 2026, dan (5) Informasi peluang menjadi Agen Edukasi Kebersihan yang bertugas mensosialisasikan pentingnya kebersihan, pengelolaan sampah, dan pola hidup bersih kepada warga di lingkungan RT.12.Landasan dan Hakikat Silaturahmi: Dari Iman, Ilmu, hingga BudayaAllah SWT menjelaskan dalam QS At-Tin ayat 4, bahwa manusia diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Dilengkapi hati, akal, dan fisik yang proporsional, manusia dijadikan khalifah di muka bumi dengan tugas utama memakmurkan bumi atas dasar ketaatan kepada Allah (QS. Al Baqarah ayat 30).Meskipun sempurna: memiliki hati, akal dan fisik yang proporsional, manusia  tidak dapat hidup seorang diri, karena  manusia  adalah mahluk  sosial (Pranata & Hartati, 2017) yang memerlukan orang lain, membutuhkan bantuan orang lain, hidup bersama orang banyak,  dan tidak dapat melakukan suatu kegiatan tanpa melibatkan orang lain (Hantono & Pramitasari, 2018).Interaksi antar sesama manusia yang dilakukan dengan niat baik dapat dianggap sebagai bagian dari silaturahmi. Mengapa? karena silaturahmi (menyambung kasih sayang) adalah esensi dari hubungan sosial. Menurut Istianah (2016), Silaturahmi harus dilakukan untuk seluruh umat Islam, baik yang ada kaitan hubungan nasab (keturunan) maupun hubungan persaudaraan sesama umat muslim. Bahkan kepada kaum non muslim (berbeda keyakinan) pun dituntut untuk berbuat baik dengan saling menghormati dan menghargai, hanya saja bentuk dan etikanya yang berbeda.Silaturahmi bukan hanya sekadar bertemu, tetapi ada rasa saling mengasihi, menghormati, membantu, dan berbagi kebaikan untuk mempererat persaudaraan guna menciptakan harmoni, dan mendapatkan keberkahan hidup, Rasullah SAW menjelaskan silaturahmi menambah rezeki dan memperpanjang umur (HR. Bukhari dan Muslim). Bagi Masyarakat Indonesia, silaturahmi merupakan kegiatan yang sudah menjadi kebiasaan atau budaya secara turun temurun. Kegiatan ini bertujuan untuk menjalin tali persaudaraan (Ridho et al., 2021). Selain itu, Silaturahmi juga merupakan sebuah muamalah atau hukum yang mengatur urusan manusia yang sederhana namun fundamental dengan keperdulian terhadap keluarga, saudara ataupun orang lain dengan manfaat menambah rezeki, diberikan umur panjang (Made Cahyana et al., 2021). Kegiatan silaturahmi memberikan banyak manfaat, baik di dunia maupun di akhirat. Di dunia, silaturahmi meningkatkan intensitas komunikasi yang menciptakan keharmonisan: kehangatan dan cinta kasih sehingga mampu meningkatkan sharing informasi dan saling percaya. Untuk akhirat, silaturahmi mendatangkan keberkahan: orang-orang yang menjaga silaturahmi akan masuk ke dalam Syurga.Diriwayatkan dari Abu Ayyub Al-Ansari: Seorang lelaki berkata, "Wahai Rasulullah! Beritahu saya tentang suatu amal yang akan membuat saya masuk surga." Rasulullah SAW bersabda, "Engkau harus menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun; mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan menjaga hubungan silaturahmi." (https://www.hadits.id/hadits/bukhari/5983).Membangun Sinergi dan Keberkahan Studi Cohen (2001) menunjukkan bahwa individu dengan jejaring sosial yang lebih luas dan interaksi sosial yang aktif cenderung memiliki usia harapan hidup lebih panjang dan kesehatan yang lebih baik,. Silaturahmi yang digelar Ketua RT.12 Kelurahan Sungai Miai ini bukan sekadar pertemuan rutin belaka. Merujuk pada kutipan-kutipan yang menjadi referensi pada tulisan singkat ini, silaturahmi merupakan perwujudan nyata dari ajaran agama, dan kearifan lokal yang menyatu dalam satu tindakan bermakna. Dari tingkat rukun tetangga inilah fondasi harmoni sosial dibangun, sinergi warga diperkuat, dan keberkahan hidup diraih.ReferensiCohen, S. (2001). Social relationships and health: Berkman & Syme [1979].Hantono, D., & Pramitasari, D. (2018). Aspek Perilaku Manusia sebagai Makhluk Individu dan Sosial pada Ruang Terbvuka Publik. Nature: National Academic Journal of Architecture, 5(2), 85. https://doi.org/10.24252/nature.v5i2a1Istianah. (2016). Shilaturrahim Sebagai Upaya Menyambungkan Tali yang Terputus. Riwayah : Jurnal Studi Hadis, 2(2), 199. https://doi.org/10.21043/riwayah.v2i2.3143Made Cahyana, I., Ismirihah, A., & Rijalul Fahmi, R. M. (2021). Silaturahmi Melalui Media Sosial Pespektif Hadits (Metode Syarah Bil Ra’yi). Al-Hikmah: Jurnal Pendidikan Dan Pendidikan Agama Islam, 3(2), 213–224.Pranata, R. H., & Hartati, U. (2017). Interaksi Sosial Suku Sunda dengan Suku Jawa (Kajian Akulturasi dan Akomodasi di Desa Buko Poso, Kabupaten Mesuji). Swarnadwipa: Jurnal Kajian Sejarah, Sosial, Budaya, Dan Pembelajarannya, 1(3).Ridho, M., Pratama, M. R., Dwicahya, B., Yan Sutardi, P. P., Hutahaean, P., & Ashari, F. (2021). Pergeseran Metode Silaturahmi Di Indonesia Sebagai Dampak Pandemi COVID-19. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan, 8(1), 56–68.  
# EDUKASI
# Opini

Mengapa Psikologi Pendidikan dan Pendekatan Pembelajaran dipraktikkan sesuai kebutuhan?

Edubanua.com
26 Desember 2025
Banyak faktor memengaruhi prestasi belajar siswa, baik faktor internal (dari dalam diri) seperti motivasi, kecerdasan/ intelegensi, dan psikologis, maupun faktor eksternal (dari luar diri) seperti guru, keluarga, lingkungan sekolah, dan masyarakat).  Tulisan singkat ini membahas Guru, sebagai salah satu faktor eksternal  yang sangat penting, juga menjawab pertanyaan mengapa psikologi pendidikan dan pendekatan pembelajaran harus dikuasai dan dipraktikkan, sesuai kebutuhan.Iwan Perdana Ph.D, Dosen FKIP Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin, mengatakan perjuangan guru sangat berat. Eksistensinya  menentukan keberhasilan peningkatan SDM bangsa.  Oleh sebab itu, kualitas dan kompetensi guru harus terus ditingkatkan melalui pengembangan profesional berkelanjutan. Menurut Iwan Perdana, yang juga pendiri Yayasan Lanting Literasi Indonesia (https://www.lantingliterasiindonesia.or.id), Untuk memperkuat eksistensinya, penting bagi guru memahami psikologi pendidikan, dan memilih pendekatan pembelajaran yang sesuai kebutuhan dalam KBM. Guru akan semakin mengenali keunikan siswa, memahami cara berinteraksi sesuai usia siswa, sehingga dapat merancang strategi pembelajaran yang sesuai.  Psikologi pendidikan menunjang guru menjadi pribadi humanis: mampu menangani masalah perilaku dan emosi peserta didik. dan profesional menjalankan tanggung jawab, sejalan dengan tuntutan kompetensi pedagogik. Ketepatan guru memilih pendekatan  sesuai kebutuhan kelas akan menciptakan proses belajar mengajar yang kondusif: menyentuh kebutuhan emosional serta kognitif siswa.Psikologi Pendidikan Psikologi pendidikan adalah ilmu yang menggabungkan  ilmu jiwa (psikologi) dan ilmu pendidikan untuk mencapai tujuan yang sama (Nurjanah et al., 2023). Menurut Gunarty dan Tarigan (2023), ilmu ini berperan penting sebagai landasan ilmiah  untuk  memahami  bagaimana  anak  belajar,  berpikir,  mengembangkan  motivasi,  dan  berinteraksi  secara  sehat  dalam  konteks  pembelajaran di  kelas.   Pratiwi dan Maunah (2024) berpendapat psikologi pendidikan merupakan studi mengenai tingkah laku manusia dalam kegiatan belajar dan pembelajaran, serta penerapan konsep dan teori-teori psikologi dalam kegiatan belajar dan pendidikan. ilmu ini berhubungan erat dengan ilmu mengajar karena membahas tingkah laku manusia dalam proses pembelajaran (Alghifary & Wahyudi, 2023).Psikologi pendidikan diperlukan guru untuk menghadapi peserta didik yang unik dilihat dari segi karakteristik perilaku, kepribadian, sikap, minat, motivasi, perhatian, persepsi, daya  pikir,  inteligensi,  fantasi,  dan  berbagai  aspek  psikologis  lainnya karena setiap peserta didik berbeda dari peserta didik lainnya, seperti yang dikemukakan.Pendekatan Pembelajaran Pendekatan pembelajaran adalah cara atau strategi yang dipraktikkan guru dalam mengelola dan melaksanakan proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Ada banyak pendekatan pembelajaran, namun garis besarnya dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu: 1.      Pendekatan pembelajaran berpusat pada guru (Teacher-Centered)Dalam Pendekatan Teacher-centered, guru memikul tanggung jawab utama dalam proses pengajaran pengetahuan kepada siswa (Mascolo, 2009). Mempraktikkan teori behavioristik,: perubahan perilaku disebabkan oleh rangsangan eksternal (Skinner, 1974), Guru aktif di kelas, sedangkan siswa pasif. 2.    Pendekatan Pembelajaran berpusat pada siswa (Student-Centered)Siswa berperan aktif dalam Pendekatan Student-Centered. Mereka mendiskusikan apa yang telah dipelajari (Brophy, 1999), dan bekerja sama menyelesaikan tugas  sehingga terjadi interaksi antar siswa (Condelli & Wrigley, 2009). Pendekatan pembelajaran yang baik bersifat fleksibel: mudah beradaptasi dengan karakteristik siswa dan konteks pembelajaran, serta mendukung pengembangan keterampilan abad 21 seperti kreativitas, kolaborasi, dan berpikir kritis.Pendekatan yang menggabungkan teori pembelajaran dengan praktik kontekstual terbukti meningkatkan keterlibatan siswa, motivasi belajar, dan hasil pembelajaran secara signifikan (Handayani, et.,al,2024). Makatita dan Azwan (2021) melaporkan, motivasi memiliki kontribusi atau pengaruh terhadap prestasi belajar. Rosyidi et.,all, (2024) juga membuktikan hal yang sama, bahwa semakin tinggi  motivasi belajar maka prestasi belajar akan semakin baik. Bagaimana dengan kebahagiaan? Apakah terdapat hubungan antara motivasi belajar siswa dengan kebahagiaannya?. Adakah pengaruh motivasi dan kebahagiaan terhadap prestasi belajar siswa?Kebahagiaan  merupakan  hal  yang  unik  yang  dapat  berpengaruh  terhadap  kehidupan seseorang (Anas et al., 2022: 2). Menurut Jabal (2023), kebahagiaan dalam bidang pendidikan sangat diperlukan, terutama pada proses pembelajaran di dalam kelas. Jika pada saat memulai pembelajaran pendidik memiliki rasa senang dan bahagia maka pembelajaran yang akan disampaikan lebih menarik. Antika, Putra, dan Sari (2025) menyebutkan kebahagiaan  memiliki  kontribusi  sebesar  58%  terhadap  motivasi  belajar  matematika. Fitria (2022) melaporkan kebahagiaan mempunyai kontribusi atau hubungan sebesar 28,17% dengan hasil belajar siswa kelas X IPA 2 di Madrasah Aliyah Darul A’mal Metro Tahun Ajaran 2021/2022.Berdasarkan analisis datanya, Giyati (2019) memvalidasi bahwa ada hubungan positif antara kebahagiaan dengan motivasi belajar siswa SMP Kanisius Temanggung. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Dewantoro (2017) juga menegaskan bahwa kebahagiaan diri mempunyai peranan penting serta memiliki pengaruh yang positif terhadap prestasi belajar yang diraih oleh siswa. Begitu pun motivasi belajar terbukti memiliki pengaruh yang positif terhadap prestasi belajar yang diraih oleh siswa. ReferensiAlghifary, M. H. W., & Wahyudi, U. R. (2023). Penggunaan teori psikologi perkembangan di SDIT Mutiara Qolbu Sukatani. Studia Religia: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam, 7(1). https://doi.org/10.30651/sr.v7i1.18260Anas, M., Umar, N. F., & Harum, A. (2022). Faktor-faktor yang mempengaruhi kebahagiaan siswa. Jurkam: Jurnal Konseling Andi Matappa, 6(1), 51–64. https://journal.stkip-andi-matappa.ac.id/index.php/jurkam/article/view/2123Antika, S., Putra, Z. H., & Sari, I. K. (2025). Hubungan kebahagiaan dengan motivasi belajar matematika kelas V SDN 17 Pekanbaru. RISOMA: Jurnal Riset Sosial Humaniora dan Pendidikan, 3(2), 66–79.Brophy, J. (1999). Perspectives of classroom management: Yesterday, today, and tomorrow. Dalam H. Freiberg (Ed.), Beyond behaviorism: Changing the classroom management paradigm (hlm. 43–56). Allyn and Bacon.Condelli, L., & Wrigley, H. S. (2009). What works for adult literacy students of English as a second language? Dalam S. Reder & J. Bynner (Eds.), Tracking adult literacy numeracy skills: Findings from longitudinal research (hlm. 13-19). Routledge.Dewantoro, H. H. (2017). Pengaruh regulasi diri, kebahagiaan diri dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar siswa Madrasah Tsanawiyah Sunan Pandanaran Kabupaten Sleman Yogyakarta [Tesis magister, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta]. Repositori UIN Sunan Kalijaga. http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/27363/Giyati, A. N. (2019). Hubungan antara kebahagiaan dengan motivasi belajar siswa SMP Kanisius Temanggung [Skripsi, Universitas Katolik Soegijapranata]. Repository UNIKA Soegijapranata.https://repository.unika.ac.id/19909/Gunarty, Y., & Tarigan, B. (2023). Psikologi perkembangan: Memahami tahapan kehidupan manusia. Literacy Notes, 1–8. http://liternote.com/index.php/ln/article/view/6Handayani, R., Rarasafitri, T., Rahmayani, R., Fadillah, J., & Lubis, R. H. W. (2024). Strategi pembelajaran dan pendekatan matematika. Tematik: Jurnal Penelitian Pendidikan Dasar, 3(2). https://doi.org/10.57251/tem.v3i2.1616Ibrahim, J. T., & Mufriantie, F. (2023). Teori kebahagiaan dan realistisnya. Penerbit Bildung.Judijanto, L. (2025). Integrasi psikologi pendidikan dalam pengembangan pendidikan kontemporer: Suatu tinjauan sintesis teoretis. PESHUM: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora, 4(3). https://doi.org/10.56799/peshum.v4i3.8963 Maharani, D. K., Rosyidi, M., Sa’adah, J. Q., Latifah, U., Aj-Jaudah, S., & Wulandari, A. (2024). Pengaruh lingkungan sekolah terhadap motivasi belajar siswa kelas XII di MAN 4 Jombang. Jurnal Inovasi Penelitian Ilmu Pendidikan Indonesia, 1(3), 141–149.Makatita, S. H., & Azwan, A. (2021). Pengaruh motivasi belajar terhadap prestasi belajar siswa kelas X MIA SMA N 2 Namlea. Biosel: Biology Science and Education, 10(1), 34–40. Mascolo, M. (2009). Beyond student-centred and teacher-centred pedagogy: Teaching and learning as guided participation. Pedagogy and the Human Sciences, 1(1), 3–27.Nurjanah, A., Maulana, H., & Nurhayati, N. (2023). Psikologi pendidikan dan manfaat bagi pembelajaran: Tinjauan literatur. Cendekia Inovatif dan Berbudaya, 1(1). https://doi.org/10.59996/cendib.v1i1.172Pratiwi, K. D., & Maunah, B. (2024). Dasar psikologi pendidikan sebagai penentu arah pembelajaran. Edudikara: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 8(2).https://doi.org/10.32585/edudikara.v8i2.341Skinner, B. F. (1974). About behavioralism. Random House. Umami, F. (2022). *Hubungan antara kebahagiaan dengan hasil belajar fikih siswa kelas X IPA 2 di Madrasah Aliyah Darul A'mal Metro tahun ajaran 2021/2022* [Skripsi, Institut Agama Islam Negeri Metro]. Repository IAIN Metro. http://repository.metrouniv.ac.id/id/eprint/6604/
# EDUKASI
# Penelitian

Dari Zona 14 ke Zona Kurikulum: Playmaker Tidak Hanya di Lapangan Hijau. Mereka Juga Ada di Sekolah

Iwan Perdana
2 Februari 2026
Kebanyakan laki-laki suka bermain sepak bola, saya salah satunya. Sejak kecil, saya sudah menggandrungi permainan yang sangat populer di seluruh dunia ini. Hampir saban hari saya bersentuhan dengan bola, baik di sekolah, tanah lapang di kampung, dan lapangan sepak bola kayu tangi di bawah arahan Pak Udi (Alm), dan Mas Yanto. Saya tak lagi bermain bola selepas tahun 2000. Memori indah yang tersimpan hingga kini adalah mencetak gol di final liga Fakultas Ekonomi ULM Banjarmasin yang menghantarkan tim Angkatan 95 meraih juara di kompetisi terakhirnya.Api semangat mengejar bola kembali menyala beberapa tahun silam setelah Bang Amat, sohib masa kecil, mengenalkan saya kepada Pak Rudiansyah, pimpinan Berkah FC. Walau sebenarnya fisik tak lagi prima, dengan niat menjalin silaturahmi dan berolah raga, saya ikut bermain di lapangan kayu tangi setiap senin dan kamis jika tidak ada kesibukan di kampus. Di tim yang sangat solid inilah saya berkawan dengan pemain-pemain hebat di lapangan, dan sangat ramah di luar lapangan. Apa yang saya paparkan dalam tulisan singkat ini mungkin tidak begitu tepat, namun semoga tetap menarik untuk ditelaah. Saya mencoba mengaitkan  sepak bola dengan manajemen pendidikan, tepatnya ilmu terapan (applied science) yang berada di bawah naungan ilmu pendidikan. Disiplin ilmu yang saya pelajari. Saya menganalogikan salah satu posisi di tim sepak bola, yaitu Playmaker (Attacking Midfielder) dengan salah satu struktur strategis di manajemen sekolah, yaitu  Koordinator Pengembangan Kurikulum & Inovasi Pembelajaran.Dalam sebuah tim sepak bola, Playmaker bertindak sebagai otak serangan yang beroperasi di antara lini tengah dan depan. Seorang playmaker tak selalu mencetak gol, tetapi dialah otak di balik setiap peluang yang tercipta. Di Berkah FC, ada empat pemain berpengalaman yang memainkan posisi ini, yaitu Kapten Rudi, Taufik, Budi Riva, dan Izul. Mereka beroperasi di "Zona 14", area krusial di depan kotak penalti lawan. Dengan visi bermain yang kuat, ditopang  teknik, dan kemampuan dribbling yang sangat baik, keempat pemain andalan tersebut bertugas mengatur tempo, menciptakan peluang gol melalui umpan terobosan jitu, serta mendikte jalannya permainan. Di dunia pendidikan, di "lapangan" yang bernama sekolah, peran serupa playmaker dimainkan oleh seorang Koordinator Pengembangan Kurikulum dan Inovasi Pembelajaran. Umumnya jabatan ini dipercayakan kepada wakil kepala sekolah bidang kurikulum. Mereka adalah playmaker pendidikan, arsitek tak terlihat yang merancang skenario agar setiap "gol" pembelajaran—yaitu pemahaman mendalam dan keterlibatan siswa—tercapai.Jika playmaker sepak bola menguasai “zona 14” (area antara lini tengah dan penyerang), playmaker pendidikan beroperasi di “zona transisi” yang kritis. Mereka harus mampu menjembatani visi strategis kepala sekolah dan realitas harian di kelas. Tugas mereka bukan mengeksekusi, tetapi membuat eksekusi menjadi mungkin terjadi dan efektif. Umpan terukur (assist) seorang playmaker sepak bola, dalam pendidikan, berwujud desain pembelajaran yang brilian: sebuah skenario Project-Based Learning yang kontekstual, rubrik penilaian autentik, atau modul digital interaktif yang mereka siapkan untuk guru-guru. Mereka "mengumpan" para guru (para striker) untuk mencetak gol di depan siswa.Kemampuan membaca permainan (game intelligence) playmaker di lapangan sepak bola, di dunia pendidikan diterjemahkan menjadi analisis kebutuhan pembelajaran. Mereka melihat "celah" antara kurikulum nasional dan konteks lokal, antara minat siswa dan materi pelajaran, lalu merancang strategi untuk memanfaatkan celah tersebut menjadi peluang belajar yang menarik.Jika playmaker sepak bola menentukan kapan serangan dipercepat atau diperlambat, playmaker pendidikan memastikan alur pembelajaran sesuai ritme siswa—tidak membebani, juga tidak membosankan. Pada intinya, playmaker pendidikan adalah jembatan penghubung vital yang menerjemahkan kebijakan menjadi praktik, teori menjadi aksi, dan data menjadi strategi. Tanpa mereka, serangan pedagogis sebuah sekolah berisiko menjadi kaku, terfragmentasi, dan kurang kreatif.Seperti Kapten Rudi, Taufik, Budi Riva, dan Izul yang berperan penting menentukan ritme permainan Berkah FC sehingga tim ini berulang kali meraih tropi di kejuaraan sepak bola yang diselenggarakan Dispora Kalimantan Selatan, peran wakil kepala sekolah bidang kurikulum juga menentukan kualitas pendidikan di sebuah sekolah. Apabila pembelajaran di sekolah terasa hidup, dinamis, dan penuh penemuan, maka itu semua karena kepiawaian Koordinator Pengembangan Kurikulum dan Inovasi Pembelajaran, playmaker yang bermain di balik layar,  merancang pertunjukan, menyiapkan senjata bagi para guru, dan memastikan setiap serangan pembelajaran berakhir dengan gol kompetensi yang gemilang. 
# EDUKASI
# Opini

Etika Kepemimpinan dalam Penggunaan Ruang Kerja

Iwan Perdana
31 Desember 2025
Kepemimpinan memainkan peran penting dalam organisasi. Berhasil atau tidaknya suatu organisasi ditentukan oleh faktor kepemimpinan. Seorang pemimpin yang menginginkan organisasinya maju berkembang harus memiliki etika kepemimpinan yang baik. Etika kepemimpinan adalah konsep yang mencakup prinsip moral dan nilai yang harus diterapkan oleh seseorang saat memimpin tim atau organisasi. Etika kepemimpinan yang utama mencakup integritas, kejujuran, keadilan, dan sikap empati yang tinggi (https://www.prudential.co.id/id/pulse/article/etika-kepemimpinan). Apabila bawahan percaya pemimpinnya memiliki kemampuan, dapat dipercaya, dan mendukung kemajuan bawahan dan lembaga, maka bawahan cenderung lebih termotivasi untuk bekerja dengan baik, karena mereka merasa aman dan nyaman dalam lingkungan kerja.Fondasi Perilaku Pemimpin yang BeretikaSutanto (2021) menegaskan bahwa pemimpin yang menerapkan prinsip etika secara konsisten mampu menciptakan suasana kerja yang kondusif, meningkatkan kepercayaan, serta mendorong loyalitas bawahan. Dalam jangka panjang, kondisi ini berkontribusi terhadap stabilitas organisasi karena bawahan tidak hanya bekerja berdasarkan kewajiban formal, tetapi juga didorong oleh komitmen moral dan emosional terhadap organisasi.Seorang pemimpin yang ideal memiliki kemampuan dan profesionalisme untuk memimpin dengan manajemen dan sistem yang baik (Waedoloh et al., 2022). Salah satunya, manajemen pengelolaan ruang kerja. Penyediaan fasilitas ruang kerja yang mendukung kinerja, dan ketepatan peruntukan penggunaan ruang kerja harus menjadi atensi atensi seorang pemimpian.Ketika seorang pemimpin menerapkan etika dalam penggunaan ruang kerja, hal tersebut akan menjadi stimulus untuk membangun kepercayaan dan loyalitas bawahan. Tindakan ini akan memicu respons timbal balik positif dari bawahan, menciptakan hubungan yang harmonis dalam organisasi.Keteladanan sebagai Penggerak BudayaPerilaku dan integritas pribadi pemimpin adalah pendorong utama dalam menumbuhkan budaya organisasi yang akuntabel, transparan, dan berkinerja tinggi. Dalam konteks penggunaan ruang kerja, pemimpin yang etis menunjukkan disiplin diri dan menghormati fasilitas organisasi bagi seluruh bawahan untuk tercapainya tujuan organisasi.Dengan demikian, etika pemimpin dalam menggunakan ruang kerja bukan hanya tentang cara memanfaatkan fasilitas, tetapi juga tentang membangun budaya organisasi yang berintegritas, transparansi, dan inklusif melalui keteladanan dan kepemimpinan yang konsisten.Referensi:Waedoloh, H., Purwanta, H., & Ediyono, S. (2022). Gaya Kepemimpinan dan Karekteristik Pemimpin yang Efektif, Waedoloh, Husen Purwanta, Hieronymus Ediyono, Suryo. https://jurnal.uns.ac.id/shes SHEs: Conference Series 5 (1) (2022) 144– 152 Gaya. Social, Humanities, and Educational Studies (SHEs): Conference Series, 5(1), 144.Sutanto, E. M. (2021). Kepemimpinan etis dan implikasinya terhadap kepercayaan serta loyalitas karyawan. Jurnal Manajemen Sumber Daya Manusia, 15(2), 89–102.  
# EDUKASI
# Opini

Skripsi: Self-Development dan Pendidikan Karakter

Iwan Perdana
22 Desember 2025
Salah satu syarat kelulusan bagi mahasiswa menyelesaikan studi adalah menyusun karya tulis ilmiah. Terminologi di Indonesia, karya tulis ilmiah untuk syarat kelulusan S1 (Sarjana) disebut skripsi. Tesis untuk S2 (Magister), dan Disertasi untuk S3 (Doktor). Perbedaan di antara ketiganya terletak pada kedalaman analisis, bobot ilmiah, serta tuntutan kebaruan temuan.Karya tulis ilmiah tidak sekadar untuk memenuhi syarat administratif, tetapi juga bukti mendalami suatu bidang ilmu secara komprehensif. Proses ini mendorong mahasiswa mengaplikasikan teori-teori yang telah dipelajari semasa kuliah, dengan penekanan pada mata kuliah Metodologi Penelitian.Manfaat SkripsiSkripsi adalah syarat kelulusan jenjang S1. Manfaatnya sangat banyak. Tidak sekadar untuk memenuhi syarat kelulusan, tapi juga mengasah kemampuan mahasiswa berpikir kritis, analitis, berkomunikasi, menuangkan pikiran dalam tulisan, dan berlatih menyelesaikan masalah. Proses pengerjaan skripsi menanamkan karakater disiplin, bekerja keras, sopan santun, menghargai orang lain, dan bertanggung jawab. Melalui skripsi sebagai latihan,  mahasiswa diharapkan tidak hanya unguul di bidang akademik, tetapi juga menjelma menjadi pribadi pantang menyerah, dan konsisten dalam usaha mengerjakan sesuatu tepat waktu.  Kaitan Skripsi dengan Self-Development dan Pendidikan KarakterSelain manfaat yang telah dijelaskan, skripsi mengingatkan mahasiswa untuk mengenal dirinya sendiri: kelebihan dan kekurangannya, sehingga dapat bersikap bijak di masa yang akan datang. Di dalam prosesnya, mereka belajar bersikap legowo menerima kritik, terus meningkatkan kualitas diri, dan mengakui kontribusi orang lain (Dosen pembimbing dan penguji). Ini akan menumbuhkan sikap rendah hati (tawadhu') dan kesadaran diri bahwa kesuksesan berasal dari usaha dan bantuan banyak pihak, bukan semata karena kehebatan diri sendiri.  
# EDUKASI
# Opini

Wisuda: Dari Tradisi Akademik hingga Misi FKIP UNISKA Mencetak Guru Profesional

Iwan Perdana
19 Desember 2025
Wisuda adalah momen yang menandai berakhirnya masa studi di kampus. Acara ini diselenggarakan penuh khidmat untuk mengukuhkan kelulusan mahasiswa. Yuliantin Azizah (2023) dalam situs https://itsm.ac.id/uncategorized/sejarah-singkat-wisuda menyebutkan perayaan kelulusan mirip konsep wisuda sudah ada sejak zaman Plato (abad ke-4 SM), yaitu upacara "Iklan" di Athena. Pesta kelulusan juga ada di Roma kuno yang disebut "promotio" atau “conventus”. Azizah menambahkan, perayaan kelulusan yang kemudian dikenal dengan istilah Wisuda menjadi upacara formal Universitas di Eropa pada abad pertengahan: Universitas Bologna di Italia, dan Universitas Oxford di Inggris. Di Amerika, Universitas Harvard, USA mengadakannya pada tahun 1642. Sedangkan di Indonesia, Universitas Gadjah Mada (UGM) menjadi kampus pertama yang menyelenggarakan wisuda pada 19 November 1963. Wisuda merupakan momen penutupan berakhirnya masa studi di kampus sekaligus wujud komitmen perguruan tinggi menghantarkan mahasiswa mencapai tujuan akademik mereka. Pelaksanaan wisuda menegaskan pengakuan kampus terhadap kerja keras, ikut merayakan pencapaian studi, dan apresiasi atas dedikasi mahasiswa terhadap ilmu pengetahuan. Di ajang yang sangat tepat untuk mengapresiasi orang tua, kerabat, dan para dosen ini pula akan terbangun kebanggaan dan identitas alumni, sekaligus pertanggungjawaban perguruan tinggi kepada masyarakat dengan menyiapkan lulusan yang siap berkontribusi kepada negara, masyarakat, dan dunia kerja. Pada tanggal 16 – 18 Desember 2025, Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin menggelar Wisuda Program Sarjana ke-50, dan Pascasarjana ke-23. Di rangkaian wisuda yang digelar selama tiga hari tersebut, UNISKA mengukuhkan 3.254 lulusan dari berbagai jenjang Pendidikan.Salah seorang Dekan di UNISKA MAB Banjarmasin yang tampak gembira dalam ajang pengukuhan kelulusan ini adalah Dr Hengki S.S.,M.Pd. Tahun ini, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) yang dipimpinnya menghantarkan 183 mahasiswa mengikuti Wisuda. Melalui pesan WhatsApp, Rabu (17/12/2025), Beliau menyatakan keyakinannya bahwa para lulusan FKIP UNISKA MAB Banjarmasin siap menjadi guru profesional. Optimisme ini dilandasi oleh praktik pembelajaran di kampus selama ini menekankan pada proses membimbing dan mengajar mahasiswa agar mereka mampu mengembangkan keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan masyarakat. Sebagai Fakultas yang saban tahun meluluskan calon guru Pendidikan Bahasa Inggris, Bimbingan Konseling, Pendidikan Kimia, dan Pendidikan Olah raga. FKIP UNISKA telah berkontribusi besar membangun bangsa dan memajukan masyarakat khususnya di bidang Pendidikan. Para alumni FKIP UNISKA terbukti tangguh, berkarakter kuat, inovatif, adaptif, dan berdaya saing. Banyak guru berkualitas lulusan FKIP UNISKA mengabdikan diri di dunia pendidikan. Mereka berjuang mencerdaskan generasi khususnya di Banua.  Terlebih lagi, Dr Hengki, Dosen Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UNISKA, memiliki perspektif bahwa guru adalah pengajar yang harus tampil sebagai pembimbing dan teladan dalam membentuk peradaban bangsa yang bermartabat. Ini tentu saja mempengaruhi kebijakannya dalam meningkatkan mutu penyelenggaraan perkuliahan dalam rangka menyiapkan lulusan (guru) berkualitas. 
# EDUKASI
# Opini

Prometheus di Abad Modern

Iwan Perdana
17 Desember 2025
Dalam mitologi Yunani, manusia tidak memiliki pengetahuan sampai akhirnya mendapatkannya dari Prometheus. Harga yang harus dibayar Titan cerdas itu sangat mahal. Atas keberaniannya mencuri api (simbol pengetahuan) di gunung Olimpus, Zeus menghukumnya dengan siksa abadi. Dia dirantai di gunung, tempat bersemayamnya para Dewa. Hatinya dimakan burung elang saban hari. Setelah dilahap elang, malamnya tumbuh lagi, kemudian dimakan lagi. Terus begitu, selamanya.Mengapa Prometheus berani mencuri api pengetahuan, padahal dia menyadari risikonya. Kecintaannya yang sangat besar kepada manusialah yang membuatnya nekat mengambil dan menghadiahkan api pengetahuan kepada manusia. Sang Titan ingin manusia menjalani kehidupan yang lebih baik, dan makmur.Bertolak dari cerita itu, mestinya seluruh umat manusia tercerahkan karena mendapatkan pengetahuan. Namun ternyata, sejak dahulu pengetahuan adalah barang mewah, tidak semua orang berkesempatan memperolehnya. Hanya kalangan tertentu saja: Anak-anak raja, keturunan bangsawan, para pejabat istana, dan anak keturunan orang kaya. Dalam kisah Mahabrata, diceritakan Dronacharya, Sang Mahaguru Hastinapura, membatasi pengajaran pengetahuannya hanya kepada kasta Ksatria: Pandawa & Kurawa. Dia tidak berkenan mengajari Ekalaya dan juga Karna, rakyat biasa.Keterbatasan akses pengetahuan bukan hanya cerita masa lalu. Kini pun, masih banyak anak kurang beruntung yang merasakannya. Mereka terjebak di daerah yang dilanda konflik, kemiskinan ekstrem, dan ketidakstabilan politik, ataupun dogma yang menutup peluang kaum hawa ke sekolah. Maka beruntunglah kita yang merasakan manisnya pendidikan sehingga memiliki pengetahuan.Lalu bagaimana bentuk syukur atas anugerah yang luar biasa ini?. Jawabannya sederhana, belajar dan belajar, kemudian mempraktikkannya demi meningkatkan kesejahteraan umat manusia, seperti yang dilakukan Prometheus. Menurut saya, para ilmuwan yang bersusah payah belajar, mengasah keterampilan sehingga mampu menciptakan sesuatu untuk meningkatkan kesejahteraan umat manusia adalah manusia pilihan Tuhan – mereka rela mencurahkan pikiran, tenaga dan masa mudanya untuk belajar. Mereka (mungkin) seperti Prometheus yang menderita demi umat manusia, karena menghabiskan banyak waktu hidupnya untuk mempelajari sesuatu, dan menggunakannya untuk kebaikan orang banyak.  
# EDUKASI
# Opini

Transformasi Pendidikan Tinggi: Menjawab Tantangan dan Isu Strategis Abad 21

Rizki Nugerahani Ilise, M.Pd
17 Desember 2025
Pendidikan dan pembelajaran abad ke-21 mengalami perubahan yang sangat signifikan, termasuk dalam konteks perguruan tinggi. Perguruan tinggi tidak lagi hanya dipahami sebagai tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi sebagai ruang strategis untuk membentuk sumber daya manusia yang unggul, adaptif, dan siap menghadapi tantangan global. Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan dinamika sosial menuntut perguruan tinggi untuk melakukan transformasi dalam sistem pendidikan dan pembelajarannya agar tetap relevan dengan kebutuhan zaman.Salah satu isu strategis utama dalam pendidikan abad ke-21 di perguruan tinggi adalah tuntutan penguasaan keterampilan abad ke-21. Mahasiswa tidak cukup hanya menguasai teori dan konsep keilmuan, tetapi juga harus memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif. Perguruan tinggi dituntut mampu menyiapkan lulusan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga mampu memecahkan masalah nyata, mengambil keputusan secara tepat, serta beradaptasi dengan perubahan yang cepat di dunia kerja dan masyarakat.Isu strategis berikutnya adalah pesatnya perkembangan teknologi digital yang berdampak langsung pada proses pembelajaran di perguruan tinggi. Pemanfaatan teknologi informasi melalui pembelajaran daring, e-learning, dan berbagai platform digital menjadi kebutuhan yang tidak terpisahkan. Teknologi memberikan peluang besar untuk menciptakan pembelajaran yang fleksibel, interaktif, dan terbuka. Namun, di sisi lain, tantangan yang dihadapi adalah kesiapan dosen dan mahasiswa dalam memanfaatkan teknologi secara efektif serta masih adanya kesenjangan literasi digital. Oleh karena itu, perguruan tinggi perlu memastikan bahwa teknologi digunakan sebagai sarana pendukung pembelajaran yang bermakna, bukan sekadar sebagai pelengkap.Perubahan karakteristik mahasiswa juga menjadi isu strategis dalam pembelajaran abad ke-21 di perguruan tinggi. Mahasiswa saat ini cenderung lebih kritis, terbuka terhadap informasi, dan terbiasa dengan teknologi digital. Kondisi ini menuntut perubahan pendekatan pembelajaran dari yang berpusat pada dosen menjadi pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa. Model pembelajaran aktif, seperti diskusi, proyek, pembelajaran berbasis masalah, dan penelitian sederhana, menjadi sangat relevan untuk mendorong mahasiswa terlibat secara aktif dalam proses belajar. Dosen berperan sebagai fasilitator yang membimbing dan mengarahkan mahasiswa dalam membangun pengetahuannya sendiri.Selain aspek akademik, penguatan karakter dan nilai-nilai etika juga menjadi isu strategis yang penting dalam pendidikan perguruan tinggi abad ke-21. Arus globalisasi dan keterbukaan informasi membawa berbagai pengaruh yang dapat berdampak pada sikap dan perilaku mahasiswa. Oleh karena itu, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk menanamkan nilai kejujuran, tanggung jawab, disiplin, toleransi, dan etika akademik dalam setiap aktivitas pembelajaran. Pendidikan karakter menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses akademik agar lulusan perguruan tinggi tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga berintegritas dan berakhlak.Isu strategis lainnya adalah keterkaitan antara perguruan tinggi dengan dunia kerja dan kebutuhan masyarakat. Perguruan tinggi dituntut untuk menghasilkan lulusan yang relevan dengan perkembangan industri dan mampu bersaing secara global. Kurikulum dan pembelajaran perlu dirancang agar selaras dengan kebutuhan nyata di lapangan, tanpa mengabaikan pengembangan keilmuan dan nilai-nilai kemanusiaan. Kolaborasi antara perguruan tinggi, dunia industri, dan masyarakat menjadi penting untuk memastikan bahwa proses pembelajaran memberikan pengalaman nyata bagi mahasiswa.Terakhir, profesionalisme dosen menjadi kunci dalam menjawab berbagai isu strategis pendidikan dan pembelajaran abad ke-21 di perguruan tinggi. Dosen dituntut untuk terus meningkatkan kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian. Inovasi dalam pembelajaran, pemanfaatan teknologi, serta keterlibatan dalam penelitian dan pengabdian kepada masyarakat menjadi bagian penting dari peran dosen. Dengan dosen yang profesional dan adaptif, perguruan tinggi akan mampu menciptakan pembelajaran yang berkualitas dan menghasilkan lulusan yang siap menghadapi tantangan abad ke-21.Secara keseluruhan, isu-isu strategis pendidikan dan pembelajaran abad ke-21 di perguruan tinggi menuntut perubahan yang menyeluruh dan berkelanjutan. Perguruan tinggi perlu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri dan nilai-nilai dasar pendidikan. Melalui pembelajaran yang inovatif, berpusat pada mahasiswa, berlandaskan nilai karakter, serta didukung oleh dosen yang profesional, perguruan tinggi diharapkan mampu melahirkan generasi yang cerdas, berkarakter, dan berdaya saing tinggi di tingkat nasional maupun global.
# EDUKASI
# Opini

Partisipasi STKIP ISM Banjarmasin dalam Kegiatan AI Learning Lab Education: Upaya Mendukung Transformasi Pendidikan Tinggi di Bidang Digital

Vebrianti Umar M.Pd
17 Desember 2025
Saya, Vebrianti Umar M.Pd Wakil Ketua Bidang Akademik, dan Yuliana Nurhayati, M.Pd Wakil Ketua Bidang Kerja Sama dan Kemahasiswaan STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, mengikuti kegiatan AI Learning Lab Education yang diselenggarakan pada 20 November 2025 di Hotel Rattan Inn Banjarmasin. Kegiatan ini menjadi forum strategis untuk memperluas wawasan perguruan tinggi terkait pemanfaatan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) dalam mendukung transformasi pendidikan tinggi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi digital.Kegiatan diawali dengan pemaparan dari Tim AI Learning Lab, yang dibuka oleh Tiffany Santosa. Dalam sesi pembuka ini disampaikan gambaran umum mengenai peran AI dalam dunia pendidikan, khususnya bagaimana teknologi AI dapat dimanfaatkan secara etis, aman, dan inklusif untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran, kolaborasi akademik, serta pengelolaan institusi pendidikan.Selanjutnya, pemaparan Kepala LLDIKTI Wilayah XI Kalimantan, Dr. Drs. Muhammad Akbar, M.Si. Dalam keynote speech-nya, beliau menekankan bahwa transformasi digital di perguruan tinggi merupakan sebuah strategi holistik yang mencakup perubahan cara institusi beroperasi, mengajar, dan melayani mahasiswa melalui pemanfaatan teknologi digital seperti AI, cloud, dan data analytics. Transformasi ini dinilai mampu meningkatkan efisiensi manajemen akademik, memperluas akses pendidikan, serta memperkuat relevansi lulusan dengan kebutuhan industri global. Pemaparan tersebut juga menegaskan pentingnya kepemimpinan digital dan pendekatan sistemik agar implementasi transformasi digital dapat berjalan secara berkelanjutan dan berdampak nyata bagi institusi pendidikan tinggi Sesi pemaparan ditutup oleh Hari Siswantoro, S.T., M.T., Ph.D. dari Fakultas Teknik Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED). Beliau membagikan praktik baik pengembangan ekosistem kampus cerdas melalui pemanfaatan Google Workspace for Education yang terintegrasi dengan teknologi AI. Dalam paparannya, Beliau menjelaskan bagaimana UNSOED secara bertahap membangun infrastruktur pembelajaran digital, mulai dari migrasi sistem informasi, pemanfaatan Google Workspace, hingga penggunaan AI untuk mendukung penyusunan RPS, bahan ajar, evaluasi pembelajaran, administrasi akademik, serta aktivitas penelitian. Beliau juga menekankan bahwa transformasi digital tidak harus menunggu kesiapan infrastruktur yang sempurna, melainkan dapat dimulai dari kolaborasi sederhana yang berkelanjutan Melalui keikutsertaan dalam kegiatan AI Learning Lab Education ini,  kami memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai pentingnya pemanfaatan AI secara strategis dalam pendidikan tinggi, baik pada aspek pembelajaran, pengelolaan institusi, maupun pengembangan kompetensi mahasiswa. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi inspirasi dan pijakan awal bagi penguatan kebijakan serta implementasi teknologi AI di lingkungan perguruan tinggi, khususnya dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan dan daya saing institusi di era digital.  
# EDUKASI
# Opini

Mewujudkan Kampus Aman Tanpa Kekerasan Seksual

Rizki Nugerahani Ilise, M.Pd
9 Desember 2025
Kekerasan seksual di lingkungan perguruan tinggi telah menjadi masalah serius yang memerlukan penanganan khusus. Berbagai kasus kekerasan seksual yang terjadi di kampus, baik terhadap mahasiswa maupun sivitas akademika lainnya, menunjukkan urgensi dibentuknya mekanisme pencegahan dan penanganan yang efektif. Merespons situasi ini, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menginisiasi pembentukan Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Perguruan Tinggi. Langkah ini sejalan dengan upaya implementasi Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Perguruan Tinggi.Satgas ini dibentuk dengan tujuan utama menciptakan lingkungan kampus yang aman, nyaman, dan bebas dari segala bentuk kekerasan seksual. Fungsinya mencakup upaya pencegahan melalui edukasi dan sosialisasi, serta penanganan kasus-kasus kekerasan seksual yang terjadi di perguruan tinggi.Salah satu upaya signifikan yang dilakukan adalah pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Perguruan Tinggi. Inisiatif ini muncul dari kesadaran bahwa lingkungan akademik seharusnya menjadi ruang yang aman dan kondusif bagi seluruh sivitas akademika untuk mengembangkan potensi mereka tanpa rasa takut atau ancaman. Pembentukan Satgas ini juga merupakan langkah kongkret dalam mengimplementasikan berbagai kebijakan nasional yang telah ditetapkan untuk mengatasi masalah kekerasan seksual secara lebih komprehensif. Selain itu, Pembentukan Satgas ini juga merupakan kewajiban yang dikelola oleh perguruan tinggi berdasarkan Indikator Kinerja Utama 2.6 untuk mengatasi kekerasan seksual di lingkungan akademik. Diharapkan dengan adanya Satgas ini, kasus-kasus kekerasan seksual di perguruan tinggi dapat ditangani secara lebih sistematis, komprehensif, dan berpihak pada korban.Upaya ini tidak hanya melibatkan pihak internal perguruan tinggi, tetapi juga membutuhkan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, penegak hukum, organisasi masyarakat sipil, dan komunitas sekitar. Dengan adanya Satgas ini, diharapkan kasus kekerasan seksual di perguruan tinggi dapat ditangani dengan lebih efektif. Lebih dari itu, keberadaan Satgas juga diharapkan dapat mendorong perubahan budaya yang lebih luas, di mana kekerasan seksual tidak lagi ditoleransi dan seluruh sivitas akademika berkomitmen untuk menciptakan lingkungan yang aman dan saling menghormati dan bebas dari kekerasan seksual.Implementasi Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di perguruan tinggi merupakan langkah penting, namun masih banyak tantangan yang harus dihadapi. Salah satunya adalah membangun kesadaran dan pemahaman yang menyeluruh di kalangan sivitas akademika tentang pentingnya isu ini. Diperlukan program edukasi berkelanjutan yang tidak hanya berfokus pada pencegahan, tetapi juga pada pembentukan budaya yang menghargai consent dan kesetaraan gender. Selain itu, penguatan sistem pelaporan yang aman dan terpercaya juga menjadi kunci. Banyak korban kekerasan seksual enggan melaporkan kasusnya karena takut akan stigma atau pembalasan. Oleh karena itu, perguruan tinggi perlu memastikan adanya mekanisme pelaporan yang menjamin kerahasiaan dan keamanan pelapor. Evaluasi berkala terhadap efektivitas Satgas juga penting untuk memastikan bahwa upaya yang dilakukan tetap relevan dan responsif terhadap kebutuhan komunitas kampus. Kolaborasi dengan ahli di bidang kekerasan berbasis gender dan trauma dapat memperkuat kapasitas Satgas dalam menangani kasus-kasus kompleks.
# EDUKASI
# Opini

From Zoom to WhatsApp : Refleksi Pengalaman Mengajar Classroom Instructional Practice

Vebrianti Umar M.Pd
7 Desember 2025
Kamis, 4 Desember 2025 tepatnya pukul 13.30 WITA, saya memulai perkuliahan Classroom Instructional Practice secara daring dengan penuh semangat. Materi sudah siap, koneksi internet stabil, dan mahasiswa mulai memasuki ruang Zoom satu per satu. Saya selalu menikmati mata kuliah ini karena interaksinya yang dinamis meskipun hanya melalui layar  : mahasiswa aktif bertanya dan berbagi pendapat. Pada sesi opening, semua berjalan dengan lancar. Mahasiswa tampak antusias, mereka bahkan sudah menyalakan kamera lebih cepat dari biasanya. Setelah sesi pembuka, saya mulai menjelaskan materi. Namun, di tengah penjelasan, tiba-tiba ruang zoom tertutup dan Layar depannya menampilkan peringatan: “Gagal mendeteksi mikrofon dan speaker Anda. Pastikan perangkat Anda terhubung dengan benar”. Bersamaan dengan itu,  mahasiswa juga mengirim pesan lewat whatsapp , “Bu, kami terlempar dari zoom dan tidak bisa masuk lagi”. Saya mencoba tetap tenang dan memeriksa kembali perangkat, berharap gangguan itu hanya sementara. Namun laptop saya mengalami freeze dalam beberapa detik. Saat itu kesal, panik, dan khawatir kelas tidak terselesaikan. Mahasiswa pasti menunggu instruksi, dan saya tidak ingin mereka menganggap perkuliahan berakhir begitu saja hanya karena kendala teknis.Akhirnya, saya mengambil keputusan cepat: membuka WhatsApp dan mengirimkan pesan di grup “Jangan bubar dulu ya, kita lanjut lewat video call,”.  Dalam hitungan menit, kami terhubung melalui video call WhatsApp. Memang, Jauh lebih sederhana : tanpa share screen, tanpa slide, tetapi setidaknya komunikasi kembali berjalan. Saya bisa mendengar suara mahasiswa satu per satu, meski kadang suara terdengar tidak bersamaan.Dalam konteks ini, saya menyadari satu hal, teknologi memang memudahkan, tetapi tidak selalu bisa diandalkan. Meski begitu, kehadiran alternatif sederhana seperti WhatsApp justru menyelamatkan perkuliahan siang itu. Dengan media seadanya, saya menyampaikan ringkasan materi, instruksi lanjutan, dan memastikan mahasiswa tetap mengikuti alur pembelajaran.Setelah kelas berakhir, saya menutup telepon dan menarik napas panjang, lega rasanya.  Pengalaman ini membuat saya tersenyum kecil, bukan karena menyenangkan, tetapi ini sebuah sinyal bagi saya bahwa menjadi dosen di era digital berarti harus siap menghadapi apa saja, termasuk koneksi yang tiba-tiba memilih untuk “istirahat sejenak”. Kejadian itu mengajarkan saya bahwa fleksibilitas dan kreativitas sering kali lebih penting daripada platform apa pun yang kita gunakan. Yang terpenting adalah bagaimana tetap menjaga keberlangsungan pembelajaran, walaupun prosesnya tidak selalu mulus.
# EDUKASI
# Opini

Strategi Kelas Tangguh Cegah Bullying dan Dampaknya terhadap Kesehatan Mental Anak

Iwan Perdana
4 Desember 2025
Bullying kini menjadi ancaman menakutkan. Di sepanjang tahun 2025 , KPAI melaporkan 25 anak bunuh diri termasuk di lingkungan sekolah. Ini meresahkan para orang tua, khawatir terjadi sesuatu kepada putra-putrinya di sekolah. Bersama Tati Akhbariyyah, SS.,S.Pd.,M.Pd dan Muhammad Arsyad, M.Ps, Saya diminta menjadi salah salah seorang narasumber memerangi praktik bullying di sekolah melalui kegiatan Sosialisasi Dampak Perundungan terhadap Mental Anak yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Barito Kuala (Batola) pada Rabu 26 November 2026. _ https://www.katabanua.com/disdik-batola-gelar-sosialisasi-anti-perundungan-dorong-sekolah-ramah-anak-dan-lingkungan-belajar-aman/. Di kegiatan yang dibuka oleh Plt  Kepala Dinas Pendidikan, Lulut Widiyanto, S.Pd.,M.M tersebut, Saya memaparkan materi mencegah perundungan di sekolah, dan menanggulangi dampak yang ditimbulkannya kepada 26 perwakilan guru SD dari kecamatan yang ada di Batola dari persepktif manajemen pendidikan.Menurut saya, salah satu upaya mencegah bullying adalah dengan membangun fondasi kelas yang tangguh, dengan cara mempraktikkan:1.   Melalui iklim kelas positif Guru melibatkan siswa dalam membuat aturan bersama di kelas. Peraturan berisi perintah dan larangan yang disepakati harus ditaati seluruh siswa, termasuk konsekuensi atas pelanggarannya.2.   Menanamkan karakter baikSelain memberikan keteladanan, menjadi inspirator, fasilitator, dan pembimbing, Guru menanamkan karakter baik kepada siswa melalui cerita yang menambah pengetahuan/ menggugah perasaan yang berdampak pada munculnya kesadaran siswa berperilaku baik.3.   Melalui literasi digital yang proaktifGuru memahamkan siswa untuk berpikir dampak dari dari postingan di medsos. Tidak hanya membagikan materi Pelajaran, Guru sebaiknya juga proaktif memantau komunikasi dalam grup di grup WhatsApp.Apabila  bullying terjadi, guru harus cepat melakukan tindakan penanggulangan dengan melakukan langkah-langkah berikut:1. Protokol STOP(1)    Segera hentikan aksi bullying dengan tegas, (2)    Tunjukan dukungan kepada korban dengan cara memastikan korban merasa aman dan didengarkan(3)    Observasi keadaan untuk mengumpulkan data (4)    Proses data yang terkumpul, dan laporkan tindakan bullying kepada pihak terkait/ pihak yang bertanggung jawab.2. Strategi penanggulangan dampak: Pendekatan Restoratif dan KolaboratifGuru melakukan restoratif berbasis kearifan lokal dengan mempertemukan korban, pelaku dan orang tua kedua belah pihak. Kemudian menguatkan kolaborasi guru, orang tua, dan siswa, serta membantu siswa memulihkan kesehatan mentalnya  korban, dan mendorong reintegrasi pelaku. Tidak kalah pentingnya Adalah Guru segera menciptakan lingkungan sekolah zero bullying agar tidak terjadi lagi tindakan serupa.Saya sangat mengapresiasi kegiatan Sosialisasi Dampak Perundungan terhadap Mental Anak yang diagendakan Disdik Batola bekerja sama dengan Komunitas Ibu Cerdas Indonesia (KICI) Batola yang diketuai  Ria Astuti Amd. Keb. Semoga dengan ikhtiar ini, kesadaran tentang bahaya bullying semakin meningkat, dan menambah wawasan bagi para guru SD di wilayah Kabupaten Batola tentang strategi mencegah bullying dan menanggulangi dampaknya.                
# EDUKASI
# Pengabdian

Anugerah Tan Sri Alimuddin Book Award

Iwan Perdana
3 Desember 2025
Tidak terbayangkan sebelumnya, kegembiraan yang saya rasakan mengikuti konvokesyen UPSI yang ke-27, 11 – 18 November 2025 bertambah dengan menerima anugerah Tan Sri Alimuddin dari Universitas Pendidikan Sultan Idris (UPSI). Dalam pengantarnya, Master of Ceremony menjelaskan Tan Sri Alimuddin Book Award is an acknowledgement given to an outstanding recipient from the Educational Management program who has excelled academically and demonstrated exceptional contribution in leadership, community engagement, and personal conduct.Saya penasaran siapakah Tan Sri Alimuddin?, mengapa  Universitas Pendidikan Sultan Idris (UPSI) sangat menghormati Beliau sehingga mengabadikan namanya sebagai salah satu jenis anugerah kepada graduan kampus yang bersemboyan Suluh Anak Budiman?Ternyata, Tan Sri Dato Haji Alimuddin bin Haji Mohd Dom merupakan mantan Ketua Pengarah Pendidikan Malaysia dan Kementerian Pendidikan Malaysia. Beliau pensiun pada 6 November 2010 setelah mengabdi selama 34 tahun dalam dunia Pendidikan (https://ms.wikipedia.org/wiki/Alimuddin_Mohd_Dom).Sepanjang masa jabatannya, Beliau terlibat aktif dalam merumuskan berbagai kebijakan, peraturan, dan pedoman profesional untuk mengefisienkan dan meningkatkan mutu pendidikan Malaysia. (https://epena.com.my/index.php/2017/11/20/tan-sri-dato-haji-alimuddin-pro-canselor).Penghargaan Tan Sri Alimuddin diberikan kepada lulusan Magister / Doktor Filsafat Manajemen Pendidikan FPE UPSI yang memenuhi keunggulan sebagai berikut:1.  Bidang AkademikMemiliki artikel yang baik dan telah dipublikasikanMemiliki catatan akademik tidak pernah gagal atau mengulang selama masa studiHasil viva (viva voce) tesis/ disertasi menunjukkan tidak ada koreksi, atau hanya ada kesalahan minor dan diberi waktu 3 bulan melakukan revisi.2. Kontribusi kepada MasyarakatBerkontribusi kepada masyarakat di dalam dan luar kampusKeterlibatan aktif dalam kurikulum3. Mempunyai ciri-ciri kepemimpinan yang terlihat dari kemampuan memimpin klub/ organisasi/ asosiasi4. KepribadianSifat-sifat kepribadian lulusan dan pegangan terhadap agamaBebas dari tindakan pelanggaran disiplin apa pun5. Menyelesaikan studi tepat waktu (Graduate On Time/ GOT) (https://konvokesyen.upsi.edu.my/index.php/anugerah-kecemerlangan/)Penghargaan Tan Sri Alimuddin Book Award saya terima setelah dinominasikan oleh The Faculty of Management and Economics (Fakulti Pengurusan dan Ekonomi) FPE UPSI yang berada di Kampus Sultan Azlan Shah (KSAS) di Tanjung Malim, Perak. FPE memiliki beberapa jurusan mulai dari Diploma hingga Doctor (Ph.D & EdD). Alhamdulillah, saya berkesempatan menempuh studi pada program Doctor of Philosophy Educational Management.Bersama supervisor, Associate Professor Dr. Mahaliza binti Mansor, Saya naik ke pentas untuk menerima anugerah Tan Sri Alimuddin Award pada Senin,10 November 2025 di Dewan SITC (Sultan Idris Training College). Selain sertifikat penghargaan, dan beberapa Cinderamata. Saya juga menerima hadiah uang sebesar 1.000 RM.Apresiasi ini menjadi jawaban atas harapan yang dulu pernah saya anggap khayalan belaka. Dulu, Selepas menyelesaikan studi S1, Saya pernah berkeinginan studi lanjut dan mengajar di luar negeri. Kini, salah satu keinginan tersebut terwujud. Rasa bangga dan bahagia pun semakin menggunung sebab terbuka peluang mewujudkan harapan kedua, yaitu mengajar di negeri Ipin_Upin.Perjalanan studi dari awal hingga menghantarkan saya memperoleh penghargaan Tan Sri Alimuddin dimulai dari menerima offer letter for Admission of Postgraduate Programme for Semester I Session 2021/2022 pada tanggal 30 Juli 2021. Selanjutnya mengikuti perkuliahan pertama pada 18 Oktober 2022. Pra Viva pada bulan Juni 2024, dan VIVA (Sidang terbuka) pada 16 Oktober 2024. Namun, saya tidak dapat mengikuti konvokesyen pada November tahun yang sama karena masih ada revisi minor, penjilidan thesis, dan menunggu sidang senat.Kelancaran pengerjaan thesis tidak lepas dari bantuan supervisor: Dr Rosnah binti Ishak dan PM Dr Mahaliza binti Mansor. Dr Rosnah sosok dosen cerdas dan tegas. Saya tidak pernah menunggu lama menerima balasan/ komentar Beliau untuk perbaikan tesis. Responsnya sangat cepat dan proaktif dalam membantu penyelesaian thesis. Beliau bahkan tidak segan menanyakan kemajuan penulisan penelitian. PM Dr Mahaliza binti Mansor pun demikian. Setiap pesan yang saya kirimkan melalui WhatsApp, langsung dibalas. Beliau adalah sosok dosen cerdas yang sangat ramah, memotivasi dan menginspirasi.Menurut saya, kedua supervisor merupakan dosen yang patut diteladani. Dalam suasana akademik yang kental,dan menuntut profesionalitas, mereka selalu menampilkan keramahtamahan dalam memberikan bimbingan, dan memberikan arahan yang sangat jelas.Sayangnya, kebahagiaan atas pencapaian akademik ini kurang sempurna. Keluarga tidak dapat berhadir merayakan konvokesyen. Semoga kelak, saya dapat mengajak mereka mengunjungi UPSI Malaysia, dan berjumpa supervisor, Ibu Nora yang baik hati, dan kawan-kawan lainnya. Terima kasih Bang Ipin yang berkenan menemani saya di acara konvokesyn. Kami  ke KLIA 2 pada Sabtu 8 November 2025. Kami tinggal di TB Bahtera hingga 17 November. Besoknya kami balik ke Indonesia.
# EDUKASI
# Galeri

SMART KIDS PROGRAMME: Literasi AI (Artificial Inteligence) dan Koding Dasar untuk SISWA SD

Vebrianti Umar M.Pd
2 Desember 2025
Pada semester Ganjil Tahun Akademik 2025 – 2026 ini,  Prodi Pendidikan Bahasa Inggris STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin melakukan pengabdian kepada masyarakat di SDN Maluka  Baulin Kurau. Pelaksanaan pengabdian tentang Smart Kids Programme: Literasi AI (Artificial Inteligence) dan Koding Dasar untuk Siswa SD ini lahir dari  sebuah diskusi ilmiah antar dosen di Prodi Ini.Berdasarkan hasil analisis Kami, perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) atau yang dikenal dengan AI dan keterampilan pemrograman telah menjadi kebutuhan dasar abad ke-21. Artificial inteligence kini hadir dalam berbagai perangkat, permainan edukatif, hingga aplikasi pembelajaran anak. Di sisi lain, koding telah diakui dapat mendukung perkembangan  logical thinking, problem solving, kreativitas, serta literasi digital sejak dini.Siswa Sekolah Dasar saat ini merupakan generasi yang tumbuh di era serba digital. Mereka terbiasa menggunakan perangkat teknologi, namun mereka perlu memahami konsep dasar yang mendukung teknologi tersebut. Oleh karena itu, penting bagi mereka mendapatkan pengenalan awal mengenai cara kerja AI secara sederhana dan bagaimana menyusun instruksi logis melalui aktivitas koding dasar.Program ini menghadirkan kesempatan baru agar siswa dapat memperoleh pengalaman belajar yang lebih kontekstual, menyenangkan, dan relevan dengan kebutuhan abad ke-21. Melalui kegiatan ini, siswa diharapkan mampu mengembangkan kreativitas, berpikir komputasional, serta memahami bahwa teknologi bukan hanya untuk digunakan, tetapi juga dapat diciptakan. Selain itu program ini diharapkan menjadi langkah awal dalam membentuk generasi muda yang melek teknologi sekaligus memiliki kesiapan menghadapi tantangan era digital.Dalam prosesnya, Kami menerapkan metode yang terbagi menjadi enam tahap, yaitu : (1) observasi,  (2)  pengenalan konsep yang dirancang relevan dengan level anak SD, demonstrasi,  (4)  latihan terbimbing, (5) evaluasi program, dan (6) keberlanjutan  programKegiatan pengabdian ini sangat bermanfaat bagi anak anak SD Negeri Maluka Baulin, Kurau.  Selain pemerolehan pengetahuan dan keterampilan tentang teknologi : AI dan Koding dasar , mereka juga memiliki pengalaman belajar yang seru dan menyenangkan melalui kegiatan mewarnai dan membentuk sesuatu dari satu titik ke titik yang lain.
# EDUKASI
# Pengabdian

Teknologi Pembelajaran Budaya Lokal dengan Permainan Tradisional

Rizki Nugerahani Ilise, M.Pd
2 Desember 2025
Pada saat kami program studi pendidikan anak usia dini STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat yang berfokus pada “Teknologi Pembelajaran Budaya Lokal dengan Permainan Tradisional”, saya bersama tim berupaya memperkenalkan inovasi pembelajaran yang memadukan kearifan lokal dengan pendekatan digital. Kegiatan ini dilaksanakan di salah satu lembaga PAUD di wilayah bantaran sungai kota Banjarmasin yang mayoritas penduduk setempat berprofesi sebagai pedagang kayu sebagai bahan bangunan.Melalui lokakarya interaktif, kami mengembangkan media pembelajaran berbasis digital yang menampilkan permainan tradisional seperti engklek, balogo, dan bagasing dalam bentuk animasi sederhana. Media tersebut tidak hanya digunakan sebagai alat bantu belajar, tetapi juga sebagai sarana untuk menanamkan nilai budaya, motorik, kerja sama, dan kreativitas anak. Para guru dilatih untuk mengintegrasikan teknologi ini dalam kegiatan belajar sehari-hari, sehingga permainan tradisional tidak hanya dikenang, tetapi dihidupkan kembali dalam konteks pembelajaran modern.Kegiatan ini memberikan dampak positif, terlihat dari meningkatnya antusiasme anak serta pemahaman pendidik akan pentingnya pelestarian budaya melalui teknologi. Pengalaman ini menegaskan bahwa digitalisasi tidak harus menghilangkan budaya lokal, melainkan dapat menjadi jembatan kreatif untuk memperkuat identitas generasi emas selanjutnya.
# EDUKASI
# Pengabdian

Pintu Literasi: Media Gambar sebagai Kunci Membaca Permulaan di Sekolah Dasar

Novi Nurdian, M.Pd
1 Desember 2025
Sebagai seorang dosen dan praktisi pendidikan, saya bersama tim kerap melakukan pengabdian masyarakat untuk menjawab tantangan nyata di dunia pendidikan. Salah satunya adalah fenomena kesulitan membaca permulaan yang masih banyak ditemui pada siswa kelas rendah sekolah dasar. Pengalaman kami di salah satu sekolah dasar di Kota Banjarmasin, menjadi bukti bahwa pendekatan pembelajaran yang tepat dapat membuat perbedaan signifikan.Berdasarkan observasi awal, kami menemukan bahwa banyak siswa kelas 1 yang belum lancar membaca. Masalahnya bukan hanya pada teknis pengenalan huruf, tetapi lebih mendasar: kesulitan mereka menghubungkan rangkaian huruf menjadi kata yang bermakna. Di sinilah kami melihat peluang untuk menggunakan media gambar sebagai jembatan pemahaman.Mengapa gambar? Karena gambar adalah bahasa universal yang langsung dipahami anak. Sebuah gambar apel, misalnya, langsung terhubung dengan konsep buah berwarna merah yang mereka kenal. Ketika huruf "A-P-E-L" diperkenalkan bersamaan dengan gambar tersebut, terjadi asosiasi kuat antara simbol abstrak (huruf) dengan objek konkret (buah). Proses kognitif ini membuat belajar membaca menjadi lebih kontekstual, bermakna, dan menyenangkan.Dalam pelaksanaannya, kami menggunakan metode klasikal yang interaktif, dimulai dari pengenalan huruf, pelafalan, hingga penyusunan suku kata dan kalimat sederhana, semua dengan bantuan gambar. Suasana kelas pun berubah. Tatapan bingung perlahan berganti dengan antusiasme saat mereka berhasil "membaca" gambar dan menghubungkannya dengan tulisan. Kepercayaan diri mereka tumbuh seiring dengan meningkatnya kemampuan mengeja dan merangkai kata.Hasil evaluasi melalui observasi dan wawancara dengan guru kelas menunjukkan peningkatan yang menggembirakan. Siswa tidak hanya lebih mudah mengenali huruf, tetapi juga lebih lancar membaca kata-kata yang telah dipelajari dengan bantuan visual. Guru melaporkan bahwa siswa tampak lebih aktif dan bersemangat mengikuti pelajaran literasi.Pengalaman ini menguatkan keyakinan kami bahwa inovasi pedagogis sederhana seperti media gambar memiliki dampak yang powerful. Ia tidak memerlukan teknologi tinggi atau biaya mahal, tetapi membutuhkan kreativitas dan kesungguhan pendidik untuk merancang pembelajaran yang memanusiakan dan membumi. Literasi dasar adalah fondasi. Jika fondasinya kuat, dibangun dengan metode yang sesuai dengan dunia anak, maka minat baca dan kemampuan memahami teks yang lebih kompleks di jenjang berikutnya akan terbentuk dengan lebih kokoh.Pada akhirnya, membangun budaya baca bukan semata tugas guru di sekolah, tetapi kolaborasi semua pihak. Sebagai akademisi, kami berkomitmen untuk terus turun langsung, menguji berbagai pendekatan, dan membagikan temuan-temuan praktis seperti ini, agar lebih banyak anak Indonesia yang bisa menikmati indahnya dunia yang terbuka lebar melalui kemampuan membaca.
# EDUKASI
# Pengabdian

Pemahaman Sejarah Masjid Raya Sabilal Muhtadin Banjarmasin sebagai Sumber Kearifan Lokal bagi Siswa SDN Basirih 1 Banjarmasin

Muhammad Supian Sauri
1 Desember 2025
Pengabdian kepada masyarakat pada dasarnya adalah cara kita berbagi ilmu dan pengalaman kepada orang lain. Tidak harus selalu dalam bentuk kegiatan besar; hal sederhana yang bermanfaat pun sudah termasuk pengabdian. Nah, salah satu bentuk pengabdian yang menurut saya sangat menarik adalah mengenalkan sejarah Masjid Raya Sabilal Muhtadin kepada siswa SDN Basirih 1 Banjarmasin. Kegiatan ini terlihat sederhana, tapi sebenarnya punya dampak besar bagi pengetahuan, karakter, dan kecintaan siswa terhadap daerahnya sendiri.Masjid Raya Sabilal Muhtadin tentu bukan sesuatu yang asing bagi masyarakat Banjarmasin. Masjid megah yang berdiri tidak jauh dari Sungai Martapura ini sudah lama menjadi ikon kota. Hampir semua orang tahu bentuknya, tapi tidak semua tahu sejarah dan nilai yang terkandung di balik pembangunannya. Di sinilah pengabdian masyarakat punya peran penting: membantu anak-anak memahami bahwa bangunan besar itu bukan hanya tempat salat, tapi juga menyimpan cerita tentang masa lalu, perjuangan, dan budaya masyarakat Banjar.Dalam kegiatan pengabdian ini, siswa diajak mengenal sejarah masjid dengan cara yang lebih menyenangkan. Mereka tidak hanya mendengar penjelasan, tetapi juga melihat langsung bangunannya, memahami makna arsitekturnya, serta mendengarkan kisah-kisah menarik tentang proses pembangunannya. Cara belajar seperti ini jauh lebih efektif dibandingkan hanya membaca buku atau mendengarkan ceramah panjang di kelas. Anak-anak SD biasanya lebih mudah memahami sesuatu ketika mereka bisa melihat, bertanya, dan berinteraksi secara langsung.Menurut saya, kegiatan seperti ini bukan hanya memberi pengetahuan tambahan, tetapi juga menumbuhkan rasa bangga terhadap daerah sendiri. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan budaya luar yang mudah masuk, anak-anak perlu diperkenalkan dengan kearifan lokal sejak dini. Ketika mereka mengenal sejarah Masjid Sabilal Muhtadin, secara tidak langsung mereka belajar tentang nilai-nilai seperti kerja sama, religiusitas, kegigihan, dan rasa persatuan yang menjadi bagian dari masyarakat Banjar.Hal yang juga sangat positif dari kegiatan ini adalah memberikan pengalaman nyata tentang bagaimana belajar tidak harus selalu di ruang kelas. Sekolah sering kali dianggap sebagai tempat belajar utama, padahal lingkungan sekitar juga bisa menjadi sumber belajar yang sangat kaya. Masjid Sabilal Muhtadin, misalnya, bisa dijadikan media belajar sejarah, budaya, agama, bahkan seni arsitektur. Siswa jadi menyadari bahwa ilmu pengetahuan bisa ditemukan di mana saja, bukan hanya di buku teks.Selain untuk siswa, kegiatan ini sebenarnya juga bermanfaat untuk guru. Guru bisa melihat contoh bagaimana membuat pembelajaran yang lebih kreatif dan kontekstual. Selama ini, banyak guru ingin membuat pembelajaran yang lebih hidup tetapi bingung harus mulai dari mana. Melalui kegiatan pengabdian ini, mereka bisa dapat inspirasi: bahwa memanfaatkan lingkungan sekitar merupakan cara mudah namun efektif untuk memperkaya pembelajaran.Dari sisi masyarakat, kegiatan ini juga memberikan dampak positif. Masjid Sabilal Muhtadin adalah kebanggaan warga Banjarmasin. Ketika generasi muda dikenalkan sejak kecil kepada sejarah dan nilai yang terkandung di dalamnya, masyarakat akan merasa lebih tenang bahwa warisan ini tidak akan hilang. Pelestarian budaya tidak hanya tentang merawat bangunan, tetapi juga menanamkan rasa cinta dan peduli kepada anak-anak sebagai penerus di masa depan.Menurut pandangan saya, kegiatan pengabdian ini menciptakan hubungan yang baik antara sekolah, masyarakat, dan perguruan tinggi. Mahasiswa atau dosen yang terlibat dalam pengabdian tidak hanya mengajar, tetapi juga belajar dari realitas di lapangan. Mereka melihat bagaimana tingkat pemahaman anak-anak, kebutuhan guru, dan potensi lingkungan bisa diolah menjadi media pembelajaran yang bermanfaat. Ini menjadi bentuk kolaborasi yang sangat bagus dan jarang diperhatikan.Hal lain yang membuat kegiatan ini penting adalah kesederhanaannya. Pengabdian masyarakat sering dianggap sebagai kegiatan yang rumit dan membutuhkan biaya besar. Padahal, kegiatan seperti mengenalkan sejarah masjid kepada siswa adalah contoh pengabdian yang sederhana tetapi dampaknya besar. Anak-anak mendapatkan pengalaman baru, guru mendapat inspirasi pembelajaran, masyarakat bangga, dan perguruan tinggi menjalankan perannya secara nyata. Semua pihak merasa diuntungkan.Saya pribadi menilai kegiatan ini sebagai langkah yang sangat tepat untuk menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap kearifan lokal. Apalagi siswa SD adalah usia yang sangat mudah dibentuk. Ketika sejak kecil mereka sudah diperkenalkan dengan budaya dan sejarah daerah mereka sendiri, hal itu akan melekat dalam ingatan sampai mereka dewasa. Mereka akan tumbuh dengan identitas yang kuat, menghargai budaya Banjar, dan memiliki rasa tanggung jawab untuk menjaga warisan leluhur.Secara keseluruhan, pengabdian masyarakat yang berfokus pada pemahaman sejarah Masjid Raya Sabilal Muhtadin untuk siswa SDN Basirih 1 ini adalah kegiatan yang sederhana, menyenangkan, dan sangat bermanfaat. Harapan saya, kegiatan seperti ini tidak berhenti hanya sekali. Semoga bisa dilakukan secara berkelanjutan, bahkan mungkin diperluas ke sekolah-sekolah lain. Dengan begitu, semakin banyak anak yang mengenal sejarah daerahnya dan bangga menjadi bagian dari masyarakat Banjarmasin. 
# EDUKASI
# Pengabdian

Pentingnya Literasi Artificial Intelligence (AI) dan Pengenalan Coding Dasar bagi Siswa SD

Nor Hayati, M.Pd
1 Desember 2025
Pengalaman melaksanakan pengabdian kepada masyarakat (PKM) di Kurau, 26 November 2025 meninggalkan kesan yang begitu mendalam. bagi saya,  sebagai salah satu dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris STIKIP Islam Sabilal Muhtadih Banjarmasin. Dengan tema, Smart Kids Programme yang berfokus pada Literasi Artificial Intelligence (AI) dan Pengenalan Coding Dasar bagi Siswa Kelas 5 di SD Negeri Maluka Baulin, kami menegaskan dukungan terhadap transformasi pendidikan yang adaptif dengan perkembangan teknologi global. Pada kegiatan ini, kami mempraktikkan pendekatan pembelajaran yang interaktif. Siswa diperkenalkan konsep AI sederhana: cara kerja  intruksi AI dalam mengenali pola, dan latihan coding dasar menggunakan platform ramah anak. Pendekatan ini terbukti efektif dalam menumbuhkan keberanian siswa untuk bereksperimen serta mengembangkan pola pikir komputasional sejak dini. Kegiatan ini mengukuhkan peran saya sebagai akademisi yang konsisten memadukan keahlian pedagogis dengan inovasi teknologi dalam konteks pemberdayaan masyarakat. Program ini juga membuktikan institusi kami responsif, dan berorientasi pada kebutuhan digital masyarakat modern. Guru-guru di SD Negeri Maluka Baulin menilai bahwa program ini sangat relevan dengan kebutuhan pembelajaran abad ke-21. Mereka mengapresiasi pendekatan pengajaran yang sistematis, interaktif, dan disesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa sekolah dasar. Menurut pandangan mereka, kegiatan ini membantu memperkaya pengalaman belajar siswa, terutama dalam hal pemahaman konsep teknologi yang selama ini belum banyak diperkenalkan di sekolah.Pelaksanaan Smart Kids Programme juga mendapatkan sambutan positif dari siswa kelas 5 SD Negeri Maluka Baulin. Sebagian besar siswa menunjukkan antusiasme tinggi ketika diperkenalkan  konsep AI dan latihan coding dasar. Aktivitas berbasis permainan (game-based coding) membuat mereka merasa belajar menjadi lebih menyenangkan.  
# EDUKASI
# Pengabdian

Guru Sejahtera, Pendidikan Berkualitas: Momentum Hari Guru untuk Membenahi Arah Bangsa

Arrazi
25 November 2025
Setiap tahun, tanggal 25 November menjadi pengingat bahwa guru bukan hanya profesi, tetapi fondasi bangsa. Namun, penghormatan tidak cukup berhenti pada ucapan terima kasih dan seremonial. Ada pertanyaan besar yang seharusnya kita renungkan bersama: Mengapa kualitas pendidikan Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara-negara lain, bahkan negara tetangga yang dahulu belajar kepada kita?Jawabannya tidak rumit. Berbagai penelitian internasional selama puluhan tahun menunjukkan bahwa kualitas pendidikan suatu negara sangat ditentukan oleh kesejahteraan gurunya. Guru yang sejahtera memiliki kapasitas, fokus, dan energi penuh untuk mengajar; guru yang tertekan oleh kebutuhan hidup tidak mungkin memberikan kualitas pembelajaran terbaik.Dulu Malaysia Belajar ke Indonesia, Hari Ini Kita Belajar ke SanaSejarah mencatat bahwa pada masa pascakemerdekaan, Malaysia mendatangkan guru-guru Indonesia untuk membangun sistem pendidikan mereka. Bahkan, pelajar Malaysia dikirim kuliah ke kampus-kampus Indonesia untuk menimba ilmu. Namun hari ini, kondisinya berbalik: banyak pendidik Indonesia justru belajar tentang tata kelola pendidikan ke Malaysia.Apa yang membuat mereka mampu melesat begitu jauh?Jawabannya kembali pada satu titik: kesejahteraan tenaga pendidik.Di Malaysia, gaji guru relatif tinggi, tunjangan memadai, serta jenjang karier dihargai. Kita dapat melihat bahwa hampir tidak ada guru di Malaysia yang berangkat mengajar menggunakan sepeda motor; mayoritas mampu membeli mobil karena penghasilan mereka mencukupi. Kondisi tersebut menciptakan martabat profesi dan menarik minat anak muda terbaik untuk menjadi pendidik.Penelitian dari UNESCO, OECD, dan World Bank menunjukkan pola yang sama:negara dengan penghasilan guru tinggi → kualitas pendidikan tinggi.Ini terjadi di Finlandia, Jepang, Korea Selatan, dan Swedia. Guru dihargai sebagai profesi strategis, bukan sekadar pelengkap sistem.Mengapa Anak Indonesia Lebih Memilih Jadi Dokter atau Insinyur?Sering para pengamat mempertanyakan mengapa anak-anak Indonesia cenderung memilih cita-cita menjadi dokter, insinyur, atau profesi lain yang dianggap “bergengsi”. Namun jarang yang menyentuh akar masalahnya.Anak-anak cenderung memilih profesi berdasarkan apa yang mereka lihat:profesi dengan pendapatan tinggi dianggap sukses.Ketika gaji guru jauh di bawah profesi lain, sangat wajar bila profesi ini jarang menjadi pilihan.Bayangkan jika kesejahteraan guru setara dengan dokter, maka persepsi publik akan berubah. Anak-anak pun akan dengan bangga dan yakin mengatakan, “Saya ingin menjadi guru.” Karena profesi tersebut bukan hanya mulia, tetapi juga layak secara ekonomi.Guru Tidak Seharusnya Sibuk Mencari Pekerjaan SampinganDalam banyak kasus di Indonesia, guru harus mencari pekerjaan tambahan—les privat, berdagang, ojek online, bahkan pekerjaan fisik lain—demi memenuhi kebutuhan keluarga. Kondisi ini jelas menguras energi, menurunkan kualitas mengajar, dan merusak konsentrasi pada tugas utama: mendidik generasi bangsa.Penelitian menunjukkan bahwa beban ekonomi yang berat berdampak langsung pada rendahnya efektivitas pedagogis guru. Guru yang tidak sejahtera cenderung mengalami stres, burnout, dan penurunan kualitas pengajaran.Artinya, meningkatkan pendapatan guru bukan sekadar kesejahteraan sosial, tetapi strategi pendidikan nasional.Ini investasi langsung kepada masa depan bangsa.Negara Harus Menempatkan Guru Sebagai Prioritas UtamaJika Indonesia ingin maju seperti negara-negara yang kita kagumi, maka langkah pertama bukan sekadar mengganti kurikulum atau menambah fasilitas sekolah. Langkah pertama adalah mensejahterakan guru.Kebijakan yang bisa dilakukan pemerintah:1. Menetapkan Standar Gaji Minimum Guru Nasional yang LayakSesuai rekomendasi UNESCO, gaji guru seharusnya setara dengan profesi profesional lainnya, bukan hanya penyambung hidup.2. Tunjangan Kinerja yang Berbasis Kualitas MengajarBukan sekadar administratif, tetapi berbasis pembelajaran nyata di kelas.3. Jaminan Sosial yang KuatBPJS, pensiun yang layak, serta perlindungan hukum bagi guru.4. Menjadikan Profesi Guru KompetitifSeleksi masuk pendidikan guru harus ketat, tetapi imbalannya tinggi, seperti di Finlandia dan Korea Selatan.5. Beban Administrasi DikurangiAgar guru dapat kembali menjadi pengajar, bukan penulis laporan.Hari Guru adalah Momentum: Guru Sejahtera, Indonesia MajuPada Hari Guru 25 November 2025 ini, mari kita hentikan narasi “guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa” jika “tanda jasa” itu berarti mereka harus hidup dalam keterbatasan. Di negara modern, pahlawan diberi penghargaan dan kesejahteraan, bukan pengorbanan tanpa batas.Sebelum kita berharap pendidikan kita menyaingi dunia, kita harus menjawab satu pertanyaan sederhana:Apakah kita sudah memuliakan guru sebagaimana seharusnya?Jika negara benar-benar ingin memajukan pendidikan, maka jawabannya hanya satu:Sejahterakan guru terlebih dahulu.Karena kualitas bangsa ditentukan oleh kualitas pendidiknya.Dan kesejahteraan adalah fondasi dari kualitas itu.
# EDUKASI
# Opini

Empat Pilar Kepemimpinan Pendidikan untuk Lembaga Inspiratif

Iwan Perdana
25 November 2025
Setiap pemimpin lembaga pendidikan dituntut mampu memberdayakan tenaga pendidik dan tenaga kependidikan yang dikelolanya dengan baik. Dia bertanggung jawab memastikan komponen sumber daya manusia dalam sistem pendidikan yang dipimpinnya berfungsi optimal demi tercapainya tujuan pendidikan.Agar lembaga pendidikan yang dikelolanya menjadi inspirasi bagi lembaga pendidikan lain dalam memberikan layanan terbaik bagi peserta didik, sedikitnya, ada empat pilar yang harus dipraktikkan para pemimpin pembaga pendidikan, yaitu:1.   Visi dan Misi lembaga Pendidikan yang kuatSelain sebagai kompas yang menuntun lembaga pendidikan agar tidak kehilangan arah, dan tetap fokus pada tujuan, Visi dan misi lembaga merupakan landasan utama dalam pengambilan keputusan dan pelaksanaan kegiatan di sekolah. Oleh karena itu, kemampuan menyelaraskan visi dan misi lembaga menjadi sesuatu yang krusial bagi pemimpin lembaga pendidikan.Pemimpin lembaga pendidikan harus memastikan penyusunan Misi sebagai komitmen lembaga mewujudkan visi sesuai dengan keunggulan yang dimilikinya sehingga tekad memberikan layanan pendidikan berkualitas kepada masyarakat pengguna tidak sebatas slogan kosong belaka.2.   Inovasi PembelajaranKemajuan teknologi menghadirkan pendekatan baru dalam pembelajaran: pembelajaran daring, dan penggunaan media interaktif seperti situs web, aplikasi, permainan edukasi. Pemanfaatan teknologi sebagai inovasi pembelajaran secara signifikan mengurangi kendala batasan jarak dan kendala geografis pelaksanaan pembelajaran di daerah-daerah yang sulit dijangkau.Komitmen pemimpin lembaga pendidikan mendukung para guru meningkatkan kualitas diri melalui workshop/ pelatihan seperti keterampilan mengajar, termasuk menguasai teknologi untuk menunjang pembelajaran akan memberikan mereka wawasan bagaimana menciptakan KBM yang lebih interaktif dan menyenangkan.3.   Bersinergi dengan para guruMelahirkan generasi berkualitas tidak semudah membalik telapak tangan. Prosesnya membutuhkan waktu yang tidak singkat. Apalagi jika profil lulusan yang diinginkan adalah lulusan berjiwa leadership, berintegritas, dan peduli terhadap kemanusiaan.Untuk mewujudkan hal tersebut, pemimpin lembaga pendidikan hendaknya bersinergi dengan para guru yang dipimpinnya untuk memprioritaskan terciptanya lingkungan sekolah yang mencetak siswa mampu berempati, kreatif, jujur, disiplin, bertanggung jawab, dan religius.4.   Berkolaborasi dengan dunia usaha dan komunitas Pemimpin lembaga pendidikan yang menargetkan lulusannya berdaya, berjiwa leadership, berintegritas, dan profesional harus menjalin kerja sama/ berkolaborasi dengan berbagai pihak, antara lain:(1)   Dunia Usaha dan IndustriPemimpin lembaga Pendidikan harus aktif menjalin kerja sama dengan dunia usaha/ industri. Ini penting sekali agar program magang bagi peserta didik terealisasi. Juga tidak kalah pentingnya menghadirkan praktisi sebagai narasumber untuk membuka cakrawala berpikir sebaiknya dilaksanakan secara terjadwal. (2)   Komunitas Tidak hanya dunia usaha/industry, pemimpin lembaga pendidikan harus mengambil inisiatif menjalin kerja sama dengan komunitas-komunitas yang ada di masyarakat. Kolaborasi ini akan menambah pengetahuan, pengalaman dan memperluas wawasan peserta didik sekaligus meningkatkan kemampuan mereka bersosialisasi. Dengan fondasi visi yang kuat, inovasi pembelajaran yang berkelanjutan, bersinergi dengan para guru, dan jejaring kolaborasi yang luas, pemimpin lembaga pendidikan akan mengantarkan lembaga yang dikelolanya tidak sekadar mengikuti arus, tetapi menjadi pembentuk arus peradaban masa depan.
# EDUKASI
# Opini

Literasi dan Numerasi pada Anak Usia Dini di Masa Sekarang

Rizki Nugerahani Ilise, M.Pd
19 November 2025
Pada masa ini, literasi dan numerasi adalah kemampuan dasar yang sangat penting untuk anak usia dini. Literasi merujuk pada kemampuan membaca dan menulis,sementara numerasi adalah kemampuan dalam memahami dan mengoperasikan angka serta konsep matematika dasar. Literasi dan numerasi tidak hanya merupakan kemampuan akademik, tetapi juga keterampilan hidup yang mendukung perkembangan kognitif dan sosial anak di masa depan.Pentingnya literasi dan numerasi pada usia dini menjadi semakin jelas dalam era digital ini,di mana keterampilan dasar ini menjadi fondasi untuk menghadapi berbagai tantangan di masa depan. Pentingnya Literasi pada Anak Usia Dini, yang berada dalam fase keemasannya, di mana mereka menyerap informasi dengan cepat. Literasi pada usia dini tidak hanya mencakup kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga keterampilan komunikasi seperti memahami keterampilan menyimak dan kemampuan berbicara. Keterampilan literasi ini sangat penting karena memungkinkan anak untuk memahami lingkungan sekitarnya dan membangun kemampuan berpikir kritis sejak dini. Dengan literasi, anak-anak dapat memahami cerita, instruksi, serta ekspresi emosi dan ide yang penting dalam berkomunikasi.Di masa sekarang, literasi pada anak usia dini juga berkaitan dengan literasi digital. Anak-anak diperkenalkan pada perangkat teknologi seperti tablet dan komputer yang bisa membantu mereka belajar melalui aplikasi edukatif. Meski demikian, penggunaan teknologi harus diawasi agar tidak mengganggu perkembangan sosial dan emosional anak.Selain literasi, numerasi juga sangat penting. Numerasi melibatkan kemampuan anak dalam mengenal angka, menghitung, dan memahami konsep dasar matematika seperti ukuran, bentuk, dan pola. Kemampuan numerasi dapat membantu anak dalam kegiatan sehari-hari seperti membagikan makanan, mengenali bentuk, dan menghitung benda.Pendidikan numerasi pada usia dini dapat dilakukan melalui kegiatan bermain. Misalnya, anak dapat diajak untuk menghitung mainan, menyusun balok, atau mengenali bentuk dan warna. Melalui cara ini, anak-anak belajar tanpa merasa terbebani dan lebih mudah memahami konsep-konsep matematika dasar yang akan menjadi landasan untuk belajar lebih lanjut di kemudian hari.Tantangan Literasi dan Numerasi pada Masa SekarangMeski penting, ada beberapa tantangan dalam pengembangan literasi dan numerasi pada anak usia dini. Salah satu tantangannya adalah kesenjangan akses pendidikan. Tidak semua anak memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses pendidikan yang memadai, terutama di daerah terpencil. Selain itu, dengan perkembangan teknologi yang pesat, banyak anak yang lebih fokus pada hiburan digital daripada kegiatan literasi dan numerasi yang konvensional.Orang tua dan guru memegang peran penting dalam mengembangkan literasi dan numerasi anak. Mereka dapat memperkenalkan literasi dan numerasi melalui kegiatan sederhana di rumah atau melalui pembelajaran kreatif di sekolah. Orang tua juga diharapkan untuk memberikan contoh dalam membaca dan menghitung, serta menggunakan teknologi dengan bijak.Literasi dan numerasi adalah kemampuan dasar yang harus dikembangkan sejak dini. Keterampilan ini tidak hanya penting untuk prestasi akademik, tetapi juga membantu anak dalam kehidupan sehari-hari dan perkembangan pribadi. Tantangan dalam pengembangan literasi dan numerasi pada masa sekarang, seperti akses pendidikan yang tidak merata dan penggunaan teknologi yang berlebihan, memerlukan peran aktif dari orang tua, guru, dan pemerintah. Dengan pendekatan yang tepat, literasi dan numerasi pada anak usia dini dapat diperkuat dan menjadi bekal untuk masa depan mereka.
# EDUKASI
# Opini

  Youtube

Surah Ar-Rahman | Aniq Muhai

  Informasi

Selamat Hari Guru Nasional
Arah Pendidikan Nasional & Transformasi Pendidikan Lokal di Daerah
Kupas Tuntas: Kurikulum, Inklusi, dan Seni di Sekolah Dasar
Momentum Kebangkitan Nasional Melalui Peningkatan Kualitas Pendidikan