Postingan Terbaru

Pencegahan Kekerasan Seksual Sejak Dini melalui Lagu “Ku Jaga Diriku” di Satuan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Kota Banjarmasin

Rizki Nugerahani Ilise, M.Pd
3 Juni 2026
Kekerasan seksual terhadap anak adalah persoalan serius yang tidak boleh menunggu korban jatuh lebih banyak baru kemudian dibicarakan. Anak usia dini sering kali belum memiliki bahasa, keberanian, dan pemahaman yang cukup untuk menjelaskan pengalaman tidak nyaman yang mereka alami. Karena itu, pencegahan harus dimulai sejak dini, termasuk di satuan Pendidikan Anak Usia Dini atau PAUD. Di Kota Banjarmasin, PAUD dapat menjadi ruang strategis untuk menanamkan kesadaran perlindungan diri kepada anak melalui cara yang sederhana, menyenangkan, dan sesuai dengan tahap perkembangan mereka.Salah satu media yang relevan digunakan adalah lagu “Ku Jaga Diriku”. Lagu ini dikenal sebagai media edukatif untuk mengenalkan kepada anak tentang bagian tubuh yang boleh dan tidak boleh disentuh, serta apa yang harus dilakukan ketika anak mengalami situasi yang membuatnya tidak nyaman. Pesan seperti ini penting karena anak usia dini belum dapat menerima penjelasan yang terlalu abstrak, tetapi lebih mudah memahami pesan melalui nyanyian, gerakan, pengulangan, dan contoh konkret. Mengajarkan pencegahan kekerasan seksual kepada anak PAUD bukan berarti mengenalkan hal yang vulgar kepada anak. Justru sebaliknya, pendidikan ini adalah pendidikan perlindungan tubuh. Anak perlu tahu bahwa tubuhnya berharga, bahwa ada bagian tubuh pribadi yang harus dijaga, dan bahwa mereka berhak berkata “tidak” ketika merasa tidak nyaman. Anak juga harus dibiasakan untuk berani bercerita kepada guru, orang tua, atau orang dewasa tepercaya ketika mengalami perlakuan yang tidak pantas.Lagu menjadi media yang tepat karena dunia anak adalah dunia bermain. Dalam teori perkembangan kognitif Jean Piaget, anak usia dini berada pada tahap praoperasional, yaitu tahap ketika anak belajar melalui simbol, bahasa, imajinasi, dan pengalaman konkret. Lagu “Ku Jaga Diriku” dapat membantu anak memahami pesan perlindungan diri tanpa merasa takut atau tertekan. Ketika lagu dinyanyikan berulang, pesan tentang menjaga tubuh dapat masuk ke dalam ingatan anak secara alami. Selain itu, teori belajar sosial Albert Bandura menegaskan bahwa anak belajar melalui pengamatan dan peniruan. Ketika guru PAUD menyanyikan lagu dengan ekspresi, gerakan tubuh, dan contoh perilaku yang tepat, anak tidak hanya mendengar pesan, tetapi juga meniru sikap berani menjaga diri. Guru dapat memperagakan bagaimana anak berkata “tidak”, menjauh dari situasi berbahaya, dan melapor kepada orang dewasa yang dipercaya.Dalam konteks PAUD Kota Banjarmasin, penggunaan lagu “Ku Jaga Diriku” perlu ditempatkan sebagai bagian dari budaya aman di satuan pendidikan. Lagu ini tidak cukup dinyanyikan sekali dalam kegiatan pembelajaran, lalu selesai. Ia harus menjadi bagian dari pembiasaan: dinyanyikan pada tema diri sendiri, kesehatan, keluarga, atau keselamatan; dikaitkan dengan kegiatan bercerita; diperkuat melalui permainan peran; dan dikomunikasikan kepada orang tua agar pesan yang sama juga dilanjutkan di rumah.Pencegahan kekerasan seksual di PAUD tidak boleh hanya dibebankan kepada anak. Anak memang perlu diajarkan menjaga diri, tetapi tanggung jawab utama tetap berada pada orang dewasa. Guru, kepala satuan PAUD, tenaga kependidikan, orang tua, dan pemerintah daerah harus menciptakan lingkungan belajar yang aman. Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023 menegaskan bahwa pencegahan dan penanganan kekerasan di satuan pendidikan mencakup peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali, komite sekolah, dan masyarakat. Peraturan ini juga berlaku untuk satuan PAUD, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Karena itu, lagu “Ku Jaga Diriku” harus dipahami sebagai pintu masuk, bukan satu-satunya solusi. Satuan PAUD perlu memiliki prosedur perlindungan anak yang jelas, guru harus dilatih mengenali tanda-tanda kekerasan, ruang belajar harus diawasi secara sehat, dan komunikasi dengan orang tua harus dibangun secara terbuka. Anak yang berani bercerita harus dipercaya, didengarkan, dan dilindungi, bukan disalahkan atau dibungkam.Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual menegaskan pentingnya pencegahan, penanganan, perlindungan, pemulihan korban, penegakan hukum, serta jaminan agar kekerasan seksual tidak terulang. Prinsip ini seharusnya diterjemahkan ke dalam praktik pendidikan sejak usia dini. PAUD bukan hanya tempat anak belajar angka, huruf, warna, dan lagu, tetapi juga tempat anak belajar bahwa tubuhnya harus dihormati. UNICEF juga menekankan bahwa kekerasan, eksploitasi, dan pelecehan terhadap anak dapat terjadi di tempat-tempat yang seharusnya melindungi mereka, termasuk rumah, sekolah, dan komunitas. Karena itu, perlindungan anak memerlukan sistem yang kuat, bukan hanya nasihat sesaat. Sementara itu, WHO menekankan bahwa pencegahan kekerasan terhadap anak harus menyentuh berbagai lapisan, mulai dari individu, relasi, komunitas, hingga masyarakat. Di sinilah pentingnya kolaborasi. Pemerintah Kota Banjarmasin melalui dinas terkait dapat mendorong satuan PAUD untuk memasukkan edukasi perlindungan tubuh ke dalam kegiatan pembelajaran yang ramah anak. Guru PAUD dapat menggunakan lagu “Ku Jaga Diriku” sebagai media utama, lalu memperkuatnya dengan cerita bergambar, boneka tangan, poster, dan simulasi sederhana. Orang tua dapat melanjutkan pesan yang sama di rumah dengan bahasa yang lembut dan tidak menakut-nakuti. Kita perlu berhenti menganggap bahwa pembicaraan tentang perlindungan tubuh adalah hal yang tabu. Yang tabu bukanlah mengajarkan anak menjaga dirinya; yang berbahaya justru ketika anak dibiarkan tidak tahu, tidak berani menolak, dan tidak tahu harus bercerita kepada siapa. Pendidikan perlindungan diri sejak dini adalah bentuk kasih sayang, bukan bentuk kecurigaan kepada lingkungan.Lagu “Ku Jaga Diriku” memberi peluang besar untuk menjadikan pencegahan kekerasan seksual lebih dekat dengan dunia anak. Melalui nada, irama, gerakan, dan pengulangan, anak belajar bahwa dirinya berharga. Melalui guru yang peduli, anak belajar bahwa ada orang dewasa yang bisa dipercaya. Melalui PAUD yang aman, anak belajar bahwa sekolah adalah tempat yang melindungi, bukan tempat yang menakutkan. Maka, pencegahan kekerasan seksual sejak dini di PAUD Kota Banjarmasin perlu dilakukan secara serius, sistematis, dan menyenangkan. Lagu “Ku Jaga Diriku” dapat menjadi media sederhana, tetapi dampaknya dapat sangat bermakna apabila digunakan dengan tepat. Sebab melindungi anak bukan hanya tugas keluarga, bukan hanya tugas sekolah, dan bukan hanya tugas pemerintah. Melindungi anak adalah tanggung jawab bersama. Dan tanggung jawab itu harus dimulai sejak anak masih kecil, sebelum mereka terluka, sebelum mereka takut bicara, dan sebelum kita terlambat bertindak.
# EDUKASI
# Opini

Kegiatan Edukasi Perlindungan Perempuan dari Kekerasan terhadap Perempuan (Ktp) di Perguruan Tinggi

Nor Hayati, M.Pd
3 Juni 2026
Dinas Pemberdayaan  Perempuan dan Perlindungan anak (DPPPA) Kota Banjarmasin menyelenggarakan kegiatan "Edukasi Perlindungan Perempuan dari Kekerasan terhadap Perempuan (Ktp) di Perguruan Tinggi bertempat di Banjarmasin Command Center (BCC), Selasa 12 Mei 2026.Kegiatan dibuka secara resmi oleh Kepala DPPPA Kota Banjarmasin, Bapak  Dr. H. M. Ramadhan, S.E., M.E., Ak,. dan di ikuti oleh perwakilan mahasiswa serta civitas akademika dari berbagai perguruan tinggi dikota Banjarmasin. Kekerasan terhadap perempuan masih menjadi salah satu permasalahan sosial yang memerlukan perhatian serius, termasuk di lingkungan perguruan tinggi. Kampus sebagai pusat pendidikan, penelitian, dan pengembangan karakter seharusnya menjadi ruang yang aman, nyaman, dan bebas dari segala bentuk kekerasan. Namun, berbagai kasus kekerasan berbasis gender, pelecehan seksual, diskriminasi, dan bentuk kekerasan lainnya masih ditemukan di lingkungan pendidikan tinggi. Oleh karena itu, diperlukan upaya edukatif yang berkelanjutan untuk meningkatkan kesadaran sivitas akademika mengenai pentingnya perlindungan perempuan dan pencegahan kekerasan.Sebagai bentuk komitmen dalam menciptakan lingkungan kampus yang aman dan inklusif, perguruan tinggi di Banjarmasin menyelenggarakan kegiatan Edukasi Perlindungan Perempuan dari Kekerasan terhadap Perempuan (KtP). Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan mengenai bentuk-bentuk kekerasan terhadap perempuan, dampaknya, serta langkah-langkah preventif yang dapat dilakukan di lingkungan kampus.Melalui pertemuan ini diharapkan terjalin sinergi yang kuat antara Pemerintah Kota dan institusi pendidikan dalam menciptakan kampus yang aman, nyaman dan terlindungi bagi perempuan. Kegiatan Edukasi Perlindungan Perempuan dari Kekerasan terhadap Perempuan (KtP) di perguruan tinggi di Banjarmasin merupakan langkah penting dalam membangun lingkungan akademik melalui peningkatan kesadaran, pemahaman, dan partisipasi aktif seluruh sivitas akademika, upaya pencegahan kekerasan dapat dilakukan secara lebih efektif. Diharapkan kegiatan ini menjadi bagian dari gerakan berkelanjutan untuk mewujudkan kampus yang menghargai martabat manusia, menjunjung kesetaraan, dan memberikan perlindungan bagi seluruh warga kampus tanpa terkecuali.
# EDUKASI
# Opini

Tiga Nilai Dasar yang Wajib Dimiliki Sivitas Akademika STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin: Terima Kasih, Tenggang Rasa, dan Rasa Malu

Barendz Umar
2 Juni 2026
Salah satu rutinitas yang tidak boleh dilewatkan dosen dan tenaga kependidikan STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin adalah berkumpul di Laboratorium Microteaching sebelum pulang. Kegiatan sederhana ini bukan hanya menjadi ruang pertemuan informal, tetapi juga menjadi momentum untuk melakukan refleksi, memperkuat kebersamaan, serta mengevaluasi tanggung jawab setiap sivitas akademika dalam memajukan institusi.Dalam kesempatan tersebut, Bapak Iwan Perdana, Ph.D. senantiasa memberikan nasihat dan membimbing sivitas akademika STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin. Menurut beliau, menjadi dosen bukan hanya persoalan kepintaran akademik, kemampuan mengajar, atau penguasaan materi perkuliahan. Lebih dari itu, seorang dosen dan tenaga kependidikan harus memiliki kepedulian, kesadaran moral, serta kemauan untuk memberikan kontribusi terbaik bagi kampus. Tiga sikap yang harus dimiliki adalah rasa terima kasih, tenggang rasa, dan rasa malu.1. Terima KasihKemampuan berterima kasih mencerminkan kedewasaan dan kerendahan hati. Seorang akademisi yang mampu berterima kasih tidak akan menganggap kesempatan, kepercayaan, dan dukungan yang diperolehnya sebagai sesuatu yang biasa saja. Ia menyadari bahwa setiap pencapaian tidak pernah lahir dari usaha pribadi semata, tetapi juga melibatkan peran orang lain.Di lingkungan STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, rasa terima kasih dapat diwujudkan dengan menghargai pimpinan atas berbagai kesempatan dan kebijakan yang memperhatikan aspek kemanusiaan. Rasa terima kasih juga perlu ditunjukkan kepada rekan kerja yang telah membantu menyelesaikan pekerjaan, kepada mahasiswa yang memberikan kepercayaan kepada dosen untuk membimbing proses pembelajarannya, serta kepada seluruh pihak yang berkontribusi terhadap kemajuan kampus.Namun, rasa terima kasih tidak cukup hanya disampaikan melalui ucapan. Bentuk terima kasih yang paling nyata adalah bekerja dengan sungguh-sungguh, menjaga amanah, meningkatkan kualitas pelayanan, serta berupaya memberikan hasil terbaik sesuai dengan tugas dan tanggung jawab masing-masing.2. Tenggang RasaTenggang rasa merupakan kemampuan untuk memahami keadaan, kebutuhan, dan perasaan orang lain. Dalam lingkungan kerja, setiap individu memiliki tanggung jawab, tantangan, dan keterbatasan yang berbeda. Oleh karena itu, dosen dan tenaga kependidikan harus mampu membangun hubungan kerja yang saling menghargai.Implementasi tenggang rasa dapat dimulai dari hal-hal sederhana, seperti menjaga cara berkomunikasi, menghargai waktu orang lain dan membantu rekan kerja yang mengalami kesulitan. Tenggang rasa juga berarti mampu menyampaikan kritik dengan cara yang tepat dan menerima perbedaan pendapat secara dewasa.Kampus yang maju bukan hanya dibangun oleh individu-individu yang cerdas, tetapi juga oleh orang-orang yang mampu bekerja sama secara harmonis. Kepintaran tanpa tenggang rasa berpotensi melahirkan konflik. Sebaliknya, tenggang rasa yang disertai tanggung jawab akan menciptakan lingkungan kerja yang sehat, produktif, dan saling menguatkan.3. Rasa MaluRasa malu bukanlah sikap minder atau takut menyampaikan pendapat. Rasa malu yang dimaksud adalah kesadaran moral yang menjaga seseorang agar tidak mengabaikan tanggung jawabnya. Rasa malu menjadi pengingat internal agar setiap dosen dan tenaga kependidikan bekerja dengan benar, jujur, dan profesional, meskipun tidak selalu diawasi.Malulah apabila tidak bekerja dengan sungguh-sungguh. Malulah apabila mengabaikan tanggung jawab. Malulah apabila datang terlambat tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Malulah apabila tidak memberikan pelayanan yang baik. Malulah apabila tidak menjadi teladan bagi mahasiswa. Malulah apabila tidak berusaha meningkatkan kompetensi. Malulah apabila hanya menuntut hak, tetapi melupakan kewajiban.Seorang dosen memiliki tanggung jawab yang besar karena perilakunya tidak hanya memengaruhi lingkungan kerja, tetapi juga menjadi contoh bagi mahasiswa. Kontribusi terbaik yang diberikan kepada kampus secara tidak langsung akan berdampak pada peningkatan kualitas pendidikan, kemajuan masyarakat, dan kemajuan bangsa. Pada akhirnya, keberhasilan institusi juga akan membawa kebermanfaatan bagi setiap individu di dalamnya.Untuk menjadi bagian dari STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, dosen dan tenaga kependidikan tidak cukup hanya memiliki kemampuan akademik dan administratif. Setiap individu juga perlu menjadikan rasa terima kasih, tenggang rasa, dan rasa malu sebagai standar sikap dalam bekerja. Ketiga nilai tersebut harus terus dipahami, dijaga, dan diimplementasikan secara konsisten dalam aktivitas sehari-hari. Budaya kerja yang baik tidak terbentuk hanya melalui aturan tertulis, tetapi lahir dari kebiasaan yang dilakukan secara sadar dan berulang-ulang.Terima kasih setinggi-tingginya kepada Bapak Iwan Perdana, Ph.D. yang tidak pernah lelah membimbing sivitas akademika STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin untuk membangun cara berpikir yang benar, sikap kerja yang bertanggung jawab, serta kepedulian terhadap kemajuan institusi. Jayalah STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin.
# EDUKASI
# Opini

Belajar Manajemen Pendidikan dari Striker Veteran Berkah FC

Iwan Perdana
2 Juni 2026
Melihat Kasliannor yang akrab dipanggil Pak Midun, Pemain veteran Berkah FC, saya langsung teringat Roger Milla—kampiun Tim Kamerun yang sukses merebut bola dari Kiper ikonik Kolombia, Rene Higuita. Keberhasilan The Old Lion memanfaatkan Blunder El Loco mengantarkan Tim Kamerun lolos ke babak perempat final (8 besar) Piala Dunia 1990, dan menyebabkan Tim berjuluk Los Cafeteros pulang lebih cepat dari piala dunia 1990 di Italia.Kasliannor & Rudi, Kapten Berkah FCBermain di posisi striker, aksi Kaslian di lapangan masih membuat kerepotan barisan pertahanan lawan. “Bomber berpengalaman ini sudah mencetak 106 gol selama karirnya membela Berkah FC,’ jelas Rudi, Kapten Berkah FC. Kasliannor, Striker Berkah FCKasliannor masih menjadi andalan Berkah FC di lini depan. Meski tak lagi muda, akurasi umpannya terjaga (Maintained Passing Accuracy). Kontrol Bolanya pun masih Ciamik (Ball Control). Walau kehilangan kecepatan menggiring bola (Losing a Yard of Pace), tapi tidak mudah merebut bola di kakinya. Ini saya lihat kemarin, senin (1/6/2026), pada sesi latihan Berkah FC di Lapangan Kayutangi Ujung. Usaha keras Alwad—pemain bertahan, menghalangi Beliau melepaskan tembakan langsung ke gawang. Meski bola masih bisa ditangkap Haris, kiper andalan Berkah FC, ini adalah bukti naluri mencetak golnya belum hilang.Kapten Rudi & Tim Berkah FCTak hanya diandalkan di dalam lapangan, di luar lapangan pun karisma Pak Midun belum memudar. Mendampingi Kapten Rudi sebagai asisten manajer, Ia seringkali menjadi partner diskusi sang komandan klub menyusun pemain yang akan diturunkan untuk mengikuti kompetisi resmi tim. Kesediaannya menyiapkan fasilitas “Alphard” untuk transportasi tim adalah bukti kecintaan dan dedikasi yang luar biasa besarnya kepada tim yang bermarkas di Café Midun ini. Kasliannor & Tim Berkah FCSatu lagi hal yang membuat saya mengagumi Beliau adalah kepeduliannya bersama Kapten Rudi dalam memberi kesempatan pemain muda untuk berlatih / bermain sepak bola di Berkah FC. “Capt, bagi pemain muda jadi dua kelompok agar mereka bisa berlatih,’ ucapnya. Ide kaderisasi dan mendukung kemajuan pemain yunior (Youth Development) luar biasa. Jika banyak  pemain senior yang berpikiran seperti mereka, saya yakin akan maju sepak bola banua. Dan saya melihat, sejauh ini, Berkah FC berhasil memadukan pemain senior dan Yunior di dalam timnya. Maju terus Berkah FC.Kasliannor (Pak Midun) mencerminkan prinsip manajemen pendidikan/ kepemimpinan pendidikan yang efektif. Sebagai asisten manajer sekaligus pemain veteran, Ia menjalankan fungsi perencanaan (menyusun pemain bersama kapten), pengorganisasian (membagi kelompok latihan), dan pendampingan (menyiapkan fasilitas tim). Ini paralel dengan kepala sekolah atau pimpinan lembaga pendidikan yang merancang program, mengatur rombongan belajar, serta memfasilitasi sarana prasarana.Dan yang paling penting adalah kaderisasi kepemimpinan melalui pemberian kesempatan kepada pemain muda. Dalam manajemen pendidikan, keberhasilan sebuah lembaga diukur tidak hanya raihan prestasi dari guru dan siswanya, tetapi juga kemampuan mencetak kader pemimpin baru. Kolaborasi senior–junior di Berkah FC mencerminkan iklim demokratis dan partisipatif, setiap pemain merasa dihargai dan diberi ruang untuk berkembang—persis seperti komunitas lembaga pendidikan yang sehat.  
# EDUKASI
# Opini

Etos Kerja, Senjata Andalan, dan Keseimbangan dalam Kepemimpinan Pendidikan

Iwan Perdana
1 Juni 2026
10 hari yang lalu, saya berbincang dengan Mat Sunda. Pemain berposisi Wing Bek kanan yang hangat dan cepat akrab dengan siapa saja. Menurut pengakuannya, Ia menggemari sepak bola sejak kecil. Hobi itu berlanjut hingga usianya yang kini “matang” bermain sepak bola.  Untuk pemain seusianya, Mat Sunda tergolong pemain luar biasa karena posisi yang dimainkannya menuntut tugas yang sangat berat. Wing bek kanan “memaksa” pemain memiliki stamina prima: Ia harus rajin membantu serangan (overlap) serta cepat kembali bertahan saat kehilangan bola. Ditanya tentang siapa pemain idolanya di kancah sepak bola internasional, tanpa ragu Mat Sunda menyebut Cristiano Ronaldo. Alasannya, pemain Portugal yang baru saja merayakan juara liga Arab Bersama Al Nassr tersebut memiliki etos kerja yang tinggi.“Semua gol yang diciptakan CR7 sangat indah. Di usianya yang sudah memasuki 41 tahun, Ia tetap menjadi penyerang hebat, andalan negaranya dan klub yang dibelanya”, Ungkapnya pada Jumat (22/5/2026). Sedangkan pemain dalam negeri yang dikaguminya adalah Bambang Pamungkas. “Saya suka tandukan Bepe,” ujarnya. Di Berkah FC, Mat Sunda merasakan silaturahmi yang kuat. “Teman-teman tidak gampang tersinggung diajak bercanda, tetapi serius saat Latihan. Berkah FC itu top Pak Iwan.” Ungkapnya. Ia pun merasakan keseimbangan,karena selain canda tawa, dan membahas sepak bola di grup WhatsApp, Setiap pagi H. Juman dan Al Ayubi, memposting nasihat dan kutipan hadits. Berkah FCDikaitkan dengan Manajemen Pendidikan, saya membuat beberapa analogi, yaitu: 1. Etos kerja Di usia 41 tahun, etos kerja Cristiano Ronaldo masih sangat tinggi. Ikon sepak bola ini mengajarkan bahwa dalam kepemimpinan pendidikan, usia tidak menjadi alasan yang menghalangi produktivitas yang berkualitas. "Gol-gol indah" CR7 melambangkan hasil kerja yang estetis dan bermakna yakni pemimpin pendidikan harus menetapkan kebijakan yang berdampak positif bagi peserta didik dan guru.2. Senjata Andalan Meskipun postur tubuhnya tidak terlalu tinggi, Bambang Pamungkas terkenal dengan gol sundulannya. Bisa disebut, gol melalui kepala adalah senjata andalan Bepe. Seorang pemimpin lembaga pendidikan idealnya memiliki "senjata andalan" khas, baik berupa keahlian khusus maupun pendekatan unik yang membedakannya dari pemimpin lain.3. Keseimbangan      Keakraban yang terjalin terasa sangat seimbang. Relasi  tidak hanya diisi dengan bercanda dan membahas bola, tetapi juga diwarnai dengan nasihat serta kutipan hadis setiap pagi yang dibagikan oleh H. Juman dan Al Ayubi." Manajemen pendidikan yang sehat menggabungkan keakraban (relasi sosial), profesionalisme, dan nilai spiritual (karakter). Tanpa keseimbangan, lembaga pendidikan akan kehilangan arah. Ungkapan Mat Sunda tentang Ronaldo, Bepe, dan Berkah FC mengajarkan bahwa pemimpin pendidikan yang hebat adalah sosok yang tetap bekerja keras di usia matang, memiliki keahlian khas, serta mampu menciptakan keseimbangan antara canda, kesungguhan, dan nilai-nilai spiritual.
# EDUKASI
# Opini

Asep Gonzales dan Filosofi "Saling Percaya" di Atas Rumput

Iwan Perdana
30 Mei 2026
Saya mengenal Asep Gonzales di lapangan Kayutangi Ujung. Pemain berpostur kokoh ini memiliki etos kerja tinggi. Saya pernah menyaksikan Ia berusaha mati-matian mengejar Ikhsan, pemain muda berbakat, yang sedang melakukan speed dribbling. Sang speedster itu melesat cepat, namun meskipun tertinggal jauh, Asep tidak menyerah.Penasaran tentang sepak terjangnya di lapangan hijau, saya menanyakan gaya permainan Asep Gonzales ke rekan-rekannya melalui pesan WhatsApp pada Selasa (12/5/2026).Asep Gonzales"Asep seperti Hulk. Dengan postur besar dan berotot, Ia membuat striker lawan ciut," ujar Kun Ivay. "Ia pemain yang tak kenal lelah," tegas Ahmad Sajali. "Meski Asep pemain serba bisa di posisi apa pun, namun Ia lebih sering menjadi bek bertahan yang sulit dilewati berkat postur tinggi dan besarnya," ungkap Rusdi.Saya memiliki pengalaman bermain bersama dengannya sebagai pemain bertahan. Saya di posisi bek kiri, dan Bang Asep di tengah (center-back). Ia sering “memberi” saya bola. "Bawa bolanya, Pak. Bawa dengan tenang," ujarnya. Di lain kesempatan, Ia meneriaki Kiper agar mengoper bola ke saya karena posisi saya paling dekat dengan sang penjaga gawang.Saya pernah menanyakan mengapa Ia mengoper bola kepada saya. "Gak takut direbut, Bang? Saya gak bisa mengolah bola?".  Asep menjawab ringan, "Kita harus saling percaya, Pak. Itulah sepak bola. Semua sama saja, tidak ada yang lebih hebat," jelasnya.Dikaitkan dengan manajemen pendidikan, Saya melihat ada tiga hal yang bisa dipetik dari gaya bermain Asep Gonzales di lapangan hijau.1.     Kepemimpinan melayani (Servant Leadership) Asep Gonzales memberi kepercayaan. Kalimat yang diucapkannya "kita harus saling percaya" adalah inti dari membangun budaya belajar yang aman di lembaga pendidikan.2.     Etos kerja Kengototannya mengejar Ikhsan walau tertinggal jauh adalah analogi sempurna dari growth mindset dan resilience dalam dunia akademik.3.     Fleksibilitas peran Untuk survive, setiap orang idealnya serba bisa di posisi apa pun, namun untuk berkembang harus fokus pada satu posisi. Guru atau dosen harus menguasai banyak ilmu pengetahuan, tetapi juga harus memiliki  kompetensi khusus. Kepercayaan, kegigihan, dan fleksibilitas peran adalah hal yang dapat dikaitkan dengan manajemen pendidikan. Kepercayaan , didukung etos kerja, dan spesialisasi keahlian adalah kunci utama untuk mewujudkan keberhasilan proses belajar mengajar di sekolah.
# EDUKASI
# Opini

Transformasional Leadership di Lapangan Hijau: Praktik Kepemimpinan Rudiansyah, Kapten Berkah FC

Iwan Perdana
21 Mei 2026
Saya mengenal Rudiansyah, salah satu legenda Berkah FC, sekitar November 2023. Kami pernah berbincang di pinggir lapangan tentang sepak bola. Disampaikannya dalam obrolan santai itu, bahwa tujuan utama bermain sepak bola di usia 40 ke atas sekadar menjaga silaturrahmi dan menjaga kesehatan. sedangkan meraih prestasi juara  di kompetisi lokal hanyalah bonusnya.  Rudi, Kapten Berkah FCPak Rudiansyah, yang lebih dikenal dengan panggilan Rudi merupakan sosok pemain dengan mobilitas tinggi dan pekerja keras. Sebagai gelandang tengah, Rudi beroperasi di area pusat lapangan sebagai penghubung lini pertahanan dan penyerang. Tugasnya mengatur tempo permainan, mendistribusikan bola, dan mematahkan serangan lawan. Aksi kapten Berkah FC ini di lapangan menuai banyak pujian dari rekan setimnya. Beberapa pemain senior Berkah FC yang saya ajak ngobrol melalui pesan WhatsApp pada Senin, 18 Mei 2026, menegaskan kelebihannya.“Pak Rudi orangnya ramah, mainnya juga bagus. Gerakannya lincah dan pandai mengatur irama permainan,” puji Rusdi, kiper utama Berkah FC. Bahrudin — wasit yang lebih familiar dengan panggilan Katank — juga menceritakan bahwa ia mengenal Rudi sejak masih berusia belia. Menurutnya gaya permainan gaya permainan Rudi mirip gelandang AC Milan: Gennaro Gattuso, dan Fahmi Amiruddin, legenda Barito Putra ”. Dua pemain yang tidak kenal takut. “Sewaktu masih kanakan, ulun rancak melihat sidin main sepak bola di lapangan Pasar Banjar Raya. Orangnya baik ke semua orang. Pergerakan beliau sangat lincah, cepat berpindah dari satu tempat ke tempat lain,” ujarnya. Berkah FCRudi memiliki karakter kepemimpinan baik di dalam maupun di luar lapangan. Itu tampak dari sikap dan pemikirannya yang selalu mengedepankan soliditas tim. Kepiawaian Rudi mengelola klub diakui sangat baik oleh rekan-rekannya. Respon Kawan-kawan menyiratkan ia seorang yang tegas, terukur dan penuh perhatian. Di jadwal latihan rutin: Setiap hari senin dan kamis di lapangan kayu tangi ujung, di pertandingan persahabatan, atau pada saat tim mengikuti kompetisi, Ia selalu berpesan kepada rekan-rekan layaknya seorang ayah kepada anak; seperti seorang kakak berpesan kepada adiknya, agar selalu berhati-hati.  “Capt Rudi selalu memberikan suport kepada pemain Berkah FC, dan mengingatkan tim untuk selalu menjaga kekompakkan. Salutnya lagi, Pak Rudi ini tidak bosan mengingatkan seluruh pemain agar berhati-hati, jangan sampai cidera,” ungkap Joko Supriyanto, striker Berkah FC.Menurut Kadir — gelandang bertahan — cara Rudi mengatur dan mengurus Berkah FC pun sangat baik. “Kemampuan manajerial atau kepemimpinan Pak Rudi sangat baik”, tegas guru Sejarah SMAN 1 tersebut. Ia memaparkan kelebihan sang kapten yang dipercaya memimpin dan mengelola tim. “Selain berkarakter gemar men-support rekan untuk maju, Beliau cerdas  merangkul puluhan pemain pemain junior berusia di atas 45 tahun,” katanya.Rudiansyah, Kapten Berkah FCPernyataan guru muda itu diamini oleh Bang Iyus. “ Pak Iwan, Kapten Rudi adalah berkah luar biasa bagi Tim Berkah FC. Di bawah kepemimpinan Beliau, klub berjalan baik dan lancar. Semoga silaturrahami kita terus terjaga,” ungkapnya.  Pujian serupa dinyatakan Muhammad Rahim alias Yuli Berkah. “Tidak mudah menjadi ketua, tapi Pak Rudi melakukan yang terbaik. Saya sangat salut dengan Beliau. Semoga Pak selalu sehat, aamiin,” ujarnya.Saya mencoba menganalogikan Rudi, Kapten Berkah FC, dengan teori kepemimpinan transformasional menurut Bass (1985) yang menyebutkan 4 ciri, yaitu: (1) Idealized Influence, (2) Inspirational Motivation, (3) Intellectual Stimulation, dan (4) Individualized Consideration. Teori kepemimpinan transformasional Bernard Bass (1985) yang ingin diimplementasikan di lembaga pendidikan terasa hidup di lapangan sepak bola, dipraktikkan oleh Rudi Berkah FC. Ia menginspirasi dan merangkul tanpa membeda-bedakan anggota grup. Beranikah kita meniru?
# EDUKASI
# Opini

Yang Penting Fun, Juara Bukan Target: Belajar dari Filosofi Coach Mady

Iwan Perdana
18 Mei 2026
Seperti kebanyakan anak laki-laki, saya juga menggandrungi sepak bola. Saya lupa bagaimana proses awal jatuh cinta pada olah raga ini, mungkin karena sepak boleh cukup bermodalkan bola plastik dan tanah lapang. Di tambah lagi, pada saat saya masih berusia 10 tahun-an, saban sore bersama Abah (alm) nonton Piala dunia 1986 di rumah tetangga.Di masa kecil dulu, saya belum mengetahui SSB: Sekolah Sepak Bola. Mungkin saja pada waktu itu sudah ada. Andai saat itu saya tahu, kemungkinan besar saya tertarik ikut berlatih 😊. Kini SSB / akademi sepak bola sudah  menjamur di Banjarmasin. Anak-anak yang memiliki hobi bermain sepak bola, dan didukung orang tuanya bergabung dengan beragam tujuan. Baik untuk tujuan meraih prestasi, ataupun sekadar olahraga. Ada juga orang tua yang mengikutsertakan anaknya latihan sekadar meminimalisir buah hatinya habiskan waktu di depan gadget.Seperti tulisan sebelumnya, saya mencoba menganalogikan sepak bola dengan manajemen pendidikan. Fokus tulisan pendek saya kali ini adalah Achmady, pemain bertahan Berkah FC, yang lebih familiar dengan nama panggilan Coach Mady.Dalam tim, Coach Mady memainkan posisi gelandang bertahan. “Om Mady punya fisik yang kuat, Selain apik bermain bola, Beliau jago menyemangati tim”, kata Bahrudin mengungkapkan keunggulan Coach Mady. Kelebihan lainnya ujar Wasit  Humoris ini adalah lemparan bola ke dalam Coach Madi yang sangat jauh menjadi senjata tambahan yang merepotkan lawan.Achmady_ Gelandang Bertahan Berkah FCSelain menjadi salah satu pilar tim yang dipimpin Kapten Rudi dengan Pembina H. Juman, Coach Mady juga seorang pelatih sepak bola. Rekan satu tim di Berkah FC, Alwad — gelandang menyerang — memberikan apresiasi terhadap kemampuan taktiknya. "Kalau aku menilai Coach Mady memang ahli strategi, pintar ngatur," ujarnya.Demikian pula Ody — gelandang bertahan andalan Berkah FC—memberikan testimoni komprehensif tentang Coach Madi sebagai pelatih. "Beliau konsisten dalam melatih. Tegas dan penuh kelembutan terhadap anak didik. Jenius secara taktik, disiplin namun fleksibel. Ahli dalam memotivasi pemain," ujar Ody.Coach Mady & Coach IkhsanBaru-baru ini, Coach Mady berkolaborasi dengan Coach Ikhsan, speedster muda berbakat  Berkah FC, sukses membina Akademi Sepak Bola Utama Raya meraih juara 2 Piala Presiden. Prestasi tersebut menghantarkan tim yang mereka latih mewakili Banjarmasin ke tingkat kota, melawan Barabai, Balangan, dan lainnya.Kiri ke kanan: Ikhsan, Taufik, Iwan, Kaslian, Rusdi, Mat EloyApa rahasia di balik keberhasilan tim U-12 Akademi Utama Raya meraih Juara 2 Piala Presiden? Bukan tekanan. Bukan teriakan. Bukan target mati. Bersama Coach Ikhsan mengantarkan Utama Raya juara, Coach Madi justru berpegang pada tiga fondasi sederhana namun revolusioner untuk anak usia dini.Melalui wawancara via WhatsApp dengan Coach Mady, berikut tiga inti fondasi kepelatihannya. Pertama, tidak ada tantangan, bawa fun saja. "Tantangan tidak ada. Dibawa fun aja. Biarkan anak menikmati permainan bergembira tanpa tekanan," ujarnya. Kedua, anak bukan mesin pencipta piala. "Mereka bukan mesin pencipta piala. Tujuan utama: mencintai permainan, bukan sekadar mengejar trofi," tegas Coach Mady. Ketiga, kapten adalah tanggung jawab, bukan sekadar ban lengan. "Kapten bukan segaris kain di lengan, tapi tanggung jawab yang harus diemban. Saya memberikan tanggung jawab kepada kapten sepenuh hati dengan pertimbangan kompetensi pemain dan chemistry-nya dengan tim," pungkasnya.Selama ini saya membayangkan bahwa pelatih sepak bola yang hebat adalah yang keras, yang berteriak di pinggir lapangan, dan yang hanya puas jika timnya membawa pulang piala. Coach Mady membalik logika itu. Ia justru menekankan kegembiraan, mengingatkan bahwa anak-anak bukan mesin prestasi, dan mengajarkan bahwa ban kapten adalah simbol tanggung jawab, bukan gaya. Saya berpendapat tiga fondasi Coach Mady memiliki kesamaan dengan manajemen dan kepemimpinan pendidikan sebagai berikut:Pertama   :    "Bawa fun saja" memiliki kesamaan dengan konsep merdeka belajar. Kepala sekolah dan guru fokus menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan, bukan  menargetkan nilai agar anak tidak kehilangan kecintaan pada proses belajar itu sendiri.Kedua      :    "Anak bukan mesin pencipta piala". Pendidikan bukan sekadar perlombaan nilai dan akreditasi. Tujuan utama pendidikan adalah membentuk manusia yang berkarakter dan berpengetahuan, bukan sekadar mengejar sertifikat atau piala lomba.Ketiga      :    "Kapten adalah tanggung jawab, bukan ban lengan" Seorang kepala sekolah, ketua kelas, atau pengurus OSIS tidak boleh menjadikan jabatan sebagai simbol status semata. Amanat kepemimpinan harus diemban dengan penuh tanggung jawab, berdasarkan kompetensi dan kemampuan berkolaborasi dengan seluruh warga sekolah.Proses pelatihan di lapangan hijau serupa dengan pembelajaran di sekolah. Coach Mady mengajarkan hal sederhana namun sering dilupakan: pendidikan, seperti sepak bola, hanya akan bermakna jika anak-anak tetap tersenyum, merasa bertanggung jawab, dan mencintai prosesnya. Bukan karena tekanan. Bukan karena target mati. 
# EDUKASI
# Opini

STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin: Memadukan Kurikulum Adaptif dengan Napas Budaya Banjar

Edubanua.com
15 Mei 2026
Kurikulum Kampus Visioner disusun dengan sangat cermat oleh Bapak Iwan Perdana, Ph.D., salah seorang pendiri kampus, mengacu pada visi institusi serta mempertimbangkan aspek budaya lokal di Kalimantan Selatan, fleksibilitas, dan kebutuhan dunia pendidikan masa depan," ungkap Vebrianti Umar, M.Pd., Wakil Ketua Bidang Akademik STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, diwawancarai melalui pesan WhatsApp mengenai arah  institusinya pada Jumat, 15 Mei 2026.Di tengah riuh rendah transformasi digital, STKIP ISM Banjarmasin mencoba berdiri tegak dengan satu kaki di masa depan dan kaki lainnya tertanam kuat dalam tradisi. Iwan Perdana merancang kerangka akademik yang tidak akan dimakan usang oleh zaman. Kurikulumnya lentur. Tetap relevan walau badai kebijakan pendidikan datang silih berganti.Bukti nyatanya terlihat dari kehadiran mata kuliah unik seperti 'Islam dan Budaya Banjar' dan 'Sejarah Pendidikan Indonesia dan Banua'. Ini bukan sekadar formalitas di atas kertas. Mata kuliah tersebut merupakan jangkar identitas. Kampus ingin setiap lulusannya tidak hanya mahir secara intelektual, tetapi juga mengenal detak jantung tanah kelahirannya sendiri. Inilah yang membedakan mereka dari institusi lain di Kalimantan Selatan.Semangat ini merambat hingga ke Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI). Armin Fani, M.Pd., sang Kaprodi, menekankan bahwa mahasiswanya tidak hanya dilatih untuk fasih berbahasa asing di depan kelas. Mereka dibekali jiwa 'edupreneur'. Tujuannya jelas: agar lulusan memiliki pilihan karier yang luas, baik sebagai pengajar profesional maupun pengusaha di bidang pendidikan. Sarana modern dan kurikulum interaktif menjadi kawah candradimuka bagi mereka untuk melahirkan inovasi yang bermakna bagi masyarakat.Senada dengan itu, Novi Nurdian, M.Pd., Kaprodi PGSD, menegaskan pentingnya menjaga eksistensi budaya daerah. Di Program Studi PGSD, calon guru sekolah dasar dididik dengan pendekatan yang berakar pada nilai-nilai sosial masyarakat Banjar. Karakter Islami menjadi napas utama, memastikan bahwa guru masa depan bukan hanya sekadar pentransfer ilmu, melainkan teladan moral bagi anak-anak di banua.Tak berhenti di ruang kelas, STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin juga melebarkan sayap melalui kolaborasi strategis. Yuliana Nurhayati, M.Pd., selaku Wakil Ketua Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama, menceritakan keaktifan mahasiswa dalam program PLP dan 'Sobat Mengajar' di berbagai jenjang sekolah. Bahkan, ada sentuhan kemanusiaan yang kental melalui kerja sama dengan Yayasan Lanting Literasi Indonesia untuk memberikan pelatihan bahasa Inggris bagi warga kurang mampu. Di sisi lain, Program Studi S1 PAUD yang dipimpin oleh Maulida, M.Pd., terus mematangkan kualitas pendidikannya. Dengan tenaga pengajar yang memiliki rekam jejak panjang di bidang pendidikan anak usia dini, mereka memastikan lulusannya memiliki keterampilan yang mumpuni saat terjun ke dunia kerja. Pada akhirnya, semua ikhtiar STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin: Kampus Visioner yang diketuai oleh Dr. H. Abd Khair Amrullah S.Sos.I.,M.Pd.I ini bermuara pada satu tujuan besar: melahirkan generasi pendidik yang inspiratif, berkarakter, dan kompeten untuk memajukan pendidikan di Kalimantan Selatan.
# BERITA
# Pendidikan

Sihir Kaki Kiri 'Korrakot Sasalak' Asal Belitung: Pelajaran tentang Fleksibilitas, dan Ekosistem yang Memberdayakan

Iwan Perdana
1 Mei 2026
Semburat jingga mulai menyentuh rumput Lapangan Kayu Tangi sore itu, Kamis (30/4/ 2026). Duduk dibangku pemain pengganti, saya menyaksikan ritme permainan kedua tim yang bertanding mengalir begitu dinamis. Di antara keriuhan teriakan pemain pengganti dan penonton seperti saya, sosok Dahri mencuri perhatian. Menempati pos bek kiri, ia tak sekadar menjadi tembok pertahanan. Dahri adalah anomali; seorang pemain bertahan yang memiliki insting menyerang. Taher, striker andalan Berkah FC, menjuluki rekannya itu dengan sebutan 'Korrakot Sasalak'—merujuk pada gaya main bek sayap modern asal Thailand. "Bang Dahri sering melakukan operasi membantu penyerangan untuk melakukan counterattack. Ciri khasnya kaki kidal, umpan crossing-nya akurat ke area pertahanan lawan. Namun, ia juga bisa menusuk langsung untuk melakukan shooting keras yang berbuah gol," ujarnya.  Kelebihan utama Dahri  terletak pada kaki kirinya. Kapten Berkah FC, Rudi, mengamini hal tersebut. "Dahri adalah pemain bek kiri dengan andalan kaki kirinya yang sangat keras dalam melakukan shooting," ungkap Rudi. Transformasi Dahri di lapangan diakui oleh rekan setim lainnya. Taufik, gelandang serang, melihat kurva peningkatan yang signifikan dalam performa sang bek kiri. Seolah-olah, semakin bertambah usia, Dahri justru semakin menemukan sentuhan emasnya di lapangan. "Alhamdulillah, mulai meningkat permainan beliau selama main di Berkah FC," kata Taufik. Di klub ini, Dahri seakan menemukan ekosistem yang tepat untuk terus bertumbuh. Berkah FC sendiri memang dikenal sebagai wadah bagi para pemain bertalenta yang menjunjung tinggi kebersamaan. Menganalogikan Dahri dalam perspektif manajemen pendidikan sangat menarik dan menjadi tantangan tersendiri. Berikut adalah poin-poin yang dapat saya temukan:1.       Manajemen Sumber Daya Manusia (SDM) Berbasis Potensi, Bukan UsiaDahri membuktikan “usia hanyalah angka” dan justru meningkat seiring waktu. Manajemen SDM yang baik memetakan kompetensi, kematangan emosional, dan konsistensi kinerja. Bukan sekadar melihat usia. Guru senior justru bisa menjadi aset strategis jika diberikan kepercayaan dan ruang ekspresi yang tepat.2.       Struktur Peran yang Fleksibel (Role Flexibility)Dahri adalah bek kiri, tetapi memiliki insting menyerang (anomali positif). Manajemen pendidikan yang adaptif tidak mengkotakkan personel secara kaku, tetapi justru memanfaatkan keunikan individu untuk mencapai tujuan bersama secara lebih kreatif dan efektif.3.       Kepemimpinan Apresiatif dan Pemberian Julukan PositifTaher menjuluki Dahri sebagai ‘Korrakot Sasalak’ (bek sayap eksplosif). Kepala sekolah dapat menggunakan metafora, julukan positif, atau narasi inspiratif untuk membangun identitas profesional. Pengakuan sosial seperti ini meningkatkan motivasi intrinsik dan menciptakan budaya kerja yang menghargai keunikan individu.4.       Pengembangan Profesional Berbasis Lingkungan yang Mendukung Dahri meningkat performanya setelah bermain di Berkah FC yang menjunjung kebersamaan. Sekolah perlu dirancang sebagai learning ecosystem yang aman, kolaboratif, dan suportif. Tanpa ekosistem yang tepat, potensi individu tidak akan berkembang.5.       Pengakuan atas Kompetensi Spesifik (Spesialisasi)Kaki kiri Dahri adalah kekuatan utama: shooting keras, crossing akurat. Manajemen berbasis bakat (talent management) perlu mengidentifikasi dan memberdayakan kekuatan spesifik setiap tenaga pendidik. Di Berkah FC, kaki tidak hanya menendang —ia bercerita: menyerang, dan bertahan. Di bawah arahan H. Juman dan dipimpin Kapten Rudi, tim ini bukan sekadar klub. Ia adalah sekolah yang mengajarkan kebersamaan, kedisiplinan, dan pengelolaan yang memanusiakan. Yang muda berkembang, yang tua tak hanya sehat —tapi tetap berprestasi. Terbukti, Berkah FC sering meraih juara di banyak kompetisi. 
# EDUKASI
# Opini

Kampus Visioner Tekankan Pentingnya Karakter Visioner dan Patriot bagi Pendidik

Iwan Perdana
31 Maret 2026
Kemajuan bangsa memerlukan dosen yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki pandangan visioner dan jiwa patriot dalam menjalankan mandat Tridarma Perguruan Tinggi. Dunia akademik sering kali terjebak dalam menara gading intelektualitas yang dingin. Namun, di Kampus Visioner, Selasa (31/3/2026), sebuah diskursus hangat mengemuka: apakah kecerdasan saja cukup untuk memajukan Indonesia? Jawabannya tegas, tidak.Vebrianti Umar, MP.d, Wakil Ketua Bidang Akademik STKIP ISM Banjarmasin, membedah realitas ini dengan lugas. Baginya, mengarahkan orang cerdas itu perkara mudah. Tantangan sesungguhnya adalah menemukan mereka yang benar-benar mau 'berdarah-darah' demi kemajuan negara melalui pengabdian yang tulus. "Negara tidak hanya membutuhkan orang cerdas, tetapi yang benar-benar mau berkontribusi dengan kemampuan berpikir jauh ke depan dan jiwa yang mencintai Indonesia," ungkapnya.Salah satu bukti nyata yang ia soroti adalah langkah Iwan Perdana Ph.D, salah seorang pendiri kampus STKIP ISM Banjarmasin, yang melibatkan para dosen Bahasa Inggris kampus Visioner terjun langsung ke masyarakat, bekerja sama dengan Yayasan Lanting Literasi Indonesia. Di sana, mereka bukan sekadar mengajar tata bahasa, melainkan sedang menanam benih kualitas pada generasi masa depan. Inilah bentuk patriotisme yang membumi.Senada dengan itu, Armin Fani, M.Pd selaku Kaprodi PBI menekankan bahwa menjadi visioner adalah syarat mutlak agar dosen tidak tergilas zaman. Pendidik harus mampu menjawab tantangan perubahan dengan metode inovatif yang tetap berpijak pada kearifan lokal. Kejujuran akademik tetap menjadi kompas utama di tengah arus disrupsi.Sementara itu, Supian Sauri, M.Pd dari prodi PGSD melihat peran dosen sebagai arsitek peradaban. Dosen tidak boleh hanya menjadi 'mesin' pengajar di kelas. Menurutnya, melalui integrasi pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat, dosen adalah kunci untuk mencerdaskan sekaligus membentuk karakter mahasiswa.Hal ini diperkuat oleh Rizki Nugerahani Ilise, M.Pd, Dosen PAUD yang melihat profesi dosen sebagai sebuah bentuk pengabdian, bukan sekadar pekerjaan administratif. Dengan visi yang tajam, seorang akademisi mampu melihat peluang di masa depan untuk membawa bangsanya melompat lebih jauh. Sebagai penutup, Yuliana Nurhayati, M.Pd ,Wakil Ketua Bidang Kemahasiswaan dan kerja sama menegaskan bahwa STKIP ISM Banjarmasin terus mendorong pembinaan karakter melalui kegiatan konkret seperti 'Sobat Mengajar' dan pelestarian seni menari. Tujuannya melahirkan lembaga yang tidak hanya unggul secara global, tetapi memiliki akar nasionalisme yang kuat demi kemajuan Indonesia.
# BERITA
# Pendidikan

Refleksi Spiritual dan Kebersamaan Sivitas Akademika Kampus Visioner di Penghujung Ramadan 2026

Iwan Perdana
19 Maret 2026
Ramadan kali ini terasa berbeda, setidaknya bagi Novi Suma Setyawati, Ketua LPPM STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, harus menerima kenyataan pahit tentang sebuah 'kursi kosong'. Sosok Ayah yang biasanya menjadi pilar di meja makan saat berbuka, kini hanya tinggal kenangan. "Ramadan tahun ini menghadirkan duka mendalam atas ketidakhadiran Ayah," tuturnya lirih. Namun, di balik awan mendung itu, Novi menemukan pelangi kecil berupa pelajaran tentang keikhlasan yang lebih luas—sebuah makna kesabaran yang ia bawa hingga ke meja kerja.Senada dengan Novi, Rizki Nugerahani, Ketua LPM, juga merasakan ruang hampa yang sama. Kerinduannya pada masakan dan perhatian Ibu adalah luka yang masih basah. Baginya, Ramadan bukan lagi soal kemeriahan pasar wadai, melainkan sebuah perjalanan ruhaniah untuk kembali 'pulang' kepada Allah di sisa sepuluh malam terakhir. Ia ingin menjadikan setiap sujudnya sebagai jembatan rindu kepada sang Ibu yang telah mendahului.Duka Novi dan Rizki  dirasakan pula oleh Nurul, " Ramadan tahun ini adalah ramadan tahun ke-4 tanpa kedua orang tua. Suasana buka puasa bersama terasa begitu berbeda", ucapnya sedih.  Di sudut lain kampus, Yuliana Nurhayati, Wakil Ketua Bidang Kemahasiswaan dan kerja sama, memotret Ramadan 2026 sebagai momentum 'pemangkas jarak'. Agenda buka puasa bersama di kampus bukan sekadar seremoni. "Semoga momentum kebersamaan dosen, tendik, dan mahasiswa ini menjadi momentum mempererat silaturahmi," harap Yuliana. Ia bahkan bermimpi, tahun depan pintu kampus akan terbuka lebih lebar untuk masyarakat sekitar dan kaum dhuafa, mengubah kesalehan individu menjadi kesalehan sosial. Vebrianti Umar, Wakil Ketua Bidang Akademik memahami puasa bukan sekadar urusan menahan lapar dan dahaga. Ia melihatnya sebagai laboratorium karakter. “Di Ramadan ini, saya belajar untuk menjadi pribadi yang lebih sabar, tenang, ikhlas dalam menghadapi berbagai situasi, dan berlatih mewujudkan nilai kemanusiaan dalam bentuk tindakan nyata, bukan sekadar teori saja demi kebaikan Bersama”, tambahnya.Waktu memang pencuri yang lihai. Ramadan terasa cepat sekali berlalu. Armin Fan, Halima Chairia, Zulfaris, Maulidha, Supian Sauri, Norhayati dan Tiara merasakannya. Kenyataan ini menumbuhkan rasa haru yang mengganjal di hati mereka saat menyadari banyak target ibadah yang belum tuntas. Muncul ketakutan yang menimbulkan sebuah pertanyaan, “akankah berjumpa Ramadan tahun berikutnya?“. "Semoga hasil Ramadan ini menjadikan saya konsisten dan khusyuk dalam beribadah, membaca al qur'an, dan bersedekah di luar Ramadan,” ucap Norhayati menguatkan hati.  "Ulun sangat bersyukur ramadan tahun menjadikan saya pribadi yang lebih baik dari sebelumnya", ucap Junaidi. Tapi juga sedih karena suasana ibadah, ketenangan hati dan kebersamaan yang indah akan segera berlalu, tegasnya.Muhammad Agus Safrian mengatakan Ramadan mengajarkannya menjalani hidup tanpa tergesa, belajar menerima, dan bersyukur.  Sementara Novi Nurdian, Kaprodi PGSD, mengakui bahwa menjaga ritme antara produktivitas kerja dan kekhusyukan ibadah bukanlah perkara mudah. Ia merasa tertantang untuk tetap optimal di kantor tanpa kehilangan esensi spiritual meski Ramadan telah berlalu. Serupa dengan Muhammad Juanda yang pandangannya tentang hidup dan ibadah berubah. “Ramadan menjadi bekal berharga untuk melanjutkan pengabdian di dunia pendidikan setelah bulan suci berlalu,” ujarnya. "InsyaAllah, akan semakin menjadi pribadi yang baik, dan ssmakin profesional menjalankan tugas", jawab Tati Akhbariyah melalui  pesan WhatsApp.Pada akhirnya, Ramadan 2026 di Kampus Visioner adalah sebuah mosaik; ada air mata kerinduan, ada tawa di meja berbuka, dan ada niat untuk menjadi manusia yang lebih peka terhadap sesama, juga meningkatkan  profesionalitas kerja.  
# BERITA
# Pendidikan

  Youtube

Surah Ar-Rahman | Aniq Muhai

  Informasi

Selamat Hari Guru Nasional
Arah Pendidikan Nasional & Transformasi Pendidikan Lokal di Daerah
Kupas Tuntas: Kurikulum, Inklusi, dan Seni di Sekolah Dasar
Momentum Kebangkitan Nasional Melalui Peningkatan Kualitas Pendidikan