Postingan Terbaru

7 Resep Jitu Yuliana Nurhayati, M.Pd Meredam Pasang Surut Motivasi Belajar

Edubanua.com
5 Februari 2026
Krisis semangat belajar sering menghantui, namun Yuliana Nurhayati, M.Pd, Wakil Ketua Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, menawarkan tujuh kiat praktis yang melampaui kurikulum formal demi menjaga api motivasi belajar tetap menyala.Pendidikan, dalam pandangan para ahli, memang laksana sungai yang tak pernah berhenti mengalir. Batasan maknanya terus berubah seiring berkembangnya temuan dan pola pikir baru. Namun, di tengah pusaran teori itu, ada satu masalah abadi yang kerap meredupkan cahaya generasi muda: pasang surut motivasi belajar.Bukan rahasia lagi, semangat menuntut ilmu seringkali naik turun, bahkan cenderung lebih banyak merosot. Kita semua tahu pendidikan penting, krusial untuk membentuk karakter, moral, dan etika, serta menumbuhkan pemikiran kritis. Tapi bagaimana menjaga 'bahan bakar' itu agar tidak habis di tengah jalan?Yuliana Nurhayati, M.Pd memiliki pandangan yang menyegarkan. Ia menolak definisi belajar yang kaku. Pembelajaran, katanya, jauh lebih luas dari dinding kelas dan tumpukan buku. “Pendidikan tidak selalu formal: berkutat dengan buku-buku atau e-book berisi materi pelajaran, berjumpa guru atau dosen,” ujarnya lugas. “Pembelajaran bisa saja diperoleh dari luar lembaga pendidikan formal, seperti bersinergi dengan alam, melihat lingkungan sekitar, dan memperhatikan kehidupan masyarakat. Tidak kalah pentingnya berinteraksi dengan sesama yang akan menjadikan kita menjadi bijak.”Filosofi belajar holistik ini menjadi landasan bagi tujuh resep praktis yang ia tawarkan. Resep pertama adalah fundamental: Ingat tujuan hidup dan tumbuhkan kesadaran manfaat belajar. Mengapa kita harus repot-repot membuka buku? Mengapa harus bersusah payah menguasai keterampilan baru? Jika alasan (the 'why') itu kuat, konsistensi belajar akan datang dengan sendirinya.Ia menekankan pentingnya adab dalam mencari ilmu. Hormati orang berilmu, ikuti jejak mereka. Sebab, ilmu itu sangat luas, takkan cukup waktu untuk mempelajari semua. Ini membawa kita pada kiat keempat: Prioritaskan belajar pada bidang yang hendak dikuasai atau sesuai pekerjaan. Selebihnya? Cukup untuk menambah wawasan.Yang paling menarik, Yuliana mendorong generasi muda untuk berhenti membandingkan diri. Fokuslah pada usaha meningkatkan kualitas diri sendiri. "Jangan minder melihat kehebatan orang lain," pesannya. Ketika kita fokus pada pertumbuhan internal, kita akan terhindar dari penyakit hati yang merusak motivasi.Prinsip ini beriringan dengan kiat keenam: Jangan pernah merendahkan orang lain. Setiap individu memiliki kelebihan dan kekurangan yang unik. Kesombongan dan rasa minder adalah dua sisi mata uang yang sama-sama mematikan semangat juang.Pada akhirnya, motivasi belajar harus bermuara pada aksi yang berdampak. Kiat penutupnya adalah belajar dari orang-orang hebat yang memiliki ketajaman berpikir dan banyak melakukan aksi positif ke masyarakat. Inilah kunci untuk mengubah ilmu menjadi kebijaksanaan, dan karakter menjadi aksi nyata. Pendidikan sejati, sesungguhnya, adalah proses menjadi bijak.  
# EDUKASI
# Opini

L2I Sediakan Kelas Bahasa Inggris Cuma-Cuma bagi Pelajar RT 12 Sungai Miai dan Sekitarnya

Edubanua.com
30 Januari 2026
Yayasan Lanting Literasi Indonesia (L2I) memulai program pelatihan keterampilan berbahasa Inggris (speaking) gratis bagi pelajar SD, SMP, dan SMA di kawasan RT. 12 Kelurahan Sungai Miai, Banjarmasin. Pertemuan perdana yang diselenggarakan pada Jumat (30/1/2026) ini merupakan respons konkret yayasan terhadap kebutuhan kompetensi esensial di era digital dan global.Pelatihan ini akan dilaksanakan secara rutin setiap hari Jumat, mulai pukul 14.00 hingga 16.00 WITA. Kegiatan perdana pada 30 Januari 2026 dihadiri oleh sejumlah siswa dari jenjang pendidikan dasar hingga menengah.Dalam pelaksanaannya, L2I turut menggandeng relawan edukator yang peduli terhadap pendidikan dan keterampilan berbahasa, khususnya Bahasa Inggris. Tiga dosen dari STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, yaitu Armin Fani, M.Pd., Vebrianti Umar, M.Pd., dan Novi Suma Setyawati, M.Pd, berkenan menjadi kawan belajar dan pengajar dalam program ini.Ketua Lanting Literasi Indonesia, Dyah Sukma Aisyah, menjelaskan bahwa kemampuan Bahasa Inggris sangat krusial dalam menunjang mobilitas sosial dan ekonomi para peserta."Bahasa Inggris penting dikuasai karena saat ini banyak lapangan pekerjaan yang mensyaratkan pelamarnya mampu berbahasa Inggris, selain itu Bahasa Inggris juga penting untuk akses internet karena banyak menggunakan istilah dalam Bahasa Inggris," ujar Dyah.Inisiatif pelatihan ini digagas oleh Pendiri Lanting Literasi Indonesia, Iwan Perdana, Ph.D, yang juga merupakan Ketua RT. 12 Kelurahan Sungai Miai. Program ini ditawarkan terbuka bagi warga RT. 12 dan sekitarnya, termasuk warga RT. 21 Kelurahan Antasan Kecil Timur Dalam yang berbatasan langsung.Iwan Perdana berharap pelatihan ini dapat meningkatkan motivasi belajar para peserta mengingat pentingnya menguasai Bahasa ini di era globalisasi. Ia juga menyampaikan visi yayasan yang lebih luas."Lanting Literasi Indonesia adalah Yayasan yang bergerak di bidang Pendidikan, Sosial, dan Kemanusiaan. Salah satu agenda Lanting Literasi Indonesia di bidang Pendidikan adalah kami menyelenggarakan pelatihan keterampilan berbahasa Inggris gratis untuk meningkatkan motivasi pelajar menguasai Bahasa Inggris," jelas Iwan Perdana.Program ini mendapat sambutan positif dari masyarakat sekitar. Adi, salah seorang warga RT. 12, menyatakan dukungannya."Program ini sangat bagus, Saya sangat mendukung kegiatan yang digagas pak Iwan, dengan pengalaman Beliau studi di luar negeri, dan didukung para dosen kolega beliau, saya kira ini akan sangat membantu para pelajar khusus warga RT.12 dan sekitarnya yang berminat belajar Bahasa Inggris," kata Adi.Senada dengan Adi, tokoh masyarakat Marhadi berharap konsistensi kegiatan ini. "Keren Pak, Semoga bisa konsisten karena kegiatan ini akan memotivasi para siswa di lingkungan Kelurahan Sungai Miai khususnya warga RT. 12 dan sekitarnya belajar Bahasa Inggris," harap Marhadi.Sementara itu, Azmi, pelajar Kelas 7 SMP yang menjadi peserta, mengungkapkan kesannya terhadap metode pembelajaran yang diberikan. "Bagus, mudah di pahami, pembelajarannya nyaman dan santai."  
# BERITA
# Pendidikan

Silaturahmi: Investasi Sosial untuk Harmoni dan Umur Panjang

Edubanua.com
18 Januari 2026
Iwan Perdana, Ph.D, Ketua RT.12 Kelurahan Sungai Miai Kota Banjarmasin, menggelar silaturahmi warga di kediamannya pada Minggu (18/01/2026). Beliau menjadikan pertemuan pertama di tahun Januari 2026  tersebut sebagai ajang mempererat tali persaudaraan, dan membangun sinergi antar warga. Dihadapan masyarakatnya, Iwan Perdana yang juga dosen FKIP UNISKA MAB Banjarmasin menyampaikan beberapa hal, antara lain: (1) Pentingnya menjaga kerukunan dan keharmonisan warga RT.12, (2) Menghimbau warga agar menjaga kebersihan lingkungan, (3) Menawarkan pembelajaran Bahasa Inggris gratis bagi pelajar SMP dan SMA sederajat,(4) Informasi Pengusulan Kartu Prakerja 2026, dan (5) Informasi peluang menjadi Agen Edukasi Kebersihan yang bertugas mensosialisasikan pentingnya kebersihan, pengelolaan sampah, dan pola hidup bersih kepada warga di lingkungan RT.12.Landasan dan Hakikat Silaturahmi: Dari Iman, Ilmu, hingga BudayaAllah SWT menjelaskan dalam QS At-Tin ayat 4, bahwa manusia diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Dilengkapi hati, akal, dan fisik yang proporsional, manusia dijadikan khalifah di muka bumi dengan tugas utama memakmurkan bumi atas dasar ketaatan kepada Allah (QS. Al Baqarah ayat 30).Meskipun sempurna: memiliki hati, akal dan fisik yang proporsional, manusia  tidak dapat hidup seorang diri, karena  manusia  adalah mahluk  sosial (Pranata & Hartati, 2017) yang memerlukan orang lain, membutuhkan bantuan orang lain, hidup bersama orang banyak,  dan tidak dapat melakukan suatu kegiatan tanpa melibatkan orang lain (Hantono & Pramitasari, 2018).Interaksi antar sesama manusia yang dilakukan dengan niat baik dapat dianggap sebagai bagian dari silaturahmi. Mengapa? karena silaturahmi (menyambung kasih sayang) adalah esensi dari hubungan sosial. Menurut Istianah (2016), Silaturahmi harus dilakukan untuk seluruh umat Islam, baik yang ada kaitan hubungan nasab (keturunan) maupun hubungan persaudaraan sesama umat muslim. Bahkan kepada kaum non muslim (berbeda keyakinan) pun dituntut untuk berbuat baik dengan saling menghormati dan menghargai, hanya saja bentuk dan etikanya yang berbeda.Silaturahmi bukan hanya sekadar bertemu, tetapi ada rasa saling mengasihi, menghormati, membantu, dan berbagi kebaikan untuk mempererat persaudaraan guna menciptakan harmoni, dan mendapatkan keberkahan hidup, Rasullah SAW menjelaskan silaturahmi menambah rezeki dan memperpanjang umur (HR. Bukhari dan Muslim). Bagi Masyarakat Indonesia, silaturahmi merupakan kegiatan yang sudah menjadi kebiasaan atau budaya secara turun temurun. Kegiatan ini bertujuan untuk menjalin tali persaudaraan (Ridho et al., 2021). Selain itu, Silaturahmi juga merupakan sebuah muamalah atau hukum yang mengatur urusan manusia yang sederhana namun fundamental dengan keperdulian terhadap keluarga, saudara ataupun orang lain dengan manfaat menambah rezeki, diberikan umur panjang (Made Cahyana et al., 2021). Kegiatan silaturahmi memberikan banyak manfaat, baik di dunia maupun di akhirat. Di dunia, silaturahmi meningkatkan intensitas komunikasi yang menciptakan keharmonisan: kehangatan dan cinta kasih sehingga mampu meningkatkan sharing informasi dan saling percaya. Untuk akhirat, silaturahmi mendatangkan keberkahan: orang-orang yang menjaga silaturahmi akan masuk ke dalam Syurga.Diriwayatkan dari Abu Ayyub Al-Ansari: Seorang lelaki berkata, "Wahai Rasulullah! Beritahu saya tentang suatu amal yang akan membuat saya masuk surga." Rasulullah SAW bersabda, "Engkau harus menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun; mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan menjaga hubungan silaturahmi." (https://www.hadits.id/hadits/bukhari/5983).Membangun Sinergi dan Keberkahan Studi Cohen (2001) menunjukkan bahwa individu dengan jejaring sosial yang lebih luas dan interaksi sosial yang aktif cenderung memiliki usia harapan hidup lebih panjang dan kesehatan yang lebih baik,. Silaturahmi yang digelar Ketua RT.12 Kelurahan Sungai Miai ini bukan sekadar pertemuan rutin belaka. Merujuk pada kutipan-kutipan yang menjadi referensi pada tulisan singkat ini, silaturahmi merupakan perwujudan nyata dari ajaran agama, dan kearifan lokal yang menyatu dalam satu tindakan bermakna. Dari tingkat rukun tetangga inilah fondasi harmoni sosial dibangun, sinergi warga diperkuat, dan keberkahan hidup diraih.ReferensiCohen, S. (2001). Social relationships and health: Berkman & Syme [1979].Hantono, D., & Pramitasari, D. (2018). Aspek Perilaku Manusia sebagai Makhluk Individu dan Sosial pada Ruang Terbvuka Publik. Nature: National Academic Journal of Architecture, 5(2), 85. https://doi.org/10.24252/nature.v5i2a1Istianah. (2016). Shilaturrahim Sebagai Upaya Menyambungkan Tali yang Terputus. Riwayah : Jurnal Studi Hadis, 2(2), 199. https://doi.org/10.21043/riwayah.v2i2.3143Made Cahyana, I., Ismirihah, A., & Rijalul Fahmi, R. M. (2021). Silaturahmi Melalui Media Sosial Pespektif Hadits (Metode Syarah Bil Ra’yi). Al-Hikmah: Jurnal Pendidikan Dan Pendidikan Agama Islam, 3(2), 213–224.Pranata, R. H., & Hartati, U. (2017). Interaksi Sosial Suku Sunda dengan Suku Jawa (Kajian Akulturasi dan Akomodasi di Desa Buko Poso, Kabupaten Mesuji). Swarnadwipa: Jurnal Kajian Sejarah, Sosial, Budaya, Dan Pembelajarannya, 1(3).Ridho, M., Pratama, M. R., Dwicahya, B., Yan Sutardi, P. P., Hutahaean, P., & Ashari, F. (2021). Pergeseran Metode Silaturahmi Di Indonesia Sebagai Dampak Pandemi COVID-19. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan, 8(1), 56–68.  
# EDUKASI
# Opini

Ajarkan Anak Usia Dini Al Quran: Investasi Keberkahan

Edubanua.com
26 Desember 2025
EDUBANUA.COM, BANJARMASIN – Mengajarkan Al Quran kepada anak sejak dini, bahkan dari dalam kandungan adalah investasi keberkahan. InsyaAllah kemuliaan dunia hingga akhirat akan diraih tidak saja oleh si anak, tetapi juga orang tuanya. Itulah yang menyemangati saya mendirikan pondok penghapal Al Quran, ujar Ustadz. Syarifuddin, Sabtu (27/12/2025).Di sela perbincangan santainya di warung kopi dengan Iwan Perdana, Ph.D, pendiri Yayasan Lanting Literasi Indonesia, Ust. Syarifuddin berkenan sedikit menyampaikan pandangannya tentang pentingnya mengajarkan Al Quran kepada anak-anak.“Al Quran adalah petunjuk bagi manusia. Ajarkan anak-anak kita cara membacanya disertai tajwidnya dengan benar agar mereka mengenal Al-Quran. Sebab jika sudah mengenal, anak-anak akan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.Beliau juga menjelaskan bahwa membaca Al Quran mendatangkan pahala tidak hanya kepada pembacanya, tetapi juga guru yang mengajarinya. Keberkahan bagi orang tuanya, keluarganya, rezekinya, kesehatannya, keselamatan dalam kehidupannya. Mengingat banyaknya ganjaran kebaikan fadhilah (keutamaan) yang diperoleh baik di dunia maupun di akhirat, Ust Syarifuddin mendirikan dan mengoperasikan pondok penghapal Al Quran di Sukoharjo, Jawa Tengah.Selain sebagai petunjuk hidup agar selamat di dunia, dan di akhirat: landasan Aqidah, dan membentuk anak berakhlak mulia, banyak manfaat lain yang diperoleh dengan mengajarkan Al Quran kepada anak-anak, antara lain: meningkatkan kemampuan kognitif, menguatkan daya ingat anak melalui latihan hafal, Al Quran juga melatih kemampuan berpikir kritis. Ust. Syarifuddin menjelaskan bahwa belajar Al Quran bisa di mana saja. Idealnya di rumah: Ayah dan Ibu. Namun, kesibukan mencari nafkah kadangkala menyebabkan orang tua tidak memiliki waktu yang khusus/ terjadwal. Oleh karena itu, keberadaan lembaga pendidikan dapat membantu. “Orang tua dapat memercayakan anak-anaknya belajar membaca Al Quran di sekolah, TPA/TPQ, atau bimbingan privat/ guru mengaji. Pondok tahfidz dapat menjadi pilihan pilihan sangat tepat bagi yang ingin mendalami Al Qur'an secara intensif dan menjadi penghafal,” jelasnya.“Hal ini karena pondok tahfidz memiliki kurikulum terstruktur yang mencakup tajwid, Tahsin dan pelajaran-pelajaran dieniyah lainnya. Anak-anak juga dituntut mempraktikkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari selama berada di pondok pesantren, mencetak generasi Qur'ani yang berakhlak mulia,” tambahnya lagi. Sebelum mengakhiri diskusi, Ust. Sarifuddin yang mendirikan Pondok Tahfidz Al Qur’an Al Khomsah Sukoharjo, menegaskan sebaiknya anak diajari Al Quran sejak kecil. Pada usia dini, daya ingat anak masih kuat, sehingga proses pelatihan Tilawah (membaca dengan baik dan benar), meliputi Tajwid (ilmu tentang penyempurnaan huruf & sifatnya/makhorijul huruf, serta hukum-hukum bacannya), dan  Tahsin (memperbaiki & memperbagus bacaan) dapat berjalan lebih cepat.
# BERITA
# Pendidikan

Prodi PBI UNISKA MAB Banjarmasin Gelar Seminar Proposal Skripsi, Tekankan Metodologi dan Nalar Kritis

Iwan Perdana
4 Februari 2026
"Ada perasaan takut dan gugup sebelum menjalani seminar proposal, tetapi setelah dijalani ternyata tidak sesulit yang dibayangkan. Para penguji sangat suportif dan memberikan saran yang sangat membantu untuk penelitian saya." Pengakuan Amanda Zahratunnisa, salah satu peserta sempro, ini mewakili gejolak batin peserta Seminar Proposal Skripsi Prodi PBI UNISKA MAB Banjarmasin yang digelar Rabu (4/02/26) di Kampus Utama yang berlokasi di Jl. Adhyaksa No. 2, Kayu Tangi, Kota Banjarmasin Ruang English Corner lt.3 Gedung A.Bagi institusi pendidikan tinggi, skripsi tidak sekadar menjadi syarat administratif kelulusan. Ia adalah bukti otentik bahwa mahasiswa telah mendalami suatu bidang ilmu secara komprehensif. Proses Seminar Proposal Skripsi menjadi gerbang formal untuk menguji kemampuan mereka dalam berpikir kritis, logis, serta mengaplikasikan teori yang telah dipelajari.Sekretaris Prodi PBI UNISKA, Hartatya Novika, M.Pd, menegaskan pentingnya forum tersebut. Tujuannya jelas: menguji kemampuan mahasiswa mempresentasikan serta mempertahankan proposalnya, sekaligus menyerap masukan berharga dari dosen penguji. Tujuannya mulia, demi memastikan skripsi S1 berkualitas yang dihasilkan nanti akan berdampak positif.Dalam atmosfer akademik yang serius, tekanan utama diletakkan pada fondasi penelitian. Dr. Hengki, M.Pd, Penguji sekaligus Dekan FKIP, menekankan satu hal vital, yakni pentingnya Metodologi Penelitian yang benar. "Kami sangat menekankan pentingnya Metodologi penelitian yang benar untuk menjamin validitas, reliabilitas, dan kualitas data yang dihasilkan," ujarnya. Baginya, penelitian yang baik harus berdampak positif, bukan hanya tumpukan kertas.Namun, di balik ketegasan akademik tersebut, drama mental tetap tak terhindarkan. Widya, mahasiswa peserta seminar, jujur mengakui perasaannya. "Isi hati tidak karuan, nervous berkelanjutan, dan overthink," katanya ringkas. Perasaan gugup ini adalah harga yang harus dibayar saat menghadapi panel penguji yang kompeten.Di sinilah peran Arbain, M.Pd, dan rekan dosen lainnya menjadi sangat krusial. "Tantangan dalam menguji seminar proposal skripsi adalah selain menilai Orisinalitas penelitian, juga memberikan kritik yang tajam namun tetap suportif tanpa menjatuhkan mental mahasiswa," jelas Arbain. Kritik harus membangun. Kekritisan penguji diperlukan untuk mengasah nalar logis mahasiswa, sebagaimana disampaikan Kaprodi PBI, Fitra Ramadani, M.Pd. Ketika proses tanya jawab dan masukan rampung, mahasiswa tidak hanya membawa pulang catatan revisi, tetapi juga panduan yang lebih terarah. Suasana lega yang dirasakan Amanda setelah seminar membuktikan bahwa ketakutan terbesar seringkali hanya ada di kepala. 
# BERITA
# Pendidikan

Dari Zona 14 ke Zona Kurikulum: Playmaker Tidak Hanya di Lapangan Hijau. Mereka Juga Ada di Sekolah

Iwan Perdana
2 Februari 2026
Kebanyakan laki-laki suka bermain sepak bola, saya salah satunya. Sejak kecil, saya sudah menggandrungi permainan yang sangat populer di seluruh dunia ini. Hampir saban hari saya bersentuhan dengan bola, baik di sekolah, tanah lapang di kampung, dan lapangan sepak bola kayu tangi di bawah arahan Pak Udi (Alm), dan Mas Yanto. Saya tak lagi bermain bola selepas tahun 2000. Memori indah yang tersimpan hingga kini adalah mencetak gol di final liga Fakultas Ekonomi ULM Banjarmasin yang menghantarkan tim Angkatan 95 meraih juara di kompetisi terakhirnya.Api semangat mengejar bola kembali menyala beberapa tahun silam setelah Bang Amat, sohib masa kecil, mengenalkan saya kepada Pak Rudiansyah, pimpinan Berkah FC. Walau sebenarnya fisik tak lagi prima, dengan niat menjalin silaturahmi dan berolah raga, saya ikut bermain di lapangan kayu tangi setiap senin dan kamis jika tidak ada kesibukan di kampus. Di tim yang sangat solid inilah saya berkawan dengan pemain-pemain hebat di lapangan, dan sangat ramah di luar lapangan. Apa yang saya paparkan dalam tulisan singkat ini mungkin tidak begitu tepat, namun semoga tetap menarik untuk ditelaah. Saya mencoba mengaitkan  sepak bola dengan manajemen pendidikan, tepatnya ilmu terapan (applied science) yang berada di bawah naungan ilmu pendidikan. Disiplin ilmu yang saya pelajari. Saya menganalogikan salah satu posisi di tim sepak bola, yaitu Playmaker (Attacking Midfielder) dengan salah satu struktur strategis di manajemen sekolah, yaitu  Koordinator Pengembangan Kurikulum & Inovasi Pembelajaran.Dalam sebuah tim sepak bola, Playmaker bertindak sebagai otak serangan yang beroperasi di antara lini tengah dan depan. Seorang playmaker tak selalu mencetak gol, tetapi dialah otak di balik setiap peluang yang tercipta. Di Berkah FC, ada empat pemain berpengalaman yang memainkan posisi ini, yaitu Kapten Rudi, Taufik, Budi Riva, dan Izul. Mereka beroperasi di "Zona 14", area krusial di depan kotak penalti lawan. Dengan visi bermain yang kuat, ditopang  teknik, dan kemampuan dribbling yang sangat baik, keempat pemain andalan tersebut bertugas mengatur tempo, menciptakan peluang gol melalui umpan terobosan jitu, serta mendikte jalannya permainan. Di dunia pendidikan, di "lapangan" yang bernama sekolah, peran serupa playmaker dimainkan oleh seorang Koordinator Pengembangan Kurikulum dan Inovasi Pembelajaran. Umumnya jabatan ini dipercayakan kepada wakil kepala sekolah bidang kurikulum. Mereka adalah playmaker pendidikan, arsitek tak terlihat yang merancang skenario agar setiap "gol" pembelajaran—yaitu pemahaman mendalam dan keterlibatan siswa—tercapai.Jika playmaker sepak bola menguasai “zona 14” (area antara lini tengah dan penyerang), playmaker pendidikan beroperasi di “zona transisi” yang kritis. Mereka harus mampu menjembatani visi strategis kepala sekolah dan realitas harian di kelas. Tugas mereka bukan mengeksekusi, tetapi membuat eksekusi menjadi mungkin terjadi dan efektif. Umpan terukur (assist) seorang playmaker sepak bola, dalam pendidikan, berwujud desain pembelajaran yang brilian: sebuah skenario Project-Based Learning yang kontekstual, rubrik penilaian autentik, atau modul digital interaktif yang mereka siapkan untuk guru-guru. Mereka "mengumpan" para guru (para striker) untuk mencetak gol di depan siswa.Kemampuan membaca permainan (game intelligence) playmaker di lapangan sepak bola, di dunia pendidikan diterjemahkan menjadi analisis kebutuhan pembelajaran. Mereka melihat "celah" antara kurikulum nasional dan konteks lokal, antara minat siswa dan materi pelajaran, lalu merancang strategi untuk memanfaatkan celah tersebut menjadi peluang belajar yang menarik.Jika playmaker sepak bola menentukan kapan serangan dipercepat atau diperlambat, playmaker pendidikan memastikan alur pembelajaran sesuai ritme siswa—tidak membebani, juga tidak membosankan. Pada intinya, playmaker pendidikan adalah jembatan penghubung vital yang menerjemahkan kebijakan menjadi praktik, teori menjadi aksi, dan data menjadi strategi. Tanpa mereka, serangan pedagogis sebuah sekolah berisiko menjadi kaku, terfragmentasi, dan kurang kreatif.Seperti Kapten Rudi, Taufik, Budi Riva, dan Izul yang berperan penting menentukan ritme permainan Berkah FC sehingga tim ini berulang kali meraih tropi di kejuaraan sepak bola yang diselenggarakan Dispora Kalimantan Selatan, peran wakil kepala sekolah bidang kurikulum juga menentukan kualitas pendidikan di sebuah sekolah. Apabila pembelajaran di sekolah terasa hidup, dinamis, dan penuh penemuan, maka itu semua karena kepiawaian Koordinator Pengembangan Kurikulum dan Inovasi Pembelajaran, playmaker yang bermain di balik layar,  merancang pertunjukan, menyiapkan senjata bagi para guru, dan memastikan setiap serangan pembelajaran berakhir dengan gol kompetensi yang gemilang. 
# EDUKASI
# Opini

Pelantikan Pengurus HMJ Bimbingan dan Konseling FKIP UNISKA MAB Banjarmasin Periode 2025-2026

Iwan Perdana
30 Januari 2026
“Kepercayaan yang Anda terima hari ini diiringi tanggung jawab moral, akademik, dan organisasi. Jadilah pengurus yang tidak hanya aktif dalam kegiatan, tetapi juga mampu menjadi teladan dalam sikap, perilaku, dan prestasi akademik."Nasihat tegas namun penuh kasih itu meluncur dari Dr. Ani Wardah, M.Pd, Ketua Program Studi (Kaprodi) Bimbingan dan Konseling (BK) Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari Banjarmasin (UNISKA MAB Banjarmasin), saat melantik Nayla Nasywa sebagai Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Bimbingan Konseling UNISKA Periode 2025-2026. Beliau menggantikan Muhammad Habibie, M.Pd, Wakil Dekan III yang berhalangan hadir.Pemandangan pagi di Kampus UNISKA MAB Banjarmasin, Jumat (30/01/2026), menjadi saksi momen krusial ini. Nayla Nasywa, didampingi jajaran inti yang solid, resmi mengemban amanah memimpin organisasi yang menjadi jantung bagi mahasiswa Bimbingan dan Konseling.Ini bukan sekadar seremonial. Ini adalah penyerahan tongkat estafet penting bagi pembentukan karakter konselor profesional di Kampus utama yang terletak di Jl. Adhyaksa, Jl. Kayu Tangi 1 Jalur 2 No. 2, Sungai Miai, Kec. Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan.Di tengah maraknya isu kesehatan mental, peran mahasiswa Bimbingan dan Konseling jauh melampaui sekadar menguasai teori psikologi. Mereka dituntut memiliki kepekaan sosial, etika profesi yang kuat, serta kemampuan empati yang mendalam. Modal ini adalah kunci utama untuk menjadi konselor profesional yang mumpuni. Inilah mengapa kehadiran HMJ Bimbingan dan Konseling UNISKA MAB Banjarmasin sangat vital; ia berfungsi sebagai kawah candradimuka, wadah utama untuk mengasah kepemimpinan mahasiswa BK, karakter, dan profesionalitas.Dalam satu periode ke depan, tantangan Nayla dan timnya adalah menyusun program yang responsif, tidak hanya bagi kebutuhan internal kampus, tetapi juga bagi masyarakat dan lingkungan persekolahan. Mereka harus mampu menjembatani ilmu yang didapat di kelas dengan realitas di lapangan. Estafet kepemimpinan ini diserahkan oleh Selvia Amalia, Ketua Umum periode sebelumnya. Nada haru terasa saat Selvia berpesan kepada pengurus baru. "Teruslah berinovasi, tetap rendah hati, dan jaga integritas. Saya percaya kalian mampu membawa HMJ-BK Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin menjadi organisasi yang lebih aktif, inklusif, dan progresif,” ujarnya, memberi semangat tulus.Menanggapi tantangan dan dukungan tersebut, Nayla Nasywa menyampaikan rasa syukur sekaligus optimisme. Visi yang dibawanya jelas: kolaborasi adalah harga mati. "Dengan dukungan dan kerja sama dari seluruh pengurus, senior, serta pihak terkait, Saya yakin HMJ-BK UNISKA MAB Banjarmasin akan berkontribusi positif bagi jurusan, FKIP, dan Universitas. Mari kita berjalan bersama, saling merangkul, dan tumbuh menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sesama," janji Nayla, menutup pidatonya.Dalam menjalankan roda organisasi, Nayla akan didukung Muhammad Supian Ilham sebagai Wakil Ketua Umum, Amara Huda (Sekretaris Umum), dan Cahaya Kamila (Bendahara Umum).Guna memastikan visi membentuk Konselor Profesional berintegritas dapat terwujud secara nyata, kepengurusan terbagi dalam empat divisi strategis, yaitu Divisi Pendidikan dan Kebudayaan diketuai Auni Azri, Divisi Minat dan Bakat  diketuai Muhammad Hafiez, Divisi Komunikasi dan Informasi di bawah pimpinan Riana Amelia, dan Divisi Koordinator Sekretariat dipimpin oleh Salia.
# BERITA
# Pendidikan

Prodi BK Uniska MAB Banjarmasin Dorong Mahasiswa Kuasai 7 Teknik Keterampilan Komunikasi Konseling

Iwan Perdana
20 Januari 2026
Program Studi Bimbingan dan Konseling (Prodi BK) Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al-Banjari (Uniska MAB) Banjarmasin menggelar kuliah tamu daring untuk membekali mahasiswanya dengan keterampilan esensial. Acara yang dilaksanakan pada Selasa, 20 Januari 2026, melalui platform Zoom Meeting ini berfokus pada tema "Peningkatan Keterampilan Komunikasi Konseling," menekankan bahwa penguasaan komunikasi humanis dan profesional adalah fondasi utama keberhasilan proses bantuan kepada klien. Kuliah tamu daring ini menghadirkan Dr. Arif Ainur Rofiq, S.Sos.I., M.Pd., Kons., CHt (IACT-USA)., CI, Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya yang juga menjabat Ketua Ikatan Konselor Indonesia PD Jawa Timur.Dr Ani Wardah, M.Pd, Kaprodi BK FKIP UNISKA MAB Banjarmasin menjelaskan  tujuan diselenggarakannya kuliah tamu ini ini adalah meningkatkan pemahaman sekaligus mengembangkan keterampilan komunikasi konseling mahasiswa. Mengundang pemateri berpengalaman Dr. Arif Ainur Rofiq,S.Sos.I.,S.Pd.,M.Pd.,Kons.,CHt (IACT-USA).,CI, kegiatan ini diharapkan menambah pengetahuan mereka agar mampu mengimplementasikan konsep komunikasi konseling secara aplikatif dalam konteks layanan di sekolah maupun setting non-sekolah, dan siap menjadi konselor yang kompeten, komunikatif, dan berkarakter yang merupakan target pencapaian visi Program Studi Bimbingan dan Konseling FKIP UNISKA MAB Banjarmasin.Dalam paparannya, Dr. Arif Ainur Rofiq menjelaskan bahwa komunikasi tidak hanya berkaitan dengan cara menyampaikan pesan, tetapi juga bagaimana konselor menunjukkan empati, sikap profesional, serta mampu membangun rasa nyaman pada klien agar proses konseling berjalan efektif. Ia menekankan, setiap konselor wajib memahami dan menguasai keterampilan komunikasi konseling sebagai kecakapan khusus untuk membantu konseli menemukan alternatif pilihan secara tepat dalam menghadapi permasalahan yang dialaminya.Lebih lanjut, Beliau mendefinisikan konseling sebagai kegiatan membantu individu untuk menemukan pemecahan masalahnya (Curative) dan mengembangkan (Development) dirinya menjadi pribadi yang sehat jasmani-rohani, dengan cara memberdayakan iman, akal, dan kemauan. Dr. Arif Rofiq juga memaparkan tujuh teknik dasar keterampilan komunikasi konseling yang harus dikuasai, yaitu: Attending, Questioning, Reflection of Feeling, Parafrashing, Confronting, Summaryzing, dan Ending.Para peserta menyambut positif materi yang disampaikan. Nayla Nasywa, salah satu peserta yang juga bertindak sebagai MC dan moderator, mengungkapkan adanya perubahan perspektif setelah mengikuti kegiatan tersebut. "Setelah mengikuti kuliah tamu ini, saya semakin paham bahwa komunikasi konseling merupakan inti dari keberhasilan proses konseling. Komunikasi ternyata tidak sekadar bertanya dan menjawab, tetapi bagaimana membangun hubungan yang penuh empati, penerimaan, dan kepercayaan," ujarnya.Senada dengan Nayla, peserta lainnya, Selly Tilar, menilai acara ini memperkaya pemahaman tentang peran komunikasi. "Perspektif saya tentang komunikasi konseling semakin terbuka, terutama dalam mengintegrasikan elemen verbal, non-verbal, dan empati untuk membangun hubungan yang lebih efektif antara konselor dan konseli. Komunikasi tidak hanya sebagai alat penyampaian informasi, tetapi juga fondasi utama untuk menciptakan lingkungan aman yang mendorong keterbukaan dan refleksi diri," jelas Selly, seraya menambahkan bahwa keterampilan seperti mendengarkan aktif dan pertanyaan terbuka menjadi kunci sukses dalam proses konseling. Panitia acara, Indriani, berharap kuliah tamu ini dapat memberikan pengalaman belajar yang bermakna dan mendorong mahasiswa untuk terus mengembangkan keterampilan komunikasi konseling sebagai bekal menjadi calon konselor profesional yang humanis.
# BERITA
# Pendidikan

Prodi BK UNISKA MAB Banjarmasin Siapkan Guru Bimbingan dan Konseling Profesional Berlandaskan Nilai Islami

Iwan Perdana
20 Januari 2026
Program Studi Bimbingan dan Konseling (Prodi BK) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Islam Kalimantan (UNISKA) Muhammad Arsyad Al-Banjari (MAB) Banjarmasin mendapat pengakuan positif dari para alumninya terkait kualitas pendidikan yang berfokus pada pembentukan karakter dan profesionalisme pendidik. Di tengah kebutuhan mendesak akan peran guru BK di sekolah untuk membantu siswa mengembangkan potensi dan mengatasi masalah emosional dan akademik, Prodi BK FKIP UNISKA MAB Banjarmasin menegaskan komitmennya mencetak sarjana yang menguasai teori, keterampilan layanan, dan berlandaskan nilai Islami.Peran Guru Bimbingan Konseling (BK) sangat vital dalam menciptakan suasana sekolah yang kondusif, mendukung kesejahteraan siswa secara menyeluruh, serta membimbing mereka dalam perencanaan masa depan. Kehadiran guru BK membantu siswa mengatasi masalah pribadi, sosial, emosional, dan akademik di tengah tekanan kehidupan sekolah.Beberapa alumni Prodi BK UNISKA yang kini telah berkarier di berbagai lembaga pendidikan berbagi pengalaman positif mereka selama menempuh studi. Rezki Rahmah, alumnus yang kini bertugas di SMKN 5 Banjarmasin, menuturkan bahwa pelajaran yang diperoleh melampaui batas teori konseling.“Banyak banget pengalaman dan pelajaran hidup yang saya dapat di Prodi BK UNISKA MAB Banjarmasin, tidak hanya teori konseling, tetapi juga empati, komunikasi, dan cara memahami orang lain. Selain Dosen-dosennya ramah, sabar, dan selalu support mahasiswa untuk berkembang, saya juga dapat teman-teman yang baik,” ujar Rezki.Senada dengan itu, Endah Kartiko Sari, Guru SMPN 5 Banjarmasin, menekankan bahwa kuliah di jurusan Prodi BK UNISKA baginya merupakan sebuah perjalanan mulia. “Saya merasa Kuliah di jurusan Bimbingan dan Konseling (BK) adalah bagian dari perjalanan mulia karena saya memperoleh pengetahuan yang kini saya rasakan sangat berguna untuk membantu siswa memahami diri sendiri dan menemukan jalan keluar atas permasalahan emosional maupun akademik yang mereka hadapi,” kata Endah. Alumnus lain, Dwi Purnama Sari yang menjadi pengajar di SDN Benua Anyar 4, turut bersyukur, “Alhamdulillah saya mendapatkan banyak pengetahuan dan pengalaman berharga. Saya belajar membuat Keputusan yang tepat untuk mengatasi masalah,” ujarnya. Mencetak Sarjana Bimbingan KonselingKaprodi BK UNISKA MAB Banjarmasin, Dr. Ani Wardah, M.Pd, menjelaskan bahwa program studi yang dipimpinnya didukung oleh dosen berkualitas dan fokus pada luaran yang komprehensif. Kurikulum dirancang agar lulusan tidak hanya menguasai teori, tetapi juga keterampilan asesmen, layanan bimbingan, riset, dan teknologi penunjang BK, serta mampu memberikan layanan yang profesional, inklusif, dan adaptif.“Kami mencetak sarjana Bimbingan Konseling yang tidak hanya siap menjadi guru BK di sekolah, tetapi juga mampu menjadi asisten dalam praktik konseling di bawah supervisi Guru BK atau Konselor profesional baik di lembaga pendidikan, biro atau pusat layanan konseling,” jelas Dr. Ani Wardah, Selasa (20/1/2026), di Ruang Kaprodi BK UNISKA MAB Banjarmasin.Untuk mendukung proses perkuliahan, Prodi BK UNISKA MAB Banjarmasin menyediakan fasilitas lengkap, meliputi ruang kuliah, laboratorium Bimbingan dan Konseling, Laboratorium Microteaching, hingga jaringan internet (WIFI). Kampus juga menawarkan berbagai skema beasiswa, di antaranya Beasiswa KIP Indonesia, Peningkatan Prestasi Akademik (PPA), Beasiswa UNISKA Peduli, Beasiswa Hafiz Al Quran, hingga Beasiswa Program Baznas dan Bank KalSel Syariah.Informasi Pendaftaran dan Biaya KuliahBagi calon mahasiswa yang berminat bergabung, FKIP UNISKA Banjarmasin telah membuka pendaftaran untuk Semester Genap 2025/2026 (khusus calon mahasiswa pindahan) yang dimulai 1 Desember 2026 hingga 28 Februari 2027.Sementara itu, untuk pendaftaran Tahun Akademik Ganjil 2026/2027 dibagi menjadi dua tahap. Tahap I dimulai tanggal 2 Maret s.d 27 Juni 2026, dan Tahap II mulai 29 Juni s.d 22 Agustus 2026. Kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMABA) dijadwalkan pada 7 September s.d 10 September 2026. Pendaftaran dapat dilakukan secara offline di Ruang PMB Uniska Jalan Adhyaksa nomor 2 Banjarmasin, atau secara online melalui laman resmi pmb.uniska-bjm.ac.id.
# BERITA
# Pendidikan

FKIP UNISKA MAB Banjarmasin: Pertukaran Mahasiswa Efektif Membangun Jaringan Internasional dan Kepercayaan Diri

Iwan Perdana
15 Januari 2026
“Pertukaran mahasiswa ke luar negeri berdampak positif pada penyiapan generasi bangsa untuk meningkatkan kompetensi global, membangun jaringan internasional, memperkaya wawasan budaya, melatih kemandirian dan kepercayaan diri." Pernyataan tersebut disampaikan oleh Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UNISKA MAB Banjarmasin, Dr. Hengki, SS., M.Pd., Kamis (15/1/2026) yang juga menegaskan peran vital perguruan tinggi dalam mencetak sumber daya manusia unggul yang mampu berpikir kritis tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur bangsa, sebuah program yang konsisten dijalankan FKIP UNISKA MAB hingga kini.Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari (UNISKA MAB) Banjarmasin, sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) tertua dan terbesar di Kalimantan Selatan, secara aktif menyelenggarakan program pertukaran dan magang mahasiswa ke luar negeri.Menurut Dr. Hengki, peran perguruan tinggi tidak hanya menyediakan ilmu pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga menjadi wadah pembentukan karakter SDM. Oleh karena itu, kampus idealnya membuka wawasan mahasiswa dengan mengajak mereka melihat dunia luar secara langsung sehingga mereka dapat menyiapkan diri menghadapi persaingan global selepas studi.Membangun Wawasan Lintas Budaya dan ProfesiKampus yang dinakhodai Assoc. Prof. Dr. H. Mohammad Zainul, S.E., M.M ini telah beberapa kali mengirimkan delegasi ke kampus di Thailand dan Philippines. Program ini ditangani langsung oleh Kepala Biro Kerjasama dan International Office, Ratna, M.Pd, dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris UNISKA MAB Banjarmasin.Ratna M.Pd menjelaskan bahwa program ini memberikan manfaat ganda bagi para peserta. “Program pertukaran mahasiswa ini sangat bagus. Selain meningkatkan kepercayaan diri dan kemampuan mengajar, program ini menambah wawasan tentang metode pengajaran di negara lain, juga berkomunikasi lintas budaya,” ujar Ratna, Kamis (15/1/2026), yang juga bertanggung jawab membimbing dan mendampingi mahasiswa asing yang mengikuti program pertukaran mahasiswa selama mereka berada di Banua.Dr. Hengki menambahkan bahwa program ini sangat efektif menunjukkan eksistensi Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, FKIP, dan Kampus UNISKA di kancah global. Selain turut serta memperkaya khazanah pengetahuan antar bangsa, program ini juga efektif memperkenalkan budaya Masyarakat Banjar—Indonesia ke Masyarakat internasional.“Program ini sangat bermanfaat menambah pengetahuan mahasiswa tentang sistem pendidikan dan budaya sekolah di luar negeri. Mahasiswa yang mengikuti program ini  akan melaksanakan best practice sebagai bukti kesiapan lulusan FKIP UNISKA MAB Banjarmasin menjadi guru profesional yang lebih adaptif dan kreatif,” jelasnya.Testimoni Akhmad Rizaldi Rasyid, S.Pd, lulusan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UNISKA MAB tahun 2020 menguatkan pentingnya program ini. Ia menceritakan pengalaman berharganya saat mengikuti program pelatihan ke University Brunei Darussalam (UBD). “Saya bersyukur mendapat kesempatan berkunjung ke Brunei Darussalam. Ini menjadi pengalaman positif bagi saya tentang pelayanan publik yang excellent, sekaligus berfungsi sebagai katalis dalam meningkatkan motivasi dan kompetensi berbahasa Inggris melalui immersive experience,” pungkas Rizaldi.
# BERITA
# Pendidikan

Prodi PBI FKIP UNISKA Banjarmasin Cetak Pendidik Profesional dan Praktisi Bahasa Berwawasan Internasional

Iwan Perdana
15 Januari 2026
Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari (UNISKA) Banjarmasin menjadi ruang pembelajaran yang tidak hanya mengasah kemampuan bahasa Inggris secara akademik dan membentuk karakter calon pendidik yang profesional, tetapi juga secara luas; Mempersiapkan mahasiswa untuk bisa adaptif di banyak bidang." Pernyataan ini disampaikan oleh Kaprodi PBI UNISKA MAB Banjarmasin, Fitra Ramadani, M.Pd, saat menyampaikan dimulainya program Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) S1 PBI FKIP UNISKA tahun ajaran 2026/2027 di Ruang Kaprodi, Kamis (15/1/2026). Fitra Ramadani menjelaskan bahwa Prodi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) UNISKA menyediakan lingkungan yang mendukung pengembangan potensi mahasiswa di berbagai sektor profesional. Hal ini dibuktikan dengan tersedianya pilihan Kelas Pagi, Malam, dan Ekstensi yang fleksibel bagi calon mahasiswa.“Prodi ini juga memberikan ruang pengembangan diri melalui kegiatan organisasi, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Pengalaman tersebut menjadi bekal penting bagi mahasiswa untuk siap terjun sebagai pendidik, praktisi bahasa, maupun profesional di berbagai bidang yang membutuhkan kompetensi bahasa Inggris, seperti Penerjemah, Pegawai Bank/Hotel, hingga kesempatan bekerja di luar negeri" tambah Fitra Ramadani. Didukung Dosen Profesional dan Fasilitas BelajarDekan FKIP UNISKA MAB Banjarmasin, Dr. Hengki SS., M.Pd, menekankan bahwa perkuliahan di PBI FKIP Uniska didukung oleh tenaga pendidik profesional lulusan dalam dan luar negeri. Selain itu, fasilitas pendukung seperti ruang belajar yang nyaman dan media pembelajaran juga terus disiapkan secara optimal. “serta kesempatan untuk pengembangan diri melalui kegiatan akademik dan non-akademik berwawasan internasional: Pertukaran mahasiswa internasional," ujar Dr. Hengki, menyoroti peluang pengembangan diri mahasiswa. Alumni Siap Bersaing di Dunia KerjaKeberhasilan program studi ini dibuktikan oleh testimoni para alumni yang kini telah sukses di berbagai bidang. Wahyudi, S.Pd., S.I.Kom., M.I.Kom., Dosen Sapta Mandiri Balangan yang juga Komisioner KPU Kab. Balangan. "Saya merasakan pengalaman yang sangat berharga selama menempuh pendidikan di Prodi ini. Prodi ini tidak hanya meningkatkan kemampuan bahasa Inggris saya secara akademik, tetapi juga membentuk cara berpikir kritis, percaya diri," ungkapnya.Soniawati, S.Pd., yang kini menjadiGuru SDN 4 ASAM-ASAM, menyebut termotivasi berkat bimbingan dosen dan kesempatan berorganisasi ESA di kampus. Sementara itu, I Budi Utomo S.Pd, Konten Kreator Diskominfostasan Kab Tanah Laut yang lulus pada tahun 2015, menceritakan pengalamannya bahwa PBI UNISKA mendorong cara berpikir kritis dan kemampuan public speaking. "Selama berkuliah di Pendidikan Bahasa Inggris UNISKA dan lulus pada tahun 2015, saya merasakan perubahan dalam cara berpikir kritis dan mendorong untuk teruse mengembangkan kemampuan public speaking. Fasilitas dan organisasi kemahasiswaannya sangat mendukung kami untuk terus berprestasi, baik di dalam maupun di luar kampus," kenangnya. Jadwal Pendaftaran PMB 2026/2027Bagi calon mahasiswa yang berminat, FKIP UNISKA Banjarmasin telah membuka pendaftaran. Untuk TA Semester Genap 2025/2026 khusus calon mahasiswa pindahan, pendaftaran dimulai tanggal 1 Desember 2026 s.d 28 Februari 2027.Sedangkan untuk pendaftaran TA Ganjil 2026/2027, terdapat dua tahap. Tahap I dimulai tanggal 2 Maret s.d 27 Juni 2026, dan Tahap II mulai 29 Juni s.d 22 Agustus 2026. Kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMABA) dijadwalkan pada 7 September s.d 10 September 2026. Pendaftaran dapat dilakukan secara offline di Ruang PMB Uniska Jalan Adhyaksa nomor 2 Banjarmasin, atau secara online melalui laman resmi pmb.uniska-bjm.ac.id.
# BERITA
# Pendidikan

Etika Kepemimpinan dalam Penggunaan Ruang Kerja

Iwan Perdana
31 Desember 2025
Kepemimpinan memainkan peran penting dalam organisasi. Berhasil atau tidaknya suatu organisasi ditentukan oleh faktor kepemimpinan. Seorang pemimpin yang menginginkan organisasinya maju berkembang harus memiliki etika kepemimpinan yang baik. Etika kepemimpinan adalah konsep yang mencakup prinsip moral dan nilai yang harus diterapkan oleh seseorang saat memimpin tim atau organisasi. Etika kepemimpinan yang utama mencakup integritas, kejujuran, keadilan, dan sikap empati yang tinggi (https://www.prudential.co.id/id/pulse/article/etika-kepemimpinan). Apabila bawahan percaya pemimpinnya memiliki kemampuan, dapat dipercaya, dan mendukung kemajuan bawahan dan lembaga, maka bawahan cenderung lebih termotivasi untuk bekerja dengan baik, karena mereka merasa aman dan nyaman dalam lingkungan kerja.Fondasi Perilaku Pemimpin yang BeretikaSutanto (2021) menegaskan bahwa pemimpin yang menerapkan prinsip etika secara konsisten mampu menciptakan suasana kerja yang kondusif, meningkatkan kepercayaan, serta mendorong loyalitas bawahan. Dalam jangka panjang, kondisi ini berkontribusi terhadap stabilitas organisasi karena bawahan tidak hanya bekerja berdasarkan kewajiban formal, tetapi juga didorong oleh komitmen moral dan emosional terhadap organisasi.Seorang pemimpin yang ideal memiliki kemampuan dan profesionalisme untuk memimpin dengan manajemen dan sistem yang baik (Waedoloh et al., 2022). Salah satunya, manajemen pengelolaan ruang kerja. Penyediaan fasilitas ruang kerja yang mendukung kinerja, dan ketepatan peruntukan penggunaan ruang kerja harus menjadi atensi atensi seorang pemimpian.Ketika seorang pemimpin menerapkan etika dalam penggunaan ruang kerja, hal tersebut akan menjadi stimulus untuk membangun kepercayaan dan loyalitas bawahan. Tindakan ini akan memicu respons timbal balik positif dari bawahan, menciptakan hubungan yang harmonis dalam organisasi.Keteladanan sebagai Penggerak BudayaPerilaku dan integritas pribadi pemimpin adalah pendorong utama dalam menumbuhkan budaya organisasi yang akuntabel, transparan, dan berkinerja tinggi. Dalam konteks penggunaan ruang kerja, pemimpin yang etis menunjukkan disiplin diri dan menghormati fasilitas organisasi bagi seluruh bawahan untuk tercapainya tujuan organisasi.Dengan demikian, etika pemimpin dalam menggunakan ruang kerja bukan hanya tentang cara memanfaatkan fasilitas, tetapi juga tentang membangun budaya organisasi yang berintegritas, transparansi, dan inklusif melalui keteladanan dan kepemimpinan yang konsisten.Referensi:Waedoloh, H., Purwanta, H., & Ediyono, S. (2022). Gaya Kepemimpinan dan Karekteristik Pemimpin yang Efektif, Waedoloh, Husen Purwanta, Hieronymus Ediyono, Suryo. https://jurnal.uns.ac.id/shes SHEs: Conference Series 5 (1) (2022) 144– 152 Gaya. Social, Humanities, and Educational Studies (SHEs): Conference Series, 5(1), 144.Sutanto, E. M. (2021). Kepemimpinan etis dan implikasinya terhadap kepercayaan serta loyalitas karyawan. Jurnal Manajemen Sumber Daya Manusia, 15(2), 89–102.  
# EDUKASI
# Opini

Mengapa Psikologi Pendidikan dan Pendekatan Pembelajaran dipraktikkan sesuai kebutuhan?

Edubanua.com
26 Desember 2025
Banyak faktor memengaruhi prestasi belajar siswa, baik faktor internal (dari dalam diri) seperti motivasi, kecerdasan/ intelegensi, dan psikologis, maupun faktor eksternal (dari luar diri) seperti guru, keluarga, lingkungan sekolah, dan masyarakat).  Tulisan singkat ini membahas Guru, sebagai salah satu faktor eksternal  yang sangat penting, juga menjawab pertanyaan mengapa psikologi pendidikan dan pendekatan pembelajaran harus dikuasai dan dipraktikkan, sesuai kebutuhan.Iwan Perdana Ph.D, Dosen FKIP Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin, mengatakan perjuangan guru sangat berat. Eksistensinya  menentukan keberhasilan peningkatan SDM bangsa.  Oleh sebab itu, kualitas dan kompetensi guru harus terus ditingkatkan melalui pengembangan profesional berkelanjutan. Menurut Iwan Perdana, yang juga pendiri Yayasan Lanting Literasi Indonesia (https://www.lantingliterasiindonesia.or.id), Untuk memperkuat eksistensinya, penting bagi guru memahami psikologi pendidikan, dan memilih pendekatan pembelajaran yang sesuai kebutuhan dalam KBM. Guru akan semakin mengenali keunikan siswa, memahami cara berinteraksi sesuai usia siswa, sehingga dapat merancang strategi pembelajaran yang sesuai.  Psikologi pendidikan menunjang guru menjadi pribadi humanis: mampu menangani masalah perilaku dan emosi peserta didik. dan profesional menjalankan tanggung jawab, sejalan dengan tuntutan kompetensi pedagogik. Ketepatan guru memilih pendekatan  sesuai kebutuhan kelas akan menciptakan proses belajar mengajar yang kondusif: menyentuh kebutuhan emosional serta kognitif siswa.Psikologi Pendidikan Psikologi pendidikan adalah ilmu yang menggabungkan  ilmu jiwa (psikologi) dan ilmu pendidikan untuk mencapai tujuan yang sama (Nurjanah et al., 2023). Menurut Gunarty dan Tarigan (2023), ilmu ini berperan penting sebagai landasan ilmiah  untuk  memahami  bagaimana  anak  belajar,  berpikir,  mengembangkan  motivasi,  dan  berinteraksi  secara  sehat  dalam  konteks  pembelajaran di  kelas.   Pratiwi dan Maunah (2024) berpendapat psikologi pendidikan merupakan studi mengenai tingkah laku manusia dalam kegiatan belajar dan pembelajaran, serta penerapan konsep dan teori-teori psikologi dalam kegiatan belajar dan pendidikan. ilmu ini berhubungan erat dengan ilmu mengajar karena membahas tingkah laku manusia dalam proses pembelajaran (Alghifary & Wahyudi, 2023).Psikologi pendidikan diperlukan guru untuk menghadapi peserta didik yang unik dilihat dari segi karakteristik perilaku, kepribadian, sikap, minat, motivasi, perhatian, persepsi, daya  pikir,  inteligensi,  fantasi,  dan  berbagai  aspek  psikologis  lainnya karena setiap peserta didik berbeda dari peserta didik lainnya, seperti yang dikemukakan.Pendekatan Pembelajaran Pendekatan pembelajaran adalah cara atau strategi yang dipraktikkan guru dalam mengelola dan melaksanakan proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Ada banyak pendekatan pembelajaran, namun garis besarnya dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu: 1.      Pendekatan pembelajaran berpusat pada guru (Teacher-Centered)Dalam Pendekatan Teacher-centered, guru memikul tanggung jawab utama dalam proses pengajaran pengetahuan kepada siswa (Mascolo, 2009). Mempraktikkan teori behavioristik,: perubahan perilaku disebabkan oleh rangsangan eksternal (Skinner, 1974), Guru aktif di kelas, sedangkan siswa pasif. 2.    Pendekatan Pembelajaran berpusat pada siswa (Student-Centered)Siswa berperan aktif dalam Pendekatan Student-Centered. Mereka mendiskusikan apa yang telah dipelajari (Brophy, 1999), dan bekerja sama menyelesaikan tugas  sehingga terjadi interaksi antar siswa (Condelli & Wrigley, 2009). Pendekatan pembelajaran yang baik bersifat fleksibel: mudah beradaptasi dengan karakteristik siswa dan konteks pembelajaran, serta mendukung pengembangan keterampilan abad 21 seperti kreativitas, kolaborasi, dan berpikir kritis.Pendekatan yang menggabungkan teori pembelajaran dengan praktik kontekstual terbukti meningkatkan keterlibatan siswa, motivasi belajar, dan hasil pembelajaran secara signifikan (Handayani, et.,al,2024). Makatita dan Azwan (2021) melaporkan, motivasi memiliki kontribusi atau pengaruh terhadap prestasi belajar. Rosyidi et.,all, (2024) juga membuktikan hal yang sama, bahwa semakin tinggi  motivasi belajar maka prestasi belajar akan semakin baik. Bagaimana dengan kebahagiaan? Apakah terdapat hubungan antara motivasi belajar siswa dengan kebahagiaannya?. Adakah pengaruh motivasi dan kebahagiaan terhadap prestasi belajar siswa?Kebahagiaan  merupakan  hal  yang  unik  yang  dapat  berpengaruh  terhadap  kehidupan seseorang (Anas et al., 2022: 2). Menurut Jabal (2023), kebahagiaan dalam bidang pendidikan sangat diperlukan, terutama pada proses pembelajaran di dalam kelas. Jika pada saat memulai pembelajaran pendidik memiliki rasa senang dan bahagia maka pembelajaran yang akan disampaikan lebih menarik. Antika, Putra, dan Sari (2025) menyebutkan kebahagiaan  memiliki  kontribusi  sebesar  58%  terhadap  motivasi  belajar  matematika. Fitria (2022) melaporkan kebahagiaan mempunyai kontribusi atau hubungan sebesar 28,17% dengan hasil belajar siswa kelas X IPA 2 di Madrasah Aliyah Darul A’mal Metro Tahun Ajaran 2021/2022.Berdasarkan analisis datanya, Giyati (2019) memvalidasi bahwa ada hubungan positif antara kebahagiaan dengan motivasi belajar siswa SMP Kanisius Temanggung. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Dewantoro (2017) juga menegaskan bahwa kebahagiaan diri mempunyai peranan penting serta memiliki pengaruh yang positif terhadap prestasi belajar yang diraih oleh siswa. Begitu pun motivasi belajar terbukti memiliki pengaruh yang positif terhadap prestasi belajar yang diraih oleh siswa. ReferensiAlghifary, M. H. W., & Wahyudi, U. R. (2023). Penggunaan teori psikologi perkembangan di SDIT Mutiara Qolbu Sukatani. Studia Religia: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam, 7(1). https://doi.org/10.30651/sr.v7i1.18260Anas, M., Umar, N. F., & Harum, A. (2022). Faktor-faktor yang mempengaruhi kebahagiaan siswa. Jurkam: Jurnal Konseling Andi Matappa, 6(1), 51–64. https://journal.stkip-andi-matappa.ac.id/index.php/jurkam/article/view/2123Antika, S., Putra, Z. H., & Sari, I. K. (2025). Hubungan kebahagiaan dengan motivasi belajar matematika kelas V SDN 17 Pekanbaru. RISOMA: Jurnal Riset Sosial Humaniora dan Pendidikan, 3(2), 66–79.Brophy, J. (1999). Perspectives of classroom management: Yesterday, today, and tomorrow. Dalam H. Freiberg (Ed.), Beyond behaviorism: Changing the classroom management paradigm (hlm. 43–56). Allyn and Bacon.Condelli, L., & Wrigley, H. S. (2009). What works for adult literacy students of English as a second language? Dalam S. Reder & J. Bynner (Eds.), Tracking adult literacy numeracy skills: Findings from longitudinal research (hlm. 13-19). Routledge.Dewantoro, H. H. (2017). Pengaruh regulasi diri, kebahagiaan diri dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar siswa Madrasah Tsanawiyah Sunan Pandanaran Kabupaten Sleman Yogyakarta [Tesis magister, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta]. Repositori UIN Sunan Kalijaga. http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/27363/Giyati, A. N. (2019). Hubungan antara kebahagiaan dengan motivasi belajar siswa SMP Kanisius Temanggung [Skripsi, Universitas Katolik Soegijapranata]. Repository UNIKA Soegijapranata.https://repository.unika.ac.id/19909/Gunarty, Y., & Tarigan, B. (2023). Psikologi perkembangan: Memahami tahapan kehidupan manusia. Literacy Notes, 1–8. http://liternote.com/index.php/ln/article/view/6Handayani, R., Rarasafitri, T., Rahmayani, R., Fadillah, J., & Lubis, R. H. W. (2024). Strategi pembelajaran dan pendekatan matematika. Tematik: Jurnal Penelitian Pendidikan Dasar, 3(2). https://doi.org/10.57251/tem.v3i2.1616Ibrahim, J. T., & Mufriantie, F. (2023). Teori kebahagiaan dan realistisnya. Penerbit Bildung.Judijanto, L. (2025). Integrasi psikologi pendidikan dalam pengembangan pendidikan kontemporer: Suatu tinjauan sintesis teoretis. PESHUM: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora, 4(3). https://doi.org/10.56799/peshum.v4i3.8963 Maharani, D. K., Rosyidi, M., Sa’adah, J. Q., Latifah, U., Aj-Jaudah, S., & Wulandari, A. (2024). Pengaruh lingkungan sekolah terhadap motivasi belajar siswa kelas XII di MAN 4 Jombang. Jurnal Inovasi Penelitian Ilmu Pendidikan Indonesia, 1(3), 141–149.Makatita, S. H., & Azwan, A. (2021). Pengaruh motivasi belajar terhadap prestasi belajar siswa kelas X MIA SMA N 2 Namlea. Biosel: Biology Science and Education, 10(1), 34–40. Mascolo, M. (2009). Beyond student-centred and teacher-centred pedagogy: Teaching and learning as guided participation. Pedagogy and the Human Sciences, 1(1), 3–27.Nurjanah, A., Maulana, H., & Nurhayati, N. (2023). Psikologi pendidikan dan manfaat bagi pembelajaran: Tinjauan literatur. Cendekia Inovatif dan Berbudaya, 1(1). https://doi.org/10.59996/cendib.v1i1.172Pratiwi, K. D., & Maunah, B. (2024). Dasar psikologi pendidikan sebagai penentu arah pembelajaran. Edudikara: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 8(2).https://doi.org/10.32585/edudikara.v8i2.341Skinner, B. F. (1974). About behavioralism. Random House. Umami, F. (2022). *Hubungan antara kebahagiaan dengan hasil belajar fikih siswa kelas X IPA 2 di Madrasah Aliyah Darul A'mal Metro tahun ajaran 2021/2022* [Skripsi, Institut Agama Islam Negeri Metro]. Repository IAIN Metro. http://repository.metrouniv.ac.id/id/eprint/6604/
# EDUKASI
# Penelitian

Skripsi: Self-Development dan Pendidikan Karakter

Iwan Perdana
22 Desember 2025
Salah satu syarat kelulusan bagi mahasiswa menyelesaikan studi adalah menyusun karya tulis ilmiah. Terminologi di Indonesia, karya tulis ilmiah untuk syarat kelulusan S1 (Sarjana) disebut skripsi. Tesis untuk S2 (Magister), dan Disertasi untuk S3 (Doktor). Perbedaan di antara ketiganya terletak pada kedalaman analisis, bobot ilmiah, serta tuntutan kebaruan temuan.Karya tulis ilmiah tidak sekadar untuk memenuhi syarat administratif, tetapi juga bukti mendalami suatu bidang ilmu secara komprehensif. Proses ini mendorong mahasiswa mengaplikasikan teori-teori yang telah dipelajari semasa kuliah, dengan penekanan pada mata kuliah Metodologi Penelitian.Manfaat SkripsiSkripsi adalah syarat kelulusan jenjang S1. Manfaatnya sangat banyak. Tidak sekadar untuk memenuhi syarat kelulusan, tapi juga mengasah kemampuan mahasiswa berpikir kritis, analitis, berkomunikasi, menuangkan pikiran dalam tulisan, dan berlatih menyelesaikan masalah. Proses pengerjaan skripsi menanamkan karakater disiplin, bekerja keras, sopan santun, menghargai orang lain, dan bertanggung jawab. Melalui skripsi sebagai latihan,  mahasiswa diharapkan tidak hanya unguul di bidang akademik, tetapi juga menjelma menjadi pribadi pantang menyerah, dan konsisten dalam usaha mengerjakan sesuatu tepat waktu.  Kaitan Skripsi dengan Self-Development dan Pendidikan KarakterSelain manfaat yang telah dijelaskan, skripsi mengingatkan mahasiswa untuk mengenal dirinya sendiri: kelebihan dan kekurangannya, sehingga dapat bersikap bijak di masa yang akan datang. Di dalam prosesnya, mereka belajar bersikap legowo menerima kritik, terus meningkatkan kualitas diri, dan mengakui kontribusi orang lain (Dosen pembimbing dan penguji). Ini akan menumbuhkan sikap rendah hati (tawadhu') dan kesadaran diri bahwa kesuksesan berasal dari usaha dan bantuan banyak pihak, bukan semata karena kehebatan diri sendiri.  
# EDUKASI
# Opini

Wisuda: Dari Tradisi Akademik hingga Misi FKIP UNISKA Mencetak Guru Profesional

Iwan Perdana
19 Desember 2025
Wisuda adalah momen yang menandai berakhirnya masa studi di kampus. Acara ini diselenggarakan penuh khidmat untuk mengukuhkan kelulusan mahasiswa. Yuliantin Azizah (2023) dalam situs https://itsm.ac.id/uncategorized/sejarah-singkat-wisuda menyebutkan perayaan kelulusan mirip konsep wisuda sudah ada sejak zaman Plato (abad ke-4 SM), yaitu upacara "Iklan" di Athena. Pesta kelulusan juga ada di Roma kuno yang disebut "promotio" atau “conventus”. Azizah menambahkan, perayaan kelulusan yang kemudian dikenal dengan istilah Wisuda menjadi upacara formal Universitas di Eropa pada abad pertengahan: Universitas Bologna di Italia, dan Universitas Oxford di Inggris. Di Amerika, Universitas Harvard, USA mengadakannya pada tahun 1642. Sedangkan di Indonesia, Universitas Gadjah Mada (UGM) menjadi kampus pertama yang menyelenggarakan wisuda pada 19 November 1963. Wisuda merupakan momen penutupan berakhirnya masa studi di kampus sekaligus wujud komitmen perguruan tinggi menghantarkan mahasiswa mencapai tujuan akademik mereka. Pelaksanaan wisuda menegaskan pengakuan kampus terhadap kerja keras, ikut merayakan pencapaian studi, dan apresiasi atas dedikasi mahasiswa terhadap ilmu pengetahuan. Di ajang yang sangat tepat untuk mengapresiasi orang tua, kerabat, dan para dosen ini pula akan terbangun kebanggaan dan identitas alumni, sekaligus pertanggungjawaban perguruan tinggi kepada masyarakat dengan menyiapkan lulusan yang siap berkontribusi kepada negara, masyarakat, dan dunia kerja. Pada tanggal 16 – 18 Desember 2025, Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin menggelar Wisuda Program Sarjana ke-50, dan Pascasarjana ke-23. Di rangkaian wisuda yang digelar selama tiga hari tersebut, UNISKA mengukuhkan 3.254 lulusan dari berbagai jenjang Pendidikan.Salah seorang Dekan di UNISKA MAB Banjarmasin yang tampak gembira dalam ajang pengukuhan kelulusan ini adalah Dr Hengki S.S.,M.Pd. Tahun ini, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) yang dipimpinnya menghantarkan 183 mahasiswa mengikuti Wisuda. Melalui pesan WhatsApp, Rabu (17/12/2025), Beliau menyatakan keyakinannya bahwa para lulusan FKIP UNISKA MAB Banjarmasin siap menjadi guru profesional. Optimisme ini dilandasi oleh praktik pembelajaran di kampus selama ini menekankan pada proses membimbing dan mengajar mahasiswa agar mereka mampu mengembangkan keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan masyarakat. Sebagai Fakultas yang saban tahun meluluskan calon guru Pendidikan Bahasa Inggris, Bimbingan Konseling, Pendidikan Kimia, dan Pendidikan Olah raga. FKIP UNISKA telah berkontribusi besar membangun bangsa dan memajukan masyarakat khususnya di bidang Pendidikan. Para alumni FKIP UNISKA terbukti tangguh, berkarakter kuat, inovatif, adaptif, dan berdaya saing. Banyak guru berkualitas lulusan FKIP UNISKA mengabdikan diri di dunia pendidikan. Mereka berjuang mencerdaskan generasi khususnya di Banua.  Terlebih lagi, Dr Hengki, Dosen Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UNISKA, memiliki perspektif bahwa guru adalah pengajar yang harus tampil sebagai pembimbing dan teladan dalam membentuk peradaban bangsa yang bermartabat. Ini tentu saja mempengaruhi kebijakannya dalam meningkatkan mutu penyelenggaraan perkuliahan dalam rangka menyiapkan lulusan (guru) berkualitas. 
# EDUKASI
# Opini

Prometheus di Abad Modern

Iwan Perdana
17 Desember 2025
Dalam mitologi Yunani, manusia tidak memiliki pengetahuan sampai akhirnya mendapatkannya dari Prometheus. Harga yang harus dibayar Titan cerdas itu sangat mahal. Atas keberaniannya mencuri api (simbol pengetahuan) di gunung Olimpus, Zeus menghukumnya dengan siksa abadi. Dia dirantai di gunung, tempat bersemayamnya para Dewa. Hatinya dimakan burung elang saban hari. Setelah dilahap elang, malamnya tumbuh lagi, kemudian dimakan lagi. Terus begitu, selamanya.Mengapa Prometheus berani mencuri api pengetahuan, padahal dia menyadari risikonya. Kecintaannya yang sangat besar kepada manusialah yang membuatnya nekat mengambil dan menghadiahkan api pengetahuan kepada manusia. Sang Titan ingin manusia menjalani kehidupan yang lebih baik, dan makmur.Bertolak dari cerita itu, mestinya seluruh umat manusia tercerahkan karena mendapatkan pengetahuan. Namun ternyata, sejak dahulu pengetahuan adalah barang mewah, tidak semua orang berkesempatan memperolehnya. Hanya kalangan tertentu saja: Anak-anak raja, keturunan bangsawan, para pejabat istana, dan anak keturunan orang kaya. Dalam kisah Mahabrata, diceritakan Dronacharya, Sang Mahaguru Hastinapura, membatasi pengajaran pengetahuannya hanya kepada kasta Ksatria: Pandawa & Kurawa. Dia tidak berkenan mengajari Ekalaya dan juga Karna, rakyat biasa.Keterbatasan akses pengetahuan bukan hanya cerita masa lalu. Kini pun, masih banyak anak kurang beruntung yang merasakannya. Mereka terjebak di daerah yang dilanda konflik, kemiskinan ekstrem, dan ketidakstabilan politik, ataupun dogma yang menutup peluang kaum hawa ke sekolah. Maka beruntunglah kita yang merasakan manisnya pendidikan sehingga memiliki pengetahuan.Lalu bagaimana bentuk syukur atas anugerah yang luar biasa ini?. Jawabannya sederhana, belajar dan belajar, kemudian mempraktikkannya demi meningkatkan kesejahteraan umat manusia, seperti yang dilakukan Prometheus. Menurut saya, para ilmuwan yang bersusah payah belajar, mengasah keterampilan sehingga mampu menciptakan sesuatu untuk meningkatkan kesejahteraan umat manusia adalah manusia pilihan Tuhan – mereka rela mencurahkan pikiran, tenaga dan masa mudanya untuk belajar. Mereka (mungkin) seperti Prometheus yang menderita demi umat manusia, karena menghabiskan banyak waktu hidupnya untuk mempelajari sesuatu, dan menggunakannya untuk kebaikan orang banyak.  
# EDUKASI
# Opini

Transformasi Pendidikan Tinggi: Menjawab Tantangan dan Isu Strategis Abad 21

Rizki Nugerahani Ilise, M.Pd
17 Desember 2025
Pendidikan dan pembelajaran abad ke-21 mengalami perubahan yang sangat signifikan, termasuk dalam konteks perguruan tinggi. Perguruan tinggi tidak lagi hanya dipahami sebagai tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi sebagai ruang strategis untuk membentuk sumber daya manusia yang unggul, adaptif, dan siap menghadapi tantangan global. Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan dinamika sosial menuntut perguruan tinggi untuk melakukan transformasi dalam sistem pendidikan dan pembelajarannya agar tetap relevan dengan kebutuhan zaman.Salah satu isu strategis utama dalam pendidikan abad ke-21 di perguruan tinggi adalah tuntutan penguasaan keterampilan abad ke-21. Mahasiswa tidak cukup hanya menguasai teori dan konsep keilmuan, tetapi juga harus memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif. Perguruan tinggi dituntut mampu menyiapkan lulusan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga mampu memecahkan masalah nyata, mengambil keputusan secara tepat, serta beradaptasi dengan perubahan yang cepat di dunia kerja dan masyarakat.Isu strategis berikutnya adalah pesatnya perkembangan teknologi digital yang berdampak langsung pada proses pembelajaran di perguruan tinggi. Pemanfaatan teknologi informasi melalui pembelajaran daring, e-learning, dan berbagai platform digital menjadi kebutuhan yang tidak terpisahkan. Teknologi memberikan peluang besar untuk menciptakan pembelajaran yang fleksibel, interaktif, dan terbuka. Namun, di sisi lain, tantangan yang dihadapi adalah kesiapan dosen dan mahasiswa dalam memanfaatkan teknologi secara efektif serta masih adanya kesenjangan literasi digital. Oleh karena itu, perguruan tinggi perlu memastikan bahwa teknologi digunakan sebagai sarana pendukung pembelajaran yang bermakna, bukan sekadar sebagai pelengkap.Perubahan karakteristik mahasiswa juga menjadi isu strategis dalam pembelajaran abad ke-21 di perguruan tinggi. Mahasiswa saat ini cenderung lebih kritis, terbuka terhadap informasi, dan terbiasa dengan teknologi digital. Kondisi ini menuntut perubahan pendekatan pembelajaran dari yang berpusat pada dosen menjadi pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa. Model pembelajaran aktif, seperti diskusi, proyek, pembelajaran berbasis masalah, dan penelitian sederhana, menjadi sangat relevan untuk mendorong mahasiswa terlibat secara aktif dalam proses belajar. Dosen berperan sebagai fasilitator yang membimbing dan mengarahkan mahasiswa dalam membangun pengetahuannya sendiri.Selain aspek akademik, penguatan karakter dan nilai-nilai etika juga menjadi isu strategis yang penting dalam pendidikan perguruan tinggi abad ke-21. Arus globalisasi dan keterbukaan informasi membawa berbagai pengaruh yang dapat berdampak pada sikap dan perilaku mahasiswa. Oleh karena itu, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk menanamkan nilai kejujuran, tanggung jawab, disiplin, toleransi, dan etika akademik dalam setiap aktivitas pembelajaran. Pendidikan karakter menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses akademik agar lulusan perguruan tinggi tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga berintegritas dan berakhlak.Isu strategis lainnya adalah keterkaitan antara perguruan tinggi dengan dunia kerja dan kebutuhan masyarakat. Perguruan tinggi dituntut untuk menghasilkan lulusan yang relevan dengan perkembangan industri dan mampu bersaing secara global. Kurikulum dan pembelajaran perlu dirancang agar selaras dengan kebutuhan nyata di lapangan, tanpa mengabaikan pengembangan keilmuan dan nilai-nilai kemanusiaan. Kolaborasi antara perguruan tinggi, dunia industri, dan masyarakat menjadi penting untuk memastikan bahwa proses pembelajaran memberikan pengalaman nyata bagi mahasiswa.Terakhir, profesionalisme dosen menjadi kunci dalam menjawab berbagai isu strategis pendidikan dan pembelajaran abad ke-21 di perguruan tinggi. Dosen dituntut untuk terus meningkatkan kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian. Inovasi dalam pembelajaran, pemanfaatan teknologi, serta keterlibatan dalam penelitian dan pengabdian kepada masyarakat menjadi bagian penting dari peran dosen. Dengan dosen yang profesional dan adaptif, perguruan tinggi akan mampu menciptakan pembelajaran yang berkualitas dan menghasilkan lulusan yang siap menghadapi tantangan abad ke-21.Secara keseluruhan, isu-isu strategis pendidikan dan pembelajaran abad ke-21 di perguruan tinggi menuntut perubahan yang menyeluruh dan berkelanjutan. Perguruan tinggi perlu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri dan nilai-nilai dasar pendidikan. Melalui pembelajaran yang inovatif, berpusat pada mahasiswa, berlandaskan nilai karakter, serta didukung oleh dosen yang profesional, perguruan tinggi diharapkan mampu melahirkan generasi yang cerdas, berkarakter, dan berdaya saing tinggi di tingkat nasional maupun global.
# EDUKASI
# Opini

Partisipasi STKIP ISM Banjarmasin dalam Kegiatan AI Learning Lab Education: Upaya Mendukung Transformasi Pendidikan Tinggi di Bidang Digital

Vebrianti Umar M.Pd
17 Desember 2025
Saya, Vebrianti Umar M.Pd Wakil Ketua Bidang Akademik, dan Yuliana Nurhayati, M.Pd Wakil Ketua Bidang Kerja Sama dan Kemahasiswaan STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, mengikuti kegiatan AI Learning Lab Education yang diselenggarakan pada 20 November 2025 di Hotel Rattan Inn Banjarmasin. Kegiatan ini menjadi forum strategis untuk memperluas wawasan perguruan tinggi terkait pemanfaatan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) dalam mendukung transformasi pendidikan tinggi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi digital.Kegiatan diawali dengan pemaparan dari Tim AI Learning Lab, yang dibuka oleh Tiffany Santosa. Dalam sesi pembuka ini disampaikan gambaran umum mengenai peran AI dalam dunia pendidikan, khususnya bagaimana teknologi AI dapat dimanfaatkan secara etis, aman, dan inklusif untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran, kolaborasi akademik, serta pengelolaan institusi pendidikan.Selanjutnya, pemaparan Kepala LLDIKTI Wilayah XI Kalimantan, Dr. Drs. Muhammad Akbar, M.Si. Dalam keynote speech-nya, beliau menekankan bahwa transformasi digital di perguruan tinggi merupakan sebuah strategi holistik yang mencakup perubahan cara institusi beroperasi, mengajar, dan melayani mahasiswa melalui pemanfaatan teknologi digital seperti AI, cloud, dan data analytics. Transformasi ini dinilai mampu meningkatkan efisiensi manajemen akademik, memperluas akses pendidikan, serta memperkuat relevansi lulusan dengan kebutuhan industri global. Pemaparan tersebut juga menegaskan pentingnya kepemimpinan digital dan pendekatan sistemik agar implementasi transformasi digital dapat berjalan secara berkelanjutan dan berdampak nyata bagi institusi pendidikan tinggi Sesi pemaparan ditutup oleh Hari Siswantoro, S.T., M.T., Ph.D. dari Fakultas Teknik Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED). Beliau membagikan praktik baik pengembangan ekosistem kampus cerdas melalui pemanfaatan Google Workspace for Education yang terintegrasi dengan teknologi AI. Dalam paparannya, Beliau menjelaskan bagaimana UNSOED secara bertahap membangun infrastruktur pembelajaran digital, mulai dari migrasi sistem informasi, pemanfaatan Google Workspace, hingga penggunaan AI untuk mendukung penyusunan RPS, bahan ajar, evaluasi pembelajaran, administrasi akademik, serta aktivitas penelitian. Beliau juga menekankan bahwa transformasi digital tidak harus menunggu kesiapan infrastruktur yang sempurna, melainkan dapat dimulai dari kolaborasi sederhana yang berkelanjutan Melalui keikutsertaan dalam kegiatan AI Learning Lab Education ini,  kami memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai pentingnya pemanfaatan AI secara strategis dalam pendidikan tinggi, baik pada aspek pembelajaran, pengelolaan institusi, maupun pengembangan kompetensi mahasiswa. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi inspirasi dan pijakan awal bagi penguatan kebijakan serta implementasi teknologi AI di lingkungan perguruan tinggi, khususnya dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan dan daya saing institusi di era digital.  
# EDUKASI
# Opini

Iwan Perdana Soroti Dua Poros Strategis LPM Lentera Uniska

Edubanua.com
12 Desember 2025
EDUBANUA.COM, BANJARMASIN – Optimalisasi peran strategis pers mahasiswa, dan fungsi organisasi untuk membangun generasi progresif, merupakan kunci keberhasilan UKM Lentera Uniska Banjarmasin. Langkah tersebut mendukung lahirnya generasi melek media, berpikiran kritis yang konstruktif, dan berani menyuarakan kebenaran berbasis data. Hal itu disampaikan Iwan Perdana, Ph.D, Sabtu (12/12/2025), pembina LPM Lentera Uniska dalam acara Musyawarah Besar (Mubes) ke-11 LPM Lentera Uniska Banjarmasin. Menurut Iwan Perdana, tema “Optimalisasi Peran dan Fungsi Organisasi untuk Membangun Generasi Progresif” sangat tepat dan relevan diusung dalam kegiatan yang digelar pada 12 – 14 Desember 2025, di Kampus Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin, Jalan Adyaksa No. 2 Banjarmasin. Ditemui selepas memberikan sambutan, beliau menjelaskan dua poros utama berdasarkan tema yang patut dicermati, dan ditindaklanjuti pemimpin LPM Lentera Uniska periode 2024-2025, Muhammad Farhan, dan Ahmad Hidayat selaku ketua panitia pelaksana. Tak Sekadar Meliput BeritaSebagai organisasi yang telah berusia 11 tahun, kata Iwan Perdana, LPM Lentera Uniska sudah layak dituntut mampu berperan lebih dari sekadar meliput berita. Terlebih lagi di era banjir informasi dan disrupsi digital. Sudah waktunya organisasi pers mahasiswa ini mengokohkan dirinya sebagai:1.    Penyedia informasi yang bertanggung JawabLPM Lentera wajib berperan lebih dari sekadar reporter, tapi juga explainer dan verifikator. Para jurnalisnya harus mencegah terjadinya misinformasi, disinformasi, malinformasi, dan menangkal penyebaran berita hoax di dunia kampus, dan masyarakat.2.    ‎Pengawal demokrasi kampus        LPM Lentera menempatkan dirinya sebagai mitra kritis yang konstruktif bagi otoritas kampus. Mengawal jalannya kebijakan kampus, menyuarakan aspirasi sivitas akademika, dan mendorong terciptanya diskusi publik ilmiah yang sehat.3.    Agen Literasi MediaLPM Lentera berperan sebagai media edukasi yang mencerdaskan pembacanya sehingga mereka mampu mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan memproduksi informasi secara kritis dan beretika. Kuatkan Fungsi KelembagaanIwan Perdana, yang juga Dosen FKIP Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin, menyampaikan harapannya agar kegiatan ini mendiskusikan program kerja yang semakin menguatkan fungsi-fungsi organisasi yang selama ini telah berjalan dengan baik.  “Terwujudnya kualitas generasi yang progresif sangat bergantung pada bagaimana kita menguatkan fungsi kelembagaan yang selama ini telah dijalankan”, ujarnya. Ketiga fungsi tersebut adalah:1.    Fungsi Rekrutmen dan Kaderisasi        Sistem rekrutmen dan kaderisasi saat ini sudah jelas, inklusif, dan berkelanjutan. Akan tetapi tetap diperlukan inovasi baru, misalnya anggota baru sebaiknya disambut dengan kurikulum pelatihan yang komprehensif—tidak hanya teknik jurnalistik, tetapi juga kepemimpinan, manajemen organisasi, dan penanaman kesadaran sosial.2.    Fungsi sebagai Ruang Pengembangan Diri yang Holistik:        Menciptakan suasana mendukung anggota organisasi menemukan dan mengasah potensinya: menulis, fotografi, desain, public speaking, maupun riset. Sehingga setiap anggota dan pengurus LPM Lentera harus merasa bertumbuh, bukan sekadar ‘terpakai’ di organisasi pers kampus ini.3.    Fungsi sebagai Jaringan LPM Lentera menjadi jembatan para anggotanya aktif berinteraksi, baik di internal kampus, ekosistem pers profesional, maupun komunitas yang berkaitan dengan dunia pers di Kalimantan Selatan. Organisasi ini akan menjadi jaringan alumni yang kuat dan bermanfaat bagi anggota LPM Lentera kelak setelah lulus dari kampus. "Saya berharap Mubes kali ini melahirkan program yang visioner dan pemimpin yang tak hanya tajam menulis, tetapi juga cakap mengelola organisasi," ujar Iwan Perdana, Pembina LPM Lentera, menutup sambutannya di hadapan pimpinan kampus yang diwakili Sanjaya,M.Pd, salah seorang pendiri LPM, Rachmadi Agus, S.Kom.,M.Pd dan para pengurus LPM Lentera Uniska Banjarmasin.
# BERITA
# Pendidikan

Mewujudkan Kampus Aman Tanpa Kekerasan Seksual

Rizki Nugerahani Ilise, M.Pd
9 Desember 2025
Kekerasan seksual di lingkungan perguruan tinggi telah menjadi masalah serius yang memerlukan penanganan khusus. Berbagai kasus kekerasan seksual yang terjadi di kampus, baik terhadap mahasiswa maupun sivitas akademika lainnya, menunjukkan urgensi dibentuknya mekanisme pencegahan dan penanganan yang efektif. Merespons situasi ini, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menginisiasi pembentukan Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Perguruan Tinggi. Langkah ini sejalan dengan upaya implementasi Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Perguruan Tinggi.Satgas ini dibentuk dengan tujuan utama menciptakan lingkungan kampus yang aman, nyaman, dan bebas dari segala bentuk kekerasan seksual. Fungsinya mencakup upaya pencegahan melalui edukasi dan sosialisasi, serta penanganan kasus-kasus kekerasan seksual yang terjadi di perguruan tinggi.Salah satu upaya signifikan yang dilakukan adalah pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Perguruan Tinggi. Inisiatif ini muncul dari kesadaran bahwa lingkungan akademik seharusnya menjadi ruang yang aman dan kondusif bagi seluruh sivitas akademika untuk mengembangkan potensi mereka tanpa rasa takut atau ancaman. Pembentukan Satgas ini juga merupakan langkah kongkret dalam mengimplementasikan berbagai kebijakan nasional yang telah ditetapkan untuk mengatasi masalah kekerasan seksual secara lebih komprehensif. Selain itu, Pembentukan Satgas ini juga merupakan kewajiban yang dikelola oleh perguruan tinggi berdasarkan Indikator Kinerja Utama 2.6 untuk mengatasi kekerasan seksual di lingkungan akademik. Diharapkan dengan adanya Satgas ini, kasus-kasus kekerasan seksual di perguruan tinggi dapat ditangani secara lebih sistematis, komprehensif, dan berpihak pada korban.Upaya ini tidak hanya melibatkan pihak internal perguruan tinggi, tetapi juga membutuhkan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, penegak hukum, organisasi masyarakat sipil, dan komunitas sekitar. Dengan adanya Satgas ini, diharapkan kasus kekerasan seksual di perguruan tinggi dapat ditangani dengan lebih efektif. Lebih dari itu, keberadaan Satgas juga diharapkan dapat mendorong perubahan budaya yang lebih luas, di mana kekerasan seksual tidak lagi ditoleransi dan seluruh sivitas akademika berkomitmen untuk menciptakan lingkungan yang aman dan saling menghormati dan bebas dari kekerasan seksual.Implementasi Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di perguruan tinggi merupakan langkah penting, namun masih banyak tantangan yang harus dihadapi. Salah satunya adalah membangun kesadaran dan pemahaman yang menyeluruh di kalangan sivitas akademika tentang pentingnya isu ini. Diperlukan program edukasi berkelanjutan yang tidak hanya berfokus pada pencegahan, tetapi juga pada pembentukan budaya yang menghargai consent dan kesetaraan gender. Selain itu, penguatan sistem pelaporan yang aman dan terpercaya juga menjadi kunci. Banyak korban kekerasan seksual enggan melaporkan kasusnya karena takut akan stigma atau pembalasan. Oleh karena itu, perguruan tinggi perlu memastikan adanya mekanisme pelaporan yang menjamin kerahasiaan dan keamanan pelapor. Evaluasi berkala terhadap efektivitas Satgas juga penting untuk memastikan bahwa upaya yang dilakukan tetap relevan dan responsif terhadap kebutuhan komunitas kampus. Kolaborasi dengan ahli di bidang kekerasan berbasis gender dan trauma dapat memperkuat kapasitas Satgas dalam menangani kasus-kasus kompleks.
# EDUKASI
# Opini

From Zoom to WhatsApp : Refleksi Pengalaman Mengajar Classroom Instructional Practice

Vebrianti Umar M.Pd
7 Desember 2025
Kamis, 4 Desember 2025 tepatnya pukul 13.30 WITA, saya memulai perkuliahan Classroom Instructional Practice secara daring dengan penuh semangat. Materi sudah siap, koneksi internet stabil, dan mahasiswa mulai memasuki ruang Zoom satu per satu. Saya selalu menikmati mata kuliah ini karena interaksinya yang dinamis meskipun hanya melalui layar  : mahasiswa aktif bertanya dan berbagi pendapat. Pada sesi opening, semua berjalan dengan lancar. Mahasiswa tampak antusias, mereka bahkan sudah menyalakan kamera lebih cepat dari biasanya. Setelah sesi pembuka, saya mulai menjelaskan materi. Namun, di tengah penjelasan, tiba-tiba ruang zoom tertutup dan Layar depannya menampilkan peringatan: “Gagal mendeteksi mikrofon dan speaker Anda. Pastikan perangkat Anda terhubung dengan benar”. Bersamaan dengan itu,  mahasiswa juga mengirim pesan lewat whatsapp , “Bu, kami terlempar dari zoom dan tidak bisa masuk lagi”. Saya mencoba tetap tenang dan memeriksa kembali perangkat, berharap gangguan itu hanya sementara. Namun laptop saya mengalami freeze dalam beberapa detik. Saat itu kesal, panik, dan khawatir kelas tidak terselesaikan. Mahasiswa pasti menunggu instruksi, dan saya tidak ingin mereka menganggap perkuliahan berakhir begitu saja hanya karena kendala teknis.Akhirnya, saya mengambil keputusan cepat: membuka WhatsApp dan mengirimkan pesan di grup “Jangan bubar dulu ya, kita lanjut lewat video call,”.  Dalam hitungan menit, kami terhubung melalui video call WhatsApp. Memang, Jauh lebih sederhana : tanpa share screen, tanpa slide, tetapi setidaknya komunikasi kembali berjalan. Saya bisa mendengar suara mahasiswa satu per satu, meski kadang suara terdengar tidak bersamaan.Dalam konteks ini, saya menyadari satu hal, teknologi memang memudahkan, tetapi tidak selalu bisa diandalkan. Meski begitu, kehadiran alternatif sederhana seperti WhatsApp justru menyelamatkan perkuliahan siang itu. Dengan media seadanya, saya menyampaikan ringkasan materi, instruksi lanjutan, dan memastikan mahasiswa tetap mengikuti alur pembelajaran.Setelah kelas berakhir, saya menutup telepon dan menarik napas panjang, lega rasanya.  Pengalaman ini membuat saya tersenyum kecil, bukan karena menyenangkan, tetapi ini sebuah sinyal bagi saya bahwa menjadi dosen di era digital berarti harus siap menghadapi apa saja, termasuk koneksi yang tiba-tiba memilih untuk “istirahat sejenak”. Kejadian itu mengajarkan saya bahwa fleksibilitas dan kreativitas sering kali lebih penting daripada platform apa pun yang kita gunakan. Yang terpenting adalah bagaimana tetap menjaga keberlangsungan pembelajaran, walaupun prosesnya tidak selalu mulus.
# EDUKASI
# Opini

Strategi Kelas Tangguh Cegah Bullying dan Dampaknya terhadap Kesehatan Mental Anak

Iwan Perdana
4 Desember 2025
Bullying kini menjadi ancaman menakutkan. Di sepanjang tahun 2025 , KPAI melaporkan 25 anak bunuh diri termasuk di lingkungan sekolah. Ini meresahkan para orang tua, khawatir terjadi sesuatu kepada putra-putrinya di sekolah. Bersama Tati Akhbariyyah, SS.,S.Pd.,M.Pd dan Muhammad Arsyad, M.Ps, Saya diminta menjadi salah salah seorang narasumber memerangi praktik bullying di sekolah melalui kegiatan Sosialisasi Dampak Perundungan terhadap Mental Anak yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Barito Kuala (Batola) pada Rabu 26 November 2026. _ https://www.katabanua.com/disdik-batola-gelar-sosialisasi-anti-perundungan-dorong-sekolah-ramah-anak-dan-lingkungan-belajar-aman/. Di kegiatan yang dibuka oleh Plt  Kepala Dinas Pendidikan, Lulut Widiyanto, S.Pd.,M.M tersebut, Saya memaparkan materi mencegah perundungan di sekolah, dan menanggulangi dampak yang ditimbulkannya kepada 26 perwakilan guru SD dari kecamatan yang ada di Batola dari persepktif manajemen pendidikan.Menurut saya, salah satu upaya mencegah bullying adalah dengan membangun fondasi kelas yang tangguh, dengan cara mempraktikkan:1.   Melalui iklim kelas positif Guru melibatkan siswa dalam membuat aturan bersama di kelas. Peraturan berisi perintah dan larangan yang disepakati harus ditaati seluruh siswa, termasuk konsekuensi atas pelanggarannya.2.   Menanamkan karakter baikSelain memberikan keteladanan, menjadi inspirator, fasilitator, dan pembimbing, Guru menanamkan karakter baik kepada siswa melalui cerita yang menambah pengetahuan/ menggugah perasaan yang berdampak pada munculnya kesadaran siswa berperilaku baik.3.   Melalui literasi digital yang proaktifGuru memahamkan siswa untuk berpikir dampak dari dari postingan di medsos. Tidak hanya membagikan materi Pelajaran, Guru sebaiknya juga proaktif memantau komunikasi dalam grup di grup WhatsApp.Apabila  bullying terjadi, guru harus cepat melakukan tindakan penanggulangan dengan melakukan langkah-langkah berikut:1. Protokol STOP(1)    Segera hentikan aksi bullying dengan tegas, (2)    Tunjukan dukungan kepada korban dengan cara memastikan korban merasa aman dan didengarkan(3)    Observasi keadaan untuk mengumpulkan data (4)    Proses data yang terkumpul, dan laporkan tindakan bullying kepada pihak terkait/ pihak yang bertanggung jawab.2. Strategi penanggulangan dampak: Pendekatan Restoratif dan KolaboratifGuru melakukan restoratif berbasis kearifan lokal dengan mempertemukan korban, pelaku dan orang tua kedua belah pihak. Kemudian menguatkan kolaborasi guru, orang tua, dan siswa, serta membantu siswa memulihkan kesehatan mentalnya  korban, dan mendorong reintegrasi pelaku. Tidak kalah pentingnya Adalah Guru segera menciptakan lingkungan sekolah zero bullying agar tidak terjadi lagi tindakan serupa.Saya sangat mengapresiasi kegiatan Sosialisasi Dampak Perundungan terhadap Mental Anak yang diagendakan Disdik Batola bekerja sama dengan Komunitas Ibu Cerdas Indonesia (KICI) Batola yang diketuai  Ria Astuti Amd. Keb. Semoga dengan ikhtiar ini, kesadaran tentang bahaya bullying semakin meningkat, dan menambah wawasan bagi para guru SD di wilayah Kabupaten Batola tentang strategi mencegah bullying dan menanggulangi dampaknya.                
# EDUKASI
# Pengabdian

Anugerah Tan Sri Alimuddin Book Award

Iwan Perdana
3 Desember 2025
Tidak terbayangkan sebelumnya, kegembiraan yang saya rasakan mengikuti konvokesyen UPSI yang ke-27, 11 – 18 November 2025 bertambah dengan menerima anugerah Tan Sri Alimuddin dari Universitas Pendidikan Sultan Idris (UPSI). Dalam pengantarnya, Master of Ceremony menjelaskan Tan Sri Alimuddin Book Award is an acknowledgement given to an outstanding recipient from the Educational Management program who has excelled academically and demonstrated exceptional contribution in leadership, community engagement, and personal conduct.Saya penasaran siapakah Tan Sri Alimuddin?, mengapa  Universitas Pendidikan Sultan Idris (UPSI) sangat menghormati Beliau sehingga mengabadikan namanya sebagai salah satu jenis anugerah kepada graduan kampus yang bersemboyan Suluh Anak Budiman?Ternyata, Tan Sri Dato Haji Alimuddin bin Haji Mohd Dom merupakan mantan Ketua Pengarah Pendidikan Malaysia dan Kementerian Pendidikan Malaysia. Beliau pensiun pada 6 November 2010 setelah mengabdi selama 34 tahun dalam dunia Pendidikan (https://ms.wikipedia.org/wiki/Alimuddin_Mohd_Dom).Sepanjang masa jabatannya, Beliau terlibat aktif dalam merumuskan berbagai kebijakan, peraturan, dan pedoman profesional untuk mengefisienkan dan meningkatkan mutu pendidikan Malaysia. (https://epena.com.my/index.php/2017/11/20/tan-sri-dato-haji-alimuddin-pro-canselor).Penghargaan Tan Sri Alimuddin diberikan kepada lulusan Magister / Doktor Filsafat Manajemen Pendidikan FPE UPSI yang memenuhi keunggulan sebagai berikut:1.  Bidang AkademikMemiliki artikel yang baik dan telah dipublikasikanMemiliki catatan akademik tidak pernah gagal atau mengulang selama masa studiHasil viva (viva voce) tesis/ disertasi menunjukkan tidak ada koreksi, atau hanya ada kesalahan minor dan diberi waktu 3 bulan melakukan revisi.2. Kontribusi kepada MasyarakatBerkontribusi kepada masyarakat di dalam dan luar kampusKeterlibatan aktif dalam kurikulum3. Mempunyai ciri-ciri kepemimpinan yang terlihat dari kemampuan memimpin klub/ organisasi/ asosiasi4. KepribadianSifat-sifat kepribadian lulusan dan pegangan terhadap agamaBebas dari tindakan pelanggaran disiplin apa pun5. Menyelesaikan studi tepat waktu (Graduate On Time/ GOT) (https://konvokesyen.upsi.edu.my/index.php/anugerah-kecemerlangan/)Penghargaan Tan Sri Alimuddin Book Award saya terima setelah dinominasikan oleh The Faculty of Management and Economics (Fakulti Pengurusan dan Ekonomi) FPE UPSI yang berada di Kampus Sultan Azlan Shah (KSAS) di Tanjung Malim, Perak. FPE memiliki beberapa jurusan mulai dari Diploma hingga Doctor (Ph.D & EdD). Alhamdulillah, saya berkesempatan menempuh studi pada program Doctor of Philosophy Educational Management.Bersama supervisor, Associate Professor Dr. Mahaliza binti Mansor, Saya naik ke pentas untuk menerima anugerah Tan Sri Alimuddin Award pada Senin,10 November 2025 di Dewan SITC (Sultan Idris Training College). Selain sertifikat penghargaan, dan beberapa Cinderamata. Saya juga menerima hadiah uang sebesar 1.000 RM.Apresiasi ini menjadi jawaban atas harapan yang dulu pernah saya anggap khayalan belaka. Dulu, Selepas menyelesaikan studi S1, Saya pernah berkeinginan studi lanjut dan mengajar di luar negeri. Kini, salah satu keinginan tersebut terwujud. Rasa bangga dan bahagia pun semakin menggunung sebab terbuka peluang mewujudkan harapan kedua, yaitu mengajar di negeri Ipin_Upin.Perjalanan studi dari awal hingga menghantarkan saya memperoleh penghargaan Tan Sri Alimuddin dimulai dari menerima offer letter for Admission of Postgraduate Programme for Semester I Session 2021/2022 pada tanggal 30 Juli 2021. Selanjutnya mengikuti perkuliahan pertama pada 18 Oktober 2022. Pra Viva pada bulan Juni 2024, dan VIVA (Sidang terbuka) pada 16 Oktober 2024. Namun, saya tidak dapat mengikuti konvokesyen pada November tahun yang sama karena masih ada revisi minor, penjilidan thesis, dan menunggu sidang senat.Kelancaran pengerjaan thesis tidak lepas dari bantuan supervisor: Dr Rosnah binti Ishak dan PM Dr Mahaliza binti Mansor. Dr Rosnah sosok dosen cerdas dan tegas. Saya tidak pernah menunggu lama menerima balasan/ komentar Beliau untuk perbaikan tesis. Responsnya sangat cepat dan proaktif dalam membantu penyelesaian thesis. Beliau bahkan tidak segan menanyakan kemajuan penulisan penelitian. PM Dr Mahaliza binti Mansor pun demikian. Setiap pesan yang saya kirimkan melalui WhatsApp, langsung dibalas. Beliau adalah sosok dosen cerdas yang sangat ramah, memotivasi dan menginspirasi.Menurut saya, kedua supervisor merupakan dosen yang patut diteladani. Dalam suasana akademik yang kental,dan menuntut profesionalitas, mereka selalu menampilkan keramahtamahan dalam memberikan bimbingan, dan memberikan arahan yang sangat jelas.Sayangnya, kebahagiaan atas pencapaian akademik ini kurang sempurna. Keluarga tidak dapat berhadir merayakan konvokesyen. Semoga kelak, saya dapat mengajak mereka mengunjungi UPSI Malaysia, dan berjumpa supervisor, Ibu Nora yang baik hati, dan kawan-kawan lainnya. Terima kasih Bang Ipin yang berkenan menemani saya di acara konvokesyn. Kami  ke KLIA 2 pada Sabtu 8 November 2025. Kami tinggal di TB Bahtera hingga 17 November. Besoknya kami balik ke Indonesia.
# EDUKASI
# Galeri

SMART KIDS PROGRAMME: Literasi AI (Artificial Inteligence) dan Koding Dasar untuk SISWA SD

Vebrianti Umar M.Pd
2 Desember 2025
Pada semester Ganjil Tahun Akademik 2025 – 2026 ini,  Prodi Pendidikan Bahasa Inggris STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin melakukan pengabdian kepada masyarakat di SDN Maluka  Baulin Kurau. Pelaksanaan pengabdian tentang Smart Kids Programme: Literasi AI (Artificial Inteligence) dan Koding Dasar untuk Siswa SD ini lahir dari  sebuah diskusi ilmiah antar dosen di Prodi Ini.Berdasarkan hasil analisis Kami, perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) atau yang dikenal dengan AI dan keterampilan pemrograman telah menjadi kebutuhan dasar abad ke-21. Artificial inteligence kini hadir dalam berbagai perangkat, permainan edukatif, hingga aplikasi pembelajaran anak. Di sisi lain, koding telah diakui dapat mendukung perkembangan  logical thinking, problem solving, kreativitas, serta literasi digital sejak dini.Siswa Sekolah Dasar saat ini merupakan generasi yang tumbuh di era serba digital. Mereka terbiasa menggunakan perangkat teknologi, namun mereka perlu memahami konsep dasar yang mendukung teknologi tersebut. Oleh karena itu, penting bagi mereka mendapatkan pengenalan awal mengenai cara kerja AI secara sederhana dan bagaimana menyusun instruksi logis melalui aktivitas koding dasar.Program ini menghadirkan kesempatan baru agar siswa dapat memperoleh pengalaman belajar yang lebih kontekstual, menyenangkan, dan relevan dengan kebutuhan abad ke-21. Melalui kegiatan ini, siswa diharapkan mampu mengembangkan kreativitas, berpikir komputasional, serta memahami bahwa teknologi bukan hanya untuk digunakan, tetapi juga dapat diciptakan. Selain itu program ini diharapkan menjadi langkah awal dalam membentuk generasi muda yang melek teknologi sekaligus memiliki kesiapan menghadapi tantangan era digital.Dalam prosesnya, Kami menerapkan metode yang terbagi menjadi enam tahap, yaitu : (1) observasi,  (2)  pengenalan konsep yang dirancang relevan dengan level anak SD, demonstrasi,  (4)  latihan terbimbing, (5) evaluasi program, dan (6) keberlanjutan  programKegiatan pengabdian ini sangat bermanfaat bagi anak anak SD Negeri Maluka Baulin, Kurau.  Selain pemerolehan pengetahuan dan keterampilan tentang teknologi : AI dan Koding dasar , mereka juga memiliki pengalaman belajar yang seru dan menyenangkan melalui kegiatan mewarnai dan membentuk sesuatu dari satu titik ke titik yang lain.
# EDUKASI
# Pengabdian

Teknologi Pembelajaran Budaya Lokal dengan Permainan Tradisional

Rizki Nugerahani Ilise, M.Pd
2 Desember 2025
Pada saat kami program studi pendidikan anak usia dini STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat yang berfokus pada “Teknologi Pembelajaran Budaya Lokal dengan Permainan Tradisional”, saya bersama tim berupaya memperkenalkan inovasi pembelajaran yang memadukan kearifan lokal dengan pendekatan digital. Kegiatan ini dilaksanakan di salah satu lembaga PAUD di wilayah bantaran sungai kota Banjarmasin yang mayoritas penduduk setempat berprofesi sebagai pedagang kayu sebagai bahan bangunan.Melalui lokakarya interaktif, kami mengembangkan media pembelajaran berbasis digital yang menampilkan permainan tradisional seperti engklek, balogo, dan bagasing dalam bentuk animasi sederhana. Media tersebut tidak hanya digunakan sebagai alat bantu belajar, tetapi juga sebagai sarana untuk menanamkan nilai budaya, motorik, kerja sama, dan kreativitas anak. Para guru dilatih untuk mengintegrasikan teknologi ini dalam kegiatan belajar sehari-hari, sehingga permainan tradisional tidak hanya dikenang, tetapi dihidupkan kembali dalam konteks pembelajaran modern.Kegiatan ini memberikan dampak positif, terlihat dari meningkatnya antusiasme anak serta pemahaman pendidik akan pentingnya pelestarian budaya melalui teknologi. Pengalaman ini menegaskan bahwa digitalisasi tidak harus menghilangkan budaya lokal, melainkan dapat menjadi jembatan kreatif untuk memperkuat identitas generasi emas selanjutnya.
# EDUKASI
# Pengabdian

Pintu Literasi: Media Gambar sebagai Kunci Membaca Permulaan di Sekolah Dasar

Novi Nurdian, M.Pd
1 Desember 2025
Sebagai seorang dosen dan praktisi pendidikan, saya bersama tim kerap melakukan pengabdian masyarakat untuk menjawab tantangan nyata di dunia pendidikan. Salah satunya adalah fenomena kesulitan membaca permulaan yang masih banyak ditemui pada siswa kelas rendah sekolah dasar. Pengalaman kami di salah satu sekolah dasar di Kota Banjarmasin, menjadi bukti bahwa pendekatan pembelajaran yang tepat dapat membuat perbedaan signifikan.Berdasarkan observasi awal, kami menemukan bahwa banyak siswa kelas 1 yang belum lancar membaca. Masalahnya bukan hanya pada teknis pengenalan huruf, tetapi lebih mendasar: kesulitan mereka menghubungkan rangkaian huruf menjadi kata yang bermakna. Di sinilah kami melihat peluang untuk menggunakan media gambar sebagai jembatan pemahaman.Mengapa gambar? Karena gambar adalah bahasa universal yang langsung dipahami anak. Sebuah gambar apel, misalnya, langsung terhubung dengan konsep buah berwarna merah yang mereka kenal. Ketika huruf "A-P-E-L" diperkenalkan bersamaan dengan gambar tersebut, terjadi asosiasi kuat antara simbol abstrak (huruf) dengan objek konkret (buah). Proses kognitif ini membuat belajar membaca menjadi lebih kontekstual, bermakna, dan menyenangkan.Dalam pelaksanaannya, kami menggunakan metode klasikal yang interaktif, dimulai dari pengenalan huruf, pelafalan, hingga penyusunan suku kata dan kalimat sederhana, semua dengan bantuan gambar. Suasana kelas pun berubah. Tatapan bingung perlahan berganti dengan antusiasme saat mereka berhasil "membaca" gambar dan menghubungkannya dengan tulisan. Kepercayaan diri mereka tumbuh seiring dengan meningkatnya kemampuan mengeja dan merangkai kata.Hasil evaluasi melalui observasi dan wawancara dengan guru kelas menunjukkan peningkatan yang menggembirakan. Siswa tidak hanya lebih mudah mengenali huruf, tetapi juga lebih lancar membaca kata-kata yang telah dipelajari dengan bantuan visual. Guru melaporkan bahwa siswa tampak lebih aktif dan bersemangat mengikuti pelajaran literasi.Pengalaman ini menguatkan keyakinan kami bahwa inovasi pedagogis sederhana seperti media gambar memiliki dampak yang powerful. Ia tidak memerlukan teknologi tinggi atau biaya mahal, tetapi membutuhkan kreativitas dan kesungguhan pendidik untuk merancang pembelajaran yang memanusiakan dan membumi. Literasi dasar adalah fondasi. Jika fondasinya kuat, dibangun dengan metode yang sesuai dengan dunia anak, maka minat baca dan kemampuan memahami teks yang lebih kompleks di jenjang berikutnya akan terbentuk dengan lebih kokoh.Pada akhirnya, membangun budaya baca bukan semata tugas guru di sekolah, tetapi kolaborasi semua pihak. Sebagai akademisi, kami berkomitmen untuk terus turun langsung, menguji berbagai pendekatan, dan membagikan temuan-temuan praktis seperti ini, agar lebih banyak anak Indonesia yang bisa menikmati indahnya dunia yang terbuka lebar melalui kemampuan membaca.
# EDUKASI
# Pengabdian

Pemahaman Sejarah Masjid Raya Sabilal Muhtadin Banjarmasin sebagai Sumber Kearifan Lokal bagi Siswa SDN Basirih 1 Banjarmasin

Muhammad Supian Sauri
1 Desember 2025
Pengabdian kepada masyarakat pada dasarnya adalah cara kita berbagi ilmu dan pengalaman kepada orang lain. Tidak harus selalu dalam bentuk kegiatan besar; hal sederhana yang bermanfaat pun sudah termasuk pengabdian. Nah, salah satu bentuk pengabdian yang menurut saya sangat menarik adalah mengenalkan sejarah Masjid Raya Sabilal Muhtadin kepada siswa SDN Basirih 1 Banjarmasin. Kegiatan ini terlihat sederhana, tapi sebenarnya punya dampak besar bagi pengetahuan, karakter, dan kecintaan siswa terhadap daerahnya sendiri.Masjid Raya Sabilal Muhtadin tentu bukan sesuatu yang asing bagi masyarakat Banjarmasin. Masjid megah yang berdiri tidak jauh dari Sungai Martapura ini sudah lama menjadi ikon kota. Hampir semua orang tahu bentuknya, tapi tidak semua tahu sejarah dan nilai yang terkandung di balik pembangunannya. Di sinilah pengabdian masyarakat punya peran penting: membantu anak-anak memahami bahwa bangunan besar itu bukan hanya tempat salat, tapi juga menyimpan cerita tentang masa lalu, perjuangan, dan budaya masyarakat Banjar.Dalam kegiatan pengabdian ini, siswa diajak mengenal sejarah masjid dengan cara yang lebih menyenangkan. Mereka tidak hanya mendengar penjelasan, tetapi juga melihat langsung bangunannya, memahami makna arsitekturnya, serta mendengarkan kisah-kisah menarik tentang proses pembangunannya. Cara belajar seperti ini jauh lebih efektif dibandingkan hanya membaca buku atau mendengarkan ceramah panjang di kelas. Anak-anak SD biasanya lebih mudah memahami sesuatu ketika mereka bisa melihat, bertanya, dan berinteraksi secara langsung.Menurut saya, kegiatan seperti ini bukan hanya memberi pengetahuan tambahan, tetapi juga menumbuhkan rasa bangga terhadap daerah sendiri. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan budaya luar yang mudah masuk, anak-anak perlu diperkenalkan dengan kearifan lokal sejak dini. Ketika mereka mengenal sejarah Masjid Sabilal Muhtadin, secara tidak langsung mereka belajar tentang nilai-nilai seperti kerja sama, religiusitas, kegigihan, dan rasa persatuan yang menjadi bagian dari masyarakat Banjar.Hal yang juga sangat positif dari kegiatan ini adalah memberikan pengalaman nyata tentang bagaimana belajar tidak harus selalu di ruang kelas. Sekolah sering kali dianggap sebagai tempat belajar utama, padahal lingkungan sekitar juga bisa menjadi sumber belajar yang sangat kaya. Masjid Sabilal Muhtadin, misalnya, bisa dijadikan media belajar sejarah, budaya, agama, bahkan seni arsitektur. Siswa jadi menyadari bahwa ilmu pengetahuan bisa ditemukan di mana saja, bukan hanya di buku teks.Selain untuk siswa, kegiatan ini sebenarnya juga bermanfaat untuk guru. Guru bisa melihat contoh bagaimana membuat pembelajaran yang lebih kreatif dan kontekstual. Selama ini, banyak guru ingin membuat pembelajaran yang lebih hidup tetapi bingung harus mulai dari mana. Melalui kegiatan pengabdian ini, mereka bisa dapat inspirasi: bahwa memanfaatkan lingkungan sekitar merupakan cara mudah namun efektif untuk memperkaya pembelajaran.Dari sisi masyarakat, kegiatan ini juga memberikan dampak positif. Masjid Sabilal Muhtadin adalah kebanggaan warga Banjarmasin. Ketika generasi muda dikenalkan sejak kecil kepada sejarah dan nilai yang terkandung di dalamnya, masyarakat akan merasa lebih tenang bahwa warisan ini tidak akan hilang. Pelestarian budaya tidak hanya tentang merawat bangunan, tetapi juga menanamkan rasa cinta dan peduli kepada anak-anak sebagai penerus di masa depan.Menurut pandangan saya, kegiatan pengabdian ini menciptakan hubungan yang baik antara sekolah, masyarakat, dan perguruan tinggi. Mahasiswa atau dosen yang terlibat dalam pengabdian tidak hanya mengajar, tetapi juga belajar dari realitas di lapangan. Mereka melihat bagaimana tingkat pemahaman anak-anak, kebutuhan guru, dan potensi lingkungan bisa diolah menjadi media pembelajaran yang bermanfaat. Ini menjadi bentuk kolaborasi yang sangat bagus dan jarang diperhatikan.Hal lain yang membuat kegiatan ini penting adalah kesederhanaannya. Pengabdian masyarakat sering dianggap sebagai kegiatan yang rumit dan membutuhkan biaya besar. Padahal, kegiatan seperti mengenalkan sejarah masjid kepada siswa adalah contoh pengabdian yang sederhana tetapi dampaknya besar. Anak-anak mendapatkan pengalaman baru, guru mendapat inspirasi pembelajaran, masyarakat bangga, dan perguruan tinggi menjalankan perannya secara nyata. Semua pihak merasa diuntungkan.Saya pribadi menilai kegiatan ini sebagai langkah yang sangat tepat untuk menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap kearifan lokal. Apalagi siswa SD adalah usia yang sangat mudah dibentuk. Ketika sejak kecil mereka sudah diperkenalkan dengan budaya dan sejarah daerah mereka sendiri, hal itu akan melekat dalam ingatan sampai mereka dewasa. Mereka akan tumbuh dengan identitas yang kuat, menghargai budaya Banjar, dan memiliki rasa tanggung jawab untuk menjaga warisan leluhur.Secara keseluruhan, pengabdian masyarakat yang berfokus pada pemahaman sejarah Masjid Raya Sabilal Muhtadin untuk siswa SDN Basirih 1 ini adalah kegiatan yang sederhana, menyenangkan, dan sangat bermanfaat. Harapan saya, kegiatan seperti ini tidak berhenti hanya sekali. Semoga bisa dilakukan secara berkelanjutan, bahkan mungkin diperluas ke sekolah-sekolah lain. Dengan begitu, semakin banyak anak yang mengenal sejarah daerahnya dan bangga menjadi bagian dari masyarakat Banjarmasin. 
# EDUKASI
# Pengabdian

Pentingnya Literasi Artificial Intelligence (AI) dan Pengenalan Coding Dasar bagi Siswa SD

Nor Hayati, M.Pd
1 Desember 2025
Pengalaman melaksanakan pengabdian kepada masyarakat (PKM) di Kurau, 26 November 2025 meninggalkan kesan yang begitu mendalam. bagi saya,  sebagai salah satu dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris STIKIP Islam Sabilal Muhtadih Banjarmasin. Dengan tema, Smart Kids Programme yang berfokus pada Literasi Artificial Intelligence (AI) dan Pengenalan Coding Dasar bagi Siswa Kelas 5 di SD Negeri Maluka Baulin, kami menegaskan dukungan terhadap transformasi pendidikan yang adaptif dengan perkembangan teknologi global. Pada kegiatan ini, kami mempraktikkan pendekatan pembelajaran yang interaktif. Siswa diperkenalkan konsep AI sederhana: cara kerja  intruksi AI dalam mengenali pola, dan latihan coding dasar menggunakan platform ramah anak. Pendekatan ini terbukti efektif dalam menumbuhkan keberanian siswa untuk bereksperimen serta mengembangkan pola pikir komputasional sejak dini. Kegiatan ini mengukuhkan peran saya sebagai akademisi yang konsisten memadukan keahlian pedagogis dengan inovasi teknologi dalam konteks pemberdayaan masyarakat. Program ini juga membuktikan institusi kami responsif, dan berorientasi pada kebutuhan digital masyarakat modern. Guru-guru di SD Negeri Maluka Baulin menilai bahwa program ini sangat relevan dengan kebutuhan pembelajaran abad ke-21. Mereka mengapresiasi pendekatan pengajaran yang sistematis, interaktif, dan disesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa sekolah dasar. Menurut pandangan mereka, kegiatan ini membantu memperkaya pengalaman belajar siswa, terutama dalam hal pemahaman konsep teknologi yang selama ini belum banyak diperkenalkan di sekolah.Pelaksanaan Smart Kids Programme juga mendapatkan sambutan positif dari siswa kelas 5 SD Negeri Maluka Baulin. Sebagian besar siswa menunjukkan antusiasme tinggi ketika diperkenalkan  konsep AI dan latihan coding dasar. Aktivitas berbasis permainan (game-based coding) membuat mereka merasa belajar menjadi lebih menyenangkan.  
# EDUKASI
# Pengabdian

Kampus Visioner Siapkan Pemimpin Masa Depan di Era Digital

Edubanua.com
30 November 2025
EDUBANUA.COM, BANJARMASIN – Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin menggelar latihan dasar kepemimpinan Mahasiswa (LDKM) di Pantai Batakan, Kabupaten Tanah Laut, Provinsi Kalimantan Selatan, Sabtu (29/11/2025) “Harapan kami, kegiatan LKDM bertema Membentuk Pemimpin Muda yang Visioner, Disiplin, dan Berintegritas di Era Digital ini akan menginspirasi mahasiswa mempersiapkan diri menjadi pemimpin muda yang visioner, mampu berpikir jauh ke depan, serta siap beradaptasi dengan perubahan era digital.” Hal tersebut disampaikan Rizki Nugerahani Ilise, M.Pd, selaku Ketua Panitia LDKM. "Tujuan pelaksanaan LDKM 2025 ini adalah membekali mahasiswa STKIP ISM Banjarmasin dasar-dasar kepemimpinan yang relevan dengan kebutuhan zaman,” katanya. Melalui kegiatan ini, kata dia, mahasiswa dapat mengembangkan karakter, meningkatkan rasa tanggung jawab, memperkuat kerja sama tim, dan siap menjadi generasi yang mampu memimpin dengan bijak, jujur, dan berkomitmen. Rizki menjelaskan Pantai Batakan dipilih menjadi lokasi karena indah, sejuk, dan sangat cocok untuk kegiatan luar ruangan. Suasana pantai yang tenang, angin sepoi-sepoi, dan rindangnya pepohonan mendukung kegiatan berlangsung nyaman dan penuh semangat. Alasan ini juga dikuatkan Juanda S.I.Pust, korlap kegiatan, yang menambahkan lokasi dipilih karena mudah diakses seluruh peserta. Sementara itu, Wakil Ketua STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, Yuliana Nurhayati, M.Pd, mengatakan, LDKM sangat penting dalam rangka menumbuhkan kepercayaan diri mahasiswa, memahami pentingnya berkoordinasi dan kekompakan dalam menjalankan setiap tanggung jawab yang diemban.  “Kelak pasti berguna baik saat bergabung dalam organisasi, maupun di tempat kerja,” jelasnya ketika memberikan sambutan di halaman kampus menjelang keberangkatan ke Pantai Batakan. Yuliana mewanti-wanti agar rombongan mahasiswa menjaga kesehatan, dan mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan tertib, dan rasa gembira. "Saya mengucapkan terima kasih kepada tim panitia yang telah mempersiapkan kegiatan dengan sangat baik dan menyampaikan salam Ketua STKIP ISM Banjarmasin, Dr H. Abd Khair Amrullah, S.Sos.I.,M.Pd.I, kepada seluruh peserta.” Menanggapi kegiatan LDKM, satu di antara peserta, Mufit, mengatakan, kegiatan ini sangat baik. Dia dan teman-temannya memiliki antusiasme tinggi untuk menyelesaikan kegiatan sampai tuntas.  “Kegiatan ini memberikan kami pengalaman berharga. Bapak Ibu dosennya ramah dan proaktif. Games-nya membuat kami happy dan tidak bosan,” ungkap mahasiswa prodi PGSD. “Pembawa acaranya juga asyik banget”, tambahnya lagi. Hal sama juga disampaikan Munawarroh, mahasiswa prodi PAUD. Menurutnya, kegiatan ini membuatnya lebih percaya diri untuk memimpin dan bekerja sama dengan teman-teman.  Teman Munawarroh, Yeni Mulyani, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, juga merasakan hal yang sama. “Pemateri juga memberikan tips praktis tentang bagaimana menjadi pemimpin muda yang siap menghadapi era digital dan membuka wawasan untuk selalu berinovasi dalam hal kegiatan pembelajaran,” katanya. Perlu diketahui, LDKM dilaksanakan selama dua hari, 29 - 30 November 2025. Diikuti oleh mahasiswa STKIP ISM Banjarmasin dari tiga program studi. Di hari pertama, mendengarkan penjelasan pemateri tunggal, Iwan Perdana Ph.D, yang juga merupakan salah seorang pendiri STKIP ISM Banjarmasin, dilanjutkan dengan diskusi terbuka. Malam harinya para panitia menggelar permainan edukasi. Suasana tetap bernuansa akademik meski penuh gelak tawa. Cuaca yang mendukung dan bunyi hempasan ombak di bibir pantai makin menambah suasana menimba ilmu sambil bermain semakin menarik. Di hari kedua, panitia dan peserta melakukan senam bersama dilanjutkan kegiatan bersih-bersih Pantai. 
# BERITA
# Pendidikan

Bunda PAUD Tapin Berikan Sambutan Kegiatan Read Aloud

A Fadzlur Rahman
27 November 2025
EDUBANUA.COM, TAPIN – Hj. Faridah Yamani, Bunda PAUD Kabupaten Tapin memberikan sambutan pada Kegiatan Read Aloud (Membaca Nyaring) di Desa Kambang Habang Baru, Kecamatan Salam Babaris, Kabupaten Tapin, Rabu (26/11/2025) sekitar pukul 09:30 waktu setempat. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Dinas Perpustakan dan Kearsipan Kabupaten Tapin, mendatangkan dua Volunteer  Komunitas Read Aloud Kalimantan Selatan, Zahara Luthfiyani dan Isnani Hayati. Kak Zahara dan Kak Isna membacakan cerita untuk 60 siswa-siswi SD di Desa Kambang Habang Baru.Dalam sambutannya, Hj. Farida yang juga ketua tim penggerak PKK kabupaten Tapin mengatakan, metode ini sangat relevan untuk diterapkan di perpustakaan, sekolah, taman baca masyarakat, maupun kegiatan literasi di keluarga. Kegiatan membaca nyaring adalah upaya kita agar anak didik gemar membaca. Kebiasaan membaca ini ditumbuhkan sejak usia dini agar kelak anak didik mudah menyerap dan memilah informasi yang diterima dengan baik dan benar.“Semoga anak-anak bunda lebih gemar membaca dan semakin sering berkunjung ke perpustakaan desa,” harapnya.Ka Isna membacakan cerita Makan Bersama Keluarga. Para siswa sangat antusias mendengarkan diiringi interaksi aktif antara pembaca dengan pendengar. “Oto mempersilahkan orang tuanya mengambil nasi terlebih dahulu. Bapak mengatakan kepada Oto, itu sikap yang sangat terpuji. Mamanya menambahkan, begitulah cara bersopan santun saat makan bersama,” Ka Isna membacakan isi cerita.“Jadi siapa yang mengambil nasi duluan?” lanjut Ka Isna melempar pertanyaan. “Bapaak!,” jawab siswa-siswi serentak. Asyik dan menyenangkan membaca-mendengarkan cerita diselingi senda gurau dengan muatan etika dan moral dalam kehidupan sehari-hari. Tak terasa, kegiatan Read Alod ini berlangsung sekitar dua jam. (FR)
# BERITA
# Pendidikan

Guru Sejahtera, Pendidikan Berkualitas: Momentum Hari Guru untuk Membenahi Arah Bangsa

Arrazi
25 November 2025
Setiap tahun, tanggal 25 November menjadi pengingat bahwa guru bukan hanya profesi, tetapi fondasi bangsa. Namun, penghormatan tidak cukup berhenti pada ucapan terima kasih dan seremonial. Ada pertanyaan besar yang seharusnya kita renungkan bersama: Mengapa kualitas pendidikan Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara-negara lain, bahkan negara tetangga yang dahulu belajar kepada kita?Jawabannya tidak rumit. Berbagai penelitian internasional selama puluhan tahun menunjukkan bahwa kualitas pendidikan suatu negara sangat ditentukan oleh kesejahteraan gurunya. Guru yang sejahtera memiliki kapasitas, fokus, dan energi penuh untuk mengajar; guru yang tertekan oleh kebutuhan hidup tidak mungkin memberikan kualitas pembelajaran terbaik.Dulu Malaysia Belajar ke Indonesia, Hari Ini Kita Belajar ke SanaSejarah mencatat bahwa pada masa pascakemerdekaan, Malaysia mendatangkan guru-guru Indonesia untuk membangun sistem pendidikan mereka. Bahkan, pelajar Malaysia dikirim kuliah ke kampus-kampus Indonesia untuk menimba ilmu. Namun hari ini, kondisinya berbalik: banyak pendidik Indonesia justru belajar tentang tata kelola pendidikan ke Malaysia.Apa yang membuat mereka mampu melesat begitu jauh?Jawabannya kembali pada satu titik: kesejahteraan tenaga pendidik.Di Malaysia, gaji guru relatif tinggi, tunjangan memadai, serta jenjang karier dihargai. Kita dapat melihat bahwa hampir tidak ada guru di Malaysia yang berangkat mengajar menggunakan sepeda motor; mayoritas mampu membeli mobil karena penghasilan mereka mencukupi. Kondisi tersebut menciptakan martabat profesi dan menarik minat anak muda terbaik untuk menjadi pendidik.Penelitian dari UNESCO, OECD, dan World Bank menunjukkan pola yang sama:negara dengan penghasilan guru tinggi → kualitas pendidikan tinggi.Ini terjadi di Finlandia, Jepang, Korea Selatan, dan Swedia. Guru dihargai sebagai profesi strategis, bukan sekadar pelengkap sistem.Mengapa Anak Indonesia Lebih Memilih Jadi Dokter atau Insinyur?Sering para pengamat mempertanyakan mengapa anak-anak Indonesia cenderung memilih cita-cita menjadi dokter, insinyur, atau profesi lain yang dianggap “bergengsi”. Namun jarang yang menyentuh akar masalahnya.Anak-anak cenderung memilih profesi berdasarkan apa yang mereka lihat:profesi dengan pendapatan tinggi dianggap sukses.Ketika gaji guru jauh di bawah profesi lain, sangat wajar bila profesi ini jarang menjadi pilihan.Bayangkan jika kesejahteraan guru setara dengan dokter, maka persepsi publik akan berubah. Anak-anak pun akan dengan bangga dan yakin mengatakan, “Saya ingin menjadi guru.” Karena profesi tersebut bukan hanya mulia, tetapi juga layak secara ekonomi.Guru Tidak Seharusnya Sibuk Mencari Pekerjaan SampinganDalam banyak kasus di Indonesia, guru harus mencari pekerjaan tambahan—les privat, berdagang, ojek online, bahkan pekerjaan fisik lain—demi memenuhi kebutuhan keluarga. Kondisi ini jelas menguras energi, menurunkan kualitas mengajar, dan merusak konsentrasi pada tugas utama: mendidik generasi bangsa.Penelitian menunjukkan bahwa beban ekonomi yang berat berdampak langsung pada rendahnya efektivitas pedagogis guru. Guru yang tidak sejahtera cenderung mengalami stres, burnout, dan penurunan kualitas pengajaran.Artinya, meningkatkan pendapatan guru bukan sekadar kesejahteraan sosial, tetapi strategi pendidikan nasional.Ini investasi langsung kepada masa depan bangsa.Negara Harus Menempatkan Guru Sebagai Prioritas UtamaJika Indonesia ingin maju seperti negara-negara yang kita kagumi, maka langkah pertama bukan sekadar mengganti kurikulum atau menambah fasilitas sekolah. Langkah pertama adalah mensejahterakan guru.Kebijakan yang bisa dilakukan pemerintah:1. Menetapkan Standar Gaji Minimum Guru Nasional yang LayakSesuai rekomendasi UNESCO, gaji guru seharusnya setara dengan profesi profesional lainnya, bukan hanya penyambung hidup.2. Tunjangan Kinerja yang Berbasis Kualitas MengajarBukan sekadar administratif, tetapi berbasis pembelajaran nyata di kelas.3. Jaminan Sosial yang KuatBPJS, pensiun yang layak, serta perlindungan hukum bagi guru.4. Menjadikan Profesi Guru KompetitifSeleksi masuk pendidikan guru harus ketat, tetapi imbalannya tinggi, seperti di Finlandia dan Korea Selatan.5. Beban Administrasi DikurangiAgar guru dapat kembali menjadi pengajar, bukan penulis laporan.Hari Guru adalah Momentum: Guru Sejahtera, Indonesia MajuPada Hari Guru 25 November 2025 ini, mari kita hentikan narasi “guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa” jika “tanda jasa” itu berarti mereka harus hidup dalam keterbatasan. Di negara modern, pahlawan diberi penghargaan dan kesejahteraan, bukan pengorbanan tanpa batas.Sebelum kita berharap pendidikan kita menyaingi dunia, kita harus menjawab satu pertanyaan sederhana:Apakah kita sudah memuliakan guru sebagaimana seharusnya?Jika negara benar-benar ingin memajukan pendidikan, maka jawabannya hanya satu:Sejahterakan guru terlebih dahulu.Karena kualitas bangsa ditentukan oleh kualitas pendidiknya.Dan kesejahteraan adalah fondasi dari kualitas itu.
# EDUKASI
# Opini

Empat Pilar Kepemimpinan Pendidikan untuk Lembaga Inspiratif

Iwan Perdana
25 November 2025
Setiap pemimpin lembaga pendidikan dituntut mampu memberdayakan tenaga pendidik dan tenaga kependidikan yang dikelolanya dengan baik. Dia bertanggung jawab memastikan komponen sumber daya manusia dalam sistem pendidikan yang dipimpinnya berfungsi optimal demi tercapainya tujuan pendidikan.Agar lembaga pendidikan yang dikelolanya menjadi inspirasi bagi lembaga pendidikan lain dalam memberikan layanan terbaik bagi peserta didik, sedikitnya, ada empat pilar yang harus dipraktikkan para pemimpin pembaga pendidikan, yaitu:1.   Visi dan Misi lembaga Pendidikan yang kuatSelain sebagai kompas yang menuntun lembaga pendidikan agar tidak kehilangan arah, dan tetap fokus pada tujuan, Visi dan misi lembaga merupakan landasan utama dalam pengambilan keputusan dan pelaksanaan kegiatan di sekolah. Oleh karena itu, kemampuan menyelaraskan visi dan misi lembaga menjadi sesuatu yang krusial bagi pemimpin lembaga pendidikan.Pemimpin lembaga pendidikan harus memastikan penyusunan Misi sebagai komitmen lembaga mewujudkan visi sesuai dengan keunggulan yang dimilikinya sehingga tekad memberikan layanan pendidikan berkualitas kepada masyarakat pengguna tidak sebatas slogan kosong belaka.2.   Inovasi PembelajaranKemajuan teknologi menghadirkan pendekatan baru dalam pembelajaran: pembelajaran daring, dan penggunaan media interaktif seperti situs web, aplikasi, permainan edukasi. Pemanfaatan teknologi sebagai inovasi pembelajaran secara signifikan mengurangi kendala batasan jarak dan kendala geografis pelaksanaan pembelajaran di daerah-daerah yang sulit dijangkau.Komitmen pemimpin lembaga pendidikan mendukung para guru meningkatkan kualitas diri melalui workshop/ pelatihan seperti keterampilan mengajar, termasuk menguasai teknologi untuk menunjang pembelajaran akan memberikan mereka wawasan bagaimana menciptakan KBM yang lebih interaktif dan menyenangkan.3.   Bersinergi dengan para guruMelahirkan generasi berkualitas tidak semudah membalik telapak tangan. Prosesnya membutuhkan waktu yang tidak singkat. Apalagi jika profil lulusan yang diinginkan adalah lulusan berjiwa leadership, berintegritas, dan peduli terhadap kemanusiaan.Untuk mewujudkan hal tersebut, pemimpin lembaga pendidikan hendaknya bersinergi dengan para guru yang dipimpinnya untuk memprioritaskan terciptanya lingkungan sekolah yang mencetak siswa mampu berempati, kreatif, jujur, disiplin, bertanggung jawab, dan religius.4.   Berkolaborasi dengan dunia usaha dan komunitas Pemimpin lembaga pendidikan yang menargetkan lulusannya berdaya, berjiwa leadership, berintegritas, dan profesional harus menjalin kerja sama/ berkolaborasi dengan berbagai pihak, antara lain:(1)   Dunia Usaha dan IndustriPemimpin lembaga Pendidikan harus aktif menjalin kerja sama dengan dunia usaha/ industri. Ini penting sekali agar program magang bagi peserta didik terealisasi. Juga tidak kalah pentingnya menghadirkan praktisi sebagai narasumber untuk membuka cakrawala berpikir sebaiknya dilaksanakan secara terjadwal. (2)   Komunitas Tidak hanya dunia usaha/industry, pemimpin lembaga pendidikan harus mengambil inisiatif menjalin kerja sama dengan komunitas-komunitas yang ada di masyarakat. Kolaborasi ini akan menambah pengetahuan, pengalaman dan memperluas wawasan peserta didik sekaligus meningkatkan kemampuan mereka bersosialisasi. Dengan fondasi visi yang kuat, inovasi pembelajaran yang berkelanjutan, bersinergi dengan para guru, dan jejaring kolaborasi yang luas, pemimpin lembaga pendidikan akan mengantarkan lembaga yang dikelolanya tidak sekadar mengikuti arus, tetapi menjadi pembentuk arus peradaban masa depan.
# EDUKASI
# Opini

Literasi dan Numerasi pada Anak Usia Dini di Masa Sekarang

Rizki Nugerahani Ilise, M.Pd
19 November 2025
Pada masa ini, literasi dan numerasi adalah kemampuan dasar yang sangat penting untuk anak usia dini. Literasi merujuk pada kemampuan membaca dan menulis,sementara numerasi adalah kemampuan dalam memahami dan mengoperasikan angka serta konsep matematika dasar. Literasi dan numerasi tidak hanya merupakan kemampuan akademik, tetapi juga keterampilan hidup yang mendukung perkembangan kognitif dan sosial anak di masa depan.Pentingnya literasi dan numerasi pada usia dini menjadi semakin jelas dalam era digital ini,di mana keterampilan dasar ini menjadi fondasi untuk menghadapi berbagai tantangan di masa depan. Pentingnya Literasi pada Anak Usia Dini, yang berada dalam fase keemasannya, di mana mereka menyerap informasi dengan cepat. Literasi pada usia dini tidak hanya mencakup kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga keterampilan komunikasi seperti memahami keterampilan menyimak dan kemampuan berbicara. Keterampilan literasi ini sangat penting karena memungkinkan anak untuk memahami lingkungan sekitarnya dan membangun kemampuan berpikir kritis sejak dini. Dengan literasi, anak-anak dapat memahami cerita, instruksi, serta ekspresi emosi dan ide yang penting dalam berkomunikasi.Di masa sekarang, literasi pada anak usia dini juga berkaitan dengan literasi digital. Anak-anak diperkenalkan pada perangkat teknologi seperti tablet dan komputer yang bisa membantu mereka belajar melalui aplikasi edukatif. Meski demikian, penggunaan teknologi harus diawasi agar tidak mengganggu perkembangan sosial dan emosional anak.Selain literasi, numerasi juga sangat penting. Numerasi melibatkan kemampuan anak dalam mengenal angka, menghitung, dan memahami konsep dasar matematika seperti ukuran, bentuk, dan pola. Kemampuan numerasi dapat membantu anak dalam kegiatan sehari-hari seperti membagikan makanan, mengenali bentuk, dan menghitung benda.Pendidikan numerasi pada usia dini dapat dilakukan melalui kegiatan bermain. Misalnya, anak dapat diajak untuk menghitung mainan, menyusun balok, atau mengenali bentuk dan warna. Melalui cara ini, anak-anak belajar tanpa merasa terbebani dan lebih mudah memahami konsep-konsep matematika dasar yang akan menjadi landasan untuk belajar lebih lanjut di kemudian hari.Tantangan Literasi dan Numerasi pada Masa SekarangMeski penting, ada beberapa tantangan dalam pengembangan literasi dan numerasi pada anak usia dini. Salah satu tantangannya adalah kesenjangan akses pendidikan. Tidak semua anak memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses pendidikan yang memadai, terutama di daerah terpencil. Selain itu, dengan perkembangan teknologi yang pesat, banyak anak yang lebih fokus pada hiburan digital daripada kegiatan literasi dan numerasi yang konvensional.Orang tua dan guru memegang peran penting dalam mengembangkan literasi dan numerasi anak. Mereka dapat memperkenalkan literasi dan numerasi melalui kegiatan sederhana di rumah atau melalui pembelajaran kreatif di sekolah. Orang tua juga diharapkan untuk memberikan contoh dalam membaca dan menghitung, serta menggunakan teknologi dengan bijak.Literasi dan numerasi adalah kemampuan dasar yang harus dikembangkan sejak dini. Keterampilan ini tidak hanya penting untuk prestasi akademik, tetapi juga membantu anak dalam kehidupan sehari-hari dan perkembangan pribadi. Tantangan dalam pengembangan literasi dan numerasi pada masa sekarang, seperti akses pendidikan yang tidak merata dan penggunaan teknologi yang berlebihan, memerlukan peran aktif dari orang tua, guru, dan pemerintah. Dengan pendekatan yang tepat, literasi dan numerasi pada anak usia dini dapat diperkuat dan menjadi bekal untuk masa depan mereka.
# EDUKASI
# Opini

Manajemen Kelas Islami: Iwan Perdana Ph.D Tekankan Pentingnya Pendidikan Berbasis Koneksi dan Kolaborasi

Edubanua.com
4 November 2025
EDUBANUA.COM, BANJARMASIN – Dalam rangka menambah wawasan guru mendidik generasi Gen Z dan Gen Alpha, SMK Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin menghadirkan Iwan Perdana, Ph.D, pendiri Lantingliterasiindonesia.or.id, sebagai narasumber dalam kegiatan Komunitas Belajar (Kombel) guru, Selasa (4/11/2025).Kepala SMK Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, Humaidi S.Pd, dalam sambutannya mengatakan bahwa tantangan yang dihadapi guru dalam mendidik generasi Z dan Alpha sangat berat. “Karakteristik siswa zaman sekarang sangat berbeda dari zaman dulu. Siswa sekarang lebih kritis, dan mandiri serta lebih menyukai teknologi dalam proses pembelajaran,” ujarnya.Iwan memulai materi dengan memaparkan perbedaan antara Gen Z dan Alpha terlebih dahulu kepada audiens. “Gen Z tumbuh saat teknologi berkembang (era transisi digital). Mereka lebih fokus pada isu sosial dan keberlanjutan. Sedangkan Gen Alpha lahir di era digital yang sudah matang dan tidak mengenal dunia tanpa internet. Mereka terbiasa dengan otomatisasi dan kecerdasan buatan (AI) sejak lahir,” jelasnya.“Tidak cukup sekadar menguasai materi, di zaman ini, guru juga dituntut mampu berkomunikasi dengan baik, menguasai teknologi dan memiliki kesabaran dalam mengajar, membimbing, dan mendampingi siswa,” kata Iwan. Menurut Iwan, guru SMK Islam Sabilal Muhtadin dapat mempraktikkan manajemen kelas Islami berbasis koneksi dan kolaborasi untuk menghadapi generasi yang hampir tak pernah lepas dari handphone ini. Beliau mengungkapkan ada empat pilar manajemen Islami yang dapat dipraktikkan guru, yaitu: (1) Rahmah: kasih sayang, (2) Syura, (3) Al ‘Adl, dan (4) Amar Ma’ruf Nahi Munkar. Kemampuan guru menciptakan suasana kelas interaktif, visual, dan kebebasan berekspresi sangat penting untuk mendukung terimplementasinya ke empat pilar tersebut.Diskusi hangat terjadi setelah pemaparan. Beberapa guru bertanya terkait materi, ada juga yang memaparkan pandangan, dan menceritakan pengalamannya mengajar generasi Z dan Alpha. Sebelum acara ditutup, narasumber mengatakan selaras dengan visi SMK Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin “Meluluskan Murid Islami, Kompeten, dan beprestasi,” para siswa yang dididik dengan pendekatan rahmah akan menjadi pribadi memiliki perasan lembut penuh kasih sayang. Praktik Syura dan Al ‘Adl mendorong mereka mampu berkolaborasi, dan tak kalah pentingnya guru melakukan refleksi diri dalam menjalankan tugas profesionalnya.Kegiatan komunitas belajar yang dilaksanakan pukul 09.00 WITA, dan berakhir pada pukul 12.00 WITA ini berjalan lancar dan sukses.   
# BERITA
# Pendidikan

  Youtube

Surah Ar-Rahman | Aniq Muhai

  Informasi

Selamat Hari Guru Nasional
Arah Pendidikan Nasional & Transformasi Pendidikan Lokal di Daerah
Kupas Tuntas: Kurikulum, Inklusi, dan Seni di Sekolah Dasar
Momentum Kebangkitan Nasional Melalui Peningkatan Kualitas Pendidikan