Postingan Terbaru

Guru Bimbingan Konseling : Di Tangan Mereka, Gawang Sekolah Bertumpu

Iwan Perdana
13 Maret 2026
Yuliana Nurhayati, M.Pd — Wakil Ketua Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama STKIP Islam Sabilal MUhtadin Banjarmasin — menegaskan layanan Bimbingan dan konseling di sekolah sangat diperlukan. “Bimbingan dan konseling (BK) di sekolah sangat penting untuk mengoptimalkan perkembangan pribadi, sosial, belajar, dan karir siswa. Selain membantu menangani pelanggaran aturan dan masalah etika siswa, layanan BK juga meringankan tugas guru lain serta menjadi tempat konsultasi yang aman bagi siswa karena dijamin kerahasiaannya oleh kode etik profesi”, jelasnya (Jumat, 13/3/2026).Mengaminkan pernyataan tersebut, Tati Akhbariyyah, S.S., Gr., S.Pd., M.Pd. (Kandidat Doktor), Dosen pengampu mata kuliah Pengantar Bimbingan Konseling SD STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin  menyatakan bahwa peran guru BK tidak hanya membantu menyelesaikan masalah, tetapi juga sebagai pengembang potensi, bakat, dan perencana karir siswa.Pendapat 2 dosen kampus Visioner tersebut menginspirasi saya membuat tulisan singkat tentang besarnya peran Guru BK di sekolah dengan menganalogikannya dengan Peran Kiper dalam sebuah tim sepak bola. Saya teringat Bang Amat, Kiper Berkah FC dan Bersaudara FC. Suaranya lantang mengingatkan pergerakan rekan setim, sekaligus memperingatkan Kawan agar tak lengah mengawasi pemain lawan. Meski usia terus bertambah, di lapangan bola, Bang Amat tetap sosok yang saya kenal 40 tahun silam: energik, penuh semangat.Sepanjang ingatan saya, dulu Mat Eloy—panggilan akrab Bang Amat—kerap mengisi posisi gelandang bertahan, kadang turun sebagai bek, namun paling sering berdiri kokoh di bawah mistar sebagai kiper. Kini, di usianya yang tak lagi muda, ia masih setia memainkan peran serupa: menjaga, mengatur, dan menjadi denyut yang menghidupkan permainan.Melihat Kawan masa kecil ini, saya  teringat Jorge Campos, kiper ikonik Meksiko. Pemain bertinggi badan 168 cm yang gemar mengenakan jersey warna warni. Refleksnya cepat dan memiliki kemampuan bermain sebagai striker. Tugas kiper tidaklah mudah. Sebagai pemain terakhir yang berada di barisan belakang, dengan keistimewaan diizinkan menggunakan tangan dan kaki tugasnya memastikan tidak terjadi gol dengan cara menangkap atau menepis yang ditendang pemain lawan. Kiper juga berperan mengatur pertahanan, mendistribusikan bola, dan membangun serangan dari belakang.  Meskipun kemenangan tim merupakan buah kerja sama seluruh pemain, posisi kiper kerap menjelma sebagai pahlawan tak terlihat (unsung hero) yang perannya krusial bagi keberhasilan di lapangan. Di sekolah, saya melihat salah satu guru bidang studi yang memainkan peran ini adalah guru bimbingan konseling. Saya menganalogikan Kiper dalam sebuah tim sepak bola untuk fungsi Guru Bimbingan dan Konseling (BK) di sekolah dengan mencari persamaan strategis dan manajerial mereka sebagai berikut:1.        Pertahanan terakhirKiper adalah harapan terakhir tim mencegah bola masuk ke gawang ketika seluruh pemain belakang berhasil dilewati oleh "serangan" lawan. Guru BK menjadi benteng terakhir untuk "menyelamatkan" siswa yang tidak bisa diatasi guru mata Pelajaran/ wali kelas karena dianggap gagal secara akademik, emosional, atau sosial karena masalah pribadi yang dalam, konflik berat, atau krisis.2.        Analisis MasalahTidak hanya menangkap bola, seorang kiper juga mampu membaca permainan. Ia tahu kemana bola akan diarahkan, memahami pola serangan lawan, dan memberi instruksi ke para pemain bertahan untuk menutup celah. Guru BK dituntut jeli membaca situasi dan gejala masalah: mengamati perubahan perilaku siswa, memahami dinamika kelas, dan menganalisis akar masalah (apakah itu masalah keluarga, pertemanan, atau belajar). Dari "bacaan" tersebut, Guru BK memberikan saran strategis kepada guru dan orang tua tentang cara terbaik mendampingi siswa/i.3.        Transisi dan Tindak Lanjut Memulai SeranganSetelah menangkap bola, kiper tidak diam. Ia adalah inisiator pertama serangan melalui lemparan atau tendangan yang akurat memberikan bola agar bisa langsung menciptakan peluang bagi timnya untuk mencetak gol. Setelah "menangkap" masalah siswa, Guru BK memulai "serangan balik" positif: memberikan arahan, motivasi, dan rencana tindak lanjut. Mereka menghubungkan siswa dengan sumber daya yang dibutuhkan: bimbingan belajar, konseling lebih lanjut, atau kegiatan positif; agar siswa bisa kembali "menyerang" meraih prestasi dan masa depannya.4.        Memiliki Perspektif yang Lebih Luas Berada di belakang memberikan keuntungan bagi kiper melihat lapangan dari berbagai sudut pandang: kekompakan barisan belakang, lubang di lini tengah, dan posisi pemain lawan yang mengancam. Guru BK melihat gambaran besar dari perkembangan siswa: Interaksi siswa di semua mata Pelajaran, dengan semua guru, dan dengan teman-temannya. Perspektif holistik ini memungkinkan Guru BK memberikan bimbingan yang tidak parsial, tetapi menyeluruh untuk kepentingan jangka panjang siswa.5.        Ketenangan di Bawah Tekanan (Manajemen Krisis)Kiper dituntut untuk tetap tenang, fokus, dan tidak panik, terlebih lagi pada saat injury time dan tim lawan terus menekan. Guru BK sering berhadapan dengan situasi krisis: siswa bermasalah, konflik antar siswa, atau orang tua yang marah. Di sinilah fungsi mereka sebagai "kiper" diuji. Guru BK harus menjadi pribadi yang paling tenang, bisa meredam emosi, dan berpikir jernih untuk mencari solusi terbaik. 6.        Peralatan Khusus dan Area Kerja yang Berbeda (Profesionalisme)Kiper adalah satu-satunya pemain yang boleh menggunakan tangan dan memiliki seragam yang berbeda. Area kerjanya adalah kotak penalti. Ini menunjukkan spesialisasi. Guru BK memiliki keahlian khusus yang tidak dimiliki guru biasa: konseling, psikologi pendidikan. Mereka juga memiliki kode etik profesional yang membedakannya dari profesi guru lainnya, seperti halnya kiper yang punya aturan main berbeda di dalam kotak penalti. Ruang BK adalah area kerja Guru BK yang aman dan nyaman, berbeda dari ruang kelas pada umumnya. Dalam manajemen sekolah, Guru BK bukan sebagai "polisi sekolah" atau "tukang catat poin pelanggaran", melainkan sebagai kiper andalan. Mereka adalah spesialis pertahanan mental dan emosional siswa, yang membaca arah masalah, menjadi benteng terakhir, sekaligus memulai transisi siswa menuju kesuksesan. Tanpa kiper yang tangguh, tim sepak bola sekelas apapun bisa kebobolan. Tanpa Guru BK yang profesional, sekolah semaju apapun bisa kehilangan siswanya karena masalah yang tidak tertangani.
# EDUKASI
# Opini

Delegasi FKIP UNISKA MAB Laksanakan Program Pertukaran Dosen Internasional di Filipina

Iwan Perdana
2 Maret 2026
"Walau tidak lama, Program pertukaran dosen internasional sangat berkesan dan akan menjadi insight untuk meningkatkan kualitas perkuliahan dan kemampuan teaching para dosen, selain bidang lain yang sudah direncanakan." Begitu penuturan lugas Dr. Hengki, S.S., M.Pd, Dekan FKIP Universitas Islam Kalimantan (UNISKA) Muhammad Arsyad Al Banjari Banjarmasin, Selasa (2/3/2026), tentang semangat timnya yang baru saja menuntaskan misi edukasi di University of Mindanao Tagum College (UMTC), Filipina. Sebuah langkah berani, penuh asa, yang mengukuhkan komitmen UNISKA MAB untuk tidak sekadar berkutat di dalam negeri, namun turut merajut benang-benang persahabatan intelektual di kancah global.Sebuah tim solid beranggotakan Ratna, S.Pd., M.Pd., Fitra Ramadani, S.Pd., M.Pd., Fitria Rizkiana, S.Pd., M.Pd., Dr. Hj. Ani Wardah, S.Pd., M.Pd., dan Ari Tri Fitrianto, S.Pd., M.Pd., menemani langkah Dr. Hengki. Mereka bukan sekadar delegasi. Mereka adalah duta ilmu, pembawa misi Tridarma Perguruan Tinggi ke negeri tetangga.Program pertukaran dosen internasional ini berlangsung dari 8 hingga 24 Februari 2026. Agendanya padat, mulai dari sesi lecturing yang memperkaya wawasan dosen, penelitian kolaboratif lintas negara, pengabdian kepada masyarakat yang menyentuh langsung, hingga benchmarking kelembagaan yang krusial. Harapannya, posisi UNISKA MAB dalam jejaring pendidikan global makin kokoh, serta menjadi langkah strategis mendongkrak kualitas akademik, riset, dan pengabdian masyarakat berbasis internasional.Pemilihan UMTC, sebuah universitas swasta tertua di Filipina Selatan yang berdiri sejak 1946, bukanlah tanpa alasan. Ini sejatinya kunjungan balasan. Sebelumnya, beberapa akademisi dari kampus tersebut lebih dulu 'merasakan' atmosfer akademik di UNISKA MAB Banjarmasin.Prof. Dr. H. Mohammad Zainul, S.E., M.M, Rektor UNISKA MAB, dalam acara pelepasan tim pada Jumat (6/2/2026), telah menitipkan pesan krusial: "Bawa pulang pengalaman berharga, rajut jejaring, dan pastikan ada luaran konkret." Pesan itu menjadi cambuk penyemangat bagi para dosen FKIP UNISKA untuk mengukir capaian signifikan, baik untuk akreditasi kampus maupun penguatan tridarma perguruan tinggi.Kolaborasi lintas negara ini menghasilkan sejumlah program pengabdian masyarakat yang menyentuh langsung denyut nadi masyarakat. Di Barangay La Filipina, Tagum City, misalnya, tim yang dipimpin Dr. Hengki bersama kolega dari UMTC, Dr. Armand James Vallejo, Kenneth Garcia Telin, dan Dr. Imelda Viloria Isaal, menyelami “Parental Perceptions and Family Awareness of the Role of Higher Education in Shaping Childrens" Future Success'. Mereka berdiskusi, berbagi pandangan, membuka cakrawala baru bagi para orang tua di sana. Sebuah upaya edukasi yang fundamental.Dr. Ani Wardah, S.Pd., M.Pd., bersama Inlyn Jiezl Cerbo-Javier, MPsy, RPsy, LPT, CHRA, CFP, serta Sri Ayatina, S.Pd., M.Pd., dan Rudi Haryadi, S.Pd., M.Pd., menggelar sesi 'Group Counseling: Reducing Academic Procrastination' di Kampus UMTC. Sebuah solusi nyata untuk isu yang kerap menghantui dunia akademik.Di Magugpo South, Tagum City, sebuah inovasi juga lahir. Tim Fitria Rizkiana, S.Pd., M.Pd., bersama Jemer Alimbon, MST, Ariel V. Ando MEng-CpE, NSTP, Emilda Prasiska, S.Pd., M.Pd., Herlina Apriani, S.Pd., M.Pd., Okviyoandra Akhyar, Ph.D., Antoni Pardede, Ph.D., dan RR Ariessanty Alicia Kusuma Wardhani, M.Si., menginisiasi "Utilization of Watermelon Rind as Food Product". Mereka mengubah limbah kulit semangka menjadi produk pangan bernilai, mengajarkan masyarakat tentang ekonomi kreatif berbasis lokal. Ini bukti nyata pengabdian masyarakat internasional yang berkesan.Di Jose Tuason Jr. Memorial National High School, Madaum, Tagum City, Davao del Norte, Filipina, sebuah diskusi hangat mewarnai hari. Tim yang terdiri dari Ari Tri Fitrianto, S.Pd., M.Pd., Dr. Saramie Belleza, Muhammad Habibie, S.Pd., M.Pd., dan Andi Kasanrawali, S.Pd., M.Pd., mengenalkan "Galing in Motion: a Collaborative Approach to Sport Success." Mereka tak hanya berbicara tentang teori, tapi juga berbagi metode, merajut semangat kolaborasi, dan membuka wawasan baru tentang bagaimana meraih prestasi olahraga bersama. Sebuah inisiatif yang benar-benar menggugah semangat sportivitas di sana.     
# EDUKASI
# Pengabdian

Mengapa Waka Kesiswaan Harus Seperti Gelandang Bertahan?

Edubanua.com
1 Maret 2026
Mendominasi pertandingan tidak menjamin kemenangan. Saya pernah menyaksikan ini pada piala dunia tahun 1990. Kala itu, Brazil yang menguasai jalannya laga akhirnya takluk dari Argentina di babak 16 besar. Umpan Diego Maradona yang dikonversi dengan baik oleh Claudio Caniggia menjadi gol pada menit ke-80 memaksa Dunga dan kawan-kawan angkat koper lebih awal.Meski kekalahan Brasil pada saat itu bukan disebabkan kelengahan pemain bertahan, tetapi karena kejeniusan pemain berjuluk Hand of God, namun ingatan tentang duel antara Argentina dan Brasil di babak 16 besar Piala Dunia 1990, yang digelar di Stadion Delle Alpi, Turin, Italia itu menginspirasi saya membahas tentang posisi pemain bertahan.Di tim sepak bola, semua posisi memainkan peran penting. Tidak hanya striker dan playmaker, posisi gelandang bertahan juga sangat menentukan. Di Berkah FC, lini pertahanan dikawal ketat  3 pilar handal: Ody, Yuspi dan Dahri. Kiri ke ke kanan: Yuspi, Ody & Dahri.Ody dan Yuspi tipikal pemain gelandang bertahan sejati. kemampuan mereka membaca permainan (antisipasi), akurasi operan tinggi, dan ketenangan di bawah tekanan layak diacungi jempol. Sementara Dahri adalah tipe gelandang bertahan modern Istimewa. Berbekal stamina prima: bernafas kuda, ia rajin membantu serangan. Kecepatan dan keberaniannya berduel sangat merepotkan pemain lawan. Kolaborasi Ody, Yuspi, dan Dahri menjauhkan kiper: Haris atau Rusdi dari  ancaman striker lawan.Ody & IyusIwan Perdana, Ph.D.,alumnus Program doktoral Manajemen Pendidikan UPSI Malaysia, menganalogikan pemain gelandang bertahan dengan jabatan struktural pada lembaga pendidikan. Menurutnya, dalam perspektif manajemen pendidikan, jabatan dalam tata Kelola sekolah yang memiliki karakter serupa dengan gelandang bertahan adalah wakil kepala sekolah bidang kesiswaan.Capt Rudi & OdyTujuan utama pendidikan adalah mengembangkan seluruh potensi peserta didik secara utuh—mencakup intelektual, karakter, emosional, dan spiritual—untuk menjadi manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, cerdas, mandiri, dan bertanggung jawab.Wakil kepala sekolah bidang kesiswaan membantu kepala sekolah mewujudkan tujuan tersebut. Ia bertugas merencanakan, membina, dan mengawasi seluruh kegiatan siswa (non-akademik), menegakkan tata tertib, mengatur OSIS/ekstrakurikuler, serta mengelola 7K (Keamanan, Kebersihan, Ketertiban, Keindahan, Kekeluargaan, Kerindangan, Kesehatan) untuk menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif.Oleh karena itu, wakasek kesiswaan menjadi filter pertama yang melindungi proses pendidikan dari bahaya:  masalah disiplin siswa, konflik antar teman, pelanggaran tata tertib. Ia bertugas menjaga iklim sekolah tetap kondusif agar "gawang"- tujuan pendidikan- tidak kebobolan.Berkah FCTidak dapat dibayangkan sebuah sekolah tanpa Waka Kesiswaan yang tegas. Konsekuensinya sangat menakutkan. Para guru—yang berperan sebagai gelandang serang kreatif dipaksa turun menjadi gelandang bertahan dadakan—turun tangan mengurusi masalah-masalah: Siswa bolos, tawuran, dan suasana belajar tidak nyaman.  Ini menyebabkan mereka akan kehilangan fokus, kreativitas mengajar mati, dan prestasi siswa (gol) akhirnya tidak akan tercipta.   
# EDUKASI
# Opini

Urgensi Pendidikan Seni di Lembaga PAUD

Iwan Perdana
24 Februari 2026
Dengan ilmu hidup jadi mudah, dengan seni hidup jadi indah, dengan agama hidup jadi terarah," begitulah wejangan bijak Prof. Mukti Ali, mantan Menteri Agama RI, yang. Sebuah adagium yang kian relevan, terutama saat kita bicara tentang pendidikan seni di lembaga PAUD, sebuah simfoni yang acap kali luput dari sorotan utama kurikulum, namun sejatinya menjadi fondasi kokoh pembentukan karakter dan pengembangan kreativitas anak bangsa.Seni, bukan sekadar tempelan. Ia adalah bagian integral dari kehidupan manusia, sebuah medium ekspresi dan jembatan komunikasi universal. Namun, mengapa urgensinya kerap terlewat dalam ranah pendidikan anak usia dini?. Muhammad Agus Syafrian Nur, M.Pd, dosen PAUD STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, menyorot fakta menarik."Meski seni di lembaga PAUD tidak masuk secara khusus di kurikulum, manfaatnya tak bisa diabaikan," ujarnya. Seni mampu mengasah kreativitas, melatih motorik halus — lihat saja bagaimana jemari mungil mereka asyik mewarnai atau menggunting. Ini juga sarana positif mengekspresikan emosi, membangun rasa percaya diri sejak dini. Sebuah arena bermain yang mendidik, bukan?Rizki Nugerahani Ilise, M.Pd, Asesor BAN PAUD, mengamini. Ia bahkan merinci lebih jauh bagaimana manfaat seni anak usia dini merentang luas. "Anak PAUD perlu diajarkan seni karena seni membantu anak berkembang lewat kegiatan yang menyenangkan. Misalnya bernyanyi, atau bergerak mengikuti musik, anak akan dilatih perkembangan motorik halus dan kasarnya," jelas Rizki. Lebih dari itu, seni juga melatih kefokusan, pendengaran, konsentrasi, koordinasi gerak, hingga kemampuan bahasa. Bayangkan saja, menghafal kata dan melafalkannya lewat lirik lagu. Luar biasa!Nur Faradilla Adriana, M.Pd, Kepala TK Islam Baitul Makmur Banjarmasin, memberikan perspektif yang lebih mendalam tentang sisi emosional dan sosial. "Seni membantu anak menyalurkan imajinasi dan ide-ide mereka secara bebas, sehingga kreativitas mereka berkembang," ungkapnya. Senada dengan jawaban Maulidha, M.Pd, Kaprodi PAUD STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, Nur Faradilla melihat anak-anak belajar menghargai hasil karya, baik milik sendiri maupun teman. Ini akan memperkuat aspek sosial dan empati mereka, serta membangun optimisme dan kepercayaan diri di kemudian hari. Namun, di balik segudang manfaat itu, ada tantangan yang mengemuka. Novi Suma, M.Pd, Dosen PAUD Kampus Visioner, jujur mengakui. "Tantangan bagi guru PAUD adalah meluangkan waktu menambah pengetahuan dan meningkatkan keterampilan tentang seni agar dapat menjadi fasilitator pembelajaran seni yang efektif di sekolah." Guru-guru adalah ujung tombak. Mereka butuh amunisi, butuh bekal agar bisa memfasilitasi ledakan kreativitas para tunas bangsa ini. Seni, pada akhirnya, bukan sekadar goresan warna atau lantunan nada. Ia adalah alat pembentuk karakter, pemicu imajinasi, dan penumbuh optimisme. Sebuah investasi jangka panjang bagi masa depan, yang tak boleh diabaikan, terutama dalam ranah pendidikan di Lembaga PAUD.
# BERITA
# Pendidikan

Merawat Etos Akademik: Wajib Baca 30 Menit di Kampus Visioner

Barendz Umar
19 Februari 2026
Pada hakikatnya, seorang dosen adalah pembelajar sejati, yang artinya proses menuntut ilmu tidak akan pernah selesai. Namun, idealisme ini sering kali diuji oleh rutinitas pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi—pengajaran, penelitian, dan pengabdian—yang diikuti beban administratif dan teknis. Di tengah dinamika itulah, saya merenungkan kembali makna pembelajaran melalui sebuah pengalaman reflektif yang unik sebagai Dosen di STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, kampus visioner.Salah seorang pendiri STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, Bapak Iwan Perdana, Ph.D., menetapkan sebuah aturan yang sederhana namun sarat makna: seluruh dosen harus berkumpul di ruang baca dan membaca selama 30 menit sebelum pulang. Peraturan ini bukan sekadar formalitas atau simbolik, melainkan sebuah upaya sistematis untuk membangun kontinuitas budaya akademik. Beliau selalu menekankan kepada kami bahwa seorang dosen wajib meng-upgrade pengetahuannya setiap hari, dan salah satu sumber utama pembaruan itu adalah membaca.Kebijakan ini mengandung pesan epistemologis bahwa pengetahuan harus fleksibel. Seorang dosen tidak cukup hanya mengandalkan ilmu yang diperoleh saat studi sarjana atau pascasarjana. Ilmu berkembang, teori berubah, pendekatan diperbarui. Tanpa komitmen untuk membaca, dosen berisiko menjadi pengulang materi lama yang kehilangan relevansi dengan perkembangan zaman. Melalui kebiasaan membaca yang terstruktur setiap hari, proses “upgrade” intelektual menjadi bagian dari rutinitas profesional.Yang menarik, buku-buku yang tersedia di ruang baca sangat bervariasi. Ada bacaan ringan yang bersifat populer dan reflektif, ada pula buku-buku akademik yang berat dan teoritis. Seluruh koleksi tersebut disediakan langsung oleh Bapak Iwan Perdana, Ph.D., sebagai bentuk komitmen nyata terhadap pengembangan kualitas dosen. Variasi bacaan ini memungkinkan setiap dosen bisa memilih bahan sesuai kebutuhan dan minat, sekaligus membuka peluang eksplorasi lintas disiplin ilmu. Dalam praktiknya, saya sering menemukan gagasan baru justru dari bacaan yang awalnya berada di luar bidang utama saya.Menurut beliau, membaca merupakan salah satu stimulasi terbaik bagi fungsi otak. Aktivitas ini melibatkan proses memahami, menginterpretasi, mengkritisi, serta menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan sebelumnya. Proses tersebut memperkuat kemampuan analisis dan mempertajam cara berpikir. Kebijakan ini tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga membentuk ekosistem akademik. Ketika seluruh dosen berkumpul di ruang baca pada waktu yang sama, tercipta suasana intelektual hening namun produktif. Kebiasaan kolektif ini secara perlahan membangun identitas institusi sebagai kampus yang menempatkan literasi sebagai fondasi utama.Kualitas seorang dosen tidak hanya diukur dari gelar akademik, tetapi dari komitmen untuk terus mengembangkan diri. Wajib baca 30 menit sebelum pulang mungkin terlihat sederhana dalam hitungan waktu, tetapi besar dalam dampak jangka panjangnya. Kebijakan yang digagas pendiri kampus, Bapak Iwan Perdana, Ph.D, menunjukkan kuatnya komitmen Beliau merawat etos akademik dosen STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin.  
# BERITA
# Pendidikan

My Ph.D journey at FPE UPSI

Iwan Perdana
17 Februari 2026
Kabar gembira saya terima pada 30 Juli 2021 dari UPSI: Offer letter for admission to the postgraduate programme for semester 1 session 2021/2022. Alhamdulillah, keinginan studi Ph,D  jurusan educational management di negeri Jiran, Malaysia, terwujud. Sungguh rejeki tak terduga, keterbatasan finansial tak menjadi halangan, ada dermawan, tidak mau disebutkan namanya,  bersedia membiayai Pendidikan S3. Sempat bingung pada awalnya terkait informasi pengurusan visa, Alhamdulillah, saya ditolong oleh Ibu Noraini Abdul Rahman, pelajar Malaysia yang saya kenal sewaktu sesi perkenalan mahasiswa baru UPSI secara online dan kakak beliau: Bapak Ridzuan Rahman. Kebingungan setibanya di KLIA Malaysia hilang karena regulasi UPSI sangat membantu mahasiswa internasional: Kampus menjemput mahasiswa internasional untuk kedatangan pertama kali.Setibanya di Tanjung Malim pada 18 Desember 2021, Allah SWT kembali mempermudah jalan menutut ilmu di UPSI.  Adalah Alfian Bakti, pelajar master asal Lombok yang menyambut kedatangan di Cafe Cik Anis, yang di kemudian hari menjadi warung langganan. Cik Anis, pemilik kafe, berasal dari Riau. Satu-satunya warung yang buka di pagi hari.Selanjutnya, Bang Alfian mengajak saya ke Taman Harmoni. Dikenalkanlah saya kepada Bang Indra, Wajedi, dan Riza. Mahasiswa magister asal NTB. Bang Alfian mengantarkan periksa kesehatan ke dokter di Pekan untuk kelengkapan administrasi mahasiswa program Ph.D . Dan ke kampus UPSI untuk pertama kalinya.Pada tahun pertama, setelah beberapa hari tinggal di Taman Bahtera bersama Syahwil, pelajar master asal Aceh, saya pindah ke  flat di Taman Bahtera. Tinggal bersama Bang Indra, Rizal dan Wajedi hingga menerima visa pelajar. Saya juga beruntung diajak Pak Ar Razzy, pelajar Ph.D. asal Aceh, mengenal Kampus Sultan Abdul Jalil Shah (KSAJS), kampus  UPSI lama.Pada tahun 2022, saya kembali ke Taman Bahtera. Di kamar yang sama, TB. 185, tinggal satu flat dengan kawan-kawan asal Malaysia yang friendly. Paling berkesan berdiskusi dengan Bang Alif yang sangat terampil bermain musik. Ada juga Siong Kiet, yang selalu baca buku.Tahun 2023, pindah ke Blok 1, masih bersama mahasiswa degree asal Malaysia. Seru berdiskusi dengan mereka hampir setiap malam selama 1 jam, sebelum tenggelam dalam kesibukan masing-masing. Baru pada tahun 2024, saya berjumpa dengan mahasiswa Ph.D. asal Indonesia: Pak Dody dari Riau, Bang Gery dari Padang, Bang Malesa dari Medan, dan Mas Tiyo dari Malang.Saya mulai mengerjakan tesis setelah menyelesaikan perkuliahan Methodology Research yang diampu oleh Dr. Fanny Kho Chee Yuet. Alhamdulillah, saya dibimbing  Dr. Rosnah binti Ishak, dan PM Dr. Mahaliza binti Mansor. Keduanya sangat ramah dan komunikatif. Dr. Rosnah sebagai Main Supervisor memberikan arahan yang jelas, respons cepat, pengetahuan tentang riset, dan rekomendasi referensi yang relevan dengan topik penelitian. PM Mahaliza sangat ramah. Diskusi dengan beliau memperkaya wawasan saya tentang pendidikan.Selama di Malaysia, saya pernah ke Bukit Bintang, Batu Caves dan Twin Towers sendirian. Pernah juga bersama kawan-kawan asal Pulau Sumatra: Pak Dody, Mas Tiyo, Bang Gery dan Bang Malesa ke Kuala Lumpur, membeli oleh-oleh di Pasar Seni, dan menikmati musik di Bukit Bintang. Menikmati masakan ala Malaysia, asyiknya naik bus gratis ke kampus, kerjakan penelitian di Perpustakaan Tuanku Bainun dan perpustakaan digital, bincang dengan mahasiswa UPSI asal China di antrean pengurusan VISA di kampus, adalah momen yang tidak akan pernah saya lupakan.Pengalaman studi di UPSI Malaysia yang menyenangkan semakin bertambah dengan kegembiraan menerima Penghargaan/Anugerah Tan Sri Alimuddin pada tahun 2025, sehari sebelum Konvokesyen pada 11 November 2025. Semoga pengetahuan yang saya pelajari bermanfaat bagi kemanusiaan, bangsa dan pengembangan ilmu pengetahuan. Saya juga berharap dapat menjadi salah satu alumni yang membanggakan dan membesarkan UPSI Malaysia, Kampus Anak Kandung Suluh Budiman.Pendek kata, studi doktoral saya di FPE UPSI  Malaysia telah memberikan landasan yang berharga untuk memperdalam pengetahuan dan wawasan saya. Lingkungan akademik yang dinamis, hubungan yang saling memotivasi dan menginspirasi dengan rekan kerja, dan bimbingan dari supervisor saya secara kolektif telah memperkuat visi saya untuk memajukan dunia pendidikan.
# EDUKASI
# Opini

Naluri Striker: Kunci Kepemimpinan Pendidikan

Iwan Perdana
16 Februari 2026
Ada banyak striker handal di Berkah FC, antara lain Taher, Adhi, Alam, Midun, Memed dan H. Zahrani. Mereka jeli menempatkan posisi. Penyerang lainnya yang tak kalah tajam menyarangkan bola ke jala lawan dengan kecepatan berlari luar biasa adalah Kadir, Johan, Sajali, Rudi Tagan, dan Idham, . Barisan depan klub yang dikomandani Pak Rudiansyah, yang lebih akrab dipanggil Capt. Rudi, ini menakutkan tim lawan. Terbukti, Berkah FC selalu meraih trofi juara di kompetisi yang diselenggarakan Dispora Kalimantan Selatan, dan kejuaraan lainnya.Capt RudiDi tim sepak bola, posisi striker menjadi garda terdepan yang bertugas mencetak gol, menekan bek lawan, dan memaksimalkan peluang di kotak penalti. Mereka menjadi ujung tombak serangan, sering kali bertindak sebagai target man dan membuka ruang bagi rekan setim mencetak gol. Di era 1995–2000-an, ada banyak striker top dunia yang terkenal karena kecepatannya berlari dan ketajamannya menyarangkan bola ke gawang lawan. Salah satunya  adalah Thierry Henry, penyerang Arsenal. Pemain asal Perancis yang membela The Gunners tersebut dikenang sebagai salah satu penyerang terhebat yang sukses menghantarkan Arsenal juara Premier League, dan membawa Barcelona meraih juara Liga Champions.Selain kecepatan, teknik menggiring bola yang sangat baik, dan penyelesaian akhir yang mematikan. Henry dikenal sebagai striker yang tahu persis kapan harus “menembakkan” atau mengumpan dalam hitungan detik. Ia berani mengubah gaya permainannya, sering bergerak dari sayap ke tengah, menunjukkan fleksibilitas dalam mengambil keputusan posisi.Berkah FCStriker hebat lainnya di era 2000-an yang saya tahu adalah Didier Drogba. Pemain andalan Chelsea asal Pantai Gading berjuluk The King of Stamford Bridge ini dikenal memiliki kekuatan fisik luar biasa, kecerdasan taktis, dan kontrol bola yang baik. Keistimewaan Drogba lainnya adalah sering mencetak gol di momen krusial, seperti gol penyeimbang dan penentu kemenangan adu penalti di final Liga Champions 2012, serta rekor mencetak gol di empat final Piala FA.Berkah FCSeperti striker yang dituntut berpikir cepat untuk memutuskan mengoper ke kawan atau “menembakkan” bola langsung ke gawang lawan, dan kecerdasan mencari ruang untuk mencetak gol, seorang pemimpin organisasi, termasuk pimpinan lembaga pendidikan yang kredibel, juga dituntut untuk cepat membuat keputusan strategis melalui perhitungan matang dan cerdas dalam melihat peluang memajukan sekolah.Menetapkan Keputusan Strategis Melalui Perhitungan Matang Dalam hitungan detik, seorang striker menganalisis posisinya. Ia menghitung peluang  terciptanya gol kemenangan: dioperkan ke kawan atau menembakkan bola langsung ke gawang lawan. Jika striker egois, memaksakan diri mencetak gol padahal peluangnya kecil, maka kerja keras tim membangun serangan akan menjadi sia-sia. Gol tidak tercipta.Sebagai ujung tombak kebijakan, pemimpin lembaga pendidikan harus cermat membaca situasi eksternal: regulasi pemerintah terbaru, mengetahui kebutuhan orang tua, masyarakat dan dunia kerja, juga tidak kalah pentingnya mempelajari strategi kompetitor: sekolah atau kampus lain. Seperti striker yang dihadapkan pada dilema mengoper atau menembakkan bola, pimpinan harus cerdas memilih program unggulan yang tepat (misalnya: fokus pada riset internasional, pengabdian kepada masyarakat atau penguatan karakter dosen dan mahasiswa) sesuai dengan kondisi dan kebutuhan pasar. Setiap kebijakan harus berujung pada peningkatan mutu output pendidikan: lulusan berkualitas, dan prestasi lembaga.Cerdas Melihat Peluang Memajukan LembagaKing Henry tidak terpaku pada satu posisi. Ia cerdas mengubah gaya permainannya, cermat membaca situasi, dan memaksimalkan kemampuannya dalam mencetak gol. Fleksibilitas taktis ini membuatnya semakin mematikan.Seorang pemimpin lembaga pendidikan juga harus demikian. Ia harus kreatif dan berinovasi untuk memperbesar peluang agar lembaga yang dipimpinnya maju. Dia tidak boleh terpaku pada satu metode atau layanan yang itu-itu saja, tetapi harus cerdas membaca kebutuhan pasar dan perubahan zaman. Berkah FCPemimpin lembaga pendidikan berperan vital dalam memajukan lembaga yang dipimpinnya. Ia bukan sekadar figur seremonial yang duduk di belakang meja, melainkan ujung tombak yang berdiri paling depan, memahami kondisi lapangan, siap menerima tekanan, menanggung ekspektasi, dan mengubah setiap peluang menjadi kemajuan nyata.Idealnya seorang pemimpin lembaga pendidikan memiliki naluri striker:  tahu kapan harus maju, kapan harus menembakan bola, kapan harus mengoper, dan kapan harus menuju ruang ganti demi kemenangan tim. 
# EDUKASI
# Opini

Prodi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UNISKA Raih Akreditasi Unggul dari LAMDIK

Iwan Perdana
12 Februari 2026
"Saya sangat bersyukur dan berterima kasih atas kerja keras dekanat, dan tim task force akreditasi. Akreditasi unggul ini bukan hanya sebagai rekor pencapaian prodi di fakultas, tapi juga sebagai kesempatan emas untuk memajukan prodi menjadi lebih baik bukan hanya di level akreditasi nasional tapi juga level akreditasi internasional," tutur Fitra Ramadani S.Pd.,M.Pd., Kaprodi Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Universitas Islam Kalimantan (UNISKA) MAB Banjarmasin, Kamis (12/2/2026). Kalimat itu mengiringi kabar bahagia yang baru saja dirilis: PBI Uniska MAB Banjarmasin resmi menyandang predikat Akreditasi Unggul dari Lembaga Akreditasi Mandiri Kependidikan (LAMDIK). Sebuah penantian panjang, penantian yang tak hanya membuahkan pengakuan, tapi juga janji untuk terus melangkah maju. Ini adalah bukti nyata bahwa dedikasi dan kegigihan dapat mengantar sebuah institusi menuju puncak prestasi.Fitra Ramadani, S.Pd.,M.Pd., Kaprodi PBI Uniska MAB BanjarmasinAkreditasi "Unggul" bukan sekadar sertifikat, Ini adalah penegasan komitmen, sebuah stempel kualitas yang tak main-main. Predikat ini menegaskan PBI UNISKA serius menyelenggarakan pendidikan bahasa Inggris bermutu tinggi, relevan dengan dinamika global, dan siap mencetak lulusan berdaya saing. Bagi sebuah perguruan tinggi, cap "Unggul" ibarat magnet, penarik reputasi, pembuka pintu kerja sama, sekaligus pengokoh posisi di kancah pendidikan nasional.Perjalanan PBI Uniska meraih predikat ini cukup berliku. Pada asesmen lapangan awal oleh dua asesor LAMDIK, 25 s.d. 26 Juli 2025: FX. Ouda Teda Ena, M.Pd., Ed.D, dan Dr. Arina Shofiya, M.Pd, PBI UNISKA hanya menempati peringkat "Baik Sekali". Sebuah hasil yang, meski tidak buruk, namun dirasa belum sepenuhnya merefleksikan potensi serta dedikasi luar biasa yang telah dicurahkan sivitas akademika selama ini. Ada ganjalan. Ada asa yang lebih tinggi.Dekan FKIP Uniska MAB Banjarmasin, Dr. Hengki, S.S., M.Pd., tak tinggal diam. Dengan sigap, Beliau mengambil langkah strategis. Pada 30 September 2025, surat permohonan banding dilayangkan.  Perjuangan banding itu berbuah manis. Setelah melalui tahapan asesmen lapangan banding yang ketat pada 21 hingga 24 Januari 2026, oleh tim asesor baru—Prof. Dr. Erna Iftanti, S.S., M.Pd, Prof. Dr. Ida Ayu Made Sri Widastuti, S.Pd., M.Pd., M.Hum, serta Ketua Majelis Akreditasi Prof. Dr. Sutrisna Wibawa, M.Pd., akhirnya LAMDIK mengeluarkan Keputusan No: 241/SK/LAMDIK/Ak-BDG/S/II/2026. Isinya gamblang: PBI FKIP UNISKA MAB Banjarmasin memenuhi syarat meraih peringkat Unggul. Sertifikat prestisius ini berlaku lima tahun, dari 22 September 2025 hingga 21 September 2030."Kami sungguh bersyukur dan bangga. Ini buah kerja keras tak kenal lelah seluruh sivitas akademika, dukungan pimpinan, hingga para mitra strategis, serta alumni yang menunjukkan semangat kemajuan FKIP Uniska MAB," ungkap Dr. Hengki, penuh rasa bangga  mendapatkan hasil sesuai harapan.  Kebahagiaan serupa juga dirasakan Arbain, S.Pd., M.Pd., dosen senior yang turut serta dalam penyusunan borang akreditasi. "Alhamdulillahirabbil'alamin atas keberhasilan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Uniska  dalam meraih predikat Akreditasi Unggul. Semoga keberhasilan ini menjadi berkah bagi kita semua dan semakin memotivasi kami untuk terus mencetak lulusan pendidik bahasa Inggris yang berkualitas, berkarakter, dan berdaya saing global," katanya, menatap masa depan dengan penuh harap.Kaprodi, Fitra Ramadani, menambahkan "Akreditasi unggul ini menegaskan bahwa prodi Pendidikan Bahasa Inggris Uniska MAB Banjarmasin adalah salah satu prodi bahasa Inggris terbaik di Kalimantan Selatan. Dosen-dosen yang kompeten dalam pengajaran, penelitian dan pengabdian, sistem pendidikan yang unggul, fasilitas yang sangat memadai untuk mendukung perkuliahan berlangsung lancar adalah gambaran dari akreditasi unggul."Kebanggaan ini juga dirasakan Sonia, S.Pd., alumnus PBI Uniska angkatan 2018 yang kini mengajar di SDN 4 Asam-Asam, Kabupaten Tanah Laut."Alhamdulillah, Selamat kepada PBI Uniska atas kesuksesan meraih peringkat akreditasi Unggul. Sebagai alumna, saya merasa sangat bangga dan terhormat," ujarnya. Predikat Unggul ini, bagi Fitra Ramadani, bukanlah akhir dari segalanya. Justru, ini adalah awal dari tanggung jawab yang lebih besar. "Semoga akreditasi ini akan terus dipertahankan dan juga ditingkatkan lagi yang akan tercermin dalam kepercayaan masyarakat kepada PBI Uniska MAB di masa yang akan datang," pungkasnya. Sebuah komitmen, sebuah janji, untuk terus menyalakan obor pendidikan di Bumi Lambung Mangkurat.
# BERITA
# Pendidikan

7 Resep Jitu Yuliana Nurhayati, M.Pd Meredam Pasang Surut Motivasi Belajar

Edubanua.com
5 Februari 2026
Krisis semangat belajar sering menghantui, namun Yuliana Nurhayati, M.Pd, Wakil Ketua Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, menawarkan tujuh kiat praktis yang melampaui kurikulum formal demi menjaga api motivasi belajar tetap menyala.Pendidikan, dalam pandangan para ahli, memang laksana sungai yang tak pernah berhenti mengalir. Batasan maknanya terus berubah seiring berkembangnya temuan dan pola pikir baru. Namun, di tengah pusaran teori itu, ada satu masalah abadi yang kerap meredupkan cahaya generasi muda: pasang surut motivasi belajar.Bukan rahasia lagi, semangat menuntut ilmu seringkali naik turun, bahkan cenderung lebih banyak merosot. Kita semua tahu pendidikan penting, krusial untuk membentuk karakter, moral, dan etika, serta menumbuhkan pemikiran kritis. Tapi bagaimana menjaga 'bahan bakar' itu agar tidak habis di tengah jalan?Yuliana Nurhayati, M.Pd memiliki pandangan yang menyegarkan. Ia menolak definisi belajar yang kaku. Pembelajaran, katanya, jauh lebih luas dari dinding kelas dan tumpukan buku. “Pendidikan tidak selalu formal: berkutat dengan buku-buku atau e-book berisi materi pelajaran, berjumpa guru atau dosen,” ujarnya lugas. “Pembelajaran bisa saja diperoleh dari luar lembaga pendidikan formal, seperti bersinergi dengan alam, melihat lingkungan sekitar, dan memperhatikan kehidupan masyarakat. Tidak kalah pentingnya berinteraksi dengan sesama yang akan menjadikan kita menjadi bijak.”Filosofi belajar holistik ini menjadi landasan bagi tujuh resep praktis yang ia tawarkan. Resep pertama adalah fundamental: Ingat tujuan hidup dan tumbuhkan kesadaran manfaat belajar. Mengapa kita harus repot-repot membuka buku? Mengapa harus bersusah payah menguasai keterampilan baru? Jika alasan (the 'why') itu kuat, konsistensi belajar akan datang dengan sendirinya.Ia menekankan pentingnya adab dalam mencari ilmu. Hormati orang berilmu, ikuti jejak mereka. Sebab, ilmu itu sangat luas, takkan cukup waktu untuk mempelajari semua. Ini membawa kita pada kiat keempat: Prioritaskan belajar pada bidang yang hendak dikuasai atau sesuai pekerjaan. Selebihnya? Cukup untuk menambah wawasan.Yang paling menarik, Yuliana mendorong generasi muda untuk berhenti membandingkan diri. Fokuslah pada usaha meningkatkan kualitas diri sendiri. "Jangan minder melihat kehebatan orang lain," pesannya. Ketika kita fokus pada pertumbuhan internal, kita akan terhindar dari penyakit hati yang merusak motivasi.Prinsip ini beriringan dengan kiat keenam: Jangan pernah merendahkan orang lain. Setiap individu memiliki kelebihan dan kekurangan yang unik. Kesombongan dan rasa minder adalah dua sisi mata uang yang sama-sama mematikan semangat juang.Pada akhirnya, motivasi belajar harus bermuara pada aksi yang berdampak. Kiat penutupnya adalah belajar dari orang-orang hebat yang memiliki ketajaman berpikir dan banyak melakukan aksi positif ke masyarakat. Inilah kunci untuk mengubah ilmu menjadi kebijaksanaan, dan karakter menjadi aksi nyata. Pendidikan sejati, sesungguhnya, adalah proses menjadi bijak.  
# EDUKASI
# Opini

Prodi PBI UNISKA MAB Banjarmasin Gelar Seminar Proposal Skripsi, Tekankan Metodologi dan Nalar Kritis

Iwan Perdana
4 Februari 2026
"Ada perasaan takut dan gugup sebelum menjalani seminar proposal, tetapi setelah dijalani ternyata tidak sesulit yang dibayangkan. Para penguji sangat suportif dan memberikan saran yang sangat membantu untuk penelitian saya." Pengakuan Amanda Zahratunnisa, salah satu peserta sempro, ini mewakili gejolak batin peserta Seminar Proposal Skripsi Prodi PBI UNISKA MAB Banjarmasin yang digelar Rabu (4/02/26) di Kampus Utama yang berlokasi di Jl. Adhyaksa No. 2, Kayu Tangi, Kota Banjarmasin Ruang English Corner lt.3 Gedung A.Bagi institusi pendidikan tinggi, skripsi tidak sekadar menjadi syarat administratif kelulusan. Ia adalah bukti otentik bahwa mahasiswa telah mendalami suatu bidang ilmu secara komprehensif. Proses Seminar Proposal Skripsi menjadi gerbang formal untuk menguji kemampuan mereka dalam berpikir kritis, logis, serta mengaplikasikan teori yang telah dipelajari.Sekretaris Prodi PBI UNISKA, Hartatya Novika, M.Pd, menegaskan pentingnya forum tersebut. Tujuannya jelas: menguji kemampuan mahasiswa mempresentasikan serta mempertahankan proposalnya, sekaligus menyerap masukan berharga dari dosen penguji. Tujuannya mulia, demi memastikan skripsi S1 berkualitas yang dihasilkan nanti akan berdampak positif.Dalam atmosfer akademik yang serius, tekanan utama diletakkan pada fondasi penelitian. Dr. Hengki, M.Pd, Penguji sekaligus Dekan FKIP, menekankan satu hal vital, yakni pentingnya Metodologi Penelitian yang benar. "Kami sangat menekankan pentingnya Metodologi penelitian yang benar untuk menjamin validitas, reliabilitas, dan kualitas data yang dihasilkan," ujarnya. Baginya, penelitian yang baik harus berdampak positif, bukan hanya tumpukan kertas.Namun, di balik ketegasan akademik tersebut, drama mental tetap tak terhindarkan. Widya, mahasiswa peserta seminar, jujur mengakui perasaannya. "Isi hati tidak karuan, nervous berkelanjutan, dan overthink," katanya ringkas. Perasaan gugup ini adalah harga yang harus dibayar saat menghadapi panel penguji yang kompeten.Di sinilah peran Arbain, M.Pd, dan rekan dosen lainnya menjadi sangat krusial. "Tantangan dalam menguji seminar proposal skripsi adalah selain menilai Orisinalitas penelitian, juga memberikan kritik yang tajam namun tetap suportif tanpa menjatuhkan mental mahasiswa," jelas Arbain. Kritik harus membangun. Kekritisan penguji diperlukan untuk mengasah nalar logis mahasiswa, sebagaimana disampaikan Kaprodi PBI, Fitra Ramadani, M.Pd. Ketika proses tanya jawab dan masukan rampung, mahasiswa tidak hanya membawa pulang catatan revisi, tetapi juga panduan yang lebih terarah. Suasana lega yang dirasakan Amanda setelah seminar membuktikan bahwa ketakutan terbesar seringkali hanya ada di kepala. 
# BERITA
# Pendidikan

Dari Zona 14 ke Zona Kurikulum: Playmaker Tidak Hanya di Lapangan Hijau. Mereka Juga Ada di Sekolah

Iwan Perdana
2 Februari 2026
Kebanyakan laki-laki suka bermain sepak bola, saya salah satunya. Sejak kecil, saya sudah menggandrungi permainan yang sangat populer di seluruh dunia ini. Hampir saban hari saya bersentuhan dengan bola, baik di sekolah, tanah lapang di kampung, dan lapangan sepak bola kayu tangi di bawah arahan Pak Udi (Alm), dan Mas Yanto. Saya tak lagi bermain bola selepas tahun 2000. Memori indah yang tersimpan hingga kini adalah mencetak gol di final liga Fakultas Ekonomi ULM Banjarmasin yang menghantarkan tim Angkatan 95 meraih juara di kompetisi terakhirnya.Berkah FCApi semangat mengejar bola kembali menyala beberapa tahun silam setelah Bang Amat, sohib masa kecil, mengenalkan saya kepada Pak Rudiansyah, pimpinan Berkah FC. Walau sebenarnya fisik tak lagi prima, dengan niat menjalin silaturahmi dan berolah raga, saya ikut bermain di lapangan kayu tangi setiap senin dan kamis jika tidak ada kesibukan di kampus. Di tim yang sangat solid inilah saya berkawan dengan pemain-pemain hebat di lapangan, dan sangat ramah di luar lapangan. Apa yang saya paparkan dalam tulisan singkat ini mungkin tidak begitu tepat, namun semoga tetap menarik untuk ditelaah. Saya mencoba mengaitkan  sepak bola dengan manajemen pendidikan, tepatnya ilmu terapan (applied science) yang berada di bawah naungan ilmu pendidikan. Disiplin ilmu yang saya pelajari. Saya menganalogikan salah satu posisi di tim sepak bola, yaitu Playmaker (Attacking Midfielder) dengan salah satu struktur strategis di manajemen sekolah, yaitu  Koordinator Pengembangan Kurikulum & Inovasi Pembelajaran.Kiri ke kanan: Iyus, Budi, Kaslian, Iwan, RudiansyahDalam sebuah tim sepak bola, Playmaker bertindak sebagai otak serangan yang beroperasi di antara lini tengah dan depan. Seorang playmaker tak selalu mencetak gol, tetapi dialah otak di balik setiap peluang yang tercipta. Di Berkah FC, ada empat pemain berpengalaman yang memainkan posisi ini, yaitu Kapten Rudi, Taufik, Budi Riva, dan Izul. Mereka beroperasi di "Zona 14", area krusial di depan kotak penalti lawan. Dengan visi bermain yang kuat, ditopang  teknik, dan kemampuan dribbling yang sangat baik, keempat pemain andalan tersebut bertugas mengatur tempo, menciptakan peluang gol melalui umpan terobosan jitu, serta mendikte jalannya permainan. Di dunia pendidikan, di "lapangan" yang bernama sekolah, peran serupa playmaker dimainkan oleh seorang Koordinator Pengembangan Kurikulum dan Inovasi Pembelajaran. Umumnya jabatan ini dipercayakan kepada wakil kepala sekolah bidang kurikulum. Mereka adalah playmaker pendidikan, arsitek tak terlihat yang merancang skenario agar setiap "gol" pembelajaran—yaitu pemahaman mendalam dan keterlibatan siswa—tercapai.Taufik, Playmaker Berkah FCJika playmaker sepak bola menguasai “zona 14” (area antara lini tengah dan penyerang), playmaker pendidikan beroperasi di “zona transisi” yang kritis. Mereka harus mampu menjembatani visi strategis kepala sekolah dan realitas harian di kelas. Tugas mereka bukan mengeksekusi, tetapi membuat eksekusi menjadi mungkin terjadi dan efektif. Umpan terukur (assist) seorang playmaker sepak bola, dalam pendidikan, berwujud desain pembelajaran yang brilian: sebuah skenario Project-Based Learning yang kontekstual, rubrik penilaian autentik, atau modul digital interaktif yang mereka siapkan untuk guru-guru. Mereka "mengumpan" para guru (para striker) untuk mencetak gol di depan siswa.Kemampuan membaca permainan (game intelligence) playmaker di lapangan sepak bola, di dunia pendidikan diterjemahkan menjadi analisis kebutuhan pembelajaran. Mereka melihat "celah" antara kurikulum nasional dan konteks lokal, antara minat siswa dan materi pelajaran, lalu merancang strategi untuk memanfaatkan celah tersebut menjadi peluang belajar yang menarik.Berkah FCJika playmaker sepak bola menentukan kapan serangan dipercepat atau diperlambat, playmaker pendidikan memastikan alur pembelajaran sesuai ritme siswa—tidak membebani, juga tidak membosankan. Pada intinya, playmaker pendidikan adalah jembatan penghubung vital yang menerjemahkan kebijakan menjadi praktik, teori menjadi aksi, dan data menjadi strategi. Tanpa mereka, serangan pedagogis sebuah sekolah berisiko menjadi kaku, terfragmentasi, dan kurang kreatif.Seperti Kapten Rudi, Taufik, Budi Riva, dan Izul yang berperan penting menentukan ritme permainan Berkah FC sehingga tim ini berulang kali meraih tropi di kejuaraan sepak bola yang diselenggarakan Dispora Kalimantan Selatan, peran wakil kepala sekolah bidang kurikulum juga menentukan kualitas pendidikan di sebuah sekolah. Apabila pembelajaran di sekolah terasa hidup, dinamis, dan penuh penemuan, maka itu semua karena kepiawaian Koordinator Pengembangan Kurikulum dan Inovasi Pembelajaran, playmaker yang bermain di balik layar,  merancang pertunjukan, menyiapkan senjata bagi para guru, dan memastikan setiap serangan pembelajaran berakhir dengan gol kompetensi yang gemilang. 
# EDUKASI
# Opini

Pelantikan Pengurus HMJ Bimbingan dan Konseling FKIP UNISKA MAB Banjarmasin Periode 2025-2026

Iwan Perdana
30 Januari 2026
“Kepercayaan yang Anda terima hari ini diiringi tanggung jawab moral, akademik, dan organisasi. Jadilah pengurus yang tidak hanya aktif dalam kegiatan, tetapi juga mampu menjadi teladan dalam sikap, perilaku, dan prestasi akademik."Nasihat tegas namun penuh kasih itu meluncur dari Dr. Ani Wardah, M.Pd, Ketua Program Studi (Kaprodi) Bimbingan dan Konseling (BK) Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari Banjarmasin (UNISKA MAB Banjarmasin), saat melantik Nayla Nasywa sebagai Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Bimbingan Konseling UNISKA Periode 2025-2026. Beliau menggantikan Muhammad Habibie, M.Pd, Wakil Dekan III yang berhalangan hadir.Pemandangan pagi di Kampus UNISKA MAB Banjarmasin, Jumat (30/01/2026), menjadi saksi momen krusial ini. Nayla Nasywa, didampingi jajaran inti yang solid, resmi mengemban amanah memimpin organisasi yang menjadi jantung bagi mahasiswa Bimbingan dan Konseling.Ini bukan sekadar seremonial. Ini adalah penyerahan tongkat estafet penting bagi pembentukan karakter konselor profesional di Kampus utama yang terletak di Jl. Adhyaksa, Jl. Kayu Tangi 1 Jalur 2 No. 2, Sungai Miai, Kec. Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan.Di tengah maraknya isu kesehatan mental, peran mahasiswa Bimbingan dan Konseling jauh melampaui sekadar menguasai teori psikologi. Mereka dituntut memiliki kepekaan sosial, etika profesi yang kuat, serta kemampuan empati yang mendalam. Modal ini adalah kunci utama untuk menjadi konselor profesional yang mumpuni. Inilah mengapa kehadiran HMJ Bimbingan dan Konseling UNISKA MAB Banjarmasin sangat vital; ia berfungsi sebagai kawah candradimuka, wadah utama untuk mengasah kepemimpinan mahasiswa BK, karakter, dan profesionalitas.Dalam satu periode ke depan, tantangan Nayla dan timnya adalah menyusun program yang responsif, tidak hanya bagi kebutuhan internal kampus, tetapi juga bagi masyarakat dan lingkungan persekolahan. Mereka harus mampu menjembatani ilmu yang didapat di kelas dengan realitas di lapangan. Estafet kepemimpinan ini diserahkan oleh Selvia Amalia, Ketua Umum periode sebelumnya. Nada haru terasa saat Selvia berpesan kepada pengurus baru. "Teruslah berinovasi, tetap rendah hati, dan jaga integritas. Saya percaya kalian mampu membawa HMJ-BK Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin menjadi organisasi yang lebih aktif, inklusif, dan progresif,” ujarnya, memberi semangat tulus.Menanggapi tantangan dan dukungan tersebut, Nayla Nasywa menyampaikan rasa syukur sekaligus optimisme. Visi yang dibawanya jelas: kolaborasi adalah harga mati. "Dengan dukungan dan kerja sama dari seluruh pengurus, senior, serta pihak terkait, Saya yakin HMJ-BK UNISKA MAB Banjarmasin akan berkontribusi positif bagi jurusan, FKIP, dan Universitas. Mari kita berjalan bersama, saling merangkul, dan tumbuh menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sesama," janji Nayla, menutup pidatonya.Dalam menjalankan roda organisasi, Nayla akan didukung Muhammad Supian Ilham sebagai Wakil Ketua Umum, Amara Huda (Sekretaris Umum), dan Cahaya Kamila (Bendahara Umum).Guna memastikan visi membentuk Konselor Profesional berintegritas dapat terwujud secara nyata, kepengurusan terbagi dalam empat divisi strategis, yaitu Divisi Pendidikan dan Kebudayaan diketuai Auni Azri, Divisi Minat dan Bakat  diketuai Muhammad Hafiez, Divisi Komunikasi dan Informasi di bawah pimpinan Riana Amelia, dan Divisi Koordinator Sekretariat dipimpin oleh Salia.
# BERITA
# Pendidikan

  Youtube

Surah Ar-Rahman | Aniq Muhai

  Informasi

Selamat Hari Guru Nasional
Arah Pendidikan Nasional & Transformasi Pendidikan Lokal di Daerah
Kupas Tuntas: Kurikulum, Inklusi, dan Seni di Sekolah Dasar
Momentum Kebangkitan Nasional Melalui Peningkatan Kualitas Pendidikan