Beranda > Edukasi

  Postingan Terbaru

Belajar Manajemen Pendidikan dari Berkah FC dan Kafe Midun

Edubanua.com
31 Mei 2026
Warung Pak Kaslian menjadi sekolah nonformal kepemimpinan, sportivitas, dan solidaritas," ujar Iwan Perdana, Ph.D pada Sabtu (30/5/2026). Menurut akademisi manajemen pendidikan pendiri Lanting Literasi Indonesia.or.id tersebut, karakter Tim Berkah FC ternyata tidak hanya dibentuk melalui latihan rutin di Lapangan Kayutangi Ujung, tetapi juga melalui dialog-dialog jujur di atas meja-kursi kayu warung Pak Mak Midun.Lebih familiar dengan sebutan Kafe Midun, warung yang didirikan Pak Kaslian— akrab dipanggil Pak Midun, atau Bapa Madona, berlokasi di Belitung Darat. Warung makan ini terbuka untuk umum. Para pemain Berkah FC yang dulunya bernama Pelangi FC sering berkumpul di sini. Bahkan hampir tiap hari.Kiri ke Kanan: Taher, Rudi, Ody, Rusdi, Anonim, Tagan, H. Juman, Kadir, KaslianMelalui pesan WhatsApp, edubanua.com mewawancarai beberapa pemain yang sering nongkrong di kafe Bapak Madona. "Asyik aja kalau lagi ngumpul bahas bola," ujar Kadir— gelandang bertahan. “Saya senang berkumpul di warung Pak Midun, silaturahmi biar tambah tambah akrab," ungkap Yuspi—bek bertahan yang merasakan hangatnya kekeluargaan di sana. Senada dengan itu, Bahrudin merasa kenyamanan adalah kunci utama. "Rame aja berkumpul di Kafe Pak Midun sambil bakisahan bola," jawabnya. Suasana ini diamini oleh Taufik—gelandang serang Berkah FC. "Di sana suasananya enak seperti di rumah sendiri dan banyak teman-teman mengerti tentang permasalahan bola," ujarnya.Iwan Perdana, Ph.D, akademisi alumnus UPSI Malaysia melihat irisan sosiologi dan olahraga yang kuat di Berkah FC. Menurutnya, Kafe Pak Midun bukan sekadar tempat nongkrong. Warung ini menjadi laboratorium sosial tempat karakter tim dibentuk, juga dapat dijadikan analogi menarik untuk manajemen pendidikan. Beliau juga melihat peran tiga tokoh kunci klub yang sering melakukan laga away ini —Rudiansyah (kapten Tim sekaligus manajer tim), H. Juman (pembina), dan Kaslian (senior sekaligus asisten manajer)—menjadi penentu. Ketiganya membangun ekosistem kepemimpinan yang menjamin kelancaran operasional tim.Kiri ke kanan: Dahri, Iyus, Kadir, Kaslian, IssayRudi, sebagai kapten dan manajer tim, adalah komandan operasional. Sebagai Ketua klub, Ia merupakan magnet berkumpulnya para pemain Berkah FC.  Iwan Perdana menceritakan pengalamannya ikut nimbrung di Kafe. “Kapten Rudi aktif berinisiatif mencairkan suasana dengan bertanya kabar? Kemudian mengulas permainan yang rutin dilakukan setiap Senin dan Kamis, melibatkan rekan dalam memutuskan lawan sparring, atau ngobrol santai topik terkini seputar bola” ungkapnya. Dalam konsep kepemimpinan, menurut Iwan Perdana, Kapten Rudi adalah contoh nyata dari praktik Transformational Leadership dan Peer Leader yang mempraktikkan perhatian individual (individualized consideration), komunikasi terbuka, dan tanggung jawab kolektif.“H. Juman adalah penjaga moral tim,” ujar Iwan Perdana. Hal ini berdasarkan pengamatannya meski tidak selalu ikut latihan, tetapi sang pembina memberikan efek psikologis yang kuat. Di setiap pertemuan selalu “dituakan” untuk memimpin doa dan menyampaikan pesan-pesan positif. Dalam manajemen pendidikan, Beliau berfungsi sebagai supervisor dan moral compass yang memastikan warung tetap menjadi ruang belajar positif.Kaslian menjadikan kafenya tempat netral tanpa sekat. Pemain inti dan cadangan dilayani sama. Meja-kursi warungnya mencatat beragam aspirasi dan kritik. Sesekali Beliau memberikan minum gratis kepada pemain yang membantu membereskan warung. Iwan Perdana menyebutkan dalam manajemen pendidikan, Peran Kaslian adalah enabler dan learning resources manager yang menata lingkungan agar pembelajaran karakter berlangsung alami.Berkah FC_Laga AwayKapten Rudi menggerakkan tim, H. Juman mengawal nilai, dan Kaslian memfasilitasi. Ketiganya sukses mengubah “Kafe Midun” menjadi sekolah nonformal kepemimpinan, sportivitas, dan solidaritas para pemain Berkah FC. Dianalogikan di bidang pendidikan, Sekolah idealnya menjadi wadah berkumpul yang dikelola secara sadar, dengan peran yang jelas, sehingga melahirkan tim tangguh yang meningkatkan mutu pembelajaran.
# EDUKASI
# Opini

Cetak Biru Manajemen Pendidikan di Balik Kisah Qurban

Edubanua.com
28 Mei 2026
Opini kali ini menampilkan ulang tulisan Dr. Iwan Perdana di website https://www.lantingliterasiindonesia.or.id/ yang berjudul Cetak Biru Manajemen Pendidikan di Balik Kisah Qurban pada tanggal 28 Mei 2025.Dituliskan oleh Beliau bahwa dalam perspektif pendidikan, percakapan antara Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail menggambarkan keberhasilan manajemen pendidikan karena mampu mengubah instruksi/perintah (kurikulum) menjadi sebuah kesadaran sukarela warga sekolah untuk melaksanakannya.Diawali dengan kalimat yang menceritakan memorinya saat masih berstatus mahasiswa semester 3. Pada saat itu, salah satu grup Nasyid asal Malaysia yang terkenal, Raihan, meluncurkan lagu berjudul “Iman Mutiara". Lirik pada bagian reff (chorus) lagu tersebut berbunyi: “Iman tak dapat diwarisi dari seorang ayah yang bertakwa. Beliau kemudian menyebutkan Kan’an, yang menolak ajakan Nabi Nuh untuk bertauhid kepada Allah SWT (QS. Hud Ayat 42–43). Beliau juga menyebutkan kisah yang diabadikan dalam Al Qur’an tentang Ayah dan anak yang bertaqwa— kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS, yang kemudian menjadi asal mula pelaksanaan ibadah yaitu. Ditampilkan percakapan antara keduanya sangat menyentuh hati. Memotivasi siapapun yang membaca kisahnya untuk memperbanyak doa agar memiliki keturunan yang saleh/ah, sekaligus introspeksi seberapa baik dalam mendidik anak. “Maka ketika anak itu sampai pada (umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, ‘Wahai anakku!' Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!' Dia (Ismail) menjawab, 'Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku, termasuk orang yang sabar.'”(QS. Ash-Shaffat ayat 102). Dipaparkannya bahwa ayat tersebut mengandung banyak hikmah, antara lain ujian ketaatan, pentingnya komunikasi antara orang tua dan anak, dan kesabaran. Perintah Allah SWT  yang sangat berat untuk menguji ketundukan mutlak kepada Allah SWT.Disebutkan bahwa sebelum melaksanakan perintah, Nabi Ibrahim menyampaikannya terlebih dahulu kepada Nabi Ismail untuk meminta pendapatnya. Pendekatan ini menunjukkan pentingnya komunikasi dua arah antara orang tua dan anak. Persetujuan Nabi Ismail adalah bentuk bakti yang luar biasa kepada ayahnya sekaligus ketaatan kepada Allah SWT. Keikhlasan Nabi Ismail adalah bukti keberhasilan penanaman tauhid dari seorang ayah kepada anaknya sejak dini.Selanjutnya Beliau mengaitkannya dengan manajemen pendidikan, bahwa peristiwa yang menjadi asal mula ibadah Qurban tersebut memberikan banyak Pelajaran termasuk dapat menjadi cetak biru (blueprint) manajemen pendidikan karakter dan kepemimpinan yang sangat modern, antara lain: 1.   Pendidikan Berbasis Karakter2.   Participative Leadership3.   Manajemen Komunikasi  Pendidikan Berbasis KarakterIwan Perdana, Ph.D menyebutkan keikhlasan Nabi Ismail melaksanakan perintah Allah SWT adalah buah dari penanaman tauhid Nabi Ibrahim sejak dini. Menurutnya, dalam Manajemen pendidikan, karakter unggul tidak terbentuk dari sekadar pemahaman teori di kelas, tetapi juga dari praktik di lapangan melalui latihan dan proses yang panjang. Kolaborasi sekolah dan keluarga memainkan peran yang sangat penting dalam pembentukan karakter mulia pada diri anak. Participative Leadership, dan Komunikasi dua arahNabi Ibrahim tidak memerintahkan anaknya agar melaksanakan perintah Allah SWT secara otoriter. Bapak para Nabi tersebut mengajarkan urgensi menghargai martabat anak sebagai fondasi utama dalam pendidikan karakter. Komunikasi resiprokal—transparan tentang tujuan, terbuka pada dialog, dan penuh penghormatan—terlihat dari percakapan keduanya.Iwan Perdana menyatakan dalam manajemen pendidikan, Gaya kepemimpinan yang melibatkan bawahan dalam pengambilan keputusan terkadang sangat diperlukan (Participative Leadership). Selain itu, seorang pemimpin harus mampu mengomunikasikan visi besarnya kepada orang-orang yang dipimpinnya, serta mempraktikkan komunikasi dua arah dalam rangka membangun kesadaran kolektif. Pemimpin lembaga pendidikan harus meneladani gaya komunikasi Nabi Ibrahim (Role Model), yakni menjelaskan visi besar, meminta pendapat, dan melibatkan warga sekolah dalam proses pendidikan. Semoga Idul Adha 1447 semakin menebalkan rasa keimanan kita kepada Allah SWT, dan menjadi pedoman kita dalam beraktivitas di dunia pendidikan.
# EDUKASI
# Opini

Mengapa Waka Kesiswaan Harus Seperti Gelandang Bertahan?

Edubanua.com
1 Maret 2026
Mendominasi pertandingan tidak menjamin kemenangan. Saya pernah menyaksikan ini pada piala dunia tahun 1990. Kala itu, Brazil yang menguasai jalannya laga akhirnya takluk dari Argentina di babak 16 besar. Umpan Diego Maradona yang dikonversi dengan baik oleh Claudio Caniggia menjadi gol pada menit ke-80 memaksa Dunga dan kawan-kawan angkat koper lebih awal.Meski kekalahan Brasil pada saat itu bukan disebabkan kelengahan pemain bertahan, tetapi karena kejeniusan pemain berjuluk Hand of God, namun ingatan tentang duel antara Argentina dan Brasil di babak 16 besar Piala Dunia 1990, yang digelar di Stadion Delle Alpi, Turin, Italia itu menginspirasi saya membahas tentang posisi pemain bertahan.Di tim sepak bola, semua posisi memainkan peran penting. Tidak hanya striker dan playmaker, posisi gelandang bertahan juga sangat menentukan. Di Berkah FC, lini pertahanan dikawal ketat  3 pilar handal: Ody, Yuspi dan Dahri. Kiri ke ke kanan: Yuspi, Ody & Dahri.Ody dan Yuspi tipikal pemain gelandang bertahan sejati. kemampuan mereka membaca permainan (antisipasi), akurasi operan tinggi, dan ketenangan di bawah tekanan layak diacungi jempol. Sementara Dahri adalah tipe gelandang bertahan modern Istimewa. Berbekal stamina prima: bernafas kuda, ia rajin membantu serangan. Kecepatan dan keberaniannya berduel sangat merepotkan pemain lawan. Kolaborasi Ody, Yuspi, dan Dahri menjauhkan kiper: Haris atau Rusdi dari  ancaman striker lawan.Ody & IyusIwan Perdana, Ph.D.,alumnus Program doktoral Manajemen Pendidikan UPSI Malaysia, menganalogikan pemain gelandang bertahan dengan jabatan struktural pada lembaga pendidikan. Menurutnya, dalam perspektif manajemen pendidikan, jabatan dalam tata Kelola sekolah yang memiliki karakter serupa dengan gelandang bertahan adalah wakil kepala sekolah bidang kesiswaan.Capt Rudi & OdyTujuan utama pendidikan adalah mengembangkan seluruh potensi peserta didik secara utuh—mencakup intelektual, karakter, emosional, dan spiritual—untuk menjadi manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, cerdas, mandiri, dan bertanggung jawab.Wakil kepala sekolah bidang kesiswaan membantu kepala sekolah mewujudkan tujuan tersebut. Ia bertugas merencanakan, membina, dan mengawasi seluruh kegiatan siswa (non-akademik), menegakkan tata tertib, mengatur OSIS/ekstrakurikuler, serta mengelola 7K (Keamanan, Kebersihan, Ketertiban, Keindahan, Kekeluargaan, Kerindangan, Kesehatan) untuk menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif.Oleh karena itu, wakasek kesiswaan menjadi filter pertama yang melindungi proses pendidikan dari bahaya:  masalah disiplin siswa, konflik antar teman, pelanggaran tata tertib. Ia bertugas menjaga iklim sekolah tetap kondusif agar "gawang"- tujuan pendidikan- tidak kebobolan.Berkah FCTidak dapat dibayangkan sebuah sekolah tanpa Waka Kesiswaan yang tegas. Konsekuensinya sangat menakutkan. Para guru—yang berperan sebagai gelandang serang kreatif dipaksa turun menjadi gelandang bertahan dadakan—turun tangan mengurusi masalah-masalah: Siswa bolos, tawuran, dan suasana belajar tidak nyaman.  Ini menyebabkan mereka akan kehilangan fokus, kreativitas mengajar mati, dan prestasi siswa (gol) akhirnya tidak akan tercipta.   
# EDUKASI
# Opini

7 Resep Jitu Yuliana Nurhayati, M.Pd Meredam Pasang Surut Motivasi Belajar

Edubanua.com
5 Februari 2026
Krisis semangat belajar sering menghantui, namun Yuliana Nurhayati, M.Pd, Wakil Ketua Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, menawarkan tujuh kiat praktis yang melampaui kurikulum formal demi menjaga api motivasi belajar tetap menyala.Pendidikan, dalam pandangan para ahli, memang laksana sungai yang tak pernah berhenti mengalir. Batasan maknanya terus berubah seiring berkembangnya temuan dan pola pikir baru. Namun, di tengah pusaran teori itu, ada satu masalah abadi yang kerap meredupkan cahaya generasi muda: pasang surut motivasi belajar.Bukan rahasia lagi, semangat menuntut ilmu seringkali naik turun, bahkan cenderung lebih banyak merosot. Kita semua tahu pendidikan penting, krusial untuk membentuk karakter, moral, dan etika, serta menumbuhkan pemikiran kritis. Tapi bagaimana menjaga 'bahan bakar' itu agar tidak habis di tengah jalan?Yuliana Nurhayati, M.Pd memiliki pandangan yang menyegarkan. Ia menolak definisi belajar yang kaku. Pembelajaran, katanya, jauh lebih luas dari dinding kelas dan tumpukan buku. “Pendidikan tidak selalu formal: berkutat dengan buku-buku atau e-book berisi materi pelajaran, berjumpa guru atau dosen,” ujarnya lugas. “Pembelajaran bisa saja diperoleh dari luar lembaga pendidikan formal, seperti bersinergi dengan alam, melihat lingkungan sekitar, dan memperhatikan kehidupan masyarakat. Tidak kalah pentingnya berinteraksi dengan sesama yang akan menjadikan kita menjadi bijak.”Filosofi belajar holistik ini menjadi landasan bagi tujuh resep praktis yang ia tawarkan. Resep pertama adalah fundamental: Ingat tujuan hidup dan tumbuhkan kesadaran manfaat belajar. Mengapa kita harus repot-repot membuka buku? Mengapa harus bersusah payah menguasai keterampilan baru? Jika alasan (the 'why') itu kuat, konsistensi belajar akan datang dengan sendirinya.Ia menekankan pentingnya adab dalam mencari ilmu. Hormati orang berilmu, ikuti jejak mereka. Sebab, ilmu itu sangat luas, takkan cukup waktu untuk mempelajari semua. Ini membawa kita pada kiat keempat: Prioritaskan belajar pada bidang yang hendak dikuasai atau sesuai pekerjaan. Selebihnya? Cukup untuk menambah wawasan.Yang paling menarik, Yuliana mendorong generasi muda untuk berhenti membandingkan diri. Fokuslah pada usaha meningkatkan kualitas diri sendiri. "Jangan minder melihat kehebatan orang lain," pesannya. Ketika kita fokus pada pertumbuhan internal, kita akan terhindar dari penyakit hati yang merusak motivasi.Prinsip ini beriringan dengan kiat keenam: Jangan pernah merendahkan orang lain. Setiap individu memiliki kelebihan dan kekurangan yang unik. Kesombongan dan rasa minder adalah dua sisi mata uang yang sama-sama mematikan semangat juang.Pada akhirnya, motivasi belajar harus bermuara pada aksi yang berdampak. Kiat penutupnya adalah belajar dari orang-orang hebat yang memiliki ketajaman berpikir dan banyak melakukan aksi positif ke masyarakat. Inilah kunci untuk mengubah ilmu menjadi kebijaksanaan, dan karakter menjadi aksi nyata. Pendidikan sejati, sesungguhnya, adalah proses menjadi bijak.  
# EDUKASI
# Opini

Apa yang diajarkan Rusdi 'the Spidey' tentang menjadi Guru yang Tangguh?

Iwan Perdana
4 Juli 2026
Selain hari Minggu, ada dua hari lain yang selalu saya nantikan yaitu Senin dan Kamis. Pada dua hari tersebut saya dapat berjumpa dengan banyak rekan sesama penggemar bola di lapangan kayutangi ujung: Klub Berkah FC, tim binaan H.Juman yang dalam operasionalnya dipimpin Kapten Rudi dibantu Kasliannoor.Pada edisi sebelumnya, yang dipublikasikan pada 12 Juni 2026, saya menulis tentang Haris "The Flying Eagle" Andy, kiper Berkah FC yang lincah dengan gaya terbangnya yang keren saat menangkap bola_https://edubanua.com/apa-yang-diajarkan-haris-andykiper-berkah-fc-tentang-kepemimpinan-pendidikan. Kali ini, saya ingin mengulik sosok Rusdianoor—akrab disapa Rusdi, kiper utama Berkah FC selain Fendi dan Busairi.Sorot matanya tajam mengawasi setiap gerakan pemain depan lawan yang mencoba menerobos pertahanan. Tubuhnya tinggi dan atletis. Keunggulan lainnya adalah kemampuannya melompat tinggi dan tangkapannya yang lengket, seolah ada jaring laba-laba di sarung tangannya. Itulah sosok Rusdi "The Spidey" yang kokoh di bawah mistar gawang, siap menghadang gempuran lawan.Bagi Rusdi, yang memiliki motto "Selalu memberikan yang terbaik untuk tim," sepak bola bukan sekadar olahraga. Ia adalah denyut nadi, tantangan, dan panggilan jiwa yang telah mengalir dalam darahnya sejak kecil. Namun, tak banyak yang tahu bahwa di balik ketangguhannya sebagai kiper, ternyata Rusdi bukanlah penjaga gawang pada awalnya. Menurut Rudi—Kapten Berkah FC—dulu Rusdi adalah seorang striker haus gol. Saat itu, kiper andalan Berkah FC adalah Fendi, kakak kandungnya.Yuspi — gelandang bertahan mengakui keistimewaan Rusdi. "Refleks antisipasi bolanya luar biasa. Pandai menutup atau mempersempit ruang tembak striker lawan," ungkapnya. Di luar lapangan, lanjutnya, Rusdi adalah sosok yang ramah dan baik hati. Pendapatnya ini diamini Rudi—Kapten Tim Berkah FC, dan Awad —bek kiri.Odi, rekan setim lainnya, menambahkan bahwa Rusdi adalah spesialis dalam membaca situasi krusial. Saat adu penalti, ia seperti memiliki radar membaca arah bola yang akan ditendang. "Rusdi menjadi andalan pertahanan tim dengan  postur tinggi, refleks cepat, dan kemampuan membaca situasi," puji Odi. "Ia adalah prototipe kiper modern" tegasnya.Rusdi mengaku mengidolakan Teja Paku Alam, yang bermain di Persib Bandung, dan Gianluigi Buffon, kiper legendaris Italia — salah satu kiper terhebat sepanjang masa. Dari kedua penjaga gawang tersebut, Rusdi mengaku belajar tentang ketenangan, keberanian, dan seni menjaga gawang. Adapun ketika ditanya tentang tim favorit di Piala Dunia 2026, tanpa ragu ia menyebut Prancis —negeri dengan sejarah sepak bola gemilang.Di bawah mistar gawang, Rusdianoor bukan sekadar penjaga. Ia adalah benteng terakhir, pilar keyakinan, dan jiwa dari timnya. Di setiap tangkapan, di setiap tepisan, ia membuktikan bahwa motto hidupnya bukanlah sekadar kata-kata. Ia merupakan tipe all-out player yang memberikan yang terbaik untuk tim yang dibelanya.Selain sepak bola, Rusdi juga gemar bermain Bulutangkis. Ia juga suka mendengarkan musik dan menonton film. Penyanyi favoritnya Rhoma Irama —raja dangdut yang selalu mampu membangkitkan semangatnya. Sedangkan aktor film yang disukainya adalah  H. Benjamin S, sang legenda layar lebar Indonesia. Dari Spidey ke Ruang KelasSeperti tulisan-tulisan sebelumnya yang mencoba menganalogikan sepak bola dengan dunia pendidikan, pada edisi ini saya melihat sosok Rusdi "the Spidey" juga menampilkan nilai-nilai kepemimpinan dan dedikasi yang relevan dengan dunia pendidikan. Seorang guru di kelas memiliki peran yang sangat mirip dengan seorang kiper. Guru adalah benteng terakhir dalam membentuk karakter dan masa depan siswa. Guru selalu siap menghadang berbagai "gempuran" tantangan pembelajaran, mulai dari kesulitan memahami materi hingga dinamika sosial di dalam kelas.Seperti Rusdi yang memiliki motto "Selalu memberikan yang terbaik untuk tim," seorang guru yang berdedikasi juga menjadikan keberhasilan siswa sebagai tujuan utamanya. Dedikasi ini bukan sekadar pekerjaan, melainkan "denyut nadi, tantangan, dan panggilan jiwa" sebagaimana dirasakan Rusdi. Ketangguhan guru diuji setiap hari, bukan hanya dalam menyampaikan ilmu, tetapi juga dalam menjadi contoh nyata (teladan) tentang ketekunan, integritas, dan semangat pantang menyerah—sama seperti Rusdi yang bertahan di bawah mistar.Kemampuan Rusdi membaca situasi krusial, memiliki refleks cepat, dan mempersempit ruang gerak lawan, adalah analogi sempurna untuk kompetensi pedagogik dan profesional guru. Seorang guru yang baik harus pandai "membaca" kondisi setiap siswanya, cepat tanggap terhadap kebutuhan belajar yang berbeda, dan mampu menciptakan lingkungan belajar yang aman dan kondusif ("mempersempit ruang" bagi kebosanan dan kejenuhan). Mereka adalah "prototipe pendidik modern" yang adaptif dan berwawasan luas.Lebih dari itu, Gaya bermain Rusdi di lapangan—yang tegas saat bertanding namun ramah di luar—adalah cerminan ideal gaya kepemimpinan transformasional dalam manajemen pendidikan. Guru yang efektif adalah pemimpin yang mampu menyeimbangkan ketegasan dalam menegakkan aturan dan disiplin dengan kehangatan dan empati. Ia membangun kepercayaan (seperti kepercayaan tim pada kipernya), sehingga siswa merasa aman dan termotivasi untuk memberikan yang terbaik.    
# EDUKASI
# Opini

Muhammad Thohir— Striker Berkah FC: Refleksi bagi Guru Kompeten

Iwan Perdana
22 Juni 2026
Salah seorang pemain andalan Berkah FC yang memiliki skill mengolah bola di atas rata-rata adalah Taher. Pemain bernama  asli Muhammad Thohir, Amd ini mempunyai motto hidup sederhana namun sarat makna: "Berbuat baiklah selama kita bisa membantu orang lain." Filosofi ini membentuk karakternya sebagai sosok yang rendah hati di luar lapangan. Sedangkan di dalam lapangan, ia pemain yang selalu mengutamakan tim.Taher & Berkah FC berlaga di BanjarbaruKetenangan Taher diakui oleh rekannya, Awad—. "Taher adalah pemain Berkah FC paling sabar, tidak pernah emosi, tidak pernah mengeluh, dan tetap mempertahankan gaya permainannya apapun tekanan di lapangan," ujar Awad. Sifat inilah yang membuat Taher selalu konsisten di setiap pertandingan, tidak terpengaruh oleh provokasi lawan maupun tekanan skor.Kecintaan Taher pada sepak bola dimulai sejak duduk di bangku sekolah dasar. Baginya, olahraga ini adalah magnet universal yang menyatukan banyak orang. "Dengan sepak bola, kita banyak mempunyai teman dan menambah persahabatan," ujar Taher, Selasa (16/06/2026) melalui pesan WhatsApp. Taher berlaga di MarabahanBerposisi sebagai striker, Taher adalah perpaduan antara pemain cerdas dan tidak egois. Keunggulannya tidak hanya memiliki postur tinggi besar menjadikannya sangat cocok menjadi penghancur tembok pertahanan lawan. Tetapi ia seorang predator di kotak penalti. "Apabila kita bisa menciptakan gol, ada rasa kepuasan tersendiri dan kebahagiaan," jawabnya ketika ditanya alasannya memilih posisi penyerang. Kehebatan Taher sebagai predator di depan gawang juga ditegaskan oleh Kapten Berkah FC, Rudiansyah. "Taher adalah tipe pemain predator, penyelesai yang sempurna, shooting-nya keras," puji Rudi. Coach Mady juga memberikan apresiasi terhadap kemampuan Taher. "Bang Taher striker yang mempunyai visi bermain jelas, pandai mencari peluang, dan shooting yang keras, sangat cocok untuk posisi seorang target man, serta punya sundulan yang akurat," ungkap Coach Mady. Deskripsi ini melengkapi profil Taher sebagai striker modern yang memiliki segalanya: kecerdasan, kekuatan fisik, akurasi, dan kemampuan duel udara.“Tantangan menjadi striker juga tak semudah yang dibayangkan,” tambahnya lagi. Setiap kali ia menggiring bola memasuki area kotak 16, Ia merasakan mata para bek dan kiper lawan, termasuk para penonton tertuju padanya. Tekanan untuk mencetak gol selalu membayangi, tetapi justru di situlah Taher menemukan kenikmatan sejati—merusak lini belakang lawan, memenangkan duel udara, dan menyelesaikan peluang dengan tembakan keras yang mematikan.Sebagai mesin gol Berkah FC, Taher mengidolakan penyerang Timnas Indonesia Kurniawan Dwi Yulianto—legenda predator era 90-an—, dan saat ini mengagumi Ole Romeny, striker diaspora yang sedang naik daun. Adapun striker luar negeri yang diidolakannya adalah Filippo Inzaghi, "Super Pippo" yang terkenal dengan insting pembunuh di kotak penalti, dan Cristiano Ronaldo, simbol profesionalisme dan kerja keras. Para ikon sepak bola itu menginsipirasinya menjadi penyerang cerdas yang tak hanya mengandalkan fisik, tetapi juga kecerdasan dalam membaca permainan.Meski gemar bermain sepak bola, Taher juga menyukai semua jenis olahraga. Menurutnya berolahraga adalah jalan menuju tubuh sehat dan kuat. Untuk hiburan, meski mengaku tidak terlalu hobi menyanyi, ia senang mendengarkan lagu-lagu melayu nostalgia—asalkan liriknya enak didengar, semua genre musik ia nikmati. Taher juga menyukai film-film bagus, baik lokal maupun luar negeri. Ia mengaku sering diajak menonton oleh anak dan istrinya, dan meski terkadang harus menonton film yang tidak terlalu disukai, ia tetap ikut dengan senang hati—walaupun tak jarang tertidur di tengah pemutaran. Film favoritnya adalah serial Fast and Furious, yang penuh aksi dan memicu adrenalin.Sebagai penggemar sepak bola sejati, Taher memiliki tim favorit di Piala Dunia 2026. Ia menjagokan Portugal—negeri asal idolanya Cristiano Ronaldo—serta Jerman, raksasa Eropa dengan tradisi kemenangan. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia berharap Tim Nasional Indonesia dapat berpartisipasi di Piala Dunia berikutnya pada tahun 2030.Taher & Berkah FC di Lapangan Kayutangi UjungAnalogi Kompetensi Guru sebagai StrikerSeorang guru yang kompeten seperti seorang striker. Ia berada di lapangan hijau : ruang kelas. Seperti Taher, sang penyerang andalan Berkah FC, guru tidak sekadar mengandalkan fisik atau formalitas—ia harus cerdas membaca situasi, tepat membuat keputusan, dan keberanian mengeksekusi peluang.Seorang striker hebat tahu kapan harus bergerak ke ruang kosong, kapan harus menahan bola, dan kapan melepaskan tembakan keras ke gawang. Demikian pula guru kompeten: ia tahu kapan harus menjelaskan, kapan memberi tugas, kapan mendiamkan siswa agar berpikir, dan kapan memberikan pujian atau teguran. Guru adalah pemecah kebuntuan—ketika siswa mengalami kebingungan atau kehilangan motivasi, guru harus mampu menciptakan "gol" pemahaman dengan penjelasan yang tepat dan pendekatan yang kreatif. Seperti Taher yang mempunyai visi bermain jelas, pandai mencari peluang, dan shooting yang keras, Guru harus memiliki visi mengajar yang jelas, mengetahui kapan harus memberi tantangan, dan memberi bantuan. Dan yang paling penting, seperti Taher yang dikenal tidak mudah terpancing emosi, guru sejati tidak terbawa amarah atau frustrasi saat menghadapi siswa yang sulit. Ia tetap tenang, sabar, dan fokus pada tujuan utama: mencetak "gol" keberhasilan bagi setiap siswa. Saban kali seorang siswa memahami konsep sulit atau berhasil mengatasi kelemahannya, itulah gol yang diraih sang guru—striker pendidikan.
# EDUKASI
# Opini

Tenang, Adaptif, dan Berorientasi Kepentingan Bersama: Kepemimpinan H. Dian— Gelandang Serang Berkah FC

Iwan Perdana
18 Juni 2026
Sesuai moto hidupnya, H. Muhammad Rusdiannoor—selalu ceria dan mengutamakan Kesehatan, adalah sosok yang ramah dan murah senyum. Perawakannya tinggi, tegap dan kuat. Postur ideal untuk seorang pemain sepak bola. Rekan-rekan se-timnya lebih sering memanggilnya H. Dian. Ia merupakan gelandang serang andalan Berkah FC yang berperan vital mengatur ritme permainan dari lini tengah. Berkah FCKecintaannya H. Dian pada si kulit bundar telah berakar sejak usia 10 tahun. Baginya, sepak bola bukan sekadar olahraga. Ada nilai filosofis di dalamnya yakni bagaimana sebelas individu dengan ego berbeda dapat menyatu untuk satu tujuan. "Sepak bola mengajarkan saya tentang bekerja sama dengan orang lain," ujarnya pada selasa (16/06/2026) melalui pesan WhatsApp. Praktik nilai Filosofis itulah yang menyebabkan H. Dian tidak hanya mengandalkan skill individu di lapangan hijau , tetapi juga kecermatan membaca dinamika rekan setim. “Posisi gelandang serang menuntut kecerdasan taktik, kemampuan membaca situasi, dan naluri mencetak gol. Saya menikmati posisi ini ,“ ungkap H. Dian yang mengidolakan Isnan Ali— Legenda Timnas Indonesia, dan bintang Liverpool, Mohamed Salah asal Mesir.H. Dian & TaherKeyakinannya akan pentingnya kerja sama itu bukan sekadar omongan. Hal itu terbukti dari pengakuan rekan-rekannya di Berkah FC tentang H. Dian— yang juga disapa Anjang, diungkap Awad, bek kiri Berkah FC. “Ia bisa main di bek, tengah, maupun lini depan”. Coach Mady menambahkan, “H. Dian  sejatinya adalah gelandang serang yang punya visi permainan bagus. Namun Ia juga mumpuni dimainkan di sayap kiri atau kanan. Kapten tim, Rudi, menilai H. Dian sebagai pemain santai yang selalu bermain dengan ketenangan di setiap pertandingan.Dari komentar Awad dan Coach Mady, terlihat bahwa H. Dian adalah pemain yang adaptif dan berorientasi pada tim. Ia rela berpindah posisi demi kebutuhan tim, tanpa kehilangan esensi permainannya. Sifat ini adalah cermin dari seorang pemain profesional sejati; lebih mementingkan kepentingan bersama daripada kepuasan pribadi. Ia tidak pernah mengeluh ketika harus keluar dari posisi favoritnya. Justru di situlah loyalitas dan komitmennya terhadap Berkah FC teruji. Ketenangan yang dimaksud Kapten Rudi adalah H. Dian mampu membuat keputusan tepat dan menjadi penenang bagi rekan-rekannya. Ia tidak banyak bicara, tetapi kerja kerasnya berbicara lebih lantang dari sekadar kata-kata.Selain sepak bola, H. Dian yang menjagokan Korea Selatan menjuarai Piala Dunia 2026 ini mempunyai hobi bulu tangkis dan memancing—dua aktivitas yang melatih refleks dan kesabaran. Bulu tangkis mengasah kecepatan reaksi, sementara memancing mengajarkan kesabaran—nilai-nilai yang ia praktikkan ke dalam gaya permainan sepak bolanya. Dari moto hidup dan  penuturan 3 pemain senior Berkah FC, tergambar sosok H. Dian: memiliki kualitas teknis mumpuni, namun tak pernah mengutamakan ego. Ia bisa bersinar di posisi favoritnya, tapi rela berkorban di posisi mana pun jika diperlukan. Walaupun memiliki keunggulan individu, ia memilih kejayaan kolektif. Itulah H. Muhammad Rusdiannoor—gelandang serang Berkah FC. Dikaitkan dengan Kepemimpinan Pendidikan, Profil H. Muhammad Rusdiannoor memberikan pelajaran yang sangat berharga . 1.       AdaptifH.  Dian siap bermain di posisi mana pun demi tim. Ini mencerminkan esensi kepemimpinan transformasional: pemimpin yang fleksibel, tidak kaku, dan mengutamakan kepentingan organisasi di atas ego pribadi. Seorang kepala sekolah dituntut memiliki keluwesan dalam menghadapi dinamika institusi.2.       Strategic Planning Gelandang serang harus mampu membaca lapangan, melihat peluang, dan mengambil keputusan tepat dalam hitungan detik. Pemimpin pendidikan harus memiliki visi jangka panjang serta kemampuan membaca situasi untuk memutuskan kebijakan strategis.3.       KetenanganKetenangan yang menjadi ciri khas H. Dian adalah teladan self-control dalam kepemimpinan. Di tengah tekanan dan konflik, pemimpin yang tenang mampu menjadi penyejuk organisasi dan mengambil keputusan rasional. Ia tidak banyak bicara, tetapi kerja kerasnya berbicara lebih lantang dari sekadar kata-kata—sebuah karakter kepemimpinan yang melayani (servant leadership).4.       Kerja SamaFilosofi H. Dian tentang bekerja sama dengan orang lain sejalan dengan prinsip partisipatif. Pendidikan berkualitas tidak dibangun sendiri; ia membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan. Motto hidupnya—"selalu ceria dan sehat"—mengingatkan pada pentingnya iklim organisasi positif dan kesejahteraan sumber daya manusia. Pemimpin yang sehat dan ceria menularkan energi baik kepada seluruh warganya. H. Dian adalah metafora kepemimpinan yang baik: bisa menjadi bintang, tapi memilih melayani tim; bisa bersinar di posisi favorit, tapi siap berkorban ditugaskan di posisi mana pun—inilah esensi kepemimpinan sejati.  
# EDUKASI
# Opini

Apa yang Diajarkan Haris Andy—Kiper Berkah FC— tentang Kepemimpinan Pendidikan?

Iwan Perdana
12 Juni 2026
Walaupun lapangan Kayutangi Ujung tak semegah Stadion Gelora Bung Karno atau Jakarta International Stadium (JIS), namun lapangan ini memberikan banyak kesempatan bagi para pemain banua mengembangkan bakat bermain sepak bola, sekadar berolah raga, dan sehat-gembira. Haris Andy Ramuja, salah satunya.Sejak kecil Haris—panggilan akrab— sudah akrab dengan bola. Tampaknya Ia seperti Mamoru Endou, kiper legendaris Klub Sepak Bola Raimon di serial Inazuma Eleven—dikenal dengan ikat kepala oranye dan sifat pantang menyerahnya, serta sangat mencintai sepak bola. Hobi memainkan si kulit bundar, mengantarkan Haris bergabung dengan BERKAH FC—Tim asuhan H. Juman yang dipimpin Kapten Rudi dibantu Kasliannor dengan tegas namun bijak. Klub ini bagi Haris bukan sekadar klub sepak bola biasa, tapi sudah menjadi rumah kedua. “Saya merasa seluruh pemain seperti keluarga yang hangat penuh keakraban. Saya sangat senang dan bangga dipercaya Kapten Rudi menjaga mistar gawang Berkah FC,” ungkapnya pada Jumat (12/06/2026) melalui pesan WhatsApp.Menjadi kiper adalah pilihan Haris sejak kecil. “Saya merasa tertantang menepis atau menahan tendangan keras yang menuju ke gawang”, akunya. “Saya tidak harus mencetak gol untuk memenangkan Berkah FC, cukup dengan menggagalkan serangan lawan”, tambahnya. Keseruan lain menjadi seorang penjaga gawang menurut Haris adalah Ia bisa memantau serangan dari lawan. Dari posisinya, Ia dapat membaca seluruh pertandingan seperti peta yang terbentang.Ada dua penjaga gawang yang diidolakan Haris. Dari dalam negeri: Kurnia Meiga, dari luar negeri: Gianluigi Buffon. Namun saya melihat Haris memiliki kelebihan dua kiper top dunia lainnya. Kemampuannya mengingatkan saya pada Jorge Campos, kiper lincah Meksiko yang nyentrik dan berani. Menggunakan sarung tangan menyala, Haris kerap keluar dari sarangnya. Ia tidak hanya menepis atau menahan gempuran bola, tetapi juga berani menggocek striker lawan. Aksi nekat yang bukan sekadar gaya, melainkan taktik cerdas untuk mengacaukan fokus lawanDi balik kelincahan ala Campos, ada juga Oliver Khan “dalam” diri Haris: mental baja, suara keras yang memerintah pertahanan, dan refleks kilat. Saat tim tertekan, mata Haris berubah. Ia berteriak mengatur bek-beknya, suaranya membelah sore lapangan Kayutangi Ujung.Jatuh bangun mengawal gawang Berkah FC agar tak jebol sudah biasa bagi Haris. Keberaniannya lahir dari motto hidupnya “Selalu berusaha, jangan takut gagal,” ujar Kiper kebanggan Berkah FC ini. Mirip dengan Motto Endou: "Tidak ada bola yang tidak bisa kutepis. Tidak ada tembakan yang tidak bisa kubendung. Aku akan melindungi gawang ini sampai akhir!". Motto yang menunjukkan tekad luar biasa menjaga gawang klub yang dibela.Di luar lapangan, Haris adalah pribadi yang menikmati hidup. Ia kadang menyanyi. Berduet dengan Dahri jika berkumpul di Café Midun. Semua musik Ia sukai, tapi Nike Ardila tetap menjadi penyanyi favoritnya. Selain penggemar lagu-lagu Rock dan Dangdut, Haris juga pecinta film action. “Saya fans Jet Lee, Jacky Chen, dan Bruce Lee,” tuturnya.Kri ke kanan: Haris, Rudi, Iwan Dalam manajemen pendidikan, posisi kiper mengajarkan kepemimpinan dari garis belakang. Haris mempraktikkan setidaknya lima prinsip:1.   Kepemimpinan visionerDari bawah mistar gawang, Haris memantau seluruh serangan lawan seperti peta terbentang, lalu berteriak mengarahkan barisan pertahanan demi mengantisipasi bahaya. Pemimpin pendidikan harus melihat sistem secara utuh, mengomunikasikan arah dengan jelas, dan tidak sekadar fokus pada bagian-bagian kecil.2.   Distribusi Peran KepemimpinanBerkah FC memiliki struktur jelas: H. Juman (pembina), Kapten Rudi (kepala sekolah), Kasliannor (administrasi), dan Haris (eksekutor). Kepercayaan Kapten Rudi pada Haris adalah bentuk pemberdayaan. Pemimpin visioner tidak bekerja sendiri; mereka mendistribusikan peran agar visi bersama dapat dieksekusi secara taktis oleh setiap lini organisasi.3.   Kombinasi gaya kepemimpinanGaya Haris adalah gabungan kelincahan Jorge Campos yang berani keluar kotak penalti demi melahirkan inovasi, dan mental baja Oliver Kahn yang disiplin dan bersuara keras dalam mengatur benteng pertahanan. Pemimpin pendidikan harus fleksibel: menumbuhkan kreativitas saat situasi tenang, namun tetap teguh dan tegas saat menghadapi krisis.4.   Motto sebagai filosofi Tim hebat tidak runtuh mentalnya saat kebobolan gol, motto Haris Andy—"Selalu berusaha, jangan takut gagal"—menciptakan budaya growth mindset. Di dalam ekosistem pendidikan, kegagalan sebuah program harus dilihat sebagai data evaluasi untuk perbaikan taktik berikutnya, bukan sebagai akhir dari segalanya.5.   Kesejahteraan personal pemimpinDi luar lapangan, Haris menjaga keseimbangan mentalnya dengan menyanyikan lagu-lagu Nike Ardilla dan menonton film aksi Jet Li, Jacky Chen dan Bruce Lee. Di dunia pendidikan yang penuh tekanan, pemimpin juga membutuhkan ruang recovery (pemulihan) personal. Pemimpin yang sehat secara psikologis dan bahagia akan memimpin lembaga dengan jauh lebih bijaksana, stabil, serta penuh empati.  Lapangan Kayutangi Ujung memang tak megah. Tapi dari gawangnya yang sederhana, Haris Andy mengajarkan bahwa seorang pemimpin tidak harus selalu di depan. Ia berdiri di belakang, melihat seluruh medan, lalu berteriak mengatur barisan saat badai datang. Mottonya menggema di setiap tepisan bola,”Selalu berusaha, jangan takut gagal”. Haris Andy bukan sekadar kiper biasa. Ia luar biasa.
# EDUKASI
# Opini

Menjiwai Dasajiwa sebagai Kompas Moral dan Kinerja Kepemimpinan Baru STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin

Barendz Umar
22 Oktober 2026
Pelantikan Ketua STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin pada Kamis, 15 Oktober 2026, menjadi momentum penting bagi perjalanan institusi. Lebih dari sekadar pergantian kepemimpinan, pelantikan ini membawa harapan akan keberlanjutan, penguatan nilai, dan kemajuan kampus. Salah satu pesan yang patut direnungkan dari Ibu Yuliana Nurhayati, M.Pd., selaku ketua yang baru dilantik, adalah pentingnya menjiwai Dasajiwa sebagai kompas moral dan kinerja di lingkungan STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin.Dasajiwa merupakan gagasan besar yang dirumuskan oleh pendiri sekaligus guru dan mentor STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, Bapak Iwan Perdana, Ph.D. Dasajiwa bukan sekadar rangkaian nilai yang menjadi identitas institusi, melainkan landasan filosofis yang menuntun arah dan pengembangan kampus. Sepuluh nilai yang terkandung di dalamnya, yaitu Pendidikan Berkualitas; Cerdas, Kreatif, Inovatif; Akhlak Mulia; Spirit Islam; Wawasan Kebangsaan dan Internasional; Penelitian Bermakna; Pengabdian Tepat Guna; Profesionalisme dalam Bakti; Santun dan Bersahaja; serta Patriot dan Bertaqwa, mencerminkan keterpaduan antara keunggulan akademik, integritas moral, spiritualitas, dan tanggung jawab profesional. Nilai-nilai tersebut perlu hadir dalam setiap keputusan, pola kerja, dan pelaksanaan tanggung jawab sivitas akademika. Dengan demikian, Dasajiwa tidak berhenti sebagai gagasan ideal, tetapi menjadi pedoman nyata dalam membangun budaya akademik yang berintegritas dan meningkatkan kinerja institusi.Menjiwai Dasajiwa bukanlah tanggung jawab satu orang, melainkan komitmen bersama seluruh sivitas akademika. Ketua yang baru dilantik memiliki peran strategis dalam menentukan arah kepemimpinan dan memberikan keteladanan, sedangkan seluruh sivitas akademika berperan menerjemahkan nilai-nilai tersebut ke dalam tindakan nyata. Melalui komitmen bersama, Dasajiwa diharapkan tidak hanya menjadi landasan moral, tetapi juga menjadi pedoman dalam membangun budaya kerja yang profesional, meningkatkan kualitas pendidikan, serta mewujudkan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang bermakna.Pelantikan ini menjadi awal perjalanan kepemimpinan yang baru. Pesan Ibu Yuliana Nurhayati, M.Pd., mengingatkan bahwa nilai-nilai institusi perlu dihidupkan melalui tindakan yang konsisten. Dasajiwa akan benar-benar menjadi kompas ketika nilai-nilainya menuntun pengambilan keputusan, membentuk budaya kerja, dan mengarahkan institusi menuju kemajuan yang bermakna. Dengan harapan baru dan optimisme yang kuat, serta kepemimpinan Ibu Yuliana Nurhayati, M.Pd., yang tenang dan penuh pertimbangan, semoga STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin semakin jaya. Semoga Ibu Ketua senantiasa diberikan kemudahan, kekuatan, dan kebijaksanaan dalam mengemban amanah ini, serta mampu menggerakkan seluruh sivitas akademika untuk bersama-sama mewujudkan cita-cita besar institusi dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Dasajiwa.
# EDUKASI
# Opini

Amanah Baru, Semangat Baru: Mengabdi dan Bertumbuh Bersama

Muhammad Supian Sauri
22 Oktober 2026
Alhamdulillah, hari ini menjadi salah satu momen yang berkesan dalam perjalanan pengabdian saya di dunia pendidikan. Pelantikan Wakil Ketua dan pejabat struktural di lingkungan STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin bukan sekadar seremoni, tetapi juga menjadi pengingat bahwa setiap amanah selalu membawa tanggung jawab dan harapan baru. Pada kesempatan ini, saya mendapatkan kepercayaan untuk mengemban amanah sebagai Kepala UPLP. Tentu, ini menjadi sesuatu yang patut disyukuri sekaligus menjadi tantangan baru untuk terus belajar dan berkembang. Bagi saya, jabatan bukanlah tentang posisi atau kedudukan, melainkan tentang bagaimana kita menjalankan tanggung jawab dan memberikan manfaat bagi orang lain. Semoga amanah ini menjadi bagian dari perjalanan untuk terus berkontribusi bagi kemajuan lembaga dan dunia pendidikan.Saya percaya bahwa kemajuan sebuah institusi pendidikan tidak bisa dibangun oleh satu orang saja. Dibutuhkan kerja sama, komunikasi yang baik, saling percaya, dan kesediaan untuk berjalan bersama. Setiap orang memiliki peran dan tanggung jawab masing-masing yang saling melengkapi dalam mencapai tujuan bersama. Tentu, dalam menjalankan tugas nanti akan ada berbagai tantangan dan hal-hal baru yang perlu dipelajari. Namun, setiap tantangan juga merupakan kesempatan untuk memperbaiki diri. Saya ingin menjalankan amanah ini dengan semangat kebersamaan, terbuka terhadap masukan, dan terus belajar dari pengalaman. Sebab, kita tidak harus selalu merasa paling tahu, tetapi harus selalu memiliki kemauan untuk belajar dan memberikan yang terbaik.Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ibu Yuliana Nurhayati, M. Pd., selaku Ketua STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, atas kepercayaan yang diberikan kepada saya untuk mengemban amanah sebagai Kepala UPLP. Kepercayaan ini menjadi motivasi bagi saya untuk terus belajar, bekerja dengan lebih baik, dan menjalankan tanggung jawab dengan sungguh-sungguh. Saya menyadari bahwa masih banyak hal yang perlu dipelajari dan dikembangkan, sehingga arahan, dukungan, serta masukan dari pimpinan dan rekan-rekan akan sangat berarti dalam perjalanan ini. Saya juga mengucapkan selamat kepada seluruh Wakil Ketua dan pejabat struktural yang turut dilantik. Semoga amanah baru ini membawa semangat baru bagi kita semua untuk terus berbenah, memperkuat sinergi, dan bersama-sama membawa STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin menjadi lebih baik.Pada akhirnya, saya percaya bahwa jabatan memiliki masa dan batasnya, tetapi nilai pengabdian yang dilakukan dengan tulus akan selalu memiliki arti. Tidak semua kontribusi harus dimulai dari hal-hal besar. Disiplin dalam bekerja, menyelesaikan tugas dengan baik, menjaga komunikasi, menghargai pendapat orang lain, dan bersedia membantu rekan kerja merupakan bagian penting dalam membangun lembaga yang lebih baik. Bismillah, saya akan berusaha menjalankan amanah sebagai Kepala UPLP dengan sebaik-baiknya, sambil terus belajar dan membuka diri terhadap berbagai masukan. Saya tentu tidak bisa bekerja sendiri, sehingga doa, dukungan, dan kerja sama dari semua pihak sangat berarti. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kesehatan, kemudahan, kebijaksanaan, dan keikhlasan kepada kita semua dalam menjalankan tanggung jawab masing-masing. Amanah baru, semangat baru, dan kesempatan baru untuk terus belajar, bertumbuh, serta memberikan manfaat. Mohon doa terbaiknya, semoga kita bisa terus berjalan bersama dan membawa STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin menuju kemajuan yang lebih baik.
# EDUKASI
# Opini

STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin Lantik Wakil Ketua dan Pejabat Struktural Masa Bakti 2026–2030, Perkuat Komitmen Menuju Kampus Visioner

Novi Nurdian, M.Pd
22 Oktober 2026
BANJARMASIN – STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin resmi melantik Wakil Ketua dan sejumlah pejabat struktural untuk masa bakti 2026–2030 pada Rabu, 21 Oktober 2026. Pelantikan yang dipimpin langsung oleh Ketua STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, Ibu Yuliana Nurhayati, M.Pd., ini menjadi momentum penting dalam memperkuat tata kelola perguruan tinggi sekaligus meneguhkan komitmen bersama untuk mewujudkan kampus yang visioner, inspiratif, berkarakter, dan berkompeten. Prosesi pelantikan tersebut menandai dimulainya amanah baru bagi para pejabat yang akan berperan dalam mengembangkan mutu akademik, pelayanan kelembagaan, serta berbagai program strategis kampus selama empat tahun ke depan.Dalam pelantikan tersebut, Vebrianti Umar, M.Pd. dipercaya sebagai Wakil Ketua Bidang Akademik, sedangkan Armin Fani, M.Pd. mengemban amanah sebagai Wakil Ketua Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama. Pada tingkat program studi, Abdul Azis, M.Pd. dilantik sebagai Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Novi Nurdian, M.Pd. sebagai Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), dan Maulidha, M.Pd. sebagai Ketua Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Sementara itu, Novi Suma Setiawati, M.Pd. dipercaya memimpin Lembaga Penjaminan Mutu (LPM), sedangkan Rizki Nugeraha Ilise, M.Pd. mengemban tugas sebagai Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM). Penempatan para pejabat ini diharapkan memperkuat koordinasi dan sinergi dalam meningkatkan kualitas tridarma perguruan tinggi.Selain unsur pimpinan dan ketua lembaga, pelantikan juga mencakup pejabat pada unit pelayanan dan pendukung kelembagaan. Halima Chairia, SE dilantik sebagai Kepala Bagian Administrasi Umum dan Keuangan; M. Agus Syafrian Noor, M.Pd. sebagai Kepala UPT Kemahasiswaan; Zulparis, M.Pd. sebagai Kepala UPT Kerja Sama, Humas, dan Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB); M. Juanda, S.I.Pust. sebagai Kepala UPT Perpustakaan; serta M. Supian Sauri, M.Pd. sebagai Kepala UPT Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP). Kehadiran para pejabat pada berbagai lini organisasi ini diharapkan mampu menghadirkan pelayanan yang semakin profesional, efektif, dan responsif terhadap kebutuhan mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, serta masyarakat.Dalam pidatonya, Ketua STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, Ibu Yuliana Nurhayati, M.Pd., menekankan pentingnya kerja sama sebagai fondasi utama untuk membawa institusi semakin maju. Menurutnya, kemajuan perguruan tinggi tidak dapat diwujudkan oleh satu orang atau satu unit kerja saja, melainkan membutuhkan komitmen, komunikasi, dan kolaborasi seluruh sivitas akademika. bersenjatakan Dasa Jiwa, setiap pejabat diharapkan mampu menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab, membangun koordinasi lintas bidang, serta menyatukan gagasan dan langkah untuk mencapai tujuan bersama. Semangat kebersamaan tersebut menjadi modal penting dalam meningkatkan mutu pendidikan, memperkuat penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, mengembangkan jejaring kemitraan, serta membangun kepercayaan publik terhadap institusi. Dengan kerja sama yang solid dan budaya kerja yang berorientasi pada mutu, STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin diharapkan semakin siap menghadapi tantangan pendidikan tinggi dan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan pendidikan, khususnya di Kalimantan Selatan.Pelantikan ini bukan sekadar pergantian atau penetapan jabatan, melainkan awal dari tanggung jawab bersama untuk menghadirkan perubahan dan kemajuan yang berkelanjutan. Amanah masa bakti 2026–2030 diharapkan menjadi kesempatan bagi seluruh pejabat untuk menghadirkan inovasi, meningkatkan kualitas layanan, memperkuat prestasi mahasiswa, serta memperluas kontribusi institusi di tingkat regional maupun nasional. Dengan semangat kolaborasi dan kepemimpinan yang berintegritas, STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin terus melangkah menuju cita-cita sebagai kampus visioner yang inspiratif, berkarakter, dan berkompeten, sekaligus menjadi bagian penting dalam mencetak generasi pendidik yang berkualitas bagi masa depan bangsa.
# EDUKASI
# Galeri

Bawa Semangat Perubahan, Ketua STKIP Islam Sabilal Muhtadin Lantik Pejabat Struktural Baru Periode 2026-2030

Mega Kurniawati, M.Pd
22 Oktober 2026
STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin melaksanakan pelantikan pejabat struktural untuk masa bakti 2026–2030 pada Rabu, 21 Oktober 2026, bertempat di Ruang Pertemuan Kampus STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin. Pelantikan dipimpin langsung oleh Ketua STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, Yuliana Nurhayati, M.Pd.   Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh dosen dan tenaga kependidikan STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin. Kehadiran seluruh keluarga besar kampus menunjukkan kebersamaan dan dukungan kepada para pejabat yang memegang amanah baru. Suasana berlangsung tertib, lancar, dan penuh khidmat.   Pelantikan ini terbagi dalam beberapa Surat Keputusan (SK). Pada SK pertama, Vebrianti Umar, M.Pd resmi menjabat sebagai Wakil Ketua Bidang Akademik, sementara Armin Fani, M.Pd dipercaya untuk mengemban amanah sebagai Wakil Ketua Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama.  Selanjutnya, Yuliana Nurhayati, M.Pd melantik sepuluh pejabat struktural lainnya. Mereka adalah Abdul Azis, M.Pd sebagai Ketua Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, Novi Nurdian, M.Pd sebagai Ketua Prodi PGSD, Maulidha, M.Pd sebagai Ketua Prodi PAUD, Novi Suma, M.Pd sebagai Ketua LPM, serta Rizki Nugerahani Ilise, M.Pd sebagai Ketua LPPM.   Selain itu, jabatan Kepala Bagian Administrasi Umum dan Keuangan kini dipercayakan kepada Halima Chairia, SE. Untuk jajaran Kepala UPT, posisi Kemahasiswaan diisi oleh M. Agus Syafrian Noor, M.Pd; UPT Kerja Sama, Humas, dan PMB diisi oleh Zulparis, M.Pd; UPT Perpustakaan diisi oleh M. Juanda, S.I.Pust; dan UPT PLP diisi oleh M. Supian Sauri, M.Pd.   Momen pelantikan yang dipimpin oleh Yuliana Nurhayati, M.Pd ini berlangsung khidmat. Acara ini turut dihadiri oleh Iwan Perdana, Ph.D. selaku Pendiri, Guru, sekaligus Mentor STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin. Kehadiran beliau memberikan dorongan semangat tersendiri bagi para pejabat struktural yang baru dilantik maupun seluruh keluarga besar kampus.   Prosesi ini menjadi pengingat bagi seluruh pejabat strutural yang baru bahwa jabatan adalah sebuah tanggung jawab dan amanah besar. Sebuah lembaga tidak akan bisa tumbuh hanya karena satu orang, melainkan berkat kerja sama, kejujuran, dan rasa kebersamaan. Karena itu, seluruh dosen dan tenaga kependidikan diajak untuk saling mendukung, membantu, dan bekerja sama serta niat bekerja sebagai bagian dari ibadah.  Ke depan, STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin berkomitmen menghadirkan pelayanan akademik dan administrasi yang lebih cepat, transparan, dan ramah bagi mahasiswa. Pengelolaan lingkungan kampus pun dipastikan makin tertib. Di saat yang sama, dosen dan tenaga kependidikan akan terus meningkatkan kualitas diri agar pelayanan yang diberikan semakin memuaskan.   Guna membawa nama STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin semakin dikenal luas, jajaran pengurus baru diharapkan berani menghadirkan berbagai macam inovasi. Mulai dari pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran, penguatan kegiatan penelitian dan pengabdian masyarakat, perluasan kemitraan, hingga aktif membagikan kabar positif kampus di media sosial dan situs resmi. Inovasi tidak harus selalu besar; langkah-langkah kecil yang konsisten justru akan memberi dampak nyata.   Semua upaya ini bermuara pada satu tujuan yakni meningkatkan mutu pendidikan, mencetak lulusan yang berilmu dan berakhlak mulia, serta menjaga kepercayaan masyarakat terhadap STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin.  Semangat baru di periode 2026–2030 ini diharapkan menjadi pijakan awal bagi STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin untuk terus berkembang dan membawa manfaat luas bagi masyarakat. Rangkaian acara pelantikan ditutup dengan pembacaan doa dan foto bersama.   Pelantikan hanyalah awal. Jabatan baru tidak otomatis membuat kampus menjadi lebih baik tetapi yang menentukan adalah apa yang dikerjakan setelah acara selesai: melayani mahasiswa dengan sungguh-sungguh, bekerja dengan jujur, dan saling mendukung antara pejabat, dosen, dan tenaga kependidikan. Jika amanah dijaga dan langkah-langkah kecil dilakukan terus-menerus, kepercayaan masyarakat akan tumbuh dengan sendirinya. Semoga masa bakti 2026–2030 menjadi bukti bahwa STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin tumbuh besar karena kebersamaan seluruh keluarga besarnya.
# EDUKASI
# Opini

  Youtube

Surah Ar-Rahman | Aniq Muhai

  Informasi

Selamat Hari Guru Nasional
Arah Pendidikan Nasional & Transformasi Pendidikan Lokal di Daerah
Kupas Tuntas: Kurikulum, Inklusi, dan Seni di Sekolah Dasar
Momentum Kebangkitan Nasional Melalui Peningkatan Kualitas Pendidikan