Beranda > Edukasi

  Postingan Terbaru

Pintu Literasi: Media Gambar sebagai Kunci Membaca Permulaan di Sekolah Dasar

Novi Nurdian, M.Pd
1 Desember 2025
Sebagai seorang dosen dan praktisi pendidikan, saya bersama tim kerap melakukan pengabdian masyarakat untuk menjawab tantangan nyata di dunia pendidikan. Salah satunya adalah fenomena kesulitan membaca permulaan yang masih banyak ditemui pada siswa kelas rendah sekolah dasar. Pengalaman kami di salah satu sekolah dasar di Kota Banjarmasin, menjadi bukti bahwa pendekatan pembelajaran yang tepat dapat membuat perbedaan signifikan.Berdasarkan observasi awal, kami menemukan bahwa banyak siswa kelas 1 yang belum lancar membaca. Masalahnya bukan hanya pada teknis pengenalan huruf, tetapi lebih mendasar: kesulitan mereka menghubungkan rangkaian huruf menjadi kata yang bermakna. Di sinilah kami melihat peluang untuk menggunakan media gambar sebagai jembatan pemahaman.Mengapa gambar? Karena gambar adalah bahasa universal yang langsung dipahami anak. Sebuah gambar apel, misalnya, langsung terhubung dengan konsep buah berwarna merah yang mereka kenal. Ketika huruf "A-P-E-L" diperkenalkan bersamaan dengan gambar tersebut, terjadi asosiasi kuat antara simbol abstrak (huruf) dengan objek konkret (buah). Proses kognitif ini membuat belajar membaca menjadi lebih kontekstual, bermakna, dan menyenangkan.Dalam pelaksanaannya, kami menggunakan metode klasikal yang interaktif, dimulai dari pengenalan huruf, pelafalan, hingga penyusunan suku kata dan kalimat sederhana, semua dengan bantuan gambar. Suasana kelas pun berubah. Tatapan bingung perlahan berganti dengan antusiasme saat mereka berhasil "membaca" gambar dan menghubungkannya dengan tulisan. Kepercayaan diri mereka tumbuh seiring dengan meningkatnya kemampuan mengeja dan merangkai kata.Hasil evaluasi melalui observasi dan wawancara dengan guru kelas menunjukkan peningkatan yang menggembirakan. Siswa tidak hanya lebih mudah mengenali huruf, tetapi juga lebih lancar membaca kata-kata yang telah dipelajari dengan bantuan visual. Guru melaporkan bahwa siswa tampak lebih aktif dan bersemangat mengikuti pelajaran literasi.Pengalaman ini menguatkan keyakinan kami bahwa inovasi pedagogis sederhana seperti media gambar memiliki dampak yang powerful. Ia tidak memerlukan teknologi tinggi atau biaya mahal, tetapi membutuhkan kreativitas dan kesungguhan pendidik untuk merancang pembelajaran yang memanusiakan dan membumi. Literasi dasar adalah fondasi. Jika fondasinya kuat, dibangun dengan metode yang sesuai dengan dunia anak, maka minat baca dan kemampuan memahami teks yang lebih kompleks di jenjang berikutnya akan terbentuk dengan lebih kokoh.Pada akhirnya, membangun budaya baca bukan semata tugas guru di sekolah, tetapi kolaborasi semua pihak. Sebagai akademisi, kami berkomitmen untuk terus turun langsung, menguji berbagai pendekatan, dan membagikan temuan-temuan praktis seperti ini, agar lebih banyak anak Indonesia yang bisa menikmati indahnya dunia yang terbuka lebar melalui kemampuan membaca.
# EDUKASI
# Pengabdian

Pemahaman Sejarah Masjid Raya Sabilal Muhtadin Banjarmasin sebagai Sumber Kearifan Lokal bagi Siswa SDN Basirih 1 Banjarmasin

Muhammad Supian Sauri
1 Desember 2025
Pengabdian kepada masyarakat pada dasarnya adalah cara kita berbagi ilmu dan pengalaman kepada orang lain. Tidak harus selalu dalam bentuk kegiatan besar; hal sederhana yang bermanfaat pun sudah termasuk pengabdian. Nah, salah satu bentuk pengabdian yang menurut saya sangat menarik adalah mengenalkan sejarah Masjid Raya Sabilal Muhtadin kepada siswa SDN Basirih 1 Banjarmasin. Kegiatan ini terlihat sederhana, tapi sebenarnya punya dampak besar bagi pengetahuan, karakter, dan kecintaan siswa terhadap daerahnya sendiri.Masjid Raya Sabilal Muhtadin tentu bukan sesuatu yang asing bagi masyarakat Banjarmasin. Masjid megah yang berdiri tidak jauh dari Sungai Martapura ini sudah lama menjadi ikon kota. Hampir semua orang tahu bentuknya, tapi tidak semua tahu sejarah dan nilai yang terkandung di balik pembangunannya. Di sinilah pengabdian masyarakat punya peran penting: membantu anak-anak memahami bahwa bangunan besar itu bukan hanya tempat salat, tapi juga menyimpan cerita tentang masa lalu, perjuangan, dan budaya masyarakat Banjar.Dalam kegiatan pengabdian ini, siswa diajak mengenal sejarah masjid dengan cara yang lebih menyenangkan. Mereka tidak hanya mendengar penjelasan, tetapi juga melihat langsung bangunannya, memahami makna arsitekturnya, serta mendengarkan kisah-kisah menarik tentang proses pembangunannya. Cara belajar seperti ini jauh lebih efektif dibandingkan hanya membaca buku atau mendengarkan ceramah panjang di kelas. Anak-anak SD biasanya lebih mudah memahami sesuatu ketika mereka bisa melihat, bertanya, dan berinteraksi secara langsung.Menurut saya, kegiatan seperti ini bukan hanya memberi pengetahuan tambahan, tetapi juga menumbuhkan rasa bangga terhadap daerah sendiri. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan budaya luar yang mudah masuk, anak-anak perlu diperkenalkan dengan kearifan lokal sejak dini. Ketika mereka mengenal sejarah Masjid Sabilal Muhtadin, secara tidak langsung mereka belajar tentang nilai-nilai seperti kerja sama, religiusitas, kegigihan, dan rasa persatuan yang menjadi bagian dari masyarakat Banjar.Hal yang juga sangat positif dari kegiatan ini adalah memberikan pengalaman nyata tentang bagaimana belajar tidak harus selalu di ruang kelas. Sekolah sering kali dianggap sebagai tempat belajar utama, padahal lingkungan sekitar juga bisa menjadi sumber belajar yang sangat kaya. Masjid Sabilal Muhtadin, misalnya, bisa dijadikan media belajar sejarah, budaya, agama, bahkan seni arsitektur. Siswa jadi menyadari bahwa ilmu pengetahuan bisa ditemukan di mana saja, bukan hanya di buku teks.Selain untuk siswa, kegiatan ini sebenarnya juga bermanfaat untuk guru. Guru bisa melihat contoh bagaimana membuat pembelajaran yang lebih kreatif dan kontekstual. Selama ini, banyak guru ingin membuat pembelajaran yang lebih hidup tetapi bingung harus mulai dari mana. Melalui kegiatan pengabdian ini, mereka bisa dapat inspirasi: bahwa memanfaatkan lingkungan sekitar merupakan cara mudah namun efektif untuk memperkaya pembelajaran.Dari sisi masyarakat, kegiatan ini juga memberikan dampak positif. Masjid Sabilal Muhtadin adalah kebanggaan warga Banjarmasin. Ketika generasi muda dikenalkan sejak kecil kepada sejarah dan nilai yang terkandung di dalamnya, masyarakat akan merasa lebih tenang bahwa warisan ini tidak akan hilang. Pelestarian budaya tidak hanya tentang merawat bangunan, tetapi juga menanamkan rasa cinta dan peduli kepada anak-anak sebagai penerus di masa depan.Menurut pandangan saya, kegiatan pengabdian ini menciptakan hubungan yang baik antara sekolah, masyarakat, dan perguruan tinggi. Mahasiswa atau dosen yang terlibat dalam pengabdian tidak hanya mengajar, tetapi juga belajar dari realitas di lapangan. Mereka melihat bagaimana tingkat pemahaman anak-anak, kebutuhan guru, dan potensi lingkungan bisa diolah menjadi media pembelajaran yang bermanfaat. Ini menjadi bentuk kolaborasi yang sangat bagus dan jarang diperhatikan.Hal lain yang membuat kegiatan ini penting adalah kesederhanaannya. Pengabdian masyarakat sering dianggap sebagai kegiatan yang rumit dan membutuhkan biaya besar. Padahal, kegiatan seperti mengenalkan sejarah masjid kepada siswa adalah contoh pengabdian yang sederhana tetapi dampaknya besar. Anak-anak mendapatkan pengalaman baru, guru mendapat inspirasi pembelajaran, masyarakat bangga, dan perguruan tinggi menjalankan perannya secara nyata. Semua pihak merasa diuntungkan.Saya pribadi menilai kegiatan ini sebagai langkah yang sangat tepat untuk menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap kearifan lokal. Apalagi siswa SD adalah usia yang sangat mudah dibentuk. Ketika sejak kecil mereka sudah diperkenalkan dengan budaya dan sejarah daerah mereka sendiri, hal itu akan melekat dalam ingatan sampai mereka dewasa. Mereka akan tumbuh dengan identitas yang kuat, menghargai budaya Banjar, dan memiliki rasa tanggung jawab untuk menjaga warisan leluhur.Secara keseluruhan, pengabdian masyarakat yang berfokus pada pemahaman sejarah Masjid Raya Sabilal Muhtadin untuk siswa SDN Basirih 1 ini adalah kegiatan yang sederhana, menyenangkan, dan sangat bermanfaat. Harapan saya, kegiatan seperti ini tidak berhenti hanya sekali. Semoga bisa dilakukan secara berkelanjutan, bahkan mungkin diperluas ke sekolah-sekolah lain. Dengan begitu, semakin banyak anak yang mengenal sejarah daerahnya dan bangga menjadi bagian dari masyarakat Banjarmasin. 
# EDUKASI
# Pengabdian

Pentingnya Literasi Artificial Intelligence (AI) dan Pengenalan Coding Dasar bagi Siswa SD

Nor Hayati, M.Pd
1 Desember 2025
Pengalaman melaksanakan pengabdian kepada masyarakat (PKM) di Kurau, 26 November 2025 meninggalkan kesan yang begitu mendalam. bagi saya,  sebagai salah satu dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris STIKIP Islam Sabilal Muhtadih Banjarmasin. Dengan tema, Smart Kids Programme yang berfokus pada Literasi Artificial Intelligence (AI) dan Pengenalan Coding Dasar bagi Siswa Kelas 5 di SD Negeri Maluka Baulin, kami menegaskan dukungan terhadap transformasi pendidikan yang adaptif dengan perkembangan teknologi global. Pada kegiatan ini, kami mempraktikkan pendekatan pembelajaran yang interaktif. Siswa diperkenalkan konsep AI sederhana: cara kerja  intruksi AI dalam mengenali pola, dan latihan coding dasar menggunakan platform ramah anak. Pendekatan ini terbukti efektif dalam menumbuhkan keberanian siswa untuk bereksperimen serta mengembangkan pola pikir komputasional sejak dini. Kegiatan ini mengukuhkan peran saya sebagai akademisi yang konsisten memadukan keahlian pedagogis dengan inovasi teknologi dalam konteks pemberdayaan masyarakat. Program ini juga membuktikan institusi kami responsif, dan berorientasi pada kebutuhan digital masyarakat modern. Guru-guru di SD Negeri Maluka Baulin menilai bahwa program ini sangat relevan dengan kebutuhan pembelajaran abad ke-21. Mereka mengapresiasi pendekatan pengajaran yang sistematis, interaktif, dan disesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa sekolah dasar. Menurut pandangan mereka, kegiatan ini membantu memperkaya pengalaman belajar siswa, terutama dalam hal pemahaman konsep teknologi yang selama ini belum banyak diperkenalkan di sekolah.Pelaksanaan Smart Kids Programme juga mendapatkan sambutan positif dari siswa kelas 5 SD Negeri Maluka Baulin. Sebagian besar siswa menunjukkan antusiasme tinggi ketika diperkenalkan  konsep AI dan latihan coding dasar. Aktivitas berbasis permainan (game-based coding) membuat mereka merasa belajar menjadi lebih menyenangkan.  
# EDUKASI
# Pengabdian

Guru Sejahtera, Pendidikan Berkualitas: Momentum Hari Guru untuk Membenahi Arah Bangsa

Arrazi
25 November 2025
Setiap tahun, tanggal 25 November menjadi pengingat bahwa guru bukan hanya profesi, tetapi fondasi bangsa. Namun, penghormatan tidak cukup berhenti pada ucapan terima kasih dan seremonial. Ada pertanyaan besar yang seharusnya kita renungkan bersama: Mengapa kualitas pendidikan Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara-negara lain, bahkan negara tetangga yang dahulu belajar kepada kita?Jawabannya tidak rumit. Berbagai penelitian internasional selama puluhan tahun menunjukkan bahwa kualitas pendidikan suatu negara sangat ditentukan oleh kesejahteraan gurunya. Guru yang sejahtera memiliki kapasitas, fokus, dan energi penuh untuk mengajar; guru yang tertekan oleh kebutuhan hidup tidak mungkin memberikan kualitas pembelajaran terbaik.Dulu Malaysia Belajar ke Indonesia, Hari Ini Kita Belajar ke SanaSejarah mencatat bahwa pada masa pascakemerdekaan, Malaysia mendatangkan guru-guru Indonesia untuk membangun sistem pendidikan mereka. Bahkan, pelajar Malaysia dikirim kuliah ke kampus-kampus Indonesia untuk menimba ilmu. Namun hari ini, kondisinya berbalik: banyak pendidik Indonesia justru belajar tentang tata kelola pendidikan ke Malaysia.Apa yang membuat mereka mampu melesat begitu jauh?Jawabannya kembali pada satu titik: kesejahteraan tenaga pendidik.Di Malaysia, gaji guru relatif tinggi, tunjangan memadai, serta jenjang karier dihargai. Kita dapat melihat bahwa hampir tidak ada guru di Malaysia yang berangkat mengajar menggunakan sepeda motor; mayoritas mampu membeli mobil karena penghasilan mereka mencukupi. Kondisi tersebut menciptakan martabat profesi dan menarik minat anak muda terbaik untuk menjadi pendidik.Penelitian dari UNESCO, OECD, dan World Bank menunjukkan pola yang sama:negara dengan penghasilan guru tinggi → kualitas pendidikan tinggi.Ini terjadi di Finlandia, Jepang, Korea Selatan, dan Swedia. Guru dihargai sebagai profesi strategis, bukan sekadar pelengkap sistem.Mengapa Anak Indonesia Lebih Memilih Jadi Dokter atau Insinyur?Sering para pengamat mempertanyakan mengapa anak-anak Indonesia cenderung memilih cita-cita menjadi dokter, insinyur, atau profesi lain yang dianggap “bergengsi”. Namun jarang yang menyentuh akar masalahnya.Anak-anak cenderung memilih profesi berdasarkan apa yang mereka lihat:profesi dengan pendapatan tinggi dianggap sukses.Ketika gaji guru jauh di bawah profesi lain, sangat wajar bila profesi ini jarang menjadi pilihan.Bayangkan jika kesejahteraan guru setara dengan dokter, maka persepsi publik akan berubah. Anak-anak pun akan dengan bangga dan yakin mengatakan, “Saya ingin menjadi guru.” Karena profesi tersebut bukan hanya mulia, tetapi juga layak secara ekonomi.Guru Tidak Seharusnya Sibuk Mencari Pekerjaan SampinganDalam banyak kasus di Indonesia, guru harus mencari pekerjaan tambahan—les privat, berdagang, ojek online, bahkan pekerjaan fisik lain—demi memenuhi kebutuhan keluarga. Kondisi ini jelas menguras energi, menurunkan kualitas mengajar, dan merusak konsentrasi pada tugas utama: mendidik generasi bangsa.Penelitian menunjukkan bahwa beban ekonomi yang berat berdampak langsung pada rendahnya efektivitas pedagogis guru. Guru yang tidak sejahtera cenderung mengalami stres, burnout, dan penurunan kualitas pengajaran.Artinya, meningkatkan pendapatan guru bukan sekadar kesejahteraan sosial, tetapi strategi pendidikan nasional.Ini investasi langsung kepada masa depan bangsa.Negara Harus Menempatkan Guru Sebagai Prioritas UtamaJika Indonesia ingin maju seperti negara-negara yang kita kagumi, maka langkah pertama bukan sekadar mengganti kurikulum atau menambah fasilitas sekolah. Langkah pertama adalah mensejahterakan guru.Kebijakan yang bisa dilakukan pemerintah:1. Menetapkan Standar Gaji Minimum Guru Nasional yang LayakSesuai rekomendasi UNESCO, gaji guru seharusnya setara dengan profesi profesional lainnya, bukan hanya penyambung hidup.2. Tunjangan Kinerja yang Berbasis Kualitas MengajarBukan sekadar administratif, tetapi berbasis pembelajaran nyata di kelas.3. Jaminan Sosial yang KuatBPJS, pensiun yang layak, serta perlindungan hukum bagi guru.4. Menjadikan Profesi Guru KompetitifSeleksi masuk pendidikan guru harus ketat, tetapi imbalannya tinggi, seperti di Finlandia dan Korea Selatan.5. Beban Administrasi DikurangiAgar guru dapat kembali menjadi pengajar, bukan penulis laporan.Hari Guru adalah Momentum: Guru Sejahtera, Indonesia MajuPada Hari Guru 25 November 2025 ini, mari kita hentikan narasi “guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa” jika “tanda jasa” itu berarti mereka harus hidup dalam keterbatasan. Di negara modern, pahlawan diberi penghargaan dan kesejahteraan, bukan pengorbanan tanpa batas.Sebelum kita berharap pendidikan kita menyaingi dunia, kita harus menjawab satu pertanyaan sederhana:Apakah kita sudah memuliakan guru sebagaimana seharusnya?Jika negara benar-benar ingin memajukan pendidikan, maka jawabannya hanya satu:Sejahterakan guru terlebih dahulu.Karena kualitas bangsa ditentukan oleh kualitas pendidiknya.Dan kesejahteraan adalah fondasi dari kualitas itu.
# EDUKASI
# Opini

Empat Pilar Kepemimpinan Pendidikan untuk Lembaga Inspiratif

Iwan Perdana
25 November 2025
Setiap pemimpin lembaga pendidikan dituntut mampu memberdayakan tenaga pendidik dan tenaga kependidikan yang dikelolanya dengan baik. Dia bertanggung jawab memastikan komponen sumber daya manusia dalam sistem pendidikan yang dipimpinnya berfungsi optimal demi tercapainya tujuan pendidikan.Agar lembaga pendidikan yang dikelolanya menjadi inspirasi bagi lembaga pendidikan lain dalam memberikan layanan terbaik bagi peserta didik, sedikitnya, ada empat pilar yang harus dipraktikkan para pemimpin pembaga pendidikan, yaitu:1.   Visi dan Misi lembaga Pendidikan yang kuatSelain sebagai kompas yang menuntun lembaga pendidikan agar tidak kehilangan arah, dan tetap fokus pada tujuan, Visi dan misi lembaga merupakan landasan utama dalam pengambilan keputusan dan pelaksanaan kegiatan di sekolah. Oleh karena itu, kemampuan menyelaraskan visi dan misi lembaga menjadi sesuatu yang krusial bagi pemimpin lembaga pendidikan.Pemimpin lembaga pendidikan harus memastikan penyusunan Misi sebagai komitmen lembaga mewujudkan visi sesuai dengan keunggulan yang dimilikinya sehingga tekad memberikan layanan pendidikan berkualitas kepada masyarakat pengguna tidak sebatas slogan kosong belaka.2.   Inovasi PembelajaranKemajuan teknologi menghadirkan pendekatan baru dalam pembelajaran: pembelajaran daring, dan penggunaan media interaktif seperti situs web, aplikasi, permainan edukasi. Pemanfaatan teknologi sebagai inovasi pembelajaran secara signifikan mengurangi kendala batasan jarak dan kendala geografis pelaksanaan pembelajaran di daerah-daerah yang sulit dijangkau.Komitmen pemimpin lembaga pendidikan mendukung para guru meningkatkan kualitas diri melalui workshop/ pelatihan seperti keterampilan mengajar, termasuk menguasai teknologi untuk menunjang pembelajaran akan memberikan mereka wawasan bagaimana menciptakan KBM yang lebih interaktif dan menyenangkan.3.   Bersinergi dengan para guruMelahirkan generasi berkualitas tidak semudah membalik telapak tangan. Prosesnya membutuhkan waktu yang tidak singkat. Apalagi jika profil lulusan yang diinginkan adalah lulusan berjiwa leadership, berintegritas, dan peduli terhadap kemanusiaan.Untuk mewujudkan hal tersebut, pemimpin lembaga pendidikan hendaknya bersinergi dengan para guru yang dipimpinnya untuk memprioritaskan terciptanya lingkungan sekolah yang mencetak siswa mampu berempati, kreatif, jujur, disiplin, bertanggung jawab, dan religius.4.   Berkolaborasi dengan dunia usaha dan komunitas Pemimpin lembaga pendidikan yang menargetkan lulusannya berdaya, berjiwa leadership, berintegritas, dan profesional harus menjalin kerja sama/ berkolaborasi dengan berbagai pihak, antara lain:(1)   Dunia Usaha dan IndustriPemimpin lembaga Pendidikan harus aktif menjalin kerja sama dengan dunia usaha/ industri. Ini penting sekali agar program magang bagi peserta didik terealisasi. Juga tidak kalah pentingnya menghadirkan praktisi sebagai narasumber untuk membuka cakrawala berpikir sebaiknya dilaksanakan secara terjadwal. (2)   Komunitas Tidak hanya dunia usaha/industry, pemimpin lembaga pendidikan harus mengambil inisiatif menjalin kerja sama dengan komunitas-komunitas yang ada di masyarakat. Kolaborasi ini akan menambah pengetahuan, pengalaman dan memperluas wawasan peserta didik sekaligus meningkatkan kemampuan mereka bersosialisasi. Dengan fondasi visi yang kuat, inovasi pembelajaran yang berkelanjutan, bersinergi dengan para guru, dan jejaring kolaborasi yang luas, pemimpin lembaga pendidikan akan mengantarkan lembaga yang dikelolanya tidak sekadar mengikuti arus, tetapi menjadi pembentuk arus peradaban masa depan.
# EDUKASI
# Opini

Literasi dan Numerasi pada Anak Usia Dini di Masa Sekarang

Rizki Nugerahani Ilise, M.Pd
19 November 2025
Pada masa ini, literasi dan numerasi adalah kemampuan dasar yang sangat penting untuk anak usia dini. Literasi merujuk pada kemampuan membaca dan menulis,sementara numerasi adalah kemampuan dalam memahami dan mengoperasikan angka serta konsep matematika dasar. Literasi dan numerasi tidak hanya merupakan kemampuan akademik, tetapi juga keterampilan hidup yang mendukung perkembangan kognitif dan sosial anak di masa depan.Pentingnya literasi dan numerasi pada usia dini menjadi semakin jelas dalam era digital ini,di mana keterampilan dasar ini menjadi fondasi untuk menghadapi berbagai tantangan di masa depan. Pentingnya Literasi pada Anak Usia Dini, yang berada dalam fase keemasannya, di mana mereka menyerap informasi dengan cepat. Literasi pada usia dini tidak hanya mencakup kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga keterampilan komunikasi seperti memahami keterampilan menyimak dan kemampuan berbicara. Keterampilan literasi ini sangat penting karena memungkinkan anak untuk memahami lingkungan sekitarnya dan membangun kemampuan berpikir kritis sejak dini. Dengan literasi, anak-anak dapat memahami cerita, instruksi, serta ekspresi emosi dan ide yang penting dalam berkomunikasi.Di masa sekarang, literasi pada anak usia dini juga berkaitan dengan literasi digital. Anak-anak diperkenalkan pada perangkat teknologi seperti tablet dan komputer yang bisa membantu mereka belajar melalui aplikasi edukatif. Meski demikian, penggunaan teknologi harus diawasi agar tidak mengganggu perkembangan sosial dan emosional anak.Selain literasi, numerasi juga sangat penting. Numerasi melibatkan kemampuan anak dalam mengenal angka, menghitung, dan memahami konsep dasar matematika seperti ukuran, bentuk, dan pola. Kemampuan numerasi dapat membantu anak dalam kegiatan sehari-hari seperti membagikan makanan, mengenali bentuk, dan menghitung benda.Pendidikan numerasi pada usia dini dapat dilakukan melalui kegiatan bermain. Misalnya, anak dapat diajak untuk menghitung mainan, menyusun balok, atau mengenali bentuk dan warna. Melalui cara ini, anak-anak belajar tanpa merasa terbebani dan lebih mudah memahami konsep-konsep matematika dasar yang akan menjadi landasan untuk belajar lebih lanjut di kemudian hari.Tantangan Literasi dan Numerasi pada Masa SekarangMeski penting, ada beberapa tantangan dalam pengembangan literasi dan numerasi pada anak usia dini. Salah satu tantangannya adalah kesenjangan akses pendidikan. Tidak semua anak memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses pendidikan yang memadai, terutama di daerah terpencil. Selain itu, dengan perkembangan teknologi yang pesat, banyak anak yang lebih fokus pada hiburan digital daripada kegiatan literasi dan numerasi yang konvensional.Orang tua dan guru memegang peran penting dalam mengembangkan literasi dan numerasi anak. Mereka dapat memperkenalkan literasi dan numerasi melalui kegiatan sederhana di rumah atau melalui pembelajaran kreatif di sekolah. Orang tua juga diharapkan untuk memberikan contoh dalam membaca dan menghitung, serta menggunakan teknologi dengan bijak.Literasi dan numerasi adalah kemampuan dasar yang harus dikembangkan sejak dini. Keterampilan ini tidak hanya penting untuk prestasi akademik, tetapi juga membantu anak dalam kehidupan sehari-hari dan perkembangan pribadi. Tantangan dalam pengembangan literasi dan numerasi pada masa sekarang, seperti akses pendidikan yang tidak merata dan penggunaan teknologi yang berlebihan, memerlukan peran aktif dari orang tua, guru, dan pemerintah. Dengan pendekatan yang tepat, literasi dan numerasi pada anak usia dini dapat diperkuat dan menjadi bekal untuk masa depan mereka.
# EDUKASI
# Opini

  Youtube

Surah Ar-Rahman | Aniq Muhai

  Informasi

Selamat Hari Guru Nasional
Arah Pendidikan Nasional & Transformasi Pendidikan Lokal di Daerah
Kupas Tuntas: Kurikulum, Inklusi, dan Seni di Sekolah Dasar
Momentum Kebangkitan Nasional Melalui Peningkatan Kualitas Pendidikan