Beranda > Edukasi

  Postingan Terbaru

Pencegahan Kekerasan Seksual Sejak Dini melalui Lagu “Ku Jaga Diriku” di Satuan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Kota Banjarmasin

Rizki Nugerahani Ilise, M.Pd
3 Juni 2026
Kekerasan seksual terhadap anak adalah persoalan serius yang tidak boleh menunggu korban jatuh lebih banyak baru kemudian dibicarakan. Anak usia dini sering kali belum memiliki bahasa, keberanian, dan pemahaman yang cukup untuk menjelaskan pengalaman tidak nyaman yang mereka alami. Karena itu, pencegahan harus dimulai sejak dini, termasuk di satuan Pendidikan Anak Usia Dini atau PAUD. Di Kota Banjarmasin, PAUD dapat menjadi ruang strategis untuk menanamkan kesadaran perlindungan diri kepada anak melalui cara yang sederhana, menyenangkan, dan sesuai dengan tahap perkembangan mereka.Salah satu media yang relevan digunakan adalah lagu “Ku Jaga Diriku”. Lagu ini dikenal sebagai media edukatif untuk mengenalkan kepada anak tentang bagian tubuh yang boleh dan tidak boleh disentuh, serta apa yang harus dilakukan ketika anak mengalami situasi yang membuatnya tidak nyaman. Pesan seperti ini penting karena anak usia dini belum dapat menerima penjelasan yang terlalu abstrak, tetapi lebih mudah memahami pesan melalui nyanyian, gerakan, pengulangan, dan contoh konkret. Mengajarkan pencegahan kekerasan seksual kepada anak PAUD bukan berarti mengenalkan hal yang vulgar kepada anak. Justru sebaliknya, pendidikan ini adalah pendidikan perlindungan tubuh. Anak perlu tahu bahwa tubuhnya berharga, bahwa ada bagian tubuh pribadi yang harus dijaga, dan bahwa mereka berhak berkata “tidak” ketika merasa tidak nyaman. Anak juga harus dibiasakan untuk berani bercerita kepada guru, orang tua, atau orang dewasa tepercaya ketika mengalami perlakuan yang tidak pantas.Lagu menjadi media yang tepat karena dunia anak adalah dunia bermain. Dalam teori perkembangan kognitif Jean Piaget, anak usia dini berada pada tahap praoperasional, yaitu tahap ketika anak belajar melalui simbol, bahasa, imajinasi, dan pengalaman konkret. Lagu “Ku Jaga Diriku” dapat membantu anak memahami pesan perlindungan diri tanpa merasa takut atau tertekan. Ketika lagu dinyanyikan berulang, pesan tentang menjaga tubuh dapat masuk ke dalam ingatan anak secara alami. Selain itu, teori belajar sosial Albert Bandura menegaskan bahwa anak belajar melalui pengamatan dan peniruan. Ketika guru PAUD menyanyikan lagu dengan ekspresi, gerakan tubuh, dan contoh perilaku yang tepat, anak tidak hanya mendengar pesan, tetapi juga meniru sikap berani menjaga diri. Guru dapat memperagakan bagaimana anak berkata “tidak”, menjauh dari situasi berbahaya, dan melapor kepada orang dewasa yang dipercaya.Dalam konteks PAUD Kota Banjarmasin, penggunaan lagu “Ku Jaga Diriku” perlu ditempatkan sebagai bagian dari budaya aman di satuan pendidikan. Lagu ini tidak cukup dinyanyikan sekali dalam kegiatan pembelajaran, lalu selesai. Ia harus menjadi bagian dari pembiasaan: dinyanyikan pada tema diri sendiri, kesehatan, keluarga, atau keselamatan; dikaitkan dengan kegiatan bercerita; diperkuat melalui permainan peran; dan dikomunikasikan kepada orang tua agar pesan yang sama juga dilanjutkan di rumah.Pencegahan kekerasan seksual di PAUD tidak boleh hanya dibebankan kepada anak. Anak memang perlu diajarkan menjaga diri, tetapi tanggung jawab utama tetap berada pada orang dewasa. Guru, kepala satuan PAUD, tenaga kependidikan, orang tua, dan pemerintah daerah harus menciptakan lingkungan belajar yang aman. Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023 menegaskan bahwa pencegahan dan penanganan kekerasan di satuan pendidikan mencakup peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali, komite sekolah, dan masyarakat. Peraturan ini juga berlaku untuk satuan PAUD, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Karena itu, lagu “Ku Jaga Diriku” harus dipahami sebagai pintu masuk, bukan satu-satunya solusi. Satuan PAUD perlu memiliki prosedur perlindungan anak yang jelas, guru harus dilatih mengenali tanda-tanda kekerasan, ruang belajar harus diawasi secara sehat, dan komunikasi dengan orang tua harus dibangun secara terbuka. Anak yang berani bercerita harus dipercaya, didengarkan, dan dilindungi, bukan disalahkan atau dibungkam.Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual menegaskan pentingnya pencegahan, penanganan, perlindungan, pemulihan korban, penegakan hukum, serta jaminan agar kekerasan seksual tidak terulang. Prinsip ini seharusnya diterjemahkan ke dalam praktik pendidikan sejak usia dini. PAUD bukan hanya tempat anak belajar angka, huruf, warna, dan lagu, tetapi juga tempat anak belajar bahwa tubuhnya harus dihormati. UNICEF juga menekankan bahwa kekerasan, eksploitasi, dan pelecehan terhadap anak dapat terjadi di tempat-tempat yang seharusnya melindungi mereka, termasuk rumah, sekolah, dan komunitas. Karena itu, perlindungan anak memerlukan sistem yang kuat, bukan hanya nasihat sesaat. Sementara itu, WHO menekankan bahwa pencegahan kekerasan terhadap anak harus menyentuh berbagai lapisan, mulai dari individu, relasi, komunitas, hingga masyarakat. Di sinilah pentingnya kolaborasi. Pemerintah Kota Banjarmasin melalui dinas terkait dapat mendorong satuan PAUD untuk memasukkan edukasi perlindungan tubuh ke dalam kegiatan pembelajaran yang ramah anak. Guru PAUD dapat menggunakan lagu “Ku Jaga Diriku” sebagai media utama, lalu memperkuatnya dengan cerita bergambar, boneka tangan, poster, dan simulasi sederhana. Orang tua dapat melanjutkan pesan yang sama di rumah dengan bahasa yang lembut dan tidak menakut-nakuti. Kita perlu berhenti menganggap bahwa pembicaraan tentang perlindungan tubuh adalah hal yang tabu. Yang tabu bukanlah mengajarkan anak menjaga dirinya; yang berbahaya justru ketika anak dibiarkan tidak tahu, tidak berani menolak, dan tidak tahu harus bercerita kepada siapa. Pendidikan perlindungan diri sejak dini adalah bentuk kasih sayang, bukan bentuk kecurigaan kepada lingkungan.Lagu “Ku Jaga Diriku” memberi peluang besar untuk menjadikan pencegahan kekerasan seksual lebih dekat dengan dunia anak. Melalui nada, irama, gerakan, dan pengulangan, anak belajar bahwa dirinya berharga. Melalui guru yang peduli, anak belajar bahwa ada orang dewasa yang bisa dipercaya. Melalui PAUD yang aman, anak belajar bahwa sekolah adalah tempat yang melindungi, bukan tempat yang menakutkan. Maka, pencegahan kekerasan seksual sejak dini di PAUD Kota Banjarmasin perlu dilakukan secara serius, sistematis, dan menyenangkan. Lagu “Ku Jaga Diriku” dapat menjadi media sederhana, tetapi dampaknya dapat sangat bermakna apabila digunakan dengan tepat. Sebab melindungi anak bukan hanya tugas keluarga, bukan hanya tugas sekolah, dan bukan hanya tugas pemerintah. Melindungi anak adalah tanggung jawab bersama. Dan tanggung jawab itu harus dimulai sejak anak masih kecil, sebelum mereka terluka, sebelum mereka takut bicara, dan sebelum kita terlambat bertindak.
# EDUKASI
# Opini

Kegiatan Edukasi Perlindungan Perempuan dari Kekerasan terhadap Perempuan (Ktp) di Perguruan Tinggi

Nor Hayati, M.Pd
3 Juni 2026
Dinas Pemberdayaan  Perempuan dan Perlindungan anak (DPPPA) Kota Banjarmasin menyelenggarakan kegiatan "Edukasi Perlindungan Perempuan dari Kekerasan terhadap Perempuan (Ktp) di Perguruan Tinggi bertempat di Banjarmasin Command Center (BCC), Selasa 12 Mei 2026.Kegiatan dibuka secara resmi oleh Kepala DPPPA Kota Banjarmasin, Bapak  Dr. H. M. Ramadhan, S.E., M.E., Ak,. dan di ikuti oleh perwakilan mahasiswa serta civitas akademika dari berbagai perguruan tinggi dikota Banjarmasin. Kekerasan terhadap perempuan masih menjadi salah satu permasalahan sosial yang memerlukan perhatian serius, termasuk di lingkungan perguruan tinggi. Kampus sebagai pusat pendidikan, penelitian, dan pengembangan karakter seharusnya menjadi ruang yang aman, nyaman, dan bebas dari segala bentuk kekerasan. Namun, berbagai kasus kekerasan berbasis gender, pelecehan seksual, diskriminasi, dan bentuk kekerasan lainnya masih ditemukan di lingkungan pendidikan tinggi. Oleh karena itu, diperlukan upaya edukatif yang berkelanjutan untuk meningkatkan kesadaran sivitas akademika mengenai pentingnya perlindungan perempuan dan pencegahan kekerasan.Sebagai bentuk komitmen dalam menciptakan lingkungan kampus yang aman dan inklusif, perguruan tinggi di Banjarmasin menyelenggarakan kegiatan Edukasi Perlindungan Perempuan dari Kekerasan terhadap Perempuan (KtP). Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan mengenai bentuk-bentuk kekerasan terhadap perempuan, dampaknya, serta langkah-langkah preventif yang dapat dilakukan di lingkungan kampus.Melalui pertemuan ini diharapkan terjalin sinergi yang kuat antara Pemerintah Kota dan institusi pendidikan dalam menciptakan kampus yang aman, nyaman dan terlindungi bagi perempuan. Kegiatan Edukasi Perlindungan Perempuan dari Kekerasan terhadap Perempuan (KtP) di perguruan tinggi di Banjarmasin merupakan langkah penting dalam membangun lingkungan akademik melalui peningkatan kesadaran, pemahaman, dan partisipasi aktif seluruh sivitas akademika, upaya pencegahan kekerasan dapat dilakukan secara lebih efektif. Diharapkan kegiatan ini menjadi bagian dari gerakan berkelanjutan untuk mewujudkan kampus yang menghargai martabat manusia, menjunjung kesetaraan, dan memberikan perlindungan bagi seluruh warga kampus tanpa terkecuali.
# EDUKASI
# Opini

Tiga Nilai Dasar yang Wajib Dimiliki Sivitas Akademika STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin: Terima Kasih, Tenggang Rasa, dan Rasa Malu

Barendz Umar
2 Juni 2026
Salah satu rutinitas yang tidak boleh dilewatkan dosen dan tenaga kependidikan STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin adalah berkumpul di Laboratorium Microteaching sebelum pulang. Kegiatan sederhana ini bukan hanya menjadi ruang pertemuan informal, tetapi juga menjadi momentum untuk melakukan refleksi, memperkuat kebersamaan, serta mengevaluasi tanggung jawab setiap sivitas akademika dalam memajukan institusi.Dalam kesempatan tersebut, Bapak Iwan Perdana, Ph.D. senantiasa memberikan nasihat dan membimbing sivitas akademika STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin. Menurut beliau, menjadi dosen bukan hanya persoalan kepintaran akademik, kemampuan mengajar, atau penguasaan materi perkuliahan. Lebih dari itu, seorang dosen dan tenaga kependidikan harus memiliki kepedulian, kesadaran moral, serta kemauan untuk memberikan kontribusi terbaik bagi kampus. Tiga sikap yang harus dimiliki adalah rasa terima kasih, tenggang rasa, dan rasa malu.1. Terima KasihKemampuan berterima kasih mencerminkan kedewasaan dan kerendahan hati. Seorang akademisi yang mampu berterima kasih tidak akan menganggap kesempatan, kepercayaan, dan dukungan yang diperolehnya sebagai sesuatu yang biasa saja. Ia menyadari bahwa setiap pencapaian tidak pernah lahir dari usaha pribadi semata, tetapi juga melibatkan peran orang lain.Di lingkungan STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, rasa terima kasih dapat diwujudkan dengan menghargai pimpinan atas berbagai kesempatan dan kebijakan yang memperhatikan aspek kemanusiaan. Rasa terima kasih juga perlu ditunjukkan kepada rekan kerja yang telah membantu menyelesaikan pekerjaan, kepada mahasiswa yang memberikan kepercayaan kepada dosen untuk membimbing proses pembelajarannya, serta kepada seluruh pihak yang berkontribusi terhadap kemajuan kampus.Namun, rasa terima kasih tidak cukup hanya disampaikan melalui ucapan. Bentuk terima kasih yang paling nyata adalah bekerja dengan sungguh-sungguh, menjaga amanah, meningkatkan kualitas pelayanan, serta berupaya memberikan hasil terbaik sesuai dengan tugas dan tanggung jawab masing-masing.2. Tenggang RasaTenggang rasa merupakan kemampuan untuk memahami keadaan, kebutuhan, dan perasaan orang lain. Dalam lingkungan kerja, setiap individu memiliki tanggung jawab, tantangan, dan keterbatasan yang berbeda. Oleh karena itu, dosen dan tenaga kependidikan harus mampu membangun hubungan kerja yang saling menghargai.Implementasi tenggang rasa dapat dimulai dari hal-hal sederhana, seperti menjaga cara berkomunikasi, menghargai waktu orang lain dan membantu rekan kerja yang mengalami kesulitan. Tenggang rasa juga berarti mampu menyampaikan kritik dengan cara yang tepat dan menerima perbedaan pendapat secara dewasa.Kampus yang maju bukan hanya dibangun oleh individu-individu yang cerdas, tetapi juga oleh orang-orang yang mampu bekerja sama secara harmonis. Kepintaran tanpa tenggang rasa berpotensi melahirkan konflik. Sebaliknya, tenggang rasa yang disertai tanggung jawab akan menciptakan lingkungan kerja yang sehat, produktif, dan saling menguatkan.3. Rasa MaluRasa malu bukanlah sikap minder atau takut menyampaikan pendapat. Rasa malu yang dimaksud adalah kesadaran moral yang menjaga seseorang agar tidak mengabaikan tanggung jawabnya. Rasa malu menjadi pengingat internal agar setiap dosen dan tenaga kependidikan bekerja dengan benar, jujur, dan profesional, meskipun tidak selalu diawasi.Malulah apabila tidak bekerja dengan sungguh-sungguh. Malulah apabila mengabaikan tanggung jawab. Malulah apabila datang terlambat tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Malulah apabila tidak memberikan pelayanan yang baik. Malulah apabila tidak menjadi teladan bagi mahasiswa. Malulah apabila tidak berusaha meningkatkan kompetensi. Malulah apabila hanya menuntut hak, tetapi melupakan kewajiban.Seorang dosen memiliki tanggung jawab yang besar karena perilakunya tidak hanya memengaruhi lingkungan kerja, tetapi juga menjadi contoh bagi mahasiswa. Kontribusi terbaik yang diberikan kepada kampus secara tidak langsung akan berdampak pada peningkatan kualitas pendidikan, kemajuan masyarakat, dan kemajuan bangsa. Pada akhirnya, keberhasilan institusi juga akan membawa kebermanfaatan bagi setiap individu di dalamnya.Untuk menjadi bagian dari STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, dosen dan tenaga kependidikan tidak cukup hanya memiliki kemampuan akademik dan administratif. Setiap individu juga perlu menjadikan rasa terima kasih, tenggang rasa, dan rasa malu sebagai standar sikap dalam bekerja. Ketiga nilai tersebut harus terus dipahami, dijaga, dan diimplementasikan secara konsisten dalam aktivitas sehari-hari. Budaya kerja yang baik tidak terbentuk hanya melalui aturan tertulis, tetapi lahir dari kebiasaan yang dilakukan secara sadar dan berulang-ulang.Terima kasih setinggi-tingginya kepada Bapak Iwan Perdana, Ph.D. yang tidak pernah lelah membimbing sivitas akademika STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin untuk membangun cara berpikir yang benar, sikap kerja yang bertanggung jawab, serta kepedulian terhadap kemajuan institusi. Jayalah STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin.
# EDUKASI
# Opini

Belajar Manajemen Pendidikan dari Striker Veteran Berkah FC

Iwan Perdana
2 Juni 2026
Melihat Kasliannor yang akrab dipanggil Pak Midun, Pemain veteran Berkah FC, saya langsung teringat Roger Milla—kampiun Tim Kamerun yang sukses merebut bola dari Kiper ikonik Kolombia, Rene Higuita. Keberhasilan The Old Lion memanfaatkan Blunder El Loco mengantarkan Tim Kamerun lolos ke babak perempat final (8 besar) Piala Dunia 1990, dan menyebabkan Tim berjuluk Los Cafeteros pulang lebih cepat dari piala dunia 1990 di Italia.Kasliannor & Rudi, Kapten Berkah FCBermain di posisi striker, aksi Kaslian di lapangan masih membuat kerepotan barisan pertahanan lawan. “Bomber berpengalaman ini sudah mencetak 106 gol selama karirnya membela Berkah FC,’ jelas Rudi, Kapten Berkah FC. Kasliannor, Striker Berkah FCKasliannor masih menjadi andalan Berkah FC di lini depan. Meski tak lagi muda, akurasi umpannya terjaga (Maintained Passing Accuracy). Kontrol Bolanya pun masih Ciamik (Ball Control). Walau kehilangan kecepatan menggiring bola (Losing a Yard of Pace), tapi tidak mudah merebut bola di kakinya. Ini saya lihat kemarin, senin (1/6/2026), pada sesi latihan Berkah FC di Lapangan Kayutangi Ujung. Usaha keras Alwad—pemain bertahan, menghalangi Beliau melepaskan tembakan langsung ke gawang. Meski bola masih bisa ditangkap Haris, kiper andalan Berkah FC, ini adalah bukti naluri mencetak golnya belum hilang.Kapten Rudi & Tim Berkah FCTak hanya diandalkan di dalam lapangan, di luar lapangan pun karisma Pak Midun belum memudar. Mendampingi Kapten Rudi sebagai asisten manajer, Ia seringkali menjadi partner diskusi sang komandan klub menyusun pemain yang akan diturunkan untuk mengikuti kompetisi resmi tim. Kesediaannya menyiapkan fasilitas “Alphard” untuk transportasi tim adalah bukti kecintaan dan dedikasi yang luar biasa besarnya kepada tim yang bermarkas di Café Midun ini. Kasliannor & Tim Berkah FCSatu lagi hal yang membuat saya mengagumi Beliau adalah kepeduliannya bersama Kapten Rudi dalam memberi kesempatan pemain muda untuk berlatih / bermain sepak bola di Berkah FC. “Capt, bagi pemain muda jadi dua kelompok agar mereka bisa berlatih,’ ucapnya. Ide kaderisasi dan mendukung kemajuan pemain yunior (Youth Development) luar biasa. Jika banyak  pemain senior yang berpikiran seperti mereka, saya yakin akan maju sepak bola banua. Dan saya melihat, sejauh ini, Berkah FC berhasil memadukan pemain senior dan Yunior di dalam timnya. Maju terus Berkah FC.Kasliannor (Pak Midun) mencerminkan prinsip manajemen pendidikan/ kepemimpinan pendidikan yang efektif. Sebagai asisten manajer sekaligus pemain veteran, Ia menjalankan fungsi perencanaan (menyusun pemain bersama kapten), pengorganisasian (membagi kelompok latihan), dan pendampingan (menyiapkan fasilitas tim). Ini paralel dengan kepala sekolah atau pimpinan lembaga pendidikan yang merancang program, mengatur rombongan belajar, serta memfasilitasi sarana prasarana.Dan yang paling penting adalah kaderisasi kepemimpinan melalui pemberian kesempatan kepada pemain muda. Dalam manajemen pendidikan, keberhasilan sebuah lembaga diukur tidak hanya raihan prestasi dari guru dan siswanya, tetapi juga kemampuan mencetak kader pemimpin baru. Kolaborasi senior–junior di Berkah FC mencerminkan iklim demokratis dan partisipatif, setiap pemain merasa dihargai dan diberi ruang untuk berkembang—persis seperti komunitas lembaga pendidikan yang sehat.  
# EDUKASI
# Opini

Etos Kerja, Senjata Andalan, dan Keseimbangan dalam Kepemimpinan Pendidikan

Iwan Perdana
1 Juni 2026
10 hari yang lalu, saya berbincang dengan Mat Sunda. Pemain berposisi Wing Bek kanan yang hangat dan cepat akrab dengan siapa saja. Menurut pengakuannya, Ia menggemari sepak bola sejak kecil. Hobi itu berlanjut hingga usianya yang kini “matang” bermain sepak bola.  Untuk pemain seusianya, Mat Sunda tergolong pemain luar biasa karena posisi yang dimainkannya menuntut tugas yang sangat berat. Wing bek kanan “memaksa” pemain memiliki stamina prima: Ia harus rajin membantu serangan (overlap) serta cepat kembali bertahan saat kehilangan bola. Ditanya tentang siapa pemain idolanya di kancah sepak bola internasional, tanpa ragu Mat Sunda menyebut Cristiano Ronaldo. Alasannya, pemain Portugal yang baru saja merayakan juara liga Arab Bersama Al Nassr tersebut memiliki etos kerja yang tinggi.“Semua gol yang diciptakan CR7 sangat indah. Di usianya yang sudah memasuki 41 tahun, Ia tetap menjadi penyerang hebat, andalan negaranya dan klub yang dibelanya”, Ungkapnya pada Jumat (22/5/2026). Sedangkan pemain dalam negeri yang dikaguminya adalah Bambang Pamungkas. “Saya suka tandukan Bepe,” ujarnya. Di Berkah FC, Mat Sunda merasakan silaturahmi yang kuat. “Teman-teman tidak gampang tersinggung diajak bercanda, tetapi serius saat Latihan. Berkah FC itu top Pak Iwan.” Ungkapnya. Ia pun merasakan keseimbangan,karena selain canda tawa, dan membahas sepak bola di grup WhatsApp, Setiap pagi H. Juman dan Al Ayubi, memposting nasihat dan kutipan hadits. Berkah FCDikaitkan dengan Manajemen Pendidikan, saya membuat beberapa analogi, yaitu: 1. Etos kerja Di usia 41 tahun, etos kerja Cristiano Ronaldo masih sangat tinggi. Ikon sepak bola ini mengajarkan bahwa dalam kepemimpinan pendidikan, usia tidak menjadi alasan yang menghalangi produktivitas yang berkualitas. "Gol-gol indah" CR7 melambangkan hasil kerja yang estetis dan bermakna yakni pemimpin pendidikan harus menetapkan kebijakan yang berdampak positif bagi peserta didik dan guru.2. Senjata Andalan Meskipun postur tubuhnya tidak terlalu tinggi, Bambang Pamungkas terkenal dengan gol sundulannya. Bisa disebut, gol melalui kepala adalah senjata andalan Bepe. Seorang pemimpin lembaga pendidikan idealnya memiliki "senjata andalan" khas, baik berupa keahlian khusus maupun pendekatan unik yang membedakannya dari pemimpin lain.3. Keseimbangan      Keakraban yang terjalin terasa sangat seimbang. Relasi  tidak hanya diisi dengan bercanda dan membahas bola, tetapi juga diwarnai dengan nasihat serta kutipan hadis setiap pagi yang dibagikan oleh H. Juman dan Al Ayubi." Manajemen pendidikan yang sehat menggabungkan keakraban (relasi sosial), profesionalisme, dan nilai spiritual (karakter). Tanpa keseimbangan, lembaga pendidikan akan kehilangan arah. Ungkapan Mat Sunda tentang Ronaldo, Bepe, dan Berkah FC mengajarkan bahwa pemimpin pendidikan yang hebat adalah sosok yang tetap bekerja keras di usia matang, memiliki keahlian khas, serta mampu menciptakan keseimbangan antara canda, kesungguhan, dan nilai-nilai spiritual.
# EDUKASI
# Opini

Asep Gonzales dan Filosofi "Saling Percaya" di Atas Rumput

Iwan Perdana
30 Mei 2026
Saya mengenal Asep Gonzales di lapangan Kayutangi Ujung. Pemain berpostur kokoh ini memiliki etos kerja tinggi. Saya pernah menyaksikan Ia berusaha mati-matian mengejar Ikhsan, pemain muda berbakat, yang sedang melakukan speed dribbling. Sang speedster itu melesat cepat, namun meskipun tertinggal jauh, Asep tidak menyerah.Penasaran tentang sepak terjangnya di lapangan hijau, saya menanyakan gaya permainan Asep Gonzales ke rekan-rekannya melalui pesan WhatsApp pada Selasa (12/5/2026).Asep Gonzales"Asep seperti Hulk. Dengan postur besar dan berotot, Ia membuat striker lawan ciut," ujar Kun Ivay. "Ia pemain yang tak kenal lelah," tegas Ahmad Sajali. "Meski Asep pemain serba bisa di posisi apa pun, namun Ia lebih sering menjadi bek bertahan yang sulit dilewati berkat postur tinggi dan besarnya," ungkap Rusdi.Saya memiliki pengalaman bermain bersama dengannya sebagai pemain bertahan. Saya di posisi bek kiri, dan Bang Asep di tengah (center-back). Ia sering “memberi” saya bola. "Bawa bolanya, Pak. Bawa dengan tenang," ujarnya. Di lain kesempatan, Ia meneriaki Kiper agar mengoper bola ke saya karena posisi saya paling dekat dengan sang penjaga gawang.Saya pernah menanyakan mengapa Ia mengoper bola kepada saya. "Gak takut direbut, Bang? Saya gak bisa mengolah bola?".  Asep menjawab ringan, "Kita harus saling percaya, Pak. Itulah sepak bola. Semua sama saja, tidak ada yang lebih hebat," jelasnya.Dikaitkan dengan manajemen pendidikan, Saya melihat ada tiga hal yang bisa dipetik dari gaya bermain Asep Gonzales di lapangan hijau.1.     Kepemimpinan melayani (Servant Leadership) Asep Gonzales memberi kepercayaan. Kalimat yang diucapkannya "kita harus saling percaya" adalah inti dari membangun budaya belajar yang aman di lembaga pendidikan.2.     Etos kerja Kengototannya mengejar Ikhsan walau tertinggal jauh adalah analogi sempurna dari growth mindset dan resilience dalam dunia akademik.3.     Fleksibilitas peran Untuk survive, setiap orang idealnya serba bisa di posisi apa pun, namun untuk berkembang harus fokus pada satu posisi. Guru atau dosen harus menguasai banyak ilmu pengetahuan, tetapi juga harus memiliki  kompetensi khusus. Kepercayaan, kegigihan, dan fleksibilitas peran adalah hal yang dapat dikaitkan dengan manajemen pendidikan. Kepercayaan , didukung etos kerja, dan spesialisasi keahlian adalah kunci utama untuk mewujudkan keberhasilan proses belajar mengajar di sekolah.
# EDUKASI
# Opini

Transformasional Leadership di Lapangan Hijau: Praktik Kepemimpinan Rudiansyah, Kapten Berkah FC

Iwan Perdana
21 Mei 2026
Saya mengenal Rudiansyah, salah satu legenda Berkah FC, sekitar November 2023. Kami pernah berbincang di pinggir lapangan tentang sepak bola. Disampaikannya dalam obrolan santai itu, bahwa tujuan utama bermain sepak bola di usia 40 ke atas sekadar menjaga silaturrahmi dan menjaga kesehatan. sedangkan meraih prestasi juara  di kompetisi lokal hanyalah bonusnya.  Rudi, Kapten Berkah FCPak Rudiansyah, yang lebih dikenal dengan panggilan Rudi merupakan sosok pemain dengan mobilitas tinggi dan pekerja keras. Sebagai gelandang tengah, Rudi beroperasi di area pusat lapangan sebagai penghubung lini pertahanan dan penyerang. Tugasnya mengatur tempo permainan, mendistribusikan bola, dan mematahkan serangan lawan. Aksi kapten Berkah FC ini di lapangan menuai banyak pujian dari rekan setimnya. Beberapa pemain senior Berkah FC yang saya ajak ngobrol melalui pesan WhatsApp pada Senin, 18 Mei 2026, menegaskan kelebihannya.“Pak Rudi orangnya ramah, mainnya juga bagus. Gerakannya lincah dan pandai mengatur irama permainan,” puji Rusdi, kiper utama Berkah FC. Bahrudin — wasit yang lebih familiar dengan panggilan Katank — juga menceritakan bahwa ia mengenal Rudi sejak masih berusia belia. Menurutnya gaya permainan gaya permainan Rudi mirip gelandang AC Milan: Gennaro Gattuso, dan Fahmi Amiruddin, legenda Barito Putra ”. Dua pemain yang tidak kenal takut. “Sewaktu masih kanakan, ulun rancak melihat sidin main sepak bola di lapangan Pasar Banjar Raya. Orangnya baik ke semua orang. Pergerakan beliau sangat lincah, cepat berpindah dari satu tempat ke tempat lain,” ujarnya. Berkah FCRudi memiliki karakter kepemimpinan baik di dalam maupun di luar lapangan. Itu tampak dari sikap dan pemikirannya yang selalu mengedepankan soliditas tim. Kepiawaian Rudi mengelola klub diakui sangat baik oleh rekan-rekannya. Respon Kawan-kawan menyiratkan ia seorang yang tegas, terukur dan penuh perhatian. Di jadwal latihan rutin: Setiap hari senin dan kamis di lapangan kayu tangi ujung, di pertandingan persahabatan, atau pada saat tim mengikuti kompetisi, Ia selalu berpesan kepada rekan-rekan layaknya seorang ayah kepada anak; seperti seorang kakak berpesan kepada adiknya, agar selalu berhati-hati.  “Capt Rudi selalu memberikan suport kepada pemain Berkah FC, dan mengingatkan tim untuk selalu menjaga kekompakkan. Salutnya lagi, Pak Rudi ini tidak bosan mengingatkan seluruh pemain agar berhati-hati, jangan sampai cidera,” ungkap Joko Supriyanto, striker Berkah FC.Menurut Kadir — gelandang bertahan — cara Rudi mengatur dan mengurus Berkah FC pun sangat baik. “Kemampuan manajerial atau kepemimpinan Pak Rudi sangat baik”, tegas guru Sejarah SMAN 1 tersebut. Ia memaparkan kelebihan sang kapten yang dipercaya memimpin dan mengelola tim. “Selain berkarakter gemar men-support rekan untuk maju, Beliau cerdas  merangkul puluhan pemain pemain junior berusia di atas 45 tahun,” katanya.Rudiansyah, Kapten Berkah FCPernyataan guru muda itu diamini oleh Bang Iyus. “ Pak Iwan, Kapten Rudi adalah berkah luar biasa bagi Tim Berkah FC. Di bawah kepemimpinan Beliau, klub berjalan baik dan lancar. Semoga silaturrahami kita terus terjaga,” ungkapnya.  Pujian serupa dinyatakan Muhammad Rahim alias Yuli Berkah. “Tidak mudah menjadi ketua, tapi Pak Rudi melakukan yang terbaik. Saya sangat salut dengan Beliau. Semoga Pak selalu sehat, aamiin,” ujarnya.Saya mencoba menganalogikan Rudi, Kapten Berkah FC, dengan teori kepemimpinan transformasional menurut Bass (1985) yang menyebutkan 4 ciri, yaitu: (1) Idealized Influence, (2) Inspirational Motivation, (3) Intellectual Stimulation, dan (4) Individualized Consideration. Teori kepemimpinan transformasional Bernard Bass (1985) yang ingin diimplementasikan di lembaga pendidikan terasa hidup di lapangan sepak bola, dipraktikkan oleh Rudi Berkah FC. Ia menginspirasi dan merangkul tanpa membeda-bedakan anggota grup. Beranikah kita meniru?
# EDUKASI
# Opini

Yang Penting Fun, Juara Bukan Target: Belajar dari Filosofi Coach Mady

Iwan Perdana
18 Mei 2026
Seperti kebanyakan anak laki-laki, saya juga menggandrungi sepak bola. Saya lupa bagaimana proses awal jatuh cinta pada olah raga ini, mungkin karena sepak boleh cukup bermodalkan bola plastik dan tanah lapang. Di tambah lagi, pada saat saya masih berusia 10 tahun-an, saban sore bersama Abah (alm) nonton Piala dunia 1986 di rumah tetangga.Di masa kecil dulu, saya belum mengetahui SSB: Sekolah Sepak Bola. Mungkin saja pada waktu itu sudah ada. Andai saat itu saya tahu, kemungkinan besar saya tertarik ikut berlatih 😊. Kini SSB / akademi sepak bola sudah  menjamur di Banjarmasin. Anak-anak yang memiliki hobi bermain sepak bola, dan didukung orang tuanya bergabung dengan beragam tujuan. Baik untuk tujuan meraih prestasi, ataupun sekadar olahraga. Ada juga orang tua yang mengikutsertakan anaknya latihan sekadar meminimalisir buah hatinya habiskan waktu di depan gadget.Seperti tulisan sebelumnya, saya mencoba menganalogikan sepak bola dengan manajemen pendidikan. Fokus tulisan pendek saya kali ini adalah Achmady, pemain bertahan Berkah FC, yang lebih familiar dengan nama panggilan Coach Mady.Dalam tim, Coach Mady memainkan posisi gelandang bertahan. “Om Mady punya fisik yang kuat, Selain apik bermain bola, Beliau jago menyemangati tim”, kata Bahrudin mengungkapkan keunggulan Coach Mady. Kelebihan lainnya ujar Wasit  Humoris ini adalah lemparan bola ke dalam Coach Madi yang sangat jauh menjadi senjata tambahan yang merepotkan lawan.Achmady_ Gelandang Bertahan Berkah FCSelain menjadi salah satu pilar tim yang dipimpin Kapten Rudi dengan Pembina H. Juman, Coach Mady juga seorang pelatih sepak bola. Rekan satu tim di Berkah FC, Alwad — gelandang menyerang — memberikan apresiasi terhadap kemampuan taktiknya. "Kalau aku menilai Coach Mady memang ahli strategi, pintar ngatur," ujarnya.Demikian pula Ody — gelandang bertahan andalan Berkah FC—memberikan testimoni komprehensif tentang Coach Madi sebagai pelatih. "Beliau konsisten dalam melatih. Tegas dan penuh kelembutan terhadap anak didik. Jenius secara taktik, disiplin namun fleksibel. Ahli dalam memotivasi pemain," ujar Ody.Coach Mady & Coach IkhsanBaru-baru ini, Coach Mady berkolaborasi dengan Coach Ikhsan, speedster muda berbakat  Berkah FC, sukses membina Akademi Sepak Bola Utama Raya meraih juara 2 Piala Presiden. Prestasi tersebut menghantarkan tim yang mereka latih mewakili Banjarmasin ke tingkat kota, melawan Barabai, Balangan, dan lainnya.Kiri ke kanan: Ikhsan, Taufik, Iwan, Kaslian, Rusdi, Mat EloyApa rahasia di balik keberhasilan tim U-12 Akademi Utama Raya meraih Juara 2 Piala Presiden? Bukan tekanan. Bukan teriakan. Bukan target mati. Bersama Coach Ikhsan mengantarkan Utama Raya juara, Coach Madi justru berpegang pada tiga fondasi sederhana namun revolusioner untuk anak usia dini.Melalui wawancara via WhatsApp dengan Coach Mady, berikut tiga inti fondasi kepelatihannya. Pertama, tidak ada tantangan, bawa fun saja. "Tantangan tidak ada. Dibawa fun aja. Biarkan anak menikmati permainan bergembira tanpa tekanan," ujarnya. Kedua, anak bukan mesin pencipta piala. "Mereka bukan mesin pencipta piala. Tujuan utama: mencintai permainan, bukan sekadar mengejar trofi," tegas Coach Mady. Ketiga, kapten adalah tanggung jawab, bukan sekadar ban lengan. "Kapten bukan segaris kain di lengan, tapi tanggung jawab yang harus diemban. Saya memberikan tanggung jawab kepada kapten sepenuh hati dengan pertimbangan kompetensi pemain dan chemistry-nya dengan tim," pungkasnya.Selama ini saya membayangkan bahwa pelatih sepak bola yang hebat adalah yang keras, yang berteriak di pinggir lapangan, dan yang hanya puas jika timnya membawa pulang piala. Coach Mady membalik logika itu. Ia justru menekankan kegembiraan, mengingatkan bahwa anak-anak bukan mesin prestasi, dan mengajarkan bahwa ban kapten adalah simbol tanggung jawab, bukan gaya. Saya berpendapat tiga fondasi Coach Mady memiliki kesamaan dengan manajemen dan kepemimpinan pendidikan sebagai berikut:Pertama   :    "Bawa fun saja" memiliki kesamaan dengan konsep merdeka belajar. Kepala sekolah dan guru fokus menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan, bukan  menargetkan nilai agar anak tidak kehilangan kecintaan pada proses belajar itu sendiri.Kedua      :    "Anak bukan mesin pencipta piala". Pendidikan bukan sekadar perlombaan nilai dan akreditasi. Tujuan utama pendidikan adalah membentuk manusia yang berkarakter dan berpengetahuan, bukan sekadar mengejar sertifikat atau piala lomba.Ketiga      :    "Kapten adalah tanggung jawab, bukan ban lengan" Seorang kepala sekolah, ketua kelas, atau pengurus OSIS tidak boleh menjadikan jabatan sebagai simbol status semata. Amanat kepemimpinan harus diemban dengan penuh tanggung jawab, berdasarkan kompetensi dan kemampuan berkolaborasi dengan seluruh warga sekolah.Proses pelatihan di lapangan hijau serupa dengan pembelajaran di sekolah. Coach Mady mengajarkan hal sederhana namun sering dilupakan: pendidikan, seperti sepak bola, hanya akan bermakna jika anak-anak tetap tersenyum, merasa bertanggung jawab, dan mencintai prosesnya. Bukan karena tekanan. Bukan karena target mati. 
# EDUKASI
# Opini

Sihir Kaki Kiri 'Korrakot Sasalak' Asal Belitung: Pelajaran tentang Fleksibilitas, dan Ekosistem yang Memberdayakan

Iwan Perdana
1 Mei 2026
Semburat jingga mulai menyentuh rumput Lapangan Kayu Tangi sore itu, Kamis (30/4/ 2026). Duduk dibangku pemain pengganti, saya menyaksikan ritme permainan kedua tim yang bertanding mengalir begitu dinamis. Di antara keriuhan teriakan pemain pengganti dan penonton seperti saya, sosok Dahri mencuri perhatian. Menempati pos bek kiri, ia tak sekadar menjadi tembok pertahanan. Dahri adalah anomali; seorang pemain bertahan yang memiliki insting menyerang. Taher, striker andalan Berkah FC, menjuluki rekannya itu dengan sebutan 'Korrakot Sasalak'—merujuk pada gaya main bek sayap modern asal Thailand. "Bang Dahri sering melakukan operasi membantu penyerangan untuk melakukan counterattack. Ciri khasnya kaki kidal, umpan crossing-nya akurat ke area pertahanan lawan. Namun, ia juga bisa menusuk langsung untuk melakukan shooting keras yang berbuah gol," ujarnya.  Kelebihan utama Dahri  terletak pada kaki kirinya. Kapten Berkah FC, Rudi, mengamini hal tersebut. "Dahri adalah pemain bek kiri dengan andalan kaki kirinya yang sangat keras dalam melakukan shooting," ungkap Rudi. Transformasi Dahri di lapangan diakui oleh rekan setim lainnya. Taufik, gelandang serang, melihat kurva peningkatan yang signifikan dalam performa sang bek kiri. Seolah-olah, semakin bertambah usia, Dahri justru semakin menemukan sentuhan emasnya di lapangan. "Alhamdulillah, mulai meningkat permainan beliau selama main di Berkah FC," kata Taufik. Di klub ini, Dahri seakan menemukan ekosistem yang tepat untuk terus bertumbuh. Berkah FC sendiri memang dikenal sebagai wadah bagi para pemain bertalenta yang menjunjung tinggi kebersamaan. Menganalogikan Dahri dalam perspektif manajemen pendidikan sangat menarik dan menjadi tantangan tersendiri. Berikut adalah poin-poin yang dapat saya temukan:1.       Manajemen Sumber Daya Manusia (SDM) Berbasis Potensi, Bukan UsiaDahri membuktikan “usia hanyalah angka” dan justru meningkat seiring waktu. Manajemen SDM yang baik memetakan kompetensi, kematangan emosional, dan konsistensi kinerja. Bukan sekadar melihat usia. Guru senior justru bisa menjadi aset strategis jika diberikan kepercayaan dan ruang ekspresi yang tepat.2.       Struktur Peran yang Fleksibel (Role Flexibility)Dahri adalah bek kiri, tetapi memiliki insting menyerang (anomali positif). Manajemen pendidikan yang adaptif tidak mengkotakkan personel secara kaku, tetapi justru memanfaatkan keunikan individu untuk mencapai tujuan bersama secara lebih kreatif dan efektif.3.       Kepemimpinan Apresiatif dan Pemberian Julukan PositifTaher menjuluki Dahri sebagai ‘Korrakot Sasalak’ (bek sayap eksplosif). Kepala sekolah dapat menggunakan metafora, julukan positif, atau narasi inspiratif untuk membangun identitas profesional. Pengakuan sosial seperti ini meningkatkan motivasi intrinsik dan menciptakan budaya kerja yang menghargai keunikan individu.4.       Pengembangan Profesional Berbasis Lingkungan yang Mendukung Dahri meningkat performanya setelah bermain di Berkah FC yang menjunjung kebersamaan. Sekolah perlu dirancang sebagai learning ecosystem yang aman, kolaboratif, dan suportif. Tanpa ekosistem yang tepat, potensi individu tidak akan berkembang.5.       Pengakuan atas Kompetensi Spesifik (Spesialisasi)Kaki kiri Dahri adalah kekuatan utama: shooting keras, crossing akurat. Manajemen berbasis bakat (talent management) perlu mengidentifikasi dan memberdayakan kekuatan spesifik setiap tenaga pendidik. Di Berkah FC, kaki tidak hanya menendang —ia bercerita: menyerang, dan bertahan. Di bawah arahan H. Juman dan dipimpin Kapten Rudi, tim ini bukan sekadar klub. Ia adalah sekolah yang mengajarkan kebersamaan, kedisiplinan, dan pengelolaan yang memanusiakan. Yang muda berkembang, yang tua tak hanya sehat —tapi tetap berprestasi. Terbukti, Berkah FC sering meraih juara di banyak kompetisi. 
# EDUKASI
# Opini

Guru Bimbingan Konseling : Di Tangan Mereka, Gawang Sekolah Bertumpu

Iwan Perdana
13 Maret 2026
Yuliana Nurhayati, M.Pd — Wakil Ketua Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama STKIP Islam Sabilal MUhtadin Banjarmasin — menegaskan layanan Bimbingan dan konseling di sekolah sangat diperlukan. “Bimbingan dan konseling (BK) di sekolah sangat penting untuk mengoptimalkan perkembangan pribadi, sosial, belajar, dan karir siswa. Selain membantu menangani pelanggaran aturan dan masalah etika siswa, layanan BK juga meringankan tugas guru lain serta menjadi tempat konsultasi yang aman bagi siswa karena dijamin kerahasiaannya oleh kode etik profesi”, jelasnya (Jumat, 13/3/2026).Mengaminkan pernyataan tersebut, Tati Akhbariyyah, S.S., Gr., S.Pd., M.Pd. (Kandidat Doktor), Dosen pengampu mata kuliah Pengantar Bimbingan Konseling SD STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin  menyatakan bahwa peran guru BK tidak hanya membantu menyelesaikan masalah, tetapi juga sebagai pengembang potensi, bakat, dan perencana karir siswa.Pendapat 2 dosen kampus Visioner tersebut menginspirasi saya membuat tulisan singkat tentang besarnya peran Guru BK di sekolah dengan menganalogikannya dengan Peran Kiper dalam sebuah tim sepak bola. Saya teringat Bang Amat, Kiper Berkah FC dan Bersaudara FC. Suaranya lantang mengingatkan pergerakan rekan setim, sekaligus memperingatkan Kawan agar tak lengah mengawasi pemain lawan. Meski usia terus bertambah, di lapangan bola, Bang Amat tetap sosok yang saya kenal 40 tahun silam: energik, penuh semangat.Sepanjang ingatan saya, dulu Mat Eloy—panggilan akrab Bang Amat—kerap mengisi posisi gelandang bertahan, kadang turun sebagai bek, namun paling sering berdiri kokoh di bawah mistar sebagai kiper. Kini, di usianya yang tak lagi muda, ia masih setia memainkan peran serupa: menjaga, mengatur, dan menjadi denyut yang menghidupkan permainan.Melihat Kawan masa kecil ini, saya  teringat Jorge Campos, kiper ikonik Meksiko. Pemain bertinggi badan 168 cm yang gemar mengenakan jersey warna warni. Refleksnya cepat dan memiliki kemampuan bermain sebagai striker. Tugas kiper tidaklah mudah. Sebagai pemain terakhir yang berada di barisan belakang, dengan keistimewaan diizinkan menggunakan tangan dan kaki tugasnya memastikan tidak terjadi gol dengan cara menangkap atau menepis yang ditendang pemain lawan. Kiper juga berperan mengatur pertahanan, mendistribusikan bola, dan membangun serangan dari belakang.  Meskipun kemenangan tim merupakan buah kerja sama seluruh pemain, posisi kiper kerap menjelma sebagai pahlawan tak terlihat (unsung hero) yang perannya krusial bagi keberhasilan di lapangan. Di sekolah, saya melihat salah satu guru bidang studi yang memainkan peran ini adalah guru bimbingan konseling. Saya menganalogikan Kiper dalam sebuah tim sepak bola untuk fungsi Guru Bimbingan dan Konseling (BK) di sekolah dengan mencari persamaan strategis dan manajerial mereka sebagai berikut:1.        Pertahanan terakhirKiper adalah harapan terakhir tim mencegah bola masuk ke gawang ketika seluruh pemain belakang berhasil dilewati oleh "serangan" lawan. Guru BK menjadi benteng terakhir untuk "menyelamatkan" siswa yang tidak bisa diatasi guru mata Pelajaran/ wali kelas karena dianggap gagal secara akademik, emosional, atau sosial karena masalah pribadi yang dalam, konflik berat, atau krisis.2.        Analisis MasalahTidak hanya menangkap bola, seorang kiper juga mampu membaca permainan. Ia tahu kemana bola akan diarahkan, memahami pola serangan lawan, dan memberi instruksi ke para pemain bertahan untuk menutup celah. Guru BK dituntut jeli membaca situasi dan gejala masalah: mengamati perubahan perilaku siswa, memahami dinamika kelas, dan menganalisis akar masalah (apakah itu masalah keluarga, pertemanan, atau belajar). Dari "bacaan" tersebut, Guru BK memberikan saran strategis kepada guru dan orang tua tentang cara terbaik mendampingi siswa/i.3.        Transisi dan Tindak Lanjut Memulai SeranganSetelah menangkap bola, kiper tidak diam. Ia adalah inisiator pertama serangan melalui lemparan atau tendangan yang akurat memberikan bola agar bisa langsung menciptakan peluang bagi timnya untuk mencetak gol. Setelah "menangkap" masalah siswa, Guru BK memulai "serangan balik" positif: memberikan arahan, motivasi, dan rencana tindak lanjut. Mereka menghubungkan siswa dengan sumber daya yang dibutuhkan: bimbingan belajar, konseling lebih lanjut, atau kegiatan positif; agar siswa bisa kembali "menyerang" meraih prestasi dan masa depannya.4.        Memiliki Perspektif yang Lebih Luas Berada di belakang memberikan keuntungan bagi kiper melihat lapangan dari berbagai sudut pandang: kekompakan barisan belakang, lubang di lini tengah, dan posisi pemain lawan yang mengancam. Guru BK melihat gambaran besar dari perkembangan siswa: Interaksi siswa di semua mata Pelajaran, dengan semua guru, dan dengan teman-temannya. Perspektif holistik ini memungkinkan Guru BK memberikan bimbingan yang tidak parsial, tetapi menyeluruh untuk kepentingan jangka panjang siswa.5.        Ketenangan di Bawah Tekanan (Manajemen Krisis)Kiper dituntut untuk tetap tenang, fokus, dan tidak panik, terlebih lagi pada saat injury time dan tim lawan terus menekan. Guru BK sering berhadapan dengan situasi krisis: siswa bermasalah, konflik antar siswa, atau orang tua yang marah. Di sinilah fungsi mereka sebagai "kiper" diuji. Guru BK harus menjadi pribadi yang paling tenang, bisa meredam emosi, dan berpikir jernih untuk mencari solusi terbaik. 6.        Peralatan Khusus dan Area Kerja yang Berbeda (Profesionalisme)Kiper adalah satu-satunya pemain yang boleh menggunakan tangan dan memiliki seragam yang berbeda. Area kerjanya adalah kotak penalti. Ini menunjukkan spesialisasi. Guru BK memiliki keahlian khusus yang tidak dimiliki guru biasa: konseling, psikologi pendidikan. Mereka juga memiliki kode etik profesional yang membedakannya dari profesi guru lainnya, seperti halnya kiper yang punya aturan main berbeda di dalam kotak penalti. Ruang BK adalah area kerja Guru BK yang aman dan nyaman, berbeda dari ruang kelas pada umumnya. Dalam manajemen sekolah, Guru BK bukan sebagai "polisi sekolah" atau "tukang catat poin pelanggaran", melainkan sebagai kiper andalan. Mereka adalah spesialis pertahanan mental dan emosional siswa, yang membaca arah masalah, menjadi benteng terakhir, sekaligus memulai transisi siswa menuju kesuksesan. Tanpa kiper yang tangguh, tim sepak bola sekelas apapun bisa kebobolan. Tanpa Guru BK yang profesional, sekolah semaju apapun bisa kehilangan siswanya karena masalah yang tidak tertangani.
# EDUKASI
# Opini

Delegasi FKIP UNISKA MAB Laksanakan Program Pertukaran Dosen Internasional di Filipina

Iwan Perdana
2 Maret 2026
"Walau tidak lama, Program pertukaran dosen internasional sangat berkesan dan akan menjadi insight untuk meningkatkan kualitas perkuliahan dan kemampuan teaching para dosen, selain bidang lain yang sudah direncanakan." Begitu penuturan lugas Dr. Hengki, S.S., M.Pd, Dekan FKIP Universitas Islam Kalimantan (UNISKA) Muhammad Arsyad Al Banjari Banjarmasin, Selasa (2/3/2026), tentang semangat timnya yang baru saja menuntaskan misi edukasi di University of Mindanao Tagum College (UMTC), Filipina. Sebuah langkah berani, penuh asa, yang mengukuhkan komitmen UNISKA MAB untuk tidak sekadar berkutat di dalam negeri, namun turut merajut benang-benang persahabatan intelektual di kancah global.Sebuah tim solid beranggotakan Ratna, S.Pd., M.Pd., Fitra Ramadani, S.Pd., M.Pd., Fitria Rizkiana, S.Pd., M.Pd., Dr. Hj. Ani Wardah, S.Pd., M.Pd., dan Ari Tri Fitrianto, S.Pd., M.Pd., menemani langkah Dr. Hengki. Mereka bukan sekadar delegasi. Mereka adalah duta ilmu, pembawa misi Tridarma Perguruan Tinggi ke negeri tetangga.Program pertukaran dosen internasional ini berlangsung dari 8 hingga 24 Februari 2026. Agendanya padat, mulai dari sesi lecturing yang memperkaya wawasan dosen, penelitian kolaboratif lintas negara, pengabdian kepada masyarakat yang menyentuh langsung, hingga benchmarking kelembagaan yang krusial. Harapannya, posisi UNISKA MAB dalam jejaring pendidikan global makin kokoh, serta menjadi langkah strategis mendongkrak kualitas akademik, riset, dan pengabdian masyarakat berbasis internasional.Pemilihan UMTC, sebuah universitas swasta tertua di Filipina Selatan yang berdiri sejak 1946, bukanlah tanpa alasan. Ini sejatinya kunjungan balasan. Sebelumnya, beberapa akademisi dari kampus tersebut lebih dulu 'merasakan' atmosfer akademik di UNISKA MAB Banjarmasin.Prof. Dr. H. Mohammad Zainul, S.E., M.M, Rektor UNISKA MAB, dalam acara pelepasan tim pada Jumat (6/2/2026), telah menitipkan pesan krusial: "Bawa pulang pengalaman berharga, rajut jejaring, dan pastikan ada luaran konkret." Pesan itu menjadi cambuk penyemangat bagi para dosen FKIP UNISKA untuk mengukir capaian signifikan, baik untuk akreditasi kampus maupun penguatan tridarma perguruan tinggi.Kolaborasi lintas negara ini menghasilkan sejumlah program pengabdian masyarakat yang menyentuh langsung denyut nadi masyarakat. Di Barangay La Filipina, Tagum City, misalnya, tim yang dipimpin Dr. Hengki bersama kolega dari UMTC, Dr. Armand James Vallejo, Kenneth Garcia Telin, dan Dr. Imelda Viloria Isaal, menyelami “Parental Perceptions and Family Awareness of the Role of Higher Education in Shaping Childrens" Future Success'. Mereka berdiskusi, berbagi pandangan, membuka cakrawala baru bagi para orang tua di sana. Sebuah upaya edukasi yang fundamental.Dr. Ani Wardah, S.Pd., M.Pd., bersama Inlyn Jiezl Cerbo-Javier, MPsy, RPsy, LPT, CHRA, CFP, serta Sri Ayatina, S.Pd., M.Pd., dan Rudi Haryadi, S.Pd., M.Pd., menggelar sesi 'Group Counseling: Reducing Academic Procrastination' di Kampus UMTC. Sebuah solusi nyata untuk isu yang kerap menghantui dunia akademik.Di Magugpo South, Tagum City, sebuah inovasi juga lahir. Tim Fitria Rizkiana, S.Pd., M.Pd., bersama Jemer Alimbon, MST, Ariel V. Ando MEng-CpE, NSTP, Emilda Prasiska, S.Pd., M.Pd., Herlina Apriani, S.Pd., M.Pd., Okviyoandra Akhyar, Ph.D., Antoni Pardede, Ph.D., dan RR Ariessanty Alicia Kusuma Wardhani, M.Si., menginisiasi "Utilization of Watermelon Rind as Food Product". Mereka mengubah limbah kulit semangka menjadi produk pangan bernilai, mengajarkan masyarakat tentang ekonomi kreatif berbasis lokal. Ini bukti nyata pengabdian masyarakat internasional yang berkesan.Di Jose Tuason Jr. Memorial National High School, Madaum, Tagum City, Davao del Norte, Filipina, sebuah diskusi hangat mewarnai hari. Tim yang terdiri dari Ari Tri Fitrianto, S.Pd., M.Pd., Dr. Saramie Belleza, Muhammad Habibie, S.Pd., M.Pd., dan Andi Kasanrawali, S.Pd., M.Pd., mengenalkan "Galing in Motion: a Collaborative Approach to Sport Success." Mereka tak hanya berbicara tentang teori, tapi juga berbagi metode, merajut semangat kolaborasi, dan membuka wawasan baru tentang bagaimana meraih prestasi olahraga bersama. Sebuah inisiatif yang benar-benar menggugah semangat sportivitas di sana.     
# EDUKASI
# Pengabdian

My Ph.D journey at FPE UPSI

Iwan Perdana
17 Februari 2026
Kabar gembira saya terima pada 30 Juli 2021 dari UPSI: Offer letter for admission to the postgraduate programme for semester 1 session 2021/2022. Alhamdulillah, keinginan studi Ph,D  jurusan educational management di negeri Jiran, Malaysia, terwujud. Sungguh rejeki tak terduga, keterbatasan finansial tak menjadi halangan, ada dermawan, tidak mau disebutkan namanya,  bersedia membiayai Pendidikan S3. Sempat bingung pada awalnya terkait informasi pengurusan visa, Alhamdulillah, saya ditolong oleh Ibu Noraini Abdul Rahman, pelajar Malaysia yang saya kenal sewaktu sesi perkenalan mahasiswa baru UPSI secara online dan kakak beliau: Bapak Ridzuan Rahman. Kebingungan setibanya di KLIA Malaysia hilang karena regulasi UPSI sangat membantu mahasiswa internasional: Kampus menjemput mahasiswa internasional untuk kedatangan pertama kali.Setibanya di Tanjung Malim pada 18 Desember 2021, Allah SWT kembali mempermudah jalan menutut ilmu di UPSI.  Adalah Alfian Bakti, pelajar master asal Lombok yang menyambut kedatangan di Cafe Cik Anis, yang di kemudian hari menjadi warung langganan. Cik Anis, pemilik kafe, berasal dari Riau. Satu-satunya warung yang buka di pagi hari.Selanjutnya, Bang Alfian mengajak saya ke Taman Harmoni. Dikenalkanlah saya kepada Bang Indra, Wajedi, dan Riza. Mahasiswa magister asal NTB. Bang Alfian mengantarkan periksa kesehatan ke dokter di Pekan untuk kelengkapan administrasi mahasiswa program Ph.D . Dan ke kampus UPSI untuk pertama kalinya.Pada tahun pertama, setelah beberapa hari tinggal di Taman Bahtera bersama Syahwil, pelajar master asal Aceh, saya pindah ke  flat di Taman Bahtera. Tinggal bersama Bang Indra, Rizal dan Wajedi hingga menerima visa pelajar. Saya juga beruntung diajak Pak Ar Razzy, pelajar Ph.D. asal Aceh, mengenal Kampus Sultan Abdul Jalil Shah (KSAJS), kampus  UPSI lama.Pada tahun 2022, saya kembali ke Taman Bahtera. Di kamar yang sama, TB. 185, tinggal satu flat dengan kawan-kawan asal Malaysia yang friendly. Paling berkesan berdiskusi dengan Bang Alif yang sangat terampil bermain musik. Ada juga Siong Kiet, yang selalu baca buku.Tahun 2023, pindah ke Blok 1, masih bersama mahasiswa degree asal Malaysia. Seru berdiskusi dengan mereka hampir setiap malam selama 1 jam, sebelum tenggelam dalam kesibukan masing-masing. Baru pada tahun 2024, saya berjumpa dengan mahasiswa Ph.D. asal Indonesia: Pak Dody dari Riau, Bang Gery dari Padang, Bang Malesa dari Medan, dan Mas Tiyo dari Malang.Saya mulai mengerjakan tesis setelah menyelesaikan perkuliahan Methodology Research yang diampu oleh Dr. Fanny Kho Chee Yuet. Alhamdulillah, saya dibimbing  Dr. Rosnah binti Ishak, dan PM Dr. Mahaliza binti Mansor. Keduanya sangat ramah dan komunikatif. Dr. Rosnah sebagai Main Supervisor memberikan arahan yang jelas, respons cepat, pengetahuan tentang riset, dan rekomendasi referensi yang relevan dengan topik penelitian. PM Mahaliza sangat ramah. Diskusi dengan beliau memperkaya wawasan saya tentang pendidikan.Selama di Malaysia, saya pernah ke Bukit Bintang, Batu Caves dan Twin Towers sendirian. Pernah juga bersama kawan-kawan asal Pulau Sumatra: Pak Dody, Mas Tiyo, Bang Gery dan Bang Malesa ke Kuala Lumpur, membeli oleh-oleh di Pasar Seni, dan menikmati musik di Bukit Bintang. Menikmati masakan ala Malaysia, asyiknya naik bus gratis ke kampus, kerjakan penelitian di Perpustakaan Tuanku Bainun dan perpustakaan digital, bincang dengan mahasiswa UPSI asal China di antrean pengurusan VISA di kampus, adalah momen yang tidak akan pernah saya lupakan.Pengalaman studi di UPSI Malaysia yang menyenangkan semakin bertambah dengan kegembiraan menerima Penghargaan/Anugerah Tan Sri Alimuddin pada tahun 2025, sehari sebelum Konvokesyen pada 11 November 2025. Semoga pengetahuan yang saya pelajari bermanfaat bagi kemanusiaan, bangsa dan pengembangan ilmu pengetahuan. Saya juga berharap dapat menjadi salah satu alumni yang membanggakan dan membesarkan UPSI Malaysia, Kampus Anak Kandung Suluh Budiman.Pendek kata, studi doktoral saya di FPE UPSI  Malaysia telah memberikan landasan yang berharga untuk memperdalam pengetahuan dan wawasan saya. Lingkungan akademik yang dinamis, hubungan yang saling memotivasi dan menginspirasi dengan rekan kerja, dan bimbingan dari supervisor saya secara kolektif telah memperkuat visi saya untuk memajukan dunia pendidikan.
# EDUKASI
# Opini

  Youtube

Surah Ar-Rahman | Aniq Muhai

  Informasi

Selamat Hari Guru Nasional
Arah Pendidikan Nasional & Transformasi Pendidikan Lokal di Daerah
Kupas Tuntas: Kurikulum, Inklusi, dan Seni di Sekolah Dasar
Momentum Kebangkitan Nasional Melalui Peningkatan Kualitas Pendidikan