Beranda > Berita

  Postingan Terbaru

STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin: Memadukan Kurikulum Adaptif dengan Napas Budaya Banjar

Edubanua.com
15 Mei 2026
Kurikulum Kampus Visioner disusun dengan sangat cermat oleh Bapak Iwan Perdana, Ph.D., salah seorang pendiri kampus, mengacu pada visi institusi serta mempertimbangkan aspek budaya lokal di Kalimantan Selatan, fleksibilitas, dan kebutuhan dunia pendidikan masa depan," ungkap Vebrianti Umar, M.Pd., Wakil Ketua Bidang Akademik STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, diwawancarai melalui pesan WhatsApp mengenai arah  institusinya pada Jumat, 15 Mei 2026.Di tengah riuh rendah transformasi digital, STKIP ISM Banjarmasin mencoba berdiri tegak dengan satu kaki di masa depan dan kaki lainnya tertanam kuat dalam tradisi. Iwan Perdana merancang kerangka akademik yang tidak akan dimakan usang oleh zaman. Kurikulumnya lentur. Tetap relevan walau badai kebijakan pendidikan datang silih berganti.Bukti nyatanya terlihat dari kehadiran mata kuliah unik seperti 'Islam dan Budaya Banjar' dan 'Sejarah Pendidikan Indonesia dan Banua'. Ini bukan sekadar formalitas di atas kertas. Mata kuliah tersebut merupakan jangkar identitas. Kampus ingin setiap lulusannya tidak hanya mahir secara intelektual, tetapi juga mengenal detak jantung tanah kelahirannya sendiri. Inilah yang membedakan mereka dari institusi lain di Kalimantan Selatan.Semangat ini merambat hingga ke Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI). Armin Fani, M.Pd., sang Kaprodi, menekankan bahwa mahasiswanya tidak hanya dilatih untuk fasih berbahasa asing di depan kelas. Mereka dibekali jiwa 'edupreneur'. Tujuannya jelas: agar lulusan memiliki pilihan karier yang luas, baik sebagai pengajar profesional maupun pengusaha di bidang pendidikan. Sarana modern dan kurikulum interaktif menjadi kawah candradimuka bagi mereka untuk melahirkan inovasi yang bermakna bagi masyarakat.Senada dengan itu, Novi Nurdian, M.Pd., Kaprodi PGSD, menegaskan pentingnya menjaga eksistensi budaya daerah. Di Program Studi PGSD, calon guru sekolah dasar dididik dengan pendekatan yang berakar pada nilai-nilai sosial masyarakat Banjar. Karakter Islami menjadi napas utama, memastikan bahwa guru masa depan bukan hanya sekadar pentransfer ilmu, melainkan teladan moral bagi anak-anak di banua.Tak berhenti di ruang kelas, STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin juga melebarkan sayap melalui kolaborasi strategis. Yuliana Nurhayati, M.Pd., selaku Wakil Ketua Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama, menceritakan keaktifan mahasiswa dalam program PLP dan 'Sobat Mengajar' di berbagai jenjang sekolah. Bahkan, ada sentuhan kemanusiaan yang kental melalui kerja sama dengan Yayasan Lanting Literasi Indonesia untuk memberikan pelatihan bahasa Inggris bagi warga kurang mampu. Di sisi lain, Program Studi S1 PAUD yang dipimpin oleh Maulida, M.Pd., terus mematangkan kualitas pendidikannya. Dengan tenaga pengajar yang memiliki rekam jejak panjang di bidang pendidikan anak usia dini, mereka memastikan lulusannya memiliki keterampilan yang mumpuni saat terjun ke dunia kerja. Pada akhirnya, semua ikhtiar STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin: Kampus Visioner yang diketuai oleh Dr. H. Abd Khair Amrullah S.Sos.I.,M.Pd.I ini bermuara pada satu tujuan besar: melahirkan generasi pendidik yang inspiratif, berkarakter, dan kompeten untuk memajukan pendidikan di Kalimantan Selatan.
# BERITA
# Pendidikan

L2I Sediakan Kelas Bahasa Inggris Cuma-Cuma bagi Pelajar RT 12 Sungai Miai dan Sekitarnya

Edubanua.com
30 Januari 2026
Yayasan Lanting Literasi Indonesia (L2I) memulai program pelatihan keterampilan berbahasa Inggris (speaking) gratis bagi pelajar SD, SMP, dan SMA di kawasan RT. 12 Kelurahan Sungai Miai, Banjarmasin. Pertemuan perdana yang diselenggarakan pada Jumat (30/1/2026) ini merupakan respons konkret yayasan terhadap kebutuhan kompetensi esensial di era digital dan global.Pelatihan ini akan dilaksanakan secara rutin setiap hari Jumat, mulai pukul 14.00 hingga 16.00 WITA. Kegiatan perdana pada 30 Januari 2026 dihadiri oleh sejumlah siswa dari jenjang pendidikan dasar hingga menengah.Dalam pelaksanaannya, L2I turut menggandeng relawan edukator yang peduli terhadap pendidikan dan keterampilan berbahasa, khususnya Bahasa Inggris. Tiga dosen dari STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, yaitu Armin Fani, M.Pd., Vebrianti Umar, M.Pd., dan Novi Suma Setyawati, M.Pd, berkenan menjadi kawan belajar dan pengajar dalam program ini.Ketua Lanting Literasi Indonesia, Dyah Sukma Aisyah, menjelaskan bahwa kemampuan Bahasa Inggris sangat krusial dalam menunjang mobilitas sosial dan ekonomi para peserta."Bahasa Inggris penting dikuasai karena saat ini banyak lapangan pekerjaan yang mensyaratkan pelamarnya mampu berbahasa Inggris, selain itu Bahasa Inggris juga penting untuk akses internet karena banyak menggunakan istilah dalam Bahasa Inggris," ujar Dyah.Inisiatif pelatihan ini digagas oleh Pendiri Lanting Literasi Indonesia, Iwan Perdana, Ph.D, yang juga merupakan Ketua RT. 12 Kelurahan Sungai Miai. Program ini ditawarkan terbuka bagi warga RT. 12 dan sekitarnya, termasuk warga RT. 21 Kelurahan Antasan Kecil Timur Dalam yang berbatasan langsung.Iwan Perdana berharap pelatihan ini dapat meningkatkan motivasi belajar para peserta mengingat pentingnya menguasai Bahasa ini di era globalisasi. Ia juga menyampaikan visi yayasan yang lebih luas."Lanting Literasi Indonesia adalah Yayasan yang bergerak di bidang Pendidikan, Sosial, dan Kemanusiaan. Salah satu agenda Lanting Literasi Indonesia di bidang Pendidikan adalah kami menyelenggarakan pelatihan keterampilan berbahasa Inggris gratis untuk meningkatkan motivasi pelajar menguasai Bahasa Inggris," jelas Iwan Perdana.Program ini mendapat sambutan positif dari masyarakat sekitar. Adi, salah seorang warga RT. 12, menyatakan dukungannya."Program ini sangat bagus, Saya sangat mendukung kegiatan yang digagas pak Iwan, dengan pengalaman Beliau studi di luar negeri, dan didukung para dosen kolega beliau, saya kira ini akan sangat membantu para pelajar khusus warga RT.12 dan sekitarnya yang berminat belajar Bahasa Inggris," kata Adi.Senada dengan Adi, tokoh masyarakat Marhadi berharap konsistensi kegiatan ini. "Keren Pak, Semoga bisa konsisten karena kegiatan ini akan memotivasi para siswa di lingkungan Kelurahan Sungai Miai khususnya warga RT. 12 dan sekitarnya belajar Bahasa Inggris," harap Marhadi.Sementara itu, Azmi, pelajar Kelas 7 SMP yang menjadi peserta, mengungkapkan kesannya terhadap metode pembelajaran yang diberikan. "Bagus, mudah di pahami, pembelajarannya nyaman dan santai."  
# BERITA
# Pendidikan

Ajarkan Anak Usia Dini Al Quran: Investasi Keberkahan

Edubanua.com
26 Desember 2025
EDUBANUA.COM, BANJARMASIN – Mengajarkan Al Quran kepada anak sejak dini, bahkan dari dalam kandungan adalah investasi keberkahan. InsyaAllah kemuliaan dunia hingga akhirat akan diraih tidak saja oleh si anak, tetapi juga orang tuanya. Itulah yang menyemangati saya mendirikan pondok penghapal Al Quran, ujar Ustadz. Syarifuddin, Sabtu (27/12/2025).Di sela perbincangan santainya di warung kopi dengan Iwan Perdana, Ph.D, pendiri Yayasan Lanting Literasi Indonesia, Ust. Syarifuddin berkenan sedikit menyampaikan pandangannya tentang pentingnya mengajarkan Al Quran kepada anak-anak.“Al Quran adalah petunjuk bagi manusia. Ajarkan anak-anak kita cara membacanya disertai tajwidnya dengan benar agar mereka mengenal Al-Quran. Sebab jika sudah mengenal, anak-anak akan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.Beliau juga menjelaskan bahwa membaca Al Quran mendatangkan pahala tidak hanya kepada pembacanya, tetapi juga guru yang mengajarinya. Keberkahan bagi orang tuanya, keluarganya, rezekinya, kesehatannya, keselamatan dalam kehidupannya. Mengingat banyaknya ganjaran kebaikan fadhilah (keutamaan) yang diperoleh baik di dunia maupun di akhirat, Ust Syarifuddin mendirikan dan mengoperasikan pondok penghapal Al Quran di Sukoharjo, Jawa Tengah.Selain sebagai petunjuk hidup agar selamat di dunia, dan di akhirat: landasan Aqidah, dan membentuk anak berakhlak mulia, banyak manfaat lain yang diperoleh dengan mengajarkan Al Quran kepada anak-anak, antara lain: meningkatkan kemampuan kognitif, menguatkan daya ingat anak melalui latihan hafal, Al Quran juga melatih kemampuan berpikir kritis. Ust. Syarifuddin menjelaskan bahwa belajar Al Quran bisa di mana saja. Idealnya di rumah: Ayah dan Ibu. Namun, kesibukan mencari nafkah kadangkala menyebabkan orang tua tidak memiliki waktu yang khusus/ terjadwal. Oleh karena itu, keberadaan lembaga pendidikan dapat membantu. “Orang tua dapat memercayakan anak-anaknya belajar membaca Al Quran di sekolah, TPA/TPQ, atau bimbingan privat/ guru mengaji. Pondok tahfidz dapat menjadi pilihan pilihan sangat tepat bagi yang ingin mendalami Al Qur'an secara intensif dan menjadi penghafal,” jelasnya.“Hal ini karena pondok tahfidz memiliki kurikulum terstruktur yang mencakup tajwid, Tahsin dan pelajaran-pelajaran dieniyah lainnya. Anak-anak juga dituntut mempraktikkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari selama berada di pondok pesantren, mencetak generasi Qur'ani yang berakhlak mulia,” tambahnya lagi. Sebelum mengakhiri diskusi, Ust. Sarifuddin yang mendirikan Pondok Tahfidz Al Qur’an Al Khomsah Sukoharjo, menegaskan sebaiknya anak diajari Al Quran sejak kecil. Pada usia dini, daya ingat anak masih kuat, sehingga proses pelatihan Tilawah (membaca dengan baik dan benar), meliputi Tajwid (ilmu tentang penyempurnaan huruf & sifatnya/makhorijul huruf, serta hukum-hukum bacannya), dan  Tahsin (memperbaiki & memperbagus bacaan) dapat berjalan lebih cepat.
# BERITA
# Pendidikan

Iwan Perdana Soroti Dua Poros Strategis LPM Lentera Uniska

Edubanua.com
12 Desember 2025
EDUBANUA.COM, BANJARMASIN – Optimalisasi peran strategis pers mahasiswa, dan fungsi organisasi untuk membangun generasi progresif, merupakan kunci keberhasilan UKM Lentera Uniska Banjarmasin. Langkah tersebut mendukung lahirnya generasi melek media, berpikiran kritis yang konstruktif, dan berani menyuarakan kebenaran berbasis data. Hal itu disampaikan Iwan Perdana, Ph.D, Sabtu (12/12/2025), pembina LPM Lentera Uniska dalam acara Musyawarah Besar (Mubes) ke-11 LPM Lentera Uniska Banjarmasin. Menurut Iwan Perdana, tema “Optimalisasi Peran dan Fungsi Organisasi untuk Membangun Generasi Progresif” sangat tepat dan relevan diusung dalam kegiatan yang digelar pada 12 – 14 Desember 2025, di Kampus Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin, Jalan Adyaksa No. 2 Banjarmasin. Ditemui selepas memberikan sambutan, beliau menjelaskan dua poros utama berdasarkan tema yang patut dicermati, dan ditindaklanjuti pemimpin LPM Lentera Uniska periode 2024-2025, Muhammad Farhan, dan Ahmad Hidayat selaku ketua panitia pelaksana. Tak Sekadar Meliput BeritaSebagai organisasi yang telah berusia 11 tahun, kata Iwan Perdana, LPM Lentera Uniska sudah layak dituntut mampu berperan lebih dari sekadar meliput berita. Terlebih lagi di era banjir informasi dan disrupsi digital. Sudah waktunya organisasi pers mahasiswa ini mengokohkan dirinya sebagai:1.    Penyedia informasi yang bertanggung JawabLPM Lentera wajib berperan lebih dari sekadar reporter, tapi juga explainer dan verifikator. Para jurnalisnya harus mencegah terjadinya misinformasi, disinformasi, malinformasi, dan menangkal penyebaran berita hoax di dunia kampus, dan masyarakat.2.    ‎Pengawal demokrasi kampus        LPM Lentera menempatkan dirinya sebagai mitra kritis yang konstruktif bagi otoritas kampus. Mengawal jalannya kebijakan kampus, menyuarakan aspirasi sivitas akademika, dan mendorong terciptanya diskusi publik ilmiah yang sehat.3.    Agen Literasi MediaLPM Lentera berperan sebagai media edukasi yang mencerdaskan pembacanya sehingga mereka mampu mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan memproduksi informasi secara kritis dan beretika. Kuatkan Fungsi KelembagaanIwan Perdana, yang juga Dosen FKIP Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin, menyampaikan harapannya agar kegiatan ini mendiskusikan program kerja yang semakin menguatkan fungsi-fungsi organisasi yang selama ini telah berjalan dengan baik.  “Terwujudnya kualitas generasi yang progresif sangat bergantung pada bagaimana kita menguatkan fungsi kelembagaan yang selama ini telah dijalankan”, ujarnya. Ketiga fungsi tersebut adalah:1.    Fungsi Rekrutmen dan Kaderisasi        Sistem rekrutmen dan kaderisasi saat ini sudah jelas, inklusif, dan berkelanjutan. Akan tetapi tetap diperlukan inovasi baru, misalnya anggota baru sebaiknya disambut dengan kurikulum pelatihan yang komprehensif—tidak hanya teknik jurnalistik, tetapi juga kepemimpinan, manajemen organisasi, dan penanaman kesadaran sosial.2.    Fungsi sebagai Ruang Pengembangan Diri yang Holistik:        Menciptakan suasana mendukung anggota organisasi menemukan dan mengasah potensinya: menulis, fotografi, desain, public speaking, maupun riset. Sehingga setiap anggota dan pengurus LPM Lentera harus merasa bertumbuh, bukan sekadar ‘terpakai’ di organisasi pers kampus ini.3.    Fungsi sebagai Jaringan LPM Lentera menjadi jembatan para anggotanya aktif berinteraksi, baik di internal kampus, ekosistem pers profesional, maupun komunitas yang berkaitan dengan dunia pers di Kalimantan Selatan. Organisasi ini akan menjadi jaringan alumni yang kuat dan bermanfaat bagi anggota LPM Lentera kelak setelah lulus dari kampus. "Saya berharap Mubes kali ini melahirkan program yang visioner dan pemimpin yang tak hanya tajam menulis, tetapi juga cakap mengelola organisasi," ujar Iwan Perdana, Pembina LPM Lentera, menutup sambutannya di hadapan pimpinan kampus yang diwakili Sanjaya,M.Pd, salah seorang pendiri LPM, Rachmadi Agus, S.Kom.,M.Pd dan para pengurus LPM Lentera Uniska Banjarmasin.
# BERITA
# Pendidikan

Kampus Visioner Tekankan Pentingnya Karakter Visioner dan Patriot bagi Pendidik

Iwan Perdana
31 Maret 2026
Kemajuan bangsa memerlukan dosen yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki pandangan visioner dan jiwa patriot dalam menjalankan mandat Tridarma Perguruan Tinggi. Dunia akademik sering kali terjebak dalam menara gading intelektualitas yang dingin. Namun, di Kampus Visioner, Selasa (31/3/2026), sebuah diskursus hangat mengemuka: apakah kecerdasan saja cukup untuk memajukan Indonesia? Jawabannya tegas, tidak.Vebrianti Umar, MP.d, Wakil Ketua Bidang Akademik STKIP ISM Banjarmasin, membedah realitas ini dengan lugas. Baginya, mengarahkan orang cerdas itu perkara mudah. Tantangan sesungguhnya adalah menemukan mereka yang benar-benar mau 'berdarah-darah' demi kemajuan negara melalui pengabdian yang tulus. "Negara tidak hanya membutuhkan orang cerdas, tetapi yang benar-benar mau berkontribusi dengan kemampuan berpikir jauh ke depan dan jiwa yang mencintai Indonesia," ungkapnya.Salah satu bukti nyata yang ia soroti adalah langkah Iwan Perdana Ph.D, salah seorang pendiri kampus STKIP ISM Banjarmasin, yang melibatkan para dosen Bahasa Inggris kampus Visioner terjun langsung ke masyarakat, bekerja sama dengan Yayasan Lanting Literasi Indonesia. Di sana, mereka bukan sekadar mengajar tata bahasa, melainkan sedang menanam benih kualitas pada generasi masa depan. Inilah bentuk patriotisme yang membumi.Senada dengan itu, Armin Fani, M.Pd selaku Kaprodi PBI menekankan bahwa menjadi visioner adalah syarat mutlak agar dosen tidak tergilas zaman. Pendidik harus mampu menjawab tantangan perubahan dengan metode inovatif yang tetap berpijak pada kearifan lokal. Kejujuran akademik tetap menjadi kompas utama di tengah arus disrupsi.Sementara itu, Supian Sauri, M.Pd dari prodi PGSD melihat peran dosen sebagai arsitek peradaban. Dosen tidak boleh hanya menjadi 'mesin' pengajar di kelas. Menurutnya, melalui integrasi pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat, dosen adalah kunci untuk mencerdaskan sekaligus membentuk karakter mahasiswa.Hal ini diperkuat oleh Rizki Nugerahani Ilise, M.Pd, Dosen PAUD yang melihat profesi dosen sebagai sebuah bentuk pengabdian, bukan sekadar pekerjaan administratif. Dengan visi yang tajam, seorang akademisi mampu melihat peluang di masa depan untuk membawa bangsanya melompat lebih jauh. Sebagai penutup, Yuliana Nurhayati, M.Pd ,Wakil Ketua Bidang Kemahasiswaan dan kerja sama menegaskan bahwa STKIP ISM Banjarmasin terus mendorong pembinaan karakter melalui kegiatan konkret seperti 'Sobat Mengajar' dan pelestarian seni menari. Tujuannya melahirkan lembaga yang tidak hanya unggul secara global, tetapi memiliki akar nasionalisme yang kuat demi kemajuan Indonesia.
# BERITA
# Pendidikan

Refleksi Spiritual dan Kebersamaan Sivitas Akademika Kampus Visioner di Penghujung Ramadan 2026

Iwan Perdana
19 Maret 2026
Ramadan kali ini terasa berbeda, setidaknya bagi Novi Suma Setyawati, Ketua LPPM STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, harus menerima kenyataan pahit tentang sebuah 'kursi kosong'. Sosok Ayah yang biasanya menjadi pilar di meja makan saat berbuka, kini hanya tinggal kenangan. "Ramadan tahun ini menghadirkan duka mendalam atas ketidakhadiran Ayah," tuturnya lirih. Namun, di balik awan mendung itu, Novi menemukan pelangi kecil berupa pelajaran tentang keikhlasan yang lebih luas—sebuah makna kesabaran yang ia bawa hingga ke meja kerja.Senada dengan Novi, Rizki Nugerahani, Ketua LPM, juga merasakan ruang hampa yang sama. Kerinduannya pada masakan dan perhatian Ibu adalah luka yang masih basah. Baginya, Ramadan bukan lagi soal kemeriahan pasar wadai, melainkan sebuah perjalanan ruhaniah untuk kembali 'pulang' kepada Allah di sisa sepuluh malam terakhir. Ia ingin menjadikan setiap sujudnya sebagai jembatan rindu kepada sang Ibu yang telah mendahului.Duka Novi dan Rizki  dirasakan pula oleh Nurul, " Ramadan tahun ini adalah ramadan tahun ke-4 tanpa kedua orang tua. Suasana buka puasa bersama terasa begitu berbeda", ucapnya sedih.  Di sudut lain kampus, Yuliana Nurhayati, Wakil Ketua Bidang Kemahasiswaan dan kerja sama, memotret Ramadan 2026 sebagai momentum 'pemangkas jarak'. Agenda buka puasa bersama di kampus bukan sekadar seremoni. "Semoga momentum kebersamaan dosen, tendik, dan mahasiswa ini menjadi momentum mempererat silaturahmi," harap Yuliana. Ia bahkan bermimpi, tahun depan pintu kampus akan terbuka lebih lebar untuk masyarakat sekitar dan kaum dhuafa, mengubah kesalehan individu menjadi kesalehan sosial. Vebrianti Umar, Wakil Ketua Bidang Akademik memahami puasa bukan sekadar urusan menahan lapar dan dahaga. Ia melihatnya sebagai laboratorium karakter. “Di Ramadan ini, saya belajar untuk menjadi pribadi yang lebih sabar, tenang, ikhlas dalam menghadapi berbagai situasi, dan berlatih mewujudkan nilai kemanusiaan dalam bentuk tindakan nyata, bukan sekadar teori saja demi kebaikan Bersama”, tambahnya.Waktu memang pencuri yang lihai. Ramadan terasa cepat sekali berlalu. Armin Fan, Halima Chairia, Zulfaris, Maulidha, Supian Sauri, Norhayati dan Tiara merasakannya. Kenyataan ini menumbuhkan rasa haru yang mengganjal di hati mereka saat menyadari banyak target ibadah yang belum tuntas. Muncul ketakutan yang menimbulkan sebuah pertanyaan, “akankah berjumpa Ramadan tahun berikutnya?“. "Semoga hasil Ramadan ini menjadikan saya konsisten dan khusyuk dalam beribadah, membaca al qur'an, dan bersedekah di luar Ramadan,” ucap Norhayati menguatkan hati.  "Ulun sangat bersyukur ramadan tahun menjadikan saya pribadi yang lebih baik dari sebelumnya", ucap Junaidi. Tapi juga sedih karena suasana ibadah, ketenangan hati dan kebersamaan yang indah akan segera berlalu, tegasnya.Muhammad Agus Safrian mengatakan Ramadan mengajarkannya menjalani hidup tanpa tergesa, belajar menerima, dan bersyukur.  Sementara Novi Nurdian, Kaprodi PGSD, mengakui bahwa menjaga ritme antara produktivitas kerja dan kekhusyukan ibadah bukanlah perkara mudah. Ia merasa tertantang untuk tetap optimal di kantor tanpa kehilangan esensi spiritual meski Ramadan telah berlalu. Serupa dengan Muhammad Juanda yang pandangannya tentang hidup dan ibadah berubah. “Ramadan menjadi bekal berharga untuk melanjutkan pengabdian di dunia pendidikan setelah bulan suci berlalu,” ujarnya. "InsyaAllah, akan semakin menjadi pribadi yang baik, dan ssmakin profesional menjalankan tugas", jawab Tati Akhbariyah melalui  pesan WhatsApp.Pada akhirnya, Ramadan 2026 di Kampus Visioner adalah sebuah mosaik; ada air mata kerinduan, ada tawa di meja berbuka, dan ada niat untuk menjadi manusia yang lebih peka terhadap sesama, juga meningkatkan  profesionalitas kerja.  
# BERITA
# Pendidikan

Urgensi Pendidikan Seni di Lembaga PAUD

Iwan Perdana
24 Februari 2026
Dengan ilmu hidup jadi mudah, dengan seni hidup jadi indah, dengan agama hidup jadi terarah," begitulah wejangan bijak Prof. Mukti Ali, mantan Menteri Agama RI, yang. Sebuah adagium yang kian relevan, terutama saat kita bicara tentang pendidikan seni di lembaga PAUD, sebuah simfoni yang acap kali luput dari sorotan utama kurikulum, namun sejatinya menjadi fondasi kokoh pembentukan karakter dan pengembangan kreativitas anak bangsa.Seni, bukan sekadar tempelan. Ia adalah bagian integral dari kehidupan manusia, sebuah medium ekspresi dan jembatan komunikasi universal. Namun, mengapa urgensinya kerap terlewat dalam ranah pendidikan anak usia dini?. Muhammad Agus Syafrian Nur, M.Pd, dosen PAUD STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, menyorot fakta menarik."Meski seni di lembaga PAUD tidak masuk secara khusus di kurikulum, manfaatnya tak bisa diabaikan," ujarnya. Seni mampu mengasah kreativitas, melatih motorik halus — lihat saja bagaimana jemari mungil mereka asyik mewarnai atau menggunting. Ini juga sarana positif mengekspresikan emosi, membangun rasa percaya diri sejak dini. Sebuah arena bermain yang mendidik, bukan?Rizki Nugerahani Ilise, M.Pd, Asesor BAN PAUD, mengamini. Ia bahkan merinci lebih jauh bagaimana manfaat seni anak usia dini merentang luas. "Anak PAUD perlu diajarkan seni karena seni membantu anak berkembang lewat kegiatan yang menyenangkan. Misalnya bernyanyi, atau bergerak mengikuti musik, anak akan dilatih perkembangan motorik halus dan kasarnya," jelas Rizki. Lebih dari itu, seni juga melatih kefokusan, pendengaran, konsentrasi, koordinasi gerak, hingga kemampuan bahasa. Bayangkan saja, menghafal kata dan melafalkannya lewat lirik lagu. Luar biasa!Nur Faradilla Adriana, M.Pd, Kepala TK Islam Baitul Makmur Banjarmasin, memberikan perspektif yang lebih mendalam tentang sisi emosional dan sosial. "Seni membantu anak menyalurkan imajinasi dan ide-ide mereka secara bebas, sehingga kreativitas mereka berkembang," ungkapnya. Senada dengan jawaban Maulidha, M.Pd, Kaprodi PAUD STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, Nur Faradilla melihat anak-anak belajar menghargai hasil karya, baik milik sendiri maupun teman. Ini akan memperkuat aspek sosial dan empati mereka, serta membangun optimisme dan kepercayaan diri di kemudian hari. Namun, di balik segudang manfaat itu, ada tantangan yang mengemuka. Novi Suma, M.Pd, Dosen PAUD Kampus Visioner, jujur mengakui. "Tantangan bagi guru PAUD adalah meluangkan waktu menambah pengetahuan dan meningkatkan keterampilan tentang seni agar dapat menjadi fasilitator pembelajaran seni yang efektif di sekolah." Guru-guru adalah ujung tombak. Mereka butuh amunisi, butuh bekal agar bisa memfasilitasi ledakan kreativitas para tunas bangsa ini. Seni, pada akhirnya, bukan sekadar goresan warna atau lantunan nada. Ia adalah alat pembentuk karakter, pemicu imajinasi, dan penumbuh optimisme. Sebuah investasi jangka panjang bagi masa depan, yang tak boleh diabaikan, terutama dalam ranah pendidikan di Lembaga PAUD.
# BERITA
# Pendidikan

Prodi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UNISKA Raih Akreditasi Unggul dari LAMDIK

Iwan Perdana
12 Februari 2026
"Saya sangat bersyukur dan berterima kasih atas kerja keras dekanat, dan tim task force akreditasi. Akreditasi unggul ini bukan hanya sebagai rekor pencapaian prodi di fakultas, tapi juga sebagai kesempatan emas untuk memajukan prodi menjadi lebih baik bukan hanya di level akreditasi nasional tapi juga level akreditasi internasional," tutur Fitra Ramadani S.Pd.,M.Pd., Kaprodi Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Universitas Islam Kalimantan (UNISKA) MAB Banjarmasin, Kamis (12/2/2026). Kalimat itu mengiringi kabar bahagia yang baru saja dirilis: PBI Uniska MAB Banjarmasin resmi menyandang predikat Akreditasi Unggul dari Lembaga Akreditasi Mandiri Kependidikan (LAMDIK). Sebuah penantian panjang, penantian yang tak hanya membuahkan pengakuan, tapi juga janji untuk terus melangkah maju. Ini adalah bukti nyata bahwa dedikasi dan kegigihan dapat mengantar sebuah institusi menuju puncak prestasi.Fitra Ramadani, S.Pd.,M.Pd., Kaprodi PBI Uniska MAB BanjarmasinAkreditasi "Unggul" bukan sekadar sertifikat, Ini adalah penegasan komitmen, sebuah stempel kualitas yang tak main-main. Predikat ini menegaskan PBI UNISKA serius menyelenggarakan pendidikan bahasa Inggris bermutu tinggi, relevan dengan dinamika global, dan siap mencetak lulusan berdaya saing. Bagi sebuah perguruan tinggi, cap "Unggul" ibarat magnet, penarik reputasi, pembuka pintu kerja sama, sekaligus pengokoh posisi di kancah pendidikan nasional.Perjalanan PBI Uniska meraih predikat ini cukup berliku. Pada asesmen lapangan awal oleh dua asesor LAMDIK, 25 s.d. 26 Juli 2025: FX. Ouda Teda Ena, M.Pd., Ed.D, dan Dr. Arina Shofiya, M.Pd, PBI UNISKA hanya menempati peringkat "Baik Sekali". Sebuah hasil yang, meski tidak buruk, namun dirasa belum sepenuhnya merefleksikan potensi serta dedikasi luar biasa yang telah dicurahkan sivitas akademika selama ini. Ada ganjalan. Ada asa yang lebih tinggi.Dekan FKIP Uniska MAB Banjarmasin, Dr. Hengki, S.S., M.Pd., tak tinggal diam. Dengan sigap, Beliau mengambil langkah strategis. Pada 30 September 2025, surat permohonan banding dilayangkan.  Perjuangan banding itu berbuah manis. Setelah melalui tahapan asesmen lapangan banding yang ketat pada 21 hingga 24 Januari 2026, oleh tim asesor baru—Prof. Dr. Erna Iftanti, S.S., M.Pd, Prof. Dr. Ida Ayu Made Sri Widastuti, S.Pd., M.Pd., M.Hum, serta Ketua Majelis Akreditasi Prof. Dr. Sutrisna Wibawa, M.Pd., akhirnya LAMDIK mengeluarkan Keputusan No: 241/SK/LAMDIK/Ak-BDG/S/II/2026. Isinya gamblang: PBI FKIP UNISKA MAB Banjarmasin memenuhi syarat meraih peringkat Unggul. Sertifikat prestisius ini berlaku lima tahun, dari 22 September 2025 hingga 21 September 2030."Kami sungguh bersyukur dan bangga. Ini buah kerja keras tak kenal lelah seluruh sivitas akademika, dukungan pimpinan, hingga para mitra strategis, serta alumni yang menunjukkan semangat kemajuan FKIP Uniska MAB," ungkap Dr. Hengki, penuh rasa bangga  mendapatkan hasil sesuai harapan.  Kebahagiaan serupa juga dirasakan Arbain, S.Pd., M.Pd., dosen senior yang turut serta dalam penyusunan borang akreditasi. "Alhamdulillahirabbil'alamin atas keberhasilan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Uniska  dalam meraih predikat Akreditasi Unggul. Semoga keberhasilan ini menjadi berkah bagi kita semua dan semakin memotivasi kami untuk terus mencetak lulusan pendidik bahasa Inggris yang berkualitas, berkarakter, dan berdaya saing global," katanya, menatap masa depan dengan penuh harap.Kaprodi, Fitra Ramadani, menambahkan "Akreditasi unggul ini menegaskan bahwa prodi Pendidikan Bahasa Inggris Uniska MAB Banjarmasin adalah salah satu prodi bahasa Inggris terbaik di Kalimantan Selatan. Dosen-dosen yang kompeten dalam pengajaran, penelitian dan pengabdian, sistem pendidikan yang unggul, fasilitas yang sangat memadai untuk mendukung perkuliahan berlangsung lancar adalah gambaran dari akreditasi unggul."Kebanggaan ini juga dirasakan Sonia, S.Pd., alumnus PBI Uniska angkatan 2018 yang kini mengajar di SDN 4 Asam-Asam, Kabupaten Tanah Laut."Alhamdulillah, Selamat kepada PBI Uniska atas kesuksesan meraih peringkat akreditasi Unggul. Sebagai alumna, saya merasa sangat bangga dan terhormat," ujarnya. Predikat Unggul ini, bagi Fitra Ramadani, bukanlah akhir dari segalanya. Justru, ini adalah awal dari tanggung jawab yang lebih besar. "Semoga akreditasi ini akan terus dipertahankan dan juga ditingkatkan lagi yang akan tercermin dalam kepercayaan masyarakat kepada PBI Uniska MAB di masa yang akan datang," pungkasnya. Sebuah komitmen, sebuah janji, untuk terus menyalakan obor pendidikan di Bumi Lambung Mangkurat.
# BERITA
# Pendidikan

Merawat Etos Akademik: Wajib Baca 30 Menit di Kampus Visioner

Barendz Umar
19 Februari 2026
Pada hakikatnya, seorang dosen adalah pembelajar sejati, yang artinya proses menuntut ilmu tidak akan pernah selesai. Namun, idealisme ini sering kali diuji oleh rutinitas pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi—pengajaran, penelitian, dan pengabdian—yang diikuti beban administratif dan teknis. Di tengah dinamika itulah, saya merenungkan kembali makna pembelajaran melalui sebuah pengalaman reflektif yang unik sebagai Dosen di STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, kampus visioner.Salah seorang pendiri STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, Bapak Iwan Perdana, Ph.D., menetapkan sebuah aturan yang sederhana namun sarat makna: seluruh dosen harus berkumpul di ruang baca dan membaca selama 30 menit sebelum pulang. Peraturan ini bukan sekadar formalitas atau simbolik, melainkan sebuah upaya sistematis untuk membangun kontinuitas budaya akademik. Beliau selalu menekankan kepada kami bahwa seorang dosen wajib meng-upgrade pengetahuannya setiap hari, dan salah satu sumber utama pembaruan itu adalah membaca.Kebijakan ini mengandung pesan epistemologis bahwa pengetahuan harus fleksibel. Seorang dosen tidak cukup hanya mengandalkan ilmu yang diperoleh saat studi sarjana atau pascasarjana. Ilmu berkembang, teori berubah, pendekatan diperbarui. Tanpa komitmen untuk membaca, dosen berisiko menjadi pengulang materi lama yang kehilangan relevansi dengan perkembangan zaman. Melalui kebiasaan membaca yang terstruktur setiap hari, proses “upgrade” intelektual menjadi bagian dari rutinitas profesional.Yang menarik, buku-buku yang tersedia di ruang baca sangat bervariasi. Ada bacaan ringan yang bersifat populer dan reflektif, ada pula buku-buku akademik yang berat dan teoritis. Seluruh koleksi tersebut disediakan langsung oleh Bapak Iwan Perdana, Ph.D., sebagai bentuk komitmen nyata terhadap pengembangan kualitas dosen. Variasi bacaan ini memungkinkan setiap dosen bisa memilih bahan sesuai kebutuhan dan minat, sekaligus membuka peluang eksplorasi lintas disiplin ilmu. Dalam praktiknya, saya sering menemukan gagasan baru justru dari bacaan yang awalnya berada di luar bidang utama saya.Menurut beliau, membaca merupakan salah satu stimulasi terbaik bagi fungsi otak. Aktivitas ini melibatkan proses memahami, menginterpretasi, mengkritisi, serta menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan sebelumnya. Proses tersebut memperkuat kemampuan analisis dan mempertajam cara berpikir. Kebijakan ini tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga membentuk ekosistem akademik. Ketika seluruh dosen berkumpul di ruang baca pada waktu yang sama, tercipta suasana intelektual hening namun produktif. Kebiasaan kolektif ini secara perlahan membangun identitas institusi sebagai kampus yang menempatkan literasi sebagai fondasi utama.Kualitas seorang dosen tidak hanya diukur dari gelar akademik, tetapi dari komitmen untuk terus mengembangkan diri. Wajib baca 30 menit sebelum pulang mungkin terlihat sederhana dalam hitungan waktu, tetapi besar dalam dampak jangka panjangnya. Kebijakan yang digagas pendiri kampus, Bapak Iwan Perdana, Ph.D, menunjukkan kuatnya komitmen Beliau merawat etos akademik dosen STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin.  
# BERITA
# Pendidikan

Prodi PBI UNISKA MAB Banjarmasin Gelar Seminar Proposal Skripsi, Tekankan Metodologi dan Nalar Kritis

Iwan Perdana
4 Februari 2026
"Ada perasaan takut dan gugup sebelum menjalani seminar proposal, tetapi setelah dijalani ternyata tidak sesulit yang dibayangkan. Para penguji sangat suportif dan memberikan saran yang sangat membantu untuk penelitian saya." Pengakuan Amanda Zahratunnisa, salah satu peserta sempro, ini mewakili gejolak batin peserta Seminar Proposal Skripsi Prodi PBI UNISKA MAB Banjarmasin yang digelar Rabu (4/02/26) di Kampus Utama yang berlokasi di Jl. Adhyaksa No. 2, Kayu Tangi, Kota Banjarmasin Ruang English Corner lt.3 Gedung A.Bagi institusi pendidikan tinggi, skripsi tidak sekadar menjadi syarat administratif kelulusan. Ia adalah bukti otentik bahwa mahasiswa telah mendalami suatu bidang ilmu secara komprehensif. Proses Seminar Proposal Skripsi menjadi gerbang formal untuk menguji kemampuan mereka dalam berpikir kritis, logis, serta mengaplikasikan teori yang telah dipelajari.Sekretaris Prodi PBI UNISKA, Hartatya Novika, M.Pd, menegaskan pentingnya forum tersebut. Tujuannya jelas: menguji kemampuan mahasiswa mempresentasikan serta mempertahankan proposalnya, sekaligus menyerap masukan berharga dari dosen penguji. Tujuannya mulia, demi memastikan skripsi S1 berkualitas yang dihasilkan nanti akan berdampak positif.Dalam atmosfer akademik yang serius, tekanan utama diletakkan pada fondasi penelitian. Dr. Hengki, M.Pd, Penguji sekaligus Dekan FKIP, menekankan satu hal vital, yakni pentingnya Metodologi Penelitian yang benar. "Kami sangat menekankan pentingnya Metodologi penelitian yang benar untuk menjamin validitas, reliabilitas, dan kualitas data yang dihasilkan," ujarnya. Baginya, penelitian yang baik harus berdampak positif, bukan hanya tumpukan kertas.Namun, di balik ketegasan akademik tersebut, drama mental tetap tak terhindarkan. Widya, mahasiswa peserta seminar, jujur mengakui perasaannya. "Isi hati tidak karuan, nervous berkelanjutan, dan overthink," katanya ringkas. Perasaan gugup ini adalah harga yang harus dibayar saat menghadapi panel penguji yang kompeten.Di sinilah peran Arbain, M.Pd, dan rekan dosen lainnya menjadi sangat krusial. "Tantangan dalam menguji seminar proposal skripsi adalah selain menilai Orisinalitas penelitian, juga memberikan kritik yang tajam namun tetap suportif tanpa menjatuhkan mental mahasiswa," jelas Arbain. Kritik harus membangun. Kekritisan penguji diperlukan untuk mengasah nalar logis mahasiswa, sebagaimana disampaikan Kaprodi PBI, Fitra Ramadani, M.Pd. Ketika proses tanya jawab dan masukan rampung, mahasiswa tidak hanya membawa pulang catatan revisi, tetapi juga panduan yang lebih terarah. Suasana lega yang dirasakan Amanda setelah seminar membuktikan bahwa ketakutan terbesar seringkali hanya ada di kepala. 
# BERITA
# Pendidikan

Pelantikan Pengurus HMJ Bimbingan dan Konseling FKIP UNISKA MAB Banjarmasin Periode 2025-2026

Iwan Perdana
30 Januari 2026
“Kepercayaan yang Anda terima hari ini diiringi tanggung jawab moral, akademik, dan organisasi. Jadilah pengurus yang tidak hanya aktif dalam kegiatan, tetapi juga mampu menjadi teladan dalam sikap, perilaku, dan prestasi akademik."Nasihat tegas namun penuh kasih itu meluncur dari Dr. Ani Wardah, M.Pd, Ketua Program Studi (Kaprodi) Bimbingan dan Konseling (BK) Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari Banjarmasin (UNISKA MAB Banjarmasin), saat melantik Nayla Nasywa sebagai Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Bimbingan Konseling UNISKA Periode 2025-2026. Beliau menggantikan Muhammad Habibie, M.Pd, Wakil Dekan III yang berhalangan hadir.Pemandangan pagi di Kampus UNISKA MAB Banjarmasin, Jumat (30/01/2026), menjadi saksi momen krusial ini. Nayla Nasywa, didampingi jajaran inti yang solid, resmi mengemban amanah memimpin organisasi yang menjadi jantung bagi mahasiswa Bimbingan dan Konseling.Ini bukan sekadar seremonial. Ini adalah penyerahan tongkat estafet penting bagi pembentukan karakter konselor profesional di Kampus utama yang terletak di Jl. Adhyaksa, Jl. Kayu Tangi 1 Jalur 2 No. 2, Sungai Miai, Kec. Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan.Di tengah maraknya isu kesehatan mental, peran mahasiswa Bimbingan dan Konseling jauh melampaui sekadar menguasai teori psikologi. Mereka dituntut memiliki kepekaan sosial, etika profesi yang kuat, serta kemampuan empati yang mendalam. Modal ini adalah kunci utama untuk menjadi konselor profesional yang mumpuni. Inilah mengapa kehadiran HMJ Bimbingan dan Konseling UNISKA MAB Banjarmasin sangat vital; ia berfungsi sebagai kawah candradimuka, wadah utama untuk mengasah kepemimpinan mahasiswa BK, karakter, dan profesionalitas.Dalam satu periode ke depan, tantangan Nayla dan timnya adalah menyusun program yang responsif, tidak hanya bagi kebutuhan internal kampus, tetapi juga bagi masyarakat dan lingkungan persekolahan. Mereka harus mampu menjembatani ilmu yang didapat di kelas dengan realitas di lapangan. Estafet kepemimpinan ini diserahkan oleh Selvia Amalia, Ketua Umum periode sebelumnya. Nada haru terasa saat Selvia berpesan kepada pengurus baru. "Teruslah berinovasi, tetap rendah hati, dan jaga integritas. Saya percaya kalian mampu membawa HMJ-BK Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin menjadi organisasi yang lebih aktif, inklusif, dan progresif,” ujarnya, memberi semangat tulus.Menanggapi tantangan dan dukungan tersebut, Nayla Nasywa menyampaikan rasa syukur sekaligus optimisme. Visi yang dibawanya jelas: kolaborasi adalah harga mati. "Dengan dukungan dan kerja sama dari seluruh pengurus, senior, serta pihak terkait, Saya yakin HMJ-BK UNISKA MAB Banjarmasin akan berkontribusi positif bagi jurusan, FKIP, dan Universitas. Mari kita berjalan bersama, saling merangkul, dan tumbuh menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sesama," janji Nayla, menutup pidatonya.Dalam menjalankan roda organisasi, Nayla akan didukung Muhammad Supian Ilham sebagai Wakil Ketua Umum, Amara Huda (Sekretaris Umum), dan Cahaya Kamila (Bendahara Umum).Guna memastikan visi membentuk Konselor Profesional berintegritas dapat terwujud secara nyata, kepengurusan terbagi dalam empat divisi strategis, yaitu Divisi Pendidikan dan Kebudayaan diketuai Auni Azri, Divisi Minat dan Bakat  diketuai Muhammad Hafiez, Divisi Komunikasi dan Informasi di bawah pimpinan Riana Amelia, dan Divisi Koordinator Sekretariat dipimpin oleh Salia.
# BERITA
# Pendidikan

Prodi BK Uniska MAB Banjarmasin Dorong Mahasiswa Kuasai 7 Teknik Keterampilan Komunikasi Konseling

Iwan Perdana
20 Januari 2026
Program Studi Bimbingan dan Konseling (Prodi BK) Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al-Banjari (Uniska MAB) Banjarmasin menggelar kuliah tamu daring untuk membekali mahasiswanya dengan keterampilan esensial. Acara yang dilaksanakan pada Selasa, 20 Januari 2026, melalui platform Zoom Meeting ini berfokus pada tema "Peningkatan Keterampilan Komunikasi Konseling," menekankan bahwa penguasaan komunikasi humanis dan profesional adalah fondasi utama keberhasilan proses bantuan kepada klien. Kuliah tamu daring ini menghadirkan Dr. Arif Ainur Rofiq, S.Sos.I., M.Pd., Kons., CHt (IACT-USA)., CI, Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya yang juga menjabat Ketua Ikatan Konselor Indonesia PD Jawa Timur.Dr Ani Wardah, M.Pd, Kaprodi BK FKIP UNISKA MAB Banjarmasin menjelaskan  tujuan diselenggarakannya kuliah tamu ini ini adalah meningkatkan pemahaman sekaligus mengembangkan keterampilan komunikasi konseling mahasiswa. Mengundang pemateri berpengalaman Dr. Arif Ainur Rofiq,S.Sos.I.,S.Pd.,M.Pd.,Kons.,CHt (IACT-USA).,CI, kegiatan ini diharapkan menambah pengetahuan mereka agar mampu mengimplementasikan konsep komunikasi konseling secara aplikatif dalam konteks layanan di sekolah maupun setting non-sekolah, dan siap menjadi konselor yang kompeten, komunikatif, dan berkarakter yang merupakan target pencapaian visi Program Studi Bimbingan dan Konseling FKIP UNISKA MAB Banjarmasin.Dalam paparannya, Dr. Arif Ainur Rofiq menjelaskan bahwa komunikasi tidak hanya berkaitan dengan cara menyampaikan pesan, tetapi juga bagaimana konselor menunjukkan empati, sikap profesional, serta mampu membangun rasa nyaman pada klien agar proses konseling berjalan efektif. Ia menekankan, setiap konselor wajib memahami dan menguasai keterampilan komunikasi konseling sebagai kecakapan khusus untuk membantu konseli menemukan alternatif pilihan secara tepat dalam menghadapi permasalahan yang dialaminya.Lebih lanjut, Beliau mendefinisikan konseling sebagai kegiatan membantu individu untuk menemukan pemecahan masalahnya (Curative) dan mengembangkan (Development) dirinya menjadi pribadi yang sehat jasmani-rohani, dengan cara memberdayakan iman, akal, dan kemauan. Dr. Arif Rofiq juga memaparkan tujuh teknik dasar keterampilan komunikasi konseling yang harus dikuasai, yaitu: Attending, Questioning, Reflection of Feeling, Parafrashing, Confronting, Summaryzing, dan Ending.Para peserta menyambut positif materi yang disampaikan. Nayla Nasywa, salah satu peserta yang juga bertindak sebagai MC dan moderator, mengungkapkan adanya perubahan perspektif setelah mengikuti kegiatan tersebut. "Setelah mengikuti kuliah tamu ini, saya semakin paham bahwa komunikasi konseling merupakan inti dari keberhasilan proses konseling. Komunikasi ternyata tidak sekadar bertanya dan menjawab, tetapi bagaimana membangun hubungan yang penuh empati, penerimaan, dan kepercayaan," ujarnya.Senada dengan Nayla, peserta lainnya, Selly Tilar, menilai acara ini memperkaya pemahaman tentang peran komunikasi. "Perspektif saya tentang komunikasi konseling semakin terbuka, terutama dalam mengintegrasikan elemen verbal, non-verbal, dan empati untuk membangun hubungan yang lebih efektif antara konselor dan konseli. Komunikasi tidak hanya sebagai alat penyampaian informasi, tetapi juga fondasi utama untuk menciptakan lingkungan aman yang mendorong keterbukaan dan refleksi diri," jelas Selly, seraya menambahkan bahwa keterampilan seperti mendengarkan aktif dan pertanyaan terbuka menjadi kunci sukses dalam proses konseling. Panitia acara, Indriani, berharap kuliah tamu ini dapat memberikan pengalaman belajar yang bermakna dan mendorong mahasiswa untuk terus mengembangkan keterampilan komunikasi konseling sebagai bekal menjadi calon konselor profesional yang humanis.
# BERITA
# Pendidikan

  Youtube

Surah Ar-Rahman | Aniq Muhai

  Informasi

Selamat Hari Guru Nasional
Arah Pendidikan Nasional & Transformasi Pendidikan Lokal di Daerah
Kupas Tuntas: Kurikulum, Inklusi, dan Seni di Sekolah Dasar
Momentum Kebangkitan Nasional Melalui Peningkatan Kualitas Pendidikan