Beranda > Edukasi > Opini

  Postingan Terbaru

Merayakan Pencapaian, Menyambut Masa Depan

Maulidha
28 Agustus 2026
Suatu perjalanan panjang di setiap hasil yang terlihat luar biasa untuk mendapatkan pencapaian yang diharapkan, Wisuda tidak hanya berkaitan dengan toga, ijazah, atau suatu gelar yang akhirnya berhasil didapat, melainkan bagaimana semua jalan dan pengalaman yang pernah dirasakan hingga sampai pada tahap ini. Rasa haru dan simpati tersendri Ketika mahasiswa yang pernah datang berbagi cerita dan idenya tentang sebuah skripsi, tetapi pada wisuda ini meraka berdiri dengan toga dan senyum yang manis penuh kebahagiaan.  Bagi seorang dosen, perjalanan itu bukan hanya sekedar perkulihan dan menyelesaikan sebuha karya ilmiah, melainkan menyaksikan sesorang tumbuh melalui proses yang tidak selalu mudah.Dalam perjalanan bimbingan, dosen mungkin hanya hadir pada bagian-bagian tertentu, memberikan pertanyaan untuk mereka ulas dan diperbaiki lagi serta memberikan masukan Dalam perjalanan bimbingan, dosen mungkin hanya hadir pada bagian-bagian tertentu. Saya memberikan pertanyaan ketika ada hal yang perlu dipikirkan kembali, memberikan masukan ketika tulisan masih perlu diperbaiki, dan memberikan arahan ketika langkah mulai terasa kurang jelas. Tetapi setelah setiap pertemuan selesai, mahasiswa kembali melanjutkan perjuangannya sendiri. Di sanalah sesungguhnya keteguhan itu diuji.Bagi pengejar mimpi yang tidak pantang menyerah, dalam perjalanan ada begitu banyak hari ketika langkah terasa berat, ketika rasa lelah datang bersamaan dengan keraguan, ketika keinginan untuk berhenti terasa begitu dekat. Tetapi semangat mereka terus membara, yaitu tentang masa depan yang ingin mereka wujudkan, mimpi terus belajar, berkembang, menjadi pribadi yang lebih baik dengan membawa gelar S.Pd dari STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin. Memberikan kebanggaan terhadap institusi dan membawa manfaat untuk orang lain.Belajar bahwa keberhasilan tidak hanya dicapai dengan cara mudah, tetapi dengan perjuangan dan mampu bertahan Ketika perjalanan terasa sulit. Sebagai dosen pembimbing, saya melihat mimpi-mimpi yang ingin diwujudkan mahasiswa yang berkuliah di STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, kesempatan mengembangkan diri, dan membangun karir yang lebih baik, walaupun jalan terkadang berliku dan penuh hambatan.Pelan-pelan, tanpa banyak disadari, proses itu membentuk sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar sebuah skripsi. Ia membentuk ketekunan, kesabaran, keberanian untuk mencoba kembali, dan keyakinan bahwa sesuatu yang dimulai dengan sungguh-sungguh layak diperjuangkan sampai selesai. Sebagai dosen pembimbing, saya mungkin hanya hadir melalui beberapa pertemuan, memberikan masukan, mengajukan pertanyaan, atau menunjukkan bagian yang masih perlu diperbaiki. Tetapi di luar ruang bimbingan, ada perjuangan yang sepenuhnya menjadi milik mahasiswa itu sendiri. Ada waktu yang diberikan, ada pikiran yang dicurahkan, ada rasa lelah yang mungkin tidak sempat diceritakan, dan ada doa-doa yang menyertai setiap langkahnya. Karena itu, ketika akhirnya skripsi tersebut selesai, kebahagiaan yang terasa bukan hanya karena sebuah tugas telah dituntaskan, tetapi karena saya tahu bahwa ada sebuah mimpi yang sedang berjalan menuju kenyataan.Karena pada akhirnya, kesuksesan tidak hanya seberapa tinggi kita mencapai sebuah posisi dan apa yang kita dapatkan, melainkan tentang makna perjalanan yang kita Jalani dan seberapa besar manfaat yang kita berikan dari apa yang kita miliki dan perjuangkan.Saya sangat bersyukur, dan bangga terhadap mahasiswa STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin yang telah mencapai titik awal sebuah mimpi, wisuda adalah bukti bahwa perjuangan haruslah didapat dari berbagai pengalaman dan pengetahuan yang luas.   
# EDUKASI
# Opini

Outbound Dosen dan Staf STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin

Gunawan Junaidi Kang Billy Manopo
28 Agustus 2026
Pada Minggu, 9 Agustus 2026, dosen dan staf STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin melaksanakan kegiatan outbound di Kebun Raya Banua, Banjarbaru. Kegiatan ini menjadi momen untuk melepas penat dari rutinitas pekerjaan dan aktivitas akademik, sekaligus mempererat kebersamaan serta kekeluargaan antarstaf dan dosen. Kegiatan outbound berlangsung dalam suasana yang penuh keceriaan dan semangat. Berbagai permainan dan aktivitas kelompok dirancang untuk membangun komunikasi, kerja sama, kekompakan, serta menciptakan suasana yang lebih santai di antara para peserta. Melalui kegiatan ini, dosen dan staf mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi di luar lingkungan kampus. Momen tersebut menjadi ruang untuk saling mengenal lebih dekat, berbagi cerita, bercanda, serta membangun hubungan kerja yang semakin harmonis. Suasana hijau dan asri di Kebun Raya Banua turut memberikan pengalaman yang menyegarkan. Berada di lingkungan terbuka dengan nuansa alam membuat kegiatan terasa lebih rileks dan menyenangkan. Berbagai momen kebersamaan juga diabadikan sebagai kenangan bersama. Selain sebagai sarana rekreasi, outbound juga memiliki nilai penting dalam membangun teamwork, komunikasi, kepemimpinan, tanggung jawab, dan solidaritas. Kekompakan yang dibangun melalui kegiatan bersama diharapkan dapat terbawa ke lingkungan kerja sehingga tercipta suasana kerja yang semakin positif dan produktif. Kegiatan outbound ini menjadi salah satu bentuk kebersamaan keluarga besar STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin. Dengan semangat kebersamaan, dosen dan staf diharapkan semakin solid dalam menjalankan tugas dan memberikan kontribusi terbaik bagi kemajuan institusi. 
# EDUKASI
# Opini

Peran Tenaga Kependidikan yang Aktif dalam Organisasi Perpustakaan dan Kepustakawanan

Muhammad Juanda
28 Agustus 2026
Tenaga kependidikan (tendik) memiliki peran penting dalam mendukung penyelenggaraan pendidikan tinggi, khususnya dalam memastikan berbagai layanan akademik dan administrasi berjalan secara efektif. Salah satu bidang yang memiliki kontribusi strategis adalah perpustakaan. Dalam perkembangannya, seorang tendik yang aktif di dunia organisasi perpustakaan dan kepustakawanan tidak hanya menjalankan tugas administratif, tetapi juga berperan dalam membangun jejaring, meningkatkan kompetensi, serta mendorong inovasi layanan perpustakaan.Keaktifan dalam organisasi perpustakaan dan kepustakawanan menjadi salah satu bentuk pengembangan profesional bagi seorang tendik. Melalui organisasi, seorang tendik dapat memperoleh kesempatan untuk bertukar pengalaman, berbagi pengetahuan, mengikuti kegiatan ilmiah, serta memahami berbagai perkembangan terbaru dalam pengelolaan perpustakaan. Organisasi juga menjadi ruang yang strategis untuk membangun komunikasi dan kolaborasi dengan pustakawan maupun pengelola perpustakaan dari berbagai perguruan tinggi dan lembaga lainnya.Di Kalimantan Selatan, khususnya Kota Banjarmasin, aktivitas organisasi perpustakaan dan kepustakawanan memiliki peran penting dalam memperkuat ekosistem literasi. Keberadaan berbagai kegiatan seperti seminar, pelatihan, diskusi, workshop, sosialisasi, dan kegiatan literasi memberikan ruang bagi tendik untuk terus meningkatkan kapasitas dan wawasan. Keterlibatan secara aktif dalam kegiatan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan kompetensi tidak hanya dilakukan melalui pendidikan formal, tetapi juga melalui pengalaman organisasi dan interaksi profesional.Seorang tendik yang aktif dalam organisasi juga memiliki peluang lebih besar untuk memberikan kontribusi terhadap peningkatan kualitas layanan perpustakaan di lingkungan perguruan tinggi. Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh dari organisasi dapat diterapkan dalam pengembangan layanan, pemanfaatan teknologi informasi, promosi perpustakaan, literasi informasi, pengelolaan koleksi, hingga peningkatan kualitas pelayanan kepada mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan lainnya.Selain meningkatkan kompetensi pribadi, keaktifan berorganisasi juga membangun kemampuan kepemimpinan, komunikasi, kerja sama, manajemen kegiatan, dan pemecahan masalah. Kemampuan tersebut sangat relevan dengan tuntutan pekerjaan di perguruan tinggi yang semakin dinamis. Seorang tendik tidak hanya dituntut mampu menyelesaikan pekerjaan rutin, tetapi juga harus mampu beradaptasi dengan perubahan dan memberikan gagasan yang mendukung kemajuan institusi.Dalam konteks organisasi profesi, keterlibatan tendik juga dapat menjadi jembatan antara kebutuhan institusi dengan perkembangan dunia kepustakawanan. Melalui jejaring yang dibangun, berbagai praktik baik dapat dibagikan dan dikembangkan bersama. Kolaborasi antarpustakawan dan tenaga kependidikan dapat melahirkan program yang lebih kreatif, relevan, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat akademik.Pada akhirnya, menjadi tendik yang aktif dalam organisasi perpustakaan dan kepustakawanan bukan sekadar tentang keikutsertaan dalam berbagai kegiatan, tetapi merupakan bentuk komitmen terhadap pengembangan profesionalisme dan kemajuan perpustakaan. Keaktifan tersebut diharapkan mampu memberikan manfaat tidak hanya bagi individu, tetapi juga bagi institusi, organisasi profesi, dan masyarakat. Dengan semangat kolaborasi, pembelajaran berkelanjutan, dan inovasi, tendik dapat menjadi bagian penting dalam mewujudkan perpustakaan perguruan tinggi yang adaptif, profesional, dan mampu memberikan layanan berkualitas di era transformasi digital.
# EDUKASI
# Opini

Semarak 17 Agustus Civitas Akademika STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin di Kebun Raya Banua

Muhammad Supian Sauri
28 Agustus 2026
Suasana Kebun Raya Banua Banjarbaru terasa semakin semarak ketika civitas akademika STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin berkumpul untuk merayakan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Di tengah suasana hijau dan sejuk, tawa terdengar dan berbagai kegiatan berlangsung dengan penuh keceriaan. Dosen dan tenaga kependidikan yang biasanya sibuk dengan perkuliahan, pelayanan, administrasi, dan berbagai tugas kampus, kali ini berkumpul dalam suasana yang lebih santai dan akrab. Berbagai perlombaan dan permainan membuat suasana semakin ramai. Ada yang serius mengejar kemenangan, ada yang penuh semangat mengikuti permainan, dan tentu saja ada yang justru lebih banyak membuat suasana menjadi lucu dan mengundang tawa. Kebun Raya Banua pun menjadi saksi bagaimana keluarga besar STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin menikmati momen kemerdekaan dengan penuh kebersamaan.Keseruan kegiatan 17 Agustus kali ini ternyata bukan hanya tentang siapa yang menjadi juara. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi kesempatan untuk mempererat hubungan antara dosen dan tenaga kependidikan. Di tengah kesibukan menjalankan tugas masing-masing, momen seperti ini memberikan ruang untuk saling bercanda, saling menyemangati, dan menikmati kebersamaan tanpa suasana yang terlalu formal. Ada yang memberikan dukungan kepada teman, ada yang tertawa melihat aksi peserta lain, bahkan ada yang tetap percaya diri meskipun akhirnya belum berhasil menjadi pemenang. Semua itu justru membuat kegiatan semakin hidup. Karena dalam sebuah kebersamaan, bukan hanya kemenangan yang penting, tetapi bagaimana kita bisa menikmati proses, membangun kekompakan, dan menciptakan kenangan bersama.Menariknya, kegiatan sederhana seperti perlombaan juga memiliki banyak pelajaran yang berkaitan dengan pendidikan. Dari permainan, kita belajar tentang kerja sama, sportivitas, disiplin mengikuti aturan, menghargai orang lain, mengendalikan emosi, serta menerima kemenangan dan kekalahan dengan lapang dada. Nilai-nilai tersebut merupakan bagian penting dari pendidikan karakter. Pendidikan tidak hanya hadir dalam kegiatan perkuliahan atau pekerjaan sehari-hari, tetapi juga dapat tumbuh melalui pengalaman, interaksi, dan kebersamaan. Bahkan dari sebuah permainan yang penuh tawa, kita dapat belajar bahwa keberhasilan tidak selalu dicapai sendirian. Dibutuhkan kerja sama, komunikasi, dan sikap saling mendukung untuk mencapai tujuan bersama.Semangat tersebut tentu sejalan dengan visi STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin sebagai kampus yang Inspiratif, Berkarakter, dan Berkompeten. Kegiatan bersama seperti ini menjadi ruang sederhana untuk mewujudkan nilai tersebut dalam kehidupan kampus. Inspiratif melalui kegiatan yang memberikan energi positif dan suasana baru, berkarakter melalui sikap kebersamaan, sportivitas, tanggung jawab, dan semangat kebangsaan, serta berkompeten melalui kemampuan untuk berkomunikasi, bekerja sama, dan memberikan kontribusi terbaik. Apalagi kegiatan dilaksanakan di ruang terbuka seperti Kebun Raya Banua, suasana menjadi lebih rileks dan menyenangkan. Kampus bukan hanya tempat untuk menjalankan tugas akademik dan administratif, tetapi juga tempat untuk membangun hubungan yang baik, menguatkan kebersamaan, dan menumbuhkan budaya kerja yang positif.Pada akhirnya, perayaan 17 Agustus di Kebun Raya Banua Banjarbaru bukan sekadar kegiatan untuk memeriahkan Hari Kemerdekaan. Ada semangat kebersamaan, kegembiraan, kekompakan, dan nilai pendidikan yang ikut tumbuh di dalamnya. Jika para pahlawan dahulu berjuang untuk merebut kemerdekaan, maka tugas kita sekarang adalah mengisi kemerdekaan dengan bekerja, berkarya, mendidik, dan memberikan kontribusi terbaik bagi bangsa. Dari lingkungan kampus, semangat itu terus dibangun bersama. Karena membangun pendidikan tidak selalu harus dilakukan dalam suasana yang serius. Sesekali bermain, tertawa, bercanda, dan merayakan kemerdekaan bersama juga menjadi bagian dari upaya membangun lingkungan kerja dan pendidikan yang sehat serta menyenangkan. Seru kegiatannya, kuat kebersamaannya, dan tetap membawa nilai pendidikan. Merdeka!
# EDUKASI
# Opini

Menjalani Peran sebagai Perempuan, Ibu, dan Profesional

Halima Chairia
28 Agustus 2026
Menjadi seorang perempuan dengan banyak peran bukanlah sesuatu yang selalu mudah. Dalam satu hari, saya bisa menjadi seorang karyawan di tempat kerja, seorang ibu bagi dua putri yang sudah beranjak dewasa, seorang istri, seorang anggota Bhayangkari, sekaligus tetap menjadi diri saya sendiri. Semua peran tersebut memiliki tanggung jawab dan tantangan masing-masing. Namun, saya belajar bahwa menjalani semuanya bukan tentang menjadi sempurna, melainkan tentang bagaimana mengatur waktu, menentukan prioritas, dan menjalani setiap tanggung jawab dengan ikhlas.Saya bekerja sebagai Tendik di perguruan tinggi swasta. Latar belakang pendidikan saya adalah S2 Magister Manajemen dengan konsentrasi Manajemen Pendidikan. Pekerjaan ini membuat saya harus berhadapan dengan berbagai macam tugas dan persoalan setiap hari. Seperti administrasi dan keuangan, pelayanan, koordinasi dengan berbagai bagian, pengelolaan kebutuhan umum, hingga menyelesaikan berbagai persoalan yang muncul di lingkungan kerja menjadi bagian dari keseharian saya.Setiap pagi, sebelum memulai aktivitas di kantor, saya berusaha menyelesaikan terlebih dahulu berbagai urusan di rumah. Meskipun kedua putri saya sudah dewasa dan lebih mandiri, saya tetap merasa bahwa peran sebagai ibu tidak pernah benar-benar selesai. Saya masih memperhatikan kebutuhan mereka, mendengarkan cerita mereka, dan berusaha menjadi tempat untuk berbagi ketika mereka membutuhkan. Bagi saya, kehadiran seorang ibu bukan hanya tentang menyiapkan kebutuhan anak, tetapi juga memberikan perhatian, dukungan, dan rasa nyaman.Setelah urusan rumah selesai, saya mulai mempersiapkan diri untuk bekerja. Perjalanan menuju kantor menjadi waktu untuk mempersiapkan pikiran dan hati agar siap menghadapi aktivitas sepanjang hari. Sesampainya di tempat kerja, biasanya sudah ada berbagai pekerjaan yang menunggu. Seperti rapat, koordinasi dengan staf, menyelesaikan dokumen, menerima informasi dari bagian lain, dan terkadang harus menyelesaikan persoalan yang muncul secara tiba-tiba. Tidak semua hari berjalan sesuai rencana. Karena itu, saya belajar untuk lebih fleksibel dan tidak mudah panik ketika menghadapi situasi yang tidak terduga.Bekerja di lingkungan perguruan tinggi memberikan banyak pengalaman bagi saya. Saya bertemu dengan banyak orang dengan karakter dan kebutuhan yang berbeda. Saya berusaha untuk memperlakukan setiap orang dengan baik karena saya percaya bahwa lingkungan kerja yang nyaman akan membantu setiap orang bekerja dengan lebih maksimal.Di tengah kesibukan pekerjaan, saya juga berusaha menjaga kehidupan pribadi. Saya menyadari bahwa pekerjaan memang penting, tetapi keluarga juga memiliki tempat yang sangat penting dalam kehidupan saya. Ketika berada di rumah, saya berusaha mengurangi membawa urusan kantor ke dalam suasana keluarga. Tidak selalu berhasil, tentu saja. Ada kalanya pekerjaan masih terbawa dalam pikiran. Namun, saya terus belajar untuk memberikan perhatian kepada keluarga ketika waktunya memang untuk keluarga.Selain sebagai ibu dan pekerja, saya juga menjadi bagian dari Bhayangkari. Kegiatan sebagai anggota Bhayangkari menjadi pengalaman tersendiri bagi saya. Ada kegiatan organisasi, pertemuan, kegiatan sosial, dan berbagai aktivitas lainnya yang membutuhkan waktu dan perhatian. Pada awalnya mungkin terasa berat untuk membagi waktu antara pekerjaan, keluarga, dan kegiatan organisasi. Namun, seiring waktu saya belajar membuat skala prioritas dan mengatur jadwal dengan lebih baik.Saya menyadari bahwa keseimbangan hidup tidak berarti semua hal mendapatkan waktu yang sama banyak. Ada saatnya pekerjaan membutuhkan perhatian lebih besar. Ada waktu ketika keluarga harus menjadi prioritas. Ada pula saatnya saya perlu memberikan waktu untuk diri sendiri. Bagi saya, keseimbangan adalah kemampuan untuk mengetahui apa yang paling penting pada saat tertentu dan memberikan perhatian sebaik mungkin pada hal tersebut.Menjadi perempuan yang bekerja sekaligus menjadi ibu rumah tangga juga mengajarkan saya tentang arti tanggung jawab. Saya belajar bahwa banyak hal kecil yang dilakukan setiap hari sebenarnya memiliki makna yang besar. Menyelesaikan pekerjaan dengan baik, memberikan perhatian kepada keluarga, menjaga hubungan dengan orang lain, mengikuti kegiatan organisasi, bahkan meluangkan waktu untuk beristirahat, semuanya merupakan bagian dari perjalanan hidup.Saya juga belajar untuk tidak terlalu keras kepada diri sendiri. Ada hari-hari ketika pekerjaan terasa sangat melelahkan. Ada pula saat ketika urusan rumah dan kegiatan lainnya datang bersamaan. Pada kondisi seperti itu, saya mencoba untuk berhenti sejenak, menarik napas, dan mengingat kembali alasan saya menjalani semua ini. Saya bekerja bukan hanya untuk mengejar pencapaian, tetapi juga sebagai bentuk pengabdian dan tanggung jawab. Saya menjadi ibu karena keluarga adalah bagian penting dari hidup saya. Saya mengikuti kegiatan Bhayangkari karena di dalamnya ada nilai kebersamaan dan pengabdian kepada masyarakat.Kini, ketika kedua putri saya sudah semakin dewasa, saya merasa bersyukur dapat melihat mereka tumbuh menjadi pribadi yang mandiri. Perjalanan menjadi seorang ibu telah memberikan banyak pelajaran kepada saya. Saya belajar bahwa anak-anak tidak selalu membutuhkan ibu yang sempurna. Mereka membutuhkan ibu yang hadir, mau mendengarkan, dan selalu memberikan dukungan ketika mereka membutuhkannya.Pada akhirnya, kehidupan saya sebagai seorang perempuan yang bekerja dan juga ibu rumah tangga adalah sebuah perjalanan yang penuh warna. Ada lelah, ada bahagia, ada tantangan, dan ada banyak hal yang patut disyukuri. Saya tidak selalu mampu menjalankan semuanya dengan sempurna, tetapi saya selalu berusaha memberikan yang terbaik dalam setiap peran yang saya jalani.Bagi saya, menjadi perempuan dengan berbagai peran bukanlah beban, melainkan sebuah kesempatan untuk terus belajar dan berkembang. Saya belajar mengelola waktu, mengelola emosi, berkomunikasi, mengambil keputusan, dan yang paling penting, belajar untuk tetap bersyukur. Selama kita mampu menentukan prioritas, menjaga komunikasi dengan keluarga, bekerja dengan penuh tanggung jawab, dan tidak lupa memberikan waktu untuk diri sendiri, berbagai peran tersebut dapat dijalani dengan lebih seimbang. Saya percaya bahwa keseimbangan bukan berarti hidup tanpa masalah atau tanpa kelelahan. Keseimbangan adalah ketika kita mampu menerima bahwa setiap fase kehidupan memiliki tantangannya sendiri, kemudian menjalaninya dengan sabar, ikhlas, dan penuh rasa syukur. Itulah yang terus saya lakukan dalam keseharian saya sebagai seorang wanita, seorang ibu, seorang profesional, dan seorang anggota Bhayangkari.
# EDUKASI
# Opini

Building English Confidence: Kegiatan Pengabdian Pendampingan Pembelajaran Bahasa Inggris bagi Anak Sekolah di Sungai Miai Banjarmasin

Nor Hayati, M.Pd
28 Agustus 2026
Bahasa Inggris memiliki posisi strategis dalam perkembangan pendidikan dan komunikasi pada era global. Kemampuan menggunakan bahasa Inggris tidak hanya diperlukan dalam konteks akademik, tetapi juga mendukung akses peserta didik terhadap berbagai sumber informasi, teknologi, dan komunikasi internasional. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa Inggris perlu diberikan secara berkelanjutan dengan memperhatikan kebutuhan, karakteristik, dan lingkungan belajar peserta didik.Dalam proses pembelajaran bahasa Inggris, kemampuan linguistik tidak dapat dipisahkan dari aspek afektif. Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap keberhasilan pembelajaran bahasa adalah kepercayaan diri peserta didik dalam menggunakan bahasa target. Peserta didik yang memiliki rasa percaya diri cenderung lebih berani berkomunikasi, mengajukan pertanyaan, menjawab pertanyaan, serta mencoba menggunakan kosakata dan struktur bahasa yang telah dipelajari.Kondisi tersebut menjadi salah satu dasar pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Sungai Miai, Banjarmasin. Kegiatan ini diarahkan untuk memberikan pendampingan pembelajaran bahasa Inggris kepada anak sekolah pada jenjang SD dan SMP Program tidak hanya berorientasi pada peningkatan pengetahuan bahasa, tetapi juga membangun suasana belajar yang menyenangkan, partisipatif, dan mendukung keberanian peserta dalam menggunakan bahasa Inggris.Kegiatan pengabdian dilaksanakan melalui pendekatan pembelajaran partisipatif dan komunikatif. Tahapan kegiatan meliputi identifikasi kebutuhan peserta, perencanaan materi, pelaksanaan pembelajaran, praktik komunikasi, dan evaluasi. Pada tahap awal, dilakukan identifikasi terhadap kemampuan dasar peserta untuk mengetahui tingkat penguasaan kosakata, pelafalan, serta kemampuan menggunakan ungkapan sederhana dalam bahasa Inggris.Materi pembelajaran disesuaikan dengan jenjang pendidikan peserta. Untuk peserta SD, materi difokuskan pada kosakata dasar, seperti parts of the body, family, numbers, colors, animals, dan ungkapan sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Sementara itu, peserta SMP diberikan materi yang lebih komunikatif, seperti daily conversation, self-introduction, expressing opinions, dan penggunaan bahasa Inggris dalam situasi sederhana.Strategi pembelajaran menggunakan kombinasi penjelasan singkat, drilling, permainan bahasa, kerja berpasangan, dialog, dan praktik berbicara. Pendekatan tersebut digunakan untuk menciptakan interaksi yang aktif sekaligus mengurangi kecemasan peserta ketika menggunakan bahasa Inggris. Evaluasi dilakukan melalui observasi partisipasi peserta, praktik komunikasi, serta refleksi terhadap perkembangan kemampuan dan kepercayaan diri peserta.Pelaksanaan pendampingan menunjukkan bahwa peserta memberikan respons positif terhadap pembelajaran bahasa Inggris yang dilakukan secara interaktif. Peserta SD cenderung lebih aktif ketika materi disampaikan melalui permainan, gambar, pengulangan kosakata, dan aktivitas fisik. Sementara itu, peserta SMA menunjukkan keterlibatan yang lebih baik melalui aktivitas dialog, diskusi sederhana, dan praktik komunikasi berdasarkan situasi kehidupan sehari-hari.Salah satu hasil penting dari kegiatan ini adalah meningkatnya keberanian peserta dalam menggunakan bahasa Inggris secara lisan. Pada tahap awal, sebagian peserta masih menunjukkan keraguan ketika diminta mengucapkan kosakata atau menjawab pertanyaan dalam bahasa Inggris. Setelah memperoleh pendampingan secara bertahap, peserta mulai menunjukkan keberanian untuk berbicara meskipun masih terdapat kesalahan dalam pelafalan maupun struktur kalimat.Temuan tersebut menunjukkan bahwa lingkungan belajar yang suportif memiliki peran penting dalam membangun English confidence. Kesalahan dalam penggunaan bahasa tidak diposisikan sebagai kegagalan, tetapi sebagai bagian dari proses belajar. Pendekatan tersebut memberikan kesempatan kepada peserta untuk bereksperimen menggunakan bahasa Inggris tanpa tekanan yang berlebihan.Selain meningkatkan kepercayaan diri, kegiatan juga memberikan pengalaman belajar yang lebih kontekstual. Peserta tidak hanya menghafalkan kosakata, tetapi menggunakannya dalam komunikasi sederhana. Dengan demikian, pembelajaran bahasa Inggris menjadi lebih bermakna karena peserta dapat menghubungkan materi dengan pengalaman dan aktivitas sehari-hari.Program Building English Confidence di Sungai Miai, Banjarmasin, memberikan kontribusi positif terhadap pengembangan kemampuan dasar bahasa Inggris dan kepercayaan diri anak sekolah. Pendampingan melalui pendekatan komunikatif, interaktif, dan partisipatif mampu menciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan serta mendorong peserta untuk berani menggunakan bahasa Inggris. Kegiatan ini menunjukkan bahwa penguatan kompetensi bahasa Inggris tidak hanya membutuhkan penguasaan materi, tetapi juga lingkungan belajar yang memberikan dukungan psikologis dan kesempatan praktik yang memadai. Keberlanjutan program dengan materi yang lebih terstruktur dan evaluasi berkala diperlukan agar peningkatan kemampuan bahasa Inggris peserta dapat dipertahankan dan dikembangkan secara berkelanjutan.
# EDUKASI
# Opini

Berdamai dengan Algoritma: AI di Tempat Kerja

Abdul Aziz, M.Pd
28 Agustus 2026
Berikut adalah draf artikel lengkap (sekitar 600 kata) yang mengintegrasikan poin penting bahwa hanya dengan memberikan prompt (instruksi), pembuatan media ajar berbasis teknologi menjadi sangat mudah dan sangat nya kemampuan berpikir kritis mahasiswa. Banyak pendidik merasa cemas bahwa kehadiran algoritma canggih akan membuat calon guru bahasa kehilangan daya analisis mendalam karena terbiasa mengandalkan jawaban instan dari mesin. Akan tetapi, kekhawatiran berlebihan tersebut sebenarnya dapat diurai apabila kita menyadari bahwa proses berdamai dengan algoritma berawal dari pergeseran sudut pandang dasar dalam melihat teknologi. Oleh karena itu, AI sejatinya hadir bukan untuk merenggut peran pendidik atau mematikan proses belajar, melainkan diangkat menjadi rekan kerja digital yang mampu meningkatkan efektivitas serta efisiensi pembelajaran secara signifikan. Berangkat dari pergeseran sudut pandang tersebut, salah satu dampak paling nyata yang dirasakan oleh pendidik adalah kemudahan luar biasa dalam merancang perangkat dan media pembelajaran. Kini, hanya dengan memasukkan perintah (prompt) yang jelas dan presisi, pembuatan media ajar berbasis teknologi yang interaktif dan menarik dapat dilakukan dengan sangat mudah dan cepat. Dosen tidak perlu lagi menghabiskan waktu berjam-jam atau memiliki keahlian pemograman rumit hanya untuk membuat bahan ajar visual, materi simulasikan percakapan, kuis interaktif, maupun lembar kerja yang disesuaikan dengan tingkat kemahiran mahasiswa. Kehadiran kemudahan berbasis prompt ini menjadi angin segar yang sangat membantu dosen dalam menghemat waktu preparasi mengajar yang selama ini menyita energi. Alhasil, dosen dapat mengalihkan fokus dan energi utamanya untuk memikirkan strategi penyampaian materi secara kontekstual, mendampingi mahasiswa yang membutuhkan perhatian khusus, serta membangun interaksi kelas yang lebih hidup dan bermakna. Meskipun AI menawarkan berbagai kemudahan teknis yang mengagumkan tersebut, teknologi algoritma ini sejatinya memiliki batasan mendasar yang tidak akan pernah bisa menggantikan kapasitas hakiki manusia. AI tidak memiliki kepekaan rasa, pemahaman konteks budaya yang mendalam, empati, maupun intuisi pragmatis yang dibutuhkan dalam komunikasi antarmanusia secara nyata. Kemampuan berbahasa yang sejati bukan sekadar ketepatan struktur kalimat atau kerumitan tata bahasa semata, melainkan bagaimana bahasa digunakan untuk menyampaikan gagasan bermakna, mengekspresikan rasa, serta membangun hubungan emosional dan sosial. AI juga sering kali menghasilkan materi yang tampak meyakinkan namun secara faktual keliru atau dangkal secara metodologis jika tidak diarahkan dengan benar. Pada titik inilah peran dosen Pendidikan Bahasa Inggris tetap tidak tergantikan oleh mesin, yakni sebagai pengarah etika, penanam nilai-nilai karakter, fasilitator berpikir kritis, dan penilai kualitas akhir dari media serta materi ajar yang dihasilkan. Oleh sebab itu, berdamai dengan algoritma berarti membiarkan AI mengurus eksekusi teknis yang rumit, sementara manusia naik tingkat memegang kendali atas aspek-aspek kognitif tingkat tinggi, etis, dan humanis. Melalui pemahaman atas batasan dan keunggulan AI ini, peran calon guru bahasa Inggris di masa depan pun otomatis mengalami transformasi yang sangat penting. Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris tidak lagi sekadar dituntut untuk menghafal kausa tata bahasa atau menerjemahkan teks secara harfiah, melainkan dibekali literasi digital (AI literacy) agar mampu bertindak sebagai pengarah algoritma (prompt engineer) yang bijak. Mereka diajar untuk mendesain prompt yang efektif untuk pembuatan media ajar, mengevaluasi keluaran AI secara kritis, mendeteksi bias bahasa, serta menyelaraskan materi buatan mesin dengan konteks kurikulum sekolah kelak. Dosen tidak lagi menjadi satu-satunya sumber pengetahuan di dalam kelas, melainkan bergeser menjadi fasilitator yang memandu mahasiswa dalam mengolah informasi buatan AI menjadi karya akademis dan perangkat ajar yang orisinal. Pembelajaran bahasa Inggris pun bertransformasi dari sekadar penguasaan alat komunikasi teknis menjadi media untuk mengasah kepekaan budaya, kesadaran global, dan logika berpikir mendalam. Sinergi ini memastikan bahwa kehadiran teknologi tidak membuat kualitas lulusan menurun, melainkan justru semakin matang dan siap menghadapi tantangan zaman yang kian kompleks. Pada akhirnya, kesadaran akan sinergi antara manusia dan teknologi ini menegaskan bahwa masa depan pendidikan bahasa tidak ditentukan oleh kecanggihan mesin, melainkan oleh kesiapan akademisi dalam beradaptasi. AI bukanlah musuh yang harus dihindari atau dilarang masuk ke dalam ruang kelas, melainkan mitra strategis yang memperluas batas-batas potensi dosen dan mahasiswa untuk menguasai bahasa global. Pendidik yang bijak akan memanfaatkan kemudahan prompting ini untuk merancang metode pengajaran yang jauh lebih inovatif, kontekstual, dan humanis tanpa beban teknis yang memberatkan. Sebagaimana kalkulator tidak mematikan fungsi ahli matematika dan komputer tidak menggantikan ilmuwan, AI pun tidak akan pernah menggantikan pendidik bahasa yang terus belajar dan beradaptasi. Sinergi yang harmonis antara kecerdasan pedagogis dosen dan efisiensi algoritma akan menciptakan ekosistem belajar yang jauh lebih berdampak bagi kemajuan bangsa. Dengan meruntuhkan dinding rasa takut dan berdamai dengan algoritma, kita menyambut AI di lingkungan akademik bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai rekan kerja terbaik untuk mencapai puncak potensi penya kemampuan berpikir kritis mahasiswa. Banyak pendidik merasa cemas bahwa kehadiran algoritma canggih akan membuat calon guru bahasa kehilangan daya analisis mendalam karena terbiasa mengandalkan jawaban instan dari mesin. Akan tetapi, kekhawatiran berlebihan tersebut sebenarnya dapat diurai apabila kita menyadari bahwa proses berdamai dengan algoritma berawal dari pergeseran sudut pandang dasar dalam melihat teknologi. Oleh karena itu, AI sejatinya hadir bukan untuk merenggut peran pendidik atau mematikan proses belajar, melainkan diangkat menjadi rekan kerja digital yang mampu meningkatkan efektivitas serta efisiensi pembelajaran secara signifikan.Berangkat dari pergeseran sudut pandang tersebut, salah satu dampak paling nyata yang dirasakan oleh pendidik adalah kemudahan luar biasa dalam merancang perangkat dan media pembelajaran. Kini, hanya dengan memasukkan perintah (prompt) yang jelas dan presisi, pembuatan media ajar berbasis teknologi yang interaktif dan menarik dapat dilakukan dengan sangat mudah dan cepat. Dosen tidak perlu lagi menghabiskan waktu berjam-jam atau memiliki keahlian pemograman rumit hanya untuk membuat bahan ajar visual, materi simulasikan percakapan, kuis interaktif, maupun lembar kerja yang disesuaikan dengan tingkat kemahiran mahasiswa. Kehadiran kemudahan berbasis prompt ini menjadi angin segar yang sangat membantu dosen dalam menghemat waktu preparasi mengajar yang selama ini menyita energi. Alhasil, dosen dapat mengalihkan fokus dan energi utamanya untuk memikirkan strategi penyampaian materi secara kontekstual, mendampingi mahasiswa yang membutuhkan perhatian khusus, serta membangun interaksi kelas yang lebih hidup dan bermakna.Meskipun AI menawarkan berbagai kemudahan teknis yang mengagumkan tersebut, teknologi algoritma ini sejatinya memiliki batasan mendasar yang tidak akan pernah bisa menggantikan kapasitas hakiki manusia. AI tidak memiliki kepekaan rasa, pemahaman konteks budaya yang mendalam, empati, maupun intuisi pragmatis yang dibutuhkan dalam komunikasi antarmanusia secara nyata. Kemampuan berbahasa yang sejati bukan sekadar ketepatan struktur kalimat atau kerumitan tata bahasa semata, melainkan bagaimana bahasa digunakan untuk menyampaikan gagasan bermakna, mengekspresikan rasa, serta membangun hubungan emosional dan sosial. AI juga sering kali menghasilkan materi yang tampak meyakinkan namun secara faktual keliru atau dangkal secara metodologis jika tidak diarahkan dengan benar. Pada titik inilah peran dosen Pendidikan Bahasa Inggris tetap tidak tergantikan oleh mesin, yakni sebagai pengarah etika, penanam nilai-nilai karakter, fasilitator berpikir kritis, dan penilai kualitas akhir dari media serta materi ajar yang dihasilkan. Oleh sebab itu, berdamai dengan algoritma berarti membiarkan AI mengurus eksekusi teknis yang rumit, sementara manusia naik tingkat memegang kendali atas aspek-aspek kognitif tingkat tinggi, etis, dan humanis.Melalui pemahaman atas batasan dan keunggulan AI ini, peran calon guru bahasa Inggris di masa depan pun otomatis mengalami transformasi yang sangat penting. Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris tidak lagi sekadar dituntut untuk menghafal kausa tata bahasa atau menerjemahkan teks secara harfiah, melainkan dibekali literasi digital (AI literacy) agar mampu bertindak sebagai pengarah algoritma (prompt engineer) yang bijak. Mereka diajar untuk mendesain prompt yang efektif untuk pembuatan media ajar, mengevaluasi keluaran AI secara kritis, mendeteksi bias bahasa, serta menyelaraskan materi buatan mesin dengan konteks kurikulum sekolah kelak. Dosen tidak lagi menjadi satu-satunya sumber pengetahuan di dalam kelas, melainkan bergeser menjadi fasilitator yang memandu mahasiswa dalam mengolah informasi buatan AI menjadi karya akademis dan perangkat ajar yang orisinal. Pembelajaran bahasa Inggris pun bertransformasi dari sekadar penguasaan alat komunikasi teknis menjadi media untuk mengasah kepekaan budaya, kesadaran global, dan logika berpikir mendalam. Sinergi ini memastikan bahwa kehadiran teknologi tidak membuat kualitas lulusan menurun, melainkan justru semakin matang dan siap menghadapi tantangan zaman yang kian kompleks.Pada akhirnya, kesadaran akan sinergi antara manusia dan teknologi ini menegaskan bahwa masa depan pendidikan bahasa tidak ditentukan oleh kecanggihan mesin, melainkan oleh kesiapan akademisi dalam beradaptasi. AI bukanlah musuh yang harus dihindari atau dilarang masuk ke dalam ruang kelas, melainkan mitra strategis yang memperluas batas-batas potensi dosen dan mahasiswa untuk menguasai bahasa global. Pendidik yang bijak akan memanfaatkan kemudahan prompting ini untuk merancang metode pengajaran yang jauh lebih inovatif, kontekstual, dan humanis tanpa beban teknis yang memberatkan. Sebagaimana kalkulator tidak mematikan fungsi ahli matematika dan komputer tidak menggantikan ilmuwan, AI pun tidak akan pernah menggantikan pendidik bahasa yang terus belajar dan beradaptasi. Sinergi yang harmonis antara kecerdasan pedagogis dosen dan efisiensi algoritma akan menciptakan ekosistem belajar yang jauh lebih berdampak bagi kemajuan bangsa. Dengan meruntuhkan dinding rasa takut dan berdamai dengan algoritma, kita menyambut AI di lingkungan akademik bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai rekan kerja terbaik untuk mencapai puncak potensi pePerkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam beberapa tahun terakhir telah mengubah lanskap dunia pendidikan secara fundamental, khususnya pada ranah Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (English Language Teaching). Jika sebelumnya proses menyusun esai akademis, memeriksa ketepatan tata bahasa (grammar), hingga menganalisis struktur kalimat membutuhkan waktu yang lama, kini kehadiran platform AI mampu memfasilitasi tugas-tugas teknis tersebut dalam hitungan detik. Kehadiran teknologi yang begitu pesat ini tak dipungkiri sempat memicu kekhawatiran mendalam di kalangan akademisi terkait potensi penurunan akademis, maraknya plagiarisme, hingga mengikisnya kemampuan berpikir kritis mahasiswa. Banyak pendidik merasa cemas bahwa kehadiran algoritma canggih akan membuat calon guru bahasa kehilangan daya analisis mendalam karena terbiasa mengandalkan jawaban instan dari mesin. Akan tetapi, kekhawatiran berlebihan tersebut sebenarnya dapat diurai apabila kita menyadari bahwa proses berdamai dengan algoritma berawal dari pergeseran sudut pandang dasar dalam melihat teknologi. Oleh karena itu, AI sejatinya hadir bukan untuk merenggut peran pendidik atau mematikan proses belajar, melainkan diangkat menjadi rekan kerja digital yang mampu meningkatkan efektivitas serta efisiensi pembelajaran secara signifikan.Berangkat dari pergeseran sudut pandang tersebut, salah satu dampak paling nyata yang dirasakan oleh pendidik adalah kemudahan luar biasa dalam merancang perangkat dan media pembelajaran. Kini, hanya dengan memasukkan perintah (prompt) yang jelas dan presisi, pembuatan media ajar berbasis teknologi yang interaktif dan menarik dapat dilakukan dengan sangat mudah dan cepat. Dosen tidak perlu lagi menghabiskan waktu berjam-jam atau memiliki keahlian pemograman rumit hanya untuk membuat bahan ajar visual, materi simulasikan percakapan, kuis interaktif, maupun lembar kerja yang disesuaikan dengan tingkat kemahiran mahasiswa. Kehadiran kemudahan berbasis prompt ini menjadi angin segar yang sangat membantu dosen dalam menghemat waktu preparasi mengajar yang selama ini menyita energi. Alhasil, dosen dapat mengalihkan fokus dan energi utamanya untuk memikirkan strategi penyampaian materi secara kontekstual, mendampingi mahasiswa yang membutuhkan perhatian khusus, serta membangun interaksi kelas yang lebih hidup dan bermakna.Meskipun AI menawarkan berbagai kemudahan teknis yang mengagumkan tersebut, teknologi algoritma ini sejatinya memiliki batasan mendasar yang tidak akan pernah bisa menggantikan kapasitas hakiki manusia. AI tidak memiliki kepekaan rasa, pemahaman konteks budaya yang mendalam, empati, maupun intuisi pragmatis yang dibutuhkan dalam komunikasi antarmanusia secara nyata. Kemampuan berbahasa yang sejati bukan sekadar ketepatan struktur kalimat atau kerumitan tata bahasa semata, melainkan bagaimana bahasa digunakan untuk menyampaikan gagasan bermakna, mengekspresikan rasa, serta membangun hubungan emosional dan sosial. AI juga sering kali menghasilkan materi yang tampak meyakinkan namun secara faktual keliru atau dangkal secara metodologis jika tidak diarahkan dengan benar. Pada titik inilah peran dosen Pendidikan Bahasa Inggris tetap tidak tergantikan oleh mesin, yakni sebagai pengarah etika, penanam nilai-nilai karakter, fasilitator berpikir kritis, dan penilai kualitas akhir dari media serta materi ajar yang dihasilkan. Oleh sebab itu, berdamai dengan algoritma berarti membiarkan AI mengurus eksekusi teknis yang rumit, sementara manusia naik tingkat memegang kendali atas aspek-aspek kognitif tingkat tinggi, etis, dan humanis.Melalui pemahaman atas batasan dan keunggulan AI ini, peran calon guru bahasa Inggris di masa depan pun otomatis mengalami transformasi yang sangat penting. Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris tidak lagi sekadar dituntut untuk menghafal kausa tata bahasa atau menerjemahkan teks secara harfiah, melainkan dibekali literasi digital (AI literacy) agar mampu bertindak sebagai pengarah algoritma (prompt engineer) yang bijak. Mereka diajar untuk mendesain prompt yang efektif untuk pembuatan media ajar, mengevaluasi keluaran AI secara kritis, mendeteksi bias bahasa, serta menyelaraskan materi buatan mesin dengan konteks kurikulum sekolah kelak. Dosen tidak lagi menjadi satu-satunya sumber pengetahuan di dalam kelas, melainkan bergeser menjadi fasilitator yang memandu mahasiswa dalam mengolah informasi buatan AI menjadi karya akademis dan perangkat ajar yang orisinal. Pembelajaran bahasa Inggris pun bertransformasi dari sekadar penguasaan alat komunikasi teknis menjadi media untuk mengasah kepekaan budaya, kesadaran global, dan logika berpikir mendalam. Sinergi ini memastikan bahwa kehadiran teknologi tidak membuat kualitas lulusan menurun, melainkan justru semakin matang dan siap menghadapi tantangan zaman yang kian kompleks.Pada akhirnya, kesadaran akan sinergi antara manusia dan teknologi ini menegaskan bahwa masa depan pendidikan bahasa tidak ditentukan oleh kecanggihan mesin, melainkan oleh kesiapan akademisi dalam beradaptasi. AI bukanlah musuh yang harus dihindari atau dilarang masuk ke dalam ruang kelas, melainkan mitra strategis yang memperluas batas-batas potensi dosen dan mahasiswa untuk menguasai bahasa global. Pendidik yang bijak akan memanfaatkan kemudahan prompting ini untuk merancang metode pengajaran yang jauh lebih inovatif, kontekstual, dan humanis tanpa beban teknis yang memberatkan. Sebagaimana kalkulator tidak mematikan fungsi ahli matematika dan komputer tidak menggantikan ilmuwan, AI pun tidak akan pernah menggantikan pendidik bahasa yang terus belajar dan beradaptasi. Sinergi yang harmonis antara kecerdasan pedagogis dosen dan efisiensi algoritma akan menciptakan ekosistem belajar yang jauh lebih berdampak bagi kemajuan bangsa. Dengan meruntuhkan dinding rasa takut dan berdamai dengan algoritma, kita menyambut AI di lingkungan akademik bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai rekan kerja terbaik untuk mencapai puncak potensi pendidikan bahasa Inggris.
# EDUKASI
# Opini

Harmoni Pembelajaran di STKIP Islam Sabilal Muhtadin: Saat Calon Guru Menguasai Seni sebagai Media Edukasi

Muhammad Agus Safrian Nur
28 Agustus 2026
BANJARMASIN — Suasana ruang kelas di STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin terdengar berbeda hari ini. Petikan dawai gitar yang berpadu indah dengan alunan nada dari keyboard memenuhi ruangan, menciptakan atmosfer belajar yang dinamis dan penuh energi kreatif. Bukan sekadar hiburan, riuhnya nada ini adalah bagian dari kegiatan praktik langsung mata kuliah Pengembangan Seni. Di kampus ini, menjadi seorang pendidik masa depan tidak melulu soal teori di atas kertas atau metode ceramah yang kaku. Para mahasiswa diajak untuk melangkah lebih jauh: memahami dan menguasai seni sebagai media pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan di dalam kelas.Seni Musik: Mengubah Kelas Menjadi Ruang Belajar yang HidupDalam sesi praktik kali ini, mahasiswi STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin tampak antusias jemarinya menari di atas tuts keyboard dan menekan chord gitar. Mereka tidak sedang dicetak menjadi musisi panggung, melainkan sedang mempersiapkan diri menjadi guru inovatif yang mampu menghidupkan suasana kelas.Melalui instrumen gitar dan keyboard, para mahasiswi belajar bagaimana menyelaraskan nada, mengaransemen lagu anak, dan memanfaatkan ketukan musik untuk menyampaikan materi pelajaran nantinya. Musik dipercaya mampu meningkatkan fokus siswa, mempermudah penyerapan materi, dan membangun kedekatan emosional antara guru dan murid."Di STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, kami dibekali kemampuan untuk mengubah materi pelajaran yang dianggap sulit atau membosankan menjadi konsep yang seru melalui media seni musik."Dari Mahasiswa Menjadi Calon Guru KreatifSalah satu bagian yang paling menarik bagi saya sebagai pengajar adalah melihat perubahan kepercayaan diri mahasiswa.Pada awal pembelajaran, tidak semua mahasiswa merasa mampu memainkan alat musik. Ada yang mengatakan belum pernah memegang gitar, ada yang merasa sulit mengikuti nada, dan ada pula yang sejak awal merasa bahwa dirinya tidak memiliki kemampuan dalam bidang musik.Saya memahami keraguan tersebut.Karena itu, dalam pembelajaran saya tidak menjadikan kemampuan musikal sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan. Saya lebih menekankan keberanian untuk mencoba, kemampuan bekerja sama, kreativitas dalam mengembangkan kegiatan, serta kemampuan menghubungkan seni dengan kebutuhan pembelajaran.Perlahan-lahan saya melihat perubahan.Mahasiswa yang awalnya hanya melihat temannya memainkan alat musik mulai berani mencoba. Mahasiswa yang sebelumnya merasa tidak percaya diri mulai mampu memainkan beberapa chord sederhana. Mereka kemudian saling membantu, berdiskusi, dan belajar bersama. Suasana seperti inilah yang bagi saya menunjukkan bahwa pembelajaran telah bergerak lebih jauh daripada sekadar transfer pengetahuan.Mereka sedang belajar menjadi guru. Seorang guru memang tidak harus menguasai seluruh alat musik. Namun, guru perlu memiliki keberanian untuk belajar dan mengembangkan dirinya. Guru juga dituntut mampu menggunakan berbagai sumber dan media yang ada di lingkungan sekitarnya untuk menciptakan pembelajaran yang menarik.Ruang Kelas sebagai Tempat Menemukan PotensiSebagai seorang pengajar, salah satu kebahagiaan yang saya rasakan adalah ketika melihat mahasiswa menemukan kemampuan yang sebelumnya tidak mereka sadari.Ada mahasiswa yang ternyata memiliki kemampuan musikal yang baik. Ada yang kreatif mengubah lirik lagu. Ada yang mampu memimpin kelompok. Ada pula yang mungkin tidak terlalu mahir memainkan alat musik, tetapi memiliki kemampuan menjelaskan dan mengembangkan ide pembelajaran dengan sangat baik.Setiap mahasiswa memiliki potensinya masing-masing.Tugas pendidikan bukan membuat semua mahasiswa menjadi sama. Pendidikan seharusnya memberikan ruang bagi setiap individu untuk menemukan, mengembangkan, dan menggunakan potensinya secara optimal.Karena itu, pembelajaran seni bagi calon guru tidak semata-mata berbicara tentang kemampuan memainkan musik. Lebih jauh, kegiatan ini menjadi ruang untuk melatih kreativitas dan membangun kesiapan mahasiswa menghadapi dunia pendidikan yang terus berkembang.Dunia pendidikan saat ini membutuhkan guru yang tidak hanya menguasai teori, tetapi juga adaptif, kreatif, komunikatif, dan mampu menghadirkan inovasi dalam pembelajaran. Guru perlu mampu membuat peserta didik merasa bahwa belajar merupakan pengalaman yang menyenangkan dan memiliki makna dalam kehidupan mereka.Harmoni yang Lebih Besar dari Sekadar MusikKetika saya melihat mahasiswa memainkan gitar dan keyboard di dalam kelas, yang saya lihat sebenarnya bukan hanya sebuah praktik seni musik. Saya melihat calon-calon guru yang sedang berproses.Hari ini mungkin mereka masih belajar menemukan chord yang benar, mengikuti tempo, atau menyesuaikan nada. Namun kelak, kemampuan sederhana tersebut bisa menjadi salah satu cara mereka menciptakan ruang kelas yang hidup.Mungkin suatu hari salah satu dari mereka akan berdiri di depan peserta didiknya sambil memegang gitar. Mereka menyanyikan sebuah lagu sederhana untuk mengenalkan angka, warna, karakter, atau nilai-nilai kehidupan. Anak-anak mengikuti dengan gembira, bernyanyi sambil bergerak, dan tanpa mereka sadari sedang belajar melalui pengalaman yang menyenangkan.Bagi saya sebagai pengajar, bayangan tentang masa depan itulah yang membuat proses pembelajaran hari ini menjadi berarti.Pada akhirnya, pendidikan calon guru bukan hanya tentang berapa banyak teori yang mampu dihafalkan mahasiswa. Pendidikan adalah tentang bagaimana pengetahuan, keterampilan, kreativitas, pengalaman, dan karakter dipadukan menjadi sebuah kompetensi yang dapat digunakan ketika mereka terjun ke masyarakat.Itulah harmoni pembelajaran yang ingin terus dibangun di STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin: sebuah proses pendidikan yang memberikan ruang bagi mahasiswa untuk belajar, mencoba, berkreasi, melakukan kesalahan, memperbaiki diri, dan bertumbuh menjadi pendidik yang inspiratif, berkarakter, serta berkompeten. Karena pada akhirnya, seorang guru yang baik bukan hanya guru yang mampu menyampaikan pelajaran, tetapi guru yang mampu membuat peserta didiknya mencintai proses belajar.Mengapa Kuliah di STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin?Kegiatan praktik mata kuliah Pengembangan Seni ini menjadi salah satu bukti nyata mengapa STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin selalu unggul dalam mencetak lulusan siap kerja. Berikut adalah nilai lebih yang ditawarkan: Kurikulum Adaptif & Kreatif: Mahasiswa tidak hanya mendapatkan bekal teoretis bagaimana menjadi guru yang cerdas secara akademik, tetapi juga diasah keterampilannya (soft skills) agar menjadi guru yang kreatif, adaptif, dan dirindukan oleh siswa di kelas. Fasilitas Praktik yang Mendukung: Teori tanpa praktik adalah sia-sia. Kampus menyediakan ruang dan fasilitas instrumen musik seperti gitar dan keyboard agar setiap mahasiswa bisa langsung mencoba, gagal, memperbaiki, hingga mahir. Dosen Pengampu Profesional: Proses belajar dibimbing langsung oleh dosen-dosen kompeten yang memahami betul bagaimana mengintegrasikan seni ke dalam dunia pedagogi (pendidikan) modern. Siap Menjadi Guru Masa Depan yang Menginspirasi?Dunia pendidikan hari ini membutuhkan guru yang tidak hanya pintar, tetapi juga kreatif dan mampu menciptakan inovasi baru di ruang kelas. Jika Anda ingin menjadi bagian dari generasi pendidik modern yang multitalenta, STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin adalah tempat terbaik untuk memulai langkah Anda.Mari bergabung bersama kami, asah potensi akademismu, dan temukan kreativitas tanpa batas untuk menginspirasi anak bangsa!
# EDUKASI
# Opini

STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin bekerjasama dengan Kabupaten Balangan meningkatkan kualitas SDM melalui pendidikan

Zulparis, M.Pd
28 Agustus 2026
STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin dapat kepercayaan oleh pemerintah Kabupaten Balangan dalam meningkatkan pendidikan di wilayah Balangan. Hal ini merupakan suatu kebanggaan bagi kampus tercinta kami terpilih sebagai tempat bagi para masyarakat warga Balangan untuk meneruskan cita-cita menjadi sarjana. Perlu kita ketahui bahwa kabupaten Balangan mempunyai program 1000 sarjana, Program 1.000 Sarjana juga menjadi bukti pentingnya perhatian terhadap pembangunan sumber daya manusia. Kemajuan suatu daerah tidak hanya ditentukan oleh pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga sangat bergantung pada kualitas masyarakatnya. Dengan semakin banyak masyarakat yang memperoleh kesempatan menempuh pendidikan tinggi, diharapkan akan lahir sumber daya manusia Balangan yang unggul, profesional, kreatif, inovatif, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah. Bagi para pelajar dan masyarakat Balangan yang memiliki cita-cita untuk melanjutkan pendidikan, program ini tentu menjadi motivasi besar. Tidak ada alasan untuk berhenti bermimpi dan menyerah pada keadaan. Kesempatan telah terbuka, dan kini saatnya generasi muda mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh. Semangat belajar, disiplin, kerja keras, dan tekad yang kuat menjadi modal penting untuk meraih masa depan yang lebih cerah.Dalam masa waktu penerimaan mahasiswa baru STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin yang memiliki tiga program studi yaitu. Pendidikan anak usia dini, pendidikan bahasa inggris dan pendidikan guru sekolah dasar, dari tiga program studi tersebut yang paling dominan atau yang paling diminati oleh calon mahasiswa baru dari Balangan adalah pertama pendidikan guru sekolah dasar kedua pendidikan anak usia dini dan ketiga pendidikan bahasa inggris. STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin yang mana memiliki visi Menyiapkan pendidikan inspirasi,berkarakter dan berkomitmen dan memiliki misi1. Mengembangkan potensi akademik dan profesionalisme pendidikan2. Penguatan karakter melalui integrasi nilai-nilai Islam3. Mendorong dedikasi dan komitmen tinggi terhadap profesi pendidikan4. Pembinaan kepemimpinan dan inovasi dalam pendidikan5. Pengabdian kepada masyarakat melalui pendidikan berbasis komunikas
# EDUKASI
# Opini

Ketika AI Tahu Segalanya. Lalu, Masih Perlukah Siswa Berpikir?

Armin Fani
28 Agustus 2026
Kita hidup di zaman di mana jawaban  dari sebuah pertanyaan tersedia dalam hitungan detik. Sebuah chatbot bisa menjelaskan teori relativitas, merangkum seratus halaman buku, menyusun esai berkelas, bahkan berdebat layaknya filsuf. Semua orang bisa mendapatkan informasi tentang segala hal dengan mudah. Di satu sisi, ini luar biasa. Di sisi lain, ini adalah alarm paling keras bagi dunia pendidikan. Karena ada paradoks mengancam yang merayap masuk ke ruang kelas kita: semakin pintar teknologi, semakin tidak perlu siswa berpikir.Kita mungkin menolak mentah-mentah pernyataan ini. Bukankah AI dirancang untuk membantu, bukan menggantikan? Tentu. Tetapi mari kita jujur: jika AI bisa mengerjakan tugas dalam waktu singkat, apa yang sesungguhnya terjadi di kepala siswa? Produktivitas meningkat, tetapi pembelajaran yang merupakan proses bermakna yang harus terasa berat dan penuh proses berpikir malah justru tergerus. OECD, dalam Digital Education Outlook 2026, menyatakan fakta yang tidak nyaman: penggunaan AI generatif tanpa tujuan pedagogis memang meningkatkan kualitas pekerjaan, tetapi tidak menjamin peningkatan pembelajaran. Bahkan, keunggulan siswa yang terbiasa dengan AI kerap lenyap saat mereka menghadapi ujian tanpa bantuan AI. Artinya, kita sedang mencetak generasi yang cakap menyusun prompt, tetapi miskin nalar kritis.Selama ini, pendidikan kita dibangun di atas asumsi keliru bahwa mengetahui banyak sama dengan belajar baik. Guru memberi materi, siswa menghafal, lalu diuji. Model ini sudah rapuh sejak lama. Kini, dengan AI yang bisa menjawab hampir semua pertanyaan, fondasi itu ambruk total. Pertanyaan besarnya adalah: kalau AI bisa menjawab segalanya, untuk apa siswa masih belajar?Jawabannya bukan “agar mereka tidak kalah dari AI.” Itu sikap pecundang. Jawabannya lebih dalam: pendidikan bukanlah perlombaan menjawab, tetapi proses membentuk manusia yang berani bertanya ketika tidak ada jawaban.Bukan AI-nya yang Salah, Tapi Bagaimana Kita MemanjakannyaLarangan menggunakan AI di sekolah adalah solusi kekanak-kanakan. AI sudah menjadi bagian dari denyut kehidupan. UNESCO pun mendorong pendekatan humanis: siswa harus kompeten secara teknis, tetapi juga kritis, etis, dan bertanggung jawab. Namun, kita semua harus sadar akan satu hal: jangan samakan kemampuan menulis prompt dengan kemampuan berpikir. Saat ini, banyak sekolah terobsesi mengajarkan prompt engineering seolah itu adalah kompetensi abad ke-21 yang utama. Siswa diajari merangkai kata kunci agar AI memberi jawaban sempurna. Ironisnya, mereka tidak diajari hal yang paling mendasar: bagaimana menilai apakah jawaban AI itu benar, bias, atau bahkan berbahaya. Kita harus mengingatkan bahwa siswa harus belajar berpikir termasuk tanpa AI sebelum mereka belajar memberi perintah pada mesin. Mereka harus mampu menghadapi ketidakpastian, meragukan asumsi, dan memahami bahwa AI tidak pernah netral.Kesalahan Terbesar Kita: Menghilangkan Proses “Bergulat”Bayangkan dua skenario:Skenario A: Guru memberi tugas esai. Siswa meminta AI menulis. Selesai. Cepat, rapi, nyaman. Tidak ada pembelajaran.Skenario B: Guru meminta siswa menulis argumen awal tanpa AI. Kemudian, AI diminta memberi pandangan berlawanan. Lalu siswa harus menemukan kelemahan kedua argumen, memeriksa sumber, mempertahankan posisinya, dan menulis refleksi tentang pergeseran pandangannya.Di skenario kedua, AI menjadi lawan debat, bukan tukang ketik. Perbedaannya kecil dalam instruksi, tetapi dahsyat dalam dampak pedagogis.Kita enggan mengakui bahwa belajar itu tidak nyaman. Siswa perlu tersesat dulu sebelum menemukan jalan. Mereka perlu membuat pertanyaan bodoh sebelum melahirkan pertanyaan cerdas. Mereka perlu mengalami kegagalan berargumentasi sebelum membangun logika yang kokoh. Proses “bergulat” dengan masalah inilah yang membentuk kemampuan berpikir. Dan AI, dengan segala kecanggihannya, menghilangkan proses itu dalam sekejap. Maka, tantangan guru saat ini bukanlah mengajarkan cara menggunakan AI. Tantangan sejati adalah menentukan kapan AI harus dipinggirkan.Saatnya Mengubah Cara Kita Menilai belajar siswaJika AI bisa menulis esai seribu kata sempurna, maka tugas semacam itu adalah lelucon pendidikan. Tidak ada lagi yang bisa diukur dari produk semata.Kita harus menilai proses. Guru harus bertanya: Mengapa siswa memilih argumen itu? Sumber mana yang ia gunakan untuk memverifikasi AI? Apa yang berubah dari pemikiran awalnya setelah berhadapan dengan AI? Mengapa ia menolak jawaban tertentu dari mesin? Bisakah ia menjelaskan idenya tanpa bantuan teknologi? Pertanyaan-pertanyaan ini adalah senjata kita. Ini adalah cara kita menempatkan manusia kembali di pusat pendidikan, bukan mesin.Yang Harus Dipertahankan Bukan Kecepatan, Tapi Kemanusiaan Kita harus mengaku bahwa AI akan selalu lebih cepat, lebih hafal, dan lebih rapi dari kita. Di ranah itu, manusia tidak akan pernah menang. Jangan pernah berkompetensi pada hal yang tidak mungkin kita menangkan. Yang harus kita pertahankan adalah sesuatu yang tidak bisa dibuat oleh algoritma: kemampuan manusia untuk meragukan, memahami sudut pandang lain, mengambil keputusan etis, dan bertanggung jawab atas pilihannya sendiri. Inilah perjuangan terbesar pendidikan di era AI. Bukan bagaimana menjadikan siswa lebih pintar dari mesin. Tetapi bagaimana memastikan bahwa ketika mesin semakin pintar, manusia tidak semakin malas untuk berpikir. Karena jika itu terjadi, maka kalahlah kita, bukan oleh teknologi, tetapi oleh kemalasan kita sendiri.
# EDUKASI
# Opini

Apa yang diajarkan Rusdi 'the Spidey' tentang menjadi Guru yang Tangguh?

Iwan Perdana
4 Juli 2026
Selain hari Minggu, ada dua hari lain yang selalu saya nantikan yaitu Senin dan Kamis. Pada dua hari tersebut saya dapat berjumpa dengan banyak rekan sesama penggemar bola di lapangan kayutangi ujung: Klub Berkah FC, tim binaan H.Juman yang dalam operasionalnya dipimpin Kapten Rudi dibantu Kasliannoor.Pada edisi sebelumnya, yang dipublikasikan pada 12 Juni 2026, saya menulis tentang Haris "The Flying Eagle" Andy, kiper Berkah FC yang lincah dengan gaya terbangnya yang keren saat menangkap bola_https://edubanua.com/apa-yang-diajarkan-haris-andykiper-berkah-fc-tentang-kepemimpinan-pendidikan. Kali ini, saya ingin mengulik sosok Rusdianoor—akrab disapa Rusdi, kiper utama Berkah FC selain Fendi dan Busairi.Sorot matanya tajam mengawasi setiap gerakan pemain depan lawan yang mencoba menerobos pertahanan. Tubuhnya tinggi dan atletis. Keunggulan lainnya adalah kemampuannya melompat tinggi dan tangkapannya yang lengket, seolah ada jaring laba-laba di sarung tangannya. Itulah sosok Rusdi "The Spidey" yang kokoh di bawah mistar gawang, siap menghadang gempuran lawan.Bagi Rusdi, yang memiliki motto "Selalu memberikan yang terbaik untuk tim," sepak bola bukan sekadar olahraga. Ia adalah denyut nadi, tantangan, dan panggilan jiwa yang telah mengalir dalam darahnya sejak kecil. Namun, tak banyak yang tahu bahwa di balik ketangguhannya sebagai kiper, ternyata Rusdi bukanlah penjaga gawang pada awalnya. Menurut Rudi—Kapten Berkah FC—dulu Rusdi adalah seorang striker haus gol. Saat itu, kiper andalan Berkah FC adalah Fendi, kakak kandungnya.Yuspi — gelandang bertahan mengakui keistimewaan Rusdi. "Refleks antisipasi bolanya luar biasa. Pandai menutup atau mempersempit ruang tembak striker lawan," ungkapnya. Di luar lapangan, lanjutnya, Rusdi adalah sosok yang ramah dan baik hati. Pendapatnya ini diamini Rudi—Kapten Tim Berkah FC, dan Awad —bek kiri.Odi, rekan setim lainnya, menambahkan bahwa Rusdi adalah spesialis dalam membaca situasi krusial. Saat adu penalti, ia seperti memiliki radar membaca arah bola yang akan ditendang. "Rusdi menjadi andalan pertahanan tim dengan  postur tinggi, refleks cepat, dan kemampuan membaca situasi," puji Odi. "Ia adalah prototipe kiper modern" tegasnya.Rusdi mengaku mengidolakan Teja Paku Alam, yang bermain di Persib Bandung, dan Gianluigi Buffon, kiper legendaris Italia — salah satu kiper terhebat sepanjang masa. Dari kedua penjaga gawang tersebut, Rusdi mengaku belajar tentang ketenangan, keberanian, dan seni menjaga gawang. Adapun ketika ditanya tentang tim favorit di Piala Dunia 2026, tanpa ragu ia menyebut Prancis —negeri dengan sejarah sepak bola gemilang.Di bawah mistar gawang, Rusdianoor bukan sekadar penjaga. Ia adalah benteng terakhir, pilar keyakinan, dan jiwa dari timnya. Di setiap tangkapan, di setiap tepisan, ia membuktikan bahwa motto hidupnya bukanlah sekadar kata-kata. Ia merupakan tipe all-out player yang memberikan yang terbaik untuk tim yang dibelanya.Selain sepak bola, Rusdi juga gemar bermain Bulutangkis. Ia juga suka mendengarkan musik dan menonton film. Penyanyi favoritnya Rhoma Irama —raja dangdut yang selalu mampu membangkitkan semangatnya. Sedangkan aktor film yang disukainya adalah  H. Benjamin S, sang legenda layar lebar Indonesia. Dari Spidey ke Ruang KelasSeperti tulisan-tulisan sebelumnya yang mencoba menganalogikan sepak bola dengan dunia pendidikan, pada edisi ini saya melihat sosok Rusdi "the Spidey" juga menampilkan nilai-nilai kepemimpinan dan dedikasi yang relevan dengan dunia pendidikan. Seorang guru di kelas memiliki peran yang sangat mirip dengan seorang kiper. Guru adalah benteng terakhir dalam membentuk karakter dan masa depan siswa. Guru selalu siap menghadang berbagai "gempuran" tantangan pembelajaran, mulai dari kesulitan memahami materi hingga dinamika sosial di dalam kelas.Seperti Rusdi yang memiliki motto "Selalu memberikan yang terbaik untuk tim," seorang guru yang berdedikasi juga menjadikan keberhasilan siswa sebagai tujuan utamanya. Dedikasi ini bukan sekadar pekerjaan, melainkan "denyut nadi, tantangan, dan panggilan jiwa" sebagaimana dirasakan Rusdi. Ketangguhan guru diuji setiap hari, bukan hanya dalam menyampaikan ilmu, tetapi juga dalam menjadi contoh nyata (teladan) tentang ketekunan, integritas, dan semangat pantang menyerah—sama seperti Rusdi yang bertahan di bawah mistar.Kemampuan Rusdi membaca situasi krusial, memiliki refleks cepat, dan mempersempit ruang gerak lawan, adalah analogi sempurna untuk kompetensi pedagogik dan profesional guru. Seorang guru yang baik harus pandai "membaca" kondisi setiap siswanya, cepat tanggap terhadap kebutuhan belajar yang berbeda, dan mampu menciptakan lingkungan belajar yang aman dan kondusif ("mempersempit ruang" bagi kebosanan dan kejenuhan). Mereka adalah "prototipe pendidik modern" yang adaptif dan berwawasan luas.Lebih dari itu, Gaya bermain Rusdi di lapangan—yang tegas saat bertanding namun ramah di luar—adalah cerminan ideal gaya kepemimpinan transformasional dalam manajemen pendidikan. Guru yang efektif adalah pemimpin yang mampu menyeimbangkan ketegasan dalam menegakkan aturan dan disiplin dengan kehangatan dan empati. Ia membangun kepercayaan (seperti kepercayaan tim pada kipernya), sehingga siswa merasa aman dan termotivasi untuk memberikan yang terbaik.    
# EDUKASI
# Opini

Muhammad Thohir— Striker Berkah FC: Refleksi bagi Guru Kompeten

Iwan Perdana
22 Juni 2026
Salah seorang pemain andalan Berkah FC yang memiliki skill mengolah bola di atas rata-rata adalah Taher. Pemain bernama  asli Muhammad Thohir, Amd ini mempunyai motto hidup sederhana namun sarat makna: "Berbuat baiklah selama kita bisa membantu orang lain." Filosofi ini membentuk karakternya sebagai sosok yang rendah hati di luar lapangan. Sedangkan di dalam lapangan, ia pemain yang selalu mengutamakan tim.Taher & Berkah FC berlaga di BanjarbaruKetenangan Taher diakui oleh rekannya, Awad—. "Taher adalah pemain Berkah FC paling sabar, tidak pernah emosi, tidak pernah mengeluh, dan tetap mempertahankan gaya permainannya apapun tekanan di lapangan," ujar Awad. Sifat inilah yang membuat Taher selalu konsisten di setiap pertandingan, tidak terpengaruh oleh provokasi lawan maupun tekanan skor.Kecintaan Taher pada sepak bola dimulai sejak duduk di bangku sekolah dasar. Baginya, olahraga ini adalah magnet universal yang menyatukan banyak orang. "Dengan sepak bola, kita banyak mempunyai teman dan menambah persahabatan," ujar Taher, Selasa (16/06/2026) melalui pesan WhatsApp. Taher berlaga di MarabahanBerposisi sebagai striker, Taher adalah perpaduan antara pemain cerdas dan tidak egois. Keunggulannya tidak hanya memiliki postur tinggi besar menjadikannya sangat cocok menjadi penghancur tembok pertahanan lawan. Tetapi ia seorang predator di kotak penalti. "Apabila kita bisa menciptakan gol, ada rasa kepuasan tersendiri dan kebahagiaan," jawabnya ketika ditanya alasannya memilih posisi penyerang. Kehebatan Taher sebagai predator di depan gawang juga ditegaskan oleh Kapten Berkah FC, Rudiansyah. "Taher adalah tipe pemain predator, penyelesai yang sempurna, shooting-nya keras," puji Rudi. Coach Mady juga memberikan apresiasi terhadap kemampuan Taher. "Bang Taher striker yang mempunyai visi bermain jelas, pandai mencari peluang, dan shooting yang keras, sangat cocok untuk posisi seorang target man, serta punya sundulan yang akurat," ungkap Coach Mady. Deskripsi ini melengkapi profil Taher sebagai striker modern yang memiliki segalanya: kecerdasan, kekuatan fisik, akurasi, dan kemampuan duel udara.“Tantangan menjadi striker juga tak semudah yang dibayangkan,” tambahnya lagi. Setiap kali ia menggiring bola memasuki area kotak 16, Ia merasakan mata para bek dan kiper lawan, termasuk para penonton tertuju padanya. Tekanan untuk mencetak gol selalu membayangi, tetapi justru di situlah Taher menemukan kenikmatan sejati—merusak lini belakang lawan, memenangkan duel udara, dan menyelesaikan peluang dengan tembakan keras yang mematikan.Sebagai mesin gol Berkah FC, Taher mengidolakan penyerang Timnas Indonesia Kurniawan Dwi Yulianto—legenda predator era 90-an—, dan saat ini mengagumi Ole Romeny, striker diaspora yang sedang naik daun. Adapun striker luar negeri yang diidolakannya adalah Filippo Inzaghi, "Super Pippo" yang terkenal dengan insting pembunuh di kotak penalti, dan Cristiano Ronaldo, simbol profesionalisme dan kerja keras. Para ikon sepak bola itu menginsipirasinya menjadi penyerang cerdas yang tak hanya mengandalkan fisik, tetapi juga kecerdasan dalam membaca permainan.Meski gemar bermain sepak bola, Taher juga menyukai semua jenis olahraga. Menurutnya berolahraga adalah jalan menuju tubuh sehat dan kuat. Untuk hiburan, meski mengaku tidak terlalu hobi menyanyi, ia senang mendengarkan lagu-lagu melayu nostalgia—asalkan liriknya enak didengar, semua genre musik ia nikmati. Taher juga menyukai film-film bagus, baik lokal maupun luar negeri. Ia mengaku sering diajak menonton oleh anak dan istrinya, dan meski terkadang harus menonton film yang tidak terlalu disukai, ia tetap ikut dengan senang hati—walaupun tak jarang tertidur di tengah pemutaran. Film favoritnya adalah serial Fast and Furious, yang penuh aksi dan memicu adrenalin.Sebagai penggemar sepak bola sejati, Taher memiliki tim favorit di Piala Dunia 2026. Ia menjagokan Portugal—negeri asal idolanya Cristiano Ronaldo—serta Jerman, raksasa Eropa dengan tradisi kemenangan. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia berharap Tim Nasional Indonesia dapat berpartisipasi di Piala Dunia berikutnya pada tahun 2030.Taher & Berkah FC di Lapangan Kayutangi UjungAnalogi Kompetensi Guru sebagai StrikerSeorang guru yang kompeten seperti seorang striker. Ia berada di lapangan hijau : ruang kelas. Seperti Taher, sang penyerang andalan Berkah FC, guru tidak sekadar mengandalkan fisik atau formalitas—ia harus cerdas membaca situasi, tepat membuat keputusan, dan keberanian mengeksekusi peluang.Seorang striker hebat tahu kapan harus bergerak ke ruang kosong, kapan harus menahan bola, dan kapan melepaskan tembakan keras ke gawang. Demikian pula guru kompeten: ia tahu kapan harus menjelaskan, kapan memberi tugas, kapan mendiamkan siswa agar berpikir, dan kapan memberikan pujian atau teguran. Guru adalah pemecah kebuntuan—ketika siswa mengalami kebingungan atau kehilangan motivasi, guru harus mampu menciptakan "gol" pemahaman dengan penjelasan yang tepat dan pendekatan yang kreatif. Seperti Taher yang mempunyai visi bermain jelas, pandai mencari peluang, dan shooting yang keras, Guru harus memiliki visi mengajar yang jelas, mengetahui kapan harus memberi tantangan, dan memberi bantuan. Dan yang paling penting, seperti Taher yang dikenal tidak mudah terpancing emosi, guru sejati tidak terbawa amarah atau frustrasi saat menghadapi siswa yang sulit. Ia tetap tenang, sabar, dan fokus pada tujuan utama: mencetak "gol" keberhasilan bagi setiap siswa. Saban kali seorang siswa memahami konsep sulit atau berhasil mengatasi kelemahannya, itulah gol yang diraih sang guru—striker pendidikan.
# EDUKASI
# Opini

  Youtube

Surah Ar-Rahman | Aniq Muhai

  Informasi

Selamat Hari Guru Nasional
Arah Pendidikan Nasional & Transformasi Pendidikan Lokal di Daerah
Kupas Tuntas: Kurikulum, Inklusi, dan Seni di Sekolah Dasar
Momentum Kebangkitan Nasional Melalui Peningkatan Kualitas Pendidikan