Berdamai dengan Algoritma: AI di Tempat Kerja
Abdul Aziz, M.Pd
28 Agustus 2026
Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam beberapa tahun terakhir telah membawa perubahan besar dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Perubahan tersebut semakin terasa dalam Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris yang selama ini berhadapan dengan berbagai aktivitas akademik, mulai dari penyusunan materi pembelajaran, pemeriksaan tata bahasa (grammar), penerjemahan, penyusunan perangkat ajar, hingga pengembangan media pembelajaran. Jika sebelumnya berbagai pekerjaan tersebut membutuhkan waktu yang relatif panjang, kini sejumlah platform berbasis AI mampu membantu menyelesaikannya dalam waktu yang jauh lebih singkat. Kehadiran teknologi ini tentu memberikan peluang besar bagi dosen untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pekerjaan akademik. Namun, perkembangan tersebut juga menimbulkan kekhawatiran, terutama terkait kemungkinan menurunnya kemampuan berpikir kritis mahasiswa, meningkatnya ketergantungan terhadap teknologi, serta munculnya persoalan integritas akademik. Karena itu, persoalan utamanya bukan lagi apakah AI boleh digunakan dalam pendidikan, melainkan bagaimana AI digunakan secara bijak, kritis, dan bertanggung jawab.Banyak pendidik merasa cemas bahwa kehadiran algoritma yang semakin canggih akan membuat mahasiswa, khususnya calon guru bahasa Inggris, kehilangan kemampuan untuk melakukan analisis secara mendalam karena terbiasa memperoleh jawaban secara instan. Kekhawatiran tersebut merupakan hal yang wajar, tetapi tidak seharusnya membuat dunia pendidikan menutup diri terhadap perkembangan teknologi. Justru, kehadiran AI perlu ditempatkan dalam perspektif yang lebih proporsional. AI bukanlah pengganti dosen dan bukan pula mesin yang bertugas mengambil alih seluruh proses pembelajaran. AI seharusnya diposisikan sebagai rekan kerja digital yang membantu dosen melaksanakan berbagai pekerjaan teknis sehingga waktu dan energi dapat dialihkan pada aktivitas yang memiliki nilai pedagogis lebih tinggi. Dengan cara pandang tersebut, teknologi tidak menjadi ancaman, tetapi menjadi instrumen yang memperkuat kapasitas manusia dalam menjalankan tugas pendidikan.Salah satu manfaat AI yang paling nyata bagi dosen adalah kemudahan dalam merancang perangkat dan media pembelajaran. Melalui perintah atau prompt yang jelas, spesifik, dan sesuai kebutuhan, dosen dapat memperoleh bantuan dalam menyusun bahan ajar, membuat rancangan aktivitas pembelajaran, mengembangkan kuis, menghasilkan ide permainan edukatif, menyusun simulasi percakapan, hingga merancang lembar kerja mahasiswa. Teknologi ini juga dapat membantu memberikan alternatif materi sesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik. Dosen tidak selalu harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk memulai sebuah rancangan pembelajaran dari halaman kosong. AI dapat digunakan untuk menghasilkan rancangan awal yang selanjutnya diperiksa, dikembangkan, disesuaikan, dan disempurnakan oleh dosen. Dengan demikian, AI berfungsi sebagai alat bantu pada tahap eksekusi teknis, sedangkan keputusan pedagogis tetap berada di tangan pendidik.Efisiensi tersebut menjadi semakin penting karena tugas dosen tidak hanya berkaitan dengan kegiatan mengajar. Dosen juga memiliki tanggung jawab dalam penelitian, pengabdian kepada masyarakat, pembimbingan mahasiswa, administrasi akademik, pengembangan kurikulum, serta berbagai kegiatan institusional lainnya. Apabila pekerjaan teknis dalam pembelajaran dapat dibantu oleh AI, waktu yang tersedia dapat dimanfaatkan untuk aktivitas yang membutuhkan pemikiran, pengalaman, dan interaksi manusia. Dosen dapat memberikan perhatian lebih besar terhadap kebutuhan individual mahasiswa, merancang pembelajaran yang kontekstual, membangun diskusi yang bermakna, serta memberikan umpan balik yang lebih personal. Dengan kata lain, pemanfaatan AI secara tepat justru dapat memberikan ruang yang lebih besar bagi dosen untuk menjalankan fungsi kemanusiaannya dalam pendidikan.Meskipun memiliki berbagai keunggulan, AI tetap mempunyai keterbatasan. AI dapat menghasilkan teks yang terlihat meyakinkan, tetapi tidak selalu menjamin bahwa informasi yang diberikan benar, relevan, atau sesuai dengan konteks pembelajaran. AI juga tidak memiliki pengalaman manusiawi secara langsung, sehingga tidak dapat sepenuhnya memahami emosi, kondisi sosial, latar belakang budaya, dan dinamika hubungan antarmanusia sebagaimana seorang pendidik. Dalam pembelajaran bahasa Inggris, keterbatasan tersebut menjadi sangat penting karena bahasa bukan sekadar kumpulan aturan tata bahasa dan kosakata. Bahasa merupakan alat untuk menyampaikan gagasan, membangun hubungan sosial, mengekspresikan identitas, memahami budaya, serta berkomunikasi secara tepat dalam berbagai situasi. Oleh karena itu, keluaran AI tetap harus diperiksa dan dinilai secara kritis sebelum digunakan dalam proses pembelajaran.Pada titik inilah peran dosen Pendidikan Bahasa Inggris menjadi semakin penting. Dosen bukan hanya berperan sebagai penyampai pengetahuan, tetapi juga sebagai pengarah, penyaring, evaluator, dan penjaga nilai dalam pemanfaatan teknologi. Dosen perlu memastikan bahwa materi yang dihasilkan AI sesuai dengan capaian pembelajaran, karakteristik mahasiswa, konteks budaya, dan prinsip-prinsip akademik. Dosen juga harus mengajarkan mahasiswa untuk tidak menerima keluaran AI secara mentah. Setiap informasi perlu diperiksa, dibandingkan dengan sumber yang kredibel, dan dianalisis berdasarkan konteks. Dengan demikian, penggunaan AI justru dapat menjadi sarana untuk melatih kemampuan berpikir kritis, bukan menghilangkannya.Transformasi tersebut juga membawa konsekuensi terhadap pendidikan calon guru bahasa Inggris. Mahasiswa tidak cukup hanya menguasai tata bahasa, kosakata, keterampilan berbicara, membaca, menulis, dan menerjemahkan. Mereka juga perlu memiliki literasi AI (AI literacy), yaitu kemampuan memahami, menggunakan, mengevaluasi, dan mengkritisi teknologi kecerdasan buatan. Mahasiswa perlu belajar bagaimana menyusun prompt yang efektif, mengevaluasi hasil yang diberikan AI, mengenali kemungkinan kesalahan dan bias, serta mengadaptasi keluaran teknologi agar sesuai dengan kebutuhan pembelajaran. Kemampuan tersebut akan menjadi bekal penting bagi calon guru ketika mereka memasuki dunia sekolah yang semakin terintegrasi dengan teknologi digital.Dalam konteks tersebut, dosen juga mengalami perubahan peran. Dosen tidak lagi harus menjadi satu-satunya sumber informasi di dalam kelas. Sebaliknya, dosen dapat berperan sebagai fasilitator yang membantu mahasiswa mengolah berbagai informasi menjadi pengetahuan yang bermakna. Mahasiswa dapat menggunakan AI untuk memperoleh ide awal, sementara dosen membimbing mereka untuk mengembangkan ide tersebut menjadi karya yang orisinal, argumentatif, dan bertanggung jawab secara akademik. Proses ini memungkinkan pembelajaran bergerak dari sekadar mencari jawaban menuju kemampuan mengajukan pertanyaan yang tepat, menganalisis informasi, mengevaluasi kualitas jawaban, dan menghasilkan solusi secara mandiri.Karena itu, berdamai dengan algoritma bukan berarti menyerahkan proses pendidikan kepada mesin. Berdamai dengan algoritma berarti memahami apa yang dapat dilakukan AI dan apa yang tetap menjadi tanggung jawab manusia. AI dapat membantu mempercepat pekerjaan teknis, tetapi manusia tetap menentukan tujuan, nilai, konteks, dan keputusan akhir. Dosen memiliki kecerdasan pedagogis untuk menentukan metode yang sesuai, mahasiswa memiliki kemampuan untuk berpikir dan berkreasi, sedangkan AI dapat menjadi alat yang mempercepat proses tersebut. Sinergi ketiganya dapat menghasilkan pembelajaran yang lebih inovatif tanpa kehilangan dimensi humanis.Pada akhirnya, masa depan pendidikan bahasa Inggris tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang digunakan, tetapi oleh seberapa bijak pendidik dan mahasiswa memanfaatkannya. AI tidak seharusnya dipandang sebagai musuh yang harus dihindari, tetapi sebagai teknologi yang perlu dipahami, dikendalikan, dan dimanfaatkan secara bertanggung jawab. Sebagaimana kalkulator tidak menghilangkan kebutuhan terhadap ahli matematika dan komputer tidak membuat ilmuwan kehilangan perannya, AI juga tidak akan menggantikan pendidik yang mampu terus belajar dan beradaptasi. Justru, pendidik yang mampu memadukan kecerdasan pedagogis, kemampuan berpikir kritis, nilai-nilai kemanusiaan, dan efisiensi teknologi akan memiliki posisi yang semakin strategis dalam pendidikan masa depan. Dengan meruntuhkan rasa takut terhadap teknologi dan membangun hubungan yang sehat dengan algoritma, AI dapat ditempatkan sebagaimana mestinya: bukan sebagai ancaman bagi dosen Pendidikan Bahasa Inggris, melainkan sebagai rekan kerja digital yang membantu memperluas potensi pembelajaran dan mempersiapkan mahasiswa menghadapi dunia yang semakin kompleks.
# EDUKASI
# Opini