Beranda > Edukasi

  Postingan Terbaru

Mengapa Waka Kesiswaan Harus Seperti Gelandang Bertahan?

Edubanua.com
1 Maret 2026
Mendominasi pertandingan tidak menjamin kemenangan. Saya pernah menyaksikan ini pada piala dunia tahun 1990. Kala itu, Brazil yang menguasai jalannya laga akhirnya takluk dari Argentina di babak 16 besar. Umpan Diego Maradona yang dikonversi dengan baik oleh Claudio Caniggia menjadi gol pada menit ke-80 memaksa Dunga dan kawan-kawan angkat koper lebih awal.Meski kekalahan Brasil pada saat itu bukan disebabkan kelengahan pemain bertahan, tetapi karena kejeniusan pemain berjuluk Hand of God, namun ingatan tentang duel antara Argentina dan Brasil di babak 16 besar Piala Dunia 1990, yang digelar di Stadion Delle Alpi, Turin, Italia itu menginspirasi saya membahas tentang posisi pemain bertahan.Di tim sepak bola, semua posisi memainkan peran penting. Tidak hanya striker dan playmaker, posisi gelandang bertahan juga sangat menentukan. Di Berkah FC, lini pertahanan dikawal ketat  3 pilar handal: Ody, Yuspi dan Dahri. Kiri ke ke kanan: Yuspi, Ody & Dahri.Ody dan Yuspi tipikal pemain gelandang bertahan sejati. kemampuan mereka membaca permainan (antisipasi), akurasi operan tinggi, dan ketenangan di bawah tekanan layak diacungi jempol. Sementara Dahri adalah tipe gelandang bertahan modern Istimewa. Berbekal stamina prima: bernafas kuda, ia rajin membantu serangan. Kecepatan dan keberaniannya berduel sangat merepotkan pemain lawan. Kolaborasi Ody, Yuspi, dan Dahri menjauhkan kiper: Haris atau Rusdi dari  ancaman striker lawan.Ody & IyusIwan Perdana, Ph.D.,alumnus Program doktoral Manajemen Pendidikan UPSI Malaysia, menganalogikan pemain gelandang bertahan dengan jabatan struktural pada lembaga pendidikan. Menurutnya, dalam perspektif manajemen pendidikan, jabatan dalam tata Kelola sekolah yang memiliki karakter serupa dengan gelandang bertahan adalah wakil kepala sekolah bidang kesiswaan.Capt Rudi & OdyTujuan utama pendidikan adalah mengembangkan seluruh potensi peserta didik secara utuh—mencakup intelektual, karakter, emosional, dan spiritual—untuk menjadi manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, cerdas, mandiri, dan bertanggung jawab.Wakil kepala sekolah bidang kesiswaan membantu kepala sekolah mewujudkan tujuan tersebut. Ia bertugas merencanakan, membina, dan mengawasi seluruh kegiatan siswa (non-akademik), menegakkan tata tertib, mengatur OSIS/ekstrakurikuler, serta mengelola 7K (Keamanan, Kebersihan, Ketertiban, Keindahan, Kekeluargaan, Kerindangan, Kesehatan) untuk menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif.Oleh karena itu, wakasek kesiswaan menjadi filter pertama yang melindungi proses pendidikan dari bahaya:  masalah disiplin siswa, konflik antar teman, pelanggaran tata tertib. Ia bertugas menjaga iklim sekolah tetap kondusif agar "gawang"- tujuan pendidikan- tidak kebobolan.Berkah FCTidak dapat dibayangkan sebuah sekolah tanpa Waka Kesiswaan yang tegas. Konsekuensinya sangat menakutkan. Para guru—yang berperan sebagai gelandang serang kreatif dipaksa turun menjadi gelandang bertahan dadakan—turun tangan mengurusi masalah-masalah: Siswa bolos, tawuran, dan suasana belajar tidak nyaman.  Ini menyebabkan mereka akan kehilangan fokus, kreativitas mengajar mati, dan prestasi siswa (gol) akhirnya tidak akan tercipta.   
# EDUKASI
# Opini

7 Resep Jitu Yuliana Nurhayati, M.Pd Meredam Pasang Surut Motivasi Belajar

Edubanua.com
5 Februari 2026
Krisis semangat belajar sering menghantui, namun Yuliana Nurhayati, M.Pd, Wakil Ketua Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, menawarkan tujuh kiat praktis yang melampaui kurikulum formal demi menjaga api motivasi belajar tetap menyala.Pendidikan, dalam pandangan para ahli, memang laksana sungai yang tak pernah berhenti mengalir. Batasan maknanya terus berubah seiring berkembangnya temuan dan pola pikir baru. Namun, di tengah pusaran teori itu, ada satu masalah abadi yang kerap meredupkan cahaya generasi muda: pasang surut motivasi belajar.Bukan rahasia lagi, semangat menuntut ilmu seringkali naik turun, bahkan cenderung lebih banyak merosot. Kita semua tahu pendidikan penting, krusial untuk membentuk karakter, moral, dan etika, serta menumbuhkan pemikiran kritis. Tapi bagaimana menjaga 'bahan bakar' itu agar tidak habis di tengah jalan?Yuliana Nurhayati, M.Pd memiliki pandangan yang menyegarkan. Ia menolak definisi belajar yang kaku. Pembelajaran, katanya, jauh lebih luas dari dinding kelas dan tumpukan buku. “Pendidikan tidak selalu formal: berkutat dengan buku-buku atau e-book berisi materi pelajaran, berjumpa guru atau dosen,” ujarnya lugas. “Pembelajaran bisa saja diperoleh dari luar lembaga pendidikan formal, seperti bersinergi dengan alam, melihat lingkungan sekitar, dan memperhatikan kehidupan masyarakat. Tidak kalah pentingnya berinteraksi dengan sesama yang akan menjadikan kita menjadi bijak.”Filosofi belajar holistik ini menjadi landasan bagi tujuh resep praktis yang ia tawarkan. Resep pertama adalah fundamental: Ingat tujuan hidup dan tumbuhkan kesadaran manfaat belajar. Mengapa kita harus repot-repot membuka buku? Mengapa harus bersusah payah menguasai keterampilan baru? Jika alasan (the 'why') itu kuat, konsistensi belajar akan datang dengan sendirinya.Ia menekankan pentingnya adab dalam mencari ilmu. Hormati orang berilmu, ikuti jejak mereka. Sebab, ilmu itu sangat luas, takkan cukup waktu untuk mempelajari semua. Ini membawa kita pada kiat keempat: Prioritaskan belajar pada bidang yang hendak dikuasai atau sesuai pekerjaan. Selebihnya? Cukup untuk menambah wawasan.Yang paling menarik, Yuliana mendorong generasi muda untuk berhenti membandingkan diri. Fokuslah pada usaha meningkatkan kualitas diri sendiri. "Jangan minder melihat kehebatan orang lain," pesannya. Ketika kita fokus pada pertumbuhan internal, kita akan terhindar dari penyakit hati yang merusak motivasi.Prinsip ini beriringan dengan kiat keenam: Jangan pernah merendahkan orang lain. Setiap individu memiliki kelebihan dan kekurangan yang unik. Kesombongan dan rasa minder adalah dua sisi mata uang yang sama-sama mematikan semangat juang.Pada akhirnya, motivasi belajar harus bermuara pada aksi yang berdampak. Kiat penutupnya adalah belajar dari orang-orang hebat yang memiliki ketajaman berpikir dan banyak melakukan aksi positif ke masyarakat. Inilah kunci untuk mengubah ilmu menjadi kebijaksanaan, dan karakter menjadi aksi nyata. Pendidikan sejati, sesungguhnya, adalah proses menjadi bijak.  
# EDUKASI
# Opini

Silaturahmi: Investasi Sosial untuk Harmoni dan Umur Panjang

Edubanua.com
18 Januari 2026
Iwan Perdana, Ph.D, Ketua RT.12 Kelurahan Sungai Miai Kota Banjarmasin, menggelar silaturahmi warga di kediamannya pada Minggu (18/01/2026). Beliau menjadikan pertemuan pertama di tahun Januari 2026  tersebut sebagai ajang mempererat tali persaudaraan, dan membangun sinergi antar warga. Dihadapan masyarakatnya, Iwan Perdana yang juga dosen FKIP UNISKA MAB Banjarmasin menyampaikan beberapa hal, antara lain: (1) Pentingnya menjaga kerukunan dan keharmonisan warga RT.12, (2) Menghimbau warga agar menjaga kebersihan lingkungan, (3) Menawarkan pembelajaran Bahasa Inggris gratis bagi pelajar SMP dan SMA sederajat,(4) Informasi Pengusulan Kartu Prakerja 2026, dan (5) Informasi peluang menjadi Agen Edukasi Kebersihan yang bertugas mensosialisasikan pentingnya kebersihan, pengelolaan sampah, dan pola hidup bersih kepada warga di lingkungan RT.12.Landasan dan Hakikat Silaturahmi: Dari Iman, Ilmu, hingga BudayaAllah SWT menjelaskan dalam QS At-Tin ayat 4, bahwa manusia diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Dilengkapi hati, akal, dan fisik yang proporsional, manusia dijadikan khalifah di muka bumi dengan tugas utama memakmurkan bumi atas dasar ketaatan kepada Allah (QS. Al Baqarah ayat 30).Meskipun sempurna: memiliki hati, akal dan fisik yang proporsional, manusia  tidak dapat hidup seorang diri, karena  manusia  adalah mahluk  sosial (Pranata & Hartati, 2017) yang memerlukan orang lain, membutuhkan bantuan orang lain, hidup bersama orang banyak,  dan tidak dapat melakukan suatu kegiatan tanpa melibatkan orang lain (Hantono & Pramitasari, 2018).Interaksi antar sesama manusia yang dilakukan dengan niat baik dapat dianggap sebagai bagian dari silaturahmi. Mengapa? karena silaturahmi (menyambung kasih sayang) adalah esensi dari hubungan sosial. Menurut Istianah (2016), Silaturahmi harus dilakukan untuk seluruh umat Islam, baik yang ada kaitan hubungan nasab (keturunan) maupun hubungan persaudaraan sesama umat muslim. Bahkan kepada kaum non muslim (berbeda keyakinan) pun dituntut untuk berbuat baik dengan saling menghormati dan menghargai, hanya saja bentuk dan etikanya yang berbeda.Silaturahmi bukan hanya sekadar bertemu, tetapi ada rasa saling mengasihi, menghormati, membantu, dan berbagi kebaikan untuk mempererat persaudaraan guna menciptakan harmoni, dan mendapatkan keberkahan hidup, Rasullah SAW menjelaskan silaturahmi menambah rezeki dan memperpanjang umur (HR. Bukhari dan Muslim). Bagi Masyarakat Indonesia, silaturahmi merupakan kegiatan yang sudah menjadi kebiasaan atau budaya secara turun temurun. Kegiatan ini bertujuan untuk menjalin tali persaudaraan (Ridho et al., 2021). Selain itu, Silaturahmi juga merupakan sebuah muamalah atau hukum yang mengatur urusan manusia yang sederhana namun fundamental dengan keperdulian terhadap keluarga, saudara ataupun orang lain dengan manfaat menambah rezeki, diberikan umur panjang (Made Cahyana et al., 2021). Kegiatan silaturahmi memberikan banyak manfaat, baik di dunia maupun di akhirat. Di dunia, silaturahmi meningkatkan intensitas komunikasi yang menciptakan keharmonisan: kehangatan dan cinta kasih sehingga mampu meningkatkan sharing informasi dan saling percaya. Untuk akhirat, silaturahmi mendatangkan keberkahan: orang-orang yang menjaga silaturahmi akan masuk ke dalam Syurga.Diriwayatkan dari Abu Ayyub Al-Ansari: Seorang lelaki berkata, "Wahai Rasulullah! Beritahu saya tentang suatu amal yang akan membuat saya masuk surga." Rasulullah SAW bersabda, "Engkau harus menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun; mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan menjaga hubungan silaturahmi." (https://www.hadits.id/hadits/bukhari/5983).Membangun Sinergi dan Keberkahan Studi Cohen (2001) menunjukkan bahwa individu dengan jejaring sosial yang lebih luas dan interaksi sosial yang aktif cenderung memiliki usia harapan hidup lebih panjang dan kesehatan yang lebih baik,. Silaturahmi yang digelar Ketua RT.12 Kelurahan Sungai Miai ini bukan sekadar pertemuan rutin belaka. Merujuk pada kutipan-kutipan yang menjadi referensi pada tulisan singkat ini, silaturahmi merupakan perwujudan nyata dari ajaran agama, dan kearifan lokal yang menyatu dalam satu tindakan bermakna. Dari tingkat rukun tetangga inilah fondasi harmoni sosial dibangun, sinergi warga diperkuat, dan keberkahan hidup diraih.ReferensiCohen, S. (2001). Social relationships and health: Berkman & Syme [1979].Hantono, D., & Pramitasari, D. (2018). Aspek Perilaku Manusia sebagai Makhluk Individu dan Sosial pada Ruang Terbvuka Publik. Nature: National Academic Journal of Architecture, 5(2), 85. https://doi.org/10.24252/nature.v5i2a1Istianah. (2016). Shilaturrahim Sebagai Upaya Menyambungkan Tali yang Terputus. Riwayah : Jurnal Studi Hadis, 2(2), 199. https://doi.org/10.21043/riwayah.v2i2.3143Made Cahyana, I., Ismirihah, A., & Rijalul Fahmi, R. M. (2021). Silaturahmi Melalui Media Sosial Pespektif Hadits (Metode Syarah Bil Ra’yi). Al-Hikmah: Jurnal Pendidikan Dan Pendidikan Agama Islam, 3(2), 213–224.Pranata, R. H., & Hartati, U. (2017). Interaksi Sosial Suku Sunda dengan Suku Jawa (Kajian Akulturasi dan Akomodasi di Desa Buko Poso, Kabupaten Mesuji). Swarnadwipa: Jurnal Kajian Sejarah, Sosial, Budaya, Dan Pembelajarannya, 1(3).Ridho, M., Pratama, M. R., Dwicahya, B., Yan Sutardi, P. P., Hutahaean, P., & Ashari, F. (2021). Pergeseran Metode Silaturahmi Di Indonesia Sebagai Dampak Pandemi COVID-19. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan, 8(1), 56–68.  
# EDUKASI
# Opini

Mengapa Psikologi Pendidikan dan Pendekatan Pembelajaran dipraktikkan sesuai kebutuhan?

Edubanua.com
26 Desember 2025
Banyak faktor memengaruhi prestasi belajar siswa, baik faktor internal (dari dalam diri) seperti motivasi, kecerdasan/ intelegensi, dan psikologis, maupun faktor eksternal (dari luar diri) seperti guru, keluarga, lingkungan sekolah, dan masyarakat).  Tulisan singkat ini membahas Guru, sebagai salah satu faktor eksternal  yang sangat penting, juga menjawab pertanyaan mengapa psikologi pendidikan dan pendekatan pembelajaran harus dikuasai dan dipraktikkan, sesuai kebutuhan.Iwan Perdana Ph.D, Dosen FKIP Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin, mengatakan perjuangan guru sangat berat. Eksistensinya  menentukan keberhasilan peningkatan SDM bangsa.  Oleh sebab itu, kualitas dan kompetensi guru harus terus ditingkatkan melalui pengembangan profesional berkelanjutan. Menurut Iwan Perdana, yang juga pendiri Yayasan Lanting Literasi Indonesia (https://www.lantingliterasiindonesia.or.id), Untuk memperkuat eksistensinya, penting bagi guru memahami psikologi pendidikan, dan memilih pendekatan pembelajaran yang sesuai kebutuhan dalam KBM. Guru akan semakin mengenali keunikan siswa, memahami cara berinteraksi sesuai usia siswa, sehingga dapat merancang strategi pembelajaran yang sesuai.  Psikologi pendidikan menunjang guru menjadi pribadi humanis: mampu menangani masalah perilaku dan emosi peserta didik. dan profesional menjalankan tanggung jawab, sejalan dengan tuntutan kompetensi pedagogik. Ketepatan guru memilih pendekatan  sesuai kebutuhan kelas akan menciptakan proses belajar mengajar yang kondusif: menyentuh kebutuhan emosional serta kognitif siswa.Psikologi Pendidikan Psikologi pendidikan adalah ilmu yang menggabungkan  ilmu jiwa (psikologi) dan ilmu pendidikan untuk mencapai tujuan yang sama (Nurjanah et al., 2023). Menurut Gunarty dan Tarigan (2023), ilmu ini berperan penting sebagai landasan ilmiah  untuk  memahami  bagaimana  anak  belajar,  berpikir,  mengembangkan  motivasi,  dan  berinteraksi  secara  sehat  dalam  konteks  pembelajaran di  kelas.   Pratiwi dan Maunah (2024) berpendapat psikologi pendidikan merupakan studi mengenai tingkah laku manusia dalam kegiatan belajar dan pembelajaran, serta penerapan konsep dan teori-teori psikologi dalam kegiatan belajar dan pendidikan. ilmu ini berhubungan erat dengan ilmu mengajar karena membahas tingkah laku manusia dalam proses pembelajaran (Alghifary & Wahyudi, 2023).Psikologi pendidikan diperlukan guru untuk menghadapi peserta didik yang unik dilihat dari segi karakteristik perilaku, kepribadian, sikap, minat, motivasi, perhatian, persepsi, daya  pikir,  inteligensi,  fantasi,  dan  berbagai  aspek  psikologis  lainnya karena setiap peserta didik berbeda dari peserta didik lainnya, seperti yang dikemukakan.Pendekatan Pembelajaran Pendekatan pembelajaran adalah cara atau strategi yang dipraktikkan guru dalam mengelola dan melaksanakan proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Ada banyak pendekatan pembelajaran, namun garis besarnya dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu: 1.      Pendekatan pembelajaran berpusat pada guru (Teacher-Centered)Dalam Pendekatan Teacher-centered, guru memikul tanggung jawab utama dalam proses pengajaran pengetahuan kepada siswa (Mascolo, 2009). Mempraktikkan teori behavioristik,: perubahan perilaku disebabkan oleh rangsangan eksternal (Skinner, 1974), Guru aktif di kelas, sedangkan siswa pasif. 2.    Pendekatan Pembelajaran berpusat pada siswa (Student-Centered)Siswa berperan aktif dalam Pendekatan Student-Centered. Mereka mendiskusikan apa yang telah dipelajari (Brophy, 1999), dan bekerja sama menyelesaikan tugas  sehingga terjadi interaksi antar siswa (Condelli & Wrigley, 2009). Pendekatan pembelajaran yang baik bersifat fleksibel: mudah beradaptasi dengan karakteristik siswa dan konteks pembelajaran, serta mendukung pengembangan keterampilan abad 21 seperti kreativitas, kolaborasi, dan berpikir kritis.Pendekatan yang menggabungkan teori pembelajaran dengan praktik kontekstual terbukti meningkatkan keterlibatan siswa, motivasi belajar, dan hasil pembelajaran secara signifikan (Handayani, et.,al,2024). Makatita dan Azwan (2021) melaporkan, motivasi memiliki kontribusi atau pengaruh terhadap prestasi belajar. Rosyidi et.,all, (2024) juga membuktikan hal yang sama, bahwa semakin tinggi  motivasi belajar maka prestasi belajar akan semakin baik. Bagaimana dengan kebahagiaan? Apakah terdapat hubungan antara motivasi belajar siswa dengan kebahagiaannya?. Adakah pengaruh motivasi dan kebahagiaan terhadap prestasi belajar siswa?Kebahagiaan  merupakan  hal  yang  unik  yang  dapat  berpengaruh  terhadap  kehidupan seseorang (Anas et al., 2022: 2). Menurut Jabal (2023), kebahagiaan dalam bidang pendidikan sangat diperlukan, terutama pada proses pembelajaran di dalam kelas. Jika pada saat memulai pembelajaran pendidik memiliki rasa senang dan bahagia maka pembelajaran yang akan disampaikan lebih menarik. Antika, Putra, dan Sari (2025) menyebutkan kebahagiaan  memiliki  kontribusi  sebesar  58%  terhadap  motivasi  belajar  matematika. Fitria (2022) melaporkan kebahagiaan mempunyai kontribusi atau hubungan sebesar 28,17% dengan hasil belajar siswa kelas X IPA 2 di Madrasah Aliyah Darul A’mal Metro Tahun Ajaran 2021/2022.Berdasarkan analisis datanya, Giyati (2019) memvalidasi bahwa ada hubungan positif antara kebahagiaan dengan motivasi belajar siswa SMP Kanisius Temanggung. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Dewantoro (2017) juga menegaskan bahwa kebahagiaan diri mempunyai peranan penting serta memiliki pengaruh yang positif terhadap prestasi belajar yang diraih oleh siswa. Begitu pun motivasi belajar terbukti memiliki pengaruh yang positif terhadap prestasi belajar yang diraih oleh siswa. ReferensiAlghifary, M. H. W., & Wahyudi, U. R. (2023). Penggunaan teori psikologi perkembangan di SDIT Mutiara Qolbu Sukatani. Studia Religia: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam, 7(1). https://doi.org/10.30651/sr.v7i1.18260Anas, M., Umar, N. F., & Harum, A. (2022). Faktor-faktor yang mempengaruhi kebahagiaan siswa. Jurkam: Jurnal Konseling Andi Matappa, 6(1), 51–64. https://journal.stkip-andi-matappa.ac.id/index.php/jurkam/article/view/2123Antika, S., Putra, Z. H., & Sari, I. K. (2025). Hubungan kebahagiaan dengan motivasi belajar matematika kelas V SDN 17 Pekanbaru. RISOMA: Jurnal Riset Sosial Humaniora dan Pendidikan, 3(2), 66–79.Brophy, J. (1999). Perspectives of classroom management: Yesterday, today, and tomorrow. Dalam H. Freiberg (Ed.), Beyond behaviorism: Changing the classroom management paradigm (hlm. 43–56). Allyn and Bacon.Condelli, L., & Wrigley, H. S. (2009). What works for adult literacy students of English as a second language? Dalam S. Reder & J. Bynner (Eds.), Tracking adult literacy numeracy skills: Findings from longitudinal research (hlm. 13-19). Routledge.Dewantoro, H. H. (2017). Pengaruh regulasi diri, kebahagiaan diri dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar siswa Madrasah Tsanawiyah Sunan Pandanaran Kabupaten Sleman Yogyakarta [Tesis magister, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta]. Repositori UIN Sunan Kalijaga. http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/27363/Giyati, A. N. (2019). Hubungan antara kebahagiaan dengan motivasi belajar siswa SMP Kanisius Temanggung [Skripsi, Universitas Katolik Soegijapranata]. Repository UNIKA Soegijapranata.https://repository.unika.ac.id/19909/Gunarty, Y., & Tarigan, B. (2023). Psikologi perkembangan: Memahami tahapan kehidupan manusia. Literacy Notes, 1–8. http://liternote.com/index.php/ln/article/view/6Handayani, R., Rarasafitri, T., Rahmayani, R., Fadillah, J., & Lubis, R. H. W. (2024). Strategi pembelajaran dan pendekatan matematika. Tematik: Jurnal Penelitian Pendidikan Dasar, 3(2). https://doi.org/10.57251/tem.v3i2.1616Ibrahim, J. T., & Mufriantie, F. (2023). Teori kebahagiaan dan realistisnya. Penerbit Bildung.Judijanto, L. (2025). Integrasi psikologi pendidikan dalam pengembangan pendidikan kontemporer: Suatu tinjauan sintesis teoretis. PESHUM: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora, 4(3). https://doi.org/10.56799/peshum.v4i3.8963 Maharani, D. K., Rosyidi, M., Sa’adah, J. Q., Latifah, U., Aj-Jaudah, S., & Wulandari, A. (2024). Pengaruh lingkungan sekolah terhadap motivasi belajar siswa kelas XII di MAN 4 Jombang. Jurnal Inovasi Penelitian Ilmu Pendidikan Indonesia, 1(3), 141–149.Makatita, S. H., & Azwan, A. (2021). Pengaruh motivasi belajar terhadap prestasi belajar siswa kelas X MIA SMA N 2 Namlea. Biosel: Biology Science and Education, 10(1), 34–40. Mascolo, M. (2009). Beyond student-centred and teacher-centred pedagogy: Teaching and learning as guided participation. Pedagogy and the Human Sciences, 1(1), 3–27.Nurjanah, A., Maulana, H., & Nurhayati, N. (2023). Psikologi pendidikan dan manfaat bagi pembelajaran: Tinjauan literatur. Cendekia Inovatif dan Berbudaya, 1(1). https://doi.org/10.59996/cendib.v1i1.172Pratiwi, K. D., & Maunah, B. (2024). Dasar psikologi pendidikan sebagai penentu arah pembelajaran. Edudikara: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 8(2).https://doi.org/10.32585/edudikara.v8i2.341Skinner, B. F. (1974). About behavioralism. Random House. Umami, F. (2022). *Hubungan antara kebahagiaan dengan hasil belajar fikih siswa kelas X IPA 2 di Madrasah Aliyah Darul A'mal Metro tahun ajaran 2021/2022* [Skripsi, Institut Agama Islam Negeri Metro]. Repository IAIN Metro. http://repository.metrouniv.ac.id/id/eprint/6604/
# EDUKASI
# Penelitian

Kampus Visioner Tekankan Pentingnya Karakter Visioner dan Patriot bagi Pendidik

Iwan Perdana
31 Maret 2026
Kemajuan bangsa memerlukan dosen yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki pandangan visioner dan jiwa patriot dalam menjalankan mandat Tridarma Perguruan Tinggi. Dunia akademik sering kali terjebak dalam menara gading intelektualitas yang dingin. Namun, di Kampus Visioner, Selasa (31/3/2026), sebuah diskursus hangat mengemuka: apakah kecerdasan saja cukup untuk memajukan Indonesia? Jawabannya tegas, tidak.Vebrianti Umar, MP.d, Wakil Ketua Bidang Akademik STKIP ISM Banjarmasin, membedah realitas ini dengan lugas. Baginya, mengarahkan orang cerdas itu perkara mudah. Tantangan sesungguhnya adalah menemukan mereka yang benar-benar mau 'berdarah-darah' demi kemajuan negara melalui pengabdian yang tulus. "Negara tidak hanya membutuhkan orang cerdas, tetapi yang benar-benar mau berkontribusi dengan kemampuan berpikir jauh ke depan dan jiwa yang mencintai Indonesia," ungkapnya.Salah satu bukti nyata yang ia soroti adalah langkah Iwan Perdana Ph.D, salah seorang pendiri kampus STKIP ISM Banjarmasin, yang melibatkan para dosen Bahasa Inggris kampus Visioner terjun langsung ke masyarakat, bekerja sama sama dengan Lanting Literasi Indonesia. Di sana, mereka bukan sekadar mengajar tata bahasa, melainkan sedang menanam benih kualitas pada generasi masa depan. Inilah bentuk patriotisme yang membumi.Senada dengan itu, Armin Fani, M.Pd selaku Kaprodi PBI menekankan bahwa menjadi visioner adalah syarat mutlak agar dosen tidak tergilas zaman. Pendidik harus mampu menjawab tantangan perubahan dengan metode inovatif yang tetap berpijak pada kearifan lokal. Kejujuran akademik tetap menjadi kompas utama di tengah arus disrupsi.Sementara itu, Supian Sauri, M.Pd dari prodi PGSD melihat peran dosen sebagai arsitek peradaban. Dosen tidak boleh hanya menjadi 'mesin' pengajar di kelas. Menurutnya, melalui integrasi pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat, dosen adalah kunci untuk mencerdaskan sekaligus membentuk karakter mahasiswa.Hal ini diperkuat oleh Rizki Nugerahani Ilise, M.Pd, Dosen PAUD yang melihat profesi dosen sebagai sebuah bentuk pengabdian, bukan sekadar pekerjaan administratif. Dengan visi yang tajam, seorang akademisi mampu melihat peluang di masa depan untuk membawa bangsanya melompat lebih jauh. Sebagai penutup, Yuliana Nurhayati, M.Pd ,Wakil Ketua Bidang Kemahasiswaan dan kerja sama menegaskan bahwa STKIP ISM Banjarmasin terus mendorong pembinaan karakter melalui kegiatan konkret seperti 'Sobat Mengajar' dan pelestarian seni menari. Tujuannya melahirkan lembaga yang tidak hanya unggul secara global, tetapi memiliki akar nasionalisme yang kuat demi kemajuan Indonesia.
# EDUKASI
# Opini

Refleksi Spiritual dan Kebersamaan Sivitas Akademika Kampus Visioner di Penghujung Ramadan 2026

Iwan Perdana
19 Maret 2026
Ramadan kali ini terasa berbeda, setidaknya bagi Novi Suma Setyawati, Ketua LPPM STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, harus menerima kenyataan pahit tentang sebuah 'kursi kosong'. Sosok Ayah yang biasanya menjadi pilar di meja makan saat berbuka, kini hanya tinggal kenangan. "Ramadan tahun ini menghadirkan duka mendalam atas ketidakhadiran Ayah," tuturnya lirih. Namun, di balik awan mendung itu, Novi menemukan pelangi kecil berupa pelajaran tentang keikhlasan yang lebih luas—sebuah makna kesabaran yang ia bawa hingga ke meja kerja.Senada dengan Novi, Rizki Nugerahani, Ketua LPM, juga merasakan ruang hampa yang sama. Kerinduannya pada masakan dan perhatian Ibu adalah luka yang masih basah. Baginya, Ramadan bukan lagi soal kemeriahan pasar wadai, melainkan sebuah perjalanan ruhaniah untuk kembali 'pulang' kepada Allah di sisa sepuluh malam terakhir. Ia ingin menjadikan setiap sujudnya sebagai jembatan rindu kepada sang Ibu yang telah mendahului.Duka Novi dan Rizki  dirasakan pula oleh Nurul, " Ramadan tahun ini adalah ramadan tahun ke-4 tanpa kedua orang tua. Suasana buka puasa bersama terasa begitu berbeda", ucapnya sedih.  Di sudut lain kampus, Yuliana Nurhayati, Wakil Ketua Bidang Kemahasiswaan dan kerja sama, memotret Ramadan 2026 sebagai momentum 'pemangkas jarak'. Agenda buka puasa bersama di kampus bukan sekadar seremoni. "Semoga momentum kebersamaan dosen, tendik, dan mahasiswa ini menjadi momentum mempererat silaturahmi," harap Yuliana. Ia bahkan bermimpi, tahun depan pintu kampus akan terbuka lebih lebar untuk masyarakat sekitar dan kaum dhuafa, mengubah kesalehan individu menjadi kesalehan sosial. Vebrianti Umar, Wakil Ketua Bidang Akademik memahami puasa bukan sekadar urusan menahan lapar dan dahaga. Ia melihatnya sebagai laboratorium karakter. “Di Ramadan ini, saya belajar untuk menjadi pribadi yang lebih sabar, tenang, ikhlas dalam menghadapi berbagai situasi, dan berlatih mewujudkan nilai kemanusiaan dalam bentuk tindakan nyata, bukan sekadar teori saja demi kebaikan Bersama”, tambahnya.Waktu memang pencuri yang lihai. Ramadan terasa cepat sekali berlalu. Armin Fan, Halima Chairia, Zulfaris, Maulidha, Supian Sauri, Norhayati dan Tiara merasakannya. Kenyataan ini menumbuhkan rasa haru yang mengganjal di hati mereka saat menyadari banyak target ibadah yang belum tuntas. Muncul ketakutan yang menimbulkan sebuah pertanyaan, “akankah berjumpa Ramadan tahun berikutnya?“. "Semoga hasil Ramadan ini menjadikan saya konsisten dan khusyuk dalam beribadah, membaca al qur'an, dan bersedekah di luar Ramadan,” ucap Norhayati menguatkan hati.  "Ulun sangat bersyukur ramadan tahun menjadikan saya pribadi yang lebih baik dari sebelumnya", ucap Junaidi. Tapi juga sedih karena suasana ibadah, ketenangan hati dan kebersamaan yang indah akan segera berlalu, tegasnya.Muhammad Agus Safrian mengatakan Ramadan mengajarkannya menjalani hidup tanpa tergesa, belajar menerima, dan bersyukur.  Sementara Novi Nurdian, Kaprodi PGSD, mengakui bahwa menjaga ritme antara produktivitas kerja dan kekhusyukan ibadah bukanlah perkara mudah. Ia merasa tertantang untuk tetap optimal di kantor tanpa kehilangan esensi spiritual meski Ramadan telah berlalu. Serupa dengan Muhammad Juanda yang pandangannya tentang hidup dan ibadah berubah. “Ramadan menjadi bekal berharga untuk melanjutkan pengabdian di dunia pendidikan setelah bulan suci berlalu,” ujarnya. "InsyaAllah, akan semakin menjadi pribadi yang baik, dan ssmakin profesional menjalankan tugas", jawab Tati Akhbariyah melalui  pesan WhatsApp.Pada akhirnya, Ramadan 2026 di Kampus Visioner adalah sebuah mosaik; ada air mata kerinduan, ada tawa di meja berbuka, dan ada niat untuk menjadi manusia yang lebih peka terhadap sesama, juga meningkatkan  profesionalitas kerja.  
# EDUKASI
# Opini

Guru Bimbingan Konseling : Di Tangan Mereka, Gawang Sekolah Bertumpu

Iwan Perdana
13 Maret 2026
Yuliana Nurhayati, M.Pd — Wakil Ketua Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama STKIP Islam Sabilal MUhtadin Banjarmasin — menegaskan layanan Bimbingan dan konseling di sekolah sangat diperlukan. “Bimbingan dan konseling (BK) di sekolah sangat penting untuk mengoptimalkan perkembangan pribadi, sosial, belajar, dan karir siswa. Selain membantu menangani pelanggaran aturan dan masalah etika siswa, layanan BK juga meringankan tugas guru lain serta menjadi tempat konsultasi yang aman bagi siswa karena dijamin kerahasiaannya oleh kode etik profesi”, jelasnya (Jumat, 13/3/2026).Mengaminkan pernyataan tersebut, Tati Akhbariyyah, S.S., Gr., S.Pd., M.Pd. (Kandidat Doktor), Dosen pengampu mata kuliah Pengantar Bimbingan Konseling SD STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin  menyatakan bahwa peran guru BK tidak hanya membantu menyelesaikan masalah, tetapi juga sebagai pengembang potensi, bakat, dan perencana karir siswa.Pendapat 2 dosen kampus Visioner tersebut menginspirasi saya membuat tulisan singkat tentang besarnya peran Guru BK di sekolah dengan menganalogikannya dengan Peran Kiper dalam sebuah tim sepak bola. Saya teringat Bang Amat, Kiper Berkah FC dan Bersaudara FC. Suaranya lantang mengingatkan pergerakan rekan setim, sekaligus memperingatkan Kawan agar tak lengah mengawasi pemain lawan. Meski usia terus bertambah, di lapangan bola, Bang Amat tetap sosok yang saya kenal 40 tahun silam: energik, penuh semangat.Sepanjang ingatan saya, dulu Mat Eloy—panggilan akrab Bang Amat—kerap mengisi posisi gelandang bertahan, kadang turun sebagai bek, namun paling sering berdiri kokoh di bawah mistar sebagai kiper. Kini, di usianya yang tak lagi muda, ia masih setia memainkan peran serupa: menjaga, mengatur, dan menjadi denyut yang menghidupkan permainan.Melihat Kawan masa kecil ini, saya  teringat Jorge Campos, kiper ikonik Meksiko. Pemain bertinggi badan 168 cm yang gemar mengenakan jersey warna warni. Refleksnya cepat dan memiliki kemampuan bermain sebagai striker. Tugas kiper tidaklah mudah. Sebagai pemain terakhir yang berada di barisan belakang, dengan keistimewaan diizinkan menggunakan tangan dan kaki tugasnya memastikan tidak terjadi gol dengan cara menangkap atau menepis yang ditendang pemain lawan. Kiper juga berperan mengatur pertahanan, mendistribusikan bola, dan membangun serangan dari belakang.  Meskipun kemenangan tim merupakan buah kerja sama seluruh pemain, posisi kiper kerap menjelma sebagai pahlawan tak terlihat (unsung hero) yang perannya krusial bagi keberhasilan di lapangan. Di sekolah, saya melihat salah satu guru bidang studi yang memainkan peran ini adalah guru bimbingan konseling. Saya menganalogikan Kiper dalam sebuah tim sepak bola untuk fungsi Guru Bimbingan dan Konseling (BK) di sekolah dengan mencari persamaan strategis dan manajerial mereka sebagai berikut:1.        Pertahanan terakhirKiper adalah harapan terakhir tim mencegah bola masuk ke gawang ketika seluruh pemain belakang berhasil dilewati oleh "serangan" lawan. Guru BK menjadi benteng terakhir untuk "menyelamatkan" siswa yang tidak bisa diatasi guru mata Pelajaran/ wali kelas karena dianggap gagal secara akademik, emosional, atau sosial karena masalah pribadi yang dalam, konflik berat, atau krisis.2.        Analisis MasalahTidak hanya menangkap bola, seorang kiper juga mampu membaca permainan. Ia tahu kemana bola akan diarahkan, memahami pola serangan lawan, dan memberi instruksi ke para pemain bertahan untuk menutup celah. Guru BK dituntut jeli membaca situasi dan gejala masalah: mengamati perubahan perilaku siswa, memahami dinamika kelas, dan menganalisis akar masalah (apakah itu masalah keluarga, pertemanan, atau belajar). Dari "bacaan" tersebut, Guru BK memberikan saran strategis kepada guru dan orang tua tentang cara terbaik mendampingi siswa/i.3.        Transisi dan Tindak Lanjut Memulai SeranganSetelah menangkap bola, kiper tidak diam. Ia adalah inisiator pertama serangan melalui lemparan atau tendangan yang akurat memberikan bola agar bisa langsung menciptakan peluang bagi timnya untuk mencetak gol. Setelah "menangkap" masalah siswa, Guru BK memulai "serangan balik" positif: memberikan arahan, motivasi, dan rencana tindak lanjut. Mereka menghubungkan siswa dengan sumber daya yang dibutuhkan: bimbingan belajar, konseling lebih lanjut, atau kegiatan positif; agar siswa bisa kembali "menyerang" meraih prestasi dan masa depannya.4.        Memiliki Perspektif yang Lebih Luas Berada di belakang memberikan keuntungan bagi kiper melihat lapangan dari berbagai sudut pandang: kekompakan barisan belakang, lubang di lini tengah, dan posisi pemain lawan yang mengancam. Guru BK melihat gambaran besar dari perkembangan siswa: Interaksi siswa di semua mata Pelajaran, dengan semua guru, dan dengan teman-temannya. Perspektif holistik ini memungkinkan Guru BK memberikan bimbingan yang tidak parsial, tetapi menyeluruh untuk kepentingan jangka panjang siswa.5.        Ketenangan di Bawah Tekanan (Manajemen Krisis)Kiper dituntut untuk tetap tenang, fokus, dan tidak panik, terlebih lagi pada saat injury time dan tim lawan terus menekan. Guru BK sering berhadapan dengan situasi krisis: siswa bermasalah, konflik antar siswa, atau orang tua yang marah. Di sinilah fungsi mereka sebagai "kiper" diuji. Guru BK harus menjadi pribadi yang paling tenang, bisa meredam emosi, dan berpikir jernih untuk mencari solusi terbaik. 6.        Peralatan Khusus dan Area Kerja yang Berbeda (Profesionalisme)Kiper adalah satu-satunya pemain yang boleh menggunakan tangan dan memiliki seragam yang berbeda. Area kerjanya adalah kotak penalti. Ini menunjukkan spesialisasi. Guru BK memiliki keahlian khusus yang tidak dimiliki guru biasa: konseling, psikologi pendidikan. Mereka juga memiliki kode etik profesional yang membedakannya dari profesi guru lainnya, seperti halnya kiper yang punya aturan main berbeda di dalam kotak penalti. Ruang BK adalah area kerja Guru BK yang aman dan nyaman, berbeda dari ruang kelas pada umumnya. Dalam manajemen sekolah, Guru BK bukan sebagai "polisi sekolah" atau "tukang catat poin pelanggaran", melainkan sebagai kiper andalan. Mereka adalah spesialis pertahanan mental dan emosional siswa, yang membaca arah masalah, menjadi benteng terakhir, sekaligus memulai transisi siswa menuju kesuksesan. Tanpa kiper yang tangguh, tim sepak bola sekelas apapun bisa kebobolan. Tanpa Guru BK yang profesional, sekolah semaju apapun bisa kehilangan siswanya karena masalah yang tidak tertangani.
# EDUKASI
# Opini

Delegasi FKIP UNISKA MAB Laksanakan Program Pertukaran Dosen Internasional di Filipina

Iwan Perdana
2 Maret 2026
"Walau tidak lama, Program pertukaran dosen internasional sangat berkesan dan akan menjadi insight untuk meningkatkan kualitas perkuliahan dan kemampuan teaching para dosen, selain bidang lain yang sudah direncanakan." Begitu penuturan lugas Dr. Hengki, S.S., M.Pd, Dekan FKIP Universitas Islam Kalimantan (UNISKA) Muhammad Arsyad Al Banjari Banjarmasin, Selasa (2/3/2026), tentang semangat timnya yang baru saja menuntaskan misi edukasi di University of Mindanao Tagum College (UMTC), Filipina. Sebuah langkah berani, penuh asa, yang mengukuhkan komitmen UNISKA MAB untuk tidak sekadar berkutat di dalam negeri, namun turut merajut benang-benang persahabatan intelektual di kancah global.Sebuah tim solid beranggotakan Ratna, S.Pd., M.Pd., Fitra Ramadani, S.Pd., M.Pd., Fitria Rizkiana, S.Pd., M.Pd., Dr. Hj. Ani Wardah, S.Pd., M.Pd., dan Ari Tri Fitrianto, S.Pd., M.Pd., menemani langkah Dr. Hengki. Mereka bukan sekadar delegasi. Mereka adalah duta ilmu, pembawa misi Tridarma Perguruan Tinggi ke negeri tetangga.Program pertukaran dosen internasional ini berlangsung dari 8 hingga 24 Februari 2026. Agendanya padat, mulai dari sesi lecturing yang memperkaya wawasan dosen, penelitian kolaboratif lintas negara, pengabdian kepada masyarakat yang menyentuh langsung, hingga benchmarking kelembagaan yang krusial. Harapannya, posisi UNISKA MAB dalam jejaring pendidikan global makin kokoh, serta menjadi langkah strategis mendongkrak kualitas akademik, riset, dan pengabdian masyarakat berbasis internasional.Pemilihan UMTC, sebuah universitas swasta tertua di Filipina Selatan yang berdiri sejak 1946, bukanlah tanpa alasan. Ini sejatinya kunjungan balasan. Sebelumnya, beberapa akademisi dari kampus tersebut lebih dulu 'merasakan' atmosfer akademik di UNISKA MAB Banjarmasin.Prof. Dr. H. Mohammad Zainul, S.E., M.M, Rektor UNISKA MAB, dalam acara pelepasan tim pada Jumat (6/2/2026), telah menitipkan pesan krusial: "Bawa pulang pengalaman berharga, rajut jejaring, dan pastikan ada luaran konkret." Pesan itu menjadi cambuk penyemangat bagi para dosen FKIP UNISKA untuk mengukir capaian signifikan, baik untuk akreditasi kampus maupun penguatan tridarma perguruan tinggi.Kolaborasi lintas negara ini menghasilkan sejumlah program pengabdian masyarakat yang menyentuh langsung denyut nadi masyarakat. Di Barangay La Filipina, Tagum City, misalnya, tim yang dipimpin Dr. Hengki bersama kolega dari UMTC, Dr. Armand James Vallejo, Kenneth Garcia Telin, dan Dr. Imelda Viloria Isaal, menyelami “Parental Perceptions and Family Awareness of the Role of Higher Education in Shaping Childrens" Future Success'. Mereka berdiskusi, berbagi pandangan, membuka cakrawala baru bagi para orang tua di sana. Sebuah upaya edukasi yang fundamental.Dr. Ani Wardah, S.Pd., M.Pd., bersama Inlyn Jiezl Cerbo-Javier, MPsy, RPsy, LPT, CHRA, CFP, serta Sri Ayatina, S.Pd., M.Pd., dan Rudi Haryadi, S.Pd., M.Pd., menggelar sesi 'Group Counseling: Reducing Academic Procrastination' di Kampus UMTC. Sebuah solusi nyata untuk isu yang kerap menghantui dunia akademik.Di Magugpo South, Tagum City, sebuah inovasi juga lahir. Tim Fitria Rizkiana, S.Pd., M.Pd., bersama Jemer Alimbon, MST, Ariel V. Ando MEng-CpE, NSTP, Emilda Prasiska, S.Pd., M.Pd., Herlina Apriani, S.Pd., M.Pd., Okviyoandra Akhyar, Ph.D., Antoni Pardede, Ph.D., dan RR Ariessanty Alicia Kusuma Wardhani, M.Si., menginisiasi "Utilization of Watermelon Rind as Food Product". Mereka mengubah limbah kulit semangka menjadi produk pangan bernilai, mengajarkan masyarakat tentang ekonomi kreatif berbasis lokal. Ini bukti nyata pengabdian masyarakat internasional yang berkesan.Di Jose Tuason Jr. Memorial National High School, Madaum, Tagum City, Davao del Norte, Filipina, sebuah diskusi hangat mewarnai hari. Tim yang terdiri dari Ari Tri Fitrianto, S.Pd., M.Pd., Dr. Saramie Belleza, Muhammad Habibie, S.Pd., M.Pd., dan Andi Kasanrawali, S.Pd., M.Pd., mengenalkan "Galing in Motion: a Collaborative Approach to Sport Success." Mereka tak hanya berbicara tentang teori, tapi juga berbagi metode, merajut semangat kolaborasi, dan membuka wawasan baru tentang bagaimana meraih prestasi olahraga bersama. Sebuah inisiatif yang benar-benar menggugah semangat sportivitas di sana.     
# EDUKASI
# Pengabdian

Merawat Etos Akademik: Wajib Baca 30 Menit di Kampus Visioner

Barendz Umar
19 Februari 2026
Pada hakikatnya, seorang dosen adalah pembelajar sejati, yang artinya proses menuntut ilmu tidak akan pernah selesai. Namun, idealisme ini sering kali diuji oleh rutinitas pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi—pengajaran, penelitian, dan pengabdian—yang diikuti beban administratif dan teknis. Di tengah dinamika itulah, saya merenungkan kembali makna pembelajaran melalui sebuah pengalaman reflektif yang unik sebagai Dosen di STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, kampus visioner.Salah seorang pendiri STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, Bapak Iwan Perdana, Ph.D., menetapkan sebuah aturan yang sederhana namun sarat makna: seluruh dosen harus berkumpul di ruang baca dan membaca selama 30 menit sebelum pulang. Peraturan ini bukan sekadar formalitas atau simbolik, melainkan sebuah upaya sistematis untuk membangun kontinuitas budaya akademik. Beliau selalu menekankan kepada kami bahwa seorang dosen wajib meng-upgrade pengetahuannya setiap hari, dan salah satu sumber utama pembaruan itu adalah membaca.Kebijakan ini mengandung pesan epistemologis bahwa pengetahuan harus fleksibel. Seorang dosen tidak cukup hanya mengandalkan ilmu yang diperoleh saat studi sarjana atau pascasarjana. Ilmu berkembang, teori berubah, pendekatan diperbarui. Tanpa komitmen untuk membaca, dosen berisiko menjadi pengulang materi lama yang kehilangan relevansi dengan perkembangan zaman. Melalui kebiasaan membaca yang terstruktur setiap hari, proses “upgrade” intelektual menjadi bagian dari rutinitas profesional.Yang menarik, buku-buku yang tersedia di ruang baca sangat bervariasi. Ada bacaan ringan yang bersifat populer dan reflektif, ada pula buku-buku akademik yang berat dan teoritis. Seluruh koleksi tersebut disediakan langsung oleh Bapak Iwan Perdana, Ph.D., sebagai bentuk komitmen nyata terhadap pengembangan kualitas dosen. Variasi bacaan ini memungkinkan setiap dosen bisa memilih bahan sesuai kebutuhan dan minat, sekaligus membuka peluang eksplorasi lintas disiplin ilmu. Dalam praktiknya, saya sering menemukan gagasan baru justru dari bacaan yang awalnya berada di luar bidang utama saya.Menurut beliau, membaca merupakan salah satu stimulasi terbaik bagi fungsi otak. Aktivitas ini melibatkan proses memahami, menginterpretasi, mengkritisi, serta menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan sebelumnya. Proses tersebut memperkuat kemampuan analisis dan mempertajam cara berpikir. Kebijakan ini tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga membentuk ekosistem akademik. Ketika seluruh dosen berkumpul di ruang baca pada waktu yang sama, tercipta suasana intelektual hening namun produktif. Kebiasaan kolektif ini secara perlahan membangun identitas institusi sebagai kampus yang menempatkan literasi sebagai fondasi utama.Kualitas seorang dosen tidak hanya diukur dari gelar akademik, tetapi dari komitmen untuk terus mengembangkan diri. Wajib baca 30 menit sebelum pulang mungkin terlihat sederhana dalam hitungan waktu, tetapi besar dalam dampak jangka panjangnya. Kebijakan yang digagas pendiri kampus, Bapak Iwan Perdana, Ph.D, menunjukkan kuatnya komitmen Beliau merawat etos akademik dosen STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin.  
# EDUKASI
# Opini

My Ph.D journey at FPE UPSI

Iwan Perdana
17 Februari 2026
Kabar gembira saya terima pada 30 Juli 2021 dari UPSI: Offer letter for admission to the postgraduate programme for semester 1 session 2021/2022. Alhamdulillah, keinginan studi Ph,D  jurusan educational management di negeri Jiran, Malaysia, terwujud. Sungguh rejeki tak terduga, keterbatasan finansial tak menjadi halangan, ada dermawan, tidak mau disebutkan namanya,  bersedia membiayai Pendidikan S3. Sempat bingung pada awalnya terkait informasi pengurusan visa, Alhamdulillah, saya ditolong oleh Ibu Noraini Abdul Rahman, pelajar Malaysia yang saya kenal sewaktu sesi perkenalan mahasiswa baru UPSI secara online dan kakak beliau: Bapak Ridzuan Rahman. Kebingungan setibanya di KLIA Malaysia hilang karena regulasi UPSI sangat membantu mahasiswa internasional: Kampus menjemput mahasiswa internasional untuk kedatangan pertama kali.Setibanya di Tanjung Malim pada 18 Desember 2021, Allah SWT kembali mempermudah jalan menutut ilmu di UPSI.  Adalah Alfian Bakti, pelajar master asal Lombok yang menyambut kedatangan di Cafe Cik Anis, yang di kemudian hari menjadi warung langganan. Cik Anis, pemilik kafe, berasal dari Riau. Satu-satunya warung yang buka di pagi hari.Selanjutnya, Bang Alfian mengajak saya ke Taman Harmoni. Dikenalkanlah saya kepada Bang Indra, Wajedi, dan Riza. Mahasiswa magister asal NTB. Bang Alfian mengantarkan periksa kesehatan ke dokter di Pekan untuk kelengkapan administrasi mahasiswa program Ph.D . Dan ke kampus UPSI untuk pertama kalinya.Pada tahun pertama, setelah beberapa hari tinggal di Taman Bahtera bersama Syahwil, pelajar master asal Aceh, saya pindah ke  flat di Taman Bahtera. Tinggal bersama Bang Indra, Rizal dan Wajedi hingga menerima visa pelajar. Saya juga beruntung diajak Pak Ar Razzy, pelajar Ph.D. asal Aceh, mengenal Kampus Sultan Abdul Jalil Shah (KSAJS), kampus  UPSI lama.Pada tahun 2022, saya kembali ke Taman Bahtera. Di kamar yang sama, TB. 185, tinggal satu flat dengan kawan-kawan asal Malaysia yang friendly. Paling berkesan berdiskusi dengan Bang Alif yang sangat terampil bermain musik. Ada juga Siong Kiet, yang selalu baca buku.Tahun 2023, pindah ke Blok 1, masih bersama mahasiswa degree asal Malaysia. Seru berdiskusi dengan mereka hampir setiap malam selama 1 jam, sebelum tenggelam dalam kesibukan masing-masing. Baru pada tahun 2024, saya berjumpa dengan mahasiswa Ph.D. asal Indonesia: Pak Dody dari Riau, Bang Gery dari Padang, Bang Malesa dari Medan, dan Mas Tiyo dari Malang.Saya mulai mengerjakan tesis setelah menyelesaikan perkuliahan Methodology Research yang diampu oleh Dr. Fanny Kho Chee Yuet. Alhamdulillah, saya dibimbing  Dr. Rosnah binti Ishak, dan PM Dr. Mahaliza binti Mansor. Keduanya sangat ramah dan komunikatif. Dr. Rosnah sebagai Main Supervisor memberikan arahan yang jelas, respons cepat, pengetahuan tentang riset, dan rekomendasi referensi yang relevan dengan topik penelitian. PM Mahaliza sangat ramah. Diskusi dengan beliau memperkaya wawasan saya tentang pendidikan.Selama di Malaysia, saya pernah ke Bukit Bintang, Batu Caves dan Twin Towers sendirian. Pernah juga bersama kawan-kawan asal Pulau Sumatra: Pak Dody, Mas Tiyo, Bang Gery dan Bang Malesa ke Kuala Lumpur, membeli oleh-oleh di Pasar Seni, dan menikmati musik di Bukit Bintang. Menikmati masakan ala Malaysia, asyiknya naik bus gratis ke kampus, kerjakan penelitian di Perpustakaan Tuanku Bainun dan perpustakaan digital, bincang dengan mahasiswa UPSI asal China di antrean pengurusan VISA di kampus, adalah momen yang tidak akan pernah saya lupakan.Pengalaman studi di UPSI Malaysia yang menyenangkan semakin bertambah dengan kegembiraan menerima Penghargaan/Anugerah Tan Sri Alimuddin pada tahun 2025, sehari sebelum Konvokesyen pada 11 November 2025. Semoga pengetahuan yang saya pelajari bermanfaat bagi kemanusiaan, bangsa dan pengembangan ilmu pengetahuan. Saya juga berharap dapat menjadi salah satu alumni yang membanggakan dan membesarkan UPSI Malaysia, Kampus Anak Kandung Suluh Budiman.Pendek kata, studi doktoral saya di FPE UPSI  Malaysia telah memberikan landasan yang berharga untuk memperdalam pengetahuan dan wawasan saya. Lingkungan akademik yang dinamis, hubungan yang saling memotivasi dan menginspirasi dengan rekan kerja, dan bimbingan dari supervisor saya secara kolektif telah memperkuat visi saya untuk memajukan dunia pendidikan.
# EDUKASI
# Opini

Naluri Striker: Kunci Kepemimpinan Pendidikan

Iwan Perdana
16 Februari 2026
Ada banyak striker handal di Berkah FC, antara lain Taher, Adhi, Alam, Midun, Memed dan H. Zahrani. Mereka jeli menempatkan posisi. Penyerang lainnya yang tak kalah tajam menyarangkan bola ke jala lawan dengan kecepatan berlari luar biasa adalah Kadir, Johan, Sajali, Rudi Tagan, dan Idham, . Barisan depan klub yang dikomandani Pak Rudiansyah, yang lebih akrab dipanggil Capt. Rudi, ini menakutkan tim lawan. Terbukti, Berkah FC selalu meraih trofi juara di kompetisi yang diselenggarakan Dispora Kalimantan Selatan, dan kejuaraan lainnya.Capt RudiDi tim sepak bola, posisi striker menjadi garda terdepan yang bertugas mencetak gol, menekan bek lawan, dan memaksimalkan peluang di kotak penalti. Mereka menjadi ujung tombak serangan, sering kali bertindak sebagai target man dan membuka ruang bagi rekan setim mencetak gol. Di era 1995–2000-an, ada banyak striker top dunia yang terkenal karena kecepatannya berlari dan ketajamannya menyarangkan bola ke gawang lawan. Salah satunya  adalah Thierry Henry, penyerang Arsenal. Pemain asal Perancis yang membela The Gunners tersebut dikenang sebagai salah satu penyerang terhebat yang sukses menghantarkan Arsenal juara Premier League, dan membawa Barcelona meraih juara Liga Champions.Selain kecepatan, teknik menggiring bola yang sangat baik, dan penyelesaian akhir yang mematikan. Henry dikenal sebagai striker yang tahu persis kapan harus “menembakkan” atau mengumpan dalam hitungan detik. Ia berani mengubah gaya permainannya, sering bergerak dari sayap ke tengah, menunjukkan fleksibilitas dalam mengambil keputusan posisi.Berkah FCStriker hebat lainnya di era 2000-an yang saya tahu adalah Didier Drogba. Pemain andalan Chelsea asal Pantai Gading berjuluk The King of Stamford Bridge ini dikenal memiliki kekuatan fisik luar biasa, kecerdasan taktis, dan kontrol bola yang baik. Keistimewaan Drogba lainnya adalah sering mencetak gol di momen krusial, seperti gol penyeimbang dan penentu kemenangan adu penalti di final Liga Champions 2012, serta rekor mencetak gol di empat final Piala FA.Berkah FCSeperti striker yang dituntut berpikir cepat untuk memutuskan mengoper ke kawan atau “menembakkan” bola langsung ke gawang lawan, dan kecerdasan mencari ruang untuk mencetak gol, seorang pemimpin organisasi, termasuk pimpinan lembaga pendidikan yang kredibel, juga dituntut untuk cepat membuat keputusan strategis melalui perhitungan matang dan cerdas dalam melihat peluang memajukan sekolah.Menetapkan Keputusan Strategis Melalui Perhitungan Matang Dalam hitungan detik, seorang striker menganalisis posisinya. Ia menghitung peluang  terciptanya gol kemenangan: dioperkan ke kawan atau menembakkan bola langsung ke gawang lawan. Jika striker egois, memaksakan diri mencetak gol padahal peluangnya kecil, maka kerja keras tim membangun serangan akan menjadi sia-sia. Gol tidak tercipta.Sebagai ujung tombak kebijakan, pemimpin lembaga pendidikan harus cermat membaca situasi eksternal: regulasi pemerintah terbaru, mengetahui kebutuhan orang tua, masyarakat dan dunia kerja, juga tidak kalah pentingnya mempelajari strategi kompetitor: sekolah atau kampus lain. Seperti striker yang dihadapkan pada dilema mengoper atau menembakkan bola, pimpinan harus cerdas memilih program unggulan yang tepat (misalnya: fokus pada riset internasional, pengabdian kepada masyarakat atau penguatan karakter dosen dan mahasiswa) sesuai dengan kondisi dan kebutuhan pasar. Setiap kebijakan harus berujung pada peningkatan mutu output pendidikan: lulusan berkualitas, dan prestasi lembaga.Cerdas Melihat Peluang Memajukan LembagaKing Henry tidak terpaku pada satu posisi. Ia cerdas mengubah gaya permainannya, cermat membaca situasi, dan memaksimalkan kemampuannya dalam mencetak gol. Fleksibilitas taktis ini membuatnya semakin mematikan.Seorang pemimpin lembaga pendidikan juga harus demikian. Ia harus kreatif dan berinovasi untuk memperbesar peluang agar lembaga yang dipimpinnya maju. Dia tidak boleh terpaku pada satu metode atau layanan yang itu-itu saja, tetapi harus cerdas membaca kebutuhan pasar dan perubahan zaman. Berkah FCPemimpin lembaga pendidikan berperan vital dalam memajukan lembaga yang dipimpinnya. Ia bukan sekadar figur seremonial yang duduk di belakang meja, melainkan ujung tombak yang berdiri paling depan, memahami kondisi lapangan, siap menerima tekanan, menanggung ekspektasi, dan mengubah setiap peluang menjadi kemajuan nyata.Idealnya seorang pemimpin lembaga pendidikan memiliki naluri striker:  tahu kapan harus maju, kapan harus menembakan bola, kapan harus mengoper, dan kapan harus menuju ruang ganti demi kemenangan tim. 
# EDUKASI
# Opini

Dari Zona 14 ke Zona Kurikulum: Playmaker Tidak Hanya di Lapangan Hijau. Mereka Juga Ada di Sekolah

Iwan Perdana
2 Februari 2026
Kebanyakan laki-laki suka bermain sepak bola, saya salah satunya. Sejak kecil, saya sudah menggandrungi permainan yang sangat populer di seluruh dunia ini. Hampir saban hari saya bersentuhan dengan bola, baik di sekolah, tanah lapang di kampung, dan lapangan sepak bola kayu tangi di bawah arahan Pak Udi (Alm), dan Mas Yanto. Saya tak lagi bermain bola selepas tahun 2000. Memori indah yang tersimpan hingga kini adalah mencetak gol di final liga Fakultas Ekonomi ULM Banjarmasin yang menghantarkan tim Angkatan 95 meraih juara di kompetisi terakhirnya.Api semangat mengejar bola kembali menyala beberapa tahun silam setelah Bang Amat, sohib masa kecil, mengenalkan saya kepada Pak Rudiansyah, pimpinan Berkah FC. Walau sebenarnya fisik tak lagi prima, dengan niat menjalin silaturahmi dan berolah raga, saya ikut bermain di lapangan kayu tangi setiap senin dan kamis jika tidak ada kesibukan di kampus. Di tim yang sangat solid inilah saya berkawan dengan pemain-pemain hebat di lapangan, dan sangat ramah di luar lapangan. Apa yang saya paparkan dalam tulisan singkat ini mungkin tidak begitu tepat, namun semoga tetap menarik untuk ditelaah. Saya mencoba mengaitkan  sepak bola dengan manajemen pendidikan, tepatnya ilmu terapan (applied science) yang berada di bawah naungan ilmu pendidikan. Disiplin ilmu yang saya pelajari. Saya menganalogikan salah satu posisi di tim sepak bola, yaitu Playmaker (Attacking Midfielder) dengan salah satu struktur strategis di manajemen sekolah, yaitu  Koordinator Pengembangan Kurikulum & Inovasi Pembelajaran.Dalam sebuah tim sepak bola, Playmaker bertindak sebagai otak serangan yang beroperasi di antara lini tengah dan depan. Seorang playmaker tak selalu mencetak gol, tetapi dialah otak di balik setiap peluang yang tercipta. Di Berkah FC, ada empat pemain berpengalaman yang memainkan posisi ini, yaitu Kapten Rudi, Taufik, Budi Riva, dan Izul. Mereka beroperasi di "Zona 14", area krusial di depan kotak penalti lawan. Dengan visi bermain yang kuat, ditopang  teknik, dan kemampuan dribbling yang sangat baik, keempat pemain andalan tersebut bertugas mengatur tempo, menciptakan peluang gol melalui umpan terobosan jitu, serta mendikte jalannya permainan. Di dunia pendidikan, di "lapangan" yang bernama sekolah, peran serupa playmaker dimainkan oleh seorang Koordinator Pengembangan Kurikulum dan Inovasi Pembelajaran. Umumnya jabatan ini dipercayakan kepada wakil kepala sekolah bidang kurikulum. Mereka adalah playmaker pendidikan, arsitek tak terlihat yang merancang skenario agar setiap "gol" pembelajaran—yaitu pemahaman mendalam dan keterlibatan siswa—tercapai.Jika playmaker sepak bola menguasai “zona 14” (area antara lini tengah dan penyerang), playmaker pendidikan beroperasi di “zona transisi” yang kritis. Mereka harus mampu menjembatani visi strategis kepala sekolah dan realitas harian di kelas. Tugas mereka bukan mengeksekusi, tetapi membuat eksekusi menjadi mungkin terjadi dan efektif. Umpan terukur (assist) seorang playmaker sepak bola, dalam pendidikan, berwujud desain pembelajaran yang brilian: sebuah skenario Project-Based Learning yang kontekstual, rubrik penilaian autentik, atau modul digital interaktif yang mereka siapkan untuk guru-guru. Mereka "mengumpan" para guru (para striker) untuk mencetak gol di depan siswa.Kemampuan membaca permainan (game intelligence) playmaker di lapangan sepak bola, di dunia pendidikan diterjemahkan menjadi analisis kebutuhan pembelajaran. Mereka melihat "celah" antara kurikulum nasional dan konteks lokal, antara minat siswa dan materi pelajaran, lalu merancang strategi untuk memanfaatkan celah tersebut menjadi peluang belajar yang menarik.Jika playmaker sepak bola menentukan kapan serangan dipercepat atau diperlambat, playmaker pendidikan memastikan alur pembelajaran sesuai ritme siswa—tidak membebani, juga tidak membosankan. Pada intinya, playmaker pendidikan adalah jembatan penghubung vital yang menerjemahkan kebijakan menjadi praktik, teori menjadi aksi, dan data menjadi strategi. Tanpa mereka, serangan pedagogis sebuah sekolah berisiko menjadi kaku, terfragmentasi, dan kurang kreatif.Seperti Kapten Rudi, Taufik, Budi Riva, dan Izul yang berperan penting menentukan ritme permainan Berkah FC sehingga tim ini berulang kali meraih tropi di kejuaraan sepak bola yang diselenggarakan Dispora Kalimantan Selatan, peran wakil kepala sekolah bidang kurikulum juga menentukan kualitas pendidikan di sebuah sekolah. Apabila pembelajaran di sekolah terasa hidup, dinamis, dan penuh penemuan, maka itu semua karena kepiawaian Koordinator Pengembangan Kurikulum dan Inovasi Pembelajaran, playmaker yang bermain di balik layar,  merancang pertunjukan, menyiapkan senjata bagi para guru, dan memastikan setiap serangan pembelajaran berakhir dengan gol kompetensi yang gemilang. 
# EDUKASI
# Opini

  Youtube

Surah Ar-Rahman | Aniq Muhai

  Informasi

Selamat Hari Guru Nasional
Arah Pendidikan Nasional & Transformasi Pendidikan Lokal di Daerah
Kupas Tuntas: Kurikulum, Inklusi, dan Seni di Sekolah Dasar
Momentum Kebangkitan Nasional Melalui Peningkatan Kualitas Pendidikan