Beranda > Edukasi

  Postingan Terbaru

Mengapa Waka Kesiswaan Harus Seperti Gelandang Bertahan?

Edubanua.com
1 Maret 2026
Mendominasi pertandingan tidak menjamin kemenangan. Saya pernah menyaksikan ini pada piala dunia tahun 1990. Kala itu, Brazil yang menguasai jalannya laga akhirnya takluk dari Argentina di babak 16 besar. Umpan Diego Maradona yang dikonversi dengan baik oleh Claudio Caniggia menjadi gol pada menit ke-80 memaksa Dunga dan kawan-kawan angkat koper lebih awal.Meski kekalahan Brasil pada saat itu bukan disebabkan kelengahan pemain bertahan, tetapi karena kejeniusan pemain berjuluk Hand of God, namun ingatan tentang duel antara Argentina dan Brasil di babak 16 besar Piala Dunia 1990, yang digelar di Stadion Delle Alpi, Turin, Italia itu menginspirasi saya membahas tentang posisi pemain bertahan.Di tim sepak bola, semua posisi memainkan peran penting. Tidak hanya striker dan playmaker, posisi gelandang bertahan juga sangat menentukan. Di Berkah FC, lini pertahanan dikawal ketat  3 pilar handal: Ody, Yuspi dan Dahri. Kiri ke ke kanan: Yuspi, Ody & Dahri.Ody dan Yuspi tipikal pemain gelandang bertahan sejati. kemampuan mereka membaca permainan (antisipasi), akurasi operan tinggi, dan ketenangan di bawah tekanan layak diacungi jempol. Sementara Dahri adalah tipe gelandang bertahan modern Istimewa. Berbekal stamina prima: bernafas kuda, ia rajin membantu serangan. Kecepatan dan keberaniannya berduel sangat merepotkan pemain lawan. Kolaborasi Ody, Yuspi, dan Dahri menjauhkan kiper: Haris atau Rusdi dari  ancaman striker lawan.Ody & IyusIwan Perdana, Ph.D.,alumnus Program doktoral Manajemen Pendidikan UPSI Malaysia, menganalogikan pemain gelandang bertahan dengan jabatan struktural pada lembaga pendidikan. Menurutnya, dalam perspektif manajemen pendidikan, jabatan dalam tata Kelola sekolah yang memiliki karakter serupa dengan gelandang bertahan adalah wakil kepala sekolah bidang kesiswaan.Capt Rudi & OdyTujuan utama pendidikan adalah mengembangkan seluruh potensi peserta didik secara utuh—mencakup intelektual, karakter, emosional, dan spiritual—untuk menjadi manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, cerdas, mandiri, dan bertanggung jawab.Wakil kepala sekolah bidang kesiswaan membantu kepala sekolah mewujudkan tujuan tersebut. Ia bertugas merencanakan, membina, dan mengawasi seluruh kegiatan siswa (non-akademik), menegakkan tata tertib, mengatur OSIS/ekstrakurikuler, serta mengelola 7K (Keamanan, Kebersihan, Ketertiban, Keindahan, Kekeluargaan, Kerindangan, Kesehatan) untuk menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif.Oleh karena itu, wakasek kesiswaan menjadi filter pertama yang melindungi proses pendidikan dari bahaya:  masalah disiplin siswa, konflik antar teman, pelanggaran tata tertib. Ia bertugas menjaga iklim sekolah tetap kondusif agar "gawang"- tujuan pendidikan- tidak kebobolan.Berkah FCTidak dapat dibayangkan sebuah sekolah tanpa Waka Kesiswaan yang tegas. Konsekuensinya sangat menakutkan. Para guru—yang berperan sebagai gelandang serang kreatif dipaksa turun menjadi gelandang bertahan dadakan—turun tangan mengurusi masalah-masalah: Siswa bolos, tawuran, dan suasana belajar tidak nyaman.  Ini menyebabkan mereka akan kehilangan fokus, kreativitas mengajar mati, dan prestasi siswa (gol) akhirnya tidak akan tercipta.   
# EDUKASI
# Opini

7 Resep Jitu Yuliana Nurhayati, M.Pd Meredam Pasang Surut Motivasi Belajar

Edubanua.com
5 Februari 2026
Krisis semangat belajar sering menghantui, namun Yuliana Nurhayati, M.Pd, Wakil Ketua Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, menawarkan tujuh kiat praktis yang melampaui kurikulum formal demi menjaga api motivasi belajar tetap menyala.Pendidikan, dalam pandangan para ahli, memang laksana sungai yang tak pernah berhenti mengalir. Batasan maknanya terus berubah seiring berkembangnya temuan dan pola pikir baru. Namun, di tengah pusaran teori itu, ada satu masalah abadi yang kerap meredupkan cahaya generasi muda: pasang surut motivasi belajar.Bukan rahasia lagi, semangat menuntut ilmu seringkali naik turun, bahkan cenderung lebih banyak merosot. Kita semua tahu pendidikan penting, krusial untuk membentuk karakter, moral, dan etika, serta menumbuhkan pemikiran kritis. Tapi bagaimana menjaga 'bahan bakar' itu agar tidak habis di tengah jalan?Yuliana Nurhayati, M.Pd memiliki pandangan yang menyegarkan. Ia menolak definisi belajar yang kaku. Pembelajaran, katanya, jauh lebih luas dari dinding kelas dan tumpukan buku. “Pendidikan tidak selalu formal: berkutat dengan buku-buku atau e-book berisi materi pelajaran, berjumpa guru atau dosen,” ujarnya lugas. “Pembelajaran bisa saja diperoleh dari luar lembaga pendidikan formal, seperti bersinergi dengan alam, melihat lingkungan sekitar, dan memperhatikan kehidupan masyarakat. Tidak kalah pentingnya berinteraksi dengan sesama yang akan menjadikan kita menjadi bijak.”Filosofi belajar holistik ini menjadi landasan bagi tujuh resep praktis yang ia tawarkan. Resep pertama adalah fundamental: Ingat tujuan hidup dan tumbuhkan kesadaran manfaat belajar. Mengapa kita harus repot-repot membuka buku? Mengapa harus bersusah payah menguasai keterampilan baru? Jika alasan (the 'why') itu kuat, konsistensi belajar akan datang dengan sendirinya.Ia menekankan pentingnya adab dalam mencari ilmu. Hormati orang berilmu, ikuti jejak mereka. Sebab, ilmu itu sangat luas, takkan cukup waktu untuk mempelajari semua. Ini membawa kita pada kiat keempat: Prioritaskan belajar pada bidang yang hendak dikuasai atau sesuai pekerjaan. Selebihnya? Cukup untuk menambah wawasan.Yang paling menarik, Yuliana mendorong generasi muda untuk berhenti membandingkan diri. Fokuslah pada usaha meningkatkan kualitas diri sendiri. "Jangan minder melihat kehebatan orang lain," pesannya. Ketika kita fokus pada pertumbuhan internal, kita akan terhindar dari penyakit hati yang merusak motivasi.Prinsip ini beriringan dengan kiat keenam: Jangan pernah merendahkan orang lain. Setiap individu memiliki kelebihan dan kekurangan yang unik. Kesombongan dan rasa minder adalah dua sisi mata uang yang sama-sama mematikan semangat juang.Pada akhirnya, motivasi belajar harus bermuara pada aksi yang berdampak. Kiat penutupnya adalah belajar dari orang-orang hebat yang memiliki ketajaman berpikir dan banyak melakukan aksi positif ke masyarakat. Inilah kunci untuk mengubah ilmu menjadi kebijaksanaan, dan karakter menjadi aksi nyata. Pendidikan sejati, sesungguhnya, adalah proses menjadi bijak.  
# EDUKASI
# Opini

Muhammad Thohir— Striker Berkah FC: Refleksi bagi Guru Kompeten

Iwan Perdana
22 Juni 2026
Salah seorang pemain andalan Berkah FC yang memiliki skill mengolah bola di atas rata-rata adalah Taher. Pemain bernama  asli Muhammad Thohir, Amd ini mempunyai motto hidup sederhana namun sarat makna: "Berbuat baiklah selama kita bisa membantu orang lain." Filosofi ini membentuk karakternya sebagai sosok yang rendah hati di luar lapangan. Sedangkan di dalam lapangan, ia pemain yang selalu mengutamakan tim.Taher & Berkah FC berlaga di BanjarbaruKetenangan Taher diakui oleh rekannya, Awad—. "Taher adalah pemain Berkah FC paling sabar, tidak pernah emosi, tidak pernah mengeluh, dan tetap mempertahankan gaya permainannya apapun tekanan di lapangan," ujar Awad. Sifat inilah yang membuat Taher selalu konsisten di setiap pertandingan, tidak terpengaruh oleh provokasi lawan maupun tekanan skor.Kecintaan Taher pada sepak bola dimulai sejak duduk di bangku sekolah dasar. Baginya, olahraga ini adalah magnet universal yang menyatukan banyak orang. "Dengan sepak bola, kita banyak mempunyai teman dan menambah persahabatan," ujar Taher, Selasa (16/06/2026) melalui pesan WhatsApp. Taher berlaga di MarabahanBerposisi sebagai striker, Taher adalah perpaduan antara pemain cerdas dan tidak egois. Keunggulannya tidak hanya memiliki postur tinggi besar menjadikannya sangat cocok menjadi penghancur tembok pertahanan lawan. Tetapi ia seorang predator di kotak penalti. "Apabila kita bisa menciptakan gol, ada rasa kepuasan tersendiri dan kebahagiaan," jawabnya ketika ditanya alasannya memilih posisi penyerang. Kehebatan Taher sebagai predator di depan gawang juga ditegaskan oleh Kapten Berkah FC, Rudiansyah. "Taher adalah tipe pemain predator, penyelesai yang sempurna, shooting-nya keras," puji Rudi. Coach Mady juga memberikan apresiasi terhadap kemampuan Taher. "Bang Taher striker yang mempunyai visi bermain jelas, pandai mencari peluang, dan shooting yang keras, sangat cocok untuk posisi seorang target man, serta punya sundulan yang akurat," ungkap Coach Mady. Deskripsi ini melengkapi profil Taher sebagai striker modern yang memiliki segalanya: kecerdasan, kekuatan fisik, akurasi, dan kemampuan duel udara.“Tantangan menjadi striker juga tak semudah yang dibayangkan,” tambahnya lagi. Setiap kali ia menggiring bola memasuki area kotak 16, Ia merasakan mata para bek dan kiper lawan, termasuk para penonton tertuju padanya. Tekanan untuk mencetak gol selalu membayangi, tetapi justru di situlah Taher menemukan kenikmatan sejati—merusak lini belakang lawan, memenangkan duel udara, dan menyelesaikan peluang dengan tembakan keras yang mematikan.Sebagai mesin gol Berkah FC, Taher mengidolakan penyerang Timnas Indonesia Kurniawan Dwi Yulianto—legenda predator era 90-an—, dan saat ini mengagumi Ole Romeny, striker diaspora yang sedang naik daun. Adapun striker luar negeri yang diidolakannya adalah Filippo Inzaghi, "Super Pippo" yang terkenal dengan insting pembunuh di kotak penalti, dan Cristiano Ronaldo, simbol profesionalisme dan kerja keras. Para ikon sepak bola itu menginsipirasinya menjadi penyerang cerdas yang tak hanya mengandalkan fisik, tetapi juga kecerdasan dalam membaca permainan.Meski gemar bermain sepak bola, Taher juga menyukai semua jenis olahraga. Menurutnya berolahraga adalah jalan menuju tubuh sehat dan kuat. Untuk hiburan, meski mengaku tidak terlalu hobi menyanyi, ia senang mendengarkan lagu-lagu melayu nostalgia—asalkan liriknya enak didengar, semua genre musik ia nikmati. Taher juga menyukai film-film bagus, baik lokal maupun luar negeri. Ia mengaku sering diajak menonton oleh anak dan istrinya, dan meski terkadang harus menonton film yang tidak terlalu disukai, ia tetap ikut dengan senang hati—walaupun tak jarang tertidur di tengah pemutaran. Film favoritnya adalah serial Fast and Furious, yang penuh aksi dan memicu adrenalin.Sebagai penggemar sepak bola sejati, Taher memiliki tim favorit di Piala Dunia 2026. Ia menjagokan Portugal—negeri asal idolanya Cristiano Ronaldo—serta Jerman, raksasa Eropa dengan tradisi kemenangan. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia berharap Tim Nasional Indonesia dapat berpartisipasi di Piala Dunia berikutnya pada tahun 2030.Taher & Berkah FC di Lapangan Kayutangi UjungAnalogi Kompetensi Guru sebagai StrikerSeorang guru yang kompeten seperti seorang striker. Ia berada di lapangan hijau : ruang kelas. Seperti Taher, sang penyerang andalan Berkah FC, guru tidak sekadar mengandalkan fisik atau formalitas—ia harus cerdas membaca situasi, tepat membuat keputusan, dan keberanian mengeksekusi peluang.Seorang striker hebat tahu kapan harus bergerak ke ruang kosong, kapan harus menahan bola, dan kapan melepaskan tembakan keras ke gawang. Demikian pula guru kompeten: ia tahu kapan harus menjelaskan, kapan memberi tugas, kapan mendiamkan siswa agar berpikir, dan kapan memberikan pujian atau teguran. Guru adalah pemecah kebuntuan—ketika siswa mengalami kebingungan atau kehilangan motivasi, guru harus mampu menciptakan "gol" pemahaman dengan penjelasan yang tepat dan pendekatan yang kreatif. Seperti Taher yang mempunyai visi bermain jelas, pandai mencari peluang, dan shooting yang keras, Guru harus memiliki visi mengajar yang jelas, mengetahui kapan harus memberi tantangan, dan memberi bantuan. Dan yang paling penting, seperti Taher yang dikenal tidak mudah terpancing emosi, guru sejati tidak terbawa amarah atau frustrasi saat menghadapi siswa yang sulit. Ia tetap tenang, sabar, dan fokus pada tujuan utama: mencetak "gol" keberhasilan bagi setiap siswa. Saban kali seorang siswa memahami konsep sulit atau berhasil mengatasi kelemahannya, itulah gol yang diraih sang guru—striker pendidikan.
# EDUKASI
# Opini

Tenang, Adaptif, dan Berorientasi Kepentingan Bersama: Kepemimpinan H. Dian— Gelandang Serang Berkah FC

Iwan Perdana
18 Juni 2026
Sesuai moto hidupnya, H. Muhammad Rusdiannoor—selalu ceria dan mengutamakan Kesehatan, adalah sosok yang ramah dan murah senyum. Perawakannya tinggi, tegap dan kuat. Postur ideal untuk seorang pemain sepak bola. Rekan-rekan se-timnya lebih sering memanggilnya H. Dian. Ia merupakan gelandang serang andalan Berkah FC yang berperan vital mengatur ritme permainan dari lini tengah. Berkah FCKecintaannya H. Dian pada si kulit bundar telah berakar sejak usia 10 tahun. Baginya, sepak bola bukan sekadar olahraga. Ada nilai filosofis di dalamnya yakni bagaimana sebelas individu dengan ego berbeda dapat menyatu untuk satu tujuan. "Sepak bola mengajarkan saya tentang bekerja sama dengan orang lain," ujarnya pada selasa (16/06/2026) melalui pesan WhatsApp. Praktik nilai Filosofis itulah yang menyebabkan H. Dian tidak hanya mengandalkan skill individu di lapangan hijau , tetapi juga kecermatan membaca dinamika rekan setim. “Posisi gelandang serang menuntut kecerdasan taktik, kemampuan membaca situasi, dan naluri mencetak gol. Saya menikmati posisi ini ,“ ungkap H. Dian yang mengidolakan Isnan Ali— Legenda Timnas Indonesia, dan bintang Liverpool, Mohamed Salah asal Mesir.H. Dian & TaherKeyakinannya akan pentingnya kerja sama itu bukan sekadar omongan. Hal itu terbukti dari pengakuan rekan-rekannya di Berkah FC tentang H. Dian— yang juga disapa Anjang, diungkap Awad, bek kiri Berkah FC. “Ia bisa main di bek, tengah, maupun lini depan”. Coach Mady menambahkan, “H. Dian  sejatinya adalah gelandang serang yang punya visi permainan bagus. Namun Ia juga mumpuni dimainkan di sayap kiri atau kanan. Kapten tim, Rudi, menilai H. Dian sebagai pemain santai yang selalu bermain dengan ketenangan di setiap pertandingan.Dari komentar Awad dan Coach Mady, terlihat bahwa H. Dian adalah pemain yang adaptif dan berorientasi pada tim. Ia rela berpindah posisi demi kebutuhan tim, tanpa kehilangan esensi permainannya. Sifat ini adalah cermin dari seorang pemain profesional sejati; lebih mementingkan kepentingan bersama daripada kepuasan pribadi. Ia tidak pernah mengeluh ketika harus keluar dari posisi favoritnya. Justru di situlah loyalitas dan komitmennya terhadap Berkah FC teruji. Ketenangan yang dimaksud Kapten Rudi adalah H. Dian mampu membuat keputusan tepat dan menjadi penenang bagi rekan-rekannya. Ia tidak banyak bicara, tetapi kerja kerasnya berbicara lebih lantang dari sekadar kata-kata.Selain sepak bola, H. Dian yang menjagokan Korea Selatan menjuarai Piala Dunia 2026 ini mempunyai hobi bulu tangkis dan memancing—dua aktivitas yang melatih refleks dan kesabaran. Bulu tangkis mengasah kecepatan reaksi, sementara memancing mengajarkan kesabaran—nilai-nilai yang ia praktikkan ke dalam gaya permainan sepak bolanya. Dari moto hidup dan  penuturan 3 pemain senior Berkah FC, tergambar sosok H. Dian: memiliki kualitas teknis mumpuni, namun tak pernah mengutamakan ego. Ia bisa bersinar di posisi favoritnya, tapi rela berkorban di posisi mana pun jika diperlukan. Walaupun memiliki keunggulan individu, ia memilih kejayaan kolektif. Itulah H. Muhammad Rusdiannoor—gelandang serang Berkah FC. Dikaitkan dengan Kepemimpinan Pendidikan, Profil H. Muhammad Rusdiannoor memberikan pelajaran yang sangat berharga . 1.       AdaptifH.  Dian siap bermain di posisi mana pun demi tim. Ini mencerminkan esensi kepemimpinan transformasional: pemimpin yang fleksibel, tidak kaku, dan mengutamakan kepentingan organisasi di atas ego pribadi. Seorang kepala sekolah dituntut memiliki keluwesan dalam menghadapi dinamika institusi.2.       Strategic Planning Gelandang serang harus mampu membaca lapangan, melihat peluang, dan mengambil keputusan tepat dalam hitungan detik. Pemimpin pendidikan harus memiliki visi jangka panjang serta kemampuan membaca situasi untuk memutuskan kebijakan strategis.3.       KetenanganKetenangan yang menjadi ciri khas H. Dian adalah teladan self-control dalam kepemimpinan. Di tengah tekanan dan konflik, pemimpin yang tenang mampu menjadi penyejuk organisasi dan mengambil keputusan rasional. Ia tidak banyak bicara, tetapi kerja kerasnya berbicara lebih lantang dari sekadar kata-kata—sebuah karakter kepemimpinan yang melayani (servant leadership).4.       Kerja SamaFilosofi H. Dian tentang bekerja sama dengan orang lain sejalan dengan prinsip partisipatif. Pendidikan berkualitas tidak dibangun sendiri; ia membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan. Motto hidupnya—"selalu ceria dan sehat"—mengingatkan pada pentingnya iklim organisasi positif dan kesejahteraan sumber daya manusia. Pemimpin yang sehat dan ceria menularkan energi baik kepada seluruh warganya. H. Dian adalah metafora kepemimpinan yang baik: bisa menjadi bintang, tapi memilih melayani tim; bisa bersinar di posisi favorit, tapi siap berkorban ditugaskan di posisi mana pun—inilah esensi kepemimpinan sejati.  
# EDUKASI
# Opini

Apa yang Diajarkan Haris Andy—Kiper Berkah FC— tentang Kepemimpinan Pendidikan?

Iwan Perdana
12 Juni 2026
Walaupun lapangan Kayutangi Ujung tak semegah Stadion Gelora Bung Karno atau Jakarta International Stadium (JIS), namun lapangan ini memberikan banyak kesempatan bagi para pemain banua mengembangkan bakat bermain sepak bola, sekadar berolah raga, dan sehat-gembira. Haris Andy Ramuja, salah satunya.Sejak kecil Haris—panggilan akrab— sudah akrab dengan bola. Tampaknya Ia seperti Mamoru Endou, kiper legendaris Klub Sepak Bola Raimon di serial Inazuma Eleven—dikenal dengan ikat kepala oranye dan sifat pantang menyerahnya, serta sangat mencintai sepak bola. Hobi memainkan si kulit bundar, mengantarkan Haris bergabung dengan BERKAH FC—Tim asuhan H. Juman yang dipimpin Kapten Rudi dibantu Kasliannor dengan tegas namun bijak. Klub ini bagi Haris bukan sekadar klub sepak bola biasa, tapi sudah menjadi rumah kedua. “Saya merasa seluruh pemain seperti keluarga yang hangat penuh keakraban. Saya sangat senang dan bangga dipercaya Kapten Rudi menjaga mistar gawang Berkah FC,” ungkapnya pada Jumat (12/06/2026) melalui pesan WhatsApp.Menjadi kiper adalah pilihan Haris sejak kecil. “Saya merasa tertantang menepis atau menahan tendangan keras yang menuju ke gawang”, akunya. “Saya tidak harus mencetak gol untuk memenangkan Berkah FC, cukup dengan menggagalkan serangan lawan”, tambahnya. Keseruan lain menjadi seorang penjaga gawang menurut Haris adalah Ia bisa memantau serangan dari lawan. Dari posisinya, Ia dapat membaca seluruh pertandingan seperti peta yang terbentang.Ada dua penjaga gawang yang diidolakan Haris. Dari dalam negeri: Kurnia Meiga, dari luar negeri: Gianluigi Buffon. Namun saya melihat Haris memiliki kelebihan dua kiper top dunia lainnya. Kemampuannya mengingatkan saya pada Jorge Campos, kiper lincah Meksiko yang nyentrik dan berani. Menggunakan sarung tangan menyala, Haris kerap keluar dari sarangnya. Ia tidak hanya menepis atau menahan gempuran bola, tetapi juga berani menggocek striker lawan. Aksi nekat yang bukan sekadar gaya, melainkan taktik cerdas untuk mengacaukan fokus lawanDi balik kelincahan ala Campos, ada juga Oliver Khan “dalam” diri Haris: mental baja, suara keras yang memerintah pertahanan, dan refleks kilat. Saat tim tertekan, mata Haris berubah. Ia berteriak mengatur bek-beknya, suaranya membelah sore lapangan Kayutangi Ujung.Jatuh bangun mengawal gawang Berkah FC agar tak jebol sudah biasa bagi Haris. Keberaniannya lahir dari motto hidupnya “Selalu berusaha, jangan takut gagal,” ujar Kiper kebanggan Berkah FC ini. Mirip dengan Motto Endou: "Tidak ada bola yang tidak bisa kutepis. Tidak ada tembakan yang tidak bisa kubendung. Aku akan melindungi gawang ini sampai akhir!". Motto yang menunjukkan tekad luar biasa menjaga gawang klub yang dibela.Di luar lapangan, Haris adalah pribadi yang menikmati hidup. Ia kadang menyanyi. Berduet dengan Dahri jika berkumpul di Café Midun. Semua musik Ia sukai, tapi Nike Ardila tetap menjadi penyanyi favoritnya. Selain penggemar lagu-lagu Rock dan Dangdut, Haris juga pecinta film action. “Saya fans Jet Lee, Jacky Chen, dan Bruce Lee,” tuturnya.Kri ke kanan: Haris, Rudi, Iwan Dalam manajemen pendidikan, posisi kiper mengajarkan kepemimpinan dari garis belakang. Haris mempraktikkan setidaknya lima prinsip:1.   Kepemimpinan visionerDari bawah mistar gawang, Haris memantau seluruh serangan lawan seperti peta terbentang, lalu berteriak mengarahkan barisan pertahanan demi mengantisipasi bahaya. Pemimpin pendidikan harus melihat sistem secara utuh, mengomunikasikan arah dengan jelas, dan tidak sekadar fokus pada bagian-bagian kecil.2.   Distribusi Peran KepemimpinanBerkah FC memiliki struktur jelas: H. Juman (pembina), Kapten Rudi (kepala sekolah), Kasliannor (administrasi), dan Haris (eksekutor). Kepercayaan Kapten Rudi pada Haris adalah bentuk pemberdayaan. Pemimpin visioner tidak bekerja sendiri; mereka mendistribusikan peran agar visi bersama dapat dieksekusi secara taktis oleh setiap lini organisasi.3.   Kombinasi gaya kepemimpinanGaya Haris adalah gabungan kelincahan Jorge Campos yang berani keluar kotak penalti demi melahirkan inovasi, dan mental baja Oliver Kahn yang disiplin dan bersuara keras dalam mengatur benteng pertahanan. Pemimpin pendidikan harus fleksibel: menumbuhkan kreativitas saat situasi tenang, namun tetap teguh dan tegas saat menghadapi krisis.4.   Motto sebagai filosofi Tim hebat tidak runtuh mentalnya saat kebobolan gol, motto Haris Andy—"Selalu berusaha, jangan takut gagal"—menciptakan budaya growth mindset. Di dalam ekosistem pendidikan, kegagalan sebuah program harus dilihat sebagai data evaluasi untuk perbaikan taktik berikutnya, bukan sebagai akhir dari segalanya.5.   Kesejahteraan personal pemimpinDi luar lapangan, Haris menjaga keseimbangan mentalnya dengan menyanyikan lagu-lagu Nike Ardilla dan menonton film aksi Jet Li, Jacky Chen dan Bruce Lee. Di dunia pendidikan yang penuh tekanan, pemimpin juga membutuhkan ruang recovery (pemulihan) personal. Pemimpin yang sehat secara psikologis dan bahagia akan memimpin lembaga dengan jauh lebih bijaksana, stabil, serta penuh empati.  Lapangan Kayutangi Ujung memang tak megah. Tapi dari gawangnya yang sederhana, Haris Andy mengajarkan bahwa seorang pemimpin tidak harus selalu di depan. Ia berdiri di belakang, melihat seluruh medan, lalu berteriak mengatur barisan saat badai datang. Mottonya menggema di setiap tepisan bola,”Selalu berusaha, jangan takut gagal”. Haris Andy bukan sekadar kiper biasa. Ia luar biasa.
# EDUKASI
# Opini

Saiful Alwad: Bek Kiri Berkah FC yang Mengajarkan Kepemimpinan

Iwan Perdana
11 Juni 2026
Dua puluh tiga tahun sudah Saiful Alwad bermain di Lapangan Kayu Tangi Ujung. Pria yang lebih dikenal dengan sapaan Awad ini bermain pada posisi bek kiri sejak tahun 2003.  Tubuhnya tidak besar, tidak juga kecil. Gerakannya cepat, dan setiap langkahnya selalu penuh perhitungan.Awad merupakan salah seorang palang pintu andalan Berkah FC. Budi—Libero — memanggilnya Bruce Lee karena keberaniannya melakukan tekel menyapu seperti adegan film kungfu. Coach Mady menjulukinya Jet Lee—mungkin karena senyum tipisnya yang mirip bintang film Shaolin Temple (1982) tersebut. Tapi menurut Kapten Rudi,  Awad lebih mirip IP Man yang diperankan oleh Donnie Yen. Sikapnya tenang tidak banyak bicara. Tapi kemampuannya melompat tinggi, dan kepiawaiannya memotong umpan silang akan membuat striker lawan ragu membawa bola dari sisi kiri Berkah FC— karena pasti akan gagal melewatinya.Awad—  yanv memiliki motto "Perjuangan bukanlah tentang hasil akhir, melainkan tentang proses yang tidak pernah sia-sia. InsyaAllah, berhasil!"— sangat mengidolakan Paolo Maldini—bek legendaris Italia dan Pele—Legenda Brazil. “Maldini mengajarkan bahwa bertahan adalah seni. Pele mengajarkan bahwa sepak bola pada akhirnya adalah kegembiraan,” ungkapnya pada Rabu (10/06/2026) melalui pesan WhatsApp.Mungkin karena kedua ikon sepak bola dunia itu, hingga kini, Awad masih setia di pos bek kiri. Bukan karena Ia merasa yang terbaik di sana. Tapi karena di posisi itulah Ia mengaku belajar bahwa hidup sama seperti bertahan: tidak perlu selalu menyerang. Cukup tahu kapan harus diam, kapan harus bergerak, dan kapan harus menyapu bersih semua masalah dengan satu tekel yang tepat. “Saya sangat senang bermain sepak bola setiap senin dan kamis  di lapangan Kayutangi dibawah arahan Kapten Rudi. Beliau pemimpin yang peduli rekan-rekan. Saya merasa bangga Beliau memilih saya ikut berlaga di kompetisi resmi,” ujarnya.Berkah FCSepak bola benar-benar merasuki jiwa Awad. Kecintaannya pada permainan ini bukan tanpa sebab. Menurutnya, olah raga ini merekatkan persahabatan, memperkuat silaturrahmi, menyehatkan badan, membuat hati senang, dan paling penting tidak menuntut biaya mahal. Kesan Awad terhadap klub Berkah FC sangat dalam. “Rasa kekeluargaan para pemain dan pengurus klub yang dibina H. Juman ini sangat kuat. Terlebih lagi Pak Rudi— Kapten Berkah FC. Beliau seorang pemimpin yang sangat memerhatikan keadaan kawan-kawan. Apalagi jika laga tandang, bersama Pak Kaslian, Beliau repot mengatur segala persiapan termasuk konsumsi,” jelasnya. Awad juga mengagumi kebijaksanaan pengurus tim yang memberikan kesempatan kepada siapa saja— tua-muda— yang datang ke lapangan untuk bermain. “Sesuai nama klubnya— Berkah FC, klub ini menjadi berkah bagi setiap orang yang mencintai sepak bola, dan ingin mengembangkan bakat bermain sepak bola,” tegasnya.Siapapun yang mengenal Saiful Alwad—yang juga seorang pecinta musik panting, pasti akan merindukan aksinya di lapangan. Kekuatan, dan kelincahan kakinya menghalu serangan lawan selalu dinanti para penikmat bola di lapangan Kayu Tangi Ujung. Kapten & Asisten Manajer & Tim Berkah FC Dikaitkan dengan manajemen pendidikan dan kepemimpinan pendidikan, terdapat beberapa poin yang dipraktikkan Awad secara substansi memiliki kesamaan, yaitu:1.   Functional LeadershipAwad memilih bertahan sebagai bek kiri bukan karena gengsi, tetapi karena menyadari di posisi itulah kompetensinya bisa memberikan kontribusi terbaik bagi tim. Guru/ pemimpin pendidikan harus menempatkan diri berdasarkan analisis kemampuan realitasnya, bukan ego sehingga dapat berkontribusi maksimal pada posisi yang menjadi tanggung jawabnya.2. Kecerdasan Emosional dan Pengendalian DiriAwad tenang, tidak banyak bicara, mampu melompat tinggi, dan memotong umpan silang dengan tepat. Pemimpin pendidikan harus mampu bersikap responsif bukan reaktif. Ia tidak terprovokasi tekanan eksternal (striker lawan), tetapi tetap fokus pada tugasnya.3. Filosofi Manajemen Diri (Self-Management)Moto Saiful Alwad: "Perjuangan bukan tentang hasil akhir, melainkan proses yang tidak pernah sia-sia" adalah inti dari evaluasi diri dalam pendidikan yang menekankan pada proses pembelajaran lebih penting daripada sekadar nilai akhir. Pemimpin pendidikan yang cermat dan bijak, tidak terobsesi pada pencapaian instan, tetapi pada pertumbuhan berkelanjutan.4. Role CommitmentAwad bermain pada posisi yang sama selama 23 tahun sebagai bek kiri. Pemimpin pendidikan tidak perlu sering berganti gaya kepemimpinan, yang paling utama adalah pendalaman kompetensi (deep expertise)  dan konsisten  dan terus meningkatkan kualitas diri.5. Kemampuan Membaca Situasi dan Mengambil Keputusan TepatAwad tahu kapan diam, kapan bergerak, kapan menyapu bersih — melakukan tekel yang tepat. Pemimpin pendidikan tidak boleh membuat keputusan tergesa-gesa, namun tidak boleh juga menyepelekan—lambat membuat Keputusan. Setiap keadaan harus diobservasi, kemudian bergerak (melakukan intervensi ringan), atau "tekel bersih" (tindakan tegas). Lapangan sepak bola tidak hanya mengajarkan cara mencetak gol, tetapi juga cara menjadi pemimpin yang bijak. Awad—bek kiri Berkah FC, mengajarkan kepemimpinan sejati lahir dari kesadaran akan peran, tenang menghadapi  tekanan, dan tetap komitmen pada proses, bukan sekadar meraih kemenangan sebagai hasil akhir.
# EDUKASI
# Opini

Pelajaran dari H. Juman: Praktik Lintas Sektoral Prinsip-Prinsip Manajemen

Iwan Perdana
9 Juni 2026
M. Jurmansyah S.Pd, yang akrab disapa H. Juman, adalah sosok sentral di balik berdirinya dan keberlangsungan Klub Berkah FC. Lahir di Palangkaraya, 26 Juni 1970, pria yang berprofesi sebagai Kepala MTSN 1 Kota Banjarmasin ini memiliki prinsip hidup yang unik, yakni “berusaha menyenangkan hati orang lain walau tidak sesuai dengan keadaan kita,” ujarnya pada Minggu (7/6/2026). Ada cerita menarik di balik nama Berkah FC. Ternyata, klub ini awalnya bernama Juman FC. “Tapi kawan-kawan mengganti nama supaya ada keberkahan,” ungkap H. Juman. Pergantian nama klub ini diiringi doa dan harapan agar seluruh pemain dan pengurus selalu sehat penuh keberkahan, dan kerja sama tim membawa kegembiraan, kebaikan bersama.Kiri ke kanan: H. Zahrani, Budi, H. Juman, AlamsyahSejak kecil H. Juman sudah jatuh hati pada sepak bola. Baginya, bola bukan sekadar mencatatkan nama di papan skor, melainkan sarana untuk berbagi pengalaman, menyambung silaturahmi, dan mengenal daerah lain. “Ini olahraga yang paling banyak disukai orang di muka bumi,” akunya. “Melalui sepak bola, kita bisa menyambung tali silaturrahmi dan asyiknya lagi mengenal daerah lain saat laga tandang persahabatan,” tambahnya lagi.Namun, cinta yang besar itu berhadapan dengan realitas di lapangan. Menurut H. Juman, kompetisi sepak bola di Kalimantan Selatan masih belum ideal. “Kejuaraan antar SSB dan kelompok umur jarang dilakukan. Harusnya diperbanyak  dan dilaksanakan secara teratur untuk menjaring bibit-bibit muda berbakat,” keluhnya. “Jangan cuma klub sepak bola legenda yang maju—para pemain tua yang tetap berkibar, sementara bibit-bibit muda kekurangan panggung,” tuturnya.Ditanya klub sepak bola yang disukai di kancah Nasional, H. Juman tanpa ragu mengatakan ngefans klub sepak bola asal Kota Bandung, Persib Bandung, yang sukses meraih gelar juara liga 3 musim berturut-turut (hattrick): 2023/2024, 2024/2025, dan 2025/2026. Adapun di pentas internasional, Ia menyebutkan Manchester United (MU. “Saya suka gaya bermain tim “Maung Bandung” dan “The Red Devils,” ungkapnya.  Gaya menyerap kedua tim idamannya itu ikut mempengaruhi strategi Berkah FC, misalnya dalam mengutamakan serangan cepat dan tekanan sejak awal pertandingan.Tidak hanya memimpin MTSN 1 Kota Banjarmasin, sekolah di bawah naungan Kemenag dengan visi "Mewujudkan generasi yang beriman, berilmu, berakhlak mulia, terampil dan mampu mengaktualisasikan diri dalam kehidupan bermasyarakat” H. Juman juga aktif mengelola tim sepak bola. Beliau didaulat menjadi Ketua Klub sepak bola All Star Kalsel. Saat menerima amanah, Ia menyampaikan visi membawa tim All Star dikenal  masyarakat sepak bola se-Kalsel, dengan mengikuti even-even penting dan menjadi juara. Visi serupa disematkan pada Berkah FC, tim yang juga Ia bina.Terkait pengelolaan Berkah FC, Sebagai pembina, Ia mengaku terkadang bingung memilih pemain saat akan bertanding. “Semua pemain memiliki karakteristik dan kemampuan yang baik,”akunya. “Antusiasme pemain yang ingin berpartisipasi mengikuti kompetisi menjadi berkah sekaligus dilema saat menyusun formasi tim,” jelasnya. Saat ditanya, tim apa yang dipilihnya jika suatu saat All Star Kalsel bertemu Berkah FC di kompetisi resmi? Pertanyaan ini seperti menjebaknya dalam dua cinta. H. Juman tidak memilih. Dengan bijak, Ia menjawab, “Saya berdiri di tengah-tengah sebagai penonton, untuk memonitor dan mengevaluasi ke depannya.” H, JumanPrinsip dan pendekatan H. Juman dalam mengelola klub sepak bola ternyata sejalan dengan nilai-nilai manajemen pendidikan yang Ia terapkan sehari-hari sebagai kepala MTSN 1 Kota Banjarmasin. Berikut beberapa poin yang berkaitan:1. Prinsip "Menyenangkan Hati Orang Lain" vs. Pelayanan Prima dalam PendidikanSeorang pemimpin satuan pendidikan dituntut memiliki orientasi pelayanan (service excellence) kepada siswa, guru, orang tua, dan masyarakat. Prinsip H. Juman—"berusaha menyenangkan hati orang lain walau tidak sesuai dengan keadaan kita"—merupakan wujud nyata dari filosofi customer satisfaction dalam konteks pendidikan. Kepala madrasah mungkin tidak selalu bekerja dalam zona nyaman, tetapi Ia harus berusaha memenuhi harapan semua pihak yang berkepentingan, dan demi kemajuan lembaga yang dipimpinnya. Namun prinsip ini tidak dapat diterjemahkan sebagai tindakan menyenangkan semua orang secara membabi buta (people pleasing), melainkan harus bersandar pada skala prioritas dan regulasi. 2. Nama "Berkah" sebagai Branding dan Nilai SpiritualBranding lembaga yang kuat mencerminkan nilai-nilai luhur. Pengubahan nama dari "Juman FC" menjadi "Berkah FC" menunjukkan kesadaran H. Juman akan pentingnya nilai spiritual dan harapan kolektif. Hal ini serupa dengan visi madrasah yang Ia pimpin: "Mewujudkan generasi yang beriman, berilmu, berakhlak mulia..." Keduanya menempatkan keberkahan dan akhlak sebagai fondasi utama, bukan sekadar prestasi materi semata.3. Kepemimpinan Partisipatif: Mendengar Masukan Kawan-KawanKesediaan H. Juman mengganti nama klub karena usulan "kawan-kawan" mencerminkan gaya kepemimpinan partisipatif (participative leadership). Kepala madrasah yang ideal tidak bersikap otoriter, tetapi membuka ruang dialog dengan guru, komite sekolah, dan siswa.4. Manajemen Talenta: Dilema Antusiasme vs. FormasiPengakuan H. Juman bahwa Ia "bingung memilih pemain karena semua bermain baik " adalah cerminan dari tantangan manajemen talenta di dunia pendidikan. Kepala madrasah sering dihadapkan pada kondisi kelebihan SDM yang berkualitas. Tugas pemimpin adalah menempatkan orang yang tepat di tempat yang tepat (the right man on the right place)—sama seperti menyusun formasi tim sepak bola. Antusiasme yang tinggi adalah berkah, tetapi jika tidak dikelola dengan sistem yang baik, dapat berubah menjadi dilema.5. Evaluasi Netral: Berdiri di Tengah sebagai PenontonJawaban H. Juman saat ditanya memilih tim mana jika All Star Kalsel bertemu Berkah FC—"Saya berdiri di tengah-tengah sebagai penonton, untuk memonitor dan mengevaluasi"—adalah praktik evaluasi yang objektif. Kepala madrasah tidak diperkenankan menunjukkan keberpihakan emosional kepada para guru yang dipimpinnya atau mengistimewakan program tertentu. Kepala madrasah harus menilai kinerja guru dan program berdasarkan instrumen evaluasi yang valid, transparan, dan terukur.6. Visi Berkelanjutan: Mengikuti Even Penting dan Menjadi JuaraVisi H. Juman untuk All Star Kalsel dan Berkah FC—mengikuti even penting dan menjadi juara— sejalan dengan manajemen berbasis target (Goal-Oriented Management). Sebuah madrasah eksis tidak hanya sekadar untuk memperoleh akreditasi atau mengikuti kompetisi akademik, tetapi bertekad meraih prestasi tertinggi. Praktik yang ditunjukkan oleh H. Juman membuktikan bahwa prinsip-prinsip manajemen umum bersifat lintas sektoral. Apa yang dipelajari di dunia sepak bola—seperti kerja sama tim, disiplin, strategi, taktik, dan evaluasi hasil pertandingan—sangat bisa diadopsi untuk memimpin lembaga pendidikan.
# EDUKASI
# Opini

EDUTECH: WADAH PENGEMBANGAN MAHASISWA PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS YANG INOVATIF DAN ADAPTIF

Abdul Aziz, M.Pd
8 Juni 2026
Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara guru merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran. Oleh karena itu, calon guru Bahasa Inggris tidak hanya dituntut menguasai materi dan keterampilan berbahasa, tetapi juga mampu menciptakan inovasi pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan peserta didik di era digital. Menjawab kebutuhan tersebut, Program Studi S1 Pendidikan Bahasa Inggris STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin menghadirkan program EDUTECH sebagai wadah pengembangan kompetensi mahasiswa dalam merancang dan menghasilkan inovasi pembelajaran berbasis teknologi.EDUTECH merupakan program pelatihan yang dirancang untuk membekali mahasiswa dengan kemampuan mengembangkan media, strategi, metode, dan bahan ajar yang kreatif, interaktif, serta sesuai dengan karakteristik pembelajaran abad ke-21. Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya belajar menggunakan teknologi dalam pembelajaran, tetapi juga didorong untuk menghasilkan berbagai inovasi yang dapat meningkatkan kualitas proses belajar mengajar. Mahasiswa diberikan kesempatan untuk mengeksplorasi berbagai platform digital, aplikasi pendidikan, serta teknologi berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) yang dapat diintegrasikan dalam pembelajaran Bahasa Inggris.Program ini sejalan dengan visi Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris yang berkomitmen menghasilkan lulusan yang inovatif, adaptif, dan mampu menjawab tantangan perkembangan dunia pendidikan. Melalui EDUTECH, mahasiswa dilatih untuk merancang pembelajaran yang lebih menarik, efektif, dan berpusat pada peserta didik. Berbagai keterampilan seperti pembuatan media pembelajaran interaktif, pengembangan game edukasi, desain bahan ajar digital, pemanfaatan Augmented Reality (AR), pengembangan website pembelajaran, hingga penggunaan Artificial Intelligence dalam pendidikan menjadi bagian dari pengalaman belajar mahasiswa.Salah satu manfaat utama EDUTECH adalah membantu mahasiswa mempersiapkan diri menghadapi kegiatan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) maupun program MBKM Asistensi Mengajar di sekolah dan berbagai lembaga pendidikan. Mahasiswa yang telah mengikuti pelatihan EDUTECH memiliki bekal keterampilan dalam merancang media pembelajaran digital, membuat presentasi yang menarik, mengembangkan aktivitas pembelajaran interaktif, serta memanfaatkan berbagai aplikasi pendidikan yang mendukung proses belajar mengajar. Bekal tersebut membuat mahasiswa lebih percaya diri saat memasuki kelas, lebih mudah beradaptasi dengan kebutuhan peserta didik, dan lebih siap menghadapi tantangan pembelajaran yang beragam di lapangan.Manfaat program ini juga dirasakan secara langsung oleh mahasiswa yang sedang menjalani program MBKM Asistensi Mengajar. Salah seorang mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris mengungkapkan:"Alhamdulillah, melalui EDUTECH ini saya bisa lebih kreatif dalam membuat berbagai media pembelajaran digital, dan ini sangat bermanfaat saat saya menyusun media ajar untuk program MBKM yang saat ini saya jalani."Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa keterampilan yang diperoleh melalui EDUTECH tidak hanya berhenti pada tahap pelatihan, tetapi dapat diterapkan secara nyata dalam kegiatan mengajar. Kemampuan mengembangkan media pembelajaran yang menarik, interaktif, dan sesuai dengan karakteristik peserta didik membantu mahasiswa melaksanakan tugas pembelajaran dengan lebih efektif. Testimoni ini menjadi bukti bahwa EDUTECH mampu menjembatani kebutuhan perkuliahan dengan tuntutan praktik di lapangan sehingga mahasiswa lebih siap menjalani MBKM, PPL, maupun profesi sebagai guru di masa depan.Sebagai bentuk implementasi hasil pelatihan, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris telah menghasilkan produk inovatif yang dapat digunakan secara langsung dalam pembelajaran. Produk-produk tersebut menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam mengintegrasikan teknologi dengan strategi pembelajaran Bahasa Inggris yang kreatif dan menarik.1. Media Pembelajaran Interaktif Berbasis Wordwall Media ini dikembangkan untuk meningkatkan keterlibatan peserta didik melalui aktivitas pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan.Link karya: https://wordwall.net/resource/1011719002. Bahan Ajar Digital Berbasis FlipbookBahan ajar digital yang memungkinkan peserta didik mengakses materi pembelajaran secara lebih fleksibel, menarik, dan mudah dipahami. Link karya: https://online.fliphtml5.com/meyim/gyxa/Karya ini menjadi bukti bahwa mahasiswa tidak hanya mempelajari teori pembelajaran di dalam kelas, tetapi juga mampu menghasilkan produk nyata yang dapat digunakan dalam kegiatan mengajar. Kemampuan ini menjadi modal penting ketika mahasiswa menjalani PPL, MBKM Asistensi Mengajar, maupun ketika memasuki dunia kerja sebagai pendidik profesional. Melalui EDUTECH, mahasiswa juga dilatih untuk mengembangkan kemampuan berpikir kreatif dan problem solving dalam menghadapi berbagai tantangan pembelajaran. Mahasiswa didorong untuk mengidentifikasi permasalahan yang sering muncul dalam proses belajar Bahasa Inggris, kemudian merancang solusi inovatif yang dapat membantu meningkatkan motivasi, keterlibatan, dan hasil belajar peserta didik. Dengan pendekatan ini, mahasiswa tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pencipta inovasi yang memberikan dampak nyata dalam dunia pendidikan.Dengan adanya EDUTECH, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin memperoleh ruang untuk berkreasi, bereksperimen, dan mengembangkan berbagai inovasi pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan pendidikan masa kini. Program ini menjadi salah satu keunggulan program studi dalam mempersiapkan calon pendidik yang tidak hanya kompeten dalam berbahasa Inggris, tetapi juga siap mengajar, mampu menciptakan solusi pembelajaran yang kreatif dan inovatif, serta memiliki pengalaman dalam mengembangkan media dan teknologi pembelajaran yang dapat diterapkan secara langsung di sekolah maupun lembaga pendidikan. Melalui EDUTECH, Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris terus berkomitmen mencetak lulusan yang profesional, adaptif, inovatif, dan siap menghadapi tantangan pendidikan abad ke-21.
# EDUKASI
# Opini

Mimbar Akademik STKIP Islam Sabilal Muhtadin: Ruang Bertumbuh bagi Sivitas Akademika

Novi Nurdian, M.Pd
5 Juni 2026
Setiap hari Rabu, suasana akademik di STKIP Islam Sabilal Muhtadin terasa lebih hidup melalui kegiatan Mimbar Akademik, sebuah forum pengembangan diri yang mempertemukan dosen dan tenaga kependidikan dalam ruang diskusi yang hangat dan inspiratif. Kegiatan ini menjadi wadah untuk berbagi gagasan, memperluas wawasan, sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia di lingkungan kampus.Mimbar Akademik dipandu oleh Wakil Ketua Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama, Ibu Yuliana Nurhayati, M.Pd., yang mampu menciptakan suasana diskusi yang interaktif dan penuh semangat. Dengan gaya moderasi yang komunikatif, setiap peserta diberi kesempatan untuk berpendapat dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis.Salah satu daya tarik utama kegiatan ini adalah kehadiran Bapak Iwan Perdana, Ph.D. sebagai pemateri tetap. Beliau dikenal sebagai akademisi yang memiliki wawasan luas, terutama dalam bidang pendidikan dan pengembangan kapasitas akademik. Penyampaian materi yang sistematis dan mudah dipahami membuat peserta selalu antusias mengikuti setiap sesi. Dalam setiap pertemuan, berbagai isu pendidikan menjadi bahan diskusi yang menarik. Mulai dari sejarah Pendidikan, tantangan pendidikan abad ke-21, inovasi pembelajaran, penguatan karakter peserta didik, hingga perkembangan kebijakan pendidikan nasional dibahas secara kritis dan konstruktif.Tidak hanya berfokus pada teori, Mimbar Akademik juga memberikan ruang praktik bagi peserta untuk mengasah keterampilan komunikasi. Kegiatan public speaking menjadi salah satu agenda yang paling diminati karena membantu peserta meningkatkan rasa percaya diri dalam menyampaikan gagasan di depan publik. Suasana semakin dinamis ketika sesi debat pendidikan dilaksanakan. Peserta diajak untuk menyampaikan argumentasi berdasarkan data dan pengalaman, sekaligus belajar menghargai sudut pandang yang berbeda. Kegiatan ini melatih kemampuan berpikir analitis dan keterampilan menyampaikan pendapat secara profesional.Bapak Iwan Perdana, Ph.D. tidak hanya berperan sebagai narasumber, tetapi juga sebagai fasilitator yang mendorong peserta untuk aktif bertanya dan berdiskusi. Beliau sering memberikan contoh-contoh nyata yang dekat dengan dunia pendidikan sehingga materi yang disampaikan terasa relevan dan aplikatif. Keikutsertaan dosen dan tenaga kependidikan dalam Mimbar Akademik menunjukkan komitmen STKIP Islam Sabilal Muhtadin untuk membangun budaya belajar sepanjang hayat. Forum ini menjadi bukti bahwa proses pembelajaran tidak hanya diperuntukkan bagi mahasiswa, tetapi juga bagi seluruh sivitas akademika.Melalui interaksi yang rutin setiap pekan, tercipta hubungan yang semakin erat antar peserta. Pertukaran pengalaman dan gagasan dari berbagai latar belakang pekerjaan memberikan perspektif baru yang memperkaya pemahaman bersama tentang dunia pendidikan. Mimbar Akademik telah menjadi salah satu program unggulan yang memberikan dampak positif bagi pengembangan kompetensi sivitas akademika STKIP Islam Sabilal Muhtadin. Dengan semangat kolaborasi, refleksi, dan pembelajaran berkelanjutan, kegiatan ini diharapkan terus menjadi ruang inspiratif yang melahirkan ide-ide inovatif untuk kemajuan pendidikan di masa depan.
# EDUKASI
# Opini

Wujud Nyata Visi STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin : Menyiapkan pendidik yang inspiratif, berkarakter, dan berkompeten.

Barendz Umar
5 Juni 2026
Visi STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin bukan sekadar rangkaian kata yang tertulis dalam dokumen institusi. Visi tersebut diwujudkan melalui berbagai program nyata yang memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa untuk tumbuh menjadi pendidik yang inspiratif, berkarakter, dan berkompeten.Salah satu bentuk implementasi visi tersebut adalah keterlibatan aktif mahasiswa dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Dalam setiap kegiatan pengabdian, mahasiswa tidak hanya menjadi peserta, tetapi terlibat secara langsung dalam proses perencanaan, persiapan, pelaksanaan program, hingga penyusunan laporan dan publikasi ilmiah. Pengalaman ini menjadi sarana pembelajaran yang sangat berharga untuk mengembangkan kemampuan akademik, sosial, dan profesional mereka.Sebagai contoh, dalam salah satu program pengabdian yang kami laksanakan, mahasiswa bersama dosen mengenalkan konsep dasar coding kepada siswa sekolah dasar melalui gambar, permainan, dan berbagai ilustrasi sederhana yang menarik. Pembelajaran disampaikan menggunakan kombinasi Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris sederhana agar mudah dipahami oleh peserta sekaligus memperkenalkan kosakata bahasa Inggris dalam konteks yang menyenangkan.Program ini tidak hanya bertujuan memperkenalkan teknologi kepada anak-anak sejak dini, tetapi juga melatih kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, kreativitas, serta menumbuhkan kesiapan menghadapi perkembangan dunia digital. Penggunaan Bahasa Inggris dalam kegiatan tersebut menjadi nilai tambah yang tidak hanya memberikan pengalaman praktik nyata bagi mahasiswa, tetapi juga membantu memperluas wawasan global peserta didik sejak usia dini.Kegiatan ini mencerminkan salah satu pilar penting visi STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, yaitu menyiapkan pendidik inspiratif melalui pengabdian tepat guna. Dosen berperan sebagai teladan yang membimbing mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmu pengetahuan dalam praktik nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Dengan demikian, proses pendidikan tidak berhenti di ruang kuliah, tetapi hadir langsung di tengah masyarakat melalui berbagai program yang relevan dan solutif.Di sisi lain, penggunaan Bahasa Inggris  juga menjadi bagian dari upaya mewujudkan pendidik yang berkompeten :  memiliki wawasan kebangsaan yang kuat, sekaligus mampu beradaptasi dengan perkembangan dunia internasional.Inilah komitmen yang terus kami wujudkan di STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin: membentuk generasi pendidik yang tidak hanya menguasai teori, tetapi juga mampu menginspirasi, mengabdi, dan membawa perubahan positif bagi masyarakat. Wujud nyata ini kami persembahkan untuk masyarakat. Yuk, bergabung bersama STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin dan jadilah pendidik inspiratif, berkarakter dan berkompeten yang siap berkarya, mengabdi, dan membawa perubahan bagi masa depan bangsa.
# EDUKASI
# Opini

Stop Bullying: Kampus Hadir Membangun Lingkungan yang Aman, Ramah, dan Berkarakter

Rizki Nugerahani Ilise, M.Pd
5 Juni 2026
Kampus bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang pembentukan karakter, kepedulian, dan kemanusiaan. Di lingkungan pendidikan tinggi, setiap mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan memiliki peran penting dalam menciptakan suasana belajar yang aman, nyaman, dan saling menghargai. Karena itu, kegiatan bertema “Stop Bullying”menjadi salah satu langkah nyata kampus dalam membangun budaya akademik yang sehat, inklusif, dan beradab.Bullying atau perundungan dapat terjadi dalam berbagai bentuk, mulai dari ucapan yang merendahkan, ejekan, pengucilan, tekanan sosial, hingga tindakan yang menyakiti secara fisik maupun psikologis. Di era digital, perundungan juga dapat muncul melalui media sosial dalam bentuk komentar negatif, penyebaran informasi pribadi, atau penghinaan secara daring. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran untuk menghentikan bullying harus terus ditanamkan, terutama di lingkungan kampus sebagai pusat pendidikan dan pembentukan generasi masa depan.Melalui kegiatan Stop Bullying, kampus menunjukkan komitmennya untuk menjadi tempat yang aman bagi seluruh civitas akademika. Kegiatan ini dapat dikemas dalam bentuk seminar, kampanye edukatif, diskusi mahasiswa, pelatihan komunikasi positif, pembuatan poster, deklarasi anti-bullying, hingga aksi kreatif di media sosial. Dengan melibatkan mahasiswa dan dosen secara aktif, pesan anti-perundungan dapat tersampaikan secara luas dan berdampak nyata.Rizki Nugerahani Ilise, M.PdPeran mahasiswa sangat penting dalam gerakan ini. Sebagai generasi muda yang aktif, kreatif, dan dekat dengan kehidupan sosial kampus, mahasiswa dapat menjadi agen perubahan dalam menciptakan lingkungan yang lebih peduli. Melalui organisasi kemahasiswaan, komunitas, dan unit kegiatan mahasiswa, gerakan Stop Bullying dapat dikembangkan menjadi budaya bersama. Mahasiswa tidak hanya diajak untuk tidak melakukan perundungan, tetapi juga berani menolak, mencegah, dan membantu teman yang menjadi korban.Dosen juga memiliki peran besar dalam mendukung terciptanya kampus bebas bullying. Sebagai pendidik dan pembimbing, dosen dapat menanamkan nilai-nilai etika, empati, tanggung jawab, dan penghargaan terhadap perbedaan dalam proses pembelajaran. Dosen dapat menjadi teladan dalam membangun komunikasi yang santun, menghargai pendapat mahasiswa, serta menciptakan ruang diskusi yang terbuka dan aman. Dengan begitu, suasana akademik akan menjadi lebih manusiawi dan mendukung perkembangan potensi mahasiswa.Kegiatan Stop Bullying juga menjadi bukti bahwa kampus tidak hanya fokus pada prestasi akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter. Kampus yang unggul adalah kampus yang mampu mencetak lulusan cerdas, berintegritas, peduli, dan mampu hidup berdampingan dengan orang lain. Lingkungan yang bebas dari bullying akan membuat mahasiswa lebih percaya diri, berani berpendapat, aktif berkarya, dan nyaman mengembangkan potensi diri. Selain itu, kampanye Stop Bullying dapat memperkuat citra positif kampus di mata masyarakat. Orang tua dan calon mahasiswa tentu menginginkan lingkungan pendidikan yang tidak hanya berkualitas, tetapi juga aman dan mendukung kesehatan mental. Dengan adanya kegiatan seperti ini, kampus menunjukkan bahwa pendidikan sejati tidak hanya membentuk kecerdasan, tetapi juga membangun hati nurani.Melalui semangat Stop Bullying, kampus mengajak seluruh civitas akademika untuk bersama-sama menghentikan segala bentuk perundungan. Setiap orang berhak dihargai, didengar, dan diperlakukan dengan baik. Kampus harus menjadi rumah belajar yang ramah, tempat setiap individu tumbuh tanpa rasa takut, serta ruang untuk saling mendukung dalam meraih masa depan. Dengan komitmen bersama antara mahasiswa, dosen, dan seluruh warga kampus, gerakan Stop Bullying bukan hanya menjadi slogan, tetapi menjadi budaya. Inilah wajah kampus yang maju: kampus yang cerdas, peduli, berkarakter, dan berani menciptakan perubahan positif bagi masyarakat.
# EDUKASI
# Pengabdian

  Youtube

Surah Ar-Rahman | Aniq Muhai

  Informasi

Selamat Hari Guru Nasional
Arah Pendidikan Nasional & Transformasi Pendidikan Lokal di Daerah
Kupas Tuntas: Kurikulum, Inklusi, dan Seni di Sekolah Dasar
Momentum Kebangkitan Nasional Melalui Peningkatan Kualitas Pendidikan