Beranda > Edukasi

  Postingan Terbaru

Fun Walk dan Lomba Kemerdekaan, BEM Hadirkan Kebersamaan bagi Seluruh Sivitas Akademika

Yuliana Nurhayati
31 Agustus 2026
Fun Walk dan Lomba Kemerdekaan, BEM Hadirkan Kebersamaan bagi Seluruh Sivitas AkademikaSabtu, 28 Agustus 2026 – Sebanyak sekitar 50 orang yang terdiri atas mahasiswa, dosen, serta tenaga kependidikan (tendik) mengikuti kegiatan Fun Walk dan serangkaian perlombaan yang diselenggarakan di lingkungan kampus STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin. Kegiatan yang berlangsung pada akhir pekan tersebut merupakan inisiatif Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) sebagai upaya mempererat hubungan antarelemen sivitas akademika sekaligus menggalakkan pola hidup sehat di tengah kesibukan kampus.ditentukan dengan tertib dan penuh semangat.  Setelah Fun Walk selesai, kegiatan dilanjutkan dengan serangkaian perlombaan, antara lain tarik tambang, makan kerupuk, kecepatan memenuhi air dalam botol, dan kekompakan bermain pecah balon. Setiap perlombaan diikuti oleh perwakilan dari tiga elemen kampus, sehingga tercipta persaingan yang sehat dan sportif. Perlombaan berlangsung dengan penuh semangat dan diwarnai gelak tawa serta sorak-sorai para pendukung. Di akhir acara, dilakukan penyerahan hadiah dan penghargaan kepada para pemenang. Meskipun hadiah yang diberikan bersifat sederhana, semangat dan kekompakan yang ditunjukkan dinilai lebih berharga oleh seluruh peserta.   Kegiatan ini diselenggarakan oleh panitia yang terdiri atas sejumlah mahasiswa berdedikasi, di antaranya Wulan Mardhtillah, Najwa Az-Zahra Rahman, Zahratu Syifa Ayuna, Fahriati, Risna Nurul Azmi, dan M. Eka Pradifa. Dengan kerja sama dan koordinasi yang solid, mereka berhasil menghadirkan acara yang berkesan bagi seluruh peserta meskipun dilaksanakan dalam skala terbatas. Ketua BEM selaku ketua pelaksana mengungkapkan bahwa Fun Walk kali ini menjadi pengalaman berkesan baginya. Ia mengakui sempat merasa khawatir menghadapi berbagai kendala selama persiapan hingga pelaksanaan. Namun, dari situ ia belajar bahwa kerja sama, komunikasi, dan saling membantu merupakan kunci utama agar acara berjalan dengan baik. Ia juga menyampaikan apresiasi terhadap semangat para peserta, termasuk dosen yang turut memeriahkan acara. Meskipun masih terdapat kekurangan, ia menegaskan bahwa hal tersebut akan dijadikan bahan evaluasi dan pembelajaran untuk kegiatan mendatang. 
# EDUKASI
# Galeri

Merayakan Pencapaian, Menyambut Masa Depan

Maulidha
28 Agustus 2026
Suatu perjalanan panjang di setiap hasil yang terlihat luar biasa untuk mendapatkan pencapaian yang diharapkan, Wisuda tidak hanya berkaitan dengan toga, ijazah, atau suatu gelar yang akhirnya berhasil didapat, melainkan bagaimana semua jalan dan pengalaman yang pernah dirasakan hingga sampai pada tahap ini. Rasa haru dan simpati tersendri Ketika mahasiswa yang pernah datang berbagi cerita dan idenya tentang sebuah skripsi, tetapi pada wisuda ini meraka berdiri dengan toga dan senyum yang manis penuh kebahagiaan.  Bagi seorang dosen, perjalanan itu bukan hanya sekedar perkulihan dan menyelesaikan sebuha karya ilmiah, melainkan menyaksikan sesorang tumbuh melalui proses yang tidak selalu mudah.Dalam perjalanan bimbingan, dosen mungkin hanya hadir pada bagian-bagian tertentu, memberikan pertanyaan untuk mereka ulas dan diperbaiki lagi serta memberikan masukan Dalam perjalanan bimbingan, dosen mungkin hanya hadir pada bagian-bagian tertentu. Saya memberikan pertanyaan ketika ada hal yang perlu dipikirkan kembali, memberikan masukan ketika tulisan masih perlu diperbaiki, dan memberikan arahan ketika langkah mulai terasa kurang jelas. Tetapi setelah setiap pertemuan selesai, mahasiswa kembali melanjutkan perjuangannya sendiri. Di sanalah sesungguhnya keteguhan itu diuji.Bagi pengejar mimpi yang tidak pantang menyerah, dalam perjalanan ada begitu banyak hari ketika langkah terasa berat, ketika rasa lelah datang bersamaan dengan keraguan, ketika keinginan untuk berhenti terasa begitu dekat. Tetapi semangat mereka terus membara, yaitu tentang masa depan yang ingin mereka wujudkan, mimpi terus belajar, berkembang, menjadi pribadi yang lebih baik dengan membawa gelar S.Pd dari STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin. Memberikan kebanggaan terhadap institusi dan membawa manfaat untuk orang lain.Belajar bahwa keberhasilan tidak hanya dicapai dengan cara mudah, tetapi dengan perjuangan dan mampu bertahan Ketika perjalanan terasa sulit. Sebagai dosen pembimbing, saya melihat mimpi-mimpi yang ingin diwujudkan mahasiswa yang berkuliah di STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, kesempatan mengembangkan diri, dan membangun karir yang lebih baik, walaupun jalan terkadang berliku dan penuh hambatan.Pelan-pelan, tanpa banyak disadari, proses itu membentuk sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar sebuah skripsi. Ia membentuk ketekunan, kesabaran, keberanian untuk mencoba kembali, dan keyakinan bahwa sesuatu yang dimulai dengan sungguh-sungguh layak diperjuangkan sampai selesai. Sebagai dosen pembimbing, saya mungkin hanya hadir melalui beberapa pertemuan, memberikan masukan, mengajukan pertanyaan, atau menunjukkan bagian yang masih perlu diperbaiki. Tetapi di luar ruang bimbingan, ada perjuangan yang sepenuhnya menjadi milik mahasiswa itu sendiri. Ada waktu yang diberikan, ada pikiran yang dicurahkan, ada rasa lelah yang mungkin tidak sempat diceritakan, dan ada doa-doa yang menyertai setiap langkahnya. Karena itu, ketika akhirnya skripsi tersebut selesai, kebahagiaan yang terasa bukan hanya karena sebuah tugas telah dituntaskan, tetapi karena saya tahu bahwa ada sebuah mimpi yang sedang berjalan menuju kenyataan.Karena pada akhirnya, kesuksesan tidak hanya seberapa tinggi kita mencapai sebuah posisi dan apa yang kita dapatkan, melainkan tentang makna perjalanan yang kita Jalani dan seberapa besar manfaat yang kita berikan dari apa yang kita miliki dan perjuangkan.Saya sangat bersyukur, dan bangga terhadap mahasiswa STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin yang telah mencapai titik awal sebuah mimpi, wisuda adalah bukti bahwa perjuangan haruslah didapat dari berbagai pengalaman dan pengetahuan yang luas.   
# EDUKASI
# Opini

Fun & Team Building STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin: Satu Jiwa, Kompak, Tangguh, Hebat, dan Bersama

Novi Nurdian, M.Pd
28 Agustus 2026
Suasana penuh semangat dan kebersamaan mewarnai kegiatan Fun & Team Building Sivitas Akademika STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin yang dilaksanakan pada Sabtu, 9 Agustus 2026, bertempat di Kebun Raya Banua, Kota Banjarbaru. Di tengah suasana hijau dan asri, para dosen dan tenaga kependidikan sejenak meninggalkan rutinitas pekerjaan untuk berkumpul, berinteraksi, dan membangun kekompakan. Mengusung tema “Satu Jiwa: Kompak, Tangguh, Hebat, dan Bersama”, kegiatan ini menjadi ruang penyegaran sekaligus momentum mempererat hubungan antarsivitas akademika.Kegiatan Fun & Team Building ini diinisiasi oleh Wakil Ketua Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, Ibu Yuliana Nurhayati, M.Pd. Kegiatan dirancang bukan sekadar sebagai aktivitas rekreasi, tetapi juga sebagai sarana memperkuat komunikasi, kerja sama, rasa saling percaya, dan solidaritas di lingkungan institusi. Nilai-nilai tersebut menjadi modal penting dalam membangun budaya kerja yang sehat dan produktif, terutama karena keberhasilan perguruan tinggi merupakan hasil kolaborasi seluruh unsur sivitas akademika.Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan oleh Ibu Yuliana Nurhayati, M.Pd. Dalam suasana santai namun penuh semangat, peserta diajak memaknai kegiatan sebagai kesempatan untuk membangun kebersamaan di luar lingkungan kerja formal. Selepas pembukaan, seluruh peserta yang terdiri atas dosen dan tenaga kependidikan dibagi menjadi tiga kelompok. Pembagian kelompok membuat suasana semakin hidup karena setiap peserta harus segera beradaptasi, berkomunikasi, dan menyusun strategi bersama anggota timnya.Keseruan semakin terasa ketika masing-masing kelompok mendapat kesempatan menampilkan yel-yel tim. Setiap kelompok berusaha menunjukkan identitas, kreativitas, dan semangat terbaiknya. Teriakan penyemangat, gerakan kompak, serta ekspresi penuh antusiasme menghadirkan gelak tawa sekaligus membangun energi positif di antara peserta. Aktivitas sederhana tersebut memperlihatkan bahwa kekompakan dapat tumbuh ketika setiap anggota memperoleh ruang untuk berpartisipasi dan memberikan kontribusi bagi kelompok.Memasuki kegiatan inti, peserta mengikuti tiga permainan seru yang dipandu oleh tim event organizer. Berbagai tantangan menuntut peserta untuk bekerja sama, mengatur strategi, menjaga koordinasi, dan menyelesaikan permainan sebagai satu tim. Dalam salah satu permainan, misalnya, peserta harus mengendalikan media permainan menggunakan sejumlah tali secara bersama-sama. Keberhasilan tidak ditentukan oleh kekuatan seorang individu, melainkan oleh kemampuan seluruh anggota menyelaraskan gerakan dan memahami perannya. Di sinilah makna team building benar-benar hadir dalam pengalaman nyata.Menariknya, kompetisi antarkelompok tidak mengurangi suasana kekeluargaan. Justru melalui permainan, batas-batas komunikasi yang biasanya terbentuk karena kesibukan dan pembagian tugas sehari-hari menjadi lebih cair. Dosen dan tenaga kependidikan dapat saling menyemangati, tertawa bersama, bahkan belajar menghadapi kegagalan dalam permainan dengan suasana menyenangkan. Setelah menyelesaikan rangkaian games, peserta beristirahat dan menikmati makan bersama serta hiburan, sehingga interaksi antarpeserta berlangsung semakin hangat dan akrab.Kebersamaan tersebut kemudian mencapai salah satu momen yang paling dinantikan, yaitu pengumuman tim pemenang. Trofi diserahkan kepada ketua tim pemenang oleh Pendiri STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, Bapak Iwan Perdana, Ph.D. Penyerahan trofi bukan semata-mata menjadi simbol kemenangan dalam permainan, tetapi juga menjadi apresiasi terhadap kerja sama, strategi, semangat, dan kekompakan tim. Foto bersama yang mengabadikan kebahagiaan peserta semakin melengkapi rangkaian kegiatan pada hari tersebut. Pada akhirnya, Fun & Team Building STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin meninggalkan lebih dari sekadar cerita tentang permainan dan rekreasi. Kegiatan ini menghadirkan pengalaman bersama yang memperkuat rasa memiliki terhadap institusi, membangun komunikasi positif, dan menumbuhkan semangat untuk bekerja sebagai satu kesatuan. Tema “Satu Jiwa: Kompak, Tangguh, Hebat, dan Bersama” pun tidak berhenti sebagai slogan kegiatan, melainkan menjadi pesan yang diharapkan terus hidup dalam keseharian sivitas akademika: bergerak bersama, saling menguatkan, dan bertumbuh bersama untuk memajukan STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin.
# EDUKASI
# Galeri

STKIP Islam Sabilal Muhtadin Gelar Seminar Nasional PAUD, Dorong Guru Melek Asesmen Digital

Yuliana Nurhayati
28 Agustus 2026
Banjarmasin, 5 Juni 2026 – Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin sukses menyelenggarakan Seminar Nasional bertema "Teknologi Asesmen Tumbuh Kembang Anak Usia Dini: Optimalisasi Aplikasi Digital bagi Guru PAUD" pada Kamis (4/6). Kegiatan yang berlangsung secara hybrid ini menjadi wadah strategis bagi para pendidik untuk meningkatkan kompetensi dalam menilai perkembangan anak di era Kurikulum Merdeka.Seminar yang digelar di Kantor Korwil Pendidikan Kecamatan Tamban dan disiarkan secara daring melalui Zoom ini diikuti oleh 150 peserta yang terdiri dari guru PAUD, mahasiswa, serta praktisi pendidikan dari berbagai daerah. Antusiasme peserta terbilang sangat tinggi, tercermin dari tingkat kehadiran yang mencapai 98,5 persen dan keaktifan peserta dalam sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif.Ketua Panitia Seminar Nasional, Maulidha, M.Pd., dalam sambutannya menyampaikan bahwa sebagian guru PAUD yang belum memahami sepenuhnya konsep asesmen sesuai Kurikulum Merdeka."Padahal, di sisi lain teknologi digital sudah sangat maju dan bisa menjadi solusi untuk mendokumentasikan tumbuh kembang anak secara lebih sistematis. Seminar ini hadir untuk menjembatani kesenjangan antara teknologi dan kompetensi guru di lapangan," ujarnya.Seminar ini menghadirkan dua narasumber kompeten di bidangnya. Narasumber pertama, Yuliana Nurhayati, M.Pd., dosen PAUD STKIP Islam Sabilal Muhtadin, memaparkan materi mengenai tumbuh kembang anak usia dini. Sementara itu, narasumber kedua, Luluk Mukaromah, M.Pd., dosen dari Universitas Islam KH. Ahmad Muzzakki Syah Jember, memperkenalkan berbagai aplikasi inovatif seperti Mobile Assessment, Digital Portfolio, Online Checklist, hingga IA-Based Assessment. Sesi diskusi yang dipandu moderator Rizki Nugerahani Ilise, M.Pd., berjalan dinamis dengan banyaknya pertanyaan dari peserta yang antusias mendalami materi.Salah satu capaian utama dari kegiatan ini adalah peningkatan pemahaman peserta yang signifikan. Berdasarkan hasil pretest dan posttest yang dilakukan panitia, mayoritas guru PAUD tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mengoperasikan aplikasi asesmen digital secara mandiri. Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang menyatakan komitmen untuk segera mengadopsi fitur pencatatan perkembangan harian berbasis digital di sekolah masing-masing.Dampak positif dari seminar ini pun telah mulai terasa sebelum kegiatan usai. Para guru mengaku mendapatkan perspektif baru bahwa asesmen tidak lagi harus dilakukan secara manual dengan tumpukan kertas, melainkan dapat terekam secara real-time dan lebih akurat melalui gawai. Mereka juga menyadari bahwa teknologi justru memudahkan pemantauan perkembangan anak secara individual, sehingga intervensi dini terhadap hambatan tumbuh kembang dapat segera dilakukan. Di sisi lain, para mahasiswa peserta merasakan manfaat akademik yang besar karena mendapatkan gambaran konkret tentang praktik asesmen digital yang belum sepenuhnya mereka peroleh di bangku kuliah. Dampak berantai ini diharapkan terus meluas, karena para guru yang telah terlatih akan menjadi agen perubahan bagi rekan-rekan sejawat di lingkungan kerja masing-masing, sehingga terjadi efek berganda peningkatan kualitas PAUD secara kolektif. Dengan demikian, seminar ini tidak hanya berhenti pada transfer ilmu satu hari, tetapi menciptakan gerakan transformasi pembelajaran berbasis digital yang berkesinambungan.Seminar yang dirangkaikan dengan penyerahan sertifikat dan doorprize ini juga dihadiri oleh jajaran sivitas akademika STKIP Islam Sabilal Muhtadin serta perwakilan dari Dinas Pendidikan setempat. Acara berlangsung lancar hingga pukul 12.30 WITA dan ditutup dengan sesi foto bersama. Melalui kegiatan ini, STKIP Islam Sabilal Muhtadin berharap dapat terus berkontribusi dalam peningkatan kualitas pendidikan anak usia dini di Kalimantan Selatan, khususnya melalui pemanfaatan teknologi yang relevan dan tepat guna. Seminar ini sekaligus menjadi bukti nyata pengabdian perguruan tinggi kepada masyarakat dalam mendukung terwujudnya generasi emas yang cerdas dan berkarakter.
# EDUKASI
# Pengabdian

Outbound Dosen dan Staf STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin

Gunawan Junaidi Kang Billy Manopo
28 Agustus 2026
Pada Minggu, 9 Agustus 2026, dosen dan staf STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin melaksanakan kegiatan outbound di Kebun Raya Banua, Banjarbaru. Kegiatan ini menjadi momen untuk melepas penat dari rutinitas pekerjaan dan aktivitas akademik, sekaligus mempererat kebersamaan serta kekeluargaan antarstaf dan dosen. Kegiatan outbound berlangsung dalam suasana yang penuh keceriaan dan semangat. Berbagai permainan dan aktivitas kelompok dirancang untuk membangun komunikasi, kerja sama, kekompakan, serta menciptakan suasana yang lebih santai di antara para peserta. Melalui kegiatan ini, dosen dan staf mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi di luar lingkungan kampus. Momen tersebut menjadi ruang untuk saling mengenal lebih dekat, berbagi cerita, bercanda, serta membangun hubungan kerja yang semakin harmonis. Suasana hijau dan asri di Kebun Raya Banua turut memberikan pengalaman yang menyegarkan. Berada di lingkungan terbuka dengan nuansa alam membuat kegiatan terasa lebih rileks dan menyenangkan. Berbagai momen kebersamaan juga diabadikan sebagai kenangan bersama. Selain sebagai sarana rekreasi, outbound juga memiliki nilai penting dalam membangun teamwork, komunikasi, kepemimpinan, tanggung jawab, dan solidaritas. Kekompakan yang dibangun melalui kegiatan bersama diharapkan dapat terbawa ke lingkungan kerja sehingga tercipta suasana kerja yang semakin positif dan produktif. Kegiatan outbound ini menjadi salah satu bentuk kebersamaan keluarga besar STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin. Dengan semangat kebersamaan, dosen dan staf diharapkan semakin solid dalam menjalankan tugas dan memberikan kontribusi terbaik bagi kemajuan institusi. 
# EDUKASI
# Opini

Peran Tenaga Kependidikan yang Aktif dalam Organisasi Perpustakaan dan Kepustakawanan

Muhammad Juanda
28 Agustus 2026
Tenaga kependidikan (tendik) memiliki peran penting dalam mendukung penyelenggaraan pendidikan tinggi, khususnya dalam memastikan berbagai layanan akademik dan administrasi berjalan secara efektif. Salah satu bidang yang memiliki kontribusi strategis adalah perpustakaan. Dalam perkembangannya, seorang tendik yang aktif di dunia organisasi perpustakaan dan kepustakawanan tidak hanya menjalankan tugas administratif, tetapi juga berperan dalam membangun jejaring, meningkatkan kompetensi, serta mendorong inovasi layanan perpustakaan.Keaktifan dalam organisasi perpustakaan dan kepustakawanan menjadi salah satu bentuk pengembangan profesional bagi seorang tendik. Melalui organisasi, seorang tendik dapat memperoleh kesempatan untuk bertukar pengalaman, berbagi pengetahuan, mengikuti kegiatan ilmiah, serta memahami berbagai perkembangan terbaru dalam pengelolaan perpustakaan. Organisasi juga menjadi ruang yang strategis untuk membangun komunikasi dan kolaborasi dengan pustakawan maupun pengelola perpustakaan dari berbagai perguruan tinggi dan lembaga lainnya.Di Kalimantan Selatan, khususnya Kota Banjarmasin, aktivitas organisasi perpustakaan dan kepustakawanan memiliki peran penting dalam memperkuat ekosistem literasi. Keberadaan berbagai kegiatan seperti seminar, pelatihan, diskusi, workshop, sosialisasi, dan kegiatan literasi memberikan ruang bagi tendik untuk terus meningkatkan kapasitas dan wawasan. Keterlibatan secara aktif dalam kegiatan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan kompetensi tidak hanya dilakukan melalui pendidikan formal, tetapi juga melalui pengalaman organisasi dan interaksi profesional.Seorang tendik yang aktif dalam organisasi juga memiliki peluang lebih besar untuk memberikan kontribusi terhadap peningkatan kualitas layanan perpustakaan di lingkungan perguruan tinggi. Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh dari organisasi dapat diterapkan dalam pengembangan layanan, pemanfaatan teknologi informasi, promosi perpustakaan, literasi informasi, pengelolaan koleksi, hingga peningkatan kualitas pelayanan kepada mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan lainnya.Selain meningkatkan kompetensi pribadi, keaktifan berorganisasi juga membangun kemampuan kepemimpinan, komunikasi, kerja sama, manajemen kegiatan, dan pemecahan masalah. Kemampuan tersebut sangat relevan dengan tuntutan pekerjaan di perguruan tinggi yang semakin dinamis. Seorang tendik tidak hanya dituntut mampu menyelesaikan pekerjaan rutin, tetapi juga harus mampu beradaptasi dengan perubahan dan memberikan gagasan yang mendukung kemajuan institusi.Dalam konteks organisasi profesi, keterlibatan tendik juga dapat menjadi jembatan antara kebutuhan institusi dengan perkembangan dunia kepustakawanan. Melalui jejaring yang dibangun, berbagai praktik baik dapat dibagikan dan dikembangkan bersama. Kolaborasi antarpustakawan dan tenaga kependidikan dapat melahirkan program yang lebih kreatif, relevan, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat akademik.Pada akhirnya, menjadi tendik yang aktif dalam organisasi perpustakaan dan kepustakawanan bukan sekadar tentang keikutsertaan dalam berbagai kegiatan, tetapi merupakan bentuk komitmen terhadap pengembangan profesionalisme dan kemajuan perpustakaan. Keaktifan tersebut diharapkan mampu memberikan manfaat tidak hanya bagi individu, tetapi juga bagi institusi, organisasi profesi, dan masyarakat. Dengan semangat kolaborasi, pembelajaran berkelanjutan, dan inovasi, tendik dapat menjadi bagian penting dalam mewujudkan perpustakaan perguruan tinggi yang adaptif, profesional, dan mampu memberikan layanan berkualitas di era transformasi digital.
# EDUKASI
# Opini

Semarak 17 Agustus Civitas Akademika STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin di Kebun Raya Banua

Muhammad Supian Sauri
28 Agustus 2026
Suasana Kebun Raya Banua Banjarbaru terasa semakin semarak ketika civitas akademika STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin berkumpul untuk merayakan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Di tengah suasana hijau dan sejuk, tawa terdengar dan berbagai kegiatan berlangsung dengan penuh keceriaan. Dosen dan tenaga kependidikan yang biasanya sibuk dengan perkuliahan, pelayanan, administrasi, dan berbagai tugas kampus, kali ini berkumpul dalam suasana yang lebih santai dan akrab. Berbagai perlombaan dan permainan membuat suasana semakin ramai. Ada yang serius mengejar kemenangan, ada yang penuh semangat mengikuti permainan, dan tentu saja ada yang justru lebih banyak membuat suasana menjadi lucu dan mengundang tawa. Kebun Raya Banua pun menjadi saksi bagaimana keluarga besar STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin menikmati momen kemerdekaan dengan penuh kebersamaan.Keseruan kegiatan 17 Agustus kali ini ternyata bukan hanya tentang siapa yang menjadi juara. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi kesempatan untuk mempererat hubungan antara dosen dan tenaga kependidikan. Di tengah kesibukan menjalankan tugas masing-masing, momen seperti ini memberikan ruang untuk saling bercanda, saling menyemangati, dan menikmati kebersamaan tanpa suasana yang terlalu formal. Ada yang memberikan dukungan kepada teman, ada yang tertawa melihat aksi peserta lain, bahkan ada yang tetap percaya diri meskipun akhirnya belum berhasil menjadi pemenang. Semua itu justru membuat kegiatan semakin hidup. Karena dalam sebuah kebersamaan, bukan hanya kemenangan yang penting, tetapi bagaimana kita bisa menikmati proses, membangun kekompakan, dan menciptakan kenangan bersama.Menariknya, kegiatan sederhana seperti perlombaan juga memiliki banyak pelajaran yang berkaitan dengan pendidikan. Dari permainan, kita belajar tentang kerja sama, sportivitas, disiplin mengikuti aturan, menghargai orang lain, mengendalikan emosi, serta menerima kemenangan dan kekalahan dengan lapang dada. Nilai-nilai tersebut merupakan bagian penting dari pendidikan karakter. Pendidikan tidak hanya hadir dalam kegiatan perkuliahan atau pekerjaan sehari-hari, tetapi juga dapat tumbuh melalui pengalaman, interaksi, dan kebersamaan. Bahkan dari sebuah permainan yang penuh tawa, kita dapat belajar bahwa keberhasilan tidak selalu dicapai sendirian. Dibutuhkan kerja sama, komunikasi, dan sikap saling mendukung untuk mencapai tujuan bersama.Semangat tersebut tentu sejalan dengan visi STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin sebagai kampus yang Inspiratif, Berkarakter, dan Berkompeten. Kegiatan bersama seperti ini menjadi ruang sederhana untuk mewujudkan nilai tersebut dalam kehidupan kampus. Inspiratif melalui kegiatan yang memberikan energi positif dan suasana baru, berkarakter melalui sikap kebersamaan, sportivitas, tanggung jawab, dan semangat kebangsaan, serta berkompeten melalui kemampuan untuk berkomunikasi, bekerja sama, dan memberikan kontribusi terbaik. Apalagi kegiatan dilaksanakan di ruang terbuka seperti Kebun Raya Banua, suasana menjadi lebih rileks dan menyenangkan. Kampus bukan hanya tempat untuk menjalankan tugas akademik dan administratif, tetapi juga tempat untuk membangun hubungan yang baik, menguatkan kebersamaan, dan menumbuhkan budaya kerja yang positif.Pada akhirnya, perayaan 17 Agustus di Kebun Raya Banua Banjarbaru bukan sekadar kegiatan untuk memeriahkan Hari Kemerdekaan. Ada semangat kebersamaan, kegembiraan, kekompakan, dan nilai pendidikan yang ikut tumbuh di dalamnya. Jika para pahlawan dahulu berjuang untuk merebut kemerdekaan, maka tugas kita sekarang adalah mengisi kemerdekaan dengan bekerja, berkarya, mendidik, dan memberikan kontribusi terbaik bagi bangsa. Dari lingkungan kampus, semangat itu terus dibangun bersama. Karena membangun pendidikan tidak selalu harus dilakukan dalam suasana yang serius. Sesekali bermain, tertawa, bercanda, dan merayakan kemerdekaan bersama juga menjadi bagian dari upaya membangun lingkungan kerja dan pendidikan yang sehat serta menyenangkan. Seru kegiatannya, kuat kebersamaannya, dan tetap membawa nilai pendidikan. Merdeka!
# EDUKASI
# Opini

STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin Hadirkan Pembelajaran Berkesan Melalui Outing Class di Museum Wasaka

Tiara Mardina
28 Agustus 2026
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin pada tanggal 16 Juli 2026 melaksanakan kegiatan outing class mata kuliah Introduction to Speaking di Museum Wasaka. Outing class ini dipandu oleh dosen pengampu, Tiara Mardina, M.Pd., yang sejak awal memberikan arahan dan contoh terlebih dahulu sebelum mahasiswa melakukan observasi terhadap benda-benda di museum. Dengan adanya arahan langsung dari dosen, mahasiswa lebih siap dan percaya diri ketika harus mendeskripsikan objek bersejarah dalam bahasa Inggris.Tiara Mardina, M.Pd memberikan arahan mengenai kegiatan obsrvasi di Museum WasakaMahasiswa bersama kelompoknya mengobservasi dan membuat deskripsi dari objek yang ada di museumKegiatan berlangsung dengan penuh semangat dan kekeluargaan. Mahasiswa dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil, lalu bekerja sama menyusun deskripsi berbahasa Inggris tentang benda-benda koleksi museum. Objek yang dipilih beragam, mulai dari senjata tradisional, pakaian pejuang, dokumen perjuangan, hingga foto-foto bersejarah. Mereka kemudian membuat video deskripsi yang melatih keberanian, kepercayaan diri, serta keterampilan berbicara bahasa Inggris secara lebih natural. Dengan berhadapan langsung pada objek nyata, mahasiswa belajar menyusun kalimat, memilih kosakata yang tepat, dan menyampaikan pesan dengan ekspresi yang meyakinkan.Mahasiswa berkelompok membuat video deskripsi objek di museum WasakaMelatih kepercayaan diri dalam berbicara bahasa inggris di depan kameraSuasana belajar di museum terasa penuh interaksi dan kebersamaan. Mahasiswa tidak hanya membaca teori, tetapi benar-benar mengalami bagaimana menyampaikan deskripsi dalam bahasa Inggris dengan cara yang menyenangkan. Proses pembuatan video ini membuat mereka belajar mengatasi rasa gugup, berani tampil di depan kamera, dan menyampaikan pesan dengan percaya diri. Kegiatan berkelompok juga menumbuhkan rasa kekeluargaan, saling mendukung, dan memperkuat kerja tim. Outing class ini sekaligus menjadi momen kebersamaan sebelum mahasiswa memasuki masa libur semester, sehingga hubungan antar mahasiswa semakin erat.Setelah video selesai dibuat, mahasiswa diminta untuk mengunggah hasil karya mereka ke media sosial pribadi. Hal ini memberikan manfaat tambahan, yaitu melatih mereka untuk berani tampil di ruang publik, membiasakan diri menggunakan bahasa Inggris di ranah digital, sekaligus memperkenalkan budaya lokal kepada audiens yang lebih luas. Selain itu, video deskripsi yang mereka buat juga menjadi bagian dari penilaian UAS, sehingga mahasiswa terdorong untuk menampilkan karya terbaik mereka. Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya berhenti di museum, tetapi berlanjut ke ruang sosial yang lebih nyata, sekaligus memberikan nilai akademik yang relevan.Respon mahasiswa terhadap kegiatan ini sangat positif. Seorang mahasiswa menyampaikan, “Outing class ke Museum Wasaka ini sangat menarik dan bermanfaat. Kami bisa belajar sejarah secara langsung sekaligus melatih kemampuan bahasa Inggris melalui tugas membuat video kelompok. Kegiatan ini membuat pembelajaran lebih menyenangkan, menambah wawasan, dan mempererat kerja sama antar mahasiswa juga .” (Ujar Yeni Mulyani, Kamis 17 Juli 2026). Sementara mahasiswa lain menambahkan, “ Pelaksanaan outing class ke musium wasaka amat berkesan dan ada rasa bangga karena bisa mengenal beragam budaya Banjar, sejarah Banjar serta mengenal perjuangan para pahlawan beserta senjata dan barang-barang unik peninggalan zaman dulu. Kegiatan ini dapat menumbuhkan rasa cinta terhdp tanah air dan menumbuhkan semangat nasionalisme yang tinggi.” (Elly, Kamis 17 Juli 2026).  Kutipan ini menunjukkan bahwa outing class di Museum Wasaka memberikan kesan yang sangat positif. Mereka menilai kegiatan ini dapat membuat pembelajaran lebih menyenangkan karena bisa belajar sejarah secara langsung sekaligus melatih kemampuan Bahasa Inggris melalui tugas video kelompok, serta menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya Banajr, mengenal perjuangan para pahlawan, dan menumbuhkan semangat nasionalisme yang tinggi.Melalui kegiatan ini, STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin menegaskan komitmennya untuk menghadirkan pembelajaran yang kreatif, humanis, dan relevan dengan kebutuhan zaman. Kampus ini dikenal sebagai kampus visioner, dengan visi menjadi kampus yang inspiratif, berkarakter, dan berkompeten. Visi tersebut diwujudkan melalui kegiatan nyata yang mendorong mahasiswa agar tidak hanya mahir berbahasa Inggris, tetapi juga memiliki karakter kuat dan rasa bangga terhadap budaya lokal. Kampus ini juga senantiasa mengikuti arahan pendiri, Bapak Iwan Perdana, SE., S.Sos.I., M.Pd., Ph.D., yang menekankan bahwa pembelajaran tidak boleh berhenti pada teori semata, melainkan harus banyak praktik nyata yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Salah satu praktik terbaik adalah melalui pengenalan budaya lokal Banjarmasin, sehingga mahasiswa dapat belajar bahasa Inggris sekaligus memperkenalkan identitas budaya daerahnya.Outing class di Museum Wasaka hanyalah awal dari rangkaian kegiatan serupa. Ke depan, akan ada kegiatan lain yang lebih seru dan variatif untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa, sehingga pembelajaran tidak selalu terbatas di ruang kelas. Dengan cara ini, STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin semakin meneguhkan dirinya sebagai kampus yang peduli pada pengembangan akademik sekaligus karakter mahasiswa, menjadikan belajar bahasa Inggris sebagai pengalaman yang menyenangkan, bermakna, penuh kebanggaan, sarat rasa kekeluargaan, dan berakar pada budaya lokal.
# EDUKASI
# Galeri

Menjalani Peran sebagai Perempuan, Ibu, dan Profesional

Halima Chairia
28 Agustus 2026
Menjadi seorang perempuan dengan banyak peran bukanlah sesuatu yang selalu mudah. Dalam satu hari, saya bisa menjadi seorang karyawan di tempat kerja, seorang ibu bagi dua putri yang sudah beranjak dewasa, seorang istri, seorang anggota Bhayangkari, sekaligus tetap menjadi diri saya sendiri. Semua peran tersebut memiliki tanggung jawab dan tantangan masing-masing. Namun, saya belajar bahwa menjalani semuanya bukan tentang menjadi sempurna, melainkan tentang bagaimana mengatur waktu, menentukan prioritas, dan menjalani setiap tanggung jawab dengan ikhlas.Saya bekerja sebagai Tendik di perguruan tinggi swasta. Latar belakang pendidikan saya adalah S2 Magister Manajemen dengan konsentrasi Manajemen Pendidikan. Pekerjaan ini membuat saya harus berhadapan dengan berbagai macam tugas dan persoalan setiap hari. Seperti administrasi dan keuangan, pelayanan, koordinasi dengan berbagai bagian, pengelolaan kebutuhan umum, hingga menyelesaikan berbagai persoalan yang muncul di lingkungan kerja menjadi bagian dari keseharian saya.Setiap pagi, sebelum memulai aktivitas di kantor, saya berusaha menyelesaikan terlebih dahulu berbagai urusan di rumah. Meskipun kedua putri saya sudah dewasa dan lebih mandiri, saya tetap merasa bahwa peran sebagai ibu tidak pernah benar-benar selesai. Saya masih memperhatikan kebutuhan mereka, mendengarkan cerita mereka, dan berusaha menjadi tempat untuk berbagi ketika mereka membutuhkan. Bagi saya, kehadiran seorang ibu bukan hanya tentang menyiapkan kebutuhan anak, tetapi juga memberikan perhatian, dukungan, dan rasa nyaman.Setelah urusan rumah selesai, saya mulai mempersiapkan diri untuk bekerja. Perjalanan menuju kantor menjadi waktu untuk mempersiapkan pikiran dan hati agar siap menghadapi aktivitas sepanjang hari. Sesampainya di tempat kerja, biasanya sudah ada berbagai pekerjaan yang menunggu. Seperti rapat, koordinasi dengan staf, menyelesaikan dokumen, menerima informasi dari bagian lain, dan terkadang harus menyelesaikan persoalan yang muncul secara tiba-tiba. Tidak semua hari berjalan sesuai rencana. Karena itu, saya belajar untuk lebih fleksibel dan tidak mudah panik ketika menghadapi situasi yang tidak terduga.Bekerja di lingkungan perguruan tinggi memberikan banyak pengalaman bagi saya. Saya bertemu dengan banyak orang dengan karakter dan kebutuhan yang berbeda. Saya berusaha untuk memperlakukan setiap orang dengan baik karena saya percaya bahwa lingkungan kerja yang nyaman akan membantu setiap orang bekerja dengan lebih maksimal.Di tengah kesibukan pekerjaan, saya juga berusaha menjaga kehidupan pribadi. Saya menyadari bahwa pekerjaan memang penting, tetapi keluarga juga memiliki tempat yang sangat penting dalam kehidupan saya. Ketika berada di rumah, saya berusaha mengurangi membawa urusan kantor ke dalam suasana keluarga. Tidak selalu berhasil, tentu saja. Ada kalanya pekerjaan masih terbawa dalam pikiran. Namun, saya terus belajar untuk memberikan perhatian kepada keluarga ketika waktunya memang untuk keluarga.Selain sebagai ibu dan pekerja, saya juga menjadi bagian dari Bhayangkari. Kegiatan sebagai anggota Bhayangkari menjadi pengalaman tersendiri bagi saya. Ada kegiatan organisasi, pertemuan, kegiatan sosial, dan berbagai aktivitas lainnya yang membutuhkan waktu dan perhatian. Pada awalnya mungkin terasa berat untuk membagi waktu antara pekerjaan, keluarga, dan kegiatan organisasi. Namun, seiring waktu saya belajar membuat skala prioritas dan mengatur jadwal dengan lebih baik.Saya menyadari bahwa keseimbangan hidup tidak berarti semua hal mendapatkan waktu yang sama banyak. Ada saatnya pekerjaan membutuhkan perhatian lebih besar. Ada waktu ketika keluarga harus menjadi prioritas. Ada pula saatnya saya perlu memberikan waktu untuk diri sendiri. Bagi saya, keseimbangan adalah kemampuan untuk mengetahui apa yang paling penting pada saat tertentu dan memberikan perhatian sebaik mungkin pada hal tersebut.Menjadi perempuan yang bekerja sekaligus menjadi ibu rumah tangga juga mengajarkan saya tentang arti tanggung jawab. Saya belajar bahwa banyak hal kecil yang dilakukan setiap hari sebenarnya memiliki makna yang besar. Menyelesaikan pekerjaan dengan baik, memberikan perhatian kepada keluarga, menjaga hubungan dengan orang lain, mengikuti kegiatan organisasi, bahkan meluangkan waktu untuk beristirahat, semuanya merupakan bagian dari perjalanan hidup.Saya juga belajar untuk tidak terlalu keras kepada diri sendiri. Ada hari-hari ketika pekerjaan terasa sangat melelahkan. Ada pula saat ketika urusan rumah dan kegiatan lainnya datang bersamaan. Pada kondisi seperti itu, saya mencoba untuk berhenti sejenak, menarik napas, dan mengingat kembali alasan saya menjalani semua ini. Saya bekerja bukan hanya untuk mengejar pencapaian, tetapi juga sebagai bentuk pengabdian dan tanggung jawab. Saya menjadi ibu karena keluarga adalah bagian penting dari hidup saya. Saya mengikuti kegiatan Bhayangkari karena di dalamnya ada nilai kebersamaan dan pengabdian kepada masyarakat.Kini, ketika kedua putri saya sudah semakin dewasa, saya merasa bersyukur dapat melihat mereka tumbuh menjadi pribadi yang mandiri. Perjalanan menjadi seorang ibu telah memberikan banyak pelajaran kepada saya. Saya belajar bahwa anak-anak tidak selalu membutuhkan ibu yang sempurna. Mereka membutuhkan ibu yang hadir, mau mendengarkan, dan selalu memberikan dukungan ketika mereka membutuhkannya.Pada akhirnya, kehidupan saya sebagai seorang perempuan yang bekerja dan juga ibu rumah tangga adalah sebuah perjalanan yang penuh warna. Ada lelah, ada bahagia, ada tantangan, dan ada banyak hal yang patut disyukuri. Saya tidak selalu mampu menjalankan semuanya dengan sempurna, tetapi saya selalu berusaha memberikan yang terbaik dalam setiap peran yang saya jalani.Bagi saya, menjadi perempuan dengan berbagai peran bukanlah beban, melainkan sebuah kesempatan untuk terus belajar dan berkembang. Saya belajar mengelola waktu, mengelola emosi, berkomunikasi, mengambil keputusan, dan yang paling penting, belajar untuk tetap bersyukur. Selama kita mampu menentukan prioritas, menjaga komunikasi dengan keluarga, bekerja dengan penuh tanggung jawab, dan tidak lupa memberikan waktu untuk diri sendiri, berbagai peran tersebut dapat dijalani dengan lebih seimbang. Saya percaya bahwa keseimbangan bukan berarti hidup tanpa masalah atau tanpa kelelahan. Keseimbangan adalah ketika kita mampu menerima bahwa setiap fase kehidupan memiliki tantangannya sendiri, kemudian menjalaninya dengan sabar, ikhlas, dan penuh rasa syukur. Itulah yang terus saya lakukan dalam keseharian saya sebagai seorang wanita, seorang ibu, seorang profesional, dan seorang anggota Bhayangkari.
# EDUKASI
# Opini

Building English Confidence: Kegiatan Pengabdian Pendampingan Pembelajaran Bahasa Inggris bagi Anak Sekolah di Sungai Miai Banjarmasin

Nor Hayati, M.Pd
28 Agustus 2026
Bahasa Inggris memiliki posisi strategis dalam perkembangan pendidikan dan komunikasi pada era global. Kemampuan menggunakan bahasa Inggris tidak hanya diperlukan dalam konteks akademik, tetapi juga mendukung akses peserta didik terhadap berbagai sumber informasi, teknologi, dan komunikasi internasional. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa Inggris perlu diberikan secara berkelanjutan dengan memperhatikan kebutuhan, karakteristik, dan lingkungan belajar peserta didik.Dalam proses pembelajaran bahasa Inggris, kemampuan linguistik tidak dapat dipisahkan dari aspek afektif. Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap keberhasilan pembelajaran bahasa adalah kepercayaan diri peserta didik dalam menggunakan bahasa target. Peserta didik yang memiliki rasa percaya diri cenderung lebih berani berkomunikasi, mengajukan pertanyaan, menjawab pertanyaan, serta mencoba menggunakan kosakata dan struktur bahasa yang telah dipelajari.Kondisi tersebut menjadi salah satu dasar pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Sungai Miai, Banjarmasin. Kegiatan ini diarahkan untuk memberikan pendampingan pembelajaran bahasa Inggris kepada anak sekolah pada jenjang SD dan SMP Program tidak hanya berorientasi pada peningkatan pengetahuan bahasa, tetapi juga membangun suasana belajar yang menyenangkan, partisipatif, dan mendukung keberanian peserta dalam menggunakan bahasa Inggris.Kegiatan pengabdian dilaksanakan melalui pendekatan pembelajaran partisipatif dan komunikatif. Tahapan kegiatan meliputi identifikasi kebutuhan peserta, perencanaan materi, pelaksanaan pembelajaran, praktik komunikasi, dan evaluasi. Pada tahap awal, dilakukan identifikasi terhadap kemampuan dasar peserta untuk mengetahui tingkat penguasaan kosakata, pelafalan, serta kemampuan menggunakan ungkapan sederhana dalam bahasa Inggris.Materi pembelajaran disesuaikan dengan jenjang pendidikan peserta. Untuk peserta SD, materi difokuskan pada kosakata dasar, seperti parts of the body, family, numbers, colors, animals, dan ungkapan sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Sementara itu, peserta SMP diberikan materi yang lebih komunikatif, seperti daily conversation, self-introduction, expressing opinions, dan penggunaan bahasa Inggris dalam situasi sederhana.Strategi pembelajaran menggunakan kombinasi penjelasan singkat, drilling, permainan bahasa, kerja berpasangan, dialog, dan praktik berbicara. Pendekatan tersebut digunakan untuk menciptakan interaksi yang aktif sekaligus mengurangi kecemasan peserta ketika menggunakan bahasa Inggris. Evaluasi dilakukan melalui observasi partisipasi peserta, praktik komunikasi, serta refleksi terhadap perkembangan kemampuan dan kepercayaan diri peserta.Pelaksanaan pendampingan menunjukkan bahwa peserta memberikan respons positif terhadap pembelajaran bahasa Inggris yang dilakukan secara interaktif. Peserta SD cenderung lebih aktif ketika materi disampaikan melalui permainan, gambar, pengulangan kosakata, dan aktivitas fisik. Sementara itu, peserta SMA menunjukkan keterlibatan yang lebih baik melalui aktivitas dialog, diskusi sederhana, dan praktik komunikasi berdasarkan situasi kehidupan sehari-hari.Salah satu hasil penting dari kegiatan ini adalah meningkatnya keberanian peserta dalam menggunakan bahasa Inggris secara lisan. Pada tahap awal, sebagian peserta masih menunjukkan keraguan ketika diminta mengucapkan kosakata atau menjawab pertanyaan dalam bahasa Inggris. Setelah memperoleh pendampingan secara bertahap, peserta mulai menunjukkan keberanian untuk berbicara meskipun masih terdapat kesalahan dalam pelafalan maupun struktur kalimat.Temuan tersebut menunjukkan bahwa lingkungan belajar yang suportif memiliki peran penting dalam membangun English confidence. Kesalahan dalam penggunaan bahasa tidak diposisikan sebagai kegagalan, tetapi sebagai bagian dari proses belajar. Pendekatan tersebut memberikan kesempatan kepada peserta untuk bereksperimen menggunakan bahasa Inggris tanpa tekanan yang berlebihan.Selain meningkatkan kepercayaan diri, kegiatan juga memberikan pengalaman belajar yang lebih kontekstual. Peserta tidak hanya menghafalkan kosakata, tetapi menggunakannya dalam komunikasi sederhana. Dengan demikian, pembelajaran bahasa Inggris menjadi lebih bermakna karena peserta dapat menghubungkan materi dengan pengalaman dan aktivitas sehari-hari.Program Building English Confidence di Sungai Miai, Banjarmasin, memberikan kontribusi positif terhadap pengembangan kemampuan dasar bahasa Inggris dan kepercayaan diri anak sekolah. Pendampingan melalui pendekatan komunikatif, interaktif, dan partisipatif mampu menciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan serta mendorong peserta untuk berani menggunakan bahasa Inggris. Kegiatan ini menunjukkan bahwa penguatan kompetensi bahasa Inggris tidak hanya membutuhkan penguasaan materi, tetapi juga lingkungan belajar yang memberikan dukungan psikologis dan kesempatan praktik yang memadai. Keberlanjutan program dengan materi yang lebih terstruktur dan evaluasi berkala diperlukan agar peningkatan kemampuan bahasa Inggris peserta dapat dipertahankan dan dikembangkan secara berkelanjutan.
# EDUKASI
# Opini

AI sebagai Rekan Kerja, Bukan Ancaman di Era Teknologi

Abdul Aziz, M.Pd
28 Agustus 2026
Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam beberapa tahun terakhir telah membawa perubahan besar dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Perubahan tersebut semakin terasa dalam Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris yang selama ini berhadapan dengan berbagai aktivitas akademik, mulai dari penyusunan materi pembelajaran, pemeriksaan tata bahasa (grammar), penerjemahan, penyusunan perangkat ajar, hingga pengembangan media pembelajaran. Jika sebelumnya berbagai pekerjaan tersebut membutuhkan waktu yang relatif panjang, kini sejumlah platform berbasis AI mampu membantu menyelesaikannya dalam waktu yang jauh lebih singkat. Kehadiran teknologi ini tentu memberikan peluang besar bagi dosen untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pekerjaan akademik. Namun, perkembangan tersebut juga menimbulkan kekhawatiran, terutama terkait kemungkinan menurunnya kemampuan berpikir kritis mahasiswa, meningkatnya ketergantungan terhadap teknologi, serta munculnya persoalan integritas akademik. Karena itu, persoalan utamanya bukan lagi apakah AI boleh digunakan dalam pendidikan, melainkan bagaimana AI digunakan secara bijak, kritis, dan bertanggung jawab.Banyak pendidik merasa cemas bahwa kehadiran algoritma yang semakin canggih akan membuat mahasiswa, khususnya calon guru bahasa Inggris, kehilangan kemampuan untuk melakukan analisis secara mendalam karena terbiasa memperoleh jawaban secara instan. Kekhawatiran tersebut merupakan hal yang wajar, tetapi tidak seharusnya membuat dunia pendidikan menutup diri terhadap perkembangan teknologi. Justru, kehadiran AI perlu ditempatkan dalam perspektif yang lebih proporsional. AI bukanlah pengganti dosen dan bukan pula mesin yang bertugas mengambil alih seluruh proses pembelajaran. AI seharusnya diposisikan sebagai rekan kerja digital yang membantu dosen melaksanakan berbagai pekerjaan teknis sehingga waktu dan energi dapat dialihkan pada aktivitas yang memiliki nilai pedagogis lebih tinggi. Dengan cara pandang tersebut, teknologi tidak menjadi ancaman, tetapi menjadi instrumen yang memperkuat kapasitas manusia dalam menjalankan tugas pendidikan.Salah satu manfaat AI yang paling nyata bagi dosen adalah kemudahan dalam merancang perangkat dan media pembelajaran. Melalui perintah atau prompt yang jelas, spesifik, dan sesuai kebutuhan, dosen dapat memperoleh bantuan dalam menyusun bahan ajar, membuat rancangan aktivitas pembelajaran, mengembangkan kuis, menghasilkan ide permainan edukatif, menyusun simulasi percakapan, hingga merancang lembar kerja mahasiswa. Teknologi ini juga dapat membantu memberikan alternatif materi sesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik. Dosen tidak selalu harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk memulai sebuah rancangan pembelajaran dari halaman kosong. AI dapat digunakan untuk menghasilkan rancangan awal yang selanjutnya diperiksa, dikembangkan, disesuaikan, dan disempurnakan oleh dosen. Dengan demikian, AI berfungsi sebagai alat bantu pada tahap eksekusi teknis, sedangkan keputusan pedagogis tetap berada di tangan pendidik.Efisiensi tersebut menjadi semakin penting karena tugas dosen tidak hanya berkaitan dengan kegiatan mengajar. Dosen juga memiliki tanggung jawab dalam penelitian, pengabdian kepada masyarakat, pembimbingan mahasiswa, administrasi akademik, pengembangan kurikulum, serta berbagai kegiatan institusional lainnya. Apabila pekerjaan teknis dalam pembelajaran dapat dibantu oleh AI, waktu yang tersedia dapat dimanfaatkan untuk aktivitas yang membutuhkan pemikiran, pengalaman, dan interaksi manusia. Dosen dapat memberikan perhatian lebih besar terhadap kebutuhan individual mahasiswa, merancang pembelajaran yang kontekstual, membangun diskusi yang bermakna, serta memberikan umpan balik yang lebih personal. Dengan kata lain, pemanfaatan AI secara tepat justru dapat memberikan ruang yang lebih besar bagi dosen untuk menjalankan fungsi kemanusiaannya dalam pendidikan.Meskipun memiliki berbagai keunggulan, AI tetap mempunyai keterbatasan. AI dapat menghasilkan teks yang terlihat meyakinkan, tetapi tidak selalu menjamin bahwa informasi yang diberikan benar, relevan, atau sesuai dengan konteks pembelajaran. AI juga tidak memiliki pengalaman manusiawi secara langsung, sehingga tidak dapat sepenuhnya memahami emosi, kondisi sosial, latar belakang budaya, dan dinamika hubungan antarmanusia sebagaimana seorang pendidik. Dalam pembelajaran bahasa Inggris, keterbatasan tersebut menjadi sangat penting karena bahasa bukan sekadar kumpulan aturan tata bahasa dan kosakata. Bahasa merupakan alat untuk menyampaikan gagasan, membangun hubungan sosial, mengekspresikan identitas, memahami budaya, serta berkomunikasi secara tepat dalam berbagai situasi. Oleh karena itu, keluaran AI tetap harus diperiksa dan dinilai secara kritis sebelum digunakan dalam proses pembelajaran.Pada titik inilah peran dosen Pendidikan Bahasa Inggris menjadi semakin penting. Dosen bukan hanya berperan sebagai penyampai pengetahuan, tetapi juga sebagai pengarah, penyaring, evaluator, dan penjaga nilai dalam pemanfaatan teknologi. Dosen perlu memastikan bahwa materi yang dihasilkan AI sesuai dengan capaian pembelajaran, karakteristik mahasiswa, konteks budaya, dan prinsip-prinsip akademik. Dosen juga harus mengajarkan mahasiswa untuk tidak menerima keluaran AI secara mentah. Setiap informasi perlu diperiksa, dibandingkan dengan sumber yang kredibel, dan dianalisis berdasarkan konteks. Dengan demikian, penggunaan AI justru dapat menjadi sarana untuk melatih kemampuan berpikir kritis, bukan menghilangkannya.Transformasi tersebut juga membawa konsekuensi terhadap pendidikan calon guru bahasa Inggris. Mahasiswa tidak cukup hanya menguasai tata bahasa, kosakata, keterampilan berbicara, membaca, menulis, dan menerjemahkan. Mereka juga perlu memiliki literasi AI (AI literacy), yaitu kemampuan memahami, menggunakan, mengevaluasi, dan mengkritisi teknologi kecerdasan buatan. Mahasiswa perlu belajar bagaimana menyusun prompt yang efektif, mengevaluasi hasil yang diberikan AI, mengenali kemungkinan kesalahan dan bias, serta mengadaptasi keluaran teknologi agar sesuai dengan kebutuhan pembelajaran. Kemampuan tersebut akan menjadi bekal penting bagi calon guru ketika mereka memasuki dunia sekolah yang semakin terintegrasi dengan teknologi digital.Dalam konteks tersebut, dosen juga mengalami perubahan peran. Dosen tidak lagi harus menjadi satu-satunya sumber informasi di dalam kelas. Sebaliknya, dosen dapat berperan sebagai fasilitator yang membantu mahasiswa mengolah berbagai informasi menjadi pengetahuan yang bermakna. Mahasiswa dapat menggunakan AI untuk memperoleh ide awal, sementara dosen membimbing mereka untuk mengembangkan ide tersebut menjadi karya yang orisinal, argumentatif, dan bertanggung jawab secara akademik. Proses ini memungkinkan pembelajaran bergerak dari sekadar mencari jawaban menuju kemampuan mengajukan pertanyaan yang tepat, menganalisis informasi, mengevaluasi kualitas jawaban, dan menghasilkan solusi secara mandiri.Karena itu, berdamai dengan algoritma bukan berarti menyerahkan proses pendidikan kepada mesin. Berdamai dengan algoritma berarti memahami apa yang dapat dilakukan AI dan apa yang tetap menjadi tanggung jawab manusia. AI dapat membantu mempercepat pekerjaan teknis, tetapi manusia tetap menentukan tujuan, nilai, konteks, dan keputusan akhir. Dosen memiliki kecerdasan pedagogis untuk menentukan metode yang sesuai, mahasiswa memiliki kemampuan untuk berpikir dan berkreasi, sedangkan AI dapat menjadi alat yang mempercepat proses tersebut. Sinergi ketiganya dapat menghasilkan pembelajaran yang lebih inovatif tanpa kehilangan dimensi humanis.Pada akhirnya, masa depan pendidikan bahasa Inggris tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang digunakan, tetapi oleh seberapa bijak pendidik dan mahasiswa memanfaatkannya. AI tidak seharusnya dipandang sebagai musuh yang harus dihindari, tetapi sebagai teknologi yang perlu dipahami, dikendalikan, dan dimanfaatkan secara bertanggung jawab. Sebagaimana kalkulator tidak menghilangkan kebutuhan terhadap ahli matematika dan komputer tidak membuat ilmuwan kehilangan perannya, AI juga tidak akan menggantikan pendidik yang mampu terus belajar dan beradaptasi. Justru, pendidik yang mampu memadukan kecerdasan pedagogis, kemampuan berpikir kritis, nilai-nilai kemanusiaan, dan efisiensi teknologi akan memiliki posisi yang semakin strategis dalam pendidikan masa depan. Dengan meruntuhkan rasa takut terhadap teknologi dan membangun hubungan yang sehat dengan algoritma, AI dapat ditempatkan sebagaimana mestinya: bukan sebagai ancaman bagi dosen Pendidikan Bahasa Inggris, melainkan sebagai rekan kerja digital yang membantu memperluas potensi pembelajaran dan mempersiapkan mahasiswa menghadapi dunia yang semakin kompleks.
# EDUKASI
# Opini

Harmoni Pembelajaran di STKIP Islam Sabilal Muhtadin: Saat Calon Guru Menguasai Seni sebagai Media Edukasi

Muhammad Agus Safrian Nur
28 Agustus 2026
BANJARMASIN — Suasana ruang kelas di STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin terdengar berbeda hari ini. Petikan dawai gitar yang berpadu indah dengan alunan nada dari keyboard memenuhi ruangan, menciptakan atmosfer belajar yang dinamis dan penuh energi kreatif. Bukan sekadar hiburan, riuhnya nada ini adalah bagian dari kegiatan praktik langsung mata kuliah Pengembangan Seni. Di kampus ini, menjadi seorang pendidik masa depan tidak melulu soal teori di atas kertas atau metode ceramah yang kaku. Para mahasiswa diajak untuk melangkah lebih jauh: memahami dan menguasai seni sebagai media pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan di dalam kelas.Seni Musik: Mengubah Kelas Menjadi Ruang Belajar yang HidupDalam sesi praktik kali ini, mahasiswi STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin tampak antusias jemarinya menari di atas tuts keyboard dan menekan chord gitar. Mereka tidak sedang dicetak menjadi musisi panggung, melainkan sedang mempersiapkan diri menjadi guru inovatif yang mampu menghidupkan suasana kelas.Melalui instrumen gitar dan keyboard, para mahasiswi belajar bagaimana menyelaraskan nada, mengaransemen lagu anak, dan memanfaatkan ketukan musik untuk menyampaikan materi pelajaran nantinya. Musik dipercaya mampu meningkatkan fokus siswa, mempermudah penyerapan materi, dan membangun kedekatan emosional antara guru dan murid."Di STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, kami dibekali kemampuan untuk mengubah materi pelajaran yang dianggap sulit atau membosankan menjadi konsep yang seru melalui media seni musik."Dari Mahasiswa Menjadi Calon Guru KreatifSalah satu bagian yang paling menarik bagi saya sebagai pengajar adalah melihat perubahan kepercayaan diri mahasiswa.Pada awal pembelajaran, tidak semua mahasiswa merasa mampu memainkan alat musik. Ada yang mengatakan belum pernah memegang gitar, ada yang merasa sulit mengikuti nada, dan ada pula yang sejak awal merasa bahwa dirinya tidak memiliki kemampuan dalam bidang musik.Saya memahami keraguan tersebut.Karena itu, dalam pembelajaran saya tidak menjadikan kemampuan musikal sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan. Saya lebih menekankan keberanian untuk mencoba, kemampuan bekerja sama, kreativitas dalam mengembangkan kegiatan, serta kemampuan menghubungkan seni dengan kebutuhan pembelajaran.Perlahan-lahan saya melihat perubahan.Mahasiswa yang awalnya hanya melihat temannya memainkan alat musik mulai berani mencoba. Mahasiswa yang sebelumnya merasa tidak percaya diri mulai mampu memainkan beberapa chord sederhana. Mereka kemudian saling membantu, berdiskusi, dan belajar bersama. Suasana seperti inilah yang bagi saya menunjukkan bahwa pembelajaran telah bergerak lebih jauh daripada sekadar transfer pengetahuan.Mereka sedang belajar menjadi guru. Seorang guru memang tidak harus menguasai seluruh alat musik. Namun, guru perlu memiliki keberanian untuk belajar dan mengembangkan dirinya. Guru juga dituntut mampu menggunakan berbagai sumber dan media yang ada di lingkungan sekitarnya untuk menciptakan pembelajaran yang menarik.Ruang Kelas sebagai Tempat Menemukan PotensiSebagai seorang pengajar, salah satu kebahagiaan yang saya rasakan adalah ketika melihat mahasiswa menemukan kemampuan yang sebelumnya tidak mereka sadari.Ada mahasiswa yang ternyata memiliki kemampuan musikal yang baik. Ada yang kreatif mengubah lirik lagu. Ada yang mampu memimpin kelompok. Ada pula yang mungkin tidak terlalu mahir memainkan alat musik, tetapi memiliki kemampuan menjelaskan dan mengembangkan ide pembelajaran dengan sangat baik.Setiap mahasiswa memiliki potensinya masing-masing.Tugas pendidikan bukan membuat semua mahasiswa menjadi sama. Pendidikan seharusnya memberikan ruang bagi setiap individu untuk menemukan, mengembangkan, dan menggunakan potensinya secara optimal.Karena itu, pembelajaran seni bagi calon guru tidak semata-mata berbicara tentang kemampuan memainkan musik. Lebih jauh, kegiatan ini menjadi ruang untuk melatih kreativitas dan membangun kesiapan mahasiswa menghadapi dunia pendidikan yang terus berkembang.Dunia pendidikan saat ini membutuhkan guru yang tidak hanya menguasai teori, tetapi juga adaptif, kreatif, komunikatif, dan mampu menghadirkan inovasi dalam pembelajaran. Guru perlu mampu membuat peserta didik merasa bahwa belajar merupakan pengalaman yang menyenangkan dan memiliki makna dalam kehidupan mereka.Harmoni yang Lebih Besar dari Sekadar MusikKetika saya melihat mahasiswa memainkan gitar dan keyboard di dalam kelas, yang saya lihat sebenarnya bukan hanya sebuah praktik seni musik. Saya melihat calon-calon guru yang sedang berproses.Hari ini mungkin mereka masih belajar menemukan chord yang benar, mengikuti tempo, atau menyesuaikan nada. Namun kelak, kemampuan sederhana tersebut bisa menjadi salah satu cara mereka menciptakan ruang kelas yang hidup.Mungkin suatu hari salah satu dari mereka akan berdiri di depan peserta didiknya sambil memegang gitar. Mereka menyanyikan sebuah lagu sederhana untuk mengenalkan angka, warna, karakter, atau nilai-nilai kehidupan. Anak-anak mengikuti dengan gembira, bernyanyi sambil bergerak, dan tanpa mereka sadari sedang belajar melalui pengalaman yang menyenangkan.Bagi saya sebagai pengajar, bayangan tentang masa depan itulah yang membuat proses pembelajaran hari ini menjadi berarti.Pada akhirnya, pendidikan calon guru bukan hanya tentang berapa banyak teori yang mampu dihafalkan mahasiswa. Pendidikan adalah tentang bagaimana pengetahuan, keterampilan, kreativitas, pengalaman, dan karakter dipadukan menjadi sebuah kompetensi yang dapat digunakan ketika mereka terjun ke masyarakat.Itulah harmoni pembelajaran yang ingin terus dibangun di STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin: sebuah proses pendidikan yang memberikan ruang bagi mahasiswa untuk belajar, mencoba, berkreasi, melakukan kesalahan, memperbaiki diri, dan bertumbuh menjadi pendidik yang inspiratif, berkarakter, serta berkompeten. Karena pada akhirnya, seorang guru yang baik bukan hanya guru yang mampu menyampaikan pelajaran, tetapi guru yang mampu membuat peserta didiknya mencintai proses belajar.Mengapa Kuliah di STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin?Kegiatan praktik mata kuliah Pengembangan Seni ini menjadi salah satu bukti nyata mengapa STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin selalu unggul dalam mencetak lulusan siap kerja. Berikut adalah nilai lebih yang ditawarkan: Kurikulum Adaptif & Kreatif: Mahasiswa tidak hanya mendapatkan bekal teoretis bagaimana menjadi guru yang cerdas secara akademik, tetapi juga diasah keterampilannya (soft skills) agar menjadi guru yang kreatif, adaptif, dan dirindukan oleh siswa di kelas. Fasilitas Praktik yang Mendukung: Teori tanpa praktik adalah sia-sia. Kampus menyediakan ruang dan fasilitas instrumen musik seperti gitar dan keyboard agar setiap mahasiswa bisa langsung mencoba, gagal, memperbaiki, hingga mahir. Dosen Pengampu Profesional: Proses belajar dibimbing langsung oleh dosen-dosen kompeten yang memahami betul bagaimana mengintegrasikan seni ke dalam dunia pedagogi (pendidikan) modern. Siap Menjadi Guru Masa Depan yang Menginspirasi?Dunia pendidikan hari ini membutuhkan guru yang tidak hanya pintar, tetapi juga kreatif dan mampu menciptakan inovasi baru di ruang kelas. Jika Anda ingin menjadi bagian dari generasi pendidik modern yang multitalenta, STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin adalah tempat terbaik untuk memulai langkah Anda.Mari bergabung bersama kami, asah potensi akademismu, dan temukan kreativitas tanpa batas untuk menginspirasi anak bangsa!
# EDUKASI
# Opini

  Youtube

Surah Ar-Rahman | Aniq Muhai

  Informasi

Selamat Hari Guru Nasional
Arah Pendidikan Nasional & Transformasi Pendidikan Lokal di Daerah
Kupas Tuntas: Kurikulum, Inklusi, dan Seni di Sekolah Dasar
Momentum Kebangkitan Nasional Melalui Peningkatan Kualitas Pendidikan