Beranda > Edukasi

  Postingan Terbaru

Belajar Manajemen Pendidikan dari Berkah FC dan Kafe Midun

Edubanua.com
31 Mei 2026
Warung Pak Kaslian menjadi sekolah nonformal kepemimpinan, sportivitas, dan solidaritas," ujar Iwan Perdana, Ph.D pada Sabtu (30/5/2026). Menurut akademisi manajemen pendidikan pendiri Lanting Literasi Indonesia.or.id tersebut, karakter Tim Berkah FC ternyata tidak hanya dibentuk melalui latihan rutin di Lapangan Kayutangi Ujung, tetapi juga melalui dialog-dialog jujur di atas meja-kursi kayu warung Pak Mak Midun.Lebih familiar dengan sebutan Kafe Midun, warung yang didirikan Pak Kaslian— akrab dipanggil Pak Midun, atau Bapa Madona, berlokasi di Belitung Darat. Warung makan ini terbuka untuk umum. Para pemain Berkah FC yang dulunya bernama Pelangi FC sering berkumpul di sini. Bahkan hampir tiap hari.Kiri ke Kanan: Taher, Rudi, Ody, Rusdi, Anonim, Tagan, H. Juman, Kadir, KaslianMelalui pesan WhatsApp, edubanua.com mewawancarai beberapa pemain yang sering nongkrong di kafe Bapak Madona. "Asyik aja kalau lagi ngumpul bahas bola," ujar Kadir— gelandang bertahan. “Saya senang berkumpul di warung Pak Midun, silaturahmi biar tambah tambah akrab," ungkap Yuspi—bek bertahan yang merasakan hangatnya kekeluargaan di sana. Senada dengan itu, Bahrudin merasa kenyamanan adalah kunci utama. "Rame aja berkumpul di Kafe Pak Midun sambil bakisahan bola," jawabnya. Suasana ini diamini oleh Taufik—gelandang serang Berkah FC. "Di sana suasananya enak seperti di rumah sendiri dan banyak teman-teman mengerti tentang permasalahan bola," ujarnya.Iwan Perdana, Ph.D, akademisi alumnus UPSI Malaysia melihat irisan sosiologi dan olahraga yang kuat di Berkah FC. Menurutnya, Kafe Pak Midun bukan sekadar tempat nongkrong. Warung ini menjadi laboratorium sosial tempat karakter tim dibentuk, juga dapat dijadikan analogi menarik untuk manajemen pendidikan. Beliau juga melihat peran tiga tokoh kunci klub yang sering melakukan laga away ini —Rudiansyah (kapten Tim sekaligus manajer tim), H. Juman (pembina), dan Kaslian (senior sekaligus asisten manajer)—menjadi penentu. Ketiganya membangun ekosistem kepemimpinan yang menjamin kelancaran operasional tim.Kiri ke kanan: Dahri, Iyus, Kadir, Kaslian, IssayRudi, sebagai kapten dan manajer tim, adalah komandan operasional. Sebagai Ketua klub, Ia merupakan magnet berkumpulnya para pemain Berkah FC.  Iwan Perdana menceritakan pengalamannya ikut nimbrung di Kafe. “Kapten Rudi aktif berinisiatif mencairkan suasana dengan bertanya kabar? Kemudian mengulas permainan yang rutin dilakukan setiap Senin dan Kamis, melibatkan rekan dalam memutuskan lawan sparring, atau ngobrol santai topik terkini seputar bola” ungkapnya. Dalam konsep kepemimpinan, menurut Iwan Perdana, Kapten Rudi adalah contoh nyata dari praktik Transformational Leadership dan Peer Leader yang mempraktikkan perhatian individual (individualized consideration), komunikasi terbuka, dan tanggung jawab kolektif.“H. Juman adalah penjaga moral tim,” ujar Iwan Perdana. Hal ini berdasarkan pengamatannya meski tidak selalu ikut latihan, tetapi sang pembina memberikan efek psikologis yang kuat. Di setiap pertemuan selalu “dituakan” untuk memimpin doa dan menyampaikan pesan-pesan positif. Dalam manajemen pendidikan, Beliau berfungsi sebagai supervisor dan moral compass yang memastikan warung tetap menjadi ruang belajar positif.Kaslian menjadikan kafenya tempat netral tanpa sekat. Pemain inti dan cadangan dilayani sama. Meja-kursi warungnya mencatat beragam aspirasi dan kritik. Sesekali Beliau memberikan minum gratis kepada pemain yang membantu membereskan warung. Iwan Perdana menyebutkan dalam manajemen pendidikan, Peran Kaslian adalah enabler dan learning resources manager yang menata lingkungan agar pembelajaran karakter berlangsung alami.Berkah FC_Laga AwayKapten Rudi menggerakkan tim, H. Juman mengawal nilai, dan Kaslian memfasilitasi. Ketiganya sukses mengubah “Kafe Midun” menjadi sekolah nonformal kepemimpinan, sportivitas, dan solidaritas para pemain Berkah FC. Dianalogikan di bidang pendidikan, Sekolah idealnya menjadi wadah berkumpul yang dikelola secara sadar, dengan peran yang jelas, sehingga melahirkan tim tangguh yang meningkatkan mutu pembelajaran.
# EDUKASI
# Opini

Cetak Biru Manajemen Pendidikan di Balik Kisah Qurban

Edubanua.com
28 Mei 2026
Opini kali ini menampilkan ulang tulisan Dr. Iwan Perdana di website https://www.lantingliterasiindonesia.or.id/ yang berjudul Cetak Biru Manajemen Pendidikan di Balik Kisah Qurban pada tanggal 28 Mei 2025.Dituliskan oleh Beliau bahwa dalam perspektif pendidikan, percakapan antara Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail menggambarkan keberhasilan manajemen pendidikan karena mampu mengubah instruksi/perintah (kurikulum) menjadi sebuah kesadaran sukarela warga sekolah untuk melaksanakannya.Diawali dengan kalimat yang menceritakan memorinya saat masih berstatus mahasiswa semester 3. Pada saat itu, salah satu grup Nasyid asal Malaysia yang terkenal, Raihan, meluncurkan lagu berjudul “Iman Mutiara". Lirik pada bagian reff (chorus) lagu tersebut berbunyi: “Iman tak dapat diwarisi dari seorang ayah yang bertakwa. Beliau kemudian menyebutkan Kan’an, yang menolak ajakan Nabi Nuh untuk bertauhid kepada Allah SWT (QS. Hud Ayat 42–43). Beliau juga menyebutkan kisah yang diabadikan dalam Al Qur’an tentang Ayah dan anak yang bertaqwa— kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS, yang kemudian menjadi asal mula pelaksanaan ibadah yaitu. Ditampilkan percakapan antara keduanya sangat menyentuh hati. Memotivasi siapapun yang membaca kisahnya untuk memperbanyak doa agar memiliki keturunan yang saleh/ah, sekaligus introspeksi seberapa baik dalam mendidik anak. “Maka ketika anak itu sampai pada (umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, ‘Wahai anakku!' Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!' Dia (Ismail) menjawab, 'Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku, termasuk orang yang sabar.'”(QS. Ash-Shaffat ayat 102). Dipaparkannya bahwa ayat tersebut mengandung banyak hikmah, antara lain ujian ketaatan, pentingnya komunikasi antara orang tua dan anak, dan kesabaran. Perintah Allah SWT  yang sangat berat untuk menguji ketundukan mutlak kepada Allah SWT.Disebutkan bahwa sebelum melaksanakan perintah, Nabi Ibrahim menyampaikannya terlebih dahulu kepada Nabi Ismail untuk meminta pendapatnya. Pendekatan ini menunjukkan pentingnya komunikasi dua arah antara orang tua dan anak. Persetujuan Nabi Ismail adalah bentuk bakti yang luar biasa kepada ayahnya sekaligus ketaatan kepada Allah SWT. Keikhlasan Nabi Ismail adalah bukti keberhasilan penanaman tauhid dari seorang ayah kepada anaknya sejak dini.Selanjutnya Beliau mengaitkannya dengan manajemen pendidikan, bahwa peristiwa yang menjadi asal mula ibadah Qurban tersebut memberikan banyak Pelajaran termasuk dapat menjadi cetak biru (blueprint) manajemen pendidikan karakter dan kepemimpinan yang sangat modern, antara lain: 1.   Pendidikan Berbasis Karakter2.   Participative Leadership3.   Manajemen Komunikasi  Pendidikan Berbasis KarakterIwan Perdana, Ph.D menyebutkan keikhlasan Nabi Ismail melaksanakan perintah Allah SWT adalah buah dari penanaman tauhid Nabi Ibrahim sejak dini. Menurutnya, dalam Manajemen pendidikan, karakter unggul tidak terbentuk dari sekadar pemahaman teori di kelas, tetapi juga dari praktik di lapangan melalui latihan dan proses yang panjang. Kolaborasi sekolah dan keluarga memainkan peran yang sangat penting dalam pembentukan karakter mulia pada diri anak. Participative Leadership, dan Komunikasi dua arahNabi Ibrahim tidak memerintahkan anaknya agar melaksanakan perintah Allah SWT secara otoriter. Bapak para Nabi tersebut mengajarkan urgensi menghargai martabat anak sebagai fondasi utama dalam pendidikan karakter. Komunikasi resiprokal—transparan tentang tujuan, terbuka pada dialog, dan penuh penghormatan—terlihat dari percakapan keduanya.Iwan Perdana menyatakan dalam manajemen pendidikan, Gaya kepemimpinan yang melibatkan bawahan dalam pengambilan keputusan terkadang sangat diperlukan (Participative Leadership). Selain itu, seorang pemimpin harus mampu mengomunikasikan visi besarnya kepada orang-orang yang dipimpinnya, serta mempraktikkan komunikasi dua arah dalam rangka membangun kesadaran kolektif. Pemimpin lembaga pendidikan harus meneladani gaya komunikasi Nabi Ibrahim (Role Model), yakni menjelaskan visi besar, meminta pendapat, dan melibatkan warga sekolah dalam proses pendidikan. Semoga Idul Adha 1447 semakin menebalkan rasa keimanan kita kepada Allah SWT, dan menjadi pedoman kita dalam beraktivitas di dunia pendidikan.
# EDUKASI
# Opini

Mengapa Waka Kesiswaan Harus Seperti Gelandang Bertahan?

Edubanua.com
1 Maret 2026
Mendominasi pertandingan tidak menjamin kemenangan. Saya pernah menyaksikan ini pada piala dunia tahun 1990. Kala itu, Brazil yang menguasai jalannya laga akhirnya takluk dari Argentina di babak 16 besar. Umpan Diego Maradona yang dikonversi dengan baik oleh Claudio Caniggia menjadi gol pada menit ke-80 memaksa Dunga dan kawan-kawan angkat koper lebih awal.Meski kekalahan Brasil pada saat itu bukan disebabkan kelengahan pemain bertahan, tetapi karena kejeniusan pemain berjuluk Hand of God, namun ingatan tentang duel antara Argentina dan Brasil di babak 16 besar Piala Dunia 1990, yang digelar di Stadion Delle Alpi, Turin, Italia itu menginspirasi saya membahas tentang posisi pemain bertahan.Di tim sepak bola, semua posisi memainkan peran penting. Tidak hanya striker dan playmaker, posisi gelandang bertahan juga sangat menentukan. Di Berkah FC, lini pertahanan dikawal ketat  3 pilar handal: Ody, Yuspi dan Dahri. Kiri ke ke kanan: Yuspi, Ody & Dahri.Ody dan Yuspi tipikal pemain gelandang bertahan sejati. kemampuan mereka membaca permainan (antisipasi), akurasi operan tinggi, dan ketenangan di bawah tekanan layak diacungi jempol. Sementara Dahri adalah tipe gelandang bertahan modern Istimewa. Berbekal stamina prima: bernafas kuda, ia rajin membantu serangan. Kecepatan dan keberaniannya berduel sangat merepotkan pemain lawan. Kolaborasi Ody, Yuspi, dan Dahri menjauhkan kiper: Haris atau Rusdi dari  ancaman striker lawan.Ody & IyusIwan Perdana, Ph.D.,alumnus Program doktoral Manajemen Pendidikan UPSI Malaysia, menganalogikan pemain gelandang bertahan dengan jabatan struktural pada lembaga pendidikan. Menurutnya, dalam perspektif manajemen pendidikan, jabatan dalam tata Kelola sekolah yang memiliki karakter serupa dengan gelandang bertahan adalah wakil kepala sekolah bidang kesiswaan.Capt Rudi & OdyTujuan utama pendidikan adalah mengembangkan seluruh potensi peserta didik secara utuh—mencakup intelektual, karakter, emosional, dan spiritual—untuk menjadi manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, cerdas, mandiri, dan bertanggung jawab.Wakil kepala sekolah bidang kesiswaan membantu kepala sekolah mewujudkan tujuan tersebut. Ia bertugas merencanakan, membina, dan mengawasi seluruh kegiatan siswa (non-akademik), menegakkan tata tertib, mengatur OSIS/ekstrakurikuler, serta mengelola 7K (Keamanan, Kebersihan, Ketertiban, Keindahan, Kekeluargaan, Kerindangan, Kesehatan) untuk menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif.Oleh karena itu, wakasek kesiswaan menjadi filter pertama yang melindungi proses pendidikan dari bahaya:  masalah disiplin siswa, konflik antar teman, pelanggaran tata tertib. Ia bertugas menjaga iklim sekolah tetap kondusif agar "gawang"- tujuan pendidikan- tidak kebobolan.Berkah FCTidak dapat dibayangkan sebuah sekolah tanpa Waka Kesiswaan yang tegas. Konsekuensinya sangat menakutkan. Para guru—yang berperan sebagai gelandang serang kreatif dipaksa turun menjadi gelandang bertahan dadakan—turun tangan mengurusi masalah-masalah: Siswa bolos, tawuran, dan suasana belajar tidak nyaman.  Ini menyebabkan mereka akan kehilangan fokus, kreativitas mengajar mati, dan prestasi siswa (gol) akhirnya tidak akan tercipta.   
# EDUKASI
# Opini

7 Resep Jitu Yuliana Nurhayati, M.Pd Meredam Pasang Surut Motivasi Belajar

Edubanua.com
5 Februari 2026
Krisis semangat belajar sering menghantui, namun Yuliana Nurhayati, M.Pd, Wakil Ketua Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, menawarkan tujuh kiat praktis yang melampaui kurikulum formal demi menjaga api motivasi belajar tetap menyala.Pendidikan, dalam pandangan para ahli, memang laksana sungai yang tak pernah berhenti mengalir. Batasan maknanya terus berubah seiring berkembangnya temuan dan pola pikir baru. Namun, di tengah pusaran teori itu, ada satu masalah abadi yang kerap meredupkan cahaya generasi muda: pasang surut motivasi belajar.Bukan rahasia lagi, semangat menuntut ilmu seringkali naik turun, bahkan cenderung lebih banyak merosot. Kita semua tahu pendidikan penting, krusial untuk membentuk karakter, moral, dan etika, serta menumbuhkan pemikiran kritis. Tapi bagaimana menjaga 'bahan bakar' itu agar tidak habis di tengah jalan?Yuliana Nurhayati, M.Pd memiliki pandangan yang menyegarkan. Ia menolak definisi belajar yang kaku. Pembelajaran, katanya, jauh lebih luas dari dinding kelas dan tumpukan buku. “Pendidikan tidak selalu formal: berkutat dengan buku-buku atau e-book berisi materi pelajaran, berjumpa guru atau dosen,” ujarnya lugas. “Pembelajaran bisa saja diperoleh dari luar lembaga pendidikan formal, seperti bersinergi dengan alam, melihat lingkungan sekitar, dan memperhatikan kehidupan masyarakat. Tidak kalah pentingnya berinteraksi dengan sesama yang akan menjadikan kita menjadi bijak.”Filosofi belajar holistik ini menjadi landasan bagi tujuh resep praktis yang ia tawarkan. Resep pertama adalah fundamental: Ingat tujuan hidup dan tumbuhkan kesadaran manfaat belajar. Mengapa kita harus repot-repot membuka buku? Mengapa harus bersusah payah menguasai keterampilan baru? Jika alasan (the 'why') itu kuat, konsistensi belajar akan datang dengan sendirinya.Ia menekankan pentingnya adab dalam mencari ilmu. Hormati orang berilmu, ikuti jejak mereka. Sebab, ilmu itu sangat luas, takkan cukup waktu untuk mempelajari semua. Ini membawa kita pada kiat keempat: Prioritaskan belajar pada bidang yang hendak dikuasai atau sesuai pekerjaan. Selebihnya? Cukup untuk menambah wawasan.Yang paling menarik, Yuliana mendorong generasi muda untuk berhenti membandingkan diri. Fokuslah pada usaha meningkatkan kualitas diri sendiri. "Jangan minder melihat kehebatan orang lain," pesannya. Ketika kita fokus pada pertumbuhan internal, kita akan terhindar dari penyakit hati yang merusak motivasi.Prinsip ini beriringan dengan kiat keenam: Jangan pernah merendahkan orang lain. Setiap individu memiliki kelebihan dan kekurangan yang unik. Kesombongan dan rasa minder adalah dua sisi mata uang yang sama-sama mematikan semangat juang.Pada akhirnya, motivasi belajar harus bermuara pada aksi yang berdampak. Kiat penutupnya adalah belajar dari orang-orang hebat yang memiliki ketajaman berpikir dan banyak melakukan aksi positif ke masyarakat. Inilah kunci untuk mengubah ilmu menjadi kebijaksanaan, dan karakter menjadi aksi nyata. Pendidikan sejati, sesungguhnya, adalah proses menjadi bijak.  
# EDUKASI
# Opini

Pelajaran dari H. Juman: Praktik Lintas Sektoral Prinsip-Prinsip Manajemen

Iwan Perdana
9 Juni 2026
M. Jurmansyah S.Pd, yang akrab disapa H. Juman, adalah sosok sentral di balik berdirinya dan keberlangsungan Klub Berkah FC. Lahir di Palangkaraya, 26 Juni 1970, pria yang berprofesi sebagai Kepala MTSN 1 Kota Banjarmasin ini memiliki prinsip hidup yang unik, yakni “berusaha menyenangkan hati orang lain walau tidak sesuai dengan keadaan kita,” ujarnya pada Minggu (7/6/2026). Ada cerita menarik di balik nama Berkah FC. Ternyata, klub ini awalnya bernama Juman FC. “Tapi kawan-kawan mengganti nama supaya ada keberkahan,” ungkap H. Juman. Pergantian nama klub ini diiringi doa dan harapan agar seluruh pemain dan pengurus selalu sehat penuh keberkahan, dan kerja sama tim membawa kegembiraan, kebaikan bersama.Kiri ke kanan: H. Zahrani, Budi, H. Juman, AlamsyahSejak kecil H. Juman sudah jatuh hati pada sepak bola. Baginya, bola bukan sekadar mencatatkan nama di papan skor, melainkan sarana untuk berbagi pengalaman, menyambung silaturahmi, dan mengenal daerah lain. “Ini olahraga yang paling banyak disukai orang di muka bumi,” akunya. “Melalui sepak bola, kita bisa menyambung tali silaturrahmi dan asyiknya lagi mengenal daerah lain saat laga tandang persahabatan,” tambahnya lagi.Namun, cinta yang besar itu berhadapan dengan realitas di lapangan. Menurut H. Juman, kompetisi sepak bola di Kalimantan Selatan masih belum ideal. “Kejuaraan antar SSB dan kelompok umur jarang dilakukan. Harusnya diperbanyak  dan dilaksanakan secara teratur untuk menjaring bibit-bibit muda berbakat,” keluhnya. “Jangan cuma klub sepak bola legenda yang maju—para pemain tua yang tetap berkibar, sementara bibit-bibit muda kekurangan panggung,” tuturnya.Ditanya klub sepak bola yang disukai di kancah Nasional, H. Juman tanpa ragu mengatakan ngefans klub sepak bola asal Kota Bandung, Persib Bandung, yang sukses meraih gelar juara liga 3 musim berturut-turut (hattrick): 2023/2024, 2024/2025, dan 2025/2026. Adapun di pentas internasional, Ia menyebutkan Manchester United (MU. “Saya suka gaya bermain tim “Maung Bandung” dan “The Red Devils,” ungkapnya.  Gaya menyerap kedua tim idamannya itu ikut mempengaruhi strategi Berkah FC, misalnya dalam mengutamakan serangan cepat dan tekanan sejak awal pertandingan.Tidak hanya memimpin MTSN 1 Kota Banjarmasin, sekolah di bawah naungan Kemenag dengan visi "Mewujudkan generasi yang beriman, berilmu, berakhlak mulia, terampil dan mampu mengaktualisasikan diri dalam kehidupan bermasyarakat” H. Juman juga aktif mengelola tim sepak bola. Beliau didaulat menjadi Ketua Klub sepak bola All Star Kalsel. Saat menerima amanah, Ia menyampaikan visi membawa tim All Star dikenal  masyarakat sepak bola se-Kalsel, dengan mengikuti even-even penting dan menjadi juara. Visi serupa disematkan pada Berkah FC, tim yang juga Ia bina.Terkait pengelolaan Berkah FC, Sebagai pembina, Ia mengaku terkadang bingung memilih pemain saat akan bertanding. “Semua pemain memiliki karakteristik dan kemampuan yang baik,”akunya. “Antusiasme pemain yang ingin berpartisipasi mengikuti kompetisi menjadi berkah sekaligus dilema saat menyusun formasi tim,” jelasnya. Saat ditanya, tim apa yang dipilihnya jika suatu saat All Star Kalsel bertemu Berkah FC di kompetisi resmi? Pertanyaan ini seperti menjebaknya dalam dua cinta. H. Juman tidak memilih. Dengan bijak, Ia menjawab, “Saya berdiri di tengah-tengah sebagai penonton, untuk memonitor dan mengevaluasi ke depannya.” H, JumanPrinsip dan pendekatan H. Juman dalam mengelola klub sepak bola ternyata sejalan dengan nilai-nilai manajemen pendidikan yang Ia terapkan sehari-hari sebagai kepala MTSN 1 Kota Banjarmasin. Berikut beberapa poin yang berkaitan:1. Prinsip "Menyenangkan Hati Orang Lain" vs. Pelayanan Prima dalam PendidikanSeorang pemimpin satuan pendidikan dituntut memiliki orientasi pelayanan (service excellence) kepada siswa, guru, orang tua, dan masyarakat. Prinsip H. Juman—"berusaha menyenangkan hati orang lain walau tidak sesuai dengan keadaan kita"—merupakan wujud nyata dari filosofi customer satisfaction dalam konteks pendidikan. Kepala madrasah mungkin tidak selalu bekerja dalam zona nyaman, tetapi Ia harus berusaha memenuhi harapan semua pihak yang berkepentingan, dan demi kemajuan lembaga yang dipimpinnya. Namun prinsip ini tidak dapat diterjemahkan sebagai tindakan menyenangkan semua orang secara membabi buta (people pleasing), melainkan harus bersandar pada skala prioritas dan regulasi. 2. Nama "Berkah" sebagai Branding dan Nilai SpiritualBranding lembaga yang kuat mencerminkan nilai-nilai luhur. Pengubahan nama dari "Juman FC" menjadi "Berkah FC" menunjukkan kesadaran H. Juman akan pentingnya nilai spiritual dan harapan kolektif. Hal ini serupa dengan visi madrasah yang Ia pimpin: "Mewujudkan generasi yang beriman, berilmu, berakhlak mulia..." Keduanya menempatkan keberkahan dan akhlak sebagai fondasi utama, bukan sekadar prestasi materi semata.3. Kepemimpinan Partisipatif: Mendengar Masukan Kawan-KawanKesediaan H. Juman mengganti nama klub karena usulan "kawan-kawan" mencerminkan gaya kepemimpinan partisipatif (participative leadership). Kepala madrasah yang ideal tidak bersikap otoriter, tetapi membuka ruang dialog dengan guru, komite sekolah, dan siswa.4. Manajemen Talenta: Dilema Antusiasme vs. FormasiPengakuan H. Juman bahwa Ia "bingung memilih pemain karena semua bermain baik " adalah cerminan dari tantangan manajemen talenta di dunia pendidikan. Kepala madrasah sering dihadapkan pada kondisi kelebihan SDM yang berkualitas. Tugas pemimpin adalah menempatkan orang yang tepat di tempat yang tepat (the right man on the right place)—sama seperti menyusun formasi tim sepak bola. Antusiasme yang tinggi adalah berkah, tetapi jika tidak dikelola dengan sistem yang baik, dapat berubah menjadi dilema.5. Evaluasi Netral: Berdiri di Tengah sebagai PenontonJawaban H. Juman saat ditanya memilih tim mana jika All Star Kalsel bertemu Berkah FC—"Saya berdiri di tengah-tengah sebagai penonton, untuk memonitor dan mengevaluasi"—adalah praktik evaluasi yang objektif. Kepala madrasah tidak diperkenankan menunjukkan keberpihakan emosional kepada para guru yang dipimpinnya atau mengistimewakan program tertentu. Kepala madrasah harus menilai kinerja guru dan program berdasarkan instrumen evaluasi yang valid, transparan, dan terukur.6. Visi Berkelanjutan: Mengikuti Even Penting dan Menjadi JuaraVisi H. Juman untuk All Star Kalsel dan Berkah FC—mengikuti even penting dan menjadi juara— sejalan dengan manajemen berbasis target (Goal-Oriented Management). Sebuah madrasah eksis tidak hanya sekadar untuk memperoleh akreditasi atau mengikuti kompetisi akademik, tetapi bertekad meraih prestasi tertinggi. Praktik yang ditunjukkan oleh H. Juman membuktikan bahwa prinsip-prinsip manajemen umum bersifat lintas sektoral. Apa yang dipelajari di dunia sepak bola—seperti kerja sama tim, disiplin, strategi, taktik, dan evaluasi hasil pertandingan—sangat bisa diadopsi untuk memimpin lembaga pendidikan.
# EDUKASI
# Opini

Duet Palang Pintu Berkah FC: Sinergi Guru Kreatif dan Guru Disiplin dalam Manajemen Pendidikan

Iwan Perdana
4 Juni 2026
Selain memercayakan lini depan kepada  Taher untuk mencetak gol kemenangan, Kapten Rudi juga memberikan tanggung jawab  besar kepada 2 pemain tangguh di barisan belakang. Adalah Husaini dan Yusri, 2 palang pintu Berkah FC yang  diberikan misi melindungi area pertahanan: menggagalkan serangan lawan, dan membantu kiper agar tim tidak kebobolan.HusainiTidak mudah melewati Husaini, yang lebih akrab disapa Isay. Berbekal pengalaman dan naluri tinggi, Ia tahu persis kapan harus memblok pergerakan atau tembakan penyerang lawan. Efeknya: Haris, sang penjaga gawang, merasa aman dan bisa bernapas lega. Kemampuan inilah yang membuat Isay menjadi  bek andalan Berkah FC, yang menjadi momok bagi tim lawan. HusainiMenurut Kapten Rudi, Gaya bermain Isay tenang. Ia memiliki kemampuan mematahkan serangan lawan, Isay juga terlibat aktif menjadi titik awal serangan tim dari lini belakang (Ball-playing Defender). Berbekal kecepatan tinggi, akurasi umpan lambung maupun datar, serta stamina yang prima, Isay menjadi pilar krusial dalam membantu transisi cepat dari bertahan ke menyerang (counter attack).Pilar kokoh lain di lini belakang Berkah FC adalah Yusri yang akrab disapa Iyus. Postur tubuhnya yang besar membuat nyali penyerang lawan menciut. Saudara kandung Isay ini unggul dalam duel fisik, sapuan bola, intersepsi, serta kemampuan membaca arah umpan silang. “Iyus tipe bek pekerja keras, saya menyukai semangat juangnya yang tidak mau menyerah,” ujar Rudi pada Minggu (24/5/2026) melalui pesan WhatsApp. Ketangguhannya menjaga area kotak penalti membuat Iyus selalu menjadi pilihan utama Rudi— Kapten sekaligus manajer tim, dan H. Juman—pembina klub di setiap laga resmi Berkah FC.YusriDalam manajemen pendidikan, duet Isay dan Iyus merepresentasikan dua pilar penting dalam struktur sekolah: guru inovatif dan guru disiplin.Isay adalah guru kreatif yang profesional dan inspiratif dalam mengajar, tetapi juga menjadi penggerak inovasi pembelajaran (titik awal serangan). Ia cakap dalam transisi kurikulum—mengubah tekanan menjadi peluang, seperti counter attack dalam sepak bola.Iyus adalah guru yang fokus pada bagian kesiswaan. Ia bertugas menjaga  sekolah: tata tertib, keamanan, dan penanganan konflik (area kotak penalti). Keunggulannya dalam duel fisik, merebut bola, sapuan bola, dan intersepsi dianalogikan sebagai kemampuan menengahi perundungan (bullying), dan membaca potensi krisis sebelum meledak. Pemilihan pemain yang akan diturunkan di laga resmi oleh Kapten Rudi serupa dengan proses perekrutan guru berdasarkan kompetensi spesifik oleh pimpinan lembaga pendidikan. Sekolah berkualitas membutuhkan guru yang pintar mengajar (Isay), dan guru yang tegas & protektif (Iyus). Keduanya saling melengkapi menciptakan ekosistem pendidikan yang aman, dinamis, dan berprestasi.
# EDUKASI
# Opini

Belajar Manajemen Pendidikan dari Striker Veteran Berkah FC

Iwan Perdana
2 Juni 2026
Melihat Kasliannor yang akrab dipanggil Pak Midun, Pemain veteran Berkah FC, saya langsung teringat Roger Milla—kampiun Tim Kamerun yang sukses merebut bola dari Kiper ikonik Kolombia, Rene Higuita. Keberhasilan The Old Lion memanfaatkan Blunder El Loco mengantarkan Tim Kamerun lolos ke babak perempat final (8 besar) Piala Dunia 1990, dan menyebabkan Tim berjuluk Los Cafeteros pulang lebih cepat dari piala dunia 1990 di Italia.Kasliannor & Rudi, Kapten Berkah FCBermain di posisi striker, aksi Kaslian di lapangan masih membuat kerepotan barisan pertahanan lawan. “Bomber berpengalaman ini sudah mencetak 106 gol selama karirnya membela Berkah FC,’ jelas Rudi, Kapten Berkah FC. Kasliannor, Striker Berkah FCKasliannor masih menjadi andalan Berkah FC di lini depan. Meski tak lagi muda, akurasi umpannya terjaga (Maintained Passing Accuracy). Kontrol Bolanya pun masih Ciamik (Ball Control). Walau kehilangan kecepatan menggiring bola (Losing a Yard of Pace), tapi tidak mudah merebut bola di kakinya. Ini saya lihat kemarin, senin (1/6/2026), pada sesi latihan Berkah FC di Lapangan Kayutangi Ujung. Usaha keras Alwad—pemain bertahan, menghalangi Beliau melepaskan tembakan langsung ke gawang. Meski bola masih bisa ditangkap Haris, kiper andalan Berkah FC, ini adalah bukti naluri mencetak golnya belum hilang.Kapten Rudi & Tim Berkah FCTak hanya diandalkan di dalam lapangan, di luar lapangan pun karisma Pak Midun belum memudar. Mendampingi Kapten Rudi sebagai asisten manajer, Ia seringkali menjadi partner diskusi sang komandan klub menyusun pemain yang akan diturunkan untuk mengikuti kompetisi resmi tim. Kesediaannya menyiapkan fasilitas “Alphard” untuk transportasi tim adalah bukti kecintaan dan dedikasi yang luar biasa besarnya kepada tim yang bermarkas di Café Midun ini. Kasliannor & Tim Berkah FCSatu lagi hal yang membuat saya mengagumi Beliau adalah kepeduliannya bersama Kapten Rudi dalam memberi kesempatan pemain muda untuk berlatih / bermain sepak bola di Berkah FC. “Capt, bagi pemain muda jadi dua kelompok agar mereka bisa berlatih,’ ucapnya. Ide kaderisasi dan mendukung kemajuan pemain yunior (Youth Development) luar biasa. Jika banyak  pemain senior yang berpikiran seperti mereka, saya yakin akan maju sepak bola banua. Dan saya melihat, sejauh ini, Berkah FC berhasil memadukan pemain senior dan Yunior di dalam timnya. Maju terus Berkah FC.Kasliannor (Pak Midun) mencerminkan prinsip manajemen pendidikan/ kepemimpinan pendidikan yang efektif. Sebagai asisten manajer sekaligus pemain veteran, Ia menjalankan fungsi perencanaan (menyusun pemain bersama kapten), pengorganisasian (membagi kelompok latihan), dan pendampingan (menyiapkan fasilitas tim). Ini paralel dengan kepala sekolah atau pimpinan lembaga pendidikan yang merancang program, mengatur rombongan belajar, serta memfasilitasi sarana prasarana.Dan yang paling penting adalah kaderisasi kepemimpinan melalui pemberian kesempatan kepada pemain muda. Dalam manajemen pendidikan, keberhasilan sebuah lembaga diukur tidak hanya raihan prestasi dari guru dan siswanya, tetapi juga kemampuan mencetak kader pemimpin baru. Kolaborasi senior–junior di Berkah FC mencerminkan iklim demokratis dan partisipatif, setiap pemain merasa dihargai dan diberi ruang untuk berkembang—persis seperti komunitas lembaga pendidikan yang sehat.  
# EDUKASI
# Opini

Etos Kerja, Senjata Andalan, dan Keseimbangan dalam Kepemimpinan Pendidikan

Iwan Perdana
1 Juni 2026
10 hari yang lalu, saya berbincang dengan Mat Sunda. Pemain berposisi Wing Bek kanan yang hangat dan cepat akrab dengan siapa saja. Menurut pengakuannya, Ia menggemari sepak bola sejak kecil. Hobi itu berlanjut hingga usianya yang kini “matang” bermain sepak bola.  Untuk pemain seusianya, Mat Sunda tergolong pemain luar biasa karena posisi yang dimainkannya menuntut tugas yang sangat berat. Wing bek kanan “memaksa” pemain memiliki stamina prima: Ia harus rajin membantu serangan (overlap) serta cepat kembali bertahan saat kehilangan bola. Ditanya tentang siapa pemain idolanya di kancah sepak bola internasional, tanpa ragu Mat Sunda menyebut Cristiano Ronaldo. Alasannya, pemain Portugal yang baru saja merayakan juara liga Arab Bersama Al Nassr tersebut memiliki etos kerja yang tinggi.“Semua gol yang diciptakan CR7 sangat indah. Di usianya yang sudah memasuki 41 tahun, Ia tetap menjadi penyerang hebat, andalan negaranya dan klub yang dibelanya”, Ungkapnya pada Jumat (22/5/2026). Sedangkan pemain dalam negeri yang dikaguminya adalah Bambang Pamungkas. “Saya suka tandukan Bepe,” ujarnya. Di Berkah FC, Mat Sunda merasakan silaturahmi yang kuat. “Teman-teman tidak gampang tersinggung diajak bercanda, tetapi serius saat Latihan. Berkah FC itu top Pak Iwan.” Ungkapnya. Ia pun merasakan keseimbangan,karena selain canda tawa, dan membahas sepak bola di grup WhatsApp, Setiap pagi H. Juman dan Al Ayubi, memposting nasihat dan kutipan hadits. Berkah FCDikaitkan dengan Manajemen Pendidikan, saya membuat beberapa analogi, yaitu: 1. Etos kerja Di usia 41 tahun, etos kerja Cristiano Ronaldo masih sangat tinggi. Ikon sepak bola ini mengajarkan bahwa dalam kepemimpinan pendidikan, usia tidak menjadi alasan yang menghalangi produktivitas yang berkualitas. "Gol-gol indah" CR7 melambangkan hasil kerja yang estetis dan bermakna yakni pemimpin pendidikan harus menetapkan kebijakan yang berdampak positif bagi peserta didik dan guru.2. Senjata Andalan Meskipun postur tubuhnya tidak terlalu tinggi, Bambang Pamungkas terkenal dengan gol sundulannya. Bisa disebut, gol melalui kepala adalah senjata andalan Bepe. Seorang pemimpin lembaga pendidikan idealnya memiliki "senjata andalan" khas, baik berupa keahlian khusus maupun pendekatan unik yang membedakannya dari pemimpin lain.3. Keseimbangan      Keakraban yang terjalin terasa sangat seimbang. Relasi  tidak hanya diisi dengan bercanda dan membahas bola, tetapi juga diwarnai dengan nasihat serta kutipan hadis setiap pagi yang dibagikan oleh H. Juman dan Al Ayubi." Manajemen pendidikan yang sehat menggabungkan keakraban (relasi sosial), profesionalisme, dan nilai spiritual (karakter). Tanpa keseimbangan, lembaga pendidikan akan kehilangan arah. Ungkapan Mat Sunda tentang Ronaldo, Bepe, dan Berkah FC mengajarkan bahwa pemimpin pendidikan yang hebat adalah sosok yang tetap bekerja keras di usia matang, memiliki keahlian khas, serta mampu menciptakan keseimbangan antara canda, kesungguhan, dan nilai-nilai spiritual.
# EDUKASI
# Opini

EDUTECH: WADAH PENGEMBANGAN MAHASISWA PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS YANG INOVATIF DAN ADAPTIF

Abdul Aziz, M.Pd
8 Juni 2026
Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara guru merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran. Oleh karena itu, calon guru Bahasa Inggris tidak hanya dituntut menguasai materi dan keterampilan berbahasa, tetapi juga mampu menciptakan inovasi pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan peserta didik di era digital. Menjawab kebutuhan tersebut, Program Studi S1 Pendidikan Bahasa Inggris STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin menghadirkan program EDUTECH sebagai wadah pengembangan kompetensi mahasiswa dalam merancang dan menghasilkan inovasi pembelajaran berbasis teknologi.EDUTECH merupakan program pelatihan yang dirancang untuk membekali mahasiswa dengan kemampuan mengembangkan media, strategi, metode, dan bahan ajar yang kreatif, interaktif, serta sesuai dengan karakteristik pembelajaran abad ke-21. Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya belajar menggunakan teknologi dalam pembelajaran, tetapi juga didorong untuk menghasilkan berbagai inovasi yang dapat meningkatkan kualitas proses belajar mengajar. Mahasiswa diberikan kesempatan untuk mengeksplorasi berbagai platform digital, aplikasi pendidikan, serta teknologi berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) yang dapat diintegrasikan dalam pembelajaran Bahasa Inggris.Program ini sejalan dengan visi Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris yang berkomitmen menghasilkan lulusan yang inovatif, adaptif, dan mampu menjawab tantangan perkembangan dunia pendidikan. Melalui EDUTECH, mahasiswa dilatih untuk merancang pembelajaran yang lebih menarik, efektif, dan berpusat pada peserta didik. Berbagai keterampilan seperti pembuatan media pembelajaran interaktif, pengembangan game edukasi, desain bahan ajar digital, pemanfaatan Augmented Reality (AR), pengembangan website pembelajaran, hingga penggunaan Artificial Intelligence dalam pendidikan menjadi bagian dari pengalaman belajar mahasiswa.Salah satu manfaat utama EDUTECH adalah membantu mahasiswa mempersiapkan diri menghadapi kegiatan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) maupun program MBKM Asistensi Mengajar di sekolah dan berbagai lembaga pendidikan. Mahasiswa yang telah mengikuti pelatihan EDUTECH memiliki bekal keterampilan dalam merancang media pembelajaran digital, membuat presentasi yang menarik, mengembangkan aktivitas pembelajaran interaktif, serta memanfaatkan berbagai aplikasi pendidikan yang mendukung proses belajar mengajar. Bekal tersebut membuat mahasiswa lebih percaya diri saat memasuki kelas, lebih mudah beradaptasi dengan kebutuhan peserta didik, dan lebih siap menghadapi tantangan pembelajaran yang beragam di lapangan.Manfaat program ini juga dirasakan secara langsung oleh mahasiswa yang sedang menjalani program MBKM Asistensi Mengajar. Salah seorang mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris mengungkapkan:"Alhamdulillah, melalui EDUTECH ini saya bisa lebih kreatif dalam membuat berbagai media pembelajaran digital, dan ini sangat bermanfaat saat saya menyusun media ajar untuk program MBKM yang saat ini saya jalani."Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa keterampilan yang diperoleh melalui EDUTECH tidak hanya berhenti pada tahap pelatihan, tetapi dapat diterapkan secara nyata dalam kegiatan mengajar. Kemampuan mengembangkan media pembelajaran yang menarik, interaktif, dan sesuai dengan karakteristik peserta didik membantu mahasiswa melaksanakan tugas pembelajaran dengan lebih efektif. Testimoni ini menjadi bukti bahwa EDUTECH mampu menjembatani kebutuhan perkuliahan dengan tuntutan praktik di lapangan sehingga mahasiswa lebih siap menjalani MBKM, PPL, maupun profesi sebagai guru di masa depan.Sebagai bentuk implementasi hasil pelatihan, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris telah menghasilkan produk inovatif yang dapat digunakan secara langsung dalam pembelajaran. Produk-produk tersebut menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam mengintegrasikan teknologi dengan strategi pembelajaran Bahasa Inggris yang kreatif dan menarik.1. Media Pembelajaran Interaktif Berbasis Wordwall Media ini dikembangkan untuk meningkatkan keterlibatan peserta didik melalui aktivitas pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan.Link karya: https://wordwall.net/resource/1011719002. Bahan Ajar Digital Berbasis FlipbookBahan ajar digital yang memungkinkan peserta didik mengakses materi pembelajaran secara lebih fleksibel, menarik, dan mudah dipahami. Link karya: https://online.fliphtml5.com/meyim/gyxa/Karya ini menjadi bukti bahwa mahasiswa tidak hanya mempelajari teori pembelajaran di dalam kelas, tetapi juga mampu menghasilkan produk nyata yang dapat digunakan dalam kegiatan mengajar. Kemampuan ini menjadi modal penting ketika mahasiswa menjalani PPL, MBKM Asistensi Mengajar, maupun ketika memasuki dunia kerja sebagai pendidik profesional. Melalui EDUTECH, mahasiswa juga dilatih untuk mengembangkan kemampuan berpikir kreatif dan problem solving dalam menghadapi berbagai tantangan pembelajaran. Mahasiswa didorong untuk mengidentifikasi permasalahan yang sering muncul dalam proses belajar Bahasa Inggris, kemudian merancang solusi inovatif yang dapat membantu meningkatkan motivasi, keterlibatan, dan hasil belajar peserta didik. Dengan pendekatan ini, mahasiswa tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pencipta inovasi yang memberikan dampak nyata dalam dunia pendidikan.Dengan adanya EDUTECH, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin memperoleh ruang untuk berkreasi, bereksperimen, dan mengembangkan berbagai inovasi pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan pendidikan masa kini. Program ini menjadi salah satu keunggulan program studi dalam mempersiapkan calon pendidik yang tidak hanya kompeten dalam berbahasa Inggris, tetapi juga siap mengajar, mampu menciptakan solusi pembelajaran yang kreatif dan inovatif, serta memiliki pengalaman dalam mengembangkan media dan teknologi pembelajaran yang dapat diterapkan secara langsung di sekolah maupun lembaga pendidikan. Melalui EDUTECH, Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris terus berkomitmen mencetak lulusan yang profesional, adaptif, inovatif, dan siap menghadapi tantangan pendidikan abad ke-21.
# EDUKASI
# Opini

Mimbar Akademik STKIP Islam Sabilal Muhtadin: Ruang Bertumbuh bagi Sivitas Akademika

Novi Nurdian, M.Pd
5 Juni 2026
Setiap hari Rabu, suasana akademik di STKIP Islam Sabilal Muhtadin terasa lebih hidup melalui kegiatan Mimbar Akademik, sebuah forum pengembangan diri yang mempertemukan dosen dan tenaga kependidikan dalam ruang diskusi yang hangat dan inspiratif. Kegiatan ini menjadi wadah untuk berbagi gagasan, memperluas wawasan, sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia di lingkungan kampus.Mimbar Akademik dipandu oleh Wakil Ketua Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama, Ibu Yuliana Nurhayati, M.Pd., yang mampu menciptakan suasana diskusi yang interaktif dan penuh semangat. Dengan gaya moderasi yang komunikatif, setiap peserta diberi kesempatan untuk berpendapat dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis.Salah satu daya tarik utama kegiatan ini adalah kehadiran Bapak Iwan Perdana, Ph.D. sebagai pemateri tetap. Beliau dikenal sebagai akademisi yang memiliki wawasan luas, terutama dalam bidang pendidikan dan pengembangan kapasitas akademik. Penyampaian materi yang sistematis dan mudah dipahami membuat peserta selalu antusias mengikuti setiap sesi. Dalam setiap pertemuan, berbagai isu pendidikan menjadi bahan diskusi yang menarik. Mulai dari sejarah Pendidikan, tantangan pendidikan abad ke-21, inovasi pembelajaran, penguatan karakter peserta didik, hingga perkembangan kebijakan pendidikan nasional dibahas secara kritis dan konstruktif.Tidak hanya berfokus pada teori, Mimbar Akademik juga memberikan ruang praktik bagi peserta untuk mengasah keterampilan komunikasi. Kegiatan public speaking menjadi salah satu agenda yang paling diminati karena membantu peserta meningkatkan rasa percaya diri dalam menyampaikan gagasan di depan publik. Suasana semakin dinamis ketika sesi debat pendidikan dilaksanakan. Peserta diajak untuk menyampaikan argumentasi berdasarkan data dan pengalaman, sekaligus belajar menghargai sudut pandang yang berbeda. Kegiatan ini melatih kemampuan berpikir analitis dan keterampilan menyampaikan pendapat secara profesional.Bapak Iwan Perdana, Ph.D. tidak hanya berperan sebagai narasumber, tetapi juga sebagai fasilitator yang mendorong peserta untuk aktif bertanya dan berdiskusi. Beliau sering memberikan contoh-contoh nyata yang dekat dengan dunia pendidikan sehingga materi yang disampaikan terasa relevan dan aplikatif. Keikutsertaan dosen dan tenaga kependidikan dalam Mimbar Akademik menunjukkan komitmen STKIP Islam Sabilal Muhtadin untuk membangun budaya belajar sepanjang hayat. Forum ini menjadi bukti bahwa proses pembelajaran tidak hanya diperuntukkan bagi mahasiswa, tetapi juga bagi seluruh sivitas akademika.Melalui interaksi yang rutin setiap pekan, tercipta hubungan yang semakin erat antar peserta. Pertukaran pengalaman dan gagasan dari berbagai latar belakang pekerjaan memberikan perspektif baru yang memperkaya pemahaman bersama tentang dunia pendidikan. Mimbar Akademik telah menjadi salah satu program unggulan yang memberikan dampak positif bagi pengembangan kompetensi sivitas akademika STKIP Islam Sabilal Muhtadin. Dengan semangat kolaborasi, refleksi, dan pembelajaran berkelanjutan, kegiatan ini diharapkan terus menjadi ruang inspiratif yang melahirkan ide-ide inovatif untuk kemajuan pendidikan di masa depan.
# EDUKASI
# Opini

Wujud Nyata Visi STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin : Menyiapkan pendidik yang inspiratif, berkarakter, dan berkompeten.

Barendz Umar
5 Juni 2026
Visi STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin bukan sekadar rangkaian kata yang tertulis dalam dokumen institusi. Visi tersebut diwujudkan melalui berbagai program nyata yang memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa untuk tumbuh menjadi pendidik yang inspiratif, berkarakter, dan berkompeten.Salah satu bentuk implementasi visi tersebut adalah keterlibatan aktif mahasiswa dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Dalam setiap kegiatan pengabdian, mahasiswa tidak hanya menjadi peserta, tetapi terlibat secara langsung dalam proses perencanaan, persiapan, pelaksanaan program, hingga penyusunan laporan dan publikasi ilmiah. Pengalaman ini menjadi sarana pembelajaran yang sangat berharga untuk mengembangkan kemampuan akademik, sosial, dan profesional mereka.Sebagai contoh, dalam salah satu program pengabdian yang kami laksanakan, mahasiswa bersama dosen mengenalkan konsep dasar coding kepada siswa sekolah dasar melalui gambar, permainan, dan berbagai ilustrasi sederhana yang menarik. Pembelajaran disampaikan menggunakan kombinasi Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris sederhana agar mudah dipahami oleh peserta sekaligus memperkenalkan kosakata bahasa Inggris dalam konteks yang menyenangkan.Program ini tidak hanya bertujuan memperkenalkan teknologi kepada anak-anak sejak dini, tetapi juga melatih kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, kreativitas, serta menumbuhkan kesiapan menghadapi perkembangan dunia digital. Penggunaan Bahasa Inggris dalam kegiatan tersebut menjadi nilai tambah yang tidak hanya memberikan pengalaman praktik nyata bagi mahasiswa, tetapi juga membantu memperluas wawasan global peserta didik sejak usia dini.Kegiatan ini mencerminkan salah satu pilar penting visi STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, yaitu menyiapkan pendidik inspiratif melalui pengabdian tepat guna. Dosen berperan sebagai teladan yang membimbing mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmu pengetahuan dalam praktik nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Dengan demikian, proses pendidikan tidak berhenti di ruang kuliah, tetapi hadir langsung di tengah masyarakat melalui berbagai program yang relevan dan solutif.Di sisi lain, penggunaan Bahasa Inggris  juga menjadi bagian dari upaya mewujudkan pendidik yang berkompeten :  memiliki wawasan kebangsaan yang kuat, sekaligus mampu beradaptasi dengan perkembangan dunia internasional.Inilah komitmen yang terus kami wujudkan di STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin: membentuk generasi pendidik yang tidak hanya menguasai teori, tetapi juga mampu menginspirasi, mengabdi, dan membawa perubahan positif bagi masyarakat. Wujud nyata ini kami persembahkan untuk masyarakat. Yuk, bergabung bersama STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin dan jadilah pendidik inspiratif, berkarakter dan berkompeten yang siap berkarya, mengabdi, dan membawa perubahan bagi masa depan bangsa.
# EDUKASI
# Opini

  Youtube

Surah Ar-Rahman | Aniq Muhai

  Informasi

Selamat Hari Guru Nasional
Arah Pendidikan Nasional & Transformasi Pendidikan Lokal di Daerah
Kupas Tuntas: Kurikulum, Inklusi, dan Seni di Sekolah Dasar
Momentum Kebangkitan Nasional Melalui Peningkatan Kualitas Pendidikan