Postingan Terbaru

Yuliana Nurhayati, M.Pd. Resmi Dilantik Jadi Ketua STKIP Islam Sabilal Muhtadin 2026-2030

Edubanua.com
15 Oktober 2026
Jabatan ini bukanlah sebuah prestasi pribadi, tetapi tanggung jawab moral yang berat. Mari kita mulai perjalanan periode 2026-2030 ini dengan Bismillah, kita gerakkan dengan Lillah, dengan harapan mendapatkan ridha dari Allah SWT," ujar Yuliana Nurhayati, M.Pd., usai resmi dilantik sebagai Ketua STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin periode 2026-2030 pada Kamis (15/10/2026).Bertempat di Ruang Pertemuan kampus, Yuliana Nurhayati, M.Pd resmi dilantik menjadi Ketua STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin Periode 2026 -2030 oleh Dr. H. Abd Khair Amrullah, S.Sos.I., M.Pd.I, Ketua YPI Sabilal Muhtadin Banjarmasin. Di hadapan para tokoh Yayasan, Kepala Sekolah di lingkungan LPI Sabilal Muhtadin Banjarmasin, dan sivitas akademika Kampus Visioner, Yuliana Nurhayati mengawali langkahnya dengan sebuah pengakuan yang membumi. Ia menegaskan bahwa jabatan ini bukanlah sebuah pencapaian pribadi, melainkan sebuah beban moral yang memerlukan sinergi kolektif.Dalam orasinya, selain memberikan apresiasi mendalam kepada Ketua periode sebelumnya, Yuliana mengucapkan terima kasih kepada Iwan Perdana, Ph.D. Sebagai salah satu pendiri sekaligus mentor, Iwan Perdana dinilai telah meletakkan fondasi kuat bagi kampus dengan visi menyiapkan Pendidik inspiratif, berkarakter dan berkompeten. Yuliana juga menyoroti fenomena disrupsi teknologi, erosi integritas akibat penggunaan AI yang tak terkontrol, hingga isu krusial mengenai kesehatan mental mahasiswa yang sering kali luput dari radar kebijakan pendidikan. Senjata utama yang digunakan Yuliana untuk menghadapi badai tersebut adalah 'Dasajiwa'. Sepuluh karakter mulia ini diposisikan bukan sekadar hiasan dinding, melainkan kompas moral dan napas dalam setiap kebijakan Tridharma Perguruan Tinggi.Urusan administratif pun tak luput dari perhatiannya. Menatap tahun 2027, fokus jangka pendek telah dipatok: penyiapan dokumen DKPS dan LED untuk akreditasi Program Studi PGSD dan PAUD. Tak ketinggalan, persiapan wisuda tahun 2026 menjadi agenda mendesak yang harus segera dituntaskan.Vebrianti Umar, M.Pd., selaku Wakil Ketua Bidang Akademik, menilai sosok Yuliana sebagai pemimpin yang berorientasi pada kemajuan STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin. Menurutnya, ketenangan Yuliana dalam berpikir mencerminkan kedewasaan yang dibutuhkan sebuah institusi untuk menghindari keputusan yang tergesa-gesa. Di sisi lain, M. Juanda, S.I.Pust., pustakawan, melihat sisi humanis Yuliana sebagai seorang ibu dan akademisi yang mampu merajut komunikasi harmonis dengan semua lapisan staf.Yuliana menutup sambutannya dengan doa yang menyentuh sanubari. Ia berharap, di bawah kepemimpinannya dengan dukungan penuh dari Yayasan Pendidikan Islam Sabilal Muhtadin dan segenap sivitas akademika, STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin tidak hanya sekadar menjadi tempat bekerja, tetapi juga menjadi ladang pahala yang mencetak generasi pendidik bertakwa dan mencintai tanah air.
# BERITA
# Pendidikan

Pengembangan Kompetensi Guru Bahasa Inggris (PKGBI) 2026: Memperkuat Kompetensi Guru dalam Pembelajaran dan Asesmen Reading untuk Menghadapi Tes Kompetensi Akademik (TKA)

Edubanua.com
26 Juli 2026
Upaya peningkatan kualitas guru Bahasa Inggris di Kalimantan Selatan kembali diwujudkan melalui penyelenggaraan Pengembangan Kompetensi Guru Bahasa Inggris (PKGBI) 2026 yang dilaksanakan pada Sabtu, 26 Juli 2026, bertempat di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari (UNISKA MAB) Banjarmasin. Kegiatan ini diselenggarakan oleh The Association for the Teaching of English as a Foreign Language in Indonesia (TEFLIN) sebagai bagian dari program pengembangan profesional guru (teacher professional development) yang berfokus pada peningkatan kompetensi pedagogik dan profesional guru Bahasa Inggris di Indonesia.Kiri Ke kanan: Dr. Hengki SS.,M.Pd., Fitra Ramadhani, M.Pd., Dr. M. Zaini Miftah., dan Dr. Supiani, M.Pd.PKGBI 2026 diikuti oleh guru-guru Bahasa Inggris jenjang SMP, MTs, SMA, MA, dan SMK dari berbagai kabupaten dan kota di Provinsi Kalimantan Selatan. Program ini dirancang untuk membekali para guru dengan pengetahuan dan keterampilan terkini dalam merancang pembelajaran serta asesmen pada kompetensi keterampilan membaca (reading skills). Fokus tersebut dipilih karena kemampuan membaca menjadi salah satu kompetensi fundamental yang diukur dalam Tes Kompetensi Akademik (TKA) sehingga guru perlu memiliki pemahaman yang kuat mengenai strategi pembelajaran membaca, pengembangan soal berbasis penalaran, serta asesmen yang mampu mengukur kemampuan literasi peserta didik secara komprehensif.Selain meningkatkan kompetensi guru, kegiatan ini juga diarahkan untuk memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kualitas pembelajaran di kelas. Guru diharapkan mampu menerapkan berbagai strategi pembelajaran membaca yang lebih efektif sehingga peserta didik tidak hanya mampu memahami teks, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir kritis, menganalisis informasi, menarik kesimpulan, dan memecahkan masalah berdasarkan bacaan. Dengan demikian, peserta didik akan memiliki kesiapan yang lebih baik dalam menghadapi Tes Kompetensi Akademik, khususnya pada aspek reading comprehension.Kegiatan dibuka secara resmi oleh Dekan FKIP UNISKA MAB, Dr. Hengki, S.S., M.Pd. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa peningkatan kualitas pendidikan tidak dapat dipisahkan dari peningkatan kompetensi guru sebagai aktor utama dalam proses pembelajaran. Menurutnya, hadirnya Tes Kompetensi Akademik menjadi tantangan sekaligus peluang bagi guru untuk terus mengembangkan kompetensi profesional agar mampu merancang pembelajaran yang relevan dengan tuntutan pendidikan saat ini.Beliau menyampaikan bahwa guru tidak cukup hanya menguasai materi pembelajaran, tetapi juga harus memiliki kemampuan dalam menyusun asesmen yang mampu mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi (higher-order thinking skills), literasi membaca, serta kemampuan analitis peserta didik. Oleh karena itu, pelatihan seperti PKGBI menjadi sangat penting sebagai ruang belajar bersama untuk memperbarui wawasan dan meningkatkan kualitas praktik pembelajaran di sekolah.Selanjutnya, Koordinator Wilayah (Korwil) TEFLIN Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan, Dr. M. Zaini Miftah, menjelaskan bahwa penyelenggaraan PKGBI di Banjarmasin merupakan kelanjutan dari rangkaian PKGBI Batch 1 yang sebelumnya telah sukses dilaksanakan di Palangka Raya. Program ini merupakan bagian dari komitmen TEFLIN untuk memperluas akses pengembangan profesional guru Bahasa Inggris di berbagai daerah sehingga semakin banyak guru memperoleh kesempatan mengikuti pelatihan yang berkualitas.Beliau menekankan bahwa perubahan kurikulum, perkembangan asesmen nasional, serta meningkatnya tuntutan terhadap kompetensi literasi peserta didik mengharuskan guru terus memperbarui pengetahuan dan keterampilan profesionalnya. Oleh sebab itu, TEFLIN berkomitmen menghadirkan berbagai program pengembangan profesional yang tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga aplikatif sehingga dapat langsung diterapkan dalam praktik pembelajaran di sekolah.Dr. Supiani, M.Pd dan pesertaSementara itu, Wakil Koordinator Wilayah TEFLIN Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan untuk Wilayah Kalimantan Selatan, Dr. Supiani, M.Pd., menegaskan pentingnya membangun sinergi yang kuat antara TEFLIN, perguruan tinggi, pemerintah daerah, serta Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Inggris di seluruh Kalimantan Selatan. Menurut beliau, peningkatan kualitas guru tidak dapat dilakukan melalui pelatihan yang bersifat sesaat, tetapi memerlukan ekosistem pengembangan profesional yang berkelanjutan.Beliau menyampaikan bahwa teacher professional development harus menjadi budaya belajar bagi setiap guru. Guru perlu terus meningkatkan kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian melalui berbagai kegiatan seperti pelatihan, lokakarya, seminar, komunitas belajar, penelitian tindakan kelas, hingga kolaborasi dengan perguruan tinggi. Dengan adanya sinergi yang kuat antara TEFLIN dan MGMP Bahasa Inggris, diharapkan lahir berbagai program pengembangan kompetensi yang berkesinambungan sehingga mampu memberikan dampak nyata terhadap kualitas pembelajaran Bahasa Inggris di Kalimantan Selatan.Dalam kesempatan yang sama, Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UNISKA MAB, Fitra Ramadhani, M.Pd., menyampaikan apresiasi atas kepercayaan TEFLIN yang telah memilih UNISKA sebagai tuan rumah penyelenggaraan PKGBI 2026. Menurutnya, kegiatan ini merupakan bentuk nyata kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung peningkatan kompetensi guru Bahasa Inggris di daerah.Beliau juga mengungkapkan rasa bangga karena Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UNISKA MAB telah meraih Akreditasi Unggul, sehingga memiliki tanggung jawab moral dan akademik untuk terus berkontribusi dalam menghasilkan lulusan yang profesional sekaligus mendukung peningkatan kualitas guru yang telah mengabdi di sekolah-sekolah. Melalui kolaborasi bersama TEFLIN, UNISKA berkomitmen menjadi mitra strategis dalam mengembangkan pendidikan Bahasa Inggris yang berkualitas di Kalimantan Selatan.Selama kegiatan berlangsung, para peserta mengikuti berbagai sesi pelatihan yang membahas strategi pembelajaran membaca berbasis literasi, penyusunan instrumen asesmen yang sesuai dengan karakteristik Tes Kompetensi Akademik, analisis soal membaca, teknik meningkatkan kemampuan memahami teks akademik, serta diskusi mengenai praktik-praktik terbaik dalam pembelajaran reading di kelas. Suasana pelatihan berlangsung aktif dan interaktif. Para guru tidak hanya menerima materi dari narasumber, tetapi juga berdiskusi, berbagi pengalaman mengajar, serta bertukar praktik baik yang selama ini telah diterapkan di sekolah masing-masing.Pada sesi refleksi di akhir kegiatan, para peserta menyampaikan apresiasi yang tinggi terhadap penyelenggaraan PKGBI 2026. Mereka menilai bahwa materi yang diberikan sangat relevan dengan kebutuhan guru saat ini, terutama dalam menghadapi implementasi Tes Kompetensi Akademik. Para guru juga mengaku memperoleh banyak wawasan baru mengenai strategi pembelajaran membaca yang lebih efektif serta teknik penyusunan asesmen yang mampu mengukur kemampuan literasi peserta didik secara lebih komprehensif.Salah seorang peserta menyampaikan bahwa kegiatan seperti PKGBI tidak hanya meningkatkan pengetahuan guru, tetapi juga membangun motivasi untuk terus belajar dan berinovasi dalam pembelajaran. Peserta lainnya berharap agar program pengembangan profesional seperti ini dapat dilaksanakan secara rutin sehingga guru memiliki kesempatan untuk terus memperbarui kompetensinya sesuai perkembangan kebijakan pendidikan dan kebutuhan peserta didik.Peserta Teflin PKGBI 2026Secara umum, para guru merefleksikan bahwa kegiatan teacher professional development seperti PKGBI memberikan manfaat yang nyata bagi peningkatan kualitas pembelajaran dan asesmen Bahasa Inggris. Mereka berharap kolaborasi antara TEFLIN, perguruan tinggi, MGMP, dan berbagai pemangku kepentingan pendidikan terus diperkuat sehingga program-program pengembangan kompetensi guru dapat berlangsung secara berkelanjutan. Melalui pelatihan yang berkesinambungan, guru akan semakin siap menghadirkan pembelajaran yang berkualitas, menyusun asesmen yang lebih bermakna, serta membimbing peserta didik agar memiliki kemampuan literasi membaca yang lebih baik dan mampu menghadapi Tes Kompetensi Akademik (TKA) dengan percaya diri. Penyelenggaraan PKGBI 2026 di Banjarmasin menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi antara organisasi profesi, perguruan tinggi, dan komunitas guru merupakan fondasi penting dalam meningkatkan mutu pendidikan. Dengan semangat kolaborasi dan pembelajaran sepanjang hayat, program ini diharapkan mampu melahirkan guru-guru Bahasa Inggris yang semakin profesional, inovatif, adaptif terhadap perubahan, dan mampu memberikan dampak positif bagi peningkatan kualitas pendidikan, khususnya di Provinsi Kalimantan Selatan.
# BERITA
# Pendidikan

Belajar Manajemen Pendidikan dari Berkah FC dan Kafe Midun

Edubanua.com
31 Mei 2026
Warung Pak Kaslian menjadi sekolah nonformal kepemimpinan, sportivitas, dan solidaritas," ujar Iwan Perdana, Ph.D pada Sabtu (30/5/2026). Menurut akademisi manajemen pendidikan pendiri Lanting Literasi Indonesia.or.id tersebut, karakter Tim Berkah FC ternyata tidak hanya dibentuk melalui latihan rutin di Lapangan Kayutangi Ujung, tetapi juga melalui dialog-dialog jujur di atas meja-kursi kayu warung Pak Mak Midun.Lebih familiar dengan sebutan Kafe Midun, warung yang didirikan Pak Kaslian— akrab dipanggil Pak Midun, atau Bapa Madona, berlokasi di Belitung Darat. Warung makan ini terbuka untuk umum. Para pemain Berkah FC yang dulunya bernama Pelangi FC sering berkumpul di sini. Bahkan hampir tiap hari.Kiri ke Kanan: Taher, Rudi, Ody, Rusdi, Anonim, Tagan, H. Juman, Kadir, KaslianMelalui pesan WhatsApp, edubanua.com mewawancarai beberapa pemain yang sering nongkrong di kafe Bapak Madona. "Asyik aja kalau lagi ngumpul bahas bola," ujar Kadir— gelandang bertahan. “Saya senang berkumpul di warung Pak Midun, silaturahmi biar tambah tambah akrab," ungkap Yuspi—bek bertahan yang merasakan hangatnya kekeluargaan di sana. Senada dengan itu, Bahrudin merasa kenyamanan adalah kunci utama. "Rame aja berkumpul di Kafe Pak Midun sambil bakisahan bola," jawabnya. Suasana ini diamini oleh Taufik—gelandang serang Berkah FC. "Di sana suasananya enak seperti di rumah sendiri dan banyak teman-teman mengerti tentang permasalahan bola," ujarnya.Iwan Perdana, Ph.D, akademisi alumnus UPSI Malaysia melihat irisan sosiologi dan olahraga yang kuat di Berkah FC. Menurutnya, Kafe Pak Midun bukan sekadar tempat nongkrong. Warung ini menjadi laboratorium sosial tempat karakter tim dibentuk, juga dapat dijadikan analogi menarik untuk manajemen pendidikan. Beliau juga melihat peran tiga tokoh kunci klub yang sering melakukan laga away ini —Rudiansyah (kapten Tim sekaligus manajer tim), H. Juman (pembina), dan Kaslian (senior sekaligus asisten manajer)—menjadi penentu. Ketiganya membangun ekosistem kepemimpinan yang menjamin kelancaran operasional tim.Kiri ke kanan: Dahri, Iyus, Kadir, Kaslian, IssayRudi, sebagai kapten dan manajer tim, adalah komandan operasional. Sebagai Ketua klub, Ia merupakan magnet berkumpulnya para pemain Berkah FC.  Iwan Perdana menceritakan pengalamannya ikut nimbrung di Kafe. “Kapten Rudi aktif berinisiatif mencairkan suasana dengan bertanya kabar? Kemudian mengulas permainan yang rutin dilakukan setiap Senin dan Kamis, melibatkan rekan dalam memutuskan lawan sparring, atau ngobrol santai topik terkini seputar bola” ungkapnya. Dalam konsep kepemimpinan, menurut Iwan Perdana, Kapten Rudi adalah contoh nyata dari praktik Transformational Leadership dan Peer Leader yang mempraktikkan perhatian individual (individualized consideration), komunikasi terbuka, dan tanggung jawab kolektif.“H. Juman adalah penjaga moral tim,” ujar Iwan Perdana. Hal ini berdasarkan pengamatannya meski tidak selalu ikut latihan, tetapi sang pembina memberikan efek psikologis yang kuat. Di setiap pertemuan selalu “dituakan” untuk memimpin doa dan menyampaikan pesan-pesan positif. Dalam manajemen pendidikan, Beliau berfungsi sebagai supervisor dan moral compass yang memastikan warung tetap menjadi ruang belajar positif.Kaslian menjadikan kafenya tempat netral tanpa sekat. Pemain inti dan cadangan dilayani sama. Meja-kursi warungnya mencatat beragam aspirasi dan kritik. Sesekali Beliau memberikan minum gratis kepada pemain yang membantu membereskan warung. Iwan Perdana menyebutkan dalam manajemen pendidikan, Peran Kaslian adalah enabler dan learning resources manager yang menata lingkungan agar pembelajaran karakter berlangsung alami.Berkah FC_Laga AwayKapten Rudi menggerakkan tim, H. Juman mengawal nilai, dan Kaslian memfasilitasi. Ketiganya sukses mengubah “Kafe Midun” menjadi sekolah nonformal kepemimpinan, sportivitas, dan solidaritas para pemain Berkah FC. Dianalogikan di bidang pendidikan, Sekolah idealnya menjadi wadah berkumpul yang dikelola secara sadar, dengan peran yang jelas, sehingga melahirkan tim tangguh yang meningkatkan mutu pembelajaran.
# EDUKASI
# Opini

Cetak Biru Manajemen Pendidikan di Balik Kisah Qurban

Edubanua.com
28 Mei 2026
Opini kali ini menampilkan ulang tulisan Dr. Iwan Perdana di website https://www.lantingliterasiindonesia.or.id/ yang berjudul Cetak Biru Manajemen Pendidikan di Balik Kisah Qurban pada tanggal 28 Mei 2025.Dituliskan oleh Beliau bahwa dalam perspektif pendidikan, percakapan antara Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail menggambarkan keberhasilan manajemen pendidikan karena mampu mengubah instruksi/perintah (kurikulum) menjadi sebuah kesadaran sukarela warga sekolah untuk melaksanakannya.Diawali dengan kalimat yang menceritakan memorinya saat masih berstatus mahasiswa semester 3. Pada saat itu, salah satu grup Nasyid asal Malaysia yang terkenal, Raihan, meluncurkan lagu berjudul “Iman Mutiara". Lirik pada bagian reff (chorus) lagu tersebut berbunyi: “Iman tak dapat diwarisi dari seorang ayah yang bertakwa. Beliau kemudian menyebutkan Kan’an, yang menolak ajakan Nabi Nuh untuk bertauhid kepada Allah SWT (QS. Hud Ayat 42–43). Beliau juga menyebutkan kisah yang diabadikan dalam Al Qur’an tentang Ayah dan anak yang bertaqwa— kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS, yang kemudian menjadi asal mula pelaksanaan ibadah yaitu. Ditampilkan percakapan antara keduanya sangat menyentuh hati. Memotivasi siapapun yang membaca kisahnya untuk memperbanyak doa agar memiliki keturunan yang saleh/ah, sekaligus introspeksi seberapa baik dalam mendidik anak. “Maka ketika anak itu sampai pada (umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, ‘Wahai anakku!' Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!' Dia (Ismail) menjawab, 'Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku, termasuk orang yang sabar.'”(QS. Ash-Shaffat ayat 102). Dipaparkannya bahwa ayat tersebut mengandung banyak hikmah, antara lain ujian ketaatan, pentingnya komunikasi antara orang tua dan anak, dan kesabaran. Perintah Allah SWT  yang sangat berat untuk menguji ketundukan mutlak kepada Allah SWT.Disebutkan bahwa sebelum melaksanakan perintah, Nabi Ibrahim menyampaikannya terlebih dahulu kepada Nabi Ismail untuk meminta pendapatnya. Pendekatan ini menunjukkan pentingnya komunikasi dua arah antara orang tua dan anak. Persetujuan Nabi Ismail adalah bentuk bakti yang luar biasa kepada ayahnya sekaligus ketaatan kepada Allah SWT. Keikhlasan Nabi Ismail adalah bukti keberhasilan penanaman tauhid dari seorang ayah kepada anaknya sejak dini.Selanjutnya Beliau mengaitkannya dengan manajemen pendidikan, bahwa peristiwa yang menjadi asal mula ibadah Qurban tersebut memberikan banyak Pelajaran termasuk dapat menjadi cetak biru (blueprint) manajemen pendidikan karakter dan kepemimpinan yang sangat modern, antara lain: 1.   Pendidikan Berbasis Karakter2.   Participative Leadership3.   Manajemen Komunikasi  Pendidikan Berbasis KarakterIwan Perdana, Ph.D menyebutkan keikhlasan Nabi Ismail melaksanakan perintah Allah SWT adalah buah dari penanaman tauhid Nabi Ibrahim sejak dini. Menurutnya, dalam Manajemen pendidikan, karakter unggul tidak terbentuk dari sekadar pemahaman teori di kelas, tetapi juga dari praktik di lapangan melalui latihan dan proses yang panjang. Kolaborasi sekolah dan keluarga memainkan peran yang sangat penting dalam pembentukan karakter mulia pada diri anak. Participative Leadership, dan Komunikasi dua arahNabi Ibrahim tidak memerintahkan anaknya agar melaksanakan perintah Allah SWT secara otoriter. Bapak para Nabi tersebut mengajarkan urgensi menghargai martabat anak sebagai fondasi utama dalam pendidikan karakter. Komunikasi resiprokal—transparan tentang tujuan, terbuka pada dialog, dan penuh penghormatan—terlihat dari percakapan keduanya.Iwan Perdana menyatakan dalam manajemen pendidikan, Gaya kepemimpinan yang melibatkan bawahan dalam pengambilan keputusan terkadang sangat diperlukan (Participative Leadership). Selain itu, seorang pemimpin harus mampu mengomunikasikan visi besarnya kepada orang-orang yang dipimpinnya, serta mempraktikkan komunikasi dua arah dalam rangka membangun kesadaran kolektif. Pemimpin lembaga pendidikan harus meneladani gaya komunikasi Nabi Ibrahim (Role Model), yakni menjelaskan visi besar, meminta pendapat, dan melibatkan warga sekolah dalam proses pendidikan. Semoga Idul Adha 1447 semakin menebalkan rasa keimanan kita kepada Allah SWT, dan menjadi pedoman kita dalam beraktivitas di dunia pendidikan.
# EDUKASI
# Opini

Nakhoda Baru STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin: Yuliana Nurhayati, M.Pd.

Iwan Perdana
15 Oktober 2026
Mampukah sebuah institusi pendidikan tinggi tetap kokoh berdiri di tengah gempuran tantangan zaman tanpa sentuhan kepemimpinan yang berakar pada kerendahan hati? Di ruang pertemuan kampus yang tenang pada Kamis pagi, 15 Oktober 2026, pertanyaan itu seolah menemukan jawabannya saat Yuliana Nurhayati, M.Pd., melangkah maju menerima amanah baru sebagai Ketua STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin periode 2026–2030.Bagi Yuliana, pelantikan ini bukanlah pencapaian prestasi pribadi, melainkan tanggung jawab moral yang berat. Di hadapan Pembina Yayasan, Prof. Dr. H. Akhmad Sagir, M.Ag., dan Ketua Yayasan, Dr. H. Abd Khair Amrullah, S.Sos.I., M.Pd.I beserta jajarannya, Yuliana dengan suara tenang namun mantap menegaskan bahwa dirinya hanyalah manusia biasa."Saya menyadari sepenuhnya bahwa tanpa ridha Allah SWT, dukungan, dan arahan dari Yayasan serta rekan-rekan sejawat, mustahil amanah ini dapat saya jalankan. Saya membutuhkan bahu-bahu yang kokoh dari seluruh elemen kampus," ungkapnya tulus.Kerendahan hati ini bukan tanpa alasan. Yuliana tahu benar, tantangan besar sudah mengintip di depan mata. Agenda mendesak seperti submisi DKPS dan LED untuk akreditasi Program Studi PGSD dan PAUD pada 2027, serta persiapan wisuda 2026, menuntut kerja kolektif yang presisi. Dalam orasinya, Yuliana tak lupa menoleh ke belakang, memberikan penghormatan setinggi-tingginya kepada Iwan Perdana, Ph.D., salah seorang pendiri STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, sekaligus guru dan mentor para dosen dan tenaga kependidikan dalam mengembangkan potensi dan kompetensi mereka. Jejak dedikasi ketua periode sebelumnya pun ia apresiasi sebagai fondasi kampus.Nuansa spiritual begitu kental menyelimuti akhir sambutannya. Sebuah doa dipanjatkan Yuliana Nurhayati, M.Pd., memohon agar kampus ini bukan sekadar menjadi tempat mengajar, melainkan menjadi 'ladang pahala' dan pencetak generasi pendidik yang mencintai tanah air. Kepemimpinan Yuliana dinilai oleh banyak pihak sebagai angin segar. Vebrianti Umar, M.Pd., Wakil Ketua Bidang Akademik, melihat sosok Yuliana sebagai pribadi yang tenang dan tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan. Sebuah kualitas krusial untuk menjaga eksistensi  institusi di masa depan.“Ibu Yuliana Nurhayati memiliki pembawaan tenang dan penuh pertimbangan yang mencerminkan kedewasaan dalam berpikir, sehingga beliau tidak mudah tergesa-gesa dalam mengambil keputusan maupun bertindak. Sikap ini menjadi kualitas penting dalam kepemimpinan, karena setiap keputusan yang diambil akan menentukan arah, keberlangsungan, dan masa depan sebuah institusi. Dengan ketenangan dan kebijaksanaannya, Ibu Yuliana Nurhayati akan mampu menghadirkan kepemimpinan yang terukur, penuh kehati-hatian, dan berorientasi pada kemajuan STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin. Semoga Allah SWT memudahkan beliau memimpin kampus tercinta ini”. M. Juanda, S.I.Pust., pustakawan kampus, menambahkan dimensi lain dari sosok sang ketua baru. Baginya, Yuliana adalah representasi pemimpin perempuan yang ramah namun tetap berwibawa. Yuliana dianggap mampu memadukan kedewasaan berpikir dengan kepedulian yang harmonis terhadap lingkungan sekitarnya.
# BERITA
# Pendidikan

Apa yang diajarkan Rusdi 'the Spidey' tentang menjadi Guru yang Tangguh?

Iwan Perdana
4 Juli 2026
Selain hari Minggu, ada dua hari lain yang selalu saya nantikan yaitu Senin dan Kamis. Pada dua hari tersebut saya dapat berjumpa dengan banyak rekan sesama penggemar bola di lapangan kayutangi ujung: Klub Berkah FC, tim binaan H.Juman yang dalam operasionalnya dipimpin Kapten Rudi dibantu Kasliannoor.Pada edisi sebelumnya, yang dipublikasikan pada 12 Juni 2026, saya menulis tentang Haris "The Flying Eagle" Andy, kiper Berkah FC yang lincah dengan gaya terbangnya yang keren saat menangkap bola_https://edubanua.com/apa-yang-diajarkan-haris-andykiper-berkah-fc-tentang-kepemimpinan-pendidikan. Kali ini, saya ingin mengulik sosok Rusdianoor—akrab disapa Rusdi, kiper utama Berkah FC selain Fendi dan Busairi.Sorot matanya tajam mengawasi setiap gerakan pemain depan lawan yang mencoba menerobos pertahanan. Tubuhnya tinggi dan atletis. Keunggulan lainnya adalah kemampuannya melompat tinggi dan tangkapannya yang lengket, seolah ada jaring laba-laba di sarung tangannya. Itulah sosok Rusdi "The Spidey" yang kokoh di bawah mistar gawang, siap menghadang gempuran lawan.Bagi Rusdi, yang memiliki motto "Selalu memberikan yang terbaik untuk tim," sepak bola bukan sekadar olahraga. Ia adalah denyut nadi, tantangan, dan panggilan jiwa yang telah mengalir dalam darahnya sejak kecil. Namun, tak banyak yang tahu bahwa di balik ketangguhannya sebagai kiper, ternyata Rusdi bukanlah penjaga gawang pada awalnya. Menurut Rudi—Kapten Berkah FC—dulu Rusdi adalah seorang striker haus gol. Saat itu, kiper andalan Berkah FC adalah Fendi, kakak kandungnya.Yuspi — gelandang bertahan mengakui keistimewaan Rusdi. "Refleks antisipasi bolanya luar biasa. Pandai menutup atau mempersempit ruang tembak striker lawan," ungkapnya. Di luar lapangan, lanjutnya, Rusdi adalah sosok yang ramah dan baik hati. Pendapatnya ini diamini Rudi—Kapten Tim Berkah FC, dan Awad —bek kiri.Odi, rekan setim lainnya, menambahkan bahwa Rusdi adalah spesialis dalam membaca situasi krusial. Saat adu penalti, ia seperti memiliki radar membaca arah bola yang akan ditendang. "Rusdi menjadi andalan pertahanan tim dengan  postur tinggi, refleks cepat, dan kemampuan membaca situasi," puji Odi. "Ia adalah prototipe kiper modern" tegasnya.Rusdi mengaku mengidolakan Teja Paku Alam, yang bermain di Persib Bandung, dan Gianluigi Buffon, kiper legendaris Italia — salah satu kiper terhebat sepanjang masa. Dari kedua penjaga gawang tersebut, Rusdi mengaku belajar tentang ketenangan, keberanian, dan seni menjaga gawang. Adapun ketika ditanya tentang tim favorit di Piala Dunia 2026, tanpa ragu ia menyebut Prancis —negeri dengan sejarah sepak bola gemilang.Di bawah mistar gawang, Rusdianoor bukan sekadar penjaga. Ia adalah benteng terakhir, pilar keyakinan, dan jiwa dari timnya. Di setiap tangkapan, di setiap tepisan, ia membuktikan bahwa motto hidupnya bukanlah sekadar kata-kata. Ia merupakan tipe all-out player yang memberikan yang terbaik untuk tim yang dibelanya.Selain sepak bola, Rusdi juga gemar bermain Bulutangkis. Ia juga suka mendengarkan musik dan menonton film. Penyanyi favoritnya Rhoma Irama —raja dangdut yang selalu mampu membangkitkan semangatnya. Sedangkan aktor film yang disukainya adalah  H. Benjamin S, sang legenda layar lebar Indonesia. Dari Spidey ke Ruang KelasSeperti tulisan-tulisan sebelumnya yang mencoba menganalogikan sepak bola dengan dunia pendidikan, pada edisi ini saya melihat sosok Rusdi "the Spidey" juga menampilkan nilai-nilai kepemimpinan dan dedikasi yang relevan dengan dunia pendidikan. Seorang guru di kelas memiliki peran yang sangat mirip dengan seorang kiper. Guru adalah benteng terakhir dalam membentuk karakter dan masa depan siswa. Guru selalu siap menghadang berbagai "gempuran" tantangan pembelajaran, mulai dari kesulitan memahami materi hingga dinamika sosial di dalam kelas.Seperti Rusdi yang memiliki motto "Selalu memberikan yang terbaik untuk tim," seorang guru yang berdedikasi juga menjadikan keberhasilan siswa sebagai tujuan utamanya. Dedikasi ini bukan sekadar pekerjaan, melainkan "denyut nadi, tantangan, dan panggilan jiwa" sebagaimana dirasakan Rusdi. Ketangguhan guru diuji setiap hari, bukan hanya dalam menyampaikan ilmu, tetapi juga dalam menjadi contoh nyata (teladan) tentang ketekunan, integritas, dan semangat pantang menyerah—sama seperti Rusdi yang bertahan di bawah mistar.Kemampuan Rusdi membaca situasi krusial, memiliki refleks cepat, dan mempersempit ruang gerak lawan, adalah analogi sempurna untuk kompetensi pedagogik dan profesional guru. Seorang guru yang baik harus pandai "membaca" kondisi setiap siswanya, cepat tanggap terhadap kebutuhan belajar yang berbeda, dan mampu menciptakan lingkungan belajar yang aman dan kondusif ("mempersempit ruang" bagi kebosanan dan kejenuhan). Mereka adalah "prototipe pendidik modern" yang adaptif dan berwawasan luas.Lebih dari itu, Gaya bermain Rusdi di lapangan—yang tegas saat bertanding namun ramah di luar—adalah cerminan ideal gaya kepemimpinan transformasional dalam manajemen pendidikan. Guru yang efektif adalah pemimpin yang mampu menyeimbangkan ketegasan dalam menegakkan aturan dan disiplin dengan kehangatan dan empati. Ia membangun kepercayaan (seperti kepercayaan tim pada kipernya), sehingga siswa merasa aman dan termotivasi untuk memberikan yang terbaik.    
# EDUKASI
# Opini

Muhammad Thohir— Striker Berkah FC: Refleksi bagi Guru Kompeten

Iwan Perdana
22 Juni 2026
Salah seorang pemain andalan Berkah FC yang memiliki skill mengolah bola di atas rata-rata adalah Taher. Pemain bernama  asli Muhammad Thohir, Amd ini mempunyai motto hidup sederhana namun sarat makna: "Berbuat baiklah selama kita bisa membantu orang lain." Filosofi ini membentuk karakternya sebagai sosok yang rendah hati di luar lapangan. Sedangkan di dalam lapangan, ia pemain yang selalu mengutamakan tim.Taher & Berkah FC berlaga di BanjarbaruKetenangan Taher diakui oleh rekannya, Awad—. "Taher adalah pemain Berkah FC paling sabar, tidak pernah emosi, tidak pernah mengeluh, dan tetap mempertahankan gaya permainannya apapun tekanan di lapangan," ujar Awad. Sifat inilah yang membuat Taher selalu konsisten di setiap pertandingan, tidak terpengaruh oleh provokasi lawan maupun tekanan skor.Kecintaan Taher pada sepak bola dimulai sejak duduk di bangku sekolah dasar. Baginya, olahraga ini adalah magnet universal yang menyatukan banyak orang. "Dengan sepak bola, kita banyak mempunyai teman dan menambah persahabatan," ujar Taher, Selasa (16/06/2026) melalui pesan WhatsApp. Taher berlaga di MarabahanBerposisi sebagai striker, Taher adalah perpaduan antara pemain cerdas dan tidak egois. Keunggulannya tidak hanya memiliki postur tinggi besar menjadikannya sangat cocok menjadi penghancur tembok pertahanan lawan. Tetapi ia seorang predator di kotak penalti. "Apabila kita bisa menciptakan gol, ada rasa kepuasan tersendiri dan kebahagiaan," jawabnya ketika ditanya alasannya memilih posisi penyerang. Kehebatan Taher sebagai predator di depan gawang juga ditegaskan oleh Kapten Berkah FC, Rudiansyah. "Taher adalah tipe pemain predator, penyelesai yang sempurna, shooting-nya keras," puji Rudi. Coach Mady juga memberikan apresiasi terhadap kemampuan Taher. "Bang Taher striker yang mempunyai visi bermain jelas, pandai mencari peluang, dan shooting yang keras, sangat cocok untuk posisi seorang target man, serta punya sundulan yang akurat," ungkap Coach Mady. Deskripsi ini melengkapi profil Taher sebagai striker modern yang memiliki segalanya: kecerdasan, kekuatan fisik, akurasi, dan kemampuan duel udara.“Tantangan menjadi striker juga tak semudah yang dibayangkan,” tambahnya lagi. Setiap kali ia menggiring bola memasuki area kotak 16, Ia merasakan mata para bek dan kiper lawan, termasuk para penonton tertuju padanya. Tekanan untuk mencetak gol selalu membayangi, tetapi justru di situlah Taher menemukan kenikmatan sejati—merusak lini belakang lawan, memenangkan duel udara, dan menyelesaikan peluang dengan tembakan keras yang mematikan.Sebagai mesin gol Berkah FC, Taher mengidolakan penyerang Timnas Indonesia Kurniawan Dwi Yulianto—legenda predator era 90-an—, dan saat ini mengagumi Ole Romeny, striker diaspora yang sedang naik daun. Adapun striker luar negeri yang diidolakannya adalah Filippo Inzaghi, "Super Pippo" yang terkenal dengan insting pembunuh di kotak penalti, dan Cristiano Ronaldo, simbol profesionalisme dan kerja keras. Para ikon sepak bola itu menginsipirasinya menjadi penyerang cerdas yang tak hanya mengandalkan fisik, tetapi juga kecerdasan dalam membaca permainan.Meski gemar bermain sepak bola, Taher juga menyukai semua jenis olahraga. Menurutnya berolahraga adalah jalan menuju tubuh sehat dan kuat. Untuk hiburan, meski mengaku tidak terlalu hobi menyanyi, ia senang mendengarkan lagu-lagu melayu nostalgia—asalkan liriknya enak didengar, semua genre musik ia nikmati. Taher juga menyukai film-film bagus, baik lokal maupun luar negeri. Ia mengaku sering diajak menonton oleh anak dan istrinya, dan meski terkadang harus menonton film yang tidak terlalu disukai, ia tetap ikut dengan senang hati—walaupun tak jarang tertidur di tengah pemutaran. Film favoritnya adalah serial Fast and Furious, yang penuh aksi dan memicu adrenalin.Sebagai penggemar sepak bola sejati, Taher memiliki tim favorit di Piala Dunia 2026. Ia menjagokan Portugal—negeri asal idolanya Cristiano Ronaldo—serta Jerman, raksasa Eropa dengan tradisi kemenangan. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia berharap Tim Nasional Indonesia dapat berpartisipasi di Piala Dunia berikutnya pada tahun 2030.Taher & Berkah FC di Lapangan Kayutangi UjungAnalogi Kompetensi Guru sebagai StrikerSeorang guru yang kompeten seperti seorang striker. Ia berada di lapangan hijau : ruang kelas. Seperti Taher, sang penyerang andalan Berkah FC, guru tidak sekadar mengandalkan fisik atau formalitas—ia harus cerdas membaca situasi, tepat membuat keputusan, dan keberanian mengeksekusi peluang.Seorang striker hebat tahu kapan harus bergerak ke ruang kosong, kapan harus menahan bola, dan kapan melepaskan tembakan keras ke gawang. Demikian pula guru kompeten: ia tahu kapan harus menjelaskan, kapan memberi tugas, kapan mendiamkan siswa agar berpikir, dan kapan memberikan pujian atau teguran. Guru adalah pemecah kebuntuan—ketika siswa mengalami kebingungan atau kehilangan motivasi, guru harus mampu menciptakan "gol" pemahaman dengan penjelasan yang tepat dan pendekatan yang kreatif. Seperti Taher yang mempunyai visi bermain jelas, pandai mencari peluang, dan shooting yang keras, Guru harus memiliki visi mengajar yang jelas, mengetahui kapan harus memberi tantangan, dan memberi bantuan. Dan yang paling penting, seperti Taher yang dikenal tidak mudah terpancing emosi, guru sejati tidak terbawa amarah atau frustrasi saat menghadapi siswa yang sulit. Ia tetap tenang, sabar, dan fokus pada tujuan utama: mencetak "gol" keberhasilan bagi setiap siswa. Saban kali seorang siswa memahami konsep sulit atau berhasil mengatasi kelemahannya, itulah gol yang diraih sang guru—striker pendidikan.
# EDUKASI
# Opini

Tenang, Adaptif, dan Berorientasi Kepentingan Bersama: Kepemimpinan H. Dian— Gelandang Serang Berkah FC

Iwan Perdana
18 Juni 2026
Sesuai moto hidupnya, H. Muhammad Rusdiannoor—selalu ceria dan mengutamakan Kesehatan, adalah sosok yang ramah dan murah senyum. Perawakannya tinggi, tegap dan kuat. Postur ideal untuk seorang pemain sepak bola. Rekan-rekan se-timnya lebih sering memanggilnya H. Dian. Ia merupakan gelandang serang andalan Berkah FC yang berperan vital mengatur ritme permainan dari lini tengah. Berkah FCKecintaannya H. Dian pada si kulit bundar telah berakar sejak usia 10 tahun. Baginya, sepak bola bukan sekadar olahraga. Ada nilai filosofis di dalamnya yakni bagaimana sebelas individu dengan ego berbeda dapat menyatu untuk satu tujuan. "Sepak bola mengajarkan saya tentang bekerja sama dengan orang lain," ujarnya pada selasa (16/06/2026) melalui pesan WhatsApp. Praktik nilai Filosofis itulah yang menyebabkan H. Dian tidak hanya mengandalkan skill individu di lapangan hijau , tetapi juga kecermatan membaca dinamika rekan setim. “Posisi gelandang serang menuntut kecerdasan taktik, kemampuan membaca situasi, dan naluri mencetak gol. Saya menikmati posisi ini ,“ ungkap H. Dian yang mengidolakan Isnan Ali— Legenda Timnas Indonesia, dan bintang Liverpool, Mohamed Salah asal Mesir.H. Dian & TaherKeyakinannya akan pentingnya kerja sama itu bukan sekadar omongan. Hal itu terbukti dari pengakuan rekan-rekannya di Berkah FC tentang H. Dian— yang juga disapa Anjang, diungkap Awad, bek kiri Berkah FC. “Ia bisa main di bek, tengah, maupun lini depan”. Coach Mady menambahkan, “H. Dian  sejatinya adalah gelandang serang yang punya visi permainan bagus. Namun Ia juga mumpuni dimainkan di sayap kiri atau kanan. Kapten tim, Rudi, menilai H. Dian sebagai pemain santai yang selalu bermain dengan ketenangan di setiap pertandingan.Dari komentar Awad dan Coach Mady, terlihat bahwa H. Dian adalah pemain yang adaptif dan berorientasi pada tim. Ia rela berpindah posisi demi kebutuhan tim, tanpa kehilangan esensi permainannya. Sifat ini adalah cermin dari seorang pemain profesional sejati; lebih mementingkan kepentingan bersama daripada kepuasan pribadi. Ia tidak pernah mengeluh ketika harus keluar dari posisi favoritnya. Justru di situlah loyalitas dan komitmennya terhadap Berkah FC teruji. Ketenangan yang dimaksud Kapten Rudi adalah H. Dian mampu membuat keputusan tepat dan menjadi penenang bagi rekan-rekannya. Ia tidak banyak bicara, tetapi kerja kerasnya berbicara lebih lantang dari sekadar kata-kata.Selain sepak bola, H. Dian yang menjagokan Korea Selatan menjuarai Piala Dunia 2026 ini mempunyai hobi bulu tangkis dan memancing—dua aktivitas yang melatih refleks dan kesabaran. Bulu tangkis mengasah kecepatan reaksi, sementara memancing mengajarkan kesabaran—nilai-nilai yang ia praktikkan ke dalam gaya permainan sepak bolanya. Dari moto hidup dan  penuturan 3 pemain senior Berkah FC, tergambar sosok H. Dian: memiliki kualitas teknis mumpuni, namun tak pernah mengutamakan ego. Ia bisa bersinar di posisi favoritnya, tapi rela berkorban di posisi mana pun jika diperlukan. Walaupun memiliki keunggulan individu, ia memilih kejayaan kolektif. Itulah H. Muhammad Rusdiannoor—gelandang serang Berkah FC. Dikaitkan dengan Kepemimpinan Pendidikan, Profil H. Muhammad Rusdiannoor memberikan pelajaran yang sangat berharga . 1.       AdaptifH.  Dian siap bermain di posisi mana pun demi tim. Ini mencerminkan esensi kepemimpinan transformasional: pemimpin yang fleksibel, tidak kaku, dan mengutamakan kepentingan organisasi di atas ego pribadi. Seorang kepala sekolah dituntut memiliki keluwesan dalam menghadapi dinamika institusi.2.       Strategic Planning Gelandang serang harus mampu membaca lapangan, melihat peluang, dan mengambil keputusan tepat dalam hitungan detik. Pemimpin pendidikan harus memiliki visi jangka panjang serta kemampuan membaca situasi untuk memutuskan kebijakan strategis.3.       KetenanganKetenangan yang menjadi ciri khas H. Dian adalah teladan self-control dalam kepemimpinan. Di tengah tekanan dan konflik, pemimpin yang tenang mampu menjadi penyejuk organisasi dan mengambil keputusan rasional. Ia tidak banyak bicara, tetapi kerja kerasnya berbicara lebih lantang dari sekadar kata-kata—sebuah karakter kepemimpinan yang melayani (servant leadership).4.       Kerja SamaFilosofi H. Dian tentang bekerja sama dengan orang lain sejalan dengan prinsip partisipatif. Pendidikan berkualitas tidak dibangun sendiri; ia membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan. Motto hidupnya—"selalu ceria dan sehat"—mengingatkan pada pentingnya iklim organisasi positif dan kesejahteraan sumber daya manusia. Pemimpin yang sehat dan ceria menularkan energi baik kepada seluruh warganya. H. Dian adalah metafora kepemimpinan yang baik: bisa menjadi bintang, tapi memilih melayani tim; bisa bersinar di posisi favorit, tapi siap berkorban ditugaskan di posisi mana pun—inilah esensi kepemimpinan sejati.  
# EDUKASI
# Opini

Amanah Baru, Semangat Baru: Mengabdi dan Bertumbuh Bersama

Muhammad Supian Sauri
22 Oktober 2026
Alhamdulillah, hari ini menjadi salah satu momen yang berkesan dalam perjalanan pengabdian saya di dunia pendidikan. Pelantikan Wakil Ketua dan pejabat struktural di lingkungan STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin bukan sekadar seremoni, tetapi juga menjadi pengingat bahwa setiap amanah selalu membawa tanggung jawab dan harapan baru. Pada kesempatan ini, saya mendapatkan kepercayaan untuk mengemban amanah sebagai Kepala UPLP. Tentu, ini menjadi sesuatu yang patut disyukuri sekaligus menjadi tantangan baru untuk terus belajar dan berkembang. Bagi saya, jabatan bukanlah tentang posisi atau kedudukan, melainkan tentang bagaimana kita menjalankan tanggung jawab dan memberikan manfaat bagi orang lain. Semoga amanah ini menjadi bagian dari perjalanan untuk terus berkontribusi bagi kemajuan lembaga dan dunia pendidikan.Saya percaya bahwa kemajuan sebuah institusi pendidikan tidak bisa dibangun oleh satu orang saja. Dibutuhkan kerja sama, komunikasi yang baik, saling percaya, dan kesediaan untuk berjalan bersama. Setiap orang memiliki peran dan tanggung jawab masing-masing yang saling melengkapi dalam mencapai tujuan bersama. Tentu, dalam menjalankan tugas nanti akan ada berbagai tantangan dan hal-hal baru yang perlu dipelajari. Namun, setiap tantangan juga merupakan kesempatan untuk memperbaiki diri. Saya ingin menjalankan amanah ini dengan semangat kebersamaan, terbuka terhadap masukan, dan terus belajar dari pengalaman. Sebab, kita tidak harus selalu merasa paling tahu, tetapi harus selalu memiliki kemauan untuk belajar dan memberikan yang terbaik.Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ibu Yuliana Nurhayati, M. Pd., selaku Ketua STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, atas kepercayaan yang diberikan kepada saya untuk mengemban amanah sebagai Kepala UPLP. Kepercayaan ini menjadi motivasi bagi saya untuk terus belajar, bekerja dengan lebih baik, dan menjalankan tanggung jawab dengan sungguh-sungguh. Saya menyadari bahwa masih banyak hal yang perlu dipelajari dan dikembangkan, sehingga arahan, dukungan, serta masukan dari pimpinan dan rekan-rekan akan sangat berarti dalam perjalanan ini. Saya juga mengucapkan selamat kepada seluruh Wakil Ketua dan pejabat struktural yang turut dilantik. Semoga amanah baru ini membawa semangat baru bagi kita semua untuk terus berbenah, memperkuat sinergi, dan bersama-sama membawa STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin menjadi lebih baik.Pada akhirnya, saya percaya bahwa jabatan memiliki masa dan batasnya, tetapi nilai pengabdian yang dilakukan dengan tulus akan selalu memiliki arti. Tidak semua kontribusi harus dimulai dari hal-hal besar. Disiplin dalam bekerja, menyelesaikan tugas dengan baik, menjaga komunikasi, menghargai pendapat orang lain, dan bersedia membantu rekan kerja merupakan bagian penting dalam membangun lembaga yang lebih baik. Bismillah, saya akan berusaha menjalankan amanah sebagai Kepala UPLP dengan sebaik-baiknya, sambil terus belajar dan membuka diri terhadap berbagai masukan. Saya tentu tidak bisa bekerja sendiri, sehingga doa, dukungan, dan kerja sama dari semua pihak sangat berarti. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kesehatan, kemudahan, kebijaksanaan, dan keikhlasan kepada kita semua dalam menjalankan tanggung jawab masing-masing. Amanah baru, semangat baru, dan kesempatan baru untuk terus belajar, bertumbuh, serta memberikan manfaat. Mohon doa terbaiknya, semoga kita bisa terus berjalan bersama dan membawa STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin menuju kemajuan yang lebih baik.
# EDUKASI
# Opini

STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin Lantik Wakil Ketua dan Pejabat Struktural Masa Bakti 2026–2030, Perkuat Komitmen Menuju Kampus Visioner

Novi Nurdian, M.Pd
22 Oktober 2026
BANJARMASIN – STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin resmi melantik Wakil Ketua dan sejumlah pejabat struktural untuk masa bakti 2026–2030 pada Rabu, 21 Oktober 2026. Pelantikan yang dipimpin langsung oleh Ketua STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, Ibu Yuliana Nurhayati, M.Pd., ini menjadi momentum penting dalam memperkuat tata kelola perguruan tinggi sekaligus meneguhkan komitmen bersama untuk mewujudkan kampus yang visioner, inspiratif, berkarakter, dan berkompeten. Prosesi pelantikan tersebut menandai dimulainya amanah baru bagi para pejabat yang akan berperan dalam mengembangkan mutu akademik, pelayanan kelembagaan, serta berbagai program strategis kampus selama empat tahun ke depan.Dalam pelantikan tersebut, Vebrianti Umar, M.Pd. dipercaya sebagai Wakil Ketua Bidang Akademik, sedangkan Armin Fani, M.Pd. mengemban amanah sebagai Wakil Ketua Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama. Pada tingkat program studi, Abdul Azis, M.Pd. dilantik sebagai Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Novi Nurdian, M.Pd. sebagai Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), dan Maulidha, M.Pd. sebagai Ketua Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Sementara itu, Novi Suma Setiawati, M.Pd. dipercaya memimpin Lembaga Penjaminan Mutu (LPM), sedangkan Rizki Nugeraha Ilise, M.Pd. mengemban tugas sebagai Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM). Penempatan para pejabat ini diharapkan memperkuat koordinasi dan sinergi dalam meningkatkan kualitas tridarma perguruan tinggi.Selain unsur pimpinan dan ketua lembaga, pelantikan juga mencakup pejabat pada unit pelayanan dan pendukung kelembagaan. Halima Chairia, SE dilantik sebagai Kepala Bagian Administrasi Umum dan Keuangan; M. Agus Syafrian Noor, M.Pd. sebagai Kepala UPT Kemahasiswaan; Zulparis, M.Pd. sebagai Kepala UPT Kerja Sama, Humas, dan Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB); M. Juanda, S.I.Pust. sebagai Kepala UPT Perpustakaan; serta M. Supian Sauri, M.Pd. sebagai Kepala UPT Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP). Kehadiran para pejabat pada berbagai lini organisasi ini diharapkan mampu menghadirkan pelayanan yang semakin profesional, efektif, dan responsif terhadap kebutuhan mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, serta masyarakat.Dalam pidatonya, Ketua STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, Ibu Yuliana Nurhayati, M.Pd., menekankan pentingnya kerja sama sebagai fondasi utama untuk membawa institusi semakin maju. Menurutnya, kemajuan perguruan tinggi tidak dapat diwujudkan oleh satu orang atau satu unit kerja saja, melainkan membutuhkan komitmen, komunikasi, dan kolaborasi seluruh sivitas akademika. bersenjatakan Dasa Jiwa, setiap pejabat diharapkan mampu menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab, membangun koordinasi lintas bidang, serta menyatukan gagasan dan langkah untuk mencapai tujuan bersama. Semangat kebersamaan tersebut menjadi modal penting dalam meningkatkan mutu pendidikan, memperkuat penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, mengembangkan jejaring kemitraan, serta membangun kepercayaan publik terhadap institusi. Dengan kerja sama yang solid dan budaya kerja yang berorientasi pada mutu, STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin diharapkan semakin siap menghadapi tantangan pendidikan tinggi dan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan pendidikan, khususnya di Kalimantan Selatan.Pelantikan ini bukan sekadar pergantian atau penetapan jabatan, melainkan awal dari tanggung jawab bersama untuk menghadirkan perubahan dan kemajuan yang berkelanjutan. Amanah masa bakti 2026–2030 diharapkan menjadi kesempatan bagi seluruh pejabat untuk menghadirkan inovasi, meningkatkan kualitas layanan, memperkuat prestasi mahasiswa, serta memperluas kontribusi institusi di tingkat regional maupun nasional. Dengan semangat kolaborasi dan kepemimpinan yang berintegritas, STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin terus melangkah menuju cita-cita sebagai kampus visioner yang inspiratif, berkarakter, dan berkompeten, sekaligus menjadi bagian penting dalam mencetak generasi pendidik yang berkualitas bagi masa depan bangsa.
# EDUKASI
# Galeri

Bawa Semangat Perubahan, Ketua STKIP Islam Sabilal Muhtadin Lantik Pejabat Struktural Baru Periode 2026-2030

Mega Kurniawati, M.Pd
22 Oktober 2026
STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin melaksanakan pelantikan pejabat struktural untuk masa bakti 2026–2030 pada Rabu, 21 Oktober 2026, bertempat di Ruang Pertemuan Kampus STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin. Pelantikan dipimpin langsung oleh Ketua STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, Yuliana Nurhayati, M.Pd.   Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh dosen dan tenaga kependidikan STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin. Kehadiran seluruh keluarga besar kampus menunjukkan kebersamaan dan dukungan kepada para pejabat yang memegang amanah baru. Suasana berlangsung tertib, lancar, dan penuh khidmat.   Pelantikan ini terbagi dalam beberapa Surat Keputusan (SK). Pada SK pertama, Vebrianti Umar, M.Pd resmi menjabat sebagai Wakil Ketua Bidang Akademik, sementara Armin Fani, M.Pd dipercaya untuk mengemban amanah sebagai Wakil Ketua Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama.  Selanjutnya, Yuliana Nurhayati, M.Pd melantik sepuluh pejabat struktural lainnya. Mereka adalah Abdul Azis, M.Pd sebagai Ketua Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, Novi Nurdian, M.Pd sebagai Ketua Prodi PGSD, Maulidha, M.Pd sebagai Ketua Prodi PAUD, Novi Suma, M.Pd sebagai Ketua LPM, serta Rizki Nugerahani Ilise, M.Pd sebagai Ketua LPPM.   Selain itu, jabatan Kepala Bagian Administrasi Umum dan Keuangan kini dipercayakan kepada Halima Chairia, SE. Untuk jajaran Kepala UPT, posisi Kemahasiswaan diisi oleh M. Agus Syafrian Noor, M.Pd; UPT Kerja Sama, Humas, dan PMB diisi oleh Zulparis, M.Pd; UPT Perpustakaan diisi oleh M. Juanda, S.I.Pust; dan UPT PLP diisi oleh M. Supian Sauri, M.Pd.   Momen pelantikan yang dipimpin oleh Yuliana Nurhayati, M.Pd ini berlangsung khidmat. Acara ini turut dihadiri oleh Iwan Perdana, Ph.D. selaku Pendiri, Guru, sekaligus Mentor STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin. Kehadiran beliau memberikan dorongan semangat tersendiri bagi para pejabat struktural yang baru dilantik maupun seluruh keluarga besar kampus.   Prosesi ini menjadi pengingat bagi seluruh pejabat strutural yang baru bahwa jabatan adalah sebuah tanggung jawab dan amanah besar. Sebuah lembaga tidak akan bisa tumbuh hanya karena satu orang, melainkan berkat kerja sama, kejujuran, dan rasa kebersamaan. Karena itu, seluruh dosen dan tenaga kependidikan diajak untuk saling mendukung, membantu, dan bekerja sama serta niat bekerja sebagai bagian dari ibadah.  Ke depan, STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin berkomitmen menghadirkan pelayanan akademik dan administrasi yang lebih cepat, transparan, dan ramah bagi mahasiswa. Pengelolaan lingkungan kampus pun dipastikan makin tertib. Di saat yang sama, dosen dan tenaga kependidikan akan terus meningkatkan kualitas diri agar pelayanan yang diberikan semakin memuaskan.   Guna membawa nama STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin semakin dikenal luas, jajaran pengurus baru diharapkan berani menghadirkan berbagai macam inovasi. Mulai dari pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran, penguatan kegiatan penelitian dan pengabdian masyarakat, perluasan kemitraan, hingga aktif membagikan kabar positif kampus di media sosial dan situs resmi. Inovasi tidak harus selalu besar; langkah-langkah kecil yang konsisten justru akan memberi dampak nyata.   Semua upaya ini bermuara pada satu tujuan yakni meningkatkan mutu pendidikan, mencetak lulusan yang berilmu dan berakhlak mulia, serta menjaga kepercayaan masyarakat terhadap STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin.  Semangat baru di periode 2026–2030 ini diharapkan menjadi pijakan awal bagi STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin untuk terus berkembang dan membawa manfaat luas bagi masyarakat. Rangkaian acara pelantikan ditutup dengan pembacaan doa dan foto bersama.   Pelantikan hanyalah awal. Jabatan baru tidak otomatis membuat kampus menjadi lebih baik tetapi yang menentukan adalah apa yang dikerjakan setelah acara selesai: melayani mahasiswa dengan sungguh-sungguh, bekerja dengan jujur, dan saling mendukung antara pejabat, dosen, dan tenaga kependidikan. Jika amanah dijaga dan langkah-langkah kecil dilakukan terus-menerus, kepercayaan masyarakat akan tumbuh dengan sendirinya. Semoga masa bakti 2026–2030 menjadi bukti bahwa STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin tumbuh besar karena kebersamaan seluruh keluarga besarnya.
# EDUKASI
# Opini

Menjaga Amanah, Menyalakan Harapan: Sebuah Langkah Baru Bersama STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin

Novi Suma Setyawati
21 Oktober 2026
Ada momen dalam hidup yang tidak hanya layak untuk dikenang, tetapi juga perlu direnungkan. Bagi saya, Rabu, 21 Oktober 2026, adalah salah satu hari yang akan selalu memiliki tempat khusus dalam perjalanan pengabdian saya di STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin.Pada hari itu, saya, Novi Suma Setyawati, M.Pd., dipercaya dan dilantik sebagai Kepala Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin periode 2026–2030. Pelantikan tersebut dipimpin oleh Ketua STKIP ISM yang baru, Ibu Yuliana Nurhayati, M.Pd., yang beberapa hari sebelumnya, tepatnya Kamis, 15 Oktober 2026, juga baru menerima amanah sebagai pimpinan perguruan tinggi ini.Bagi saya, pelantikan bukan sekadar pergantian jabatan atau perpindahan posisi dalam sebuah struktur organisasi. Lebih dari itu, pelantikan adalah simbol kepercayaan, estafet pengabdian, sekaligus pengingat bahwa setiap jabatan pada akhirnya adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan.Pelantikan ini bukan tentang kursi, tetapi tentang amanah. Mungkin yang tampak hanyalah sebuah prosesi sederhana: berdiri dalam barisan, membaca ikrar, menandatangani dokumen, menerima amanah, kemudian berfoto bersama. Namun, bagi saya, di balik setiap gambar itu tersimpan cerita yang jauh lebih besar. Ada perjalanan panjang, ada proses belajar, ada orang-orang yang pernah membimbing, ada rekan-rekan yang berjalan bersama, ada kepercayaan yang diberikan, dan tentu saja, ada tanggung jawab yang mulai mengetuk pintu.Saya memandang jabatan Kepala LPM seperti sebuah kompas. Kompas tidak berjalan menuju tujuan, tetapi membantu memastikan agar perjalanan tidak kehilangan arah. Begitu pula LPM. LPM bukan sekadar sebuah lembaga yang mengurusi dokumen mutu, standar, evaluasi, atau akreditasi. Lebih dari itu, LPM harus menjadi bagian yang ikut menjaga agar seluruh gerak institusi tetap berada pada arah yang benar. Karena itu, amanah ini tidak ingin saya maknai sebagai “menjadi lebih tinggi”, tetapi sebagai kesempatan untuk melayani lebih luas.Saya percaya bahwa mutu tidak lahir hanya dari dokumen yang rapi. Mutu lahir dari budaya kerja, dari kedisiplinan, dari kemauan untuk memperbaiki diri, dari keterbukaan menerima masukan, dan dari kesadaran bahwa setiap orang di dalam institusi memiliki kontribusi terhadap kemajuan lembaga.Dalam sebuah perlombaan estafet, seseorang tidak memulai perjalanan dari titik nol. Ia menerima tongkat dari pelari sebelumnya. Tongkat itu bukan miliknya. Ia hanya mendapat kepercayaan untuk membawanya sejauh mungkin, menjaga agar tidak terjatuh, kemudian menyerahkannya kepada orang berikutnya dalam keadaan lebih baik. Demikian pula sebuah institusi.Kita menerima STKIP Islam Sabilal Muhtadin dari orang-orang yang telah bekerja dan berjuang sebelum kita. Tugas kita bukan menghapus apa yang telah dilakukan sebelumnya, tetapi melanjutkan hal-hal baik, memperbaiki kekurangan, dan menghadirkan gagasan baru untuk masa depan.Di sinilah saya memaknai pergantian kepemimpinan sebagai sebuah proses kesinambungan, bukan pemutusan.Beberapa hari sebelumnya, Ibu Yuliana Nurhayati, M.Pd. menerima amanah sebagai Ketua STKIP ISM. Hari ini, bersama para pejabat struktural lainnya, kami menerima amanah untuk mendukung perjalanan institusi ke depan.Saya percaya bahwa kepemimpinan tidak pernah berdiri sendiri. Ketua membutuhkan wakil ketua. Wakil ketua membutuhkan kepala lembaga dan unit kerja. Kepala lembaga membutuhkan tim. Dan semuanya membutuhkan satu sama lain.Pelantikan hari ini diawali dengan pelantikan Ibu Vebrianti Umar, M.Pd. sebagai Wakil Ketua Bidang Akademik dan Bapak Armin Fani, M.Pd. sebagai Wakil Ketua Bidang Kerja Sama, Alumni, dan Kemahasiswaan.Saya mengucapkan selamat atas amanah baru yang diberikan.Selamat juga kepada seluruh rekan yang pada hari ini dilantik dan dipercaya mengemban tugas struktural untuk periode 2026–2030.Bagi kita semua, semoga jabatan ini tidak membuat kita merasa lebih tinggi dari yang lain, tetapi justru membuat kita semakin dekat dengan tanggung jawab, semakin peka terhadap kebutuhan institusi, dan semakin bersedia memberikan waktu, pikiran, serta tenaga untuk STKIP ISM.Mari kita jadikan perbedaan bidang, tugas, dan fungsi sebagai kekuatan. Sebab sebuah institusi tidak akan tumbuh hanya karena satu orang hebat. Institusi tumbuh ketika banyak orang mau bekerja bersama dengan niat yang baik.Di balik pencapaian seseorang, hampir selalu ada tangan-tangan yang pernah membimbingnya.Pada kesempatan yang sangat berarti ini, saya ingin menyampaikan rasa terima kasih yang tulus kepada Bapak Iwan Perdana, Ph.D., guru, mentor, sekaligus salah satu pendiri STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin.Terima kasih karena telah memberikan ruang kepada saya untuk bekerja, belajar, berkarya, mencoba, berkembang, dan mengenali potensi diri.Seperti yang selalu beliau sampaikan dan ingatkan kepada kami bahwa Kesempatan seperti itu tidak selalu datang kepada semua orang. Kadang seseorang tidak berkembang karena tidak memiliki kemampuan, tetapi karena tidak pernah diberi kesempatan untuk mencoba. Dan saya merasa bersyukur pernah mendapatkan kesempatan tersebut.Banyak hal yang mungkin tidak selalu terlihat namun ada nasihat yang tersimpan dalam ingatan, rasa malu, tenggang rasa, dan rasa terim kasih, ada pengalaman yang menjadi pelajaran, ada kepercayaan yang perlahan membentuk keberanian. Untuk itu, terima kasih bukan hanya atas jabatan atau kesempatan yang pernah diberikan, tetapi terutama atas kepercayaan untuk bertumbuh.LPM dan Harapan untuk Masa DepanSebagai Kepala LPM untuk periode 2026–2030, saya menyadari bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan. LPM harus terus bergerak dari sekadar menjalankan fungsi administratif menuju penguatan budaya mutu yang benar-benar hidup dalam keseharian sivitas akademika.Saya membayangkan mutu seperti akar sebuah pohon. Akar tidak selalu terlihat dari luar. Namun, justru akar yang menentukan apakah pohon mampu berdiri kokoh ketika diterpa angin. Demikian pula mutu. Dokumen, standar, evaluasi, audit, dan akreditasi memang penting. Tetapi yang jauh lebih penting adalah nilai-nilai yang tumbuh di balik semuanya: integritas, konsistensi, tanggung jawab, keterbukaan, dan kemauan untuk terus memperbaiki diri.Saya ingin LPM menjadi ruang yang tidak hanya hadir ketika akreditasi akan berlangsung, tetapi hadir dalam keseharian institusi sebagai mitra untuk tumbuh dan memperbaiki diri. Karena pada akhirnya, mutu bukanlah tujuan akhir. Mutu adalah perjalanan yang tidak pernah selesai.Senyum, tawa, pose, dan kebersamaan mungkin hanya akan menjadi dokumentasi beberapa tahun kemudian. Tetapi saya berharap foto-foto ini kelak menjadi pengingat bahwa pada 21 Oktober 2026, kami pernah berdiri bersama di satu titik, membawa satu amanah, dengan satu harapan: membawa STKIP Islam Sabilal Muhtadin menjadi lebih baik.Saya melihat wajah-wajah dalam foto itu bukan sekadar pejabat struktural. Saya melihat teman seperjalanan. Saya melihat orang-orang yang memiliki keluarga, kesibukan, impian, kekhawatiran, dan perjuangannya masing-masing, tetapi hari ini memilih untuk berdiri bersama demi sebuah institusi. Dan mungkin, di situlah makna sebenarnya dari sebuah organisasi.Bukan tentang siapa yang paling menonjol, tetapi tentang bagaimana kita saling menguatkan.Semoga selama periode 2026–2030 nanti, saya tidak hanya dikenal karena sebuah jabatan, tetapi karena pernah memberikan sesuatu yang berarti bagi lembaga tempat saya mengabdi.Kepada Ibu Yuliana Nurhayati, M.Pd., selamat mengemban amanah sebagai Ketua STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin. Semoga kepemimpinan Ibu menjadi awal dari perjalanan baru yang penuh keberkahan, kemajuan, dan kebersamaan.Kepada Ibu Vebrianti Umar, M.Pd., Bapak Armin Fani, M.Pd., dan seluruh teman-teman yang hari ini menerima amanah baru, selamat berjalan bersama.Mari kita jaga kepercayaan ini. Mari kita bekerja tanpa kehilangan kemanusiaan.Mari kita membangun tanpa melupakan mereka yang telah meletakkan fondasi.Dan mari kita menatap masa depan tanpa melupakan akar tempat kita bertumbuh.Bismillah untuk langkah baru.Bismillah untuk pengabdian 2026–2030.Untuk STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, tempat kita belajar, berkarya, dan bertumbuh bersama.
# EDUKASI
# Opini

  Youtube

Surah Ar-Rahman | Aniq Muhai

  Informasi

Selamat Hari Guru Nasional
Arah Pendidikan Nasional & Transformasi Pendidikan Lokal di Daerah
Kupas Tuntas: Kurikulum, Inklusi, dan Seni di Sekolah Dasar
Momentum Kebangkitan Nasional Melalui Peningkatan Kualitas Pendidikan