Postingan Terbaru

AI sebagai Rekan Kerja, Bukan Ancaman di Era Teknologi

Abdul Aziz, M.Pd
28 Agustus 2026
Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam beberapa tahun terakhir telah membawa perubahan besar dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Perubahan tersebut semakin terasa dalam Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris yang selama ini berhadapan dengan berbagai aktivitas akademik, mulai dari penyusunan materi pembelajaran, pemeriksaan tata bahasa (grammar), penerjemahan, penyusunan perangkat ajar, hingga pengembangan media pembelajaran. Jika sebelumnya berbagai pekerjaan tersebut membutuhkan waktu yang relatif panjang, kini sejumlah platform berbasis AI mampu membantu menyelesaikannya dalam waktu yang jauh lebih singkat. Kehadiran teknologi ini tentu memberikan peluang besar bagi dosen untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pekerjaan akademik. Namun, perkembangan tersebut juga menimbulkan kekhawatiran, terutama terkait kemungkinan menurunnya kemampuan berpikir kritis mahasiswa, meningkatnya ketergantungan terhadap teknologi, serta munculnya persoalan integritas akademik. Karena itu, persoalan utamanya bukan lagi apakah AI boleh digunakan dalam pendidikan, melainkan bagaimana AI digunakan secara bijak, kritis, dan bertanggung jawab.Banyak pendidik merasa cemas bahwa kehadiran algoritma yang semakin canggih akan membuat mahasiswa, khususnya calon guru bahasa Inggris, kehilangan kemampuan untuk melakukan analisis secara mendalam karena terbiasa memperoleh jawaban secara instan. Kekhawatiran tersebut merupakan hal yang wajar, tetapi tidak seharusnya membuat dunia pendidikan menutup diri terhadap perkembangan teknologi. Justru, kehadiran AI perlu ditempatkan dalam perspektif yang lebih proporsional. AI bukanlah pengganti dosen dan bukan pula mesin yang bertugas mengambil alih seluruh proses pembelajaran. AI seharusnya diposisikan sebagai rekan kerja digital yang membantu dosen melaksanakan berbagai pekerjaan teknis sehingga waktu dan energi dapat dialihkan pada aktivitas yang memiliki nilai pedagogis lebih tinggi. Dengan cara pandang tersebut, teknologi tidak menjadi ancaman, tetapi menjadi instrumen yang memperkuat kapasitas manusia dalam menjalankan tugas pendidikan.Salah satu manfaat AI yang paling nyata bagi dosen adalah kemudahan dalam merancang perangkat dan media pembelajaran. Melalui perintah atau prompt yang jelas, spesifik, dan sesuai kebutuhan, dosen dapat memperoleh bantuan dalam menyusun bahan ajar, membuat rancangan aktivitas pembelajaran, mengembangkan kuis, menghasilkan ide permainan edukatif, menyusun simulasi percakapan, hingga merancang lembar kerja mahasiswa. Teknologi ini juga dapat membantu memberikan alternatif materi sesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik. Dosen tidak selalu harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk memulai sebuah rancangan pembelajaran dari halaman kosong. AI dapat digunakan untuk menghasilkan rancangan awal yang selanjutnya diperiksa, dikembangkan, disesuaikan, dan disempurnakan oleh dosen. Dengan demikian, AI berfungsi sebagai alat bantu pada tahap eksekusi teknis, sedangkan keputusan pedagogis tetap berada di tangan pendidik.Efisiensi tersebut menjadi semakin penting karena tugas dosen tidak hanya berkaitan dengan kegiatan mengajar. Dosen juga memiliki tanggung jawab dalam penelitian, pengabdian kepada masyarakat, pembimbingan mahasiswa, administrasi akademik, pengembangan kurikulum, serta berbagai kegiatan institusional lainnya. Apabila pekerjaan teknis dalam pembelajaran dapat dibantu oleh AI, waktu yang tersedia dapat dimanfaatkan untuk aktivitas yang membutuhkan pemikiran, pengalaman, dan interaksi manusia. Dosen dapat memberikan perhatian lebih besar terhadap kebutuhan individual mahasiswa, merancang pembelajaran yang kontekstual, membangun diskusi yang bermakna, serta memberikan umpan balik yang lebih personal. Dengan kata lain, pemanfaatan AI secara tepat justru dapat memberikan ruang yang lebih besar bagi dosen untuk menjalankan fungsi kemanusiaannya dalam pendidikan.Meskipun memiliki berbagai keunggulan, AI tetap mempunyai keterbatasan. AI dapat menghasilkan teks yang terlihat meyakinkan, tetapi tidak selalu menjamin bahwa informasi yang diberikan benar, relevan, atau sesuai dengan konteks pembelajaran. AI juga tidak memiliki pengalaman manusiawi secara langsung, sehingga tidak dapat sepenuhnya memahami emosi, kondisi sosial, latar belakang budaya, dan dinamika hubungan antarmanusia sebagaimana seorang pendidik. Dalam pembelajaran bahasa Inggris, keterbatasan tersebut menjadi sangat penting karena bahasa bukan sekadar kumpulan aturan tata bahasa dan kosakata. Bahasa merupakan alat untuk menyampaikan gagasan, membangun hubungan sosial, mengekspresikan identitas, memahami budaya, serta berkomunikasi secara tepat dalam berbagai situasi. Oleh karena itu, keluaran AI tetap harus diperiksa dan dinilai secara kritis sebelum digunakan dalam proses pembelajaran.Pada titik inilah peran dosen Pendidikan Bahasa Inggris menjadi semakin penting. Dosen bukan hanya berperan sebagai penyampai pengetahuan, tetapi juga sebagai pengarah, penyaring, evaluator, dan penjaga nilai dalam pemanfaatan teknologi. Dosen perlu memastikan bahwa materi yang dihasilkan AI sesuai dengan capaian pembelajaran, karakteristik mahasiswa, konteks budaya, dan prinsip-prinsip akademik. Dosen juga harus mengajarkan mahasiswa untuk tidak menerima keluaran AI secara mentah. Setiap informasi perlu diperiksa, dibandingkan dengan sumber yang kredibel, dan dianalisis berdasarkan konteks. Dengan demikian, penggunaan AI justru dapat menjadi sarana untuk melatih kemampuan berpikir kritis, bukan menghilangkannya.Transformasi tersebut juga membawa konsekuensi terhadap pendidikan calon guru bahasa Inggris. Mahasiswa tidak cukup hanya menguasai tata bahasa, kosakata, keterampilan berbicara, membaca, menulis, dan menerjemahkan. Mereka juga perlu memiliki literasi AI (AI literacy), yaitu kemampuan memahami, menggunakan, mengevaluasi, dan mengkritisi teknologi kecerdasan buatan. Mahasiswa perlu belajar bagaimana menyusun prompt yang efektif, mengevaluasi hasil yang diberikan AI, mengenali kemungkinan kesalahan dan bias, serta mengadaptasi keluaran teknologi agar sesuai dengan kebutuhan pembelajaran. Kemampuan tersebut akan menjadi bekal penting bagi calon guru ketika mereka memasuki dunia sekolah yang semakin terintegrasi dengan teknologi digital.Dalam konteks tersebut, dosen juga mengalami perubahan peran. Dosen tidak lagi harus menjadi satu-satunya sumber informasi di dalam kelas. Sebaliknya, dosen dapat berperan sebagai fasilitator yang membantu mahasiswa mengolah berbagai informasi menjadi pengetahuan yang bermakna. Mahasiswa dapat menggunakan AI untuk memperoleh ide awal, sementara dosen membimbing mereka untuk mengembangkan ide tersebut menjadi karya yang orisinal, argumentatif, dan bertanggung jawab secara akademik. Proses ini memungkinkan pembelajaran bergerak dari sekadar mencari jawaban menuju kemampuan mengajukan pertanyaan yang tepat, menganalisis informasi, mengevaluasi kualitas jawaban, dan menghasilkan solusi secara mandiri.Karena itu, berdamai dengan algoritma bukan berarti menyerahkan proses pendidikan kepada mesin. Berdamai dengan algoritma berarti memahami apa yang dapat dilakukan AI dan apa yang tetap menjadi tanggung jawab manusia. AI dapat membantu mempercepat pekerjaan teknis, tetapi manusia tetap menentukan tujuan, nilai, konteks, dan keputusan akhir. Dosen memiliki kecerdasan pedagogis untuk menentukan metode yang sesuai, mahasiswa memiliki kemampuan untuk berpikir dan berkreasi, sedangkan AI dapat menjadi alat yang mempercepat proses tersebut. Sinergi ketiganya dapat menghasilkan pembelajaran yang lebih inovatif tanpa kehilangan dimensi humanis.Pada akhirnya, masa depan pendidikan bahasa Inggris tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang digunakan, tetapi oleh seberapa bijak pendidik dan mahasiswa memanfaatkannya. AI tidak seharusnya dipandang sebagai musuh yang harus dihindari, tetapi sebagai teknologi yang perlu dipahami, dikendalikan, dan dimanfaatkan secara bertanggung jawab. Sebagaimana kalkulator tidak menghilangkan kebutuhan terhadap ahli matematika dan komputer tidak membuat ilmuwan kehilangan perannya, AI juga tidak akan menggantikan pendidik yang mampu terus belajar dan beradaptasi. Justru, pendidik yang mampu memadukan kecerdasan pedagogis, kemampuan berpikir kritis, nilai-nilai kemanusiaan, dan efisiensi teknologi akan memiliki posisi yang semakin strategis dalam pendidikan masa depan. Dengan meruntuhkan rasa takut terhadap teknologi dan membangun hubungan yang sehat dengan algoritma, AI dapat ditempatkan sebagaimana mestinya: bukan sebagai ancaman bagi dosen Pendidikan Bahasa Inggris, melainkan sebagai rekan kerja digital yang membantu memperluas potensi pembelajaran dan mempersiapkan mahasiswa menghadapi dunia yang semakin kompleks.
# EDUKASI
# Opini

Harmoni Pembelajaran di STKIP Islam Sabilal Muhtadin: Saat Calon Guru Menguasai Seni sebagai Media Edukasi

Muhammad Agus Safrian Nur
28 Agustus 2026
BANJARMASIN — Suasana ruang kelas di STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin terdengar berbeda hari ini. Petikan dawai gitar yang berpadu indah dengan alunan nada dari keyboard memenuhi ruangan, menciptakan atmosfer belajar yang dinamis dan penuh energi kreatif. Bukan sekadar hiburan, riuhnya nada ini adalah bagian dari kegiatan praktik langsung mata kuliah Pengembangan Seni. Di kampus ini, menjadi seorang pendidik masa depan tidak melulu soal teori di atas kertas atau metode ceramah yang kaku. Para mahasiswa diajak untuk melangkah lebih jauh: memahami dan menguasai seni sebagai media pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan di dalam kelas.Seni Musik: Mengubah Kelas Menjadi Ruang Belajar yang HidupDalam sesi praktik kali ini, mahasiswi STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin tampak antusias jemarinya menari di atas tuts keyboard dan menekan chord gitar. Mereka tidak sedang dicetak menjadi musisi panggung, melainkan sedang mempersiapkan diri menjadi guru inovatif yang mampu menghidupkan suasana kelas.Melalui instrumen gitar dan keyboard, para mahasiswi belajar bagaimana menyelaraskan nada, mengaransemen lagu anak, dan memanfaatkan ketukan musik untuk menyampaikan materi pelajaran nantinya. Musik dipercaya mampu meningkatkan fokus siswa, mempermudah penyerapan materi, dan membangun kedekatan emosional antara guru dan murid."Di STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, kami dibekali kemampuan untuk mengubah materi pelajaran yang dianggap sulit atau membosankan menjadi konsep yang seru melalui media seni musik."Dari Mahasiswa Menjadi Calon Guru KreatifSalah satu bagian yang paling menarik bagi saya sebagai pengajar adalah melihat perubahan kepercayaan diri mahasiswa.Pada awal pembelajaran, tidak semua mahasiswa merasa mampu memainkan alat musik. Ada yang mengatakan belum pernah memegang gitar, ada yang merasa sulit mengikuti nada, dan ada pula yang sejak awal merasa bahwa dirinya tidak memiliki kemampuan dalam bidang musik.Saya memahami keraguan tersebut.Karena itu, dalam pembelajaran saya tidak menjadikan kemampuan musikal sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan. Saya lebih menekankan keberanian untuk mencoba, kemampuan bekerja sama, kreativitas dalam mengembangkan kegiatan, serta kemampuan menghubungkan seni dengan kebutuhan pembelajaran.Perlahan-lahan saya melihat perubahan.Mahasiswa yang awalnya hanya melihat temannya memainkan alat musik mulai berani mencoba. Mahasiswa yang sebelumnya merasa tidak percaya diri mulai mampu memainkan beberapa chord sederhana. Mereka kemudian saling membantu, berdiskusi, dan belajar bersama. Suasana seperti inilah yang bagi saya menunjukkan bahwa pembelajaran telah bergerak lebih jauh daripada sekadar transfer pengetahuan.Mereka sedang belajar menjadi guru. Seorang guru memang tidak harus menguasai seluruh alat musik. Namun, guru perlu memiliki keberanian untuk belajar dan mengembangkan dirinya. Guru juga dituntut mampu menggunakan berbagai sumber dan media yang ada di lingkungan sekitarnya untuk menciptakan pembelajaran yang menarik.Ruang Kelas sebagai Tempat Menemukan PotensiSebagai seorang pengajar, salah satu kebahagiaan yang saya rasakan adalah ketika melihat mahasiswa menemukan kemampuan yang sebelumnya tidak mereka sadari.Ada mahasiswa yang ternyata memiliki kemampuan musikal yang baik. Ada yang kreatif mengubah lirik lagu. Ada yang mampu memimpin kelompok. Ada pula yang mungkin tidak terlalu mahir memainkan alat musik, tetapi memiliki kemampuan menjelaskan dan mengembangkan ide pembelajaran dengan sangat baik.Setiap mahasiswa memiliki potensinya masing-masing.Tugas pendidikan bukan membuat semua mahasiswa menjadi sama. Pendidikan seharusnya memberikan ruang bagi setiap individu untuk menemukan, mengembangkan, dan menggunakan potensinya secara optimal.Karena itu, pembelajaran seni bagi calon guru tidak semata-mata berbicara tentang kemampuan memainkan musik. Lebih jauh, kegiatan ini menjadi ruang untuk melatih kreativitas dan membangun kesiapan mahasiswa menghadapi dunia pendidikan yang terus berkembang.Dunia pendidikan saat ini membutuhkan guru yang tidak hanya menguasai teori, tetapi juga adaptif, kreatif, komunikatif, dan mampu menghadirkan inovasi dalam pembelajaran. Guru perlu mampu membuat peserta didik merasa bahwa belajar merupakan pengalaman yang menyenangkan dan memiliki makna dalam kehidupan mereka.Harmoni yang Lebih Besar dari Sekadar MusikKetika saya melihat mahasiswa memainkan gitar dan keyboard di dalam kelas, yang saya lihat sebenarnya bukan hanya sebuah praktik seni musik. Saya melihat calon-calon guru yang sedang berproses.Hari ini mungkin mereka masih belajar menemukan chord yang benar, mengikuti tempo, atau menyesuaikan nada. Namun kelak, kemampuan sederhana tersebut bisa menjadi salah satu cara mereka menciptakan ruang kelas yang hidup.Mungkin suatu hari salah satu dari mereka akan berdiri di depan peserta didiknya sambil memegang gitar. Mereka menyanyikan sebuah lagu sederhana untuk mengenalkan angka, warna, karakter, atau nilai-nilai kehidupan. Anak-anak mengikuti dengan gembira, bernyanyi sambil bergerak, dan tanpa mereka sadari sedang belajar melalui pengalaman yang menyenangkan.Bagi saya sebagai pengajar, bayangan tentang masa depan itulah yang membuat proses pembelajaran hari ini menjadi berarti.Pada akhirnya, pendidikan calon guru bukan hanya tentang berapa banyak teori yang mampu dihafalkan mahasiswa. Pendidikan adalah tentang bagaimana pengetahuan, keterampilan, kreativitas, pengalaman, dan karakter dipadukan menjadi sebuah kompetensi yang dapat digunakan ketika mereka terjun ke masyarakat.Itulah harmoni pembelajaran yang ingin terus dibangun di STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin: sebuah proses pendidikan yang memberikan ruang bagi mahasiswa untuk belajar, mencoba, berkreasi, melakukan kesalahan, memperbaiki diri, dan bertumbuh menjadi pendidik yang inspiratif, berkarakter, serta berkompeten. Karena pada akhirnya, seorang guru yang baik bukan hanya guru yang mampu menyampaikan pelajaran, tetapi guru yang mampu membuat peserta didiknya mencintai proses belajar.Mengapa Kuliah di STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin?Kegiatan praktik mata kuliah Pengembangan Seni ini menjadi salah satu bukti nyata mengapa STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin selalu unggul dalam mencetak lulusan siap kerja. Berikut adalah nilai lebih yang ditawarkan: Kurikulum Adaptif & Kreatif: Mahasiswa tidak hanya mendapatkan bekal teoretis bagaimana menjadi guru yang cerdas secara akademik, tetapi juga diasah keterampilannya (soft skills) agar menjadi guru yang kreatif, adaptif, dan dirindukan oleh siswa di kelas. Fasilitas Praktik yang Mendukung: Teori tanpa praktik adalah sia-sia. Kampus menyediakan ruang dan fasilitas instrumen musik seperti gitar dan keyboard agar setiap mahasiswa bisa langsung mencoba, gagal, memperbaiki, hingga mahir. Dosen Pengampu Profesional: Proses belajar dibimbing langsung oleh dosen-dosen kompeten yang memahami betul bagaimana mengintegrasikan seni ke dalam dunia pedagogi (pendidikan) modern. Siap Menjadi Guru Masa Depan yang Menginspirasi?Dunia pendidikan hari ini membutuhkan guru yang tidak hanya pintar, tetapi juga kreatif dan mampu menciptakan inovasi baru di ruang kelas. Jika Anda ingin menjadi bagian dari generasi pendidik modern yang multitalenta, STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin adalah tempat terbaik untuk memulai langkah Anda.Mari bergabung bersama kami, asah potensi akademismu, dan temukan kreativitas tanpa batas untuk menginspirasi anak bangsa!
# EDUKASI
# Opini

STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin bekerjasama dengan Kabupaten Balangan meningkatkan kualitas SDM melalui pendidikan

Zulparis, M.Pd
28 Agustus 2026
STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin dapat kepercayaan oleh pemerintah Kabupaten Balangan dalam meningkatkan pendidikan di wilayah Balangan. Hal ini merupakan suatu kebanggaan bagi kampus tercinta kami terpilih sebagai tempat bagi para masyarakat warga Balangan untuk meneruskan cita-cita menjadi sarjana. Perlu kita ketahui bahwa kabupaten Balangan mempunyai program 1000 sarjana, Program 1.000 Sarjana juga menjadi bukti pentingnya perhatian terhadap pembangunan sumber daya manusia. Kemajuan suatu daerah tidak hanya ditentukan oleh pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga sangat bergantung pada kualitas masyarakatnya. Dengan semakin banyak masyarakat yang memperoleh kesempatan menempuh pendidikan tinggi, diharapkan akan lahir sumber daya manusia Balangan yang unggul, profesional, kreatif, inovatif, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah. Bagi para pelajar dan masyarakat Balangan yang memiliki cita-cita untuk melanjutkan pendidikan, program ini tentu menjadi motivasi besar. Tidak ada alasan untuk berhenti bermimpi dan menyerah pada keadaan. Kesempatan telah terbuka, dan kini saatnya generasi muda mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh. Semangat belajar, disiplin, kerja keras, dan tekad yang kuat menjadi modal penting untuk meraih masa depan yang lebih cerah.Dalam masa waktu penerimaan mahasiswa baru STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin yang memiliki tiga program studi yaitu. Pendidikan anak usia dini, pendidikan bahasa inggris dan pendidikan guru sekolah dasar, dari tiga program studi tersebut yang paling dominan atau yang paling diminati oleh calon mahasiswa baru dari Balangan adalah pertama pendidikan guru sekolah dasar kedua pendidikan anak usia dini dan ketiga pendidikan bahasa inggris. STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin yang mana memiliki visi Menyiapkan pendidikan inspirasi,berkarakter dan berkomitmen dan memiliki misi1. Mengembangkan potensi akademik dan profesionalisme pendidikan2. Penguatan karakter melalui integrasi nilai-nilai Islam3. Mendorong dedikasi dan komitmen tinggi terhadap profesi pendidikan4. Pembinaan kepemimpinan dan inovasi dalam pendidikan5. Pengabdian kepada masyarakat melalui pendidikan berbasis komunikas
# EDUKASI
# Opini

Menyusuri Jejak Bahasa Anak di Bantaran Sungai Batola: Penelitian DPPM 2026 STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin

Novi Suma Setyawati
28 Agustus 2026
Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan — Penelitian tidak selalu berlangsung di ruang laboratorium dengan peralatan yang kompleks. Bagi kami, tim peneliti dari STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, penelitian justru menemukan maknanya ketika kami hadir langsung di tengah masyarakat, mendengarkan suara anak, berbincang dengan guru, serta melihat bagaimana lingkungan membentuk pengalaman belajar mereka.Pada tahun 2026, tim penelitian yang terdiri atas Novi Suma Setyawati, M.Pd. (Dosen PAUD) sebagai ketua, bersama Armin Fani, M.Pd. (Dosen Pendidikan Bahasa Inggris/PBI) dan Zulparis, M.Pd. (Dosen PGSD) melaksanakan kegiatan penelitian di dua Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan Kuripan, Kabupaten Barito Kuala (Batola). Kedua sekolah tersebut berada di wilayah bantaran sungai yang memiliki karakter sosial, budaya, dan kebahasaan yang khas. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memahami kesiapan berbahasa Indonesia anak penutur Bakumpai dan Banjar pada masa transisi PAUD–SD, khususnya melalui pengamatan terhadap kompetensi fonologi dan leksikal anak. Wilayah bantaran sungai dipilih bukan tanpa alasan. Kehidupan masyarakat di kawasan ini sangat dekat dengan interaksi sosial, tradisi lokal, dan penggunaan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi tersebut memberikan konteks yang penting untuk memahami bagaimana anak membangun kemampuan berbahasa sebelum dan ketika memasuki lingkungan pendidikan formal.Dari Ruang Kelas hingga Percakapan dengan AnakSalah satu bagian penting dari kegiatan penelitian adalah proses pengumpulan data secara langsung. Tim peneliti berinteraksi dengan anak secara individual melalui kegiatan yang dirancang untuk memperoleh gambaran kemampuan bahasa mereka. Suasana pengumpulan data dibuat senyaman mungkin agar anak dapat berkomunikasi secara alami. Foto kegiatan memperlihatkan proses ketika peneliti melakukan interaksi langsung dengan seorang anak. Posisi duduk yang berhadapan dan suasana percakapan yang santai menjadi bagian dari strategi membangun komunikasi dengan peserta penelitian. Dalam konteks penelitian bahasa anak, pendekatan seperti ini penting karena kemampuan bahasa tidak hanya dapat dilihat dari jawaban tertulis, tetapi juga dari cara anak memahami pertanyaan, memilih kosakata, mengucapkan kata, dan menyampaikan gagasan. Di ruang kelas lainnya, tim juga mengamati aktivitas pembelajaran serta kondisi lingkungan belajar. Berbagai gambar menunjukkan bahwa sekolah menjadi ruang yang mempertemukan bahasa Indonesia sebagai bahasa pendidikan dengan bahasa daerah yang hidup dalam lingkungan sosial anak. Situasi tersebut memberikan gambaran nyata mengenai kompleksitas pengalaman kebahasaan anak di daerah.Penelitian yang Hadir di Tengah MasyarakatBagi kami, kegiatan ini bukan sekadar proses memenuhi tahapan penelitian dan menghasilkan luaran akademik. Turun langsung ke sekolah memberikan pengalaman penting bahwa penelitian pendidikan harus mampu membaca realitas secara kontekstual.Bagi kami, kegiatan ini bukan sekadar proses memenuhi tahapan penelitian dan menghasilkan luaran akademik. Turun langsung ke sekolah memberikan pengalaman penting bahwa penelitian pendidikan harus mampu membaca realitas secara kontekstual.Anak-anak yang menjadi bagian dari penelitian menunjukkan antusiasme ketika berinteraksi dengan tim. Kebersamaan setelah kegiatan, termasuk dokumentasi bersama siswa dan guru, menjadi bukti bahwa proses penelitian dapat berlangsung dalam suasana yang edukatif, humanis, dan menyenangkan.Kegiatan ini juga memperlihatkan pentingnya kolaborasi lintas bidang di lingkungan STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin. Perspektif PAUD, Pendidikan Bahasa Inggris, dan PGSD saling melengkapi dalam melihat perkembangan bahasa anak dari berbagai sudut pandang.Dari Bantaran Sungai untuk Pendidikan yang Lebih KontekstualPengalaman penelitian di Kecamatan Kuripan memberikan pesan penting: setiap anak memiliki perjalanan kebahasaan yang dipengaruhi oleh keluarga, komunitas, budaya, dan lingkungan sekolahnya. Karena itu, upaya meningkatkan kesiapan anak memasuki pendidikan dasar tidak dapat dilepaskan dari konteks bahasa dan budaya tempat anak tumbuh.Melalui penelitian DPPM 2026 ini, tim berharap data yang diperoleh dapat menjadi dasar pengembangan pemahaman yang lebih kuat mengenai kesiapan berbahasa Indonesia anak di lingkungan multidialek. Lebih jauh, hasil penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi guru dalam merancang pembelajaran yang lebih responsif terhadap latar belakang bahasa anak.Bagi kami, perjalanan penelitian di bantaran sungai Batola bukan hanya perjalanan akademik. Ia adalah perjalanan untuk mendengar, memahami, dan menghadirkan ilmu pengetahuan lebih dekat dengan kehidupan anak-anak Indonesia.
# EDUKASI
# Penelitian

Ketika AI Tahu Segalanya. Lalu, Masih Perlukah Siswa Berpikir?

Armin Fani
28 Agustus 2026
Kita hidup di zaman di mana jawaban  dari sebuah pertanyaan tersedia dalam hitungan detik. Sebuah chatbot bisa menjelaskan teori relativitas, merangkum seratus halaman buku, menyusun esai berkelas, bahkan berdebat layaknya filsuf. Semua orang bisa mendapatkan informasi tentang segala hal dengan mudah. Di satu sisi, ini luar biasa. Di sisi lain, ini adalah alarm paling keras bagi dunia pendidikan. Karena ada paradoks mengancam yang merayap masuk ke ruang kelas kita: semakin pintar teknologi, semakin tidak perlu siswa berpikir.Kita mungkin menolak mentah-mentah pernyataan ini. Bukankah AI dirancang untuk membantu, bukan menggantikan? Tentu. Tetapi mari kita jujur: jika AI bisa mengerjakan tugas dalam waktu singkat, apa yang sesungguhnya terjadi di kepala siswa? Produktivitas meningkat, tetapi pembelajaran yang merupakan proses bermakna yang harus terasa berat dan penuh proses berpikir malah justru tergerus. OECD, dalam Digital Education Outlook 2026, menyatakan fakta yang tidak nyaman: penggunaan AI generatif tanpa tujuan pedagogis memang meningkatkan kualitas pekerjaan, tetapi tidak menjamin peningkatan pembelajaran. Bahkan, keunggulan siswa yang terbiasa dengan AI kerap lenyap saat mereka menghadapi ujian tanpa bantuan AI. Artinya, kita sedang mencetak generasi yang cakap menyusun prompt, tetapi miskin nalar kritis.Selama ini, pendidikan kita dibangun di atas asumsi keliru bahwa mengetahui banyak sama dengan belajar baik. Guru memberi materi, siswa menghafal, lalu diuji. Model ini sudah rapuh sejak lama. Kini, dengan AI yang bisa menjawab hampir semua pertanyaan, fondasi itu ambruk total. Pertanyaan besarnya adalah: kalau AI bisa menjawab segalanya, untuk apa siswa masih belajar?Jawabannya bukan “agar mereka tidak kalah dari AI.” Itu sikap pecundang. Jawabannya lebih dalam: pendidikan bukanlah perlombaan menjawab, tetapi proses membentuk manusia yang berani bertanya ketika tidak ada jawaban.Bukan AI-nya yang Salah, Tapi Bagaimana Kita MemanjakannyaLarangan menggunakan AI di sekolah adalah solusi kekanak-kanakan. AI sudah menjadi bagian dari denyut kehidupan. UNESCO pun mendorong pendekatan humanis: siswa harus kompeten secara teknis, tetapi juga kritis, etis, dan bertanggung jawab. Namun, kita semua harus sadar akan satu hal: jangan samakan kemampuan menulis prompt dengan kemampuan berpikir. Saat ini, banyak sekolah terobsesi mengajarkan prompt engineering seolah itu adalah kompetensi abad ke-21 yang utama. Siswa diajari merangkai kata kunci agar AI memberi jawaban sempurna. Ironisnya, mereka tidak diajari hal yang paling mendasar: bagaimana menilai apakah jawaban AI itu benar, bias, atau bahkan berbahaya. Kita harus mengingatkan bahwa siswa harus belajar berpikir termasuk tanpa AI sebelum mereka belajar memberi perintah pada mesin. Mereka harus mampu menghadapi ketidakpastian, meragukan asumsi, dan memahami bahwa AI tidak pernah netral.Kesalahan Terbesar Kita: Menghilangkan Proses “Bergulat”Bayangkan dua skenario:Skenario A: Guru memberi tugas esai. Siswa meminta AI menulis. Selesai. Cepat, rapi, nyaman. Tidak ada pembelajaran.Skenario B: Guru meminta siswa menulis argumen awal tanpa AI. Kemudian, AI diminta memberi pandangan berlawanan. Lalu siswa harus menemukan kelemahan kedua argumen, memeriksa sumber, mempertahankan posisinya, dan menulis refleksi tentang pergeseran pandangannya.Di skenario kedua, AI menjadi lawan debat, bukan tukang ketik. Perbedaannya kecil dalam instruksi, tetapi dahsyat dalam dampak pedagogis.Kita enggan mengakui bahwa belajar itu tidak nyaman. Siswa perlu tersesat dulu sebelum menemukan jalan. Mereka perlu membuat pertanyaan bodoh sebelum melahirkan pertanyaan cerdas. Mereka perlu mengalami kegagalan berargumentasi sebelum membangun logika yang kokoh. Proses “bergulat” dengan masalah inilah yang membentuk kemampuan berpikir. Dan AI, dengan segala kecanggihannya, menghilangkan proses itu dalam sekejap. Maka, tantangan guru saat ini bukanlah mengajarkan cara menggunakan AI. Tantangan sejati adalah menentukan kapan AI harus dipinggirkan.Saatnya Mengubah Cara Kita Menilai belajar siswaJika AI bisa menulis esai seribu kata sempurna, maka tugas semacam itu adalah lelucon pendidikan. Tidak ada lagi yang bisa diukur dari produk semata.Kita harus menilai proses. Guru harus bertanya: Mengapa siswa memilih argumen itu? Sumber mana yang ia gunakan untuk memverifikasi AI? Apa yang berubah dari pemikiran awalnya setelah berhadapan dengan AI? Mengapa ia menolak jawaban tertentu dari mesin? Bisakah ia menjelaskan idenya tanpa bantuan teknologi? Pertanyaan-pertanyaan ini adalah senjata kita. Ini adalah cara kita menempatkan manusia kembali di pusat pendidikan, bukan mesin.Yang Harus Dipertahankan Bukan Kecepatan, Tapi Kemanusiaan Kita harus mengaku bahwa AI akan selalu lebih cepat, lebih hafal, dan lebih rapi dari kita. Di ranah itu, manusia tidak akan pernah menang. Jangan pernah berkompetensi pada hal yang tidak mungkin kita menangkan. Yang harus kita pertahankan adalah sesuatu yang tidak bisa dibuat oleh algoritma: kemampuan manusia untuk meragukan, memahami sudut pandang lain, mengambil keputusan etis, dan bertanggung jawab atas pilihannya sendiri. Inilah perjuangan terbesar pendidikan di era AI. Bukan bagaimana menjadikan siswa lebih pintar dari mesin. Tetapi bagaimana memastikan bahwa ketika mesin semakin pintar, manusia tidak semakin malas untuk berpikir. Karena jika itu terjadi, maka kalahlah kita, bukan oleh teknologi, tetapi oleh kemalasan kita sendiri.
# EDUKASI
# Opini

Mengajar, Meneliti, dan Terus Bertumbuh sebagai Dosen

Barendz Umar
27 Agustus 2026
Sebagai dosen, saya memiliki tanggung jawab untuk menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang meliputi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Bagi saya, penelitian bukan sekadar kewajiban akademik, tetapi juga ruang untuk terus belajar, mengembangkan keilmuan, dan memperbaiki kualitas pembelajaran.  Penelitian membantu saya memahami dinamika pengajaran dan pembelajaran Bahasa Inggris secara lebih mendalam. Melalui penelitian, berbagai persoalan yang muncul di kelas dapat dikaji secara sistematis sehingga dapat melahirkan pendekatan, strategi, maupun inovasi pembelajaran yang lebih relevan dengan kebutuhan peserta didik.Baru-baru ini, saya bersama Ibu Yuliana Nurhayati, M.Pd. dari Program Studi PAUD dan Ibu Novi Nurdian, M.Pd. dari Program Studi PGSD berhasil memperoleh pendanaan melalui Program BIMA Kemdiktisaintek pada skema Penelitian Dosen Pemula (PDP). Kami mengangkat penelitian mengenai model Project-Based Learning yang mengintegrasikan teknologi dan kearifan lokal Banjar dalam pembelajaran menulis teks promosi Bahasa Inggris. Penelitian ini dilaksanakan di lima SMK di Kota Banjarbaru. Kolaborasi ini menjadi kekuatan karena masing-masing anggota tim memiliki fokus kepakaran yang saling melengkapi. Saya berfokus pada pembelajaran Bahasa Inggris, Ibu Yuliana memiliki kepakaran dalam metodologi penelitian yang juga diperkuat melalui karya buku di bidang tersebut, sedangkan Ibu Novi memiliki pengalaman penelitian terkait Project-Based Learning dan kearifan lokal.Bagi kami, meneliti bukan hanya tentang memenuhi kewajiban profesi. Penelitian adalah proses yang terus menstimulasi pikiran untuk bertanya, mengeksplorasi, berinovasi, dan melahirkan gagasan baru bagi kemajuan pendidikan. Dari proses inilah kami ingin membangun identitas sebagai dosen yang tidak berhenti pada kegiatan mengajar, tetapi terus berkembang sebagai akademisi yang reflektif, kolaboratif, dan adaptif terhadap perubahan.Semangat tersebut tumbuh bersama dukungan STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, yang terus memberikan dorongan positif bagi dosen untuk aktif meneliti dan mengembangkan keilmuan. Harapannya, setiap penelitian yang dilakukan tidak berhenti pada laporan atau publikasi, tetapi mampu memberikan manfaat nyata bagi sekolah, peserta didik, dan masyarakat. Inilah semangat yang kami bawa dalam mewujudkan pesan Kampus Berdampak: menjadikan ilmu pengetahuan bukan hanya untuk dikembangkan, tetapi juga untuk menghadirkan perubahan yang bermakna.
# EDUKASI
# Penelitian

Saiful Alwad: Bek Kiri Berkah FC yang Mengajarkan Kepemimpinan

Iwan Perdana
11 Juni 2026
Dua puluh tiga tahun sudah Saiful Alwad bermain di Lapangan Kayu Tangi Ujung. Pria yang lebih dikenal dengan sapaan Awad ini bermain pada posisi bek kiri sejak tahun 2003.  Tubuhnya tidak besar, tidak juga kecil. Gerakannya cepat, dan setiap langkahnya selalu penuh perhitungan.Awad merupakan salah seorang palang pintu andalan Berkah FC. Budi—Libero — memanggilnya Bruce Lee karena keberaniannya melakukan tekel menyapu seperti adegan film kungfu. Coach Mady menjulukinya Jet Lee—mungkin karena senyum tipisnya yang mirip bintang film Shaolin Temple (1982) tersebut. Tapi menurut Kapten Rudi,  Awad lebih mirip IP Man yang diperankan oleh Donnie Yen. Sikapnya tenang tidak banyak bicara. Tapi kemampuannya melompat tinggi, dan kepiawaiannya memotong umpan silang akan membuat striker lawan ragu membawa bola dari sisi kiri Berkah FC— karena pasti akan gagal melewatinya.Awad—  yanv memiliki motto "Perjuangan bukanlah tentang hasil akhir, melainkan tentang proses yang tidak pernah sia-sia. InsyaAllah, berhasil!"— sangat mengidolakan Paolo Maldini—bek legendaris Italia dan Pele—Legenda Brazil. “Maldini mengajarkan bahwa bertahan adalah seni. Pele mengajarkan bahwa sepak bola pada akhirnya adalah kegembiraan,” ungkapnya pada Rabu (10/06/2026) melalui pesan WhatsApp.Mungkin karena kedua ikon sepak bola dunia itu, hingga kini, Awad masih setia di pos bek kiri. Bukan karena Ia merasa yang terbaik di sana. Tapi karena di posisi itulah Ia mengaku belajar bahwa hidup sama seperti bertahan: tidak perlu selalu menyerang. Cukup tahu kapan harus diam, kapan harus bergerak, dan kapan harus menyapu bersih semua masalah dengan satu tekel yang tepat. “Saya sangat senang bermain sepak bola setiap senin dan kamis  di lapangan Kayutangi dibawah arahan Kapten Rudi. Beliau pemimpin yang peduli rekan-rekan. Saya merasa bangga Beliau memilih saya ikut berlaga di kompetisi resmi,” ujarnya.Berkah FCSepak bola benar-benar merasuki jiwa Awad. Kecintaannya pada permainan ini bukan tanpa sebab. Menurutnya, olah raga ini merekatkan persahabatan, memperkuat silaturrahmi, menyehatkan badan, membuat hati senang, dan paling penting tidak menuntut biaya mahal. Kesan Awad terhadap klub Berkah FC sangat dalam. “Rasa kekeluargaan para pemain dan pengurus klub yang dibina H. Juman ini sangat kuat. Terlebih lagi Pak Rudi— Kapten Berkah FC. Beliau seorang pemimpin yang sangat memerhatikan keadaan kawan-kawan. Apalagi jika laga tandang, bersama Pak Kaslian, Beliau repot mengatur segala persiapan termasuk konsumsi,” jelasnya. Awad juga mengagumi kebijaksanaan pengurus tim yang memberikan kesempatan kepada siapa saja— tua-muda— yang datang ke lapangan untuk bermain. “Sesuai nama klubnya— Berkah FC, klub ini menjadi berkah bagi setiap orang yang mencintai sepak bola, dan ingin mengembangkan bakat bermain sepak bola,” tegasnya.Siapapun yang mengenal Saiful Alwad—yang juga seorang pecinta musik panting, pasti akan merindukan aksinya di lapangan. Kekuatan, dan kelincahan kakinya menghalu serangan lawan selalu dinanti para penikmat bola di lapangan Kayu Tangi Ujung. Kapten & Asisten Manajer & Tim Berkah FC Dikaitkan dengan manajemen pendidikan dan kepemimpinan pendidikan, terdapat beberapa poin yang dipraktikkan Awad secara substansi memiliki kesamaan, yaitu:1.   Functional LeadershipAwad memilih bertahan sebagai bek kiri bukan karena gengsi, tetapi karena menyadari di posisi itulah kompetensinya bisa memberikan kontribusi terbaik bagi tim. Guru/ pemimpin pendidikan harus menempatkan diri berdasarkan analisis kemampuan realitasnya, bukan ego sehingga dapat berkontribusi maksimal pada posisi yang menjadi tanggung jawabnya.2. Kecerdasan Emosional dan Pengendalian DiriAwad tenang, tidak banyak bicara, mampu melompat tinggi, dan memotong umpan silang dengan tepat. Pemimpin pendidikan harus mampu bersikap responsif bukan reaktif. Ia tidak terprovokasi tekanan eksternal (striker lawan), tetapi tetap fokus pada tugasnya.3. Filosofi Manajemen Diri (Self-Management)Moto Saiful Alwad: "Perjuangan bukan tentang hasil akhir, melainkan proses yang tidak pernah sia-sia" adalah inti dari evaluasi diri dalam pendidikan yang menekankan pada proses pembelajaran lebih penting daripada sekadar nilai akhir. Pemimpin pendidikan yang cermat dan bijak, tidak terobsesi pada pencapaian instan, tetapi pada pertumbuhan berkelanjutan.4. Role CommitmentAwad bermain pada posisi yang sama selama 23 tahun sebagai bek kiri. Pemimpin pendidikan tidak perlu sering berganti gaya kepemimpinan, yang paling utama adalah pendalaman kompetensi (deep expertise)  dan konsisten  dan terus meningkatkan kualitas diri.5. Kemampuan Membaca Situasi dan Mengambil Keputusan TepatAwad tahu kapan diam, kapan bergerak, kapan menyapu bersih — melakukan tekel yang tepat. Pemimpin pendidikan tidak boleh membuat keputusan tergesa-gesa, namun tidak boleh juga menyepelekan—lambat membuat Keputusan. Setiap keadaan harus diobservasi, kemudian bergerak (melakukan intervensi ringan), atau "tekel bersih" (tindakan tegas). Lapangan sepak bola tidak hanya mengajarkan cara mencetak gol, tetapi juga cara menjadi pemimpin yang bijak. Awad—bek kiri Berkah FC, mengajarkan kepemimpinan sejati lahir dari kesadaran akan peran, tenang menghadapi  tekanan, dan tetap komitmen pada proses, bukan sekadar meraih kemenangan sebagai hasil akhir.
# EDUKASI
# Opini

Pelajaran dari H. Juman: Praktik Lintas Sektoral Prinsip-Prinsip Manajemen

Iwan Perdana
9 Juni 2026
M. Jurmansyah S.Pd, yang akrab disapa H. Juman, adalah sosok sentral di balik berdirinya dan keberlangsungan Klub Berkah FC. Lahir di Palangkaraya, 26 Juni 1970, pria yang berprofesi sebagai Kepala MTSN 1 Kota Banjarmasin ini memiliki prinsip hidup yang unik, yakni “berusaha menyenangkan hati orang lain walau tidak sesuai dengan keadaan kita,” ujarnya pada Minggu (7/6/2026). Ada cerita menarik di balik nama Berkah FC. Ternyata, klub ini awalnya bernama Juman FC. “Tapi kawan-kawan mengganti nama supaya ada keberkahan,” ungkap H. Juman. Pergantian nama klub ini diiringi doa dan harapan agar seluruh pemain dan pengurus selalu sehat penuh keberkahan, dan kerja sama tim membawa kegembiraan, kebaikan bersama.Kiri ke kanan: H. Zahrani, Budi, H. Juman, AlamsyahSejak kecil H. Juman sudah jatuh hati pada sepak bola. Baginya, bola bukan sekadar mencatatkan nama di papan skor, melainkan sarana untuk berbagi pengalaman, menyambung silaturahmi, dan mengenal daerah lain. “Ini olahraga yang paling banyak disukai orang di muka bumi,” akunya. “Melalui sepak bola, kita bisa menyambung tali silaturrahmi dan asyiknya lagi mengenal daerah lain saat laga tandang persahabatan,” tambahnya lagi.Namun, cinta yang besar itu berhadapan dengan realitas di lapangan. Menurut H. Juman, kompetisi sepak bola di Kalimantan Selatan masih belum ideal. “Kejuaraan antar SSB dan kelompok umur jarang dilakukan. Harusnya diperbanyak  dan dilaksanakan secara teratur untuk menjaring bibit-bibit muda berbakat,” keluhnya. “Jangan cuma klub sepak bola legenda yang maju—para pemain tua yang tetap berkibar, sementara bibit-bibit muda kekurangan panggung,” tuturnya.Ditanya klub sepak bola yang disukai di kancah Nasional, H. Juman tanpa ragu mengatakan ngefans klub sepak bola asal Kota Bandung, Persib Bandung, yang sukses meraih gelar juara liga 3 musim berturut-turut (hattrick): 2023/2024, 2024/2025, dan 2025/2026. Adapun di pentas internasional, Ia menyebutkan Manchester United (MU. “Saya suka gaya bermain tim “Maung Bandung” dan “The Red Devils,” ungkapnya.  Gaya menyerap kedua tim idamannya itu ikut mempengaruhi strategi Berkah FC, misalnya dalam mengutamakan serangan cepat dan tekanan sejak awal pertandingan.Tidak hanya memimpin MTSN 1 Kota Banjarmasin, sekolah di bawah naungan Kemenag dengan visi "Mewujudkan generasi yang beriman, berilmu, berakhlak mulia, terampil dan mampu mengaktualisasikan diri dalam kehidupan bermasyarakat” H. Juman juga aktif mengelola tim sepak bola. Beliau didaulat menjadi Ketua Klub sepak bola All Star Kalsel. Saat menerima amanah, Ia menyampaikan visi membawa tim All Star dikenal  masyarakat sepak bola se-Kalsel, dengan mengikuti even-even penting dan menjadi juara. Visi serupa disematkan pada Berkah FC, tim yang juga Ia bina.Terkait pengelolaan Berkah FC, Sebagai pembina, Ia mengaku terkadang bingung memilih pemain saat akan bertanding. “Semua pemain memiliki karakteristik dan kemampuan yang baik,”akunya. “Antusiasme pemain yang ingin berpartisipasi mengikuti kompetisi menjadi berkah sekaligus dilema saat menyusun formasi tim,” jelasnya. Saat ditanya, tim apa yang dipilihnya jika suatu saat All Star Kalsel bertemu Berkah FC di kompetisi resmi? Pertanyaan ini seperti menjebaknya dalam dua cinta. H. Juman tidak memilih. Dengan bijak, Ia menjawab, “Saya berdiri di tengah-tengah sebagai penonton, untuk memonitor dan mengevaluasi ke depannya.” H, JumanPrinsip dan pendekatan H. Juman dalam mengelola klub sepak bola ternyata sejalan dengan nilai-nilai manajemen pendidikan yang Ia terapkan sehari-hari sebagai kepala MTSN 1 Kota Banjarmasin. Berikut beberapa poin yang berkaitan:1. Prinsip "Menyenangkan Hati Orang Lain" vs. Pelayanan Prima dalam PendidikanSeorang pemimpin satuan pendidikan dituntut memiliki orientasi pelayanan (service excellence) kepada siswa, guru, orang tua, dan masyarakat. Prinsip H. Juman—"berusaha menyenangkan hati orang lain walau tidak sesuai dengan keadaan kita"—merupakan wujud nyata dari filosofi customer satisfaction dalam konteks pendidikan. Kepala madrasah mungkin tidak selalu bekerja dalam zona nyaman, tetapi Ia harus berusaha memenuhi harapan semua pihak yang berkepentingan, dan demi kemajuan lembaga yang dipimpinnya. Namun prinsip ini tidak dapat diterjemahkan sebagai tindakan menyenangkan semua orang secara membabi buta (people pleasing), melainkan harus bersandar pada skala prioritas dan regulasi. 2. Nama "Berkah" sebagai Branding dan Nilai SpiritualBranding lembaga yang kuat mencerminkan nilai-nilai luhur. Pengubahan nama dari "Juman FC" menjadi "Berkah FC" menunjukkan kesadaran H. Juman akan pentingnya nilai spiritual dan harapan kolektif. Hal ini serupa dengan visi madrasah yang Ia pimpin: "Mewujudkan generasi yang beriman, berilmu, berakhlak mulia..." Keduanya menempatkan keberkahan dan akhlak sebagai fondasi utama, bukan sekadar prestasi materi semata.3. Kepemimpinan Partisipatif: Mendengar Masukan Kawan-KawanKesediaan H. Juman mengganti nama klub karena usulan "kawan-kawan" mencerminkan gaya kepemimpinan partisipatif (participative leadership). Kepala madrasah yang ideal tidak bersikap otoriter, tetapi membuka ruang dialog dengan guru, komite sekolah, dan siswa.4. Manajemen Talenta: Dilema Antusiasme vs. FormasiPengakuan H. Juman bahwa Ia "bingung memilih pemain karena semua bermain baik " adalah cerminan dari tantangan manajemen talenta di dunia pendidikan. Kepala madrasah sering dihadapkan pada kondisi kelebihan SDM yang berkualitas. Tugas pemimpin adalah menempatkan orang yang tepat di tempat yang tepat (the right man on the right place)—sama seperti menyusun formasi tim sepak bola. Antusiasme yang tinggi adalah berkah, tetapi jika tidak dikelola dengan sistem yang baik, dapat berubah menjadi dilema.5. Evaluasi Netral: Berdiri di Tengah sebagai PenontonJawaban H. Juman saat ditanya memilih tim mana jika All Star Kalsel bertemu Berkah FC—"Saya berdiri di tengah-tengah sebagai penonton, untuk memonitor dan mengevaluasi"—adalah praktik evaluasi yang objektif. Kepala madrasah tidak diperkenankan menunjukkan keberpihakan emosional kepada para guru yang dipimpinnya atau mengistimewakan program tertentu. Kepala madrasah harus menilai kinerja guru dan program berdasarkan instrumen evaluasi yang valid, transparan, dan terukur.6. Visi Berkelanjutan: Mengikuti Even Penting dan Menjadi JuaraVisi H. Juman untuk All Star Kalsel dan Berkah FC—mengikuti even penting dan menjadi juara— sejalan dengan manajemen berbasis target (Goal-Oriented Management). Sebuah madrasah eksis tidak hanya sekadar untuk memperoleh akreditasi atau mengikuti kompetisi akademik, tetapi bertekad meraih prestasi tertinggi. Praktik yang ditunjukkan oleh H. Juman membuktikan bahwa prinsip-prinsip manajemen umum bersifat lintas sektoral. Apa yang dipelajari di dunia sepak bola—seperti kerja sama tim, disiplin, strategi, taktik, dan evaluasi hasil pertandingan—sangat bisa diadopsi untuk memimpin lembaga pendidikan.
# EDUKASI
# Opini

EDUTECH: WADAH PENGEMBANGAN MAHASISWA PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS YANG INOVATIF DAN ADAPTIF

Abdul Aziz, M.Pd
8 Juni 2026
Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara guru merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran. Oleh karena itu, calon guru Bahasa Inggris tidak hanya dituntut menguasai materi dan keterampilan berbahasa, tetapi juga mampu menciptakan inovasi pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan peserta didik di era digital. Menjawab kebutuhan tersebut, Program Studi S1 Pendidikan Bahasa Inggris STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin menghadirkan program EDUTECH sebagai wadah pengembangan kompetensi mahasiswa dalam merancang dan menghasilkan inovasi pembelajaran berbasis teknologi.EDUTECH merupakan program pelatihan yang dirancang untuk membekali mahasiswa dengan kemampuan mengembangkan media, strategi, metode, dan bahan ajar yang kreatif, interaktif, serta sesuai dengan karakteristik pembelajaran abad ke-21. Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya belajar menggunakan teknologi dalam pembelajaran, tetapi juga didorong untuk menghasilkan berbagai inovasi yang dapat meningkatkan kualitas proses belajar mengajar. Mahasiswa diberikan kesempatan untuk mengeksplorasi berbagai platform digital, aplikasi pendidikan, serta teknologi berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) yang dapat diintegrasikan dalam pembelajaran Bahasa Inggris.Program ini sejalan dengan visi Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris yang berkomitmen menghasilkan lulusan yang inovatif, adaptif, dan mampu menjawab tantangan perkembangan dunia pendidikan. Melalui EDUTECH, mahasiswa dilatih untuk merancang pembelajaran yang lebih menarik, efektif, dan berpusat pada peserta didik. Berbagai keterampilan seperti pembuatan media pembelajaran interaktif, pengembangan game edukasi, desain bahan ajar digital, pemanfaatan Augmented Reality (AR), pengembangan website pembelajaran, hingga penggunaan Artificial Intelligence dalam pendidikan menjadi bagian dari pengalaman belajar mahasiswa.Salah satu manfaat utama EDUTECH adalah membantu mahasiswa mempersiapkan diri menghadapi kegiatan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) maupun program MBKM Asistensi Mengajar di sekolah dan berbagai lembaga pendidikan. Mahasiswa yang telah mengikuti pelatihan EDUTECH memiliki bekal keterampilan dalam merancang media pembelajaran digital, membuat presentasi yang menarik, mengembangkan aktivitas pembelajaran interaktif, serta memanfaatkan berbagai aplikasi pendidikan yang mendukung proses belajar mengajar. Bekal tersebut membuat mahasiswa lebih percaya diri saat memasuki kelas, lebih mudah beradaptasi dengan kebutuhan peserta didik, dan lebih siap menghadapi tantangan pembelajaran yang beragam di lapangan.Manfaat program ini juga dirasakan secara langsung oleh mahasiswa yang sedang menjalani program MBKM Asistensi Mengajar. Salah seorang mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris mengungkapkan:"Alhamdulillah, melalui EDUTECH ini saya bisa lebih kreatif dalam membuat berbagai media pembelajaran digital, dan ini sangat bermanfaat saat saya menyusun media ajar untuk program MBKM yang saat ini saya jalani."Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa keterampilan yang diperoleh melalui EDUTECH tidak hanya berhenti pada tahap pelatihan, tetapi dapat diterapkan secara nyata dalam kegiatan mengajar. Kemampuan mengembangkan media pembelajaran yang menarik, interaktif, dan sesuai dengan karakteristik peserta didik membantu mahasiswa melaksanakan tugas pembelajaran dengan lebih efektif. Testimoni ini menjadi bukti bahwa EDUTECH mampu menjembatani kebutuhan perkuliahan dengan tuntutan praktik di lapangan sehingga mahasiswa lebih siap menjalani MBKM, PPL, maupun profesi sebagai guru di masa depan.Sebagai bentuk implementasi hasil pelatihan, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris telah menghasilkan produk inovatif yang dapat digunakan secara langsung dalam pembelajaran. Produk-produk tersebut menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam mengintegrasikan teknologi dengan strategi pembelajaran Bahasa Inggris yang kreatif dan menarik.1. Media Pembelajaran Interaktif Berbasis Wordwall Media ini dikembangkan untuk meningkatkan keterlibatan peserta didik melalui aktivitas pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan.Link karya: https://wordwall.net/resource/1011719002. Bahan Ajar Digital Berbasis FlipbookBahan ajar digital yang memungkinkan peserta didik mengakses materi pembelajaran secara lebih fleksibel, menarik, dan mudah dipahami. Link karya: https://online.fliphtml5.com/meyim/gyxa/Karya ini menjadi bukti bahwa mahasiswa tidak hanya mempelajari teori pembelajaran di dalam kelas, tetapi juga mampu menghasilkan produk nyata yang dapat digunakan dalam kegiatan mengajar. Kemampuan ini menjadi modal penting ketika mahasiswa menjalani PPL, MBKM Asistensi Mengajar, maupun ketika memasuki dunia kerja sebagai pendidik profesional. Melalui EDUTECH, mahasiswa juga dilatih untuk mengembangkan kemampuan berpikir kreatif dan problem solving dalam menghadapi berbagai tantangan pembelajaran. Mahasiswa didorong untuk mengidentifikasi permasalahan yang sering muncul dalam proses belajar Bahasa Inggris, kemudian merancang solusi inovatif yang dapat membantu meningkatkan motivasi, keterlibatan, dan hasil belajar peserta didik. Dengan pendekatan ini, mahasiswa tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pencipta inovasi yang memberikan dampak nyata dalam dunia pendidikan.Dengan adanya EDUTECH, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin memperoleh ruang untuk berkreasi, bereksperimen, dan mengembangkan berbagai inovasi pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan pendidikan masa kini. Program ini menjadi salah satu keunggulan program studi dalam mempersiapkan calon pendidik yang tidak hanya kompeten dalam berbahasa Inggris, tetapi juga siap mengajar, mampu menciptakan solusi pembelajaran yang kreatif dan inovatif, serta memiliki pengalaman dalam mengembangkan media dan teknologi pembelajaran yang dapat diterapkan secara langsung di sekolah maupun lembaga pendidikan. Melalui EDUTECH, Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris terus berkomitmen mencetak lulusan yang profesional, adaptif, inovatif, dan siap menghadapi tantangan pendidikan abad ke-21.
# EDUKASI
# Opini

Mimbar Akademik STKIP Islam Sabilal Muhtadin: Ruang Bertumbuh bagi Sivitas Akademika

Novi Nurdian, M.Pd
5 Juni 2026
Setiap hari Rabu, suasana akademik di STKIP Islam Sabilal Muhtadin terasa lebih hidup melalui kegiatan Mimbar Akademik, sebuah forum pengembangan diri yang mempertemukan dosen dan tenaga kependidikan dalam ruang diskusi yang hangat dan inspiratif. Kegiatan ini menjadi wadah untuk berbagi gagasan, memperluas wawasan, sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia di lingkungan kampus.Mimbar Akademik dipandu oleh Wakil Ketua Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama, Ibu Yuliana Nurhayati, M.Pd., yang mampu menciptakan suasana diskusi yang interaktif dan penuh semangat. Dengan gaya moderasi yang komunikatif, setiap peserta diberi kesempatan untuk berpendapat dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis.Salah satu daya tarik utama kegiatan ini adalah kehadiran Bapak Iwan Perdana, Ph.D. sebagai pemateri tetap. Beliau dikenal sebagai akademisi yang memiliki wawasan luas, terutama dalam bidang pendidikan dan pengembangan kapasitas akademik. Penyampaian materi yang sistematis dan mudah dipahami membuat peserta selalu antusias mengikuti setiap sesi. Dalam setiap pertemuan, berbagai isu pendidikan menjadi bahan diskusi yang menarik. Mulai dari sejarah Pendidikan, tantangan pendidikan abad ke-21, inovasi pembelajaran, penguatan karakter peserta didik, hingga perkembangan kebijakan pendidikan nasional dibahas secara kritis dan konstruktif.Tidak hanya berfokus pada teori, Mimbar Akademik juga memberikan ruang praktik bagi peserta untuk mengasah keterampilan komunikasi. Kegiatan public speaking menjadi salah satu agenda yang paling diminati karena membantu peserta meningkatkan rasa percaya diri dalam menyampaikan gagasan di depan publik. Suasana semakin dinamis ketika sesi debat pendidikan dilaksanakan. Peserta diajak untuk menyampaikan argumentasi berdasarkan data dan pengalaman, sekaligus belajar menghargai sudut pandang yang berbeda. Kegiatan ini melatih kemampuan berpikir analitis dan keterampilan menyampaikan pendapat secara profesional.Bapak Iwan Perdana, Ph.D. tidak hanya berperan sebagai narasumber, tetapi juga sebagai fasilitator yang mendorong peserta untuk aktif bertanya dan berdiskusi. Beliau sering memberikan contoh-contoh nyata yang dekat dengan dunia pendidikan sehingga materi yang disampaikan terasa relevan dan aplikatif. Keikutsertaan dosen dan tenaga kependidikan dalam Mimbar Akademik menunjukkan komitmen STKIP Islam Sabilal Muhtadin untuk membangun budaya belajar sepanjang hayat. Forum ini menjadi bukti bahwa proses pembelajaran tidak hanya diperuntukkan bagi mahasiswa, tetapi juga bagi seluruh sivitas akademika.Melalui interaksi yang rutin setiap pekan, tercipta hubungan yang semakin erat antar peserta. Pertukaran pengalaman dan gagasan dari berbagai latar belakang pekerjaan memberikan perspektif baru yang memperkaya pemahaman bersama tentang dunia pendidikan. Mimbar Akademik telah menjadi salah satu program unggulan yang memberikan dampak positif bagi pengembangan kompetensi sivitas akademika STKIP Islam Sabilal Muhtadin. Dengan semangat kolaborasi, refleksi, dan pembelajaran berkelanjutan, kegiatan ini diharapkan terus menjadi ruang inspiratif yang melahirkan ide-ide inovatif untuk kemajuan pendidikan di masa depan.
# EDUKASI
# Opini

  Youtube

Surah Ar-Rahman | Aniq Muhai

  Informasi

Selamat Hari Guru Nasional
Arah Pendidikan Nasional & Transformasi Pendidikan Lokal di Daerah
Kupas Tuntas: Kurikulum, Inklusi, dan Seni di Sekolah Dasar
Momentum Kebangkitan Nasional Melalui Peningkatan Kualitas Pendidikan