Beranda > Edukasi > Opini

  Postingan Terbaru

Amanah Baru, Semangat Baru: Mengabdi dan Bertumbuh Bersama

Muhammad Supian Sauri
22 Oktober 2026
Alhamdulillah, hari ini menjadi salah satu momen yang berkesan dalam perjalanan pengabdian saya di dunia pendidikan. Pelantikan Wakil Ketua dan pejabat struktural di lingkungan STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin bukan sekadar seremoni, tetapi juga menjadi pengingat bahwa setiap amanah selalu membawa tanggung jawab dan harapan baru. Pada kesempatan ini, saya mendapatkan kepercayaan untuk mengemban amanah sebagai Kepala UPLP. Tentu, ini menjadi sesuatu yang patut disyukuri sekaligus menjadi tantangan baru untuk terus belajar dan berkembang. Bagi saya, jabatan bukanlah tentang posisi atau kedudukan, melainkan tentang bagaimana kita menjalankan tanggung jawab dan memberikan manfaat bagi orang lain. Semoga amanah ini menjadi bagian dari perjalanan untuk terus berkontribusi bagi kemajuan lembaga dan dunia pendidikan.Saya percaya bahwa kemajuan sebuah institusi pendidikan tidak bisa dibangun oleh satu orang saja. Dibutuhkan kerja sama, komunikasi yang baik, saling percaya, dan kesediaan untuk berjalan bersama. Setiap orang memiliki peran dan tanggung jawab masing-masing yang saling melengkapi dalam mencapai tujuan bersama. Tentu, dalam menjalankan tugas nanti akan ada berbagai tantangan dan hal-hal baru yang perlu dipelajari. Namun, setiap tantangan juga merupakan kesempatan untuk memperbaiki diri. Saya ingin menjalankan amanah ini dengan semangat kebersamaan, terbuka terhadap masukan, dan terus belajar dari pengalaman. Sebab, kita tidak harus selalu merasa paling tahu, tetapi harus selalu memiliki kemauan untuk belajar dan memberikan yang terbaik.Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ibu Yuliana Nurhayati, M. Pd., selaku Ketua STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, atas kepercayaan yang diberikan kepada saya untuk mengemban amanah sebagai Kepala UPLP. Kepercayaan ini menjadi motivasi bagi saya untuk terus belajar, bekerja dengan lebih baik, dan menjalankan tanggung jawab dengan sungguh-sungguh. Saya menyadari bahwa masih banyak hal yang perlu dipelajari dan dikembangkan, sehingga arahan, dukungan, serta masukan dari pimpinan dan rekan-rekan akan sangat berarti dalam perjalanan ini. Saya juga mengucapkan selamat kepada seluruh Wakil Ketua dan pejabat struktural yang turut dilantik. Semoga amanah baru ini membawa semangat baru bagi kita semua untuk terus berbenah, memperkuat sinergi, dan bersama-sama membawa STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin menjadi lebih baik.Pada akhirnya, saya percaya bahwa jabatan memiliki masa dan batasnya, tetapi nilai pengabdian yang dilakukan dengan tulus akan selalu memiliki arti. Tidak semua kontribusi harus dimulai dari hal-hal besar. Disiplin dalam bekerja, menyelesaikan tugas dengan baik, menjaga komunikasi, menghargai pendapat orang lain, dan bersedia membantu rekan kerja merupakan bagian penting dalam membangun lembaga yang lebih baik. Bismillah, saya akan berusaha menjalankan amanah sebagai Kepala UPLP dengan sebaik-baiknya, sambil terus belajar dan membuka diri terhadap berbagai masukan. Saya tentu tidak bisa bekerja sendiri, sehingga doa, dukungan, dan kerja sama dari semua pihak sangat berarti. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kesehatan, kemudahan, kebijaksanaan, dan keikhlasan kepada kita semua dalam menjalankan tanggung jawab masing-masing. Amanah baru, semangat baru, dan kesempatan baru untuk terus belajar, bertumbuh, serta memberikan manfaat. Mohon doa terbaiknya, semoga kita bisa terus berjalan bersama dan membawa STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin menuju kemajuan yang lebih baik.
# EDUKASI
# Opini

Bawa Semangat Perubahan, Ketua STKIP Islam Sabilal Muhtadin Lantik Pejabat Struktural Baru Periode 2026-2030

Mega Kurniawati, M.Pd
22 Oktober 2026
STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin melaksanakan pelantikan pejabat struktural untuk masa bakti 2026–2030 pada Rabu, 21 Oktober 2026, bertempat di Ruang Pertemuan Kampus STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin. Pelantikan dipimpin langsung oleh Ketua STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, Yuliana Nurhayati, M.Pd.   Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh dosen dan tenaga kependidikan STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin. Kehadiran seluruh keluarga besar kampus menunjukkan kebersamaan dan dukungan kepada para pejabat yang memegang amanah baru. Suasana berlangsung tertib, lancar, dan penuh khidmat.   Pelantikan ini terbagi dalam beberapa Surat Keputusan (SK). Pada SK pertama, Vebrianti Umar, M.Pd resmi menjabat sebagai Wakil Ketua Bidang Akademik, sementara Armin Fani, M.Pd dipercaya untuk mengemban amanah sebagai Wakil Ketua Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama.  Selanjutnya, Yuliana Nurhayati, M.Pd melantik sepuluh pejabat struktural lainnya. Mereka adalah Abdul Azis, M.Pd sebagai Ketua Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, Novi Nurdian, M.Pd sebagai Ketua Prodi PGSD, Maulidha, M.Pd sebagai Ketua Prodi PAUD, Novi Suma, M.Pd sebagai Ketua LPM, serta Rizki Nugerahani Ilise, M.Pd sebagai Ketua LPPM.   Selain itu, jabatan Kepala Bagian Administrasi Umum dan Keuangan kini dipercayakan kepada Halima Chairia, SE. Untuk jajaran Kepala UPT, posisi Kemahasiswaan diisi oleh M. Agus Syafrian Noor, M.Pd; UPT Kerja Sama, Humas, dan PMB diisi oleh Zulparis, M.Pd; UPT Perpustakaan diisi oleh M. Juanda, S.I.Pust; dan UPT PLP diisi oleh M. Supian Sauri, M.Pd.   Momen pelantikan yang dipimpin oleh Yuliana Nurhayati, M.Pd ini berlangsung khidmat. Acara ini turut dihadiri oleh Iwan Perdana, Ph.D. selaku Pendiri, Guru, sekaligus Mentor STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin. Kehadiran beliau memberikan dorongan semangat tersendiri bagi para pejabat struktural yang baru dilantik maupun seluruh keluarga besar kampus.   Prosesi ini menjadi pengingat bagi seluruh pejabat strutural yang baru bahwa jabatan adalah sebuah tanggung jawab dan amanah besar. Sebuah lembaga tidak akan bisa tumbuh hanya karena satu orang, melainkan berkat kerja sama, kejujuran, dan rasa kebersamaan. Karena itu, seluruh dosen dan tenaga kependidikan diajak untuk saling mendukung, membantu, dan bekerja sama serta niat bekerja sebagai bagian dari ibadah.  Ke depan, STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin berkomitmen menghadirkan pelayanan akademik dan administrasi yang lebih cepat, transparan, dan ramah bagi mahasiswa. Pengelolaan lingkungan kampus pun dipastikan makin tertib. Di saat yang sama, dosen dan tenaga kependidikan akan terus meningkatkan kualitas diri agar pelayanan yang diberikan semakin memuaskan.   Guna membawa nama STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin semakin dikenal luas, jajaran pengurus baru diharapkan berani menghadirkan berbagai macam inovasi. Mulai dari pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran, penguatan kegiatan penelitian dan pengabdian masyarakat, perluasan kemitraan, hingga aktif membagikan kabar positif kampus di media sosial dan situs resmi. Inovasi tidak harus selalu besar; langkah-langkah kecil yang konsisten justru akan memberi dampak nyata.   Semua upaya ini bermuara pada satu tujuan yakni meningkatkan mutu pendidikan, mencetak lulusan yang berilmu dan berakhlak mulia, serta menjaga kepercayaan masyarakat terhadap STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin.  Semangat baru di periode 2026–2030 ini diharapkan menjadi pijakan awal bagi STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin untuk terus berkembang dan membawa manfaat luas bagi masyarakat. Rangkaian acara pelantikan ditutup dengan pembacaan doa dan foto bersama.   Pelantikan hanyalah awal. Jabatan baru tidak otomatis membuat kampus menjadi lebih baik tetapi yang menentukan adalah apa yang dikerjakan setelah acara selesai: melayani mahasiswa dengan sungguh-sungguh, bekerja dengan jujur, dan saling mendukung antara pejabat, dosen, dan tenaga kependidikan. Jika amanah dijaga dan langkah-langkah kecil dilakukan terus-menerus, kepercayaan masyarakat akan tumbuh dengan sendirinya. Semoga masa bakti 2026–2030 menjadi bukti bahwa STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin tumbuh besar karena kebersamaan seluruh keluarga besarnya.
# EDUKASI
# Opini

Menjaga Amanah, Menyalakan Harapan: Sebuah Langkah Baru Bersama STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin

Novi Suma Setyawati
21 Oktober 2026
Ada momen dalam hidup yang tidak hanya layak untuk dikenang, tetapi juga perlu direnungkan. Bagi saya, Rabu, 21 Oktober 2026, adalah salah satu hari yang akan selalu memiliki tempat khusus dalam perjalanan pengabdian saya di STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin.Pada hari itu, saya, Novi Suma Setyawati, M.Pd., dipercaya dan dilantik sebagai Kepala Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin periode 2026–2030. Pelantikan tersebut dipimpin oleh Ketua STKIP ISM yang baru, Ibu Yuliana Nurhayati, M.Pd., yang beberapa hari sebelumnya, tepatnya Kamis, 15 Oktober 2026, juga baru menerima amanah sebagai pimpinan perguruan tinggi ini.Bagi saya, pelantikan bukan sekadar pergantian jabatan atau perpindahan posisi dalam sebuah struktur organisasi. Lebih dari itu, pelantikan adalah simbol kepercayaan, estafet pengabdian, sekaligus pengingat bahwa setiap jabatan pada akhirnya adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan.Pelantikan ini bukan tentang kursi, tetapi tentang amanah. Mungkin yang tampak hanyalah sebuah prosesi sederhana: berdiri dalam barisan, membaca ikrar, menandatangani dokumen, menerima amanah, kemudian berfoto bersama. Namun, bagi saya, di balik setiap gambar itu tersimpan cerita yang jauh lebih besar. Ada perjalanan panjang, ada proses belajar, ada orang-orang yang pernah membimbing, ada rekan-rekan yang berjalan bersama, ada kepercayaan yang diberikan, dan tentu saja, ada tanggung jawab yang mulai mengetuk pintu.Saya memandang jabatan Kepala LPM seperti sebuah kompas. Kompas tidak berjalan menuju tujuan, tetapi membantu memastikan agar perjalanan tidak kehilangan arah. Begitu pula LPM. LPM bukan sekadar sebuah lembaga yang mengurusi dokumen mutu, standar, evaluasi, atau akreditasi. Lebih dari itu, LPM harus menjadi bagian yang ikut menjaga agar seluruh gerak institusi tetap berada pada arah yang benar. Karena itu, amanah ini tidak ingin saya maknai sebagai “menjadi lebih tinggi”, tetapi sebagai kesempatan untuk melayani lebih luas.Saya percaya bahwa mutu tidak lahir hanya dari dokumen yang rapi. Mutu lahir dari budaya kerja, dari kedisiplinan, dari kemauan untuk memperbaiki diri, dari keterbukaan menerima masukan, dan dari kesadaran bahwa setiap orang di dalam institusi memiliki kontribusi terhadap kemajuan lembaga.Dalam sebuah perlombaan estafet, seseorang tidak memulai perjalanan dari titik nol. Ia menerima tongkat dari pelari sebelumnya. Tongkat itu bukan miliknya. Ia hanya mendapat kepercayaan untuk membawanya sejauh mungkin, menjaga agar tidak terjatuh, kemudian menyerahkannya kepada orang berikutnya dalam keadaan lebih baik. Demikian pula sebuah institusi.Kita menerima STKIP Islam Sabilal Muhtadin dari orang-orang yang telah bekerja dan berjuang sebelum kita. Tugas kita bukan menghapus apa yang telah dilakukan sebelumnya, tetapi melanjutkan hal-hal baik, memperbaiki kekurangan, dan menghadirkan gagasan baru untuk masa depan.Di sinilah saya memaknai pergantian kepemimpinan sebagai sebuah proses kesinambungan, bukan pemutusan.Beberapa hari sebelumnya, Ibu Yuliana Nurhayati, M.Pd. menerima amanah sebagai Ketua STKIP ISM. Hari ini, bersama para pejabat struktural lainnya, kami menerima amanah untuk mendukung perjalanan institusi ke depan.Saya percaya bahwa kepemimpinan tidak pernah berdiri sendiri. Ketua membutuhkan wakil ketua. Wakil ketua membutuhkan kepala lembaga dan unit kerja. Kepala lembaga membutuhkan tim. Dan semuanya membutuhkan satu sama lain.Pelantikan hari ini diawali dengan pelantikan Ibu Vebrianti Umar, M.Pd. sebagai Wakil Ketua Bidang Akademik dan Bapak Armin Fani, M.Pd. sebagai Wakil Ketua Bidang Kerja Sama, Alumni, dan Kemahasiswaan.Saya mengucapkan selamat atas amanah baru yang diberikan.Selamat juga kepada seluruh rekan yang pada hari ini dilantik dan dipercaya mengemban tugas struktural untuk periode 2026–2030.Bagi kita semua, semoga jabatan ini tidak membuat kita merasa lebih tinggi dari yang lain, tetapi justru membuat kita semakin dekat dengan tanggung jawab, semakin peka terhadap kebutuhan institusi, dan semakin bersedia memberikan waktu, pikiran, serta tenaga untuk STKIP ISM.Mari kita jadikan perbedaan bidang, tugas, dan fungsi sebagai kekuatan. Sebab sebuah institusi tidak akan tumbuh hanya karena satu orang hebat. Institusi tumbuh ketika banyak orang mau bekerja bersama dengan niat yang baik.Di balik pencapaian seseorang, hampir selalu ada tangan-tangan yang pernah membimbingnya.Pada kesempatan yang sangat berarti ini, saya ingin menyampaikan rasa terima kasih yang tulus kepada Bapak Iwan Perdana, Ph.D., guru, mentor, sekaligus salah satu pendiri STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin.Terima kasih karena telah memberikan ruang kepada saya untuk bekerja, belajar, berkarya, mencoba, berkembang, dan mengenali potensi diri.Seperti yang selalu beliau sampaikan dan ingatkan kepada kami bahwa Kesempatan seperti itu tidak selalu datang kepada semua orang. Kadang seseorang tidak berkembang karena tidak memiliki kemampuan, tetapi karena tidak pernah diberi kesempatan untuk mencoba. Dan saya merasa bersyukur pernah mendapatkan kesempatan tersebut.Banyak hal yang mungkin tidak selalu terlihat namun ada nasihat yang tersimpan dalam ingatan, rasa malu, tenggang rasa, dan rasa terim kasih, ada pengalaman yang menjadi pelajaran, ada kepercayaan yang perlahan membentuk keberanian. Untuk itu, terima kasih bukan hanya atas jabatan atau kesempatan yang pernah diberikan, tetapi terutama atas kepercayaan untuk bertumbuh.LPM dan Harapan untuk Masa DepanSebagai Kepala LPM untuk periode 2026–2030, saya menyadari bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan. LPM harus terus bergerak dari sekadar menjalankan fungsi administratif menuju penguatan budaya mutu yang benar-benar hidup dalam keseharian sivitas akademika.Saya membayangkan mutu seperti akar sebuah pohon. Akar tidak selalu terlihat dari luar. Namun, justru akar yang menentukan apakah pohon mampu berdiri kokoh ketika diterpa angin. Demikian pula mutu. Dokumen, standar, evaluasi, audit, dan akreditasi memang penting. Tetapi yang jauh lebih penting adalah nilai-nilai yang tumbuh di balik semuanya: integritas, konsistensi, tanggung jawab, keterbukaan, dan kemauan untuk terus memperbaiki diri.Saya ingin LPM menjadi ruang yang tidak hanya hadir ketika akreditasi akan berlangsung, tetapi hadir dalam keseharian institusi sebagai mitra untuk tumbuh dan memperbaiki diri. Karena pada akhirnya, mutu bukanlah tujuan akhir. Mutu adalah perjalanan yang tidak pernah selesai.Senyum, tawa, pose, dan kebersamaan mungkin hanya akan menjadi dokumentasi beberapa tahun kemudian. Tetapi saya berharap foto-foto ini kelak menjadi pengingat bahwa pada 21 Oktober 2026, kami pernah berdiri bersama di satu titik, membawa satu amanah, dengan satu harapan: membawa STKIP Islam Sabilal Muhtadin menjadi lebih baik.Saya melihat wajah-wajah dalam foto itu bukan sekadar pejabat struktural. Saya melihat teman seperjalanan. Saya melihat orang-orang yang memiliki keluarga, kesibukan, impian, kekhawatiran, dan perjuangannya masing-masing, tetapi hari ini memilih untuk berdiri bersama demi sebuah institusi. Dan mungkin, di situlah makna sebenarnya dari sebuah organisasi.Bukan tentang siapa yang paling menonjol, tetapi tentang bagaimana kita saling menguatkan.Semoga selama periode 2026–2030 nanti, saya tidak hanya dikenal karena sebuah jabatan, tetapi karena pernah memberikan sesuatu yang berarti bagi lembaga tempat saya mengabdi.Kepada Ibu Yuliana Nurhayati, M.Pd., selamat mengemban amanah sebagai Ketua STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin. Semoga kepemimpinan Ibu menjadi awal dari perjalanan baru yang penuh keberkahan, kemajuan, dan kebersamaan.Kepada Ibu Vebrianti Umar, M.Pd., Bapak Armin Fani, M.Pd., dan seluruh teman-teman yang hari ini menerima amanah baru, selamat berjalan bersama.Mari kita jaga kepercayaan ini. Mari kita bekerja tanpa kehilangan kemanusiaan.Mari kita membangun tanpa melupakan mereka yang telah meletakkan fondasi.Dan mari kita menatap masa depan tanpa melupakan akar tempat kita bertumbuh.Bismillah untuk langkah baru.Bismillah untuk pengabdian 2026–2030.Untuk STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, tempat kita belajar, berkarya, dan bertumbuh bersama.
# EDUKASI
# Opini

Dari Kampus untuk Sesama: Memulai Langkah Baru Bersama LPPM

Rizki Nugerahani Ilise, M.Pd
21 Oktober 2026
Siang tadi, sebuah amanah baru resmi disematkan di pundak saya untuk memimpin sebuah Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) di STKIP Islam Sabilal Muhtadin. Mengawali langkah di hari pertama ini, saya merenungkan kembali pesan mendalam yang disampaikan oleh Ketua STKIP Islam Sabilal Muhtadin yaitu Ibu Yuliana Nurhayati, M.Pd. Beliau mengingatkan bahwa LPPM bukanlah sekadar lembaga administratif di sudut kampus, melainkan "mesin dan roda penggerak" utama bagi seluruh denyut nadi perguruan tinggi.Makna dari pesan tersebut sangatlah jelas: maju mundurnya sebuah kampus, serta seberapa besar pengaruhnya di tengah masyarakat, sangat bergantung pada seberapa aktif dan produktif riset serta pengabdian tersebut dijalankan. Kampus kita tidak boleh lagi berdiri sendiri di atas menara gading, merasa puas hanya dengan tumpukan teori di ruang kuliah. Ilmu yang kita miliki harus mampu keluar, menyapa warga, dan menjawab berbagai persoalan nyata yang dihadapi masyarakat sehari-hari. Hal ini selaras dengan salah satu bait yang ada di lagu Hymne STKIP ISM yakni “penelitian bermakna pengabdian tepat guna” yang harus selalu tertanam dibenak para sivitas akademika.Agar mesin penggerak ini dapat menderu kencang dan melaju mulus, kunci utamanya terletak pada satu kata: kolaborasi. Pekerjaan besar ini tidak mungkin bisa diselesaikan sendirian. Di lingkungan internal kampus, kita perlu meruntuhkan sekat-sekat pembatas antar program studi. Para dosen dari berbagai bidang ilmu harus saling merangkul, berdiskusi, dan menggabungkan keahlian untuk meneliti masalah secara lintas disiplin. Dengan cara ini, inovasi yang kita ciptakan akan menjadi jauh lebih kaya, utuh, dan tepat guna.Tidak hanya berhenti di pagar kampus, pintu kerja sama dengan pihak luar juga harus kita buka selebar-lebarnya. Kita perlu berjalan berdampingan dengan pemerintah daerah, instansi terkait, sekolah-sekolah di berbagai pelosok, serta masyarakat luas. Sebagai contoh, bersama para guru dan tenaga pendidik di lapangan, kita bisa langsung turun tangan meningkatkan mutu pembelajaran anak-anak, mendampingi tumbuh kembang mereka, serta memberdayakan warga sekitar agar lebih mandiri dalam kehidupan bermasyarakat.Melalui semangat gotong royong dan sinergi yang kuat ini, potensi lokal Banua kita tercinta dapat tergali dan diangkat ke permukaan dengan jauh lebih optimal. Setiap karya ilmiah dosen dan setiap kegiatan pengabdian mahasiswa tidak akan lagi menjadi tumpukan arsip berdebu di atas meja, melainkan bertransformasi menjadi kerja nyata yang membawa perubahan positif dan amal jariyah bagi banyak orang.Mari kita jadikan LPPM STKIP Islam Sabilal Muhtadin sebagai rumah bersama yang hangat dan terbuka, tempat di mana ide-ide segar ditumbuhkan, kerja sama dirajut, dan karya-karya hebat dilahirkan untuk kemaslahatan orang banyak. Bersama-sama, mari kita nyalakan mesin penggerak ini dan bawa kampus kita melangkah lebih jauh demi masa depan yang lebih cerah dengan kepemimpinan Ibu Yuliana Nurhayati, M.Pd, kami siap bersinergi dan berkolaborasi tutur salah satu dosen pendidikan guru sekolah dasar. Maju terus STKIP Islam Sabilal Muhtadin.
# EDUKASI
# Opini

Estafet Kepemimpinan untuk STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin yang Lebih Maju

Novi Suma Setyawati
16 Oktober 2026
Pergantian pimpinan merupakan bagian dari perjalanan sebuah institusi dalam menjaga keberlanjutan, memperkuat fondasi, sekaligus membuka ruang bagi lahirnya gagasan dan semangat baru. Demikian pula yang terjadi di STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, dengan berlangsungnya pergantian kepemimpinan dari Bapak Dr. H. Abd Khair Amrullah, S.Sos.I., M.Pd.I. kepada Ibu Yuliana Nurhayati, M.Pd. sebagai Ketua STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin untuk masa bakti 2026–2030.Selama kurang lebih 9 tahun masa kepemimpinan, Bapak Dr. H. Abd Khair Amrullah, S.Sos.I., M.Pd.I. telah memberikan dedikasi, pemikiran, dan pengabdian dalam mengawal perjalanan STKIP ISM. Berbagai proses pengembangan institusi, pembinaan sumber daya manusia, serta upaya memperkuat eksistensi perguruan tinggi menjadi bagian dari perjalanan panjang yang patut diapresiasi dan dikenang sebagai sebuah kontribusi penting bagi institusi.Kini, estafet kepemimpinan dilanjutkan oleh Ibu Yuliana Nurhayati, M.Pd. Masa bakti 2026–2030 menjadi babak baru bagi STKIP ISM untuk terus bertumbuh, berbenah, dan bergerak maju menghadapi dinamika pendidikan tinggi yang semakin kompleks. Pergantian ini bukanlah sebuah akhir, melainkan keberlanjutan dari perjuangan yang telah dibangun sebelumnya.Secara pribadi, saya memandang pergantian kepemimpinan ini sebagai momentum untuk membangun energi baru bagi STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin. Saya percaya bahwa dengan pengalaman, keteguhan, dan arahan pimpinan yang baru, STKIP ISM dapat semakin berkembang menjadi institusi yang lebih kuat, adaptif, profesional, dan mampu menjawab kebutuhan pendidikan di masa depan.InsyaAllah di bawah kepemimpinan Ibu Yuliana Nurhayati, M.Pd., STKIP ISM mampu melanjutkan hal-hal baik yang telah dibangun, melakukan pembenahan terhadap berbagai hal yang masih perlu diperkuat, serta menghadirkan inovasi dan terobosan baru. Semoga kepemimpinan periode 2026–2030 menjadi momentum untuk membawa STKIP ISM semakin maju, berdaya saing, dan semakin dipercaya masyarakat.Selamat menjalankan amanah  Ibu Yuliana Nurhayati, M.Pd, Semoga senantiasa diberikan Allah SWT kekuatan, kebijaksanaan, dan kemudahan dalam memimpin serta membawa STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin menuju masa depan yang lebih baik.
# EDUKASI
# Opini

Merayakan Pencapaian, Menyambut Masa Depan

Maulidha
28 Agustus 2026
Suatu perjalanan panjang di setiap hasil yang terlihat luar biasa untuk mendapatkan pencapaian yang diharapkan, Wisuda tidak hanya berkaitan dengan toga, ijazah, atau suatu gelar yang akhirnya berhasil didapat, melainkan bagaimana semua jalan dan pengalaman yang pernah dirasakan hingga sampai pada tahap ini. Rasa haru dan simpati tersendri Ketika mahasiswa yang pernah datang berbagi cerita dan idenya tentang sebuah skripsi, tetapi pada wisuda ini meraka berdiri dengan toga dan senyum yang manis penuh kebahagiaan.  Bagi seorang dosen, perjalanan itu bukan hanya sekedar perkulihan dan menyelesaikan sebuha karya ilmiah, melainkan menyaksikan sesorang tumbuh melalui proses yang tidak selalu mudah.Dalam perjalanan bimbingan, dosen mungkin hanya hadir pada bagian-bagian tertentu, memberikan pertanyaan untuk mereka ulas dan diperbaiki lagi serta memberikan masukan Dalam perjalanan bimbingan, dosen mungkin hanya hadir pada bagian-bagian tertentu. Saya memberikan pertanyaan ketika ada hal yang perlu dipikirkan kembali, memberikan masukan ketika tulisan masih perlu diperbaiki, dan memberikan arahan ketika langkah mulai terasa kurang jelas. Tetapi setelah setiap pertemuan selesai, mahasiswa kembali melanjutkan perjuangannya sendiri. Di sanalah sesungguhnya keteguhan itu diuji.Bagi pengejar mimpi yang tidak pantang menyerah, dalam perjalanan ada begitu banyak hari ketika langkah terasa berat, ketika rasa lelah datang bersamaan dengan keraguan, ketika keinginan untuk berhenti terasa begitu dekat. Tetapi semangat mereka terus membara, yaitu tentang masa depan yang ingin mereka wujudkan, mimpi terus belajar, berkembang, menjadi pribadi yang lebih baik dengan membawa gelar S.Pd dari STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin. Memberikan kebanggaan terhadap institusi dan membawa manfaat untuk orang lain.Belajar bahwa keberhasilan tidak hanya dicapai dengan cara mudah, tetapi dengan perjuangan dan mampu bertahan Ketika perjalanan terasa sulit. Sebagai dosen pembimbing, saya melihat mimpi-mimpi yang ingin diwujudkan mahasiswa yang berkuliah di STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, kesempatan mengembangkan diri, dan membangun karir yang lebih baik, walaupun jalan terkadang berliku dan penuh hambatan.Pelan-pelan, tanpa banyak disadari, proses itu membentuk sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar sebuah skripsi. Ia membentuk ketekunan, kesabaran, keberanian untuk mencoba kembali, dan keyakinan bahwa sesuatu yang dimulai dengan sungguh-sungguh layak diperjuangkan sampai selesai. Sebagai dosen pembimbing, saya mungkin hanya hadir melalui beberapa pertemuan, memberikan masukan, mengajukan pertanyaan, atau menunjukkan bagian yang masih perlu diperbaiki. Tetapi di luar ruang bimbingan, ada perjuangan yang sepenuhnya menjadi milik mahasiswa itu sendiri. Ada waktu yang diberikan, ada pikiran yang dicurahkan, ada rasa lelah yang mungkin tidak sempat diceritakan, dan ada doa-doa yang menyertai setiap langkahnya. Karena itu, ketika akhirnya skripsi tersebut selesai, kebahagiaan yang terasa bukan hanya karena sebuah tugas telah dituntaskan, tetapi karena saya tahu bahwa ada sebuah mimpi yang sedang berjalan menuju kenyataan.Karena pada akhirnya, kesuksesan tidak hanya seberapa tinggi kita mencapai sebuah posisi dan apa yang kita dapatkan, melainkan tentang makna perjalanan yang kita Jalani dan seberapa besar manfaat yang kita berikan dari apa yang kita miliki dan perjuangkan.Saya sangat bersyukur, dan bangga terhadap mahasiswa STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin yang telah mencapai titik awal sebuah mimpi, wisuda adalah bukti bahwa perjuangan haruslah didapat dari berbagai pengalaman dan pengetahuan yang luas.   
# EDUKASI
# Opini

Outbound Dosen dan Staf STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin

Gunawan Junaidi Kang Billy Manopo
28 Agustus 2026
Pada Minggu, 9 Agustus 2026, dosen dan staf STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin melaksanakan kegiatan outbound di Kebun Raya Banua, Banjarbaru. Kegiatan ini menjadi momen untuk melepas penat dari rutinitas pekerjaan dan aktivitas akademik, sekaligus mempererat kebersamaan serta kekeluargaan antarstaf dan dosen. Kegiatan outbound berlangsung dalam suasana yang penuh keceriaan dan semangat. Berbagai permainan dan aktivitas kelompok dirancang untuk membangun komunikasi, kerja sama, kekompakan, serta menciptakan suasana yang lebih santai di antara para peserta. Melalui kegiatan ini, dosen dan staf mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi di luar lingkungan kampus. Momen tersebut menjadi ruang untuk saling mengenal lebih dekat, berbagi cerita, bercanda, serta membangun hubungan kerja yang semakin harmonis. Suasana hijau dan asri di Kebun Raya Banua turut memberikan pengalaman yang menyegarkan. Berada di lingkungan terbuka dengan nuansa alam membuat kegiatan terasa lebih rileks dan menyenangkan. Berbagai momen kebersamaan juga diabadikan sebagai kenangan bersama. Selain sebagai sarana rekreasi, outbound juga memiliki nilai penting dalam membangun teamwork, komunikasi, kepemimpinan, tanggung jawab, dan solidaritas. Kekompakan yang dibangun melalui kegiatan bersama diharapkan dapat terbawa ke lingkungan kerja sehingga tercipta suasana kerja yang semakin positif dan produktif. Kegiatan outbound ini menjadi salah satu bentuk kebersamaan keluarga besar STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin. Dengan semangat kebersamaan, dosen dan staf diharapkan semakin solid dalam menjalankan tugas dan memberikan kontribusi terbaik bagi kemajuan institusi. 
# EDUKASI
# Opini

Peran Tenaga Kependidikan yang Aktif dalam Organisasi Perpustakaan dan Kepustakawanan

Muhammad Juanda
28 Agustus 2026
Tenaga kependidikan (tendik) memiliki peran penting dalam mendukung penyelenggaraan pendidikan tinggi, khususnya dalam memastikan berbagai layanan akademik dan administrasi berjalan secara efektif. Salah satu bidang yang memiliki kontribusi strategis adalah perpustakaan. Dalam perkembangannya, seorang tendik yang aktif di dunia organisasi perpustakaan dan kepustakawanan tidak hanya menjalankan tugas administratif, tetapi juga berperan dalam membangun jejaring, meningkatkan kompetensi, serta mendorong inovasi layanan perpustakaan.Keaktifan dalam organisasi perpustakaan dan kepustakawanan menjadi salah satu bentuk pengembangan profesional bagi seorang tendik. Melalui organisasi, seorang tendik dapat memperoleh kesempatan untuk bertukar pengalaman, berbagi pengetahuan, mengikuti kegiatan ilmiah, serta memahami berbagai perkembangan terbaru dalam pengelolaan perpustakaan. Organisasi juga menjadi ruang yang strategis untuk membangun komunikasi dan kolaborasi dengan pustakawan maupun pengelola perpustakaan dari berbagai perguruan tinggi dan lembaga lainnya.Di Kalimantan Selatan, khususnya Kota Banjarmasin, aktivitas organisasi perpustakaan dan kepustakawanan memiliki peran penting dalam memperkuat ekosistem literasi. Keberadaan berbagai kegiatan seperti seminar, pelatihan, diskusi, workshop, sosialisasi, dan kegiatan literasi memberikan ruang bagi tendik untuk terus meningkatkan kapasitas dan wawasan. Keterlibatan secara aktif dalam kegiatan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan kompetensi tidak hanya dilakukan melalui pendidikan formal, tetapi juga melalui pengalaman organisasi dan interaksi profesional.Seorang tendik yang aktif dalam organisasi juga memiliki peluang lebih besar untuk memberikan kontribusi terhadap peningkatan kualitas layanan perpustakaan di lingkungan perguruan tinggi. Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh dari organisasi dapat diterapkan dalam pengembangan layanan, pemanfaatan teknologi informasi, promosi perpustakaan, literasi informasi, pengelolaan koleksi, hingga peningkatan kualitas pelayanan kepada mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan lainnya.Selain meningkatkan kompetensi pribadi, keaktifan berorganisasi juga membangun kemampuan kepemimpinan, komunikasi, kerja sama, manajemen kegiatan, dan pemecahan masalah. Kemampuan tersebut sangat relevan dengan tuntutan pekerjaan di perguruan tinggi yang semakin dinamis. Seorang tendik tidak hanya dituntut mampu menyelesaikan pekerjaan rutin, tetapi juga harus mampu beradaptasi dengan perubahan dan memberikan gagasan yang mendukung kemajuan institusi.Dalam konteks organisasi profesi, keterlibatan tendik juga dapat menjadi jembatan antara kebutuhan institusi dengan perkembangan dunia kepustakawanan. Melalui jejaring yang dibangun, berbagai praktik baik dapat dibagikan dan dikembangkan bersama. Kolaborasi antarpustakawan dan tenaga kependidikan dapat melahirkan program yang lebih kreatif, relevan, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat akademik.Pada akhirnya, menjadi tendik yang aktif dalam organisasi perpustakaan dan kepustakawanan bukan sekadar tentang keikutsertaan dalam berbagai kegiatan, tetapi merupakan bentuk komitmen terhadap pengembangan profesionalisme dan kemajuan perpustakaan. Keaktifan tersebut diharapkan mampu memberikan manfaat tidak hanya bagi individu, tetapi juga bagi institusi, organisasi profesi, dan masyarakat. Dengan semangat kolaborasi, pembelajaran berkelanjutan, dan inovasi, tendik dapat menjadi bagian penting dalam mewujudkan perpustakaan perguruan tinggi yang adaptif, profesional, dan mampu memberikan layanan berkualitas di era transformasi digital.
# EDUKASI
# Opini

Semarak 17 Agustus Civitas Akademika STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin di Kebun Raya Banua

Muhammad Supian Sauri
28 Agustus 2026
Suasana Kebun Raya Banua Banjarbaru terasa semakin semarak ketika civitas akademika STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin berkumpul untuk merayakan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Di tengah suasana hijau dan sejuk, tawa terdengar dan berbagai kegiatan berlangsung dengan penuh keceriaan. Dosen dan tenaga kependidikan yang biasanya sibuk dengan perkuliahan, pelayanan, administrasi, dan berbagai tugas kampus, kali ini berkumpul dalam suasana yang lebih santai dan akrab. Berbagai perlombaan dan permainan membuat suasana semakin ramai. Ada yang serius mengejar kemenangan, ada yang penuh semangat mengikuti permainan, dan tentu saja ada yang justru lebih banyak membuat suasana menjadi lucu dan mengundang tawa. Kebun Raya Banua pun menjadi saksi bagaimana keluarga besar STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin menikmati momen kemerdekaan dengan penuh kebersamaan.Keseruan kegiatan 17 Agustus kali ini ternyata bukan hanya tentang siapa yang menjadi juara. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi kesempatan untuk mempererat hubungan antara dosen dan tenaga kependidikan. Di tengah kesibukan menjalankan tugas masing-masing, momen seperti ini memberikan ruang untuk saling bercanda, saling menyemangati, dan menikmati kebersamaan tanpa suasana yang terlalu formal. Ada yang memberikan dukungan kepada teman, ada yang tertawa melihat aksi peserta lain, bahkan ada yang tetap percaya diri meskipun akhirnya belum berhasil menjadi pemenang. Semua itu justru membuat kegiatan semakin hidup. Karena dalam sebuah kebersamaan, bukan hanya kemenangan yang penting, tetapi bagaimana kita bisa menikmati proses, membangun kekompakan, dan menciptakan kenangan bersama.Menariknya, kegiatan sederhana seperti perlombaan juga memiliki banyak pelajaran yang berkaitan dengan pendidikan. Dari permainan, kita belajar tentang kerja sama, sportivitas, disiplin mengikuti aturan, menghargai orang lain, mengendalikan emosi, serta menerima kemenangan dan kekalahan dengan lapang dada. Nilai-nilai tersebut merupakan bagian penting dari pendidikan karakter. Pendidikan tidak hanya hadir dalam kegiatan perkuliahan atau pekerjaan sehari-hari, tetapi juga dapat tumbuh melalui pengalaman, interaksi, dan kebersamaan. Bahkan dari sebuah permainan yang penuh tawa, kita dapat belajar bahwa keberhasilan tidak selalu dicapai sendirian. Dibutuhkan kerja sama, komunikasi, dan sikap saling mendukung untuk mencapai tujuan bersama.Semangat tersebut tentu sejalan dengan visi STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin sebagai kampus yang Inspiratif, Berkarakter, dan Berkompeten. Kegiatan bersama seperti ini menjadi ruang sederhana untuk mewujudkan nilai tersebut dalam kehidupan kampus. Inspiratif melalui kegiatan yang memberikan energi positif dan suasana baru, berkarakter melalui sikap kebersamaan, sportivitas, tanggung jawab, dan semangat kebangsaan, serta berkompeten melalui kemampuan untuk berkomunikasi, bekerja sama, dan memberikan kontribusi terbaik. Apalagi kegiatan dilaksanakan di ruang terbuka seperti Kebun Raya Banua, suasana menjadi lebih rileks dan menyenangkan. Kampus bukan hanya tempat untuk menjalankan tugas akademik dan administratif, tetapi juga tempat untuk membangun hubungan yang baik, menguatkan kebersamaan, dan menumbuhkan budaya kerja yang positif.Pada akhirnya, perayaan 17 Agustus di Kebun Raya Banua Banjarbaru bukan sekadar kegiatan untuk memeriahkan Hari Kemerdekaan. Ada semangat kebersamaan, kegembiraan, kekompakan, dan nilai pendidikan yang ikut tumbuh di dalamnya. Jika para pahlawan dahulu berjuang untuk merebut kemerdekaan, maka tugas kita sekarang adalah mengisi kemerdekaan dengan bekerja, berkarya, mendidik, dan memberikan kontribusi terbaik bagi bangsa. Dari lingkungan kampus, semangat itu terus dibangun bersama. Karena membangun pendidikan tidak selalu harus dilakukan dalam suasana yang serius. Sesekali bermain, tertawa, bercanda, dan merayakan kemerdekaan bersama juga menjadi bagian dari upaya membangun lingkungan kerja dan pendidikan yang sehat serta menyenangkan. Seru kegiatannya, kuat kebersamaannya, dan tetap membawa nilai pendidikan. Merdeka!
# EDUKASI
# Opini

Menjalani Peran sebagai Perempuan, Ibu, dan Profesional

Halima Chairia
28 Agustus 2026
Menjadi seorang perempuan dengan banyak peran bukanlah sesuatu yang selalu mudah. Dalam satu hari, saya bisa menjadi seorang karyawan di tempat kerja, seorang ibu bagi dua putri yang sudah beranjak dewasa, seorang istri, seorang anggota Bhayangkari, sekaligus tetap menjadi diri saya sendiri. Semua peran tersebut memiliki tanggung jawab dan tantangan masing-masing. Namun, saya belajar bahwa menjalani semuanya bukan tentang menjadi sempurna, melainkan tentang bagaimana mengatur waktu, menentukan prioritas, dan menjalani setiap tanggung jawab dengan ikhlas.Saya bekerja sebagai Tendik di perguruan tinggi swasta. Latar belakang pendidikan saya adalah S2 Magister Manajemen dengan konsentrasi Manajemen Pendidikan. Pekerjaan ini membuat saya harus berhadapan dengan berbagai macam tugas dan persoalan setiap hari. Seperti administrasi dan keuangan, pelayanan, koordinasi dengan berbagai bagian, pengelolaan kebutuhan umum, hingga menyelesaikan berbagai persoalan yang muncul di lingkungan kerja menjadi bagian dari keseharian saya.Setiap pagi, sebelum memulai aktivitas di kantor, saya berusaha menyelesaikan terlebih dahulu berbagai urusan di rumah. Meskipun kedua putri saya sudah dewasa dan lebih mandiri, saya tetap merasa bahwa peran sebagai ibu tidak pernah benar-benar selesai. Saya masih memperhatikan kebutuhan mereka, mendengarkan cerita mereka, dan berusaha menjadi tempat untuk berbagi ketika mereka membutuhkan. Bagi saya, kehadiran seorang ibu bukan hanya tentang menyiapkan kebutuhan anak, tetapi juga memberikan perhatian, dukungan, dan rasa nyaman.Setelah urusan rumah selesai, saya mulai mempersiapkan diri untuk bekerja. Perjalanan menuju kantor menjadi waktu untuk mempersiapkan pikiran dan hati agar siap menghadapi aktivitas sepanjang hari. Sesampainya di tempat kerja, biasanya sudah ada berbagai pekerjaan yang menunggu. Seperti rapat, koordinasi dengan staf, menyelesaikan dokumen, menerima informasi dari bagian lain, dan terkadang harus menyelesaikan persoalan yang muncul secara tiba-tiba. Tidak semua hari berjalan sesuai rencana. Karena itu, saya belajar untuk lebih fleksibel dan tidak mudah panik ketika menghadapi situasi yang tidak terduga.Bekerja di lingkungan perguruan tinggi memberikan banyak pengalaman bagi saya. Saya bertemu dengan banyak orang dengan karakter dan kebutuhan yang berbeda. Saya berusaha untuk memperlakukan setiap orang dengan baik karena saya percaya bahwa lingkungan kerja yang nyaman akan membantu setiap orang bekerja dengan lebih maksimal.Di tengah kesibukan pekerjaan, saya juga berusaha menjaga kehidupan pribadi. Saya menyadari bahwa pekerjaan memang penting, tetapi keluarga juga memiliki tempat yang sangat penting dalam kehidupan saya. Ketika berada di rumah, saya berusaha mengurangi membawa urusan kantor ke dalam suasana keluarga. Tidak selalu berhasil, tentu saja. Ada kalanya pekerjaan masih terbawa dalam pikiran. Namun, saya terus belajar untuk memberikan perhatian kepada keluarga ketika waktunya memang untuk keluarga.Selain sebagai ibu dan pekerja, saya juga menjadi bagian dari Bhayangkari. Kegiatan sebagai anggota Bhayangkari menjadi pengalaman tersendiri bagi saya. Ada kegiatan organisasi, pertemuan, kegiatan sosial, dan berbagai aktivitas lainnya yang membutuhkan waktu dan perhatian. Pada awalnya mungkin terasa berat untuk membagi waktu antara pekerjaan, keluarga, dan kegiatan organisasi. Namun, seiring waktu saya belajar membuat skala prioritas dan mengatur jadwal dengan lebih baik.Saya menyadari bahwa keseimbangan hidup tidak berarti semua hal mendapatkan waktu yang sama banyak. Ada saatnya pekerjaan membutuhkan perhatian lebih besar. Ada waktu ketika keluarga harus menjadi prioritas. Ada pula saatnya saya perlu memberikan waktu untuk diri sendiri. Bagi saya, keseimbangan adalah kemampuan untuk mengetahui apa yang paling penting pada saat tertentu dan memberikan perhatian sebaik mungkin pada hal tersebut.Menjadi perempuan yang bekerja sekaligus menjadi ibu rumah tangga juga mengajarkan saya tentang arti tanggung jawab. Saya belajar bahwa banyak hal kecil yang dilakukan setiap hari sebenarnya memiliki makna yang besar. Menyelesaikan pekerjaan dengan baik, memberikan perhatian kepada keluarga, menjaga hubungan dengan orang lain, mengikuti kegiatan organisasi, bahkan meluangkan waktu untuk beristirahat, semuanya merupakan bagian dari perjalanan hidup.Saya juga belajar untuk tidak terlalu keras kepada diri sendiri. Ada hari-hari ketika pekerjaan terasa sangat melelahkan. Ada pula saat ketika urusan rumah dan kegiatan lainnya datang bersamaan. Pada kondisi seperti itu, saya mencoba untuk berhenti sejenak, menarik napas, dan mengingat kembali alasan saya menjalani semua ini. Saya bekerja bukan hanya untuk mengejar pencapaian, tetapi juga sebagai bentuk pengabdian dan tanggung jawab. Saya menjadi ibu karena keluarga adalah bagian penting dari hidup saya. Saya mengikuti kegiatan Bhayangkari karena di dalamnya ada nilai kebersamaan dan pengabdian kepada masyarakat.Kini, ketika kedua putri saya sudah semakin dewasa, saya merasa bersyukur dapat melihat mereka tumbuh menjadi pribadi yang mandiri. Perjalanan menjadi seorang ibu telah memberikan banyak pelajaran kepada saya. Saya belajar bahwa anak-anak tidak selalu membutuhkan ibu yang sempurna. Mereka membutuhkan ibu yang hadir, mau mendengarkan, dan selalu memberikan dukungan ketika mereka membutuhkannya.Pada akhirnya, kehidupan saya sebagai seorang perempuan yang bekerja dan juga ibu rumah tangga adalah sebuah perjalanan yang penuh warna. Ada lelah, ada bahagia, ada tantangan, dan ada banyak hal yang patut disyukuri. Saya tidak selalu mampu menjalankan semuanya dengan sempurna, tetapi saya selalu berusaha memberikan yang terbaik dalam setiap peran yang saya jalani.Bagi saya, menjadi perempuan dengan berbagai peran bukanlah beban, melainkan sebuah kesempatan untuk terus belajar dan berkembang. Saya belajar mengelola waktu, mengelola emosi, berkomunikasi, mengambil keputusan, dan yang paling penting, belajar untuk tetap bersyukur. Selama kita mampu menentukan prioritas, menjaga komunikasi dengan keluarga, bekerja dengan penuh tanggung jawab, dan tidak lupa memberikan waktu untuk diri sendiri, berbagai peran tersebut dapat dijalani dengan lebih seimbang. Saya percaya bahwa keseimbangan bukan berarti hidup tanpa masalah atau tanpa kelelahan. Keseimbangan adalah ketika kita mampu menerima bahwa setiap fase kehidupan memiliki tantangannya sendiri, kemudian menjalaninya dengan sabar, ikhlas, dan penuh rasa syukur. Itulah yang terus saya lakukan dalam keseharian saya sebagai seorang wanita, seorang ibu, seorang profesional, dan seorang anggota Bhayangkari.
# EDUKASI
# Opini

Building English Confidence: Kegiatan Pengabdian Pendampingan Pembelajaran Bahasa Inggris bagi Anak Sekolah di Sungai Miai Banjarmasin

Nor Hayati, M.Pd
28 Agustus 2026
Bahasa Inggris memiliki posisi strategis dalam perkembangan pendidikan dan komunikasi pada era global. Kemampuan menggunakan bahasa Inggris tidak hanya diperlukan dalam konteks akademik, tetapi juga mendukung akses peserta didik terhadap berbagai sumber informasi, teknologi, dan komunikasi internasional. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa Inggris perlu diberikan secara berkelanjutan dengan memperhatikan kebutuhan, karakteristik, dan lingkungan belajar peserta didik.Dalam proses pembelajaran bahasa Inggris, kemampuan linguistik tidak dapat dipisahkan dari aspek afektif. Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap keberhasilan pembelajaran bahasa adalah kepercayaan diri peserta didik dalam menggunakan bahasa target. Peserta didik yang memiliki rasa percaya diri cenderung lebih berani berkomunikasi, mengajukan pertanyaan, menjawab pertanyaan, serta mencoba menggunakan kosakata dan struktur bahasa yang telah dipelajari.Kondisi tersebut menjadi salah satu dasar pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Sungai Miai, Banjarmasin. Kegiatan ini diarahkan untuk memberikan pendampingan pembelajaran bahasa Inggris kepada anak sekolah pada jenjang SD dan SMP Program tidak hanya berorientasi pada peningkatan pengetahuan bahasa, tetapi juga membangun suasana belajar yang menyenangkan, partisipatif, dan mendukung keberanian peserta dalam menggunakan bahasa Inggris.Kegiatan pengabdian dilaksanakan melalui pendekatan pembelajaran partisipatif dan komunikatif. Tahapan kegiatan meliputi identifikasi kebutuhan peserta, perencanaan materi, pelaksanaan pembelajaran, praktik komunikasi, dan evaluasi. Pada tahap awal, dilakukan identifikasi terhadap kemampuan dasar peserta untuk mengetahui tingkat penguasaan kosakata, pelafalan, serta kemampuan menggunakan ungkapan sederhana dalam bahasa Inggris.Materi pembelajaran disesuaikan dengan jenjang pendidikan peserta. Untuk peserta SD, materi difokuskan pada kosakata dasar, seperti parts of the body, family, numbers, colors, animals, dan ungkapan sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Sementara itu, peserta SMP diberikan materi yang lebih komunikatif, seperti daily conversation, self-introduction, expressing opinions, dan penggunaan bahasa Inggris dalam situasi sederhana.Strategi pembelajaran menggunakan kombinasi penjelasan singkat, drilling, permainan bahasa, kerja berpasangan, dialog, dan praktik berbicara. Pendekatan tersebut digunakan untuk menciptakan interaksi yang aktif sekaligus mengurangi kecemasan peserta ketika menggunakan bahasa Inggris. Evaluasi dilakukan melalui observasi partisipasi peserta, praktik komunikasi, serta refleksi terhadap perkembangan kemampuan dan kepercayaan diri peserta.Pelaksanaan pendampingan menunjukkan bahwa peserta memberikan respons positif terhadap pembelajaran bahasa Inggris yang dilakukan secara interaktif. Peserta SD cenderung lebih aktif ketika materi disampaikan melalui permainan, gambar, pengulangan kosakata, dan aktivitas fisik. Sementara itu, peserta SMA menunjukkan keterlibatan yang lebih baik melalui aktivitas dialog, diskusi sederhana, dan praktik komunikasi berdasarkan situasi kehidupan sehari-hari.Salah satu hasil penting dari kegiatan ini adalah meningkatnya keberanian peserta dalam menggunakan bahasa Inggris secara lisan. Pada tahap awal, sebagian peserta masih menunjukkan keraguan ketika diminta mengucapkan kosakata atau menjawab pertanyaan dalam bahasa Inggris. Setelah memperoleh pendampingan secara bertahap, peserta mulai menunjukkan keberanian untuk berbicara meskipun masih terdapat kesalahan dalam pelafalan maupun struktur kalimat.Temuan tersebut menunjukkan bahwa lingkungan belajar yang suportif memiliki peran penting dalam membangun English confidence. Kesalahan dalam penggunaan bahasa tidak diposisikan sebagai kegagalan, tetapi sebagai bagian dari proses belajar. Pendekatan tersebut memberikan kesempatan kepada peserta untuk bereksperimen menggunakan bahasa Inggris tanpa tekanan yang berlebihan.Selain meningkatkan kepercayaan diri, kegiatan juga memberikan pengalaman belajar yang lebih kontekstual. Peserta tidak hanya menghafalkan kosakata, tetapi menggunakannya dalam komunikasi sederhana. Dengan demikian, pembelajaran bahasa Inggris menjadi lebih bermakna karena peserta dapat menghubungkan materi dengan pengalaman dan aktivitas sehari-hari.Program Building English Confidence di Sungai Miai, Banjarmasin, memberikan kontribusi positif terhadap pengembangan kemampuan dasar bahasa Inggris dan kepercayaan diri anak sekolah. Pendampingan melalui pendekatan komunikatif, interaktif, dan partisipatif mampu menciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan serta mendorong peserta untuk berani menggunakan bahasa Inggris. Kegiatan ini menunjukkan bahwa penguatan kompetensi bahasa Inggris tidak hanya membutuhkan penguasaan materi, tetapi juga lingkungan belajar yang memberikan dukungan psikologis dan kesempatan praktik yang memadai. Keberlanjutan program dengan materi yang lebih terstruktur dan evaluasi berkala diperlukan agar peningkatan kemampuan bahasa Inggris peserta dapat dipertahankan dan dikembangkan secara berkelanjutan.
# EDUKASI
# Opini

AI sebagai Rekan Kerja, Bukan Ancaman di Era Teknologi

Abdul Aziz, M.Pd
28 Agustus 2026
Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam beberapa tahun terakhir telah membawa perubahan besar dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Perubahan tersebut semakin terasa dalam Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris yang selama ini berhadapan dengan berbagai aktivitas akademik, mulai dari penyusunan materi pembelajaran, pemeriksaan tata bahasa (grammar), penerjemahan, penyusunan perangkat ajar, hingga pengembangan media pembelajaran. Jika sebelumnya berbagai pekerjaan tersebut membutuhkan waktu yang relatif panjang, kini sejumlah platform berbasis AI mampu membantu menyelesaikannya dalam waktu yang jauh lebih singkat. Kehadiran teknologi ini tentu memberikan peluang besar bagi dosen untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pekerjaan akademik. Namun, perkembangan tersebut juga menimbulkan kekhawatiran, terutama terkait kemungkinan menurunnya kemampuan berpikir kritis mahasiswa, meningkatnya ketergantungan terhadap teknologi, serta munculnya persoalan integritas akademik. Karena itu, persoalan utamanya bukan lagi apakah AI boleh digunakan dalam pendidikan, melainkan bagaimana AI digunakan secara bijak, kritis, dan bertanggung jawab.Banyak pendidik merasa cemas bahwa kehadiran algoritma yang semakin canggih akan membuat mahasiswa, khususnya calon guru bahasa Inggris, kehilangan kemampuan untuk melakukan analisis secara mendalam karena terbiasa memperoleh jawaban secara instan. Kekhawatiran tersebut merupakan hal yang wajar, tetapi tidak seharusnya membuat dunia pendidikan menutup diri terhadap perkembangan teknologi. Justru, kehadiran AI perlu ditempatkan dalam perspektif yang lebih proporsional. AI bukanlah pengganti dosen dan bukan pula mesin yang bertugas mengambil alih seluruh proses pembelajaran. AI seharusnya diposisikan sebagai rekan kerja digital yang membantu dosen melaksanakan berbagai pekerjaan teknis sehingga waktu dan energi dapat dialihkan pada aktivitas yang memiliki nilai pedagogis lebih tinggi. Dengan cara pandang tersebut, teknologi tidak menjadi ancaman, tetapi menjadi instrumen yang memperkuat kapasitas manusia dalam menjalankan tugas pendidikan.Salah satu manfaat AI yang paling nyata bagi dosen adalah kemudahan dalam merancang perangkat dan media pembelajaran. Melalui perintah atau prompt yang jelas, spesifik, dan sesuai kebutuhan, dosen dapat memperoleh bantuan dalam menyusun bahan ajar, membuat rancangan aktivitas pembelajaran, mengembangkan kuis, menghasilkan ide permainan edukatif, menyusun simulasi percakapan, hingga merancang lembar kerja mahasiswa. Teknologi ini juga dapat membantu memberikan alternatif materi sesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik. Dosen tidak selalu harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk memulai sebuah rancangan pembelajaran dari halaman kosong. AI dapat digunakan untuk menghasilkan rancangan awal yang selanjutnya diperiksa, dikembangkan, disesuaikan, dan disempurnakan oleh dosen. Dengan demikian, AI berfungsi sebagai alat bantu pada tahap eksekusi teknis, sedangkan keputusan pedagogis tetap berada di tangan pendidik.Efisiensi tersebut menjadi semakin penting karena tugas dosen tidak hanya berkaitan dengan kegiatan mengajar. Dosen juga memiliki tanggung jawab dalam penelitian, pengabdian kepada masyarakat, pembimbingan mahasiswa, administrasi akademik, pengembangan kurikulum, serta berbagai kegiatan institusional lainnya. Apabila pekerjaan teknis dalam pembelajaran dapat dibantu oleh AI, waktu yang tersedia dapat dimanfaatkan untuk aktivitas yang membutuhkan pemikiran, pengalaman, dan interaksi manusia. Dosen dapat memberikan perhatian lebih besar terhadap kebutuhan individual mahasiswa, merancang pembelajaran yang kontekstual, membangun diskusi yang bermakna, serta memberikan umpan balik yang lebih personal. Dengan kata lain, pemanfaatan AI secara tepat justru dapat memberikan ruang yang lebih besar bagi dosen untuk menjalankan fungsi kemanusiaannya dalam pendidikan.Meskipun memiliki berbagai keunggulan, AI tetap mempunyai keterbatasan. AI dapat menghasilkan teks yang terlihat meyakinkan, tetapi tidak selalu menjamin bahwa informasi yang diberikan benar, relevan, atau sesuai dengan konteks pembelajaran. AI juga tidak memiliki pengalaman manusiawi secara langsung, sehingga tidak dapat sepenuhnya memahami emosi, kondisi sosial, latar belakang budaya, dan dinamika hubungan antarmanusia sebagaimana seorang pendidik. Dalam pembelajaran bahasa Inggris, keterbatasan tersebut menjadi sangat penting karena bahasa bukan sekadar kumpulan aturan tata bahasa dan kosakata. Bahasa merupakan alat untuk menyampaikan gagasan, membangun hubungan sosial, mengekspresikan identitas, memahami budaya, serta berkomunikasi secara tepat dalam berbagai situasi. Oleh karena itu, keluaran AI tetap harus diperiksa dan dinilai secara kritis sebelum digunakan dalam proses pembelajaran.Pada titik inilah peran dosen Pendidikan Bahasa Inggris menjadi semakin penting. Dosen bukan hanya berperan sebagai penyampai pengetahuan, tetapi juga sebagai pengarah, penyaring, evaluator, dan penjaga nilai dalam pemanfaatan teknologi. Dosen perlu memastikan bahwa materi yang dihasilkan AI sesuai dengan capaian pembelajaran, karakteristik mahasiswa, konteks budaya, dan prinsip-prinsip akademik. Dosen juga harus mengajarkan mahasiswa untuk tidak menerima keluaran AI secara mentah. Setiap informasi perlu diperiksa, dibandingkan dengan sumber yang kredibel, dan dianalisis berdasarkan konteks. Dengan demikian, penggunaan AI justru dapat menjadi sarana untuk melatih kemampuan berpikir kritis, bukan menghilangkannya.Transformasi tersebut juga membawa konsekuensi terhadap pendidikan calon guru bahasa Inggris. Mahasiswa tidak cukup hanya menguasai tata bahasa, kosakata, keterampilan berbicara, membaca, menulis, dan menerjemahkan. Mereka juga perlu memiliki literasi AI (AI literacy), yaitu kemampuan memahami, menggunakan, mengevaluasi, dan mengkritisi teknologi kecerdasan buatan. Mahasiswa perlu belajar bagaimana menyusun prompt yang efektif, mengevaluasi hasil yang diberikan AI, mengenali kemungkinan kesalahan dan bias, serta mengadaptasi keluaran teknologi agar sesuai dengan kebutuhan pembelajaran. Kemampuan tersebut akan menjadi bekal penting bagi calon guru ketika mereka memasuki dunia sekolah yang semakin terintegrasi dengan teknologi digital.Dalam konteks tersebut, dosen juga mengalami perubahan peran. Dosen tidak lagi harus menjadi satu-satunya sumber informasi di dalam kelas. Sebaliknya, dosen dapat berperan sebagai fasilitator yang membantu mahasiswa mengolah berbagai informasi menjadi pengetahuan yang bermakna. Mahasiswa dapat menggunakan AI untuk memperoleh ide awal, sementara dosen membimbing mereka untuk mengembangkan ide tersebut menjadi karya yang orisinal, argumentatif, dan bertanggung jawab secara akademik. Proses ini memungkinkan pembelajaran bergerak dari sekadar mencari jawaban menuju kemampuan mengajukan pertanyaan yang tepat, menganalisis informasi, mengevaluasi kualitas jawaban, dan menghasilkan solusi secara mandiri.Karena itu, berdamai dengan algoritma bukan berarti menyerahkan proses pendidikan kepada mesin. Berdamai dengan algoritma berarti memahami apa yang dapat dilakukan AI dan apa yang tetap menjadi tanggung jawab manusia. AI dapat membantu mempercepat pekerjaan teknis, tetapi manusia tetap menentukan tujuan, nilai, konteks, dan keputusan akhir. Dosen memiliki kecerdasan pedagogis untuk menentukan metode yang sesuai, mahasiswa memiliki kemampuan untuk berpikir dan berkreasi, sedangkan AI dapat menjadi alat yang mempercepat proses tersebut. Sinergi ketiganya dapat menghasilkan pembelajaran yang lebih inovatif tanpa kehilangan dimensi humanis.Pada akhirnya, masa depan pendidikan bahasa Inggris tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang digunakan, tetapi oleh seberapa bijak pendidik dan mahasiswa memanfaatkannya. AI tidak seharusnya dipandang sebagai musuh yang harus dihindari, tetapi sebagai teknologi yang perlu dipahami, dikendalikan, dan dimanfaatkan secara bertanggung jawab. Sebagaimana kalkulator tidak menghilangkan kebutuhan terhadap ahli matematika dan komputer tidak membuat ilmuwan kehilangan perannya, AI juga tidak akan menggantikan pendidik yang mampu terus belajar dan beradaptasi. Justru, pendidik yang mampu memadukan kecerdasan pedagogis, kemampuan berpikir kritis, nilai-nilai kemanusiaan, dan efisiensi teknologi akan memiliki posisi yang semakin strategis dalam pendidikan masa depan. Dengan meruntuhkan rasa takut terhadap teknologi dan membangun hubungan yang sehat dengan algoritma, AI dapat ditempatkan sebagaimana mestinya: bukan sebagai ancaman bagi dosen Pendidikan Bahasa Inggris, melainkan sebagai rekan kerja digital yang membantu memperluas potensi pembelajaran dan mempersiapkan mahasiswa menghadapi dunia yang semakin kompleks.
# EDUKASI
# Opini

  Youtube

Surah Ar-Rahman | Aniq Muhai

  Informasi

Selamat Hari Guru Nasional
Arah Pendidikan Nasional & Transformasi Pendidikan Lokal di Daerah
Kupas Tuntas: Kurikulum, Inklusi, dan Seni di Sekolah Dasar
Momentum Kebangkitan Nasional Melalui Peningkatan Kualitas Pendidikan