Postingan Terbaru

Wujud Nyata Visi STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin : Menyiapkan pendidik yang inspiratif, berkarakter, dan berkompeten.

Barendz Umar
5 Juni 2026
Visi STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin bukan sekadar rangkaian kata yang tertulis dalam dokumen institusi. Visi tersebut diwujudkan melalui berbagai program nyata yang memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa untuk tumbuh menjadi pendidik yang inspiratif, berkarakter, dan berkompeten.Salah satu bentuk implementasi visi tersebut adalah keterlibatan aktif mahasiswa dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Dalam setiap kegiatan pengabdian, mahasiswa tidak hanya menjadi peserta, tetapi terlibat secara langsung dalam proses perencanaan, persiapan, pelaksanaan program, hingga penyusunan laporan dan publikasi ilmiah. Pengalaman ini menjadi sarana pembelajaran yang sangat berharga untuk mengembangkan kemampuan akademik, sosial, dan profesional mereka.Sebagai contoh, dalam salah satu program pengabdian yang kami laksanakan, mahasiswa bersama dosen mengenalkan konsep dasar coding kepada siswa sekolah dasar melalui gambar, permainan, dan berbagai ilustrasi sederhana yang menarik. Pembelajaran disampaikan menggunakan kombinasi Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris sederhana agar mudah dipahami oleh peserta sekaligus memperkenalkan kosakata bahasa Inggris dalam konteks yang menyenangkan.Program ini tidak hanya bertujuan memperkenalkan teknologi kepada anak-anak sejak dini, tetapi juga melatih kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, kreativitas, serta menumbuhkan kesiapan menghadapi perkembangan dunia digital. Penggunaan Bahasa Inggris dalam kegiatan tersebut menjadi nilai tambah yang tidak hanya memberikan pengalaman praktik nyata bagi mahasiswa, tetapi juga membantu memperluas wawasan global peserta didik sejak usia dini.Kegiatan ini mencerminkan salah satu pilar penting visi STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, yaitu menyiapkan pendidik inspiratif melalui pengabdian tepat guna. Dosen berperan sebagai teladan yang membimbing mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmu pengetahuan dalam praktik nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Dengan demikian, proses pendidikan tidak berhenti di ruang kuliah, tetapi hadir langsung di tengah masyarakat melalui berbagai program yang relevan dan solutif.Di sisi lain, penggunaan Bahasa Inggris  juga menjadi bagian dari upaya mewujudkan pendidik yang berkompeten :  memiliki wawasan kebangsaan yang kuat, sekaligus mampu beradaptasi dengan perkembangan dunia internasional.Inilah komitmen yang terus kami wujudkan di STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin: membentuk generasi pendidik yang tidak hanya menguasai teori, tetapi juga mampu menginspirasi, mengabdi, dan membawa perubahan positif bagi masyarakat. Wujud nyata ini kami persembahkan untuk masyarakat. Yuk, bergabung bersama STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin dan jadilah pendidik inspiratif, berkarakter dan berkompeten yang siap berkarya, mengabdi, dan membawa perubahan bagi masa depan bangsa.
# EDUKASI
# Opini

Stop Bullying: Kampus Hadir Membangun Lingkungan yang Aman, Ramah, dan Berkarakter

Rizki Nugerahani Ilise, M.Pd
5 Juni 2026
Kampus bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang pembentukan karakter, kepedulian, dan kemanusiaan. Di lingkungan pendidikan tinggi, setiap mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan memiliki peran penting dalam menciptakan suasana belajar yang aman, nyaman, dan saling menghargai. Karena itu, kegiatan bertema “Stop Bullying”menjadi salah satu langkah nyata kampus dalam membangun budaya akademik yang sehat, inklusif, dan beradab.Bullying atau perundungan dapat terjadi dalam berbagai bentuk, mulai dari ucapan yang merendahkan, ejekan, pengucilan, tekanan sosial, hingga tindakan yang menyakiti secara fisik maupun psikologis. Di era digital, perundungan juga dapat muncul melalui media sosial dalam bentuk komentar negatif, penyebaran informasi pribadi, atau penghinaan secara daring. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran untuk menghentikan bullying harus terus ditanamkan, terutama di lingkungan kampus sebagai pusat pendidikan dan pembentukan generasi masa depan.Melalui kegiatan Stop Bullying, kampus menunjukkan komitmennya untuk menjadi tempat yang aman bagi seluruh civitas akademika. Kegiatan ini dapat dikemas dalam bentuk seminar, kampanye edukatif, diskusi mahasiswa, pelatihan komunikasi positif, pembuatan poster, deklarasi anti-bullying, hingga aksi kreatif di media sosial. Dengan melibatkan mahasiswa dan dosen secara aktif, pesan anti-perundungan dapat tersampaikan secara luas dan berdampak nyata.Rizki Nugerahani Ilise, M.PdPeran mahasiswa sangat penting dalam gerakan ini. Sebagai generasi muda yang aktif, kreatif, dan dekat dengan kehidupan sosial kampus, mahasiswa dapat menjadi agen perubahan dalam menciptakan lingkungan yang lebih peduli. Melalui organisasi kemahasiswaan, komunitas, dan unit kegiatan mahasiswa, gerakan Stop Bullying dapat dikembangkan menjadi budaya bersama. Mahasiswa tidak hanya diajak untuk tidak melakukan perundungan, tetapi juga berani menolak, mencegah, dan membantu teman yang menjadi korban.Dosen juga memiliki peran besar dalam mendukung terciptanya kampus bebas bullying. Sebagai pendidik dan pembimbing, dosen dapat menanamkan nilai-nilai etika, empati, tanggung jawab, dan penghargaan terhadap perbedaan dalam proses pembelajaran. Dosen dapat menjadi teladan dalam membangun komunikasi yang santun, menghargai pendapat mahasiswa, serta menciptakan ruang diskusi yang terbuka dan aman. Dengan begitu, suasana akademik akan menjadi lebih manusiawi dan mendukung perkembangan potensi mahasiswa.Kegiatan Stop Bullying juga menjadi bukti bahwa kampus tidak hanya fokus pada prestasi akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter. Kampus yang unggul adalah kampus yang mampu mencetak lulusan cerdas, berintegritas, peduli, dan mampu hidup berdampingan dengan orang lain. Lingkungan yang bebas dari bullying akan membuat mahasiswa lebih percaya diri, berani berpendapat, aktif berkarya, dan nyaman mengembangkan potensi diri. Selain itu, kampanye Stop Bullying dapat memperkuat citra positif kampus di mata masyarakat. Orang tua dan calon mahasiswa tentu menginginkan lingkungan pendidikan yang tidak hanya berkualitas, tetapi juga aman dan mendukung kesehatan mental. Dengan adanya kegiatan seperti ini, kampus menunjukkan bahwa pendidikan sejati tidak hanya membentuk kecerdasan, tetapi juga membangun hati nurani.Melalui semangat Stop Bullying, kampus mengajak seluruh civitas akademika untuk bersama-sama menghentikan segala bentuk perundungan. Setiap orang berhak dihargai, didengar, dan diperlakukan dengan baik. Kampus harus menjadi rumah belajar yang ramah, tempat setiap individu tumbuh tanpa rasa takut, serta ruang untuk saling mendukung dalam meraih masa depan. Dengan komitmen bersama antara mahasiswa, dosen, dan seluruh warga kampus, gerakan Stop Bullying bukan hanya menjadi slogan, tetapi menjadi budaya. Inilah wajah kampus yang maju: kampus yang cerdas, peduli, berkarakter, dan berani menciptakan perubahan positif bagi masyarakat.
# EDUKASI
# Pengabdian

Proyek Video di Siring: Wujud Nyata Pembelajaran Berbasis Praktik Prodi Pendidikan Bahasa Inggris STKIP ISM Banjarmasin

Tiara Mardina
4 Juni 2026
Mahasiswa semester II Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin melaksanakan proyek pembuatan video dialog berbahasa Inggris di kawasan Siring Banjarmasin sebagai bagian dari pembelajaran mata kuliah Introduction to Speaking Tahun Akademik 2025/2026. Kegiatan ini merupakan implementasi pembelajaran berbasis praktik yang mendukung visi kampus dalam menyiapkan pendidik yang inspiratif, berkarakter, dan berkompeten.Dalam kegiatan ini, mahasiswa menyusun dan menampilkan dialog bertema Introducing Others melalui percakapan berbahasa Inggris secara langsung (real conversation) yang kemudian direkam dalam bentuk video pembelajaran. Melalui proses tersebut, mahasiswa dilatih untuk mengembangkan kemampuan berbicara, meningkatkan kepercayaan diri, serta membangun kerja sama dalam tim.Pemilihan kawasan Siring sebagai lokasi kegiatan memberikan pengalaman belajar yang lebih kontekstual. Mahasiswa tidak hanya berlatih berkomunikasi di ruang publik, tetapi juga belajar menyesuaikan diri dengan suasana nyata yang penuh interaksi masyarakat. Lingkungan Siring yang menjadi ikon Kota Banjarmasin sekaligus dimanfaatkan sebagai media pembelajaran yang menarik, sehingga mahasiswa memperoleh keberanian tampil, keterampilan beradaptasi, dan kesempatan memperkenalkan potensi budaya serta wisata lokal. Dengan demikian, proyek ini tidak hanya melatih kemampuan berbahasa Inggris, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri dan kebanggaan terhadap identitas daerah. Kegiatan ini merupakan bagian dari mata kuliah Introduction to Speaking yang diampu oleh Tiara Mardina, M.Pd. Pembelajaran dirancang agar mahasiswa tidak hanya memahami teori berbicara dalam Bahasa Inggris, tetapi juga mampu mengaplikasikan materi yang dipelajari di kelas ke dalam situasi nyata. Melalui pendekatan berbasis praktik ini, mahasiswa didorong untuk berani tampil, berinteraksi secara langsung, dan menggunakan Bahasa Inggris dalam konteks komunikasi sehari-hari. Proses pembelajaran tidak berhenti pada latihan di ruang kelas, melainkan diperluas ke ruang publik agar mahasiswa terbiasa menghadapi beragam situasi komunikasi. Dengan demikian, kemampuan berbahasa Inggris dapat berkembang secara lebih optimal melalui pengalaman langsung, sekaligus membentuk kepercayaan diri, keterampilan kolaborasi, serta kesiapan menghadapi tantangan dunia pendidikan modern.Antusiasme mahasiswa terlihat sejak tahap persiapan hingga pelaksanaan proyek. Mereka terlibat dalam penyusunan naskah dialog, pembagian peran, latihan pengucapan, hingga proses pengambilan video di lapangan. Aktivitas ini memberikan pengalaman belajar yang lebih hidup serta mendorong mahasiswa untuk lebih berani menggunakan Bahasa Inggris dalam konteks nyata.Salah satu mahasiswa, Zahratun Nisa, menyampaikan bahwa tugas pembuatan video Introducing Others memberikan manfaat besar dalam meningkatkan kemampuan berbicara Bahasa Inggris.“Menurut ulun, tugas membuat video Introducing Others bermanfaat untuk melatih kemampuan berbicara dalam Bahasa Inggris, bisa memperkenalkan orang lain secara jelas serta melatih kepercayaan diri di depan kamera,” ujar Zahra dalam wawancara langsung, Kamis (21/5/2026).Senada dengan itu, Nazwa Az Zahra Rahman juga memberikan tanggapan positif terhadap proyek ini.“Menurut saya, proyek ini sangat bermanfaat dan menarik. Kegiatan ini membantu mahasiswa melatih kemampuan berbahasa Inggris secara langsung. Selain itu, pembelajaran menjadi lebih menyenangkan dan bermakna,” ungkap Nazwa dalam wawancara langsung, Kamis (21/5/2026).Secara keseluruhan, proyek video di Siring memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi mahasiswa karena memungkinkan mereka mengaplikasikan kemampuan berbahasa Inggris dalam situasi nyata. Kegiatan ini juga mendorong peningkatan rasa percaya diri, keterampilan komunikasi, serta pemahaman konteks penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari. Melalui kegiatan ini, Prodi Pendidikan Bahasa Inggris STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin terus berupaya menghadirkan pembelajaran yang aktif, inovatif, dan relevan dengan kebutuhan dunia pendidikan masa kini.
# EDUKASI
# Galeri

Duet Palang Pintu Berkah FC: Sinergi Guru Kreatif dan Guru Disiplin dalam Manajemen Pendidikan

Iwan Perdana
4 Juni 2026
Selain memercayakan lini depan kepada  Taher untuk mencetak gol kemenangan, Kapten Rudi juga memberikan tanggung jawab  besar kepada 2 pemain tangguh di barisan belakang. Adalah Husaini dan Yusri, 2 palang pintu Berkah FC yang  diberikan misi melindungi area pertahanan: menggagalkan serangan lawan, dan membantu kiper agar tim tidak kebobolan.HusainiTidak mudah melewati Husaini, yang lebih akrab disapa Isay. Berbekal pengalaman dan naluri tinggi, Ia tahu persis kapan harus memblok pergerakan atau tembakan penyerang lawan. Efeknya: Haris, sang penjaga gawang, merasa aman dan bisa bernapas lega. Kemampuan inilah yang membuat Isay menjadi  bek andalan Berkah FC, yang menjadi momok bagi tim lawan. HusainiMenurut Kapten Rudi, Gaya bermain Isay tenang. Ia memiliki kemampuan mematahkan serangan lawan, Isay juga terlibat aktif menjadi titik awal serangan tim dari lini belakang (Ball-playing Defender). Berbekal kecepatan tinggi, akurasi umpan lambung maupun datar, serta stamina yang prima, Isay menjadi pilar krusial dalam membantu transisi cepat dari bertahan ke menyerang (counter attack).Pilar kokoh lain di lini belakang Berkah FC adalah Yusri yang akrab disapa Iyus. Postur tubuhnya yang besar membuat nyali penyerang lawan menciut. Saudara kandung Isay ini unggul dalam duel fisik, sapuan bola, intersepsi, serta kemampuan membaca arah umpan silang. “Iyus tipe bek pekerja keras, saya menyukai semangat juangnya yang tidak mau menyerah,” ujar Rudi pada Minggu (24/5/2026) melalui pesan WhatsApp. Ketangguhannya menjaga area kotak penalti membuat Iyus selalu menjadi pilihan utama Rudi— Kapten sekaligus manajer tim, dan H. Juman—pembina klub di setiap laga resmi Berkah FC.YusriDalam manajemen pendidikan, duet Isay dan Iyus merepresentasikan dua pilar penting dalam struktur sekolah: guru inovatif dan guru disiplin.Isay adalah guru kreatif yang profesional dan inspiratif dalam mengajar, tetapi juga menjadi penggerak inovasi pembelajaran (titik awal serangan). Ia cakap dalam transisi kurikulum—mengubah tekanan menjadi peluang, seperti counter attack dalam sepak bola.Iyus adalah guru yang fokus pada bagian kesiswaan. Ia bertugas menjaga  sekolah: tata tertib, keamanan, dan penanganan konflik (area kotak penalti). Keunggulannya dalam duel fisik, merebut bola, sapuan bola, dan intersepsi dianalogikan sebagai kemampuan menengahi perundungan (bullying), dan membaca potensi krisis sebelum meledak. Pemilihan pemain yang akan diturunkan di laga resmi oleh Kapten Rudi serupa dengan proses perekrutan guru berdasarkan kompetensi spesifik oleh pimpinan lembaga pendidikan. Sekolah berkualitas membutuhkan guru yang pintar mengajar (Isay), dan guru yang tegas & protektif (Iyus). Keduanya saling melengkapi menciptakan ekosistem pendidikan yang aman, dinamis, dan berprestasi.
# EDUKASI
# Opini

Pengabdian Tepat Guna: STKIP ISM Banjarmasin dan Yayasan Lanting Literasi untuk Anak-Anak di Banjarmasin.

Armin Fani
3 Juni 2026
Perguruan tinggi tidak hanya memiliki tanggung jawab dalam bidang pendidikan dan penelitian, tetapi juga pengabdian kepada masyarakat. Melalui kegiatan pengabdian, ilmu pengetahuan yang dikembangkan di lingkungan akademik dapat hadir secara nyata dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Inilah esensi dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang sesungguhnya: menjadikan kampus sebagai bagian dari solusi atas berbagai kebutuhan dan tantangan yang dihadapi masyarakat.Salah satu bentuk pengabdian yang memiliki dampak nyata dan berkelanjutan adalah program pengajaran Bahasa Inggris bagi anak-anak. Di tengah perkembangan dunia yang semakin terhubung secara global, kemampuan berbahasa Inggris menjadi salah satu keterampilan penting yang perlu diperkenalkan sejak usia dini. Namun demikian, tidak semua anak memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pengalaman belajar Bahasa Inggris yang menarik dan berkualitas. Kondisi inilah yang menjadi latar belakang pelaksanaan program pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin melalui kegiatan pengajaran Bahasa Inggris untuk anak-anak di Kota Banjarmasin.Program ini dilaksanakan melalui kolaborasi dengan Yayasan Lanting Literasi, sebuah komunitas yang selama ini aktif bergerak dalam bidang pendidikan dan pengembangan literasi masyarakat. Lembaga ini didirikan oleh Bapak Iwan Perdana, Ph.D., seorang akademisi dan pegiat literasi yang memiliki perhatian besar terhadap peningkatan kualitas pendidikan anak-anak di Kalimantan Selatan. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan komunitas pendidikan seperti ini menjadi contoh nyata bagaimana sinergi berbagai pihak dapat menghasilkan program yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan di daerah Sungai Miai, Banjarmasin.Konsep utama yang diusung dalam kegiatan ini adalah pengabdian tepat guna. Artinya, kegiatan yang dilakukan tidak sekadar memenuhi kewajiban institusional, tetapi benar-benar dirancang berdasarkan kebutuhan riil masyarakat. Dalam konteks ini, pengajaran Bahasa Inggris dipilih karena dianggap mampu memberikan bekal keterampilan yang berguna bagi anak-anak dalam menghadapi perkembangan pendidikan dan dunia kerja di masa depan. Pendekatan yang digunakan dalam program ini berbeda dengan pembelajaran formal yang umumnya ditemukan di ruang kelas. Anak-anak diajak belajar melalui berbagai aktivitas yang menyenangkan, seperti permainan edukatif, lagu-lagu berbahasa Inggris, storytelling, role play, serta berbagai kegiatan interaktif lainnya. Pendekatan ini dipilih karena anak-anak pada dasarnya belajar lebih efektif ketika mereka merasa nyaman, senang, dan terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran.Suasana belajar yang santai dan komunikatif membuat anak-anak lebih berani mencoba menggunakan kosakata dan ungkapan sederhana dalam Bahasa Inggris. Kesalahan tidak dipandang sebagai kegagalan, melainkan sebagai bagian alami dari proses belajar. Dengan cara ini, rasa percaya diri anak-anak dapat tumbuh secara bertahap seiring meningkatnya kemampuan berbahasa mereka. Lebih dari sekadar mengajarkan kosakata atau tata bahasa, program ini juga berupaya menanamkan rasa ingin tahu, keberanian berkomunikasi, serta semangat belajar sepanjang hayat kepada anak-anak. Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi penting dalam membentuk generasi yang siap menghadapi tantangan masa depan. Ketika anak-anak memperoleh pengalaman belajar yang positif, mereka tidak hanya mendapatkan pengetahuan baru, tetapi juga membangun keyakinan bahwa belajar adalah aktivitas yang menyenangkan.Bagi STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, program ini juga menjadi sarana pembelajaran yang sangat berharga bagi para dosen. Melalui keterlibatan langsung dalam kegiatan pengabdian, para dosen memperoleh kesempatan untuk menjembatani pemahaman teoris dengan kemampuan praktis di dunia nyata. Mereka belajar memahami karakteristik peserta didik, merancang aktivitas pembelajaran yang menarik, serta mengembangkan keterampilan komunikasi.Di sisi lain, keberadaan Lanting Literasi sebagai mitra strategis turut memberikan kontribusi yang signifikan terhadap keberhasilan program. Pengalaman Yayasan tersebut dalam mendampingi masyarakat dan membangun budaya literasi menjadi modal penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang ramah anak. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa peningkatan kualitas pendidikan akan jauh lebih efektif melalui kerja sama yang kuat antara perguruan tinggi, komunitas, pemerintah, dan masyarakat untuk menghasilkan dampak yang lebih luas. Pada akhirnya, pengabdian masyarakat yang tepat guna adalah pengabdian yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus memberikan dampak yang berkelanjutan dengan hadir secara nyata di tengah masyarakat melalui kontribusi keilmuan yang dimilikinya. Melalui kolaborasi antara STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin dan Yayasan Lanting Literasi, semangat pendidikan tidak hanya tumbuh di lingkungan kampus, tetapi juga menjangkau ruang-ruang belajar masyarakat. Berasal dari kelas-kelas sederhana, permainan dan cerita yang dibagikan dengan penuh antusias, lahirlah harapan-harapan baru untuk mengubah masa depan. Dengan demikian, pengabdian yang baik selalu dimulai dari keberanian untuk hadir, mendengar, dan bertumbuh bersama masyarakat.
# EDUKASI
# Pengabdian

Praktik Mengajar Mahasiswa STKIP ISM Banjarmasin di SDN Alalak 1 Banjarmasin melalui Program MBKM

Muhammad Supian Sauri
3 Juni 2026
Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman belajar secara langsung di luar kampus. Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya belajar teori di ruang perkuliahan, tetapi juga dapat mengembangkan keterampilan, pengalaman, dan kompetensi sesuai dengan bidang keilmuannya. Salah satu bentuk implementasi program MBKM adalah kegiatan belajar mengajar di sekolah yang diikuti oleh mahasiswa calon guru.Kesempatan tersebut dimanfaatkan dengan baik oleh Ismi Husna, mahasiswa Program Studi PGSD dari STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin. Melalui program MBKM, Ismi Husna melaksanakan kegiatan belajar mengajar di SDN Alalak 1 Banjarmasin sebagai bagian dari upaya mengembangkan kompetensi pedagogik dan profesional yang dibutuhkan sebagai calon pendidik. Kegiatan ini menjadi pengalaman yang sangat berharga karena memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk terlibat secara langsung dalam proses pembelajaran di sekolah dasar. Tidak hanya mengamati, Ismi Husna juga diberikan kesempatan untuk merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran di kelas dengan bimbingan guru pamong dan dosen pembimbing.Sejak awal pelaksanaan program, Ismi Husna menunjukkan antusiasme yang tinggi. Ia berusaha mengenal lingkungan sekolah, memahami budaya sekolah, serta membangun komunikasi yang baik dengan guru dan peserta didik. Proses adaptasi yang berjalan dengan baik membuat dirinya lebih siap dalam menjalankan berbagai tugas selama kegiatan berlangsung. Sebelum melaksanakan pembelajaran, Ismi Husna melakukan berbagai persiapan yang matang. Ia menyusun modul ajar, menyiapkan media pembelajaran, serta menentukan metode yang sesuai dengan karakteristik peserta didik. Persiapan tersebut dilakukan agar pembelajaran dapat berlangsung secara efektif, menarik, dan mampu mencapai tujuan yang telah ditetapkan.Saat berada di dalam kelas, Ismi Husna berusaha menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Ia mengajak siswa untuk aktif bertanya, berdiskusi, dan terlibat dalam berbagai aktivitas pembelajaran. Pendekatan yang digunakan membuat siswa lebih bersemangat mengikuti pelajaran dan tidak merasa bosan selama proses belajar berlangsung. Selain itu, Ismi Husna juga memanfaatkan berbagai media pembelajaran sederhana untuk membantu siswa memahami materi. Penggunaan media yang menarik membuat pembelajaran menjadi lebih interaktif dan mudah dipahami. Siswa terlihat antusias mengikuti setiap kegiatan yang diberikan selama proses pembelajaran.Salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi Ismi Husna adalah saat berinteraksi langsung dengan peserta didik yang memiliki karakter dan kemampuan yang beragam. Ada siswa yang aktif dan percaya diri, ada pula yang membutuhkan perhatian serta pendampingan lebih dalam belajar. Dari pengalaman tersebut, ia belajar bahwa seorang guru harus mampu memahami kebutuhan setiap siswa dan memberikan pelayanan pembelajaran yang sesuai. Tidak hanya mengajarkan materi pelajaran, Ismi Husna juga berusaha menanamkan nilai-nilai karakter kepada peserta didik. Melalui berbagai kegiatan di kelas, ia mengajak siswa untuk membiasakan sikap disiplin, bertanggung jawab, bekerja sama, serta saling menghormati. Menurutnya, pendidikan karakter merupakan bagian penting dalam membentuk generasi yang cerdas dan berakhlak baik.Melalui program MBKM ini, Ismi Husna mendapatkan banyak pengalaman nyata yang tidak selalu diperoleh di bangku kuliah. Ia belajar bagaimana mengelola kelas, menghadapi berbagai karakter peserta didik, menyusun strategi pembelajaran, serta berkolaborasi dengan guru dan warga sekolah. Pengalaman tersebut menjadi bekal yang sangat berharga dalam mempersiapkan diri sebagai guru profesional di masa depan. Kegiatan belajar mengajar di SDN Alalak 1 Banjarmasin melalui program MBKM menunjukkan bahwa pembelajaran tidak hanya berlangsung di kampus, tetapi juga dapat diperoleh melalui pengalaman langsung di lapangan. Bagi Ismi Husna, program ini menjadi sarana untuk mengasah kemampuan, meningkatkan kepercayaan diri, dan memperluas wawasan tentang dunia pendidikan yang sesungguhnya.Dengan semangat belajar dan dedikasi yang tinggi, Ismi Husna berhasil memanfaatkan program MBKM sebagai wadah untuk mengembangkan diri dan memberikan kontribusi positif kepada sekolah. Diharapkan pengalaman ini dapat menjadi langkah awal yang kuat bagi dirinya untuk menjadi pendidik profesional yang mampu memberikan manfaat bagi peserta didik, sekolah, dan dunia pendidikan Indonesia.
# EDUKASI
# Opini

Pencegahan Kekerasan Seksual Sejak Dini melalui Lagu “Ku Jaga Diriku” di Satuan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Kota Banjarmasin

Rizki Nugerahani Ilise, M.Pd
3 Juni 2026
Kekerasan seksual terhadap anak adalah persoalan serius yang tidak boleh menunggu korban jatuh lebih banyak baru kemudian dibicarakan. Anak usia dini sering kali belum memiliki bahasa, keberanian, dan pemahaman yang cukup untuk menjelaskan pengalaman tidak nyaman yang mereka alami. Karena itu, pencegahan harus dimulai sejak dini, termasuk di satuan Pendidikan Anak Usia Dini atau PAUD. Di Kota Banjarmasin, PAUD dapat menjadi ruang strategis untuk menanamkan kesadaran perlindungan diri kepada anak melalui cara yang sederhana, menyenangkan, dan sesuai dengan tahap perkembangan mereka.Salah satu media yang relevan digunakan adalah lagu “Ku Jaga Diriku”. Lagu ini dikenal sebagai media edukatif untuk mengenalkan kepada anak tentang bagian tubuh yang boleh dan tidak boleh disentuh, serta apa yang harus dilakukan ketika anak mengalami situasi yang membuatnya tidak nyaman. Pesan seperti ini penting karena anak usia dini belum dapat menerima penjelasan yang terlalu abstrak, tetapi lebih mudah memahami pesan melalui nyanyian, gerakan, pengulangan, dan contoh konkret. Mengajarkan pencegahan kekerasan seksual kepada anak PAUD bukan berarti mengenalkan hal yang vulgar kepada anak. Justru sebaliknya, pendidikan ini adalah pendidikan perlindungan tubuh. Anak perlu tahu bahwa tubuhnya berharga, bahwa ada bagian tubuh pribadi yang harus dijaga, dan bahwa mereka berhak berkata “tidak” ketika merasa tidak nyaman. Anak juga harus dibiasakan untuk berani bercerita kepada guru, orang tua, atau orang dewasa tepercaya ketika mengalami perlakuan yang tidak pantas.Lagu menjadi media yang tepat karena dunia anak adalah dunia bermain. Dalam teori perkembangan kognitif Jean Piaget, anak usia dini berada pada tahap praoperasional, yaitu tahap ketika anak belajar melalui simbol, bahasa, imajinasi, dan pengalaman konkret. Lagu “Ku Jaga Diriku” dapat membantu anak memahami pesan perlindungan diri tanpa merasa takut atau tertekan. Ketika lagu dinyanyikan berulang, pesan tentang menjaga tubuh dapat masuk ke dalam ingatan anak secara alami. Selain itu, teori belajar sosial Albert Bandura menegaskan bahwa anak belajar melalui pengamatan dan peniruan. Ketika guru PAUD menyanyikan lagu dengan ekspresi, gerakan tubuh, dan contoh perilaku yang tepat, anak tidak hanya mendengar pesan, tetapi juga meniru sikap berani menjaga diri. Guru dapat memperagakan bagaimana anak berkata “tidak”, menjauh dari situasi berbahaya, dan melapor kepada orang dewasa yang dipercaya.Dalam konteks PAUD Kota Banjarmasin, penggunaan lagu “Ku Jaga Diriku” perlu ditempatkan sebagai bagian dari budaya aman di satuan pendidikan. Lagu ini tidak cukup dinyanyikan sekali dalam kegiatan pembelajaran, lalu selesai. Ia harus menjadi bagian dari pembiasaan: dinyanyikan pada tema diri sendiri, kesehatan, keluarga, atau keselamatan; dikaitkan dengan kegiatan bercerita; diperkuat melalui permainan peran; dan dikomunikasikan kepada orang tua agar pesan yang sama juga dilanjutkan di rumah.Pencegahan kekerasan seksual di PAUD tidak boleh hanya dibebankan kepada anak. Anak memang perlu diajarkan menjaga diri, tetapi tanggung jawab utama tetap berada pada orang dewasa. Guru, kepala satuan PAUD, tenaga kependidikan, orang tua, dan pemerintah daerah harus menciptakan lingkungan belajar yang aman. Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023 menegaskan bahwa pencegahan dan penanganan kekerasan di satuan pendidikan mencakup peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali, komite sekolah, dan masyarakat. Peraturan ini juga berlaku untuk satuan PAUD, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Karena itu, lagu “Ku Jaga Diriku” harus dipahami sebagai pintu masuk, bukan satu-satunya solusi. Satuan PAUD perlu memiliki prosedur perlindungan anak yang jelas, guru harus dilatih mengenali tanda-tanda kekerasan, ruang belajar harus diawasi secara sehat, dan komunikasi dengan orang tua harus dibangun secara terbuka. Anak yang berani bercerita harus dipercaya, didengarkan, dan dilindungi, bukan disalahkan atau dibungkam.Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual menegaskan pentingnya pencegahan, penanganan, perlindungan, pemulihan korban, penegakan hukum, serta jaminan agar kekerasan seksual tidak terulang. Prinsip ini seharusnya diterjemahkan ke dalam praktik pendidikan sejak usia dini. PAUD bukan hanya tempat anak belajar angka, huruf, warna, dan lagu, tetapi juga tempat anak belajar bahwa tubuhnya harus dihormati. UNICEF juga menekankan bahwa kekerasan, eksploitasi, dan pelecehan terhadap anak dapat terjadi di tempat-tempat yang seharusnya melindungi mereka, termasuk rumah, sekolah, dan komunitas. Karena itu, perlindungan anak memerlukan sistem yang kuat, bukan hanya nasihat sesaat. Sementara itu, WHO menekankan bahwa pencegahan kekerasan terhadap anak harus menyentuh berbagai lapisan, mulai dari individu, relasi, komunitas, hingga masyarakat. Di sinilah pentingnya kolaborasi. Pemerintah Kota Banjarmasin melalui dinas terkait dapat mendorong satuan PAUD untuk memasukkan edukasi perlindungan tubuh ke dalam kegiatan pembelajaran yang ramah anak. Guru PAUD dapat menggunakan lagu “Ku Jaga Diriku” sebagai media utama, lalu memperkuatnya dengan cerita bergambar, boneka tangan, poster, dan simulasi sederhana. Orang tua dapat melanjutkan pesan yang sama di rumah dengan bahasa yang lembut dan tidak menakut-nakuti. Kita perlu berhenti menganggap bahwa pembicaraan tentang perlindungan tubuh adalah hal yang tabu. Yang tabu bukanlah mengajarkan anak menjaga dirinya; yang berbahaya justru ketika anak dibiarkan tidak tahu, tidak berani menolak, dan tidak tahu harus bercerita kepada siapa. Pendidikan perlindungan diri sejak dini adalah bentuk kasih sayang, bukan bentuk kecurigaan kepada lingkungan.Lagu “Ku Jaga Diriku” memberi peluang besar untuk menjadikan pencegahan kekerasan seksual lebih dekat dengan dunia anak. Melalui nada, irama, gerakan, dan pengulangan, anak belajar bahwa dirinya berharga. Melalui guru yang peduli, anak belajar bahwa ada orang dewasa yang bisa dipercaya. Melalui PAUD yang aman, anak belajar bahwa sekolah adalah tempat yang melindungi, bukan tempat yang menakutkan. Maka, pencegahan kekerasan seksual sejak dini di PAUD Kota Banjarmasin perlu dilakukan secara serius, sistematis, dan menyenangkan. Lagu “Ku Jaga Diriku” dapat menjadi media sederhana, tetapi dampaknya dapat sangat bermakna apabila digunakan dengan tepat. Sebab melindungi anak bukan hanya tugas keluarga, bukan hanya tugas sekolah, dan bukan hanya tugas pemerintah. Melindungi anak adalah tanggung jawab bersama. Dan tanggung jawab itu harus dimulai sejak anak masih kecil, sebelum mereka terluka, sebelum mereka takut bicara, dan sebelum kita terlambat bertindak.
# EDUKASI
# Opini

Kegiatan Edukasi Perlindungan Perempuan dari Kekerasan terhadap Perempuan (Ktp) di Perguruan Tinggi

Nor Hayati, M.Pd
3 Juni 2026
Dinas Pemberdayaan  Perempuan dan Perlindungan anak (DPPPA) Kota Banjarmasin menyelenggarakan kegiatan "Edukasi Perlindungan Perempuan dari Kekerasan terhadap Perempuan (Ktp) di Perguruan Tinggi bertempat di Banjarmasin Command Center (BCC), Selasa 12 Mei 2026.Kegiatan dibuka secara resmi oleh Kepala DPPPA Kota Banjarmasin, Bapak  Dr. H. M. Ramadhan, S.E., M.E., Ak,. dan di ikuti oleh perwakilan mahasiswa serta civitas akademika dari berbagai perguruan tinggi dikota Banjarmasin. Kekerasan terhadap perempuan masih menjadi salah satu permasalahan sosial yang memerlukan perhatian serius, termasuk di lingkungan perguruan tinggi. Kampus sebagai pusat pendidikan, penelitian, dan pengembangan karakter seharusnya menjadi ruang yang aman, nyaman, dan bebas dari segala bentuk kekerasan. Namun, berbagai kasus kekerasan berbasis gender, pelecehan seksual, diskriminasi, dan bentuk kekerasan lainnya masih ditemukan di lingkungan pendidikan tinggi. Oleh karena itu, diperlukan upaya edukatif yang berkelanjutan untuk meningkatkan kesadaran sivitas akademika mengenai pentingnya perlindungan perempuan dan pencegahan kekerasan.Sebagai bentuk komitmen dalam menciptakan lingkungan kampus yang aman dan inklusif, perguruan tinggi di Banjarmasin menyelenggarakan kegiatan Edukasi Perlindungan Perempuan dari Kekerasan terhadap Perempuan (KtP). Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan mengenai bentuk-bentuk kekerasan terhadap perempuan, dampaknya, serta langkah-langkah preventif yang dapat dilakukan di lingkungan kampus.Melalui pertemuan ini diharapkan terjalin sinergi yang kuat antara Pemerintah Kota dan institusi pendidikan dalam menciptakan kampus yang aman, nyaman dan terlindungi bagi perempuan. Kegiatan Edukasi Perlindungan Perempuan dari Kekerasan terhadap Perempuan (KtP) di perguruan tinggi di Banjarmasin merupakan langkah penting dalam membangun lingkungan akademik melalui peningkatan kesadaran, pemahaman, dan partisipasi aktif seluruh sivitas akademika, upaya pencegahan kekerasan dapat dilakukan secara lebih efektif. Diharapkan kegiatan ini menjadi bagian dari gerakan berkelanjutan untuk mewujudkan kampus yang menghargai martabat manusia, menjunjung kesetaraan, dan memberikan perlindungan bagi seluruh warga kampus tanpa terkecuali.
# EDUKASI
# Opini

Tiga Nilai Dasar yang Wajib Dimiliki Sivitas Akademika STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin: Terima Kasih, Tenggang Rasa, dan Rasa Malu

Barendz Umar
2 Juni 2026
Salah satu rutinitas yang tidak boleh dilewatkan dosen dan tenaga kependidikan STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin adalah berkumpul di Laboratorium Microteaching sebelum pulang. Kegiatan sederhana ini bukan hanya menjadi ruang pertemuan informal, tetapi juga menjadi momentum untuk melakukan refleksi, memperkuat kebersamaan, serta mengevaluasi tanggung jawab setiap sivitas akademika dalam memajukan institusi.Dalam kesempatan tersebut, Bapak Iwan Perdana, Ph.D. senantiasa memberikan nasihat dan membimbing sivitas akademika STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin. Menurut beliau, menjadi dosen bukan hanya persoalan kepintaran akademik, kemampuan mengajar, atau penguasaan materi perkuliahan. Lebih dari itu, seorang dosen dan tenaga kependidikan harus memiliki kepedulian, kesadaran moral, serta kemauan untuk memberikan kontribusi terbaik bagi kampus. Tiga sikap yang harus dimiliki adalah rasa terima kasih, tenggang rasa, dan rasa malu.1. Terima KasihKemampuan berterima kasih mencerminkan kedewasaan dan kerendahan hati. Seorang akademisi yang mampu berterima kasih tidak akan menganggap kesempatan, kepercayaan, dan dukungan yang diperolehnya sebagai sesuatu yang biasa saja. Ia menyadari bahwa setiap pencapaian tidak pernah lahir dari usaha pribadi semata, tetapi juga melibatkan peran orang lain.Di lingkungan STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, rasa terima kasih dapat diwujudkan dengan menghargai pimpinan atas berbagai kesempatan dan kebijakan yang memperhatikan aspek kemanusiaan. Rasa terima kasih juga perlu ditunjukkan kepada rekan kerja yang telah membantu menyelesaikan pekerjaan, kepada mahasiswa yang memberikan kepercayaan kepada dosen untuk membimbing proses pembelajarannya, serta kepada seluruh pihak yang berkontribusi terhadap kemajuan kampus.Namun, rasa terima kasih tidak cukup hanya disampaikan melalui ucapan. Bentuk terima kasih yang paling nyata adalah bekerja dengan sungguh-sungguh, menjaga amanah, meningkatkan kualitas pelayanan, serta berupaya memberikan hasil terbaik sesuai dengan tugas dan tanggung jawab masing-masing.2. Tenggang RasaTenggang rasa merupakan kemampuan untuk memahami keadaan, kebutuhan, dan perasaan orang lain. Dalam lingkungan kerja, setiap individu memiliki tanggung jawab, tantangan, dan keterbatasan yang berbeda. Oleh karena itu, dosen dan tenaga kependidikan harus mampu membangun hubungan kerja yang saling menghargai.Implementasi tenggang rasa dapat dimulai dari hal-hal sederhana, seperti menjaga cara berkomunikasi, menghargai waktu orang lain dan membantu rekan kerja yang mengalami kesulitan. Tenggang rasa juga berarti mampu menyampaikan kritik dengan cara yang tepat dan menerima perbedaan pendapat secara dewasa.Kampus yang maju bukan hanya dibangun oleh individu-individu yang cerdas, tetapi juga oleh orang-orang yang mampu bekerja sama secara harmonis. Kepintaran tanpa tenggang rasa berpotensi melahirkan konflik. Sebaliknya, tenggang rasa yang disertai tanggung jawab akan menciptakan lingkungan kerja yang sehat, produktif, dan saling menguatkan.3. Rasa MaluRasa malu bukanlah sikap minder atau takut menyampaikan pendapat. Rasa malu yang dimaksud adalah kesadaran moral yang menjaga seseorang agar tidak mengabaikan tanggung jawabnya. Rasa malu menjadi pengingat internal agar setiap dosen dan tenaga kependidikan bekerja dengan benar, jujur, dan profesional, meskipun tidak selalu diawasi.Malulah apabila tidak bekerja dengan sungguh-sungguh. Malulah apabila mengabaikan tanggung jawab. Malulah apabila datang terlambat tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Malulah apabila tidak memberikan pelayanan yang baik. Malulah apabila tidak menjadi teladan bagi mahasiswa. Malulah apabila tidak berusaha meningkatkan kompetensi. Malulah apabila hanya menuntut hak, tetapi melupakan kewajiban.Seorang dosen memiliki tanggung jawab yang besar karena perilakunya tidak hanya memengaruhi lingkungan kerja, tetapi juga menjadi contoh bagi mahasiswa. Kontribusi terbaik yang diberikan kepada kampus secara tidak langsung akan berdampak pada peningkatan kualitas pendidikan, kemajuan masyarakat, dan kemajuan bangsa. Pada akhirnya, keberhasilan institusi juga akan membawa kebermanfaatan bagi setiap individu di dalamnya.Untuk menjadi bagian dari STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, dosen dan tenaga kependidikan tidak cukup hanya memiliki kemampuan akademik dan administratif. Setiap individu juga perlu menjadikan rasa terima kasih, tenggang rasa, dan rasa malu sebagai standar sikap dalam bekerja. Ketiga nilai tersebut harus terus dipahami, dijaga, dan diimplementasikan secara konsisten dalam aktivitas sehari-hari. Budaya kerja yang baik tidak terbentuk hanya melalui aturan tertulis, tetapi lahir dari kebiasaan yang dilakukan secara sadar dan berulang-ulang.Terima kasih setinggi-tingginya kepada Bapak Iwan Perdana, Ph.D. yang tidak pernah lelah membimbing sivitas akademika STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin untuk membangun cara berpikir yang benar, sikap kerja yang bertanggung jawab, serta kepedulian terhadap kemajuan institusi. Jayalah STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin.
# EDUKASI
# Opini

Belajar Manajemen Pendidikan dari Striker Veteran Berkah FC

Iwan Perdana
2 Juni 2026
Melihat Kasliannor yang akrab dipanggil Pak Midun, Pemain veteran Berkah FC, saya langsung teringat Roger Milla—kampiun Tim Kamerun yang sukses merebut bola dari Kiper ikonik Kolombia, Rene Higuita. Keberhasilan The Old Lion memanfaatkan Blunder El Loco mengantarkan Tim Kamerun lolos ke babak perempat final (8 besar) Piala Dunia 1990, dan menyebabkan Tim berjuluk Los Cafeteros pulang lebih cepat dari piala dunia 1990 di Italia.Kasliannor & Rudi, Kapten Berkah FCBermain di posisi striker, aksi Kaslian di lapangan masih membuat kerepotan barisan pertahanan lawan. “Bomber berpengalaman ini sudah mencetak 106 gol selama karirnya membela Berkah FC,’ jelas Rudi, Kapten Berkah FC. Kasliannor, Striker Berkah FCKasliannor masih menjadi andalan Berkah FC di lini depan. Meski tak lagi muda, akurasi umpannya terjaga (Maintained Passing Accuracy). Kontrol Bolanya pun masih Ciamik (Ball Control). Walau kehilangan kecepatan menggiring bola (Losing a Yard of Pace), tapi tidak mudah merebut bola di kakinya. Ini saya lihat kemarin, senin (1/6/2026), pada sesi latihan Berkah FC di Lapangan Kayutangi Ujung. Usaha keras Alwad—pemain bertahan, menghalangi Beliau melepaskan tembakan langsung ke gawang. Meski bola masih bisa ditangkap Haris, kiper andalan Berkah FC, ini adalah bukti naluri mencetak golnya belum hilang.Kapten Rudi & Tim Berkah FCTak hanya diandalkan di dalam lapangan, di luar lapangan pun karisma Pak Midun belum memudar. Mendampingi Kapten Rudi sebagai asisten manajer, Ia seringkali menjadi partner diskusi sang komandan klub menyusun pemain yang akan diturunkan untuk mengikuti kompetisi resmi tim. Kesediaannya menyiapkan fasilitas “Alphard” untuk transportasi tim adalah bukti kecintaan dan dedikasi yang luar biasa besarnya kepada tim yang bermarkas di Café Midun ini. Kasliannor & Tim Berkah FCSatu lagi hal yang membuat saya mengagumi Beliau adalah kepeduliannya bersama Kapten Rudi dalam memberi kesempatan pemain muda untuk berlatih / bermain sepak bola di Berkah FC. “Capt, bagi pemain muda jadi dua kelompok agar mereka bisa berlatih,’ ucapnya. Ide kaderisasi dan mendukung kemajuan pemain yunior (Youth Development) luar biasa. Jika banyak  pemain senior yang berpikiran seperti mereka, saya yakin akan maju sepak bola banua. Dan saya melihat, sejauh ini, Berkah FC berhasil memadukan pemain senior dan Yunior di dalam timnya. Maju terus Berkah FC.Kasliannor (Pak Midun) mencerminkan prinsip manajemen pendidikan/ kepemimpinan pendidikan yang efektif. Sebagai asisten manajer sekaligus pemain veteran, Ia menjalankan fungsi perencanaan (menyusun pemain bersama kapten), pengorganisasian (membagi kelompok latihan), dan pendampingan (menyiapkan fasilitas tim). Ini paralel dengan kepala sekolah atau pimpinan lembaga pendidikan yang merancang program, mengatur rombongan belajar, serta memfasilitasi sarana prasarana.Dan yang paling penting adalah kaderisasi kepemimpinan melalui pemberian kesempatan kepada pemain muda. Dalam manajemen pendidikan, keberhasilan sebuah lembaga diukur tidak hanya raihan prestasi dari guru dan siswanya, tetapi juga kemampuan mencetak kader pemimpin baru. Kolaborasi senior–junior di Berkah FC mencerminkan iklim demokratis dan partisipatif, setiap pemain merasa dihargai dan diberi ruang untuk berkembang—persis seperti komunitas lembaga pendidikan yang sehat.  
# EDUKASI
# Opini

Etos Kerja, Senjata Andalan, dan Keseimbangan dalam Kepemimpinan Pendidikan

Iwan Perdana
1 Juni 2026
10 hari yang lalu, saya berbincang dengan Mat Sunda. Pemain berposisi Wing Bek kanan yang hangat dan cepat akrab dengan siapa saja. Menurut pengakuannya, Ia menggemari sepak bola sejak kecil. Hobi itu berlanjut hingga usianya yang kini “matang” bermain sepak bola.  Untuk pemain seusianya, Mat Sunda tergolong pemain luar biasa karena posisi yang dimainkannya menuntut tugas yang sangat berat. Wing bek kanan “memaksa” pemain memiliki stamina prima: Ia harus rajin membantu serangan (overlap) serta cepat kembali bertahan saat kehilangan bola. Ditanya tentang siapa pemain idolanya di kancah sepak bola internasional, tanpa ragu Mat Sunda menyebut Cristiano Ronaldo. Alasannya, pemain Portugal yang baru saja merayakan juara liga Arab Bersama Al Nassr tersebut memiliki etos kerja yang tinggi.“Semua gol yang diciptakan CR7 sangat indah. Di usianya yang sudah memasuki 41 tahun, Ia tetap menjadi penyerang hebat, andalan negaranya dan klub yang dibelanya”, Ungkapnya pada Jumat (22/5/2026). Sedangkan pemain dalam negeri yang dikaguminya adalah Bambang Pamungkas. “Saya suka tandukan Bepe,” ujarnya. Di Berkah FC, Mat Sunda merasakan silaturahmi yang kuat. “Teman-teman tidak gampang tersinggung diajak bercanda, tetapi serius saat Latihan. Berkah FC itu top Pak Iwan.” Ungkapnya. Ia pun merasakan keseimbangan,karena selain canda tawa, dan membahas sepak bola di grup WhatsApp, Setiap pagi H. Juman dan Al Ayubi, memposting nasihat dan kutipan hadits. Berkah FCDikaitkan dengan Manajemen Pendidikan, saya membuat beberapa analogi, yaitu: 1. Etos kerja Di usia 41 tahun, etos kerja Cristiano Ronaldo masih sangat tinggi. Ikon sepak bola ini mengajarkan bahwa dalam kepemimpinan pendidikan, usia tidak menjadi alasan yang menghalangi produktivitas yang berkualitas. "Gol-gol indah" CR7 melambangkan hasil kerja yang estetis dan bermakna yakni pemimpin pendidikan harus menetapkan kebijakan yang berdampak positif bagi peserta didik dan guru.2. Senjata Andalan Meskipun postur tubuhnya tidak terlalu tinggi, Bambang Pamungkas terkenal dengan gol sundulannya. Bisa disebut, gol melalui kepala adalah senjata andalan Bepe. Seorang pemimpin lembaga pendidikan idealnya memiliki "senjata andalan" khas, baik berupa keahlian khusus maupun pendekatan unik yang membedakannya dari pemimpin lain.3. Keseimbangan      Keakraban yang terjalin terasa sangat seimbang. Relasi  tidak hanya diisi dengan bercanda dan membahas bola, tetapi juga diwarnai dengan nasihat serta kutipan hadis setiap pagi yang dibagikan oleh H. Juman dan Al Ayubi." Manajemen pendidikan yang sehat menggabungkan keakraban (relasi sosial), profesionalisme, dan nilai spiritual (karakter). Tanpa keseimbangan, lembaga pendidikan akan kehilangan arah. Ungkapan Mat Sunda tentang Ronaldo, Bepe, dan Berkah FC mengajarkan bahwa pemimpin pendidikan yang hebat adalah sosok yang tetap bekerja keras di usia matang, memiliki keahlian khas, serta mampu menciptakan keseimbangan antara canda, kesungguhan, dan nilai-nilai spiritual.
# EDUKASI
# Opini

Asep Gonzales dan Filosofi "Saling Percaya" di Atas Rumput

Iwan Perdana
30 Mei 2026
Saya mengenal Asep Gonzales di lapangan Kayutangi Ujung. Pemain berpostur kokoh ini memiliki etos kerja tinggi. Saya pernah menyaksikan Ia berusaha mati-matian mengejar Ikhsan, pemain muda berbakat, yang sedang melakukan speed dribbling. Sang speedster itu melesat cepat, namun meskipun tertinggal jauh, Asep tidak menyerah.Penasaran tentang sepak terjangnya di lapangan hijau, saya menanyakan gaya permainan Asep Gonzales ke rekan-rekannya melalui pesan WhatsApp pada Selasa (12/5/2026).Asep Gonzales"Asep seperti Hulk. Dengan postur besar dan berotot, Ia membuat striker lawan ciut," ujar Kun Ivay. "Ia pemain yang tak kenal lelah," tegas Ahmad Sajali. "Meski Asep pemain serba bisa di posisi apa pun, namun Ia lebih sering menjadi bek bertahan yang sulit dilewati berkat postur tinggi dan besarnya," ungkap Rusdi.Saya memiliki pengalaman bermain bersama dengannya sebagai pemain bertahan. Saya di posisi bek kiri, dan Bang Asep di tengah (center-back). Ia sering “memberi” saya bola. "Bawa bolanya, Pak. Bawa dengan tenang," ujarnya. Di lain kesempatan, Ia meneriaki Kiper agar mengoper bola ke saya karena posisi saya paling dekat dengan sang penjaga gawang.Saya pernah menanyakan mengapa Ia mengoper bola kepada saya. "Gak takut direbut, Bang? Saya gak bisa mengolah bola?".  Asep menjawab ringan, "Kita harus saling percaya, Pak. Itulah sepak bola. Semua sama saja, tidak ada yang lebih hebat," jelasnya.Dikaitkan dengan manajemen pendidikan, Saya melihat ada tiga hal yang bisa dipetik dari gaya bermain Asep Gonzales di lapangan hijau.1.     Kepemimpinan melayani (Servant Leadership) Asep Gonzales memberi kepercayaan. Kalimat yang diucapkannya "kita harus saling percaya" adalah inti dari membangun budaya belajar yang aman di lembaga pendidikan.2.     Etos kerja Kengototannya mengejar Ikhsan walau tertinggal jauh adalah analogi sempurna dari growth mindset dan resilience dalam dunia akademik.3.     Fleksibilitas peran Untuk survive, setiap orang idealnya serba bisa di posisi apa pun, namun untuk berkembang harus fokus pada satu posisi. Guru atau dosen harus menguasai banyak ilmu pengetahuan, tetapi juga harus memiliki  kompetensi khusus. Kepercayaan, kegigihan, dan fleksibilitas peran adalah hal yang dapat dikaitkan dengan manajemen pendidikan. Kepercayaan , didukung etos kerja, dan spesialisasi keahlian adalah kunci utama untuk mewujudkan keberhasilan proses belajar mengajar di sekolah.
# EDUKASI
# Opini

  Youtube

Surah Ar-Rahman | Aniq Muhai

  Informasi

Selamat Hari Guru Nasional
Arah Pendidikan Nasional & Transformasi Pendidikan Lokal di Daerah
Kupas Tuntas: Kurikulum, Inklusi, dan Seni di Sekolah Dasar
Momentum Kebangkitan Nasional Melalui Peningkatan Kualitas Pendidikan