Beranda > Edukasi > Opini

  Postingan Terbaru

Merayakan Pencapaian, Menyambut Masa Depan

Maulidha
28 Agustus 2026
Suatu perjalanan panjang di setiap hasil yang terlihat luar biasa untuk mendapatkan pencapaian yang diharapkan, Wisuda tidak hanya berkaitan dengan toga, ijazah, atau suatu gelar yang akhirnya berhasil didapat, melainkan bagaimana semua jalan dan pengalaman yang pernah dirasakan hingga sampai pada tahap ini. Rasa haru dan simpati tersendri Ketika mahasiswa yang pernah datang berbagi cerita dan idenya tentang sebuah skripsi, tetapi pada wisuda ini meraka berdiri dengan toga dan senyum yang manis penuh kebahagiaan.  Bagi seorang dosen, perjalanan itu bukan hanya sekedar perkulihan dan menyelesaikan sebuha karya ilmiah, melainkan menyaksikan sesorang tumbuh melalui proses yang tidak selalu mudah.Dalam perjalanan bimbingan, dosen mungkin hanya hadir pada bagian-bagian tertentu, memberikan pertanyaan untuk mereka ulas dan diperbaiki lagi serta memberikan masukan Dalam perjalanan bimbingan, dosen mungkin hanya hadir pada bagian-bagian tertentu. Saya memberikan pertanyaan ketika ada hal yang perlu dipikirkan kembali, memberikan masukan ketika tulisan masih perlu diperbaiki, dan memberikan arahan ketika langkah mulai terasa kurang jelas. Tetapi setelah setiap pertemuan selesai, mahasiswa kembali melanjutkan perjuangannya sendiri. Di sanalah sesungguhnya keteguhan itu diuji.Bagi pengejar mimpi yang tidak pantang menyerah, dalam perjalanan ada begitu banyak hari ketika langkah terasa berat, ketika rasa lelah datang bersamaan dengan keraguan, ketika keinginan untuk berhenti terasa begitu dekat. Tetapi semangat mereka terus membara, yaitu tentang masa depan yang ingin mereka wujudkan, mimpi terus belajar, berkembang, menjadi pribadi yang lebih baik dengan membawa gelar S.Pd dari STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin. Memberikan kebanggaan terhadap institusi dan membawa manfaat untuk orang lain.Belajar bahwa keberhasilan tidak hanya dicapai dengan cara mudah, tetapi dengan perjuangan dan mampu bertahan Ketika perjalanan terasa sulit. Sebagai dosen pembimbing, saya melihat mimpi-mimpi yang ingin diwujudkan mahasiswa yang berkuliah di STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, kesempatan mengembangkan diri, dan membangun karir yang lebih baik, walaupun jalan terkadang berliku dan penuh hambatan.Pelan-pelan, tanpa banyak disadari, proses itu membentuk sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar sebuah skripsi. Ia membentuk ketekunan, kesabaran, keberanian untuk mencoba kembali, dan keyakinan bahwa sesuatu yang dimulai dengan sungguh-sungguh layak diperjuangkan sampai selesai. Sebagai dosen pembimbing, saya mungkin hanya hadir melalui beberapa pertemuan, memberikan masukan, mengajukan pertanyaan, atau menunjukkan bagian yang masih perlu diperbaiki. Tetapi di luar ruang bimbingan, ada perjuangan yang sepenuhnya menjadi milik mahasiswa itu sendiri. Ada waktu yang diberikan, ada pikiran yang dicurahkan, ada rasa lelah yang mungkin tidak sempat diceritakan, dan ada doa-doa yang menyertai setiap langkahnya. Karena itu, ketika akhirnya skripsi tersebut selesai, kebahagiaan yang terasa bukan hanya karena sebuah tugas telah dituntaskan, tetapi karena saya tahu bahwa ada sebuah mimpi yang sedang berjalan menuju kenyataan.Karena pada akhirnya, kesuksesan tidak hanya seberapa tinggi kita mencapai sebuah posisi dan apa yang kita dapatkan, melainkan tentang makna perjalanan yang kita Jalani dan seberapa besar manfaat yang kita berikan dari apa yang kita miliki dan perjuangkan.Saya sangat bersyukur, dan bangga terhadap mahasiswa STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin yang telah mencapai titik awal sebuah mimpi, wisuda adalah bukti bahwa perjuangan haruslah didapat dari berbagai pengalaman dan pengetahuan yang luas.   
# EDUKASI
# Opini

Outbound Dosen dan Staf STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin

Gunawan Junaidi Kang Billy Manopo
28 Agustus 2026
Pada Minggu, 9 Agustus 2026, dosen dan staf STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin melaksanakan kegiatan outbound di Kebun Raya Banua, Banjarbaru. Kegiatan ini menjadi momen untuk melepas penat dari rutinitas pekerjaan dan aktivitas akademik, sekaligus mempererat kebersamaan serta kekeluargaan antarstaf dan dosen. Kegiatan outbound berlangsung dalam suasana yang penuh keceriaan dan semangat. Berbagai permainan dan aktivitas kelompok dirancang untuk membangun komunikasi, kerja sama, kekompakan, serta menciptakan suasana yang lebih santai di antara para peserta. Melalui kegiatan ini, dosen dan staf mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi di luar lingkungan kampus. Momen tersebut menjadi ruang untuk saling mengenal lebih dekat, berbagi cerita, bercanda, serta membangun hubungan kerja yang semakin harmonis. Suasana hijau dan asri di Kebun Raya Banua turut memberikan pengalaman yang menyegarkan. Berada di lingkungan terbuka dengan nuansa alam membuat kegiatan terasa lebih rileks dan menyenangkan. Berbagai momen kebersamaan juga diabadikan sebagai kenangan bersama. Selain sebagai sarana rekreasi, outbound juga memiliki nilai penting dalam membangun teamwork, komunikasi, kepemimpinan, tanggung jawab, dan solidaritas. Kekompakan yang dibangun melalui kegiatan bersama diharapkan dapat terbawa ke lingkungan kerja sehingga tercipta suasana kerja yang semakin positif dan produktif. Kegiatan outbound ini menjadi salah satu bentuk kebersamaan keluarga besar STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin. Dengan semangat kebersamaan, dosen dan staf diharapkan semakin solid dalam menjalankan tugas dan memberikan kontribusi terbaik bagi kemajuan institusi. 
# EDUKASI
# Opini

Peran Tenaga Kependidikan yang Aktif dalam Organisasi Perpustakaan dan Kepustakawanan

Muhammad Juanda
28 Agustus 2026
Tenaga kependidikan (tendik) memiliki peran penting dalam mendukung penyelenggaraan pendidikan tinggi, khususnya dalam memastikan berbagai layanan akademik dan administrasi berjalan secara efektif. Salah satu bidang yang memiliki kontribusi strategis adalah perpustakaan. Dalam perkembangannya, seorang tendik yang aktif di dunia organisasi perpustakaan dan kepustakawanan tidak hanya menjalankan tugas administratif, tetapi juga berperan dalam membangun jejaring, meningkatkan kompetensi, serta mendorong inovasi layanan perpustakaan.Keaktifan dalam organisasi perpustakaan dan kepustakawanan menjadi salah satu bentuk pengembangan profesional bagi seorang tendik. Melalui organisasi, seorang tendik dapat memperoleh kesempatan untuk bertukar pengalaman, berbagi pengetahuan, mengikuti kegiatan ilmiah, serta memahami berbagai perkembangan terbaru dalam pengelolaan perpustakaan. Organisasi juga menjadi ruang yang strategis untuk membangun komunikasi dan kolaborasi dengan pustakawan maupun pengelola perpustakaan dari berbagai perguruan tinggi dan lembaga lainnya.Di Kalimantan Selatan, khususnya Kota Banjarmasin, aktivitas organisasi perpustakaan dan kepustakawanan memiliki peran penting dalam memperkuat ekosistem literasi. Keberadaan berbagai kegiatan seperti seminar, pelatihan, diskusi, workshop, sosialisasi, dan kegiatan literasi memberikan ruang bagi tendik untuk terus meningkatkan kapasitas dan wawasan. Keterlibatan secara aktif dalam kegiatan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan kompetensi tidak hanya dilakukan melalui pendidikan formal, tetapi juga melalui pengalaman organisasi dan interaksi profesional.Seorang tendik yang aktif dalam organisasi juga memiliki peluang lebih besar untuk memberikan kontribusi terhadap peningkatan kualitas layanan perpustakaan di lingkungan perguruan tinggi. Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh dari organisasi dapat diterapkan dalam pengembangan layanan, pemanfaatan teknologi informasi, promosi perpustakaan, literasi informasi, pengelolaan koleksi, hingga peningkatan kualitas pelayanan kepada mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan lainnya.Selain meningkatkan kompetensi pribadi, keaktifan berorganisasi juga membangun kemampuan kepemimpinan, komunikasi, kerja sama, manajemen kegiatan, dan pemecahan masalah. Kemampuan tersebut sangat relevan dengan tuntutan pekerjaan di perguruan tinggi yang semakin dinamis. Seorang tendik tidak hanya dituntut mampu menyelesaikan pekerjaan rutin, tetapi juga harus mampu beradaptasi dengan perubahan dan memberikan gagasan yang mendukung kemajuan institusi.Dalam konteks organisasi profesi, keterlibatan tendik juga dapat menjadi jembatan antara kebutuhan institusi dengan perkembangan dunia kepustakawanan. Melalui jejaring yang dibangun, berbagai praktik baik dapat dibagikan dan dikembangkan bersama. Kolaborasi antarpustakawan dan tenaga kependidikan dapat melahirkan program yang lebih kreatif, relevan, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat akademik.Pada akhirnya, menjadi tendik yang aktif dalam organisasi perpustakaan dan kepustakawanan bukan sekadar tentang keikutsertaan dalam berbagai kegiatan, tetapi merupakan bentuk komitmen terhadap pengembangan profesionalisme dan kemajuan perpustakaan. Keaktifan tersebut diharapkan mampu memberikan manfaat tidak hanya bagi individu, tetapi juga bagi institusi, organisasi profesi, dan masyarakat. Dengan semangat kolaborasi, pembelajaran berkelanjutan, dan inovasi, tendik dapat menjadi bagian penting dalam mewujudkan perpustakaan perguruan tinggi yang adaptif, profesional, dan mampu memberikan layanan berkualitas di era transformasi digital.
# EDUKASI
# Opini

Semarak 17 Agustus Civitas Akademika STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin di Kebun Raya Banua

Muhammad Supian Sauri
28 Agustus 2026
Suasana Kebun Raya Banua Banjarbaru terasa semakin semarak ketika civitas akademika STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin berkumpul untuk merayakan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Di tengah suasana hijau dan sejuk, tawa terdengar dan berbagai kegiatan berlangsung dengan penuh keceriaan. Dosen dan tenaga kependidikan yang biasanya sibuk dengan perkuliahan, pelayanan, administrasi, dan berbagai tugas kampus, kali ini berkumpul dalam suasana yang lebih santai dan akrab. Berbagai perlombaan dan permainan membuat suasana semakin ramai. Ada yang serius mengejar kemenangan, ada yang penuh semangat mengikuti permainan, dan tentu saja ada yang justru lebih banyak membuat suasana menjadi lucu dan mengundang tawa. Kebun Raya Banua pun menjadi saksi bagaimana keluarga besar STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin menikmati momen kemerdekaan dengan penuh kebersamaan.Keseruan kegiatan 17 Agustus kali ini ternyata bukan hanya tentang siapa yang menjadi juara. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi kesempatan untuk mempererat hubungan antara dosen dan tenaga kependidikan. Di tengah kesibukan menjalankan tugas masing-masing, momen seperti ini memberikan ruang untuk saling bercanda, saling menyemangati, dan menikmati kebersamaan tanpa suasana yang terlalu formal. Ada yang memberikan dukungan kepada teman, ada yang tertawa melihat aksi peserta lain, bahkan ada yang tetap percaya diri meskipun akhirnya belum berhasil menjadi pemenang. Semua itu justru membuat kegiatan semakin hidup. Karena dalam sebuah kebersamaan, bukan hanya kemenangan yang penting, tetapi bagaimana kita bisa menikmati proses, membangun kekompakan, dan menciptakan kenangan bersama.Menariknya, kegiatan sederhana seperti perlombaan juga memiliki banyak pelajaran yang berkaitan dengan pendidikan. Dari permainan, kita belajar tentang kerja sama, sportivitas, disiplin mengikuti aturan, menghargai orang lain, mengendalikan emosi, serta menerima kemenangan dan kekalahan dengan lapang dada. Nilai-nilai tersebut merupakan bagian penting dari pendidikan karakter. Pendidikan tidak hanya hadir dalam kegiatan perkuliahan atau pekerjaan sehari-hari, tetapi juga dapat tumbuh melalui pengalaman, interaksi, dan kebersamaan. Bahkan dari sebuah permainan yang penuh tawa, kita dapat belajar bahwa keberhasilan tidak selalu dicapai sendirian. Dibutuhkan kerja sama, komunikasi, dan sikap saling mendukung untuk mencapai tujuan bersama.Semangat tersebut tentu sejalan dengan visi STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin sebagai kampus yang Inspiratif, Berkarakter, dan Berkompeten. Kegiatan bersama seperti ini menjadi ruang sederhana untuk mewujudkan nilai tersebut dalam kehidupan kampus. Inspiratif melalui kegiatan yang memberikan energi positif dan suasana baru, berkarakter melalui sikap kebersamaan, sportivitas, tanggung jawab, dan semangat kebangsaan, serta berkompeten melalui kemampuan untuk berkomunikasi, bekerja sama, dan memberikan kontribusi terbaik. Apalagi kegiatan dilaksanakan di ruang terbuka seperti Kebun Raya Banua, suasana menjadi lebih rileks dan menyenangkan. Kampus bukan hanya tempat untuk menjalankan tugas akademik dan administratif, tetapi juga tempat untuk membangun hubungan yang baik, menguatkan kebersamaan, dan menumbuhkan budaya kerja yang positif.Pada akhirnya, perayaan 17 Agustus di Kebun Raya Banua Banjarbaru bukan sekadar kegiatan untuk memeriahkan Hari Kemerdekaan. Ada semangat kebersamaan, kegembiraan, kekompakan, dan nilai pendidikan yang ikut tumbuh di dalamnya. Jika para pahlawan dahulu berjuang untuk merebut kemerdekaan, maka tugas kita sekarang adalah mengisi kemerdekaan dengan bekerja, berkarya, mendidik, dan memberikan kontribusi terbaik bagi bangsa. Dari lingkungan kampus, semangat itu terus dibangun bersama. Karena membangun pendidikan tidak selalu harus dilakukan dalam suasana yang serius. Sesekali bermain, tertawa, bercanda, dan merayakan kemerdekaan bersama juga menjadi bagian dari upaya membangun lingkungan kerja dan pendidikan yang sehat serta menyenangkan. Seru kegiatannya, kuat kebersamaannya, dan tetap membawa nilai pendidikan. Merdeka!
# EDUKASI
# Opini

Menjalani Peran sebagai Perempuan, Ibu, dan Profesional

Halima Chairia
28 Agustus 2026
Menjadi seorang perempuan dengan banyak peran bukanlah sesuatu yang selalu mudah. Dalam satu hari, saya bisa menjadi seorang karyawan di tempat kerja, seorang ibu bagi dua putri yang sudah beranjak dewasa, seorang istri, seorang anggota Bhayangkari, sekaligus tetap menjadi diri saya sendiri. Semua peran tersebut memiliki tanggung jawab dan tantangan masing-masing. Namun, saya belajar bahwa menjalani semuanya bukan tentang menjadi sempurna, melainkan tentang bagaimana mengatur waktu, menentukan prioritas, dan menjalani setiap tanggung jawab dengan ikhlas.Saya bekerja sebagai Tendik di perguruan tinggi swasta. Latar belakang pendidikan saya adalah S2 Magister Manajemen dengan konsentrasi Manajemen Pendidikan. Pekerjaan ini membuat saya harus berhadapan dengan berbagai macam tugas dan persoalan setiap hari. Seperti administrasi dan keuangan, pelayanan, koordinasi dengan berbagai bagian, pengelolaan kebutuhan umum, hingga menyelesaikan berbagai persoalan yang muncul di lingkungan kerja menjadi bagian dari keseharian saya.Setiap pagi, sebelum memulai aktivitas di kantor, saya berusaha menyelesaikan terlebih dahulu berbagai urusan di rumah. Meskipun kedua putri saya sudah dewasa dan lebih mandiri, saya tetap merasa bahwa peran sebagai ibu tidak pernah benar-benar selesai. Saya masih memperhatikan kebutuhan mereka, mendengarkan cerita mereka, dan berusaha menjadi tempat untuk berbagi ketika mereka membutuhkan. Bagi saya, kehadiran seorang ibu bukan hanya tentang menyiapkan kebutuhan anak, tetapi juga memberikan perhatian, dukungan, dan rasa nyaman.Setelah urusan rumah selesai, saya mulai mempersiapkan diri untuk bekerja. Perjalanan menuju kantor menjadi waktu untuk mempersiapkan pikiran dan hati agar siap menghadapi aktivitas sepanjang hari. Sesampainya di tempat kerja, biasanya sudah ada berbagai pekerjaan yang menunggu. Seperti rapat, koordinasi dengan staf, menyelesaikan dokumen, menerima informasi dari bagian lain, dan terkadang harus menyelesaikan persoalan yang muncul secara tiba-tiba. Tidak semua hari berjalan sesuai rencana. Karena itu, saya belajar untuk lebih fleksibel dan tidak mudah panik ketika menghadapi situasi yang tidak terduga.Bekerja di lingkungan perguruan tinggi memberikan banyak pengalaman bagi saya. Saya bertemu dengan banyak orang dengan karakter dan kebutuhan yang berbeda. Saya berusaha untuk memperlakukan setiap orang dengan baik karena saya percaya bahwa lingkungan kerja yang nyaman akan membantu setiap orang bekerja dengan lebih maksimal.Di tengah kesibukan pekerjaan, saya juga berusaha menjaga kehidupan pribadi. Saya menyadari bahwa pekerjaan memang penting, tetapi keluarga juga memiliki tempat yang sangat penting dalam kehidupan saya. Ketika berada di rumah, saya berusaha mengurangi membawa urusan kantor ke dalam suasana keluarga. Tidak selalu berhasil, tentu saja. Ada kalanya pekerjaan masih terbawa dalam pikiran. Namun, saya terus belajar untuk memberikan perhatian kepada keluarga ketika waktunya memang untuk keluarga.Selain sebagai ibu dan pekerja, saya juga menjadi bagian dari Bhayangkari. Kegiatan sebagai anggota Bhayangkari menjadi pengalaman tersendiri bagi saya. Ada kegiatan organisasi, pertemuan, kegiatan sosial, dan berbagai aktivitas lainnya yang membutuhkan waktu dan perhatian. Pada awalnya mungkin terasa berat untuk membagi waktu antara pekerjaan, keluarga, dan kegiatan organisasi. Namun, seiring waktu saya belajar membuat skala prioritas dan mengatur jadwal dengan lebih baik.Saya menyadari bahwa keseimbangan hidup tidak berarti semua hal mendapatkan waktu yang sama banyak. Ada saatnya pekerjaan membutuhkan perhatian lebih besar. Ada waktu ketika keluarga harus menjadi prioritas. Ada pula saatnya saya perlu memberikan waktu untuk diri sendiri. Bagi saya, keseimbangan adalah kemampuan untuk mengetahui apa yang paling penting pada saat tertentu dan memberikan perhatian sebaik mungkin pada hal tersebut.Menjadi perempuan yang bekerja sekaligus menjadi ibu rumah tangga juga mengajarkan saya tentang arti tanggung jawab. Saya belajar bahwa banyak hal kecil yang dilakukan setiap hari sebenarnya memiliki makna yang besar. Menyelesaikan pekerjaan dengan baik, memberikan perhatian kepada keluarga, menjaga hubungan dengan orang lain, mengikuti kegiatan organisasi, bahkan meluangkan waktu untuk beristirahat, semuanya merupakan bagian dari perjalanan hidup.Saya juga belajar untuk tidak terlalu keras kepada diri sendiri. Ada hari-hari ketika pekerjaan terasa sangat melelahkan. Ada pula saat ketika urusan rumah dan kegiatan lainnya datang bersamaan. Pada kondisi seperti itu, saya mencoba untuk berhenti sejenak, menarik napas, dan mengingat kembali alasan saya menjalani semua ini. Saya bekerja bukan hanya untuk mengejar pencapaian, tetapi juga sebagai bentuk pengabdian dan tanggung jawab. Saya menjadi ibu karena keluarga adalah bagian penting dari hidup saya. Saya mengikuti kegiatan Bhayangkari karena di dalamnya ada nilai kebersamaan dan pengabdian kepada masyarakat.Kini, ketika kedua putri saya sudah semakin dewasa, saya merasa bersyukur dapat melihat mereka tumbuh menjadi pribadi yang mandiri. Perjalanan menjadi seorang ibu telah memberikan banyak pelajaran kepada saya. Saya belajar bahwa anak-anak tidak selalu membutuhkan ibu yang sempurna. Mereka membutuhkan ibu yang hadir, mau mendengarkan, dan selalu memberikan dukungan ketika mereka membutuhkannya.Pada akhirnya, kehidupan saya sebagai seorang perempuan yang bekerja dan juga ibu rumah tangga adalah sebuah perjalanan yang penuh warna. Ada lelah, ada bahagia, ada tantangan, dan ada banyak hal yang patut disyukuri. Saya tidak selalu mampu menjalankan semuanya dengan sempurna, tetapi saya selalu berusaha memberikan yang terbaik dalam setiap peran yang saya jalani.Bagi saya, menjadi perempuan dengan berbagai peran bukanlah beban, melainkan sebuah kesempatan untuk terus belajar dan berkembang. Saya belajar mengelola waktu, mengelola emosi, berkomunikasi, mengambil keputusan, dan yang paling penting, belajar untuk tetap bersyukur. Selama kita mampu menentukan prioritas, menjaga komunikasi dengan keluarga, bekerja dengan penuh tanggung jawab, dan tidak lupa memberikan waktu untuk diri sendiri, berbagai peran tersebut dapat dijalani dengan lebih seimbang. Saya percaya bahwa keseimbangan bukan berarti hidup tanpa masalah atau tanpa kelelahan. Keseimbangan adalah ketika kita mampu menerima bahwa setiap fase kehidupan memiliki tantangannya sendiri, kemudian menjalaninya dengan sabar, ikhlas, dan penuh rasa syukur. Itulah yang terus saya lakukan dalam keseharian saya sebagai seorang wanita, seorang ibu, seorang profesional, dan seorang anggota Bhayangkari.
# EDUKASI
# Opini

Building English Confidence: Kegiatan Pengabdian Pendampingan Pembelajaran Bahasa Inggris bagi Anak Sekolah di Sungai Miai Banjarmasin

Nor Hayati, M.Pd
28 Agustus 2026
Bahasa Inggris memiliki posisi strategis dalam perkembangan pendidikan dan komunikasi pada era global. Kemampuan menggunakan bahasa Inggris tidak hanya diperlukan dalam konteks akademik, tetapi juga mendukung akses peserta didik terhadap berbagai sumber informasi, teknologi, dan komunikasi internasional. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa Inggris perlu diberikan secara berkelanjutan dengan memperhatikan kebutuhan, karakteristik, dan lingkungan belajar peserta didik.Dalam proses pembelajaran bahasa Inggris, kemampuan linguistik tidak dapat dipisahkan dari aspek afektif. Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap keberhasilan pembelajaran bahasa adalah kepercayaan diri peserta didik dalam menggunakan bahasa target. Peserta didik yang memiliki rasa percaya diri cenderung lebih berani berkomunikasi, mengajukan pertanyaan, menjawab pertanyaan, serta mencoba menggunakan kosakata dan struktur bahasa yang telah dipelajari.Kondisi tersebut menjadi salah satu dasar pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Sungai Miai, Banjarmasin. Kegiatan ini diarahkan untuk memberikan pendampingan pembelajaran bahasa Inggris kepada anak sekolah pada jenjang SD dan SMP Program tidak hanya berorientasi pada peningkatan pengetahuan bahasa, tetapi juga membangun suasana belajar yang menyenangkan, partisipatif, dan mendukung keberanian peserta dalam menggunakan bahasa Inggris.Kegiatan pengabdian dilaksanakan melalui pendekatan pembelajaran partisipatif dan komunikatif. Tahapan kegiatan meliputi identifikasi kebutuhan peserta, perencanaan materi, pelaksanaan pembelajaran, praktik komunikasi, dan evaluasi. Pada tahap awal, dilakukan identifikasi terhadap kemampuan dasar peserta untuk mengetahui tingkat penguasaan kosakata, pelafalan, serta kemampuan menggunakan ungkapan sederhana dalam bahasa Inggris.Materi pembelajaran disesuaikan dengan jenjang pendidikan peserta. Untuk peserta SD, materi difokuskan pada kosakata dasar, seperti parts of the body, family, numbers, colors, animals, dan ungkapan sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Sementara itu, peserta SMP diberikan materi yang lebih komunikatif, seperti daily conversation, self-introduction, expressing opinions, dan penggunaan bahasa Inggris dalam situasi sederhana.Strategi pembelajaran menggunakan kombinasi penjelasan singkat, drilling, permainan bahasa, kerja berpasangan, dialog, dan praktik berbicara. Pendekatan tersebut digunakan untuk menciptakan interaksi yang aktif sekaligus mengurangi kecemasan peserta ketika menggunakan bahasa Inggris. Evaluasi dilakukan melalui observasi partisipasi peserta, praktik komunikasi, serta refleksi terhadap perkembangan kemampuan dan kepercayaan diri peserta.Pelaksanaan pendampingan menunjukkan bahwa peserta memberikan respons positif terhadap pembelajaran bahasa Inggris yang dilakukan secara interaktif. Peserta SD cenderung lebih aktif ketika materi disampaikan melalui permainan, gambar, pengulangan kosakata, dan aktivitas fisik. Sementara itu, peserta SMA menunjukkan keterlibatan yang lebih baik melalui aktivitas dialog, diskusi sederhana, dan praktik komunikasi berdasarkan situasi kehidupan sehari-hari.Salah satu hasil penting dari kegiatan ini adalah meningkatnya keberanian peserta dalam menggunakan bahasa Inggris secara lisan. Pada tahap awal, sebagian peserta masih menunjukkan keraguan ketika diminta mengucapkan kosakata atau menjawab pertanyaan dalam bahasa Inggris. Setelah memperoleh pendampingan secara bertahap, peserta mulai menunjukkan keberanian untuk berbicara meskipun masih terdapat kesalahan dalam pelafalan maupun struktur kalimat.Temuan tersebut menunjukkan bahwa lingkungan belajar yang suportif memiliki peran penting dalam membangun English confidence. Kesalahan dalam penggunaan bahasa tidak diposisikan sebagai kegagalan, tetapi sebagai bagian dari proses belajar. Pendekatan tersebut memberikan kesempatan kepada peserta untuk bereksperimen menggunakan bahasa Inggris tanpa tekanan yang berlebihan.Selain meningkatkan kepercayaan diri, kegiatan juga memberikan pengalaman belajar yang lebih kontekstual. Peserta tidak hanya menghafalkan kosakata, tetapi menggunakannya dalam komunikasi sederhana. Dengan demikian, pembelajaran bahasa Inggris menjadi lebih bermakna karena peserta dapat menghubungkan materi dengan pengalaman dan aktivitas sehari-hari.Program Building English Confidence di Sungai Miai, Banjarmasin, memberikan kontribusi positif terhadap pengembangan kemampuan dasar bahasa Inggris dan kepercayaan diri anak sekolah. Pendampingan melalui pendekatan komunikatif, interaktif, dan partisipatif mampu menciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan serta mendorong peserta untuk berani menggunakan bahasa Inggris. Kegiatan ini menunjukkan bahwa penguatan kompetensi bahasa Inggris tidak hanya membutuhkan penguasaan materi, tetapi juga lingkungan belajar yang memberikan dukungan psikologis dan kesempatan praktik yang memadai. Keberlanjutan program dengan materi yang lebih terstruktur dan evaluasi berkala diperlukan agar peningkatan kemampuan bahasa Inggris peserta dapat dipertahankan dan dikembangkan secara berkelanjutan.
# EDUKASI
# Opini

Apa yang diajarkan Rusdi 'the Spidey' tentang menjadi Guru yang Tangguh?

Iwan Perdana
4 Juli 2026
Selain hari Minggu, ada dua hari lain yang selalu saya nantikan yaitu Senin dan Kamis. Pada dua hari tersebut saya dapat berjumpa dengan banyak rekan sesama penggemar bola di lapangan kayutangi ujung: Klub Berkah FC, tim binaan H.Juman yang dalam operasionalnya dipimpin Kapten Rudi dibantu Kasliannoor.Pada edisi sebelumnya, yang dipublikasikan pada 12 Juni 2026, saya menulis tentang Haris "The Flying Eagle" Andy, kiper Berkah FC yang lincah dengan gaya terbangnya yang keren saat menangkap bola_https://edubanua.com/apa-yang-diajarkan-haris-andykiper-berkah-fc-tentang-kepemimpinan-pendidikan. Kali ini, saya ingin mengulik sosok Rusdianoor—akrab disapa Rusdi, kiper utama Berkah FC selain Fendi dan Busairi.Sorot matanya tajam mengawasi setiap gerakan pemain depan lawan yang mencoba menerobos pertahanan. Tubuhnya tinggi dan atletis. Keunggulan lainnya adalah kemampuannya melompat tinggi dan tangkapannya yang lengket, seolah ada jaring laba-laba di sarung tangannya. Itulah sosok Rusdi "The Spidey" yang kokoh di bawah mistar gawang, siap menghadang gempuran lawan.Bagi Rusdi, yang memiliki motto "Selalu memberikan yang terbaik untuk tim," sepak bola bukan sekadar olahraga. Ia adalah denyut nadi, tantangan, dan panggilan jiwa yang telah mengalir dalam darahnya sejak kecil. Namun, tak banyak yang tahu bahwa di balik ketangguhannya sebagai kiper, ternyata Rusdi bukanlah penjaga gawang pada awalnya. Menurut Rudi—Kapten Berkah FC—dulu Rusdi adalah seorang striker haus gol. Saat itu, kiper andalan Berkah FC adalah Fendi, kakak kandungnya.Yuspi — gelandang bertahan mengakui keistimewaan Rusdi. "Refleks antisipasi bolanya luar biasa. Pandai menutup atau mempersempit ruang tembak striker lawan," ungkapnya. Di luar lapangan, lanjutnya, Rusdi adalah sosok yang ramah dan baik hati. Pendapatnya ini diamini Rudi—Kapten Tim Berkah FC, dan Awad —bek kiri.Odi, rekan setim lainnya, menambahkan bahwa Rusdi adalah spesialis dalam membaca situasi krusial. Saat adu penalti, ia seperti memiliki radar membaca arah bola yang akan ditendang. "Rusdi menjadi andalan pertahanan tim dengan  postur tinggi, refleks cepat, dan kemampuan membaca situasi," puji Odi. "Ia adalah prototipe kiper modern" tegasnya.Rusdi mengaku mengidolakan Teja Paku Alam, yang bermain di Persib Bandung, dan Gianluigi Buffon, kiper legendaris Italia — salah satu kiper terhebat sepanjang masa. Dari kedua penjaga gawang tersebut, Rusdi mengaku belajar tentang ketenangan, keberanian, dan seni menjaga gawang. Adapun ketika ditanya tentang tim favorit di Piala Dunia 2026, tanpa ragu ia menyebut Prancis —negeri dengan sejarah sepak bola gemilang.Di bawah mistar gawang, Rusdianoor bukan sekadar penjaga. Ia adalah benteng terakhir, pilar keyakinan, dan jiwa dari timnya. Di setiap tangkapan, di setiap tepisan, ia membuktikan bahwa motto hidupnya bukanlah sekadar kata-kata. Ia merupakan tipe all-out player yang memberikan yang terbaik untuk tim yang dibelanya.Selain sepak bola, Rusdi juga gemar bermain Bulutangkis. Ia juga suka mendengarkan musik dan menonton film. Penyanyi favoritnya Rhoma Irama —raja dangdut yang selalu mampu membangkitkan semangatnya. Sedangkan aktor film yang disukainya adalah  H. Benjamin S, sang legenda layar lebar Indonesia. Dari Spidey ke Ruang KelasSeperti tulisan-tulisan sebelumnya yang mencoba menganalogikan sepak bola dengan dunia pendidikan, pada edisi ini saya melihat sosok Rusdi "the Spidey" juga menampilkan nilai-nilai kepemimpinan dan dedikasi yang relevan dengan dunia pendidikan. Seorang guru di kelas memiliki peran yang sangat mirip dengan seorang kiper. Guru adalah benteng terakhir dalam membentuk karakter dan masa depan siswa. Guru selalu siap menghadang berbagai "gempuran" tantangan pembelajaran, mulai dari kesulitan memahami materi hingga dinamika sosial di dalam kelas.Seperti Rusdi yang memiliki motto "Selalu memberikan yang terbaik untuk tim," seorang guru yang berdedikasi juga menjadikan keberhasilan siswa sebagai tujuan utamanya. Dedikasi ini bukan sekadar pekerjaan, melainkan "denyut nadi, tantangan, dan panggilan jiwa" sebagaimana dirasakan Rusdi. Ketangguhan guru diuji setiap hari, bukan hanya dalam menyampaikan ilmu, tetapi juga dalam menjadi contoh nyata (teladan) tentang ketekunan, integritas, dan semangat pantang menyerah—sama seperti Rusdi yang bertahan di bawah mistar.Kemampuan Rusdi membaca situasi krusial, memiliki refleks cepat, dan mempersempit ruang gerak lawan, adalah analogi sempurna untuk kompetensi pedagogik dan profesional guru. Seorang guru yang baik harus pandai "membaca" kondisi setiap siswanya, cepat tanggap terhadap kebutuhan belajar yang berbeda, dan mampu menciptakan lingkungan belajar yang aman dan kondusif ("mempersempit ruang" bagi kebosanan dan kejenuhan). Mereka adalah "prototipe pendidik modern" yang adaptif dan berwawasan luas.Lebih dari itu, Gaya bermain Rusdi di lapangan—yang tegas saat bertanding namun ramah di luar—adalah cerminan ideal gaya kepemimpinan transformasional dalam manajemen pendidikan. Guru yang efektif adalah pemimpin yang mampu menyeimbangkan ketegasan dalam menegakkan aturan dan disiplin dengan kehangatan dan empati. Ia membangun kepercayaan (seperti kepercayaan tim pada kipernya), sehingga siswa merasa aman dan termotivasi untuk memberikan yang terbaik.    
# EDUKASI
# Opini

Muhammad Thohir— Striker Berkah FC: Refleksi bagi Guru Kompeten

Iwan Perdana
22 Juni 2026
Salah seorang pemain andalan Berkah FC yang memiliki skill mengolah bola di atas rata-rata adalah Taher. Pemain bernama  asli Muhammad Thohir, Amd ini mempunyai motto hidup sederhana namun sarat makna: "Berbuat baiklah selama kita bisa membantu orang lain." Filosofi ini membentuk karakternya sebagai sosok yang rendah hati di luar lapangan. Sedangkan di dalam lapangan, ia pemain yang selalu mengutamakan tim.Taher & Berkah FC berlaga di BanjarbaruKetenangan Taher diakui oleh rekannya, Awad—. "Taher adalah pemain Berkah FC paling sabar, tidak pernah emosi, tidak pernah mengeluh, dan tetap mempertahankan gaya permainannya apapun tekanan di lapangan," ujar Awad. Sifat inilah yang membuat Taher selalu konsisten di setiap pertandingan, tidak terpengaruh oleh provokasi lawan maupun tekanan skor.Kecintaan Taher pada sepak bola dimulai sejak duduk di bangku sekolah dasar. Baginya, olahraga ini adalah magnet universal yang menyatukan banyak orang. "Dengan sepak bola, kita banyak mempunyai teman dan menambah persahabatan," ujar Taher, Selasa (16/06/2026) melalui pesan WhatsApp. Taher berlaga di MarabahanBerposisi sebagai striker, Taher adalah perpaduan antara pemain cerdas dan tidak egois. Keunggulannya tidak hanya memiliki postur tinggi besar menjadikannya sangat cocok menjadi penghancur tembok pertahanan lawan. Tetapi ia seorang predator di kotak penalti. "Apabila kita bisa menciptakan gol, ada rasa kepuasan tersendiri dan kebahagiaan," jawabnya ketika ditanya alasannya memilih posisi penyerang. Kehebatan Taher sebagai predator di depan gawang juga ditegaskan oleh Kapten Berkah FC, Rudiansyah. "Taher adalah tipe pemain predator, penyelesai yang sempurna, shooting-nya keras," puji Rudi. Coach Mady juga memberikan apresiasi terhadap kemampuan Taher. "Bang Taher striker yang mempunyai visi bermain jelas, pandai mencari peluang, dan shooting yang keras, sangat cocok untuk posisi seorang target man, serta punya sundulan yang akurat," ungkap Coach Mady. Deskripsi ini melengkapi profil Taher sebagai striker modern yang memiliki segalanya: kecerdasan, kekuatan fisik, akurasi, dan kemampuan duel udara.“Tantangan menjadi striker juga tak semudah yang dibayangkan,” tambahnya lagi. Setiap kali ia menggiring bola memasuki area kotak 16, Ia merasakan mata para bek dan kiper lawan, termasuk para penonton tertuju padanya. Tekanan untuk mencetak gol selalu membayangi, tetapi justru di situlah Taher menemukan kenikmatan sejati—merusak lini belakang lawan, memenangkan duel udara, dan menyelesaikan peluang dengan tembakan keras yang mematikan.Sebagai mesin gol Berkah FC, Taher mengidolakan penyerang Timnas Indonesia Kurniawan Dwi Yulianto—legenda predator era 90-an—, dan saat ini mengagumi Ole Romeny, striker diaspora yang sedang naik daun. Adapun striker luar negeri yang diidolakannya adalah Filippo Inzaghi, "Super Pippo" yang terkenal dengan insting pembunuh di kotak penalti, dan Cristiano Ronaldo, simbol profesionalisme dan kerja keras. Para ikon sepak bola itu menginsipirasinya menjadi penyerang cerdas yang tak hanya mengandalkan fisik, tetapi juga kecerdasan dalam membaca permainan.Meski gemar bermain sepak bola, Taher juga menyukai semua jenis olahraga. Menurutnya berolahraga adalah jalan menuju tubuh sehat dan kuat. Untuk hiburan, meski mengaku tidak terlalu hobi menyanyi, ia senang mendengarkan lagu-lagu melayu nostalgia—asalkan liriknya enak didengar, semua genre musik ia nikmati. Taher juga menyukai film-film bagus, baik lokal maupun luar negeri. Ia mengaku sering diajak menonton oleh anak dan istrinya, dan meski terkadang harus menonton film yang tidak terlalu disukai, ia tetap ikut dengan senang hati—walaupun tak jarang tertidur di tengah pemutaran. Film favoritnya adalah serial Fast and Furious, yang penuh aksi dan memicu adrenalin.Sebagai penggemar sepak bola sejati, Taher memiliki tim favorit di Piala Dunia 2026. Ia menjagokan Portugal—negeri asal idolanya Cristiano Ronaldo—serta Jerman, raksasa Eropa dengan tradisi kemenangan. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia berharap Tim Nasional Indonesia dapat berpartisipasi di Piala Dunia berikutnya pada tahun 2030.Taher & Berkah FC di Lapangan Kayutangi UjungAnalogi Kompetensi Guru sebagai StrikerSeorang guru yang kompeten seperti seorang striker. Ia berada di lapangan hijau : ruang kelas. Seperti Taher, sang penyerang andalan Berkah FC, guru tidak sekadar mengandalkan fisik atau formalitas—ia harus cerdas membaca situasi, tepat membuat keputusan, dan keberanian mengeksekusi peluang.Seorang striker hebat tahu kapan harus bergerak ke ruang kosong, kapan harus menahan bola, dan kapan melepaskan tembakan keras ke gawang. Demikian pula guru kompeten: ia tahu kapan harus menjelaskan, kapan memberi tugas, kapan mendiamkan siswa agar berpikir, dan kapan memberikan pujian atau teguran. Guru adalah pemecah kebuntuan—ketika siswa mengalami kebingungan atau kehilangan motivasi, guru harus mampu menciptakan "gol" pemahaman dengan penjelasan yang tepat dan pendekatan yang kreatif. Seperti Taher yang mempunyai visi bermain jelas, pandai mencari peluang, dan shooting yang keras, Guru harus memiliki visi mengajar yang jelas, mengetahui kapan harus memberi tantangan, dan memberi bantuan. Dan yang paling penting, seperti Taher yang dikenal tidak mudah terpancing emosi, guru sejati tidak terbawa amarah atau frustrasi saat menghadapi siswa yang sulit. Ia tetap tenang, sabar, dan fokus pada tujuan utama: mencetak "gol" keberhasilan bagi setiap siswa. Saban kali seorang siswa memahami konsep sulit atau berhasil mengatasi kelemahannya, itulah gol yang diraih sang guru—striker pendidikan.
# EDUKASI
# Opini

Tenang, Adaptif, dan Berorientasi Kepentingan Bersama: Kepemimpinan H. Dian— Gelandang Serang Berkah FC

Iwan Perdana
18 Juni 2026
Sesuai moto hidupnya, H. Muhammad Rusdiannoor—selalu ceria dan mengutamakan Kesehatan, adalah sosok yang ramah dan murah senyum. Perawakannya tinggi, tegap dan kuat. Postur ideal untuk seorang pemain sepak bola. Rekan-rekan se-timnya lebih sering memanggilnya H. Dian. Ia merupakan gelandang serang andalan Berkah FC yang berperan vital mengatur ritme permainan dari lini tengah. Berkah FCKecintaannya H. Dian pada si kulit bundar telah berakar sejak usia 10 tahun. Baginya, sepak bola bukan sekadar olahraga. Ada nilai filosofis di dalamnya yakni bagaimana sebelas individu dengan ego berbeda dapat menyatu untuk satu tujuan. "Sepak bola mengajarkan saya tentang bekerja sama dengan orang lain," ujarnya pada selasa (16/06/2026) melalui pesan WhatsApp. Praktik nilai Filosofis itulah yang menyebabkan H. Dian tidak hanya mengandalkan skill individu di lapangan hijau , tetapi juga kecermatan membaca dinamika rekan setim. “Posisi gelandang serang menuntut kecerdasan taktik, kemampuan membaca situasi, dan naluri mencetak gol. Saya menikmati posisi ini ,“ ungkap H. Dian yang mengidolakan Isnan Ali— Legenda Timnas Indonesia, dan bintang Liverpool, Mohamed Salah asal Mesir.H. Dian & TaherKeyakinannya akan pentingnya kerja sama itu bukan sekadar omongan. Hal itu terbukti dari pengakuan rekan-rekannya di Berkah FC tentang H. Dian— yang juga disapa Anjang, diungkap Awad, bek kiri Berkah FC. “Ia bisa main di bek, tengah, maupun lini depan”. Coach Mady menambahkan, “H. Dian  sejatinya adalah gelandang serang yang punya visi permainan bagus. Namun Ia juga mumpuni dimainkan di sayap kiri atau kanan. Kapten tim, Rudi, menilai H. Dian sebagai pemain santai yang selalu bermain dengan ketenangan di setiap pertandingan.Dari komentar Awad dan Coach Mady, terlihat bahwa H. Dian adalah pemain yang adaptif dan berorientasi pada tim. Ia rela berpindah posisi demi kebutuhan tim, tanpa kehilangan esensi permainannya. Sifat ini adalah cermin dari seorang pemain profesional sejati; lebih mementingkan kepentingan bersama daripada kepuasan pribadi. Ia tidak pernah mengeluh ketika harus keluar dari posisi favoritnya. Justru di situlah loyalitas dan komitmennya terhadap Berkah FC teruji. Ketenangan yang dimaksud Kapten Rudi adalah H. Dian mampu membuat keputusan tepat dan menjadi penenang bagi rekan-rekannya. Ia tidak banyak bicara, tetapi kerja kerasnya berbicara lebih lantang dari sekadar kata-kata.Selain sepak bola, H. Dian yang menjagokan Korea Selatan menjuarai Piala Dunia 2026 ini mempunyai hobi bulu tangkis dan memancing—dua aktivitas yang melatih refleks dan kesabaran. Bulu tangkis mengasah kecepatan reaksi, sementara memancing mengajarkan kesabaran—nilai-nilai yang ia praktikkan ke dalam gaya permainan sepak bolanya. Dari moto hidup dan  penuturan 3 pemain senior Berkah FC, tergambar sosok H. Dian: memiliki kualitas teknis mumpuni, namun tak pernah mengutamakan ego. Ia bisa bersinar di posisi favoritnya, tapi rela berkorban di posisi mana pun jika diperlukan. Walaupun memiliki keunggulan individu, ia memilih kejayaan kolektif. Itulah H. Muhammad Rusdiannoor—gelandang serang Berkah FC. Dikaitkan dengan Kepemimpinan Pendidikan, Profil H. Muhammad Rusdiannoor memberikan pelajaran yang sangat berharga . 1.       AdaptifH.  Dian siap bermain di posisi mana pun demi tim. Ini mencerminkan esensi kepemimpinan transformasional: pemimpin yang fleksibel, tidak kaku, dan mengutamakan kepentingan organisasi di atas ego pribadi. Seorang kepala sekolah dituntut memiliki keluwesan dalam menghadapi dinamika institusi.2.       Strategic Planning Gelandang serang harus mampu membaca lapangan, melihat peluang, dan mengambil keputusan tepat dalam hitungan detik. Pemimpin pendidikan harus memiliki visi jangka panjang serta kemampuan membaca situasi untuk memutuskan kebijakan strategis.3.       KetenanganKetenangan yang menjadi ciri khas H. Dian adalah teladan self-control dalam kepemimpinan. Di tengah tekanan dan konflik, pemimpin yang tenang mampu menjadi penyejuk organisasi dan mengambil keputusan rasional. Ia tidak banyak bicara, tetapi kerja kerasnya berbicara lebih lantang dari sekadar kata-kata—sebuah karakter kepemimpinan yang melayani (servant leadership).4.       Kerja SamaFilosofi H. Dian tentang bekerja sama dengan orang lain sejalan dengan prinsip partisipatif. Pendidikan berkualitas tidak dibangun sendiri; ia membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan. Motto hidupnya—"selalu ceria dan sehat"—mengingatkan pada pentingnya iklim organisasi positif dan kesejahteraan sumber daya manusia. Pemimpin yang sehat dan ceria menularkan energi baik kepada seluruh warganya. H. Dian adalah metafora kepemimpinan yang baik: bisa menjadi bintang, tapi memilih melayani tim; bisa bersinar di posisi favorit, tapi siap berkorban ditugaskan di posisi mana pun—inilah esensi kepemimpinan sejati.  
# EDUKASI
# Opini

Apa yang Diajarkan Haris Andy—Kiper Berkah FC— tentang Kepemimpinan Pendidikan?

Iwan Perdana
12 Juni 2026
Walaupun lapangan Kayutangi Ujung tak semegah Stadion Gelora Bung Karno atau Jakarta International Stadium (JIS), namun lapangan ini memberikan banyak kesempatan bagi para pemain banua mengembangkan bakat bermain sepak bola, sekadar berolah raga, dan sehat-gembira. Haris Andy Ramuja, salah satunya.Sejak kecil Haris—panggilan akrab— sudah akrab dengan bola. Tampaknya Ia seperti Mamoru Endou, kiper legendaris Klub Sepak Bola Raimon di serial Inazuma Eleven—dikenal dengan ikat kepala oranye dan sifat pantang menyerahnya, serta sangat mencintai sepak bola. Hobi memainkan si kulit bundar, mengantarkan Haris bergabung dengan BERKAH FC—Tim asuhan H. Juman yang dipimpin Kapten Rudi dibantu Kasliannor dengan tegas namun bijak. Klub ini bagi Haris bukan sekadar klub sepak bola biasa, tapi sudah menjadi rumah kedua. “Saya merasa seluruh pemain seperti keluarga yang hangat penuh keakraban. Saya sangat senang dan bangga dipercaya Kapten Rudi menjaga mistar gawang Berkah FC,” ungkapnya pada Jumat (12/06/2026) melalui pesan WhatsApp.Menjadi kiper adalah pilihan Haris sejak kecil. “Saya merasa tertantang menepis atau menahan tendangan keras yang menuju ke gawang”, akunya. “Saya tidak harus mencetak gol untuk memenangkan Berkah FC, cukup dengan menggagalkan serangan lawan”, tambahnya. Keseruan lain menjadi seorang penjaga gawang menurut Haris adalah Ia bisa memantau serangan dari lawan. Dari posisinya, Ia dapat membaca seluruh pertandingan seperti peta yang terbentang.Ada dua penjaga gawang yang diidolakan Haris. Dari dalam negeri: Kurnia Meiga, dari luar negeri: Gianluigi Buffon. Namun saya melihat Haris memiliki kelebihan dua kiper top dunia lainnya. Kemampuannya mengingatkan saya pada Jorge Campos, kiper lincah Meksiko yang nyentrik dan berani. Menggunakan sarung tangan menyala, Haris kerap keluar dari sarangnya. Ia tidak hanya menepis atau menahan gempuran bola, tetapi juga berani menggocek striker lawan. Aksi nekat yang bukan sekadar gaya, melainkan taktik cerdas untuk mengacaukan fokus lawanDi balik kelincahan ala Campos, ada juga Oliver Khan “dalam” diri Haris: mental baja, suara keras yang memerintah pertahanan, dan refleks kilat. Saat tim tertekan, mata Haris berubah. Ia berteriak mengatur bek-beknya, suaranya membelah sore lapangan Kayutangi Ujung.Jatuh bangun mengawal gawang Berkah FC agar tak jebol sudah biasa bagi Haris. Keberaniannya lahir dari motto hidupnya “Selalu berusaha, jangan takut gagal,” ujar Kiper kebanggan Berkah FC ini. Mirip dengan Motto Endou: "Tidak ada bola yang tidak bisa kutepis. Tidak ada tembakan yang tidak bisa kubendung. Aku akan melindungi gawang ini sampai akhir!". Motto yang menunjukkan tekad luar biasa menjaga gawang klub yang dibela.Di luar lapangan, Haris adalah pribadi yang menikmati hidup. Ia kadang menyanyi. Berduet dengan Dahri jika berkumpul di Café Midun. Semua musik Ia sukai, tapi Nike Ardila tetap menjadi penyanyi favoritnya. Selain penggemar lagu-lagu Rock dan Dangdut, Haris juga pecinta film action. “Saya fans Jet Lee, Jacky Chen, dan Bruce Lee,” tuturnya.Kri ke kanan: Haris, Rudi, Iwan Dalam manajemen pendidikan, posisi kiper mengajarkan kepemimpinan dari garis belakang. Haris mempraktikkan setidaknya lima prinsip:1.   Kepemimpinan visionerDari bawah mistar gawang, Haris memantau seluruh serangan lawan seperti peta terbentang, lalu berteriak mengarahkan barisan pertahanan demi mengantisipasi bahaya. Pemimpin pendidikan harus melihat sistem secara utuh, mengomunikasikan arah dengan jelas, dan tidak sekadar fokus pada bagian-bagian kecil.2.   Distribusi Peran KepemimpinanBerkah FC memiliki struktur jelas: H. Juman (pembina), Kapten Rudi (kepala sekolah), Kasliannor (administrasi), dan Haris (eksekutor). Kepercayaan Kapten Rudi pada Haris adalah bentuk pemberdayaan. Pemimpin visioner tidak bekerja sendiri; mereka mendistribusikan peran agar visi bersama dapat dieksekusi secara taktis oleh setiap lini organisasi.3.   Kombinasi gaya kepemimpinanGaya Haris adalah gabungan kelincahan Jorge Campos yang berani keluar kotak penalti demi melahirkan inovasi, dan mental baja Oliver Kahn yang disiplin dan bersuara keras dalam mengatur benteng pertahanan. Pemimpin pendidikan harus fleksibel: menumbuhkan kreativitas saat situasi tenang, namun tetap teguh dan tegas saat menghadapi krisis.4.   Motto sebagai filosofi Tim hebat tidak runtuh mentalnya saat kebobolan gol, motto Haris Andy—"Selalu berusaha, jangan takut gagal"—menciptakan budaya growth mindset. Di dalam ekosistem pendidikan, kegagalan sebuah program harus dilihat sebagai data evaluasi untuk perbaikan taktik berikutnya, bukan sebagai akhir dari segalanya.5.   Kesejahteraan personal pemimpinDi luar lapangan, Haris menjaga keseimbangan mentalnya dengan menyanyikan lagu-lagu Nike Ardilla dan menonton film aksi Jet Li, Jacky Chen dan Bruce Lee. Di dunia pendidikan yang penuh tekanan, pemimpin juga membutuhkan ruang recovery (pemulihan) personal. Pemimpin yang sehat secara psikologis dan bahagia akan memimpin lembaga dengan jauh lebih bijaksana, stabil, serta penuh empati.  Lapangan Kayutangi Ujung memang tak megah. Tapi dari gawangnya yang sederhana, Haris Andy mengajarkan bahwa seorang pemimpin tidak harus selalu di depan. Ia berdiri di belakang, melihat seluruh medan, lalu berteriak mengatur barisan saat badai datang. Mottonya menggema di setiap tepisan bola,”Selalu berusaha, jangan takut gagal”. Haris Andy bukan sekadar kiper biasa. Ia luar biasa.
# EDUKASI
# Opini

Saiful Alwad: Bek Kiri Berkah FC yang Mengajarkan Kepemimpinan

Iwan Perdana
11 Juni 2026
Dua puluh tiga tahun sudah Saiful Alwad bermain di Lapangan Kayu Tangi Ujung. Pria yang lebih dikenal dengan sapaan Awad ini bermain pada posisi bek kiri sejak tahun 2003.  Tubuhnya tidak besar, tidak juga kecil. Gerakannya cepat, dan setiap langkahnya selalu penuh perhitungan.Awad merupakan salah seorang palang pintu andalan Berkah FC. Budi—Libero — memanggilnya Bruce Lee karena keberaniannya melakukan tekel menyapu seperti adegan film kungfu. Coach Mady menjulukinya Jet Lee—mungkin karena senyum tipisnya yang mirip bintang film Shaolin Temple (1982) tersebut. Tapi menurut Kapten Rudi,  Awad lebih mirip IP Man yang diperankan oleh Donnie Yen. Sikapnya tenang tidak banyak bicara. Tapi kemampuannya melompat tinggi, dan kepiawaiannya memotong umpan silang akan membuat striker lawan ragu membawa bola dari sisi kiri Berkah FC— karena pasti akan gagal melewatinya.Awad—  yanv memiliki motto "Perjuangan bukanlah tentang hasil akhir, melainkan tentang proses yang tidak pernah sia-sia. InsyaAllah, berhasil!"— sangat mengidolakan Paolo Maldini—bek legendaris Italia dan Pele—Legenda Brazil. “Maldini mengajarkan bahwa bertahan adalah seni. Pele mengajarkan bahwa sepak bola pada akhirnya adalah kegembiraan,” ungkapnya pada Rabu (10/06/2026) melalui pesan WhatsApp.Mungkin karena kedua ikon sepak bola dunia itu, hingga kini, Awad masih setia di pos bek kiri. Bukan karena Ia merasa yang terbaik di sana. Tapi karena di posisi itulah Ia mengaku belajar bahwa hidup sama seperti bertahan: tidak perlu selalu menyerang. Cukup tahu kapan harus diam, kapan harus bergerak, dan kapan harus menyapu bersih semua masalah dengan satu tekel yang tepat. “Saya sangat senang bermain sepak bola setiap senin dan kamis  di lapangan Kayutangi dibawah arahan Kapten Rudi. Beliau pemimpin yang peduli rekan-rekan. Saya merasa bangga Beliau memilih saya ikut berlaga di kompetisi resmi,” ujarnya.Berkah FCSepak bola benar-benar merasuki jiwa Awad. Kecintaannya pada permainan ini bukan tanpa sebab. Menurutnya, olah raga ini merekatkan persahabatan, memperkuat silaturrahmi, menyehatkan badan, membuat hati senang, dan paling penting tidak menuntut biaya mahal. Kesan Awad terhadap klub Berkah FC sangat dalam. “Rasa kekeluargaan para pemain dan pengurus klub yang dibina H. Juman ini sangat kuat. Terlebih lagi Pak Rudi— Kapten Berkah FC. Beliau seorang pemimpin yang sangat memerhatikan keadaan kawan-kawan. Apalagi jika laga tandang, bersama Pak Kaslian, Beliau repot mengatur segala persiapan termasuk konsumsi,” jelasnya. Awad juga mengagumi kebijaksanaan pengurus tim yang memberikan kesempatan kepada siapa saja— tua-muda— yang datang ke lapangan untuk bermain. “Sesuai nama klubnya— Berkah FC, klub ini menjadi berkah bagi setiap orang yang mencintai sepak bola, dan ingin mengembangkan bakat bermain sepak bola,” tegasnya.Siapapun yang mengenal Saiful Alwad—yang juga seorang pecinta musik panting, pasti akan merindukan aksinya di lapangan. Kekuatan, dan kelincahan kakinya menghalu serangan lawan selalu dinanti para penikmat bola di lapangan Kayu Tangi Ujung. Kapten & Asisten Manajer & Tim Berkah FC Dikaitkan dengan manajemen pendidikan dan kepemimpinan pendidikan, terdapat beberapa poin yang dipraktikkan Awad secara substansi memiliki kesamaan, yaitu:1.   Functional LeadershipAwad memilih bertahan sebagai bek kiri bukan karena gengsi, tetapi karena menyadari di posisi itulah kompetensinya bisa memberikan kontribusi terbaik bagi tim. Guru/ pemimpin pendidikan harus menempatkan diri berdasarkan analisis kemampuan realitasnya, bukan ego sehingga dapat berkontribusi maksimal pada posisi yang menjadi tanggung jawabnya.2. Kecerdasan Emosional dan Pengendalian DiriAwad tenang, tidak banyak bicara, mampu melompat tinggi, dan memotong umpan silang dengan tepat. Pemimpin pendidikan harus mampu bersikap responsif bukan reaktif. Ia tidak terprovokasi tekanan eksternal (striker lawan), tetapi tetap fokus pada tugasnya.3. Filosofi Manajemen Diri (Self-Management)Moto Saiful Alwad: "Perjuangan bukan tentang hasil akhir, melainkan proses yang tidak pernah sia-sia" adalah inti dari evaluasi diri dalam pendidikan yang menekankan pada proses pembelajaran lebih penting daripada sekadar nilai akhir. Pemimpin pendidikan yang cermat dan bijak, tidak terobsesi pada pencapaian instan, tetapi pada pertumbuhan berkelanjutan.4. Role CommitmentAwad bermain pada posisi yang sama selama 23 tahun sebagai bek kiri. Pemimpin pendidikan tidak perlu sering berganti gaya kepemimpinan, yang paling utama adalah pendalaman kompetensi (deep expertise)  dan konsisten  dan terus meningkatkan kualitas diri.5. Kemampuan Membaca Situasi dan Mengambil Keputusan TepatAwad tahu kapan diam, kapan bergerak, kapan menyapu bersih — melakukan tekel yang tepat. Pemimpin pendidikan tidak boleh membuat keputusan tergesa-gesa, namun tidak boleh juga menyepelekan—lambat membuat Keputusan. Setiap keadaan harus diobservasi, kemudian bergerak (melakukan intervensi ringan), atau "tekel bersih" (tindakan tegas). Lapangan sepak bola tidak hanya mengajarkan cara mencetak gol, tetapi juga cara menjadi pemimpin yang bijak. Awad—bek kiri Berkah FC, mengajarkan kepemimpinan sejati lahir dari kesadaran akan peran, tenang menghadapi  tekanan, dan tetap komitmen pada proses, bukan sekadar meraih kemenangan sebagai hasil akhir.
# EDUKASI
# Opini

Pelajaran dari H. Juman: Praktik Lintas Sektoral Prinsip-Prinsip Manajemen

Iwan Perdana
9 Juni 2026
M. Jurmansyah S.Pd, yang akrab disapa H. Juman, adalah sosok sentral di balik berdirinya dan keberlangsungan Klub Berkah FC. Lahir di Palangkaraya, 26 Juni 1970, pria yang berprofesi sebagai Kepala MTSN 1 Kota Banjarmasin ini memiliki prinsip hidup yang unik, yakni “berusaha menyenangkan hati orang lain walau tidak sesuai dengan keadaan kita,” ujarnya pada Minggu (7/6/2026). Ada cerita menarik di balik nama Berkah FC. Ternyata, klub ini awalnya bernama Juman FC. “Tapi kawan-kawan mengganti nama supaya ada keberkahan,” ungkap H. Juman. Pergantian nama klub ini diiringi doa dan harapan agar seluruh pemain dan pengurus selalu sehat penuh keberkahan, dan kerja sama tim membawa kegembiraan, kebaikan bersama.Kiri ke kanan: H. Zahrani, Budi, H. Juman, AlamsyahSejak kecil H. Juman sudah jatuh hati pada sepak bola. Baginya, bola bukan sekadar mencatatkan nama di papan skor, melainkan sarana untuk berbagi pengalaman, menyambung silaturahmi, dan mengenal daerah lain. “Ini olahraga yang paling banyak disukai orang di muka bumi,” akunya. “Melalui sepak bola, kita bisa menyambung tali silaturrahmi dan asyiknya lagi mengenal daerah lain saat laga tandang persahabatan,” tambahnya lagi.Namun, cinta yang besar itu berhadapan dengan realitas di lapangan. Menurut H. Juman, kompetisi sepak bola di Kalimantan Selatan masih belum ideal. “Kejuaraan antar SSB dan kelompok umur jarang dilakukan. Harusnya diperbanyak  dan dilaksanakan secara teratur untuk menjaring bibit-bibit muda berbakat,” keluhnya. “Jangan cuma klub sepak bola legenda yang maju—para pemain tua yang tetap berkibar, sementara bibit-bibit muda kekurangan panggung,” tuturnya.Ditanya klub sepak bola yang disukai di kancah Nasional, H. Juman tanpa ragu mengatakan ngefans klub sepak bola asal Kota Bandung, Persib Bandung, yang sukses meraih gelar juara liga 3 musim berturut-turut (hattrick): 2023/2024, 2024/2025, dan 2025/2026. Adapun di pentas internasional, Ia menyebutkan Manchester United (MU. “Saya suka gaya bermain tim “Maung Bandung” dan “The Red Devils,” ungkapnya.  Gaya menyerap kedua tim idamannya itu ikut mempengaruhi strategi Berkah FC, misalnya dalam mengutamakan serangan cepat dan tekanan sejak awal pertandingan.Tidak hanya memimpin MTSN 1 Kota Banjarmasin, sekolah di bawah naungan Kemenag dengan visi "Mewujudkan generasi yang beriman, berilmu, berakhlak mulia, terampil dan mampu mengaktualisasikan diri dalam kehidupan bermasyarakat” H. Juman juga aktif mengelola tim sepak bola. Beliau didaulat menjadi Ketua Klub sepak bola All Star Kalsel. Saat menerima amanah, Ia menyampaikan visi membawa tim All Star dikenal  masyarakat sepak bola se-Kalsel, dengan mengikuti even-even penting dan menjadi juara. Visi serupa disematkan pada Berkah FC, tim yang juga Ia bina.Terkait pengelolaan Berkah FC, Sebagai pembina, Ia mengaku terkadang bingung memilih pemain saat akan bertanding. “Semua pemain memiliki karakteristik dan kemampuan yang baik,”akunya. “Antusiasme pemain yang ingin berpartisipasi mengikuti kompetisi menjadi berkah sekaligus dilema saat menyusun formasi tim,” jelasnya. Saat ditanya, tim apa yang dipilihnya jika suatu saat All Star Kalsel bertemu Berkah FC di kompetisi resmi? Pertanyaan ini seperti menjebaknya dalam dua cinta. H. Juman tidak memilih. Dengan bijak, Ia menjawab, “Saya berdiri di tengah-tengah sebagai penonton, untuk memonitor dan mengevaluasi ke depannya.” H, JumanPrinsip dan pendekatan H. Juman dalam mengelola klub sepak bola ternyata sejalan dengan nilai-nilai manajemen pendidikan yang Ia terapkan sehari-hari sebagai kepala MTSN 1 Kota Banjarmasin. Berikut beberapa poin yang berkaitan:1. Prinsip "Menyenangkan Hati Orang Lain" vs. Pelayanan Prima dalam PendidikanSeorang pemimpin satuan pendidikan dituntut memiliki orientasi pelayanan (service excellence) kepada siswa, guru, orang tua, dan masyarakat. Prinsip H. Juman—"berusaha menyenangkan hati orang lain walau tidak sesuai dengan keadaan kita"—merupakan wujud nyata dari filosofi customer satisfaction dalam konteks pendidikan. Kepala madrasah mungkin tidak selalu bekerja dalam zona nyaman, tetapi Ia harus berusaha memenuhi harapan semua pihak yang berkepentingan, dan demi kemajuan lembaga yang dipimpinnya. Namun prinsip ini tidak dapat diterjemahkan sebagai tindakan menyenangkan semua orang secara membabi buta (people pleasing), melainkan harus bersandar pada skala prioritas dan regulasi. 2. Nama "Berkah" sebagai Branding dan Nilai SpiritualBranding lembaga yang kuat mencerminkan nilai-nilai luhur. Pengubahan nama dari "Juman FC" menjadi "Berkah FC" menunjukkan kesadaran H. Juman akan pentingnya nilai spiritual dan harapan kolektif. Hal ini serupa dengan visi madrasah yang Ia pimpin: "Mewujudkan generasi yang beriman, berilmu, berakhlak mulia..." Keduanya menempatkan keberkahan dan akhlak sebagai fondasi utama, bukan sekadar prestasi materi semata.3. Kepemimpinan Partisipatif: Mendengar Masukan Kawan-KawanKesediaan H. Juman mengganti nama klub karena usulan "kawan-kawan" mencerminkan gaya kepemimpinan partisipatif (participative leadership). Kepala madrasah yang ideal tidak bersikap otoriter, tetapi membuka ruang dialog dengan guru, komite sekolah, dan siswa.4. Manajemen Talenta: Dilema Antusiasme vs. FormasiPengakuan H. Juman bahwa Ia "bingung memilih pemain karena semua bermain baik " adalah cerminan dari tantangan manajemen talenta di dunia pendidikan. Kepala madrasah sering dihadapkan pada kondisi kelebihan SDM yang berkualitas. Tugas pemimpin adalah menempatkan orang yang tepat di tempat yang tepat (the right man on the right place)—sama seperti menyusun formasi tim sepak bola. Antusiasme yang tinggi adalah berkah, tetapi jika tidak dikelola dengan sistem yang baik, dapat berubah menjadi dilema.5. Evaluasi Netral: Berdiri di Tengah sebagai PenontonJawaban H. Juman saat ditanya memilih tim mana jika All Star Kalsel bertemu Berkah FC—"Saya berdiri di tengah-tengah sebagai penonton, untuk memonitor dan mengevaluasi"—adalah praktik evaluasi yang objektif. Kepala madrasah tidak diperkenankan menunjukkan keberpihakan emosional kepada para guru yang dipimpinnya atau mengistimewakan program tertentu. Kepala madrasah harus menilai kinerja guru dan program berdasarkan instrumen evaluasi yang valid, transparan, dan terukur.6. Visi Berkelanjutan: Mengikuti Even Penting dan Menjadi JuaraVisi H. Juman untuk All Star Kalsel dan Berkah FC—mengikuti even penting dan menjadi juara— sejalan dengan manajemen berbasis target (Goal-Oriented Management). Sebuah madrasah eksis tidak hanya sekadar untuk memperoleh akreditasi atau mengikuti kompetisi akademik, tetapi bertekad meraih prestasi tertinggi. Praktik yang ditunjukkan oleh H. Juman membuktikan bahwa prinsip-prinsip manajemen umum bersifat lintas sektoral. Apa yang dipelajari di dunia sepak bola—seperti kerja sama tim, disiplin, strategi, taktik, dan evaluasi hasil pertandingan—sangat bisa diadopsi untuk memimpin lembaga pendidikan.
# EDUKASI
# Opini

  Youtube

Surah Ar-Rahman | Aniq Muhai

  Informasi

Selamat Hari Guru Nasional
Arah Pendidikan Nasional & Transformasi Pendidikan Lokal di Daerah
Kupas Tuntas: Kurikulum, Inklusi, dan Seni di Sekolah Dasar
Momentum Kebangkitan Nasional Melalui Peningkatan Kualitas Pendidikan